{"id":28798,"date":"2022-12-01T21:48:38","date_gmt":"2022-12-01T14:48:38","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=28798"},"modified":"2022-12-01T21:48:38","modified_gmt":"2022-12-01T14:48:38","slug":"hakikat-ilmu-dalam-filsafat-pendidikan-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hakikat-ilmu-dalam-filsafat-pendidikan-islam\/","title":{"rendered":"Hakikat Ilmu dalam Filsafat Pendidikan Islam"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hakikat-ilmu-dalam-filsafat-pendidikan-islam\/#Pengertian_ilmu_dalam_Islam\" >Pengertian ilmu dalam Islam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hakikat-ilmu-dalam-filsafat-pendidikan-islam\/#Urgensi_Epistemologi_Islam\" >Urgensi Epistemologi Islam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hakikat-ilmu-dalam-filsafat-pendidikan-islam\/#Tujuan_dan_Sumber_Ilmu_dalam_Islam\" >Tujuan dan Sumber Ilmu dalam Islam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hakikat-ilmu-dalam-filsafat-pendidikan-islam\/#Hubungan_Ilmu_dengan_Filsafat_Pendidikan_Islam\" >Hubungan Ilmu dengan Filsafat Pendidikan Islam.<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_ilmu_dalam_Islam\"><\/span>Pengertian ilmu dalam Islam<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b>Ilmu secara umum adalah apa yang kamu tahu, tapi sesungguhnya ini bukanlah definisi, melainkan suatu tautology sekedar berkata bahwa ilmu adalah ilmu, dan sama sekali tidak menyatakan apapun<sup>[1]<\/sup>.\u00a0Dengan demikian, beberapa Ulama Filosofi mendefinisikan ilmu sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Imam\u00a0<em>Al-R\u0101ghib Al-`A\u1e63fah\u0101n\u012b<\/em>\u00a0seorang pakar filologi mendefinisikan ilmu dengan\u00a0\u00a0:<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya: Ilmu adalah persepsi suatu hal dalam hakikatnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam\u00a0definisi\u00a0ini, Yang mana sekedar menilik sifat (misalnya\u00a0bentuk, ukuran, dan sifat-sifat lainnya) suatu hal tidak merupakan dari ilmu. Maka dari itu suatu pandangan filosofis mengatakan tiap zat terdiri atas\u00a0<em>essence\u00a0<\/em>dan\u00a0<em>accidents<\/em>.\u00a0<em>Essence<\/em>\u00a0adalah sesuatu yang darinya akan tetap satu dan sama sebelum, semasa, setelah perubahan, dengan begitu di sebut sebagai hakikat. Maka, ilmu adalah segala hal yang menyangkut hakikat yang tidak berubah.\u00a0<sup>[3]<\/sup><\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menurut Imam\u00a0<em>Al-Ghaz\u0101li<\/em>\u00a0mengartikan ilmu, sebagai tahu sesuatu. Berarti mengenali sesuatu itu sebagai adanya, atau bisa disebut juga dengan:<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya: \u201cPengenalan sesuatu atas dirinya\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Definisinya\u00a0di sini, untuk menyatakan tiga hal yang harus di uraikan.<\/p>\n<p>a) Menyatakan bahwa ilmu adalah pengenalan, imam <em>Al-ghaz\u0101li<\/em>\u00a0tampak menekankan fakta bahwa ilmu merupakan masalah per-orangan.<\/p>\n<p>b) Tidak seperti istilah `<em>Idr\u0101k<\/em>\u00a0yang tidak hanya menyertakan suatu gerakan nalar atau perubahan dari satu keadaan kepada keadaan yang lainnya, tapi juga menyertakan bahwa ilmu datang sebagaimana adanya.<\/p>\n<p>c)\u00a0Mengiaskan kepada fakta bahwa ilmu selalu merupakan semacam penemuan diri.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, dalam pandangan imam al-gazhali, kita tidak dapat mengklaim memiliki ilmu sesuatu keculi jika kita tahu sesuatu itu apa adanya. Karena sesungguhnya, sesuatu itu tampak tidak sebagaimana hakikatnya.<sup>[5]<\/sup><\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Definisi selanjutnya dikemukakan oleh seorang ahli logika, yang bernama `<em>Ath\u012br<\/em>\u00a0<em>Al-D\u012bn Al-`Abhari<\/em>. Baginya ilmu adalah \u201cmenghampirnya gambar suatu benda dalam pikiran\u201d. Definisi ini menunjukkan bahwa untuk mengetahui sesuatu pemikiran tentangnya, harus memiliki gambaran yang mana sesuatu itu tergambarkan dalam benak. Dengan kata lain, mengetahui adalah melakukan konseptualisasi. Yang mana ilmu adalah representasi mental atau konsepsi suatu hal yang diketahui, maka dari itu menyebabkan terjadinya pembedaan modern antara\u00a0&#8220;ilmu konseptual\u201d\u00a0\u00a0dan\u00a0\u201c\u00a0ilmu\u00a0proporsional\u201d.<sup>[6]<\/sup><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Al-Shar\u012bf Al-Jurj\u0101ni<\/em>\u00a0mendefinisikan ilmu sebagai \u2018tibanya makna dalam jiwa\u2019 sekaligus \u2018tibanya jiwa pada makna\u2019.\u00a0\u00a0\u00a0Satu hal yang menjadi jelas dalam definisi ini bahwa ilmu adalah tentang makna. Benda, fakta, atau peristiwa apapun, bisa diketahui oleh seseorang jika ia bermakna baginya. Semakin kita tahu tentang sesuatu maka semakin bermakna sesuatu itu bagi kita.<sup>[7]<\/sup><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Maka dari pengertian yang sudah diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu adalah sejumlah makna, keyakinan, informasi, fakta, pemahaman, dan gambaran di bidang yang berbeda. Sebagaimana yang sudah terletak dalam diri manusia dari penghasilan yang sudah di coba berkali-kali untuk memahami apa yang terjadi di sekitarnya.<sup>[8]<\/sup><\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Urgensi_Epistemologi_Islam\"><\/span>Urgensi Epistemologi Islam<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Epistemologi, didefinisikan sebagai cabang ilmu filsafat yang membahas ilmu pengetahuan secara menyeluruh dan mendasar. Secara ringkas, epistemologi disebut juga sebagai\u00a0<em>\u201c<\/em>Theory<em>\u00a0of knowledge\u201d.<\/em>\u00a0Oleh karena itu epistemologi berbicara tentang sumber-sumber ilmu dan bagaimana manusia bisa meraih ilmu. Sedangakan ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Islam, khususnya agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan. Al-qur`\u0101n\u00a0\u00a0adalah kitab yang begitu besar perhatiannya terhadap aktivitas pemikiran dan keilmuan. Karena itulah, tradisi ilmu dalam Islam sejak awal sudah bersifat<em>\u00a0\u201cTauhidiy\u201d,<\/em>\u00a0tidak sekuler, antara unsur dunia dan unsur akhirat; antara ilmu dunia dan ilmu akhirat. Semua ilmu itu bermuara pada satu tujuan, yaitu untuk mengenal\u00a0<em>(Ma\u2019rifah)\u00a0<\/em>kepada Allah swt.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Al-qur`\u0101n\u00a0memuat\u00a0banyak sekali ayat-ayat yang mendorong kaum muslimin untuk senantiasa meningkatkan keilmuannya. Karena itulah, Allah mengecam keras orang-orang yang tidak menggunakan segala potensinya untuk berpikir dan meraih ilmu. Karena begitu pentingnya kedudukan ilmu maka \u201crusaknya ilmu dan ulama\u201d juga menjadi faktor terjadinya kerusakan suatu masyarakat.<em><sup><b><strong>[9]<\/strong><\/b><\/sup><\/em><\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tujuan_dan_Sumber_Ilmu_dalam_Islam\"><\/span>Tujuan dan Sumber Ilmu dalam Islam<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam Islam, tujuan utama dari ilmu adalah untuk mengenal Allah swt. Dan meraih kebahagiaan\u00a0<em>(sa\u2019\u0101dah)<\/em>, sebab ilmu mengkaji tentang \u201cayat-ayat\u201d (tanda-tanda) \u2013 baik ayat\u00a0<em>kauni<\/em>\u00a0atau\u00a0<em>qauli<\/em>, Maka dari itu, untuk menjalankan misinya sebagai ciptaan Allah swt. Manusia diwajibkan memiliki ilmu untuk menopang kehidupanynya di dunia, sebagai sarana untuk ibadah. Ibadah kepada-Nya merupakan tujuan pokok kehidupan manusia yang mana seluruh aktivitas keilmuan apapun jenisnya di arahkan untuk aktivitas tersebut.<sup>[10]<\/sup><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sumber ilmu yang primer dalam Islam adalah wahyu yang di terima oleh nabi yang berasal dari Allah swt. Sebagai sumber dari segala sesuatu.\u00a0Pengertian wahyu secara etimologi adalah apa yang di sampaikan Allah swt. kepada para malaikat-Nya berupa suatu perintah untuk dikerjakan. Sedangkan arti wahyu secara terminologi adalah \u201ckalam Allah swt yang diturunkan kepada seorang nabi\u201d .<sup>[11]<\/sup><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, penjelasan mengenai sumber ilmu dalam Islam yaitu bersumber dari Al-qur`\u0101n dan Sunnah dapat juga mengafirmasi sumber ilmu lainnya, yaitu akal, hati, serta indra-indra yang terdapat dalam diri manusia. Maka dari itu, di bawah ini akan di jelaskan sumber-sumber ilmu dalam islam.<sup>[12]<\/sup><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><\/b><b><strong>Al-qur`\u0101n.<\/strong><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Al-qur`\u0101n merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw. Oleh karena itu, Al-qur`\u0101n menempati urutan pertama dalam sumber ilmu Islam. Al-qur`\u0101n Sebagai sumber ilmu di jelaskan melalui ayat-ayat yang menyatakan bahwa Al-qur`\u0101n merupakan petunjuk bagi manusia dan alam semesta, di antarnya dalam surah al-takwir ayat 27:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya: \u201cAl-qur`\u0101n itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.\u201d (Al-Takwir: 27)<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><\/b><b><strong>Hadits.<\/strong><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Al-qur`\u0101n dan hadits adalah Pedoman hidup, sumber hukum, ilmu dan ajaran islam, serta merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Al-qur`\u0101n Merupakan Sumber primer Yang banyak memuat pokok-pokok ajaran Islam, sedangkan hadits merupakan penjelas\u00a0<em>(<\/em>Bay\u0101n<em>)<\/em>\u00a0bagi keumuman isi Al-qur`\u0101n. Selain itu ilmu hadits menguji manusia untuk kejujuran dan ketetapan dalam meriwayatkan teks.<sup>[14]<\/sup><\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><\/b><b><strong>Akal\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>d<\/strong><\/b><b><strong>an Hati.<\/strong><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sumber ilmu selain wahyu dan hadits dalam islam adalah akal dan hati. Orang yang berakal adalah orang yang mengekang dirinya dan menolak keinginan hawa nafsunya<sup>[15]<\/sup>. Akal mempunyai beberapa pengertian yang berbeda, yaitu:<\/p>\n<p>a) Daya pikir (untuk mengerti dan sebagainya).<\/p>\n<p>b) Daya, Upaya, cara melakukan sesuatu.<\/p>\n<p>c)\u00a0Tipu daya, muslihat.<\/p>\n<p>d) Kemampuan melihat cara-cara memahami lingkungan<sup>[16]<\/sup>.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan kalbu memiliki pengertian sebagai sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan bathin dan tempat menyimpan pengertian-pengertian (perasaan-perasaan).<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><\/b><b><strong>Indra.<\/strong><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Al-qur`\u0101n mengajak manusia untuk menggunakan indra dan akal dalam pengalaman manusia, baik yang bersifat fisik ataupun metafisik Karena keduanya saling menyempurnakan. Allah swt\u00a0menyeru manusia untuk menggunakan nikmat indra dan akal secara simultan. Oleh karenanya, orang-orang yang mengabaikan indra dan kalbunya, maka akan tersesat dan jauh dari kebenaran. Begitu juga dengan hati Karena keduanya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya dan merupakan satu kesatuan dalam menerima ilmu.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Hubungan_Ilmu_dengan_Filsafat_Pendidikan_Islam\"><\/span>Hubungan Ilmu dengan Filsafat Pendidikan Islam.<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Al-qur`\u0101n mengajak dan mengajarkan kepada seluruh umat manusia untuk berfikir, menggunakan akal sesuai dengan fungsinya guna mencapai pengetahuan yang benar.\u00a0Selain itu manusia berkewajiban mencari ilmu pengetahuan sebagai modal hidup dan kehidupannya. Oleh karena itu, setiap kali orang muslim menggunakan akalnya\u00a0<em>(berijtihad)\u00a0<\/em>dalam penyelidikan dan pembahasan sesuatu yang akan menghasilkan peningkatan kemajuan dan kebaikan di nilai sebagai ibadah kepada Allah swt. Nilai ilmu dalam Islam adalah ilmu yang bisa mengangkat derajat manusia dihadapan Allah swt.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan\u00a0kebebasan berfikir, berperasaan, dan bertindak, yang telah diberikan Allah swt kepada manusia, mereka harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya dihadapan Allah swt. Manusia diciptakan-Nya dengan dilengkapi bekal dan sarana hidup dalam kehidupannya. Yaitu kesadaran, sebagai alat untuk menanggulangi segala kebutuhan hidupnya yang bersifat materi dan rohani.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Manusia diberi kemampuan dan kesanggupan untuk menilai sesuatu keputusan dalam bertindak berdasarkan ilmu yang diperolehnya dari hasil pengguanaan akal pikiran, perasaan, dan kesadarannya.\u00a0Maka dari itu, ilmu mempunyai fungsi sebagai berikut.<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Mengetahui kebenaran.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menjelaskan ajaran atau aqidah Islam.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menanggulangi alam unutuk meningkatkan kesejahteraan umat manuisa.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Meningkatkan kebudayaan dan peradaban Islam.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ilmu menurut Islam harus rasional, yaitu sesuai dengan akal dan dapat ditinjau oleh kekuatan akal pikiran manusia. Dengan demikian masih ada ilmu yang belum dapat ditinjau oleh pikiran.<sup>[17]<\/sup><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>[1]\u00a0Dr. Adian Husaini, Filsafat Ilmu Perespektif\u00a0\u00a0Barat dan Islam ( Jakarta: Gema Insani, 2013 ),\u00a072.<\/p>\n<p>[2]\u00a0\u00a0Al-`A\u1e63fah\u0101n\u012b,\u00a0<em>mufrad\u0101t `alf\u0101\u1e93 Al-qur\u0101n<\/em>\u00a0,( Damskus, D\u0101r Al-qalam,1992),5:80.<\/p>\n<p>[3]Dr. Adian Husaini, Ibid.75.<\/p>\n<p>[4]\u00a0Imam Al-Ghaz\u0101li, `<em>I\u1e25y\u0101` \u2018 Ul\u016bm Al-d\u012bn,<\/em>\u00a0( Bayr\u016bt: D\u0101r Al-fikr, 1999),1:33.<\/p>\n<p>[5]Dr.\u00a0\u00a0Adian Husaini, ibid76.<\/p>\n<p>[6]\u00a0Ibid.76-77.<\/p>\n<p>[7]\u00a0Ibid.77-78.<\/p>\n<p>[8]\u00a0`Abd Al-\u2018\u0101l, \u1e24asan `Ibr\u0101h\u012bm,\u00a0<em>Muqaddimah\u00a0\u00a0fi\u00a0\u00a0falsafah al \u2013tarbiyah al-`isl\u0101miyah<\/em>\u00a0( Riyad : D\u0101r \u2018Alam Al-kutub,1985 ),118.<\/p>\n<p>[9]\u00a0Adian Husaini, Ibid, 27.<\/p>\n<p>[10]\u00a0Dr.\u00a0Adian Husaini, ibid, 32.<\/p>\n<p>[11]\u00a0Mann\u0101\u2019 Al-qa\u1e6dan,\u00a0<em>Studi Ilmu-ilmu qru`\u0101n<\/em>, Cetakan ke-6 (Jakarta: Pustaka Litera Antar Nusa, 2001), 37-38.<\/p>\n<p>[12]Dr.\u00a0\u00a0Adian Husaini,\u00a0<em>Filsafat Ilmu Perespektif Barat dan Islam<\/em>\u00a0(Jakarta: Gema Insani, 2013), 93.<\/p>\n<p>[13]\u00a0Al-quran, 30:27<\/p>\n<p>[14]\u00a0Wan Muhammad Wan daud, Konsep Pengetahuan dalam islam, (Bandung: pustaka, 1997), 56.<\/p>\n<p>[15]\u00a0Sayyid Muhammad Az-Zabalawi, Pendidikan Remaja: Antara Islam dan Ilmu Jiwa, (Jakarta: Gema Insan, 2007), 64.<\/p>\n<p>[16]\u00a0Department Pendidikan dan Kebudayan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cetakan ke-3, (Jakarta: Gema Insan, 2007), 14.<\/p>\n<p>[17]\u00a0Dr. H. Hmadani Ihsan dan Dr. H. A. Fuad Ihsan, Filsfat Pendidikan Islam, ( Bandung : Pustaka setia, 2007),34-36.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian ilmu dalam Islam \u00a0Ilmu secara umum adalah apa yang kamu tahu, tapi sesungguhnya ini bukanlah definisi, melainkan suatu tautology sekedar berkata bahwa ilmu adalah&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-28798","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28798","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28798"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28798\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28798"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28798"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28798"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}