{"id":28784,"date":"2022-12-01T21:34:11","date_gmt":"2022-12-01T14:34:11","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=28784"},"modified":"2022-12-01T21:34:11","modified_gmt":"2022-12-01T14:34:11","slug":"pendidikan-karakter-konsep-tujuan-nilai-peranan-komponen-pendekatan-metode-evaluasi-dan-implementasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pendidikan-karakter-konsep-tujuan-nilai-peranan-komponen-pendekatan-metode-evaluasi-dan-implementasi\/","title":{"rendered":"Pendidikan Karakter : Konsep, Tujuan, Nilai, Peranan, Komponen, Pendekatan, Metode, Evaluasi dan Implementasi"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pendidikan-karakter-konsep-tujuan-nilai-peranan-komponen-pendekatan-metode-evaluasi-dan-implementasi\/#Konsep_Dasar_Pendidikan_Karakter\" >Konsep Dasar Pendidikan Karakter<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pendidikan-karakter-konsep-tujuan-nilai-peranan-komponen-pendekatan-metode-evaluasi-dan-implementasi\/#DasarTujuan_Pendidikan_Karakter\" >DasarTujuan\u00a0Pendidikan Karakter<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pendidikan-karakter-konsep-tujuan-nilai-peranan-komponen-pendekatan-metode-evaluasi-dan-implementasi\/#Nilai_%E2%80%93_Nilai_Pendidikan_Karakter\" >Nilai \u2013 Nilai Pendidikan Karakter<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pendidikan-karakter-konsep-tujuan-nilai-peranan-komponen-pendekatan-metode-evaluasi-dan-implementasi\/#Pusat_dan_Peranan_Pendidikan_Karakter\" >Pusat dan Peranan Pendidikan Karakter<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pendidikan-karakter-konsep-tujuan-nilai-peranan-komponen-pendekatan-metode-evaluasi-dan-implementasi\/#a_Lingkungan_Keluarga\" >a. Lingkungan Keluarga<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pendidikan-karakter-konsep-tujuan-nilai-peranan-komponen-pendekatan-metode-evaluasi-dan-implementasi\/#b_Lingkungan_Sekolah\" >b. Lingkungan Sekolah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pendidikan-karakter-konsep-tujuan-nilai-peranan-komponen-pendekatan-metode-evaluasi-dan-implementasi\/#c_Lingkungan_Pendidikan_Masyarakat\" >c. Lingkungan Pendidikan Masyarakat<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pendidikan-karakter-konsep-tujuan-nilai-peranan-komponen-pendekatan-metode-evaluasi-dan-implementasi\/#Komponen_Pendidikan_Karakter\" >Komponen Pendidikan Karakter<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pendidikan-karakter-konsep-tujuan-nilai-peranan-komponen-pendekatan-metode-evaluasi-dan-implementasi\/#Pendekatan_dalam_Pendidikan_Karakter\" >Pendekatan dalam Pendidikan\u00a0\u00a0Karakter<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pendidikan-karakter-konsep-tujuan-nilai-peranan-komponen-pendekatan-metode-evaluasi-dan-implementasi\/#Metode_Pendidikan_Karakter\" >Metode Pendidikan Karakter<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-11\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pendidikan-karakter-konsep-tujuan-nilai-peranan-komponen-pendekatan-metode-evaluasi-dan-implementasi\/#Evaluasi_Pendidikan_Karakter\" >Evaluasi Pendidikan Karakter<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-12\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pendidikan-karakter-konsep-tujuan-nilai-peranan-komponen-pendekatan-metode-evaluasi-dan-implementasi\/#Sarana_Prasarana_dan_Fasilitas_Pendidikan_Karakter\" >Sarana Prasarana dan Fasilitas Pendidikan Karakter<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-13\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pendidikan-karakter-konsep-tujuan-nilai-peranan-komponen-pendekatan-metode-evaluasi-dan-implementasi\/#Implementasi_Pendidikan_Karakter\" >Implementasi Pendidikan Karakter<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1 style=\"font-weight: 400;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Konsep_Dasar_Pendidikan_Karakter\"><\/span><b><strong>Konsep Dasar Pendidikan Karakter<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Secara harfiah, karakter berarti kualitas mental atau moral, nama atau reputasinya. Dalam pandangan Doni Koesoema karakter diasosiasikan dengan temperamen yang memberinya sebuah definisi yang menekankan unsur psikososial yang dikaitkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Karakter juga dipahami dari sudut pandang behavioral yang menekankan unsur somatopsikis yang dimiliki oleh individu sejak lahir. Disini karakter dianggap sama dengan kepribadian.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang, yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungannya, misalnya pengaruh keluarga pada masa kecil dan bawaan seseorang sejak lahir. Menurut Tadkirotun Musfiroh karakter mengacu kepada serangkaian sikap (<em>Attitude<\/em>), Perilaku (<em>behaviors<\/em>), motivasi (<em>motivations<\/em>), dan ketrampilan (<em>skillls<\/em>). Makna karakter sendiri sebenarnya berasal dari Yunani yang berarti\u00a0<em>to mark<\/em>\u00a0(menandai) dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan tingkah laku.[9]\u00a0Sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan berperilaku jelek dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek. Sebaliknya , orang yang berperilaku sesuai dengan kaidah moral dinamakan berkarakter mulia.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Mmenurut Ratna Megawati dalam bukunya Dharma Kusuma menjelaskan bahwa pendidikan karakter yaitu \u201c sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungan\u201d[10].\u00a0\u00a0Selanjutnya menurut Suyanto karakter adalah cara berfikir dan berperilaku yang menjadi cirikhas individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.[11]\u00a0Sedangkan Menurut Fakry Gaffar pendidikan karakter adalah sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu[12].\u00a0Hal ini berbeda dengan Hermawan Kertajaya yang menyatakan, bahwa karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut bersifat asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu terebut, dan merupakan mesin yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, belajar dan\u00a0\u00a0merespon sesuatu.\u00a0[13]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik, yang mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad, serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkunan maupun bangsa, sehingga terwujud\u00a0<em>insan kamil<b><strong>[14]<\/strong><\/b>.<\/em><\/p>\n<h1 style=\"font-weight: 400;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"DasarTujuan_Pendidikan_Karakter\"><\/span><b><\/b><b><strong>Dasar<\/strong><\/b><b><strong>Tujuan\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>Pendidikan Karakter<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pendidikan karakter pada umumnya bertujuan untuk membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral bertoleran, bergotong-royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semua dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan pancasila.[15]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Melalui pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas, tidak hanya otaknya namun juga cerdas secara emosi. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan. Dengan kecerdasan emosi, seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono merumuskan lima tujuan pendidikan karakter, yaitu:[16]<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membentuk manusia Indonesia yang bermoral.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membentuk manusian Indonesia yang cerdas dan rasional.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membentuk manusia Indonesia yang inovatif dan suka bekerja keras.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membentuk manusia Indonesia yang optimis dan percaya diri.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membentuk manusia Indonesia yang berjiwa patriot<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Hal ini sesuai dengan rumusan tujuan pendidikan nasional yang terdapat pada UUSPN No.20 tahun 2003 Bab 2 Pasal 3:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi anak didik agar menjadi manusia yang berimandan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negarayang demokratis serta bertanggung jawab.[17]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Selain\u00a0itu, pendidikan karakter bertujuan untuk menanamkan nilai dalam diri siswa dan sebagai pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Untuk tujuan jangka panjangnya adalah mendasarkan diri pada tanggapan aktif kontekstual individu atas\u00a0<em>impuls natural\u00a0<\/em>sosial yang diterimanya, yang pada gilirannya semakin mempertajam visi hidup yang akan diraih lewat proses pembentukan diri secara terus-menerus (<em>on going formation<\/em>).[18]\u00a0Sedangkan dari segi pendidikan , pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang.[19]<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Nilai_%E2%80%93_Nilai_Pendidikan_Karakter\"><\/span><b><\/b><b><strong>Nilai \u2013 Nilai Pendidikan Karakter<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Nilai adalah suatu jenis kepercayaan seseorang, tentang bagaimana seseorang sepatutnya, atau tidak sepatutnya dalam melakukan sesuatu, atau tentang apa yang berharga untuk dicapai.[20]\u00a0Dalam pedidikan karakter, nilai \u2013 nilai atau kebajikan\u00a0\u00a0merupakan dasar atribut dalam membentuk karakter. Oleh karena itu, pendidikan\u00a0\u00a0karakter adalah pengembangan\u00a0\u00a0nilai \u2013 nilai yang berasal dari pandangan ideology bangsa\u00a0Indonesia, agama, budaya, dan nilai \u2013 nilai dalam perumusan tujuan pendidikan nasional.[21]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Hal ini dapat dirumuskan bahwasannya nilai \u2013 nilai dalam pendidikan karakter di Indonesia berasal dari empat sumber, yaitu:\u00a0<em>pertama<\/em>, Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu,, kehidupan individu, masyarakat, bangsa selalu didasari pada ajaran agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka pnilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaedah yang berasal dari agama.\u00a0<em>Kedua,\u00a0<\/em>Pancasila: Negara Kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan\u00a0yang\u00a0disebut pancasila.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pancasila terdapat pada pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai\u00a0yang\u00a0terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan , dan menerapkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupannya sebagai warga Negara.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>Ketiga,\u00a0<\/em>Budaya: sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antar anggota masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan maysarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>Keempat,\u00a0<\/em>Tujuan Pendidikan Nasional: sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan diberbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.[22]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Selain dari keempat sumber nilai tersebut sebenarnya bangsa Indonesia diharapkan memiliki 18 nilai \u2013 nilai dalam pendidikan karakter, diantaranya:[23]<\/p>\n<table style=\"font-weight: 400;\">\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"44\">No<\/td>\n<td width=\"185\">Nilai Karakter<\/td>\n<td width=\"319\">Pengertian<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"44\">1<\/td>\n<td width=\"185\">Religius<\/td>\n<td width=\"319\">Sikap dan perilaku patuh dalam melaksanakan agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"44\">2<\/td>\n<td width=\"185\">Jujur<\/td>\n<td width=\"319\">Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"44\">3<\/td>\n<td width=\"185\">Toleransi<\/td>\n<td width=\"319\">Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"44\">4<\/td>\n<td width=\"185\">Disiplin<\/td>\n<td width=\"319\">Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"44\">5<\/td>\n<td width=\"185\">Kerja Keras<\/td>\n<td width=\"319\">Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"44\">6<\/td>\n<td width=\"185\">Kreatif<\/td>\n<td width=\"319\">Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"44\">7<\/td>\n<td width=\"185\">Mandiri<\/td>\n<td width=\"319\">Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"44\">8<\/td>\n<td width=\"185\">Demokratis<\/td>\n<td width=\"319\">Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"44\">9<\/td>\n<td width=\"185\">Rasa Ingin Tahu<\/td>\n<td width=\"319\">Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"44\">10<\/td>\n<td width=\"185\">Semangat Kebangsaan<\/td>\n<td width=\"319\">Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"44\">11<\/td>\n<td width=\"185\">Cinta Tanah Air<\/td>\n<td width=\"319\">Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"44\">12<\/td>\n<td width=\"185\">Menghargai Prestasi<\/td>\n<td width=\"319\">Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"44\">13<\/td>\n<td width=\"185\">Bersahabat\/Komunikatif<\/td>\n<td width=\"319\">Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"44\">14<\/td>\n<td width=\"185\">Cinta Damai<\/td>\n<td width=\"319\">Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"44\">16<\/td>\n<td width=\"185\">Peduli Lingkungan<\/td>\n<td width=\"319\">Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"44\">17<\/td>\n<td width=\"185\">Peduli Sosial<\/td>\n<td width=\"319\">Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"44\">18<\/td>\n<td width=\"185\">Tanggung Jawab<\/td>\n<td width=\"319\">Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pusat_dan_Peranan_Pendidikan_Karakter\"><\/span><b><\/b><b><strong>Pusat dan Peranan Pendidikan Karakter<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pusat pendidikan karakter memiliki tiga titik utama dalam perkembangan peserta didik atau anak. Ketiganya bias dapat diimplementasikan secara struktural dan kontekstual. Secara struktural artinya membangun karakter dapat dimulai dari lingkungan keluarga sebagai lingkungan pendidikan informal, sekolah sebagai pendidikan formal, dan lingkungan masyarakat sebagai pendidikan nonformal. Sementara aspek kontekstual terkait dengan nilai-nilai pokok yang diperlukan untuk membentuk kekuatan karakter.[24]\u00a0Adapun nilai-nilai pokok pendidikan karakter ini dapat diinternalisasikan pada pusat-pusat pendidikan karakter yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"a_Lingkungan_Keluarga\"><\/span><b><\/b><b><strong>a. Lingkungan Keluarga<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Lingkungan keluarga dapat didefinisikan sebagai unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul serta tinggal di suatu tempat yang saling bergantung satu sama lain.[25]sementara dalam\u00a0<em>Kamus Besar Bahasa Indonesia<\/em>, keluarga adalah suatu kumpulan yang terdiri dari bapak, ibu, beserta anak-anaknya dan seisi rumah.[26]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut Suparyanto dalam bukunya Syamsul Kurniawan mendefinisikan sebagai dua atau lebih individu yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, dan adopsi dalam satu rumah tangga, yang saling berinteraksi. Keluarga menurutnya juga mempunyai bentuk \u2013 bentuk diantaranya:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>Pertama<\/em>, keluarga inti (<em>nuclear family<\/em>) adalah keluarga yang dibentuk karena ikatan perkawinan yang direncanakan yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak, baik karena kelahiran atau adopsi.\u00a0<em>Kedua,\u00a0<\/em>keluarga asal (<em>family of origin<\/em>) merupakan suatu unit keluarga tempat asal seseorang dilahirkan.\u00a0<em>Ketiga<\/em>, keluarga besar\u00a0<em>(extended family)<\/em>, yaitu keluarga inti ditambah dengan keluraga lain karena hubungan darah, misalnya kakek,nenek, bibi.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>Keempat,<\/em>\u00a0keluarga berantai, yaitu keluarga yang terbentuk karena penceraian atau kematian pasangan yang dicintai dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali da merupakan suatu keluarga inti.\u00a0<em>Kelima,<\/em>\u00a0keluarga duda atau janda (<em>single family<\/em>) adalah keluarga yang terjadi karena penceraian dan atau kematia pasangan yang dicintai.\u00a0<em>Keenam,\u00a0<\/em>keluarga komposit (<em>composite family<\/em>) adalah keluarga dari perkawinan poligami dan hidup bersama.\u00a0<em>Ketujuh<\/em>, keluarga kohabitasis (<em>cohabitation<\/em>), yaitu dua orang menjadi satu keluarga tanpa pernikahan.\u00a0<em>Kedelapan<\/em>, keluarga inses (<em>incest family<\/em>), yaitu keluarga dengan pernikahan sedarah.[27]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Peran penting keluarga sangat berpengaruh pada anak, khususnya dalam pedidikan. Keluarga merupakan wahana terbaik dalam proses sosialisasi dan pendidikan bagi anak-anak. Pedidikan dalam keluarga sebetulnya adalah inti yang menjadi fondasi untuk perkembangan anak karena keluarga menjadikan bentukan pertama karakter anak baik melalui mendidik, mengasuh, mensosialisasikan sesuatu pada anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Hal ini diperkuat oleh pandapat Suyanto, dasar pendidikan karakter sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas, karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian Suyanto menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasarwasa keudua. Dari sini kemudian menyimpulkan bahwa pendidikan karakter dimulia dari dalam keluarga yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.[28]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Lingkungan keluarga mejadi tempat berlangsungnya sosialisasi yang berfungsi dalam pembentukan kepribadian sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk\u00a0\u00a0susila, dan makhluk keagamaan. Keluarga yang rukun, harmonis, dan damai akan mempengaruhi kondisi psikologis dan karakter seorang anak. Begitupun sebaliknya, anak yang kurang berbakti bahkan melakukan tindakan di luar moral kemanusiaan disibabkan karena ketidakharmonisan dalam lingkungan keluarga.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Beberapa teori pendidikan yang kita kenal, misalnya teori empirisme menyebutkan anak lahir seperti kertas putih (tabularasa), yang bisa ditulis apa saja oleh orang dewasa. Aliran ini berpendapat bahwa lingkungan mempengaruhi karakter si anak. Ada juga teori nativisme yang menyebutkan bahwa anak membawa karakter, bakat, minat dari\u00a0\u00a0sejak lahirnya. Artinya, anak lebih banyak dibentuk oleh factor bawaan dari sejak lahir. Ada juga teori konvergensi yang berpendapat bahwa baik factor bawaan maupun lingkungan saling mempengaruhi perkembangan anak.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam pendidikan karakter anak dilingkungan keluraga perlu diperhatikan juga nilai-nilia karakter yang harus terbentuk. Pembentukan nilai-nilai karakter ini menjadikan tumbuhnya sebuah idealism untuk pemantapan identitas diri. Penanaman nilai-nilai karakter di lingkungan keluarga dapat mengacu pada delapan belas nilai dengan penjelasan sebagai berikut:[29]<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Nilai relegius. Nilai\u00a0\u00a0ini tidak cukup diberikan melalui pelajaran, pengertian, penjelasan, dan pemahaman namun juga memerlukan bimbingan, yaitu usaha untuk menuntun, mengarahkan sekalingus mendampingi anak dalam hal-hal tertentu.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Jujur, Sifat ini merupakan sifat dasar yang harus dimiliki anak namun seringkali orang tua mengabaikanya. Sebagai refleksi, ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk menumbuhkan kejujuran pada anak yaitu: jangan membohongi anak, hargai kejujuran anak, tanamkan kejujuran sejak dini, dan selalu memotivasi anak berlaku jujur.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Toleransi. Rasa toleransi ini perlu diajarkan pada anak agar anak paham akan sebuah perbedaan dan anak dapat menerima sebuah perbedaan tersebut. Dengan memiliki rasa toleransi aak akan mampu menilai sebuah situasi, melihat kekuatan, kebutuhan, dan ketertarikan orang lain yang senantiasa memiliki perbedaan. Ada beberapa aspek dalam mengajarkan toleransi dan rasa hormat diantaranya: &#8211; buat anak merasa bahwa dirinya special, aman, dan dicintai. &#8211; ciptakan sarana belajar di tempat terbaru, orang-orang baru, da budaya berbeda. &#8211; gunakan komentar positif untuk membentuk sikap si anak. &#8211; tunjukkan cara dalam mensikapi sebuah toleransi.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Disiplin. Kedisiplinan perlu ditanamkan pada anak sejak dini. Dengan kedisiplinan menjadikan anak dalam melakukan sesuatu langsung melakukannya tanpa adanya perintah secara berkali-kali. Menumbuhkan rasa kedisiplinan memiliki hal \u2013 hal yang perlu\u00a0\u00a0diperhatikan, diantaranya: 1) orang tua harus konsisten, 2) berikan aturan yang sederhana danjelas sehingga anak mudah melakukannya, 3) jangan mengatur anak di hadapan orang lain karena hal itu akan membuat anak merasa malu, 4) alas an dan tata tertib yang dilakukan\u00a0\u00a0itu perlu dijelaskan pada anak sehingga anak melakukannya dengan penuh kesadaran, 5) hadiah berupa pujian, penghargaan, barang\/ kegiatan apabila anak melakukan perilaku positif, 6) orang tua harus berhati-hati dalam memberikan hukuman, 7) jangan terlalu kaku dalam menegakkan disiplin, 8) sebaiknya anak dilibatkan dalam setiap membuat tata tertib sehingga anak merasa dihargai dan diakui dalam keluarga, 9) bersikap tegas bukan berarti bersikap kasar baik dalam tindakan fisik atau perbuatan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Kerja keras. Dalam ranah ini anak harus diberikan kesadaran bahwa untuk mendapatkan uang, kita harus bekerja dan tanpa uang kita tidak akan dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karena itu orang tua harus dapat menjadi teladan dan anak harus diberikan penjelasan bahwa kerja keras yang baik dan benar akan mendatangkan kebaikan, baik berupa materi, fasilitas, kehormatan, dan tentu pahala dari tuhan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Kreatif. Dalam pendidikan keluarga sebuah kreatifitas anak sering kali diabaikan karena para orang tua kebanyakan hanya terfokus pada ranah kognitif saja dengan tujuan anaknya pandai dan menjadi pintar. Perspektif ini perlu diluruskan, karena selain kognitif sebuah kualitas pendidikan juga dinilai dari kualitas \u2013 kualitas yang lebih subtantif seperti kemampuan mengambil keputusan, menumbuhkan kreativitas, keterampilan berkarya, dan lainnya. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk menumbuhkan kreativitas pada anak, diantaranya sebagai berikut: 1) bangun ruang yang kondusif untuk anak, 2) orang tua seyogyanya memberi kesempatan dan dorongan untuk kegiatan di luar pelajarannya di sekolah, 3) dorongan lebih banyak dari pada larangan, 4) apresiasi inisiatif dan kerja keras anak, 5) perbesar toleransi pada kesalahan dan ketidaksempurnaan, 6)\u00a0<em>ekspose<\/em>\u00a0pada keragaman.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Mandiri. Kemandirian merupakan salah satu modal penting bagi anak \u2013 anak untuk bertahan hidup kelak saat mereka dewasa. Karenanya mengajarkan kemandirian merupakan salah satu tanggung jawab terpenting yang dimiliki orang tua. Kemandirian dapat ditanamankan melalui cara berikut: 1) sediakan pilihan \u2013 pilihan, 2) tetapkan waktu tidur malam yang rutin, 3) jangan melakukan sesuatu untuk anak bila dia\u00a0\u00a0mampu melakukannya sendiri.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Demokratis. Perilaku\u00a0\u00a0ini membutuhkan prasyarat kerelaan\u00a0\u00a0mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain. Pembentukan perilaku\u00a0\u00a0ini\u00a0\u00a0harus dimulai dari orang tua sendiri agar tidak\u00a0\u00a0memiliki\u00a0\u00a0sikap otoriter terhadap anak. Orang tua harus menghargai setiap pendapat anak, dan tidak melakukan\u00a0\u00a0hukuman semenah \u2013 menah melainkan perlu\u00a0\u00a0adanya sudut pandang lain ketika anak melakukan\u00a0\u00a0kesalahan dengan begitu secara tidak langsung anak\u00a0\u00a0akan mengikuti perilaku kita sebagai orang tua.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu\u00a0\u00a0membuat kecerdasan anak\u00a0\u00a0semakin berkembang, dengan pertanyaan yang dilontarkan pada anak secara tidak langsung perkembangan otak anak akan semakin meningkat dan pengetahuan anak\u00a0\u00a0semakin\u00a0\u00a0tahu akan banyak hal. Para ahli pendidikan umumnya sepakat bahwa salah satu ciri anak cerdas adalah memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Semangat kebangsaan. Dalam kaitannya dengan mendidik semangat kebangsaan pada anak, orang tua dapat memanfaatkan momen\u00a0\u00a0liburan dengan mengajak anak berkunjung ke museum. Dengan pergi ke museum, orang tua dapat mengajarkan banyak hal terutama yang berhubungan\u00a0\u00a0dengan\u00a0\u00a0sejarah. Anak akan lebih bisa menghargai warisan \u2013 warisan leluhur dan orang tua juga dapat menamkan semangat kebangsaan yang lebih lagi kepada anak.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Cinta tanah air. Di era globalisasi ini banyak anak yang sudah mulai lupa dengan identitas bangsanya sendiri. Anak \u2013 anak cenderung lebih suka hal \u2013 hal yang kebarat \u2013 baratan. Untuk menghindari dari perspektif ini, orang tua dapat melakukan hal \u2013 hal kecil seperti ketika berpergian ke suatu\u00a0\u00a0tempat, anak dikenalkan dengan makanan ataupun minuman khas dari daerah tersebut sehingga anak mengenal keaneragaman kuliner yang ada di Indonesia. Cara lainnya adalah menanamkan perasaan bangsa memakai batik sebagai salah satu warisan dari leluhur yang juga merupakan\u00a0\u00a0identitas dari Negara Indonesia.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menghargai prestasi. Ganjaran yang diberikan sebagai\u00a0\u00a0bentuk penghargaan dari\u00a0\u00a0orang tua atas prestasi yang dilakukan oleh anaknya adalah hal penting yang dapat menopang keberhasilan penanaman nilai\u00a0\u00a0karakter \u201cmenghargai prestasi\u201d pada anak.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Bersahabat\/ Komunikatif. Banyak factor\u00a0\u00a0yang dapat membuat anak tumbuh dan\u00a0\u00a0berkembang dengan baik. Salah satunya, memberik sedikit pada anak agar mudah bergaul. Sebab, anak\u00a0\u00a0yang punya banyak teman sesungguhnya dapat membawa dampak positif bagi perkembangannya, terutama dalam menumbuhkan karakter pandai bersahabat dan mampu berinteraksi serta berkomunikasi secara baik di lingkungannya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Cinta Damai. Dalam hal ini peran penting keluarga harus menjadi teladan yang baik dalam menumbuhkan karakter cinta damai pada anaknya. Untuk tujuan tersebut orang tua harus menjaga emosi\u00a0\u00a0dan keegoisannya agar tidak bertengkar, dengan hal ini psikologi anak akan mengalami cinta kasih dan perdamain dalam hati anak.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Gemar membaca. Gemar membaca dapat ditumbuhkan melalui sebuah kecintaan akan membaca. Dengan sebuah kecintaan ini kelak akan anak dapati sebagai sosok yang mencintai aktifitas membaca sekalipun ia masih terlalu dini untuk mengenal huruf dan susunan kalimat dalam buku.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Peduli lingkungan. Sikap kecintaan lingkungan anak merupakan\u00a0\u00a0hasil proses pendidikan yang dialaminya, baik dari\u00a0\u00a0sekolah maupun orang tua. Pada umumnya anak\u00a0\u00a0menghabiskan dua pertiga hari di rumah. Oleh karena itu,\u00a0\u00a0pendidikan yang paling efektif adalah keteladanan dari orang tua. Untuk itu, orang tua perlu membiasakan pola hidup yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan dalam keluarga.\u00a0\u00a0Tanamkan pada\u00a0\u00a0diri anak bahwa menjaga alam merupakan bagian dari ibadah, yang memberi manfaat bagi peningkatan kualitas hidup.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Peduli sosial. Untuk menanamkan jiwa sosial tersebut pada anak, orang tua harus lebih banyak melakukan praktik daripada hanya berteori sehingga anak-anak akan mencontoh perbuatan-perbuatan nyata yang orang tua lakukan. Banyak hal yang dapat dipraktikkan untuk menanamkan jiwa sosial pada anak, antara lain: mengajak anak bersama-sama menengok saudara atau tetangga yang sedang sakit, mengajak anak bersama-sama mengunjungi panti jompo, rutin bersedekah dan mengajarkan pentingnya bersedekah pada anak, berbagi kebahagiaan dengan anak-anak jalanan saat ulang tahun anak, menyuguhi minuman pada tukang sampah yang mengangkut sampah dari rumah kita, berbagi makanan yang kita masak pada tetangga di sekitar yang kurang mampu, dan mengajak untuk bersama-sama berbagi kebahagiaan di hari raya keagamaan dengan anak-anak di panti asuhan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tanggung jawab. Tanggung jawab ini dapat ditumbuhkan pada jiwa anak salah satunya ialah melalui pembagian tugas rumah. Dengan memberikan suatu tugas, amanah, pekerjaan tertentu, yang kemudian dikontrol kembali.<\/li>\n<\/ol>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"b_Lingkungan_Sekolah\"><\/span><b><\/b><b><strong>b. Lingkungan Sekolah<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Lingkungan sekolah yang merupakan lingkungan pendidikan formal, juga menentukan dalam perkembangan dan pembinaan karakter peserta didik. Bahkan sekolah dapat disebut sebagai lingkungan pendidikan kedua setelah keluarga yang berperan dalam pendidikan karakter pada seorang peserta didik.[30]hal ini cukup beralasan karena sekolah merupakan tempat khusus dalam menuntut berbagai ilmu pengetahuan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tujuan pendidikan di lingkungan sekolah, termasuk pengembangan karakter, semestinya dapat dicapai melalui pengembangan dan implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP). Di dalam SNP telah secara jelas dijabarkan standar kompetensi lulusan dan materi yang harus disampaikan kepada peserta didik.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Demikian pula basis dari pengembangan kurikulum 2013 juga adalah membangun pendidikan berkarakter. Menurut Hamid Muhammad, ada tiga nilai utama yang dikembangkan di dalam kurikulum 2013. Pertama, menghormati kembali norma-norma budaya bangsa. Pembangunan karakter jujur, bertanggung jawab, dan disiplin merupakan sebagian dari hal itu. Kedua, menumbuhkan nilai-nilai keilmuan. Ketiga, menumbuhkan nilai kebangsaan serta cinta tanah air, termasuk menghargai budaya dan karya bangsa.[31]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pendidikan karakter di lingkungan sekolah seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Oleh karena itu, pendidikan karakter yang selama ini ada di lingkungan sekolah perlu segera dikaji dan dicari alternatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkan secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan.[32]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kegiatan pembinaan kesiswaan yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pendidikan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Kegiatan pembinaan kesiswaan merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di lingkungan sekolah sekolah.[33]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa aspek penting yeng semestinya diperhatikan dalam pendidikan karakter di lingkungan sekolah, yaitu:<\/p>\n<p><strong>Pembenahan kurikulum sekolah<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pengembangan pendidikan karakter di lingkungan sekolah pada dasarnya adalah mengusahakan agar peserta didik mengenal dan menerima nilai-nilai karakter sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya melalui tahapan mengenal pilihan, menilai pilihan, menentukan pendirian, dan selanjutnya menjadikan suatu nilai sesuai dengan keyakinan diri. Dengan prinsip tersebut, peserta didik belajar melalui proses \u201cberpikir, bersikap, dan berbuat\u201d. Ketiga proses dalam pendidikan karakter ini bertujuan untuk mengembangkan kamampuan peserta didik dlaam melakukan kegiatan sosial dan mendorong peserta didik untuk melihat diri sendiri tidak hanya sebagai makhluk individu, tetapi juga makhluk sosial.[34]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Selain paparan diatas, pengembangan kurikulum pendidikan karakter pada prinsipnya terintegrasi ke dalam mata \u2013 mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah. Oleh karena itu, guru dan pemangku kebijakan pendidikan di sekolah hendaknya dapat mengintegrasikan nilai \u2013 nilai yang dikembangkan\u00a0\u00a0dalam pendidikan karakter ke dlaam kurikulum sekolah, silabus, dan rencana program pembelajaran.<\/p>\n<p><strong>Memperbaiki kompetensi, kinerja, dan karakter guru\/ kepala sekolah<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kompetensi merupakan keharusan yang harus dimiliki oleh seorang guru agar ia berhasil dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang guru.[35]\u00a0Menurut Asnawir dalam bukunya Syamsul Kurniawan ada tiga kompetensi yang harus dan sudah dimiliki seorang guru, yaitu pertama, kompetensi dibidang kognitif, yaitu kemampuan intelektual yang harus dimiliki\u00a0\u00a0oleh seorang guru yang mencakup penguasaan materi pelajaran, pengetahuan cara mengajar dan tingkah laku individu, pengetahuan tentang adminitrasi kelas, pengetahuan tentang cara menilai hasil belajar murid, pengetahuan tentang kemasyarakatan, serta pengetahuan umum lainnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kedua, kompetensi di bidang sikap, yaitu kesiapan dan kesediaan guru terhadap berbagai hal berkenaan dengan tugas dan profesinya yang mencakup: menghargai pekerjaan, mencintai, dan memiliki perasaan senang terhadap mata pelajaran yang dibinanya, punya sikap toleransi terhadap sesame taman profesinya, dan mempunyai kemauan yang keras untuk mengetahui hasil pekerjaannya. Ketiga, kompetensi perilaku, yaitu kemampuan guru dalam berbagai keterampilan berperilaku yang mencakup keterampilan mengajar, membimbing, menggunakan alat bantu, media pengajaran, bergaul\/ berkomunikasi dengan teman dalam menumbuhkan semangat belajar murid, menyusun persiapan perencanaan mengajar dan\u00a0\u00a0keterampilan pelaksanaan adminitrasi kelas.[36]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Adapun menurut Nini Subini, kompetensi yang harus dimiliki\u00a0\u00a0seorang guru yaitu: kompetensi pedagogic, kompetensi professional,\u00a0\u00a0kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian.\u00a0[37]\u00a0pada dasarnya, kompetensi pedagogic adalah kemampuan yang harus dimiliki guru dalam mengajarkan materi tertentu kepada peserta didiknya. Kompetensi ini antara lain: 1) memahami karakteristik peserta didik dari berbagai aspek sosial, moral, dan kultural, emosional, dan intelektual, 2) memahami gaya belajar dan kesulitan belajar peserta didik, 3) memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik, 4) menguasai teori dan prinsip belajar serta pembelajaran yang mendidik, 5) mengembangkan kurikulum yang mendorong keterlibatan peserta didik dlaam pembelajaran , 6) merancang pembelajaran yang mendidik, 7) melaksanakan pembelajaran yang mendidik, 8) memahami latar belakang keluarga dan masyarakat peserta didik dan kebutuhan belajar dalam konteks kebhinekaan\u00a0\u00a0budaya, 9) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran, 10) berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik, 11) mengevaluaasi proses dan hasil pembelajaran, 12) melakukan tindakan reflektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, 13) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.[38]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, kompetensi professional berupa kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalalm yang memungkinkannya membimibing peserta didik memenuhi standar kompetensi. Selain itu, kompetensi professional juga berhubungan dengan penguasaan konsep-konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan serta penyesuaian tugas \u2013 tugas keguruan lainnya. Oleh sebab itu, tingkat keprofesionalan seorang guru dapat dilihat dlaam kompetensinya berupa: pertama, kemampuan untuk menguasai landasan kependidikan misalnya memahami tujuan pendidikan yang harus dicapai baik tujuan nasional, institusional, kurikuler, dan tujuan pembelajaran. Kedua,\u00a0\u00a0pemahaman di bidang psikologi pendidikan misalnya memahami tentang tahapan perkembangan peserta didik dan paham tentang teori \u2013 teori belajar.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, kemampuan dalam penguasaan materi pembelajaran sesuai dengan bidang studi yang diajarkannya. Keempat, kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodelogi dan strategi pembelajaran. Kelima, kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar. Keenam, kemampuan dlaam melaksanakan evaluasi pembelajaran dan penelitian. Ketujuh, kemampuan\u00a0\u00a0dalam menyusun program pembelajaran. Kedelapan, kemampuan dalam mealaksanakan unsur penunjang misalnya, adminitrasi sekolah, bimbingan, dan penyuluhan. Kesembilan, kemampuan dlam melaksanakan penelitian dan berpikir ilmiah untuk meningkatkan kinerja. Kesepuluh, kemampuan meingkatkan kualitas pembelajaran melalui evaluasi dan penelitian. Kesebelas, mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif. Keduabelas, memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.[39]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kompetensi sosial adalah kompetensi yang berhubungan dengan kemampuan guru sebagai anggota masyarakat dan makhluk sosial. Dlam hal ini juga termasuk kemampuan guru dalam komunikasi secara efektif dengan peserta didik, sesame pendidik, tenaga kependidikan, orang tua atau wali dan masyarakat. kompetensi sosial yang dimaksud mencakup: 1) kemampuan guru dlaam berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman sejawat untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya, 2) kemampuan guru untuk mengenal dan memahami fungsi \u2013 fungsi setiap lembaga kemasyarakatan, 3) kemampuan guru untuk menjalin kerja sama baik secara individual maupun secara kelompok, 4) kemampuan guru berkomunikasi secara simpatik dan empatik dengan peserta didik, orang tua peserta didik, sesama pendidik dan tenaga kependidikan, dan masyarakat, serta memiliki kontribusi terhadap perkembangan peserta didik, sekolah dan masyarakat, dan dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan pengembangan diri, 5) seorang guru dapat bersikap inklusif, bertindak objektif serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik,\u00a0\u00a0latar belakang keluarga dan status sosial \u2013 ekonomi, 6) seorang guru dapat beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Indonesia yang mempunyai keragaman sosial budaya, 7) seorang guru dapat berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tuliisan atau bentuk lain seperti bahasa isyarat, 8) seorang guru dapat bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua atau wali peserta didik, 9) seorang guru dapat bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta system nilai yang berlaku, 10) menerapkan prinsip \u2013 prinsip persaudaraan sejati\u00a0\u00a0dan semangat kebersamaan.[40]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang berhubungan dengan pribadi masing \u2013 masing guru. Kompetensi kepribadian meliputi: 1) memiliki kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, 2) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, 3) dewasa, juur, dan\u00a0\u00a0berakhlak mulia, 4) mampu mengevaluasi kinerja sendiri, 5) mampu mengembangkan diri secara berkelanjutan, 6) bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia, 7) menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri, 8) menjunjung tinggi kode etik profesi guru.[41]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Adapun terkait dengan pemerintah, kepala sekolah perlu memiliki\u00a0<em>power sharing<\/em>\u00a0sebagai jalan untuk menjebatani antara keinginan sekolah dengan pemerintah. Sementara strategi substansial, yaitu strategi pengembangan sekolah yang berbasis pada kesatuan visi, misi, dan tujuan sekolah yang dijabarkan dalam program pendidikan\u00a0\u00a0dan diaplikasikan dlaam bentuk muatan kurikulum serta kegiatan intra dan ekstrakurikuler bagi peserta didik. Orientasi vvisi, misi, dan tujuan pembelajaran di sekolah harus berpedoman pada amanah yang diemban oleh lembaga pendidikan.<\/p>\n<p><strong>Pengintegrasian dalam budaya sekolah<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sekolah adalah institusi\u00a0\u00a0sosial. Intuisi sosial adalah organisasi yang dibangun masyarakat untuk memepertahankan dan meningkatkan taraf hidupnya. Untuk itu, sekolah harus memiliki budaya sekolah yang kondusif, yang dapat memberi ruang dan kesempatan bagi setiap warga sekolah untuk mengoptimalkan potensi dirinya masing \u2013 masing.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut Kemendiknas dalam bukunya Agus Wibowo mendefenisikan budaya sekolah merupakan suasana kehidupan sekolah tempat peserta didik berinteraksi, baik dengan sesamanya, guru dengan guru, konselor dengan sesamanya, pegawai adminitrasi dengan sesamanya, dan antar \u2013 anggota kelompok masyarakat sekolah. Interaksi internal kelompok dan antar kelompok terikat oleh berbagai aturan, norma, moral serta etika bersama yang berlaku di suatu sekolah.[42]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Budaya sekolah yang positif akan mendorong sumua warga sekolah untuk bekerja sama yang didasarkan saling percaya, mengundang partisipasi seluruh warga, mendorong munculnya gagasan \u2013 gagasan baru, dan memberikan kesempatan untuk terlaksananya pembaruan di sekolah yang semuanya ini\u00a0\u00a0bermuara pada pencapaian\u00a0\u00a0hasil terbaik. Budaya sekolah yang baik dapat menumbuhkan iklim yang mendorong semua warga sekolah untuk belajar, yaitu belajar bagaimana belajar dan belajar bersama.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Budaya sekolah yang baik dapat memperbaiki kinerja sekolah, baik\u00a0\u00a0kepala sekolah, guru, peserta didik, karyawan maupun pengguna sekolah lainnya. Situasi tersebut akan terwujud manakala kualifikasi budaya tersebut bersifat sehat, solid, kuat, positif, dan profoseional. Dengan demikian, suasana kekeluargaan, kolaborasi, ketahanan belajar, semangat terus maju,\u00a0\u00a0dorongan untuk bekerja keras dan belajar mengajar dapat diciptakan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam pendidikan karakter anak dilingkungan sekolah perlu diperhatikan juga nilai-nilia karakter yang harus terbentuk. Pembentukan nilai-nilai karakter ini menjadikan tumbuhnya sebuah idealisme untuk pemantapan identitas diri.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Berikut penjelasan tentang strategi internalisasi karakter pada peserta didik di lingkungan sekolah:<\/p>\n<p><strong>Nilai relegius.<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kegiatan religious yang dapat diajarkan kepada peserta didik di sekolah tersebut yang dapat dijadikan sebagai pembiasaan, diantaranya: 1) berdoa atau bersyukur, 2) melaksanakan kegiatan di musholla, 3) merayakan hari raya keagamaan sesuai dengan agamanya, 4) mengadakan kegiatan keagmaan sesuai dengan agamanya.[43]<\/p>\n<p><strong>Jujur.<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Salah satu bentuk program yang dapat dilakukan oleh sekolah untuk menumbuhkan kejujuran pada peserta didik adalah, yaitu dengan membuat kantin kejujuran. Kantin kejujuran adalah tempat menjual minuman dan makanan di sekolah kepada peserta didik dengan tujuan untuk melatih kejujuran para peserta didik dalam membayar makanan dan minuman yang mereka ambil.[44]<\/p>\n<p><strong>Toleransi.<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Untuk membentuk peserta didik yang memiliki rasa toleransi terhadap sesama tentu tidak mudah. Namun, ada beberapa poin penting yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam memulai dan berinovasi. Beberapa poin yang dapat dijadikan acuan bagi guru dalam membentuk sikap toleransi peserta didik, sebagai berikut: 1) memperhatikan ranah afektif, 2) keteladanan guru, 3) pembiasaan terhadap perbedaan, 4) melatih heterogenitas dalam kelompok.[45]<\/p>\n<p><strong>Disiplin.<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kedisiplinan penting dimiliki peserta didik sehingga seorang guru harus mampu menumbuhkan perilaku disiplin dalam diri peserta didiknya, terutama disiplin diri sendiri. Dalam kaitan ini, seorang guru harus mampu malakukan hal \u2013 hal berikut: 1) membantu peserta didik mengembangkan pola perilaku untuk dirinya, 2) membantu peserta didik meningkatkan standar perilakunya karena pserta didik berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda,\u00a0\u00a0jelas mereka ada yang memiliki standar perilaku tinggi, sebaliknya ada yang mempunyai standar perilaku yang sangat rendah, 3) menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat.<\/p>\n<p><strong>Kerja keras.<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Peserta didik perlu\u00a0\u00a0diajrkan mengenai pentingnya kerja keras. Kerja\u00a0\u00a0keras adalah perilaku yang menunjukkan upaya sungguh \u2013 sungguh dalam mengatasi berbagi hambatan belajar dan\u00a0\u00a0tugas serta menyelesaikan tugas dengan sebaik \u2013 baiknya.[46]\u00a0Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan seorang guru untuk mengajarkan dan menanamkan kegigihan dalam\u00a0\u00a0diri seorang peserta didik: 1) bantu pserta didik untuk membuat target pencapaian yang realistis dan bisa dicapai oleh peserta didik, 2) guru harus menyadari bahwa target ataupun pencapaian adalah sarana belajar bagi peserta didik dan rambu \u2013 rambu agar peserta didik menjadi giat dlam belajar dan berusaha, 3) hargailah setiap proses belajar yang belajar yang telah dilalui peserta didik, 4) secara eksplisit, ajarkan peserta didik akan arti nilai\u00a0\u00a0kerja keras dan\u00a0\u00a0ketekunan, 5) bila seorang peserta didik menemui\u00a0\u00a0kegagalan dalam mencapai targetnya, ajarkan peserta didik untuk berdamai dengan kegagalan itu, dan\u00a0\u00a0dorong peserta didik agar segera bangkit lagi untuk menyelesaikan masalah tersebut, 6) berikan kesempatan kepada peserta\u00a0\u00a0didik untuk menghadapi tantangan dan\u00a0\u00a0hal \u2013 hal baru.[47]<\/p>\n<p><strong>Kreatif<\/strong>.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kreatif adalah suatu kemampuan umum untuk menciptakan suatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan\u00a0\u00a0gagsan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai\u00a0\u00a0kemampuan untuk melihat hubungan \u2013 hubungan baru\u00a0\u00a0antara unsur \u2013 unsur yang sudah ada sebelumnya.[48]\u00a0Menurut Akhmad Sudrajat dalam\u00a0\u00a0buku\u00a0\u00a0Syamsul Kurniawan menunjukkan\u00a0\u00a0beberapa hal seseorang peserta didik dikatakan memiliki kreativitas, yaitu: 1) merasa penasaran dan memiliki\u00a0\u00a0rasa ingin tahu, mempertanyakan, dan menantang serta tidak terpaku pada kaidah \u2013 kaidah yang ada, 2) memiliki kemampuan berpikir lateral dan mampu membuat hubungan \u2013 hubungan di luar hubungan yang lazim, 3) memimpikan tentang sesuatu, dapat membayangkan, melihat berbagai kemungkinan, bertanya \u201c<em>apa seandainya\u2026?<\/em>\u201d dan melihat sesuatu dari\u00a0\u00a0sudut pandang yang berbeda, 4) mengeksplorasi berbagai pemikiran dan pilihan, mamainkan idenya, mencobakan alternatif \u2013 alternative dengan melalui pendekatan yang segar, memelihara pemikiran yang terbuka, dan memodifikasi pemikirannya untuk memperoleh hasil yang kreatif, 5) merefleksi secara kritis atas setiap gagasan, tindakan, dan hasil \u2013 hasil, meninjau ulang kemajuan yang telah dicapai, mengundang dan memanfaatkan umpan balik, mengkritik secara konstruktif dan dapat melakukan pengamatan secara cerdik.[49]<\/p>\n<p><strong>Mandiri.<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Mandiri adalah suatu sikap dan perilaku yang mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas \u2013 tugas.\u00a0[50]\u00a0Untuk menjadi mandiri, perserta didik di lingkungan sekolah hendaknya sesekali dibiasakan belajar secara mandiri. Peserta didik dapat mempelajari pokok bahasan atau topic pelajaran tertentu dengan membaca buku atau melihat dan mendengarkan program media audia visual tanpa bantuan atau dengan bantuan terbatas dari orang lain. Di samping itu, peserta didik mempunyai otonomi dalam belajar. Otonomi tersebut terwujud dalam beberapa kebebasan sebagai berikut: 1) peserta didik mempunyai kesempatan untuk ikut menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai sesuai dengan kondisi dan kebutuhan belajarnya, 2) peserta didik boleh ikut menentukan bahan belajar yang ingin dipelajarinya dan\u00a0\u00a0cara mempelajarinya, 3) peserta didik mempunyai kebebasan untuk belajar sesuai dengan kecepatannya sendiri, 4) peserta didik dapat ikut menentukan cara evaluasi yang akan digunakan untuk menilai kemajuan belajarnya.[51]<\/p>\n<p><strong>Demokratis.<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Demokrasi adalah cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai secara sama hak dan\u00a0\u00a0kewajiban dirinya dan orang lain. Nilai \u2013 nilai demokratis ini dipercaya akan membawa kehidupan berbangsa dan bernegara dalam semangat egalitarian dibandingkan dengan ideology non-demokrasi. Menurut Syamsul Kurniawan ada beberapa poin yang dapat dijadikan acuan dalam mengajarkan dan\u00a0\u00a0menanamkan nilai \u2013 nilai demokrasi dalam diri\u00a0\u00a0seorang peserta didik: 1) peran guru, 2) pengembangan nilai \u2013 nilai demokratis dalam proses pembelajaran di kelas, 3) menggunakan model\u00a0<em>active learning\u00a0<\/em>atau belajar aktif, 4) dalam hal pengambilan keputusan, peserta didik harus dilatih secara demokratis memutuskan dan melaksanakan keputusan secara bertanggung jawab.[52]<\/p>\n<p><strong>Rasa ingin tahu.<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Rasa ingin tahu pada setiap orang amatlah penting. Untuk itu, seorang guru seharusnya bisa memupuk sifat ini pada peserta didik guna merangsang kreativitas di masa depannya. Menurut Syamsul Kurniawan, sekurang \u2013 kurangnya ada empat alasan dalam pentingnya rasa ingin tahu, yaitu: 1) rasa ingin tahu membuat pikiran peserta didik menjadi aktif, 2) rasa ingin tahu membuat peserta didik menjadi para pengamat yang aktif, 3) rasa ingin tahu akan\u00a0\u00a0membuka dunia \u2013 dunia baru yang menantang dan menarik pserta didik untuk mempelajarinya lebih dalam, 4) rasa ingin tahu membawa kejutan \u2013 kejutan kepuasan dalam diri peserta didik dan\u00a0\u00a0meniadakan rasa bosan\u00a0\u00a0untuk belajar.[53]<\/p>\n<p><strong>Semangat kebangsaan.<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Semangat kebangsaan adalah cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan nebara di atas kepentingan pribadi dan kelompoknya. Upaya menanamkan semangat kebangsaan pada peserta didik di sekolah, diantaranya dapat melalui kegiatan \u2013 kegiatan seperti:\u00a0\u00a01) melakukan upacara bendara secara\u00a0\u00a0rutin di tiap minggunya, 2) melakukan ucpacara hari \u2013 hari besar nasional, 3) menyelenggarakan peringatan hari kepahlawanan nasional, 4) memiliki program kunjungan ke tempat bersejarah, 5) mengikutsertakan peserta didik dalam kegiatan lomba pada peringatan hari besar nasional.[54]<\/p>\n<p><strong>Cinta tanah air.<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Mengingat pentingnya rasa cinta tanah air, sudah semestinya ditumbuhkembangkan dalam jiwa setiap peserta didik di lingkungan sekolah. Beberapa kegiatan sekolah yang dapat menumbuhkembangkan rasa cinta tanah air diantaranya: 1) menyanyikan lagi kebangsaan setiap upacara bendera dan peringatan hari besar nasional, 2) memajang foto pahlawan nasional di kelas \u2013 kelas, 3) memperingati hari besar nasional\u00a0\u00a0dengan kegiatan lomba atau pentas budaya, 4) mengenalkan aneka kebudayaan bangsa secara sederhana dengan menunjukkan miniature candid an menceritakannya, gambar rumah, dan pakaian\u00a0\u00a0adat, 5) mengenakan pakaian adat pada hari kartini atau hari\u00a0\u00a0lainnya yang dirasa perlu, 6) mengunjungi museum terdekat, 7) dan lain \u2013 lain.[55]<\/p>\n<p><strong>Menghargai prestasi.<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pendidikan adalah proses memindahkan ilmu pengetahuan dan informasi dari\u00a0\u00a0guru ke peserta didik. Karena merupakan proses maka harus ada tolak ukur\u00a0\u00a0prestasi dari proses yang dilakukan tersebut, inilah mengapa diperlukan evaluasi pembelajaran yang menjadi indicator keberhasilan pendidikan di sekolah. Namun setiap hasil proses yang diperoleh peserta didik perlu\u00a0\u00a0menghargainya, dengan sebuah penghargaan, peserta didik\u00a0\u00a0akan lebih semangat dalam belajar.<\/p>\n<p><strong>Bersahabat\/ Komunikatif.<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam menanamkan pendidikan karakter bagi peserta didik diperlukan adanya bentuk keteladanan dan pembiasaan. Secara psikologis\u00a0\u00a0perkembangan peserta didik\u00a0\u00a0dalam proses pembelajaran,\u00a0\u00a0dipengaruhi dari\u00a0\u00a0apa\u00a0\u00a0yang mereka ingat dan meniru apa yang mereka lihat. Dengan hal tersebut, maka guru hendaknya memberi contoh yang baik kepada peserta didiknya. Salah satu contoh menumbuhkan sifat bersahabat yaitu dengan membiasakan untuk menyapa atau mengucapkan salam ketika bertemu dengan peserta didik, hal ini\u00a0\u00a0membuat peserta didik akan terbiasa dengan sikap bersahabat\/komunikatif guru \u2013 guru mereka.[56]<\/p>\n<p><strong>Cinta Damai.<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang memiliki system terstruktur, kepemimpinan yang terorganisasi, dan waktu pembelajaran yang sistematis, semestinya memang dapat menjadi tempat membentuk karakter peserta didik yang cinta damai. Ada beberapa poin yang dapat dijadikan acuan sekolah dalam membentuk karakter peserta didik yang cinta damai, yaitu: menciptakan suasana sekolah dan bekerja yang nyaman, tentram, dan harmonis, 2) membiasakan perilaku\u00a0\u00a0warga sekolah yang antikekerasan, 3) membiasakan perilaku warga sekolah yang\u00a0\u00a0tidak bias gender.[57]<\/p>\n<p><strong>Gemar membaca.<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Gemar membaca dapat ditumbuhkan melalui sebuah kecintaan akan membaca. Dengan sebuah kecintaan ini kelak peserta didik dapati sebagai sosok yang mencintai aktifitas membaca. Aktifitas ini dapat dilakukan dengan memfasilitasi perpustakaan dengan kreatifitas dan pelayanan yang baik.<\/p>\n<p><strong>Peduli lingkungan.<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kepedulian peserta didik pada lingkungan dapat dibentuk melalui\u00a0\u00a0budaya sekolah kondusif dan produktif. Sekolah yang secara kondusif dan produktif mampu memberikan pengalaman baik bagi tumbuhkembangnya karakter peserta didik seperti yang diharapkan. Misalnya dengan: 1) pembiasaan memelihara kebersihan dan\u00a0\u00a0kelestarian lingkungan sekolah, 2) tersedia tempat cuci tangan, 3) menyediakan kamar mandi dan air berish, 4) pembiasaan hemat energy, 5) membuat biopori di area sekolah, 6) membangun saluran pembuangan air limbah dengan baik, 7) melakukan\u00a0\u00a0pembiasaan memisahkan jenis sampah organic dan anorganik, 8) dan lain \u2013 lain.[58]<\/p>\n<p><strong>Peduli sosial.<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kepedulian sosial adalah sebuah tindakan bukan hanya sebatas pemikiran atau perasaan. Tindakan peduli tidak hanya tahu tentang sesuatu yang salah atau benar, tapi ada kemauan melakukan gerakan sekecil\u00a0\u00a0apapun. Memiliki jiwa kepedulian sosial sangat penting bagi\u00a0\u00a0setiap orang, begitu juga pentingnya bagi seorang peserta didik. Untuk itu ada beberapa alternative kegiatan yang dapat diadakan dalam kerangka mengajarkan dan menanamkan nilai \u2013 nilai kepedulian\u00a0\u00a0dalam diri seorang peserta didik, misalnya menfasilitasi kegiatan yang bersifat sosial, melakukan\u00a0\u00a0aksi sosial, menyediakan fasilitas untuk menyumbang, dan lain \u2013 lain.<\/p>\n<p><strong>Tanggung\u00a0\u00a0jawab.<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tanggung jawab penting untuk ditanamkan sejak dini pada peserta didik di lingkungan sekolah. Agar guru dapat mengajari tanggung jawab secara lebih efektif dan efesien kepada peserta didiknya, guru dapat melakukan beberapa cara sebagai berikut: 1) memberi peringatan pada peserta didik apa itu sebenarnya tanggung jawab, 2) perlu adanya pembagian tanggung jawab peserta didik satu dengan yang lain, 3) mulailah memberikan pelajaran kepada peserta didik tentang rasa tanggung jawab mulai dari hasil-hasil kecil.[59]<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"c_Lingkungan_Pendidikan_Masyarakat\"><\/span><b><\/b><b><strong>c. Lingkungan Pendidikan Masyarakat<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sebagai lingkungan pendidikan nonformal, masyarakat semestinya juga turut berperan dalam terselenggaranya proses pendidikan karakter. Setiap individu sebagai anggota dari masyarakat tersebut harus bertanggung jawab\u00a0\u00a0dalam menciptakan suasana yang nyaman dan\u00a0\u00a0mendukung.[60]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam pendidikan anak, orang tua hendaknya memilih lingkungan yang mendukung pendidikan anak dan menghindari lingkungan masyarakat yang kurang baik. Sebab, ketika anak atau peserta didik berada di lingkungan masyrakat yang kurang baik, perkembangan karakter atau kepribadian anak tersebut\u00a0\u00a0dapat menjadi kurang baik. Orang tua\u00a0\u00a0harus memilih lingkungan masyarakat yang sehat dan cocok sebagai tempat tinggal orang tua beserta anaknya. Demikian pula sekolah sebagai\u00a0\u00a0lingkungan pendidikan formal, juga perlu memilih lingkungan masyarakat yang baik sehingga ikut mendukung proses pendidikan.[61]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Karena pentingnya peran masyarakat sebagai pusat pendidikan\u00a0\u00a0karakter maka setiap individu sebagai anggota\u00a0\u00a0masyarakat harus menciptakan suasana yang nyaman demi keberlangsungan proses pendidikan yang terjadi didalamnya. Di Indonesia, dikenal adanya konsep pendidikan berbasis masyarakat (<em>community based education<\/em>) sebagai upaya\u00a0\u00a0untuk memberdayakan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Meskipun konsep ini lebih sering dikaitkan dengan sekolah sebagai pendidikan formal, dengan adanya konsep ini\u00a0\u00a0sekaligus menunjukkan bahwa kepedulian\u00a0\u00a0masyarakat sangat dibutuhkan, serta keberadaannya sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan di\u00a0\u00a0sekolah.[62]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam pentingnya pendidikan karakter di\u00a0\u00a0lingkungan masyarakat, secara spesifik ada beberapa aspek penting yaitu: 1) pengondisian di\u00a0\u00a0lingkungan masyarakat, 2) sarana \u2013 sarana pendidikan karakter di lingkungan masyarakat yang meliputi: tempat \u2013 tempat ibdah, perpustakaan daerah, organisasi sosial masyarakat, kegiatan \u2013 kegiatan masyarakat, dan media sosial, 3) keteladanan pemimpin, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.[63]<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Komponen_Pendidikan_Karakter\"><\/span><b><\/b><b><strong>Komponen Pendidikan Karakter<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada dasarnya dalam rangkaian suatu proses pendidikan memiliki komponen yang sama, yang membuat proses pendidikan\u00a0\u00a0itu dapat berlangsung. Demikian pula halnya dengan pendidikan karakter. Menurut Syamsul Kurniawan ada tujuh komponen\u00a0\u00a0dalam pendidikan\u00a0\u00a0karakter diantaranya:\u00a0[64]<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><\/b><b><strong>Pendidik<\/strong><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pendidik adalah orang yang melakukan\u00a0\u00a0kegiatan dalam hal\u00a0\u00a0mendidik. Pendidik bisa\u00a0\u00a0berupa orang tua, guru, maupun tokoh masyarakat atau sejenisnya. Karena pelaksanaan pendidikan\u00a0\u00a0karakter menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan\u00a0\u00a0masyarakat maka semestinya tidak boleh ada yang menganggap bahwa pendidikan hanya menjadi tanggung jawab lingkungan sekolah saja. Disamping keluarga, masyarakat juga harus mengambil peran penting dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Untuk itu, setiap orang dewasa di dalam masyarakat dapat menjadi pendidik[65]<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><\/b><b><strong>Peserta Didik<\/strong><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam masyarakat, ada beberapa istilah yang digunakan untuk\u00a0\u00a0menyebut peserta didik, seperti\u00a0<em>siswa, murid, santri, pelajar, mahasiswa,<\/em>\u00a0dan sebagainya. Istilah\u00a0<em>siswa, murid,\u00a0<\/em>dan\u00a0<em>pelajar<\/em>, umumnya digunakan untuk menyatakan peserta didik pada jenjang pendidikan dasar sampai sekolah menengah. Sementara bagi peserta didik pada tingkat pendidikan tinggi atau akademi, disebut\u00a0<em>mahasiswa<\/em>. Istilah\u00a0<em>santri\u00a0<\/em>digunakan untuk mengatakan peserta didik yang menuntut ilmu di pondok pesantren.[66]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut Syamsul Kurniawan, peserta didik adalah orang- orang yang sedang memerlukan pengatahuan atau ilmu, bimbingan, maupun arahan dari orang lain.\u00a0[67]Untuk menentukan jenis peserta didik maka tidak dapat terlepas dari jenis \u2013 jenis atau bentuk \u2013 bentuk pendidikan.\u00a0\u00a0Secara umum, bentuk pendidikan dibagi menjadi dua, yaitu pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Pendidikan sekolah merupakan lembaga pendidikan formal. Sementara pendidikan luar sekolah mengambil bentuk dalam pendidikan informal (lingkungan keluarga) dan pendidikan nonformal (lingkungan masyarakat). Murid adalah peserta didik di sekolah, anak kandung adalah peserta didik di lingkungan keluarga, dan anak \u2013 anak penduduk adalah peserta didik dari masyarakat sekitar.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><\/b><b><strong>Kurikulum Pendidikan Karaktar<\/strong><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Saat ini istilah kurikulum lebih lazim digunakan pada lingkungan pendidikan formal, yaitu sekolah dari pada lingkungan pendidikan informal atau di lingkungan pendidikan nonformal, untuk menyebut seluruh program\u00a0\u00a0pendidikan yang ada didalamnya tercakup masalah \u2013 masalah metode, tujuan, tingkat pengajaran, materi pelajaran setiap tahun ajaran, topik \u2013 topik pelajaran, serta aktivitas yang dilakukan setiap peserta didik pada setiap materi pelajaran.[68]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dilihat dari fungsi maupun tujuan, kurikulum merupakan sejumlah kegiatan yang mencakup\u00a0\u00a0berbagai rencana strategi belajar mengajar. Pengaturan \u2013 pengaturan program agar dapat diterapkan, hal \u2013 hal yang mencakup pada kegiatan yang bertujuan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam implementasi pendidikan karakter di lingkungan pendidikan formal, kurikulum merupakan salah satu komponen. Namun demikian, dlam kurikulum itu sendiri juga mempunyai beberapa komponen. Hasan Langlung menyebutkan sekurang \u2013 kurangnya ada empat komponen utama dalam kurikulum, yaitu: a) tujuan \u2013 tujuan yang ingin dicapai oleh suatu jenjang pendidikan, b) pengetaguan (<em>knowledge<\/em>), informasi, data \u2013 data, aktivitas, dan\u00a0\u00a0pengalaman dari mana dan bagaimana yang dimuat oleh suatu kurikulum, c) metode dan cara \u2013 cara mengajar yang dipakai oleh pendidik untuk mengajar dan memotivasi peserta didik untuk membawa mereka kea rah yang dikehendaki kurikulum, d) metode dan cara penilaian yang dipergunakan dalam mengukur dan menilai kurikulum dan hasil proses pendidikan yang direncanakan kurikulum tersebut.[69]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Satu hal yang menjadi sebab pentingnya kurikulum dalam pendidikan karakter, yaitu dengan kurikulum maka kegiatan pendidikan karakter akan terarah dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[70]<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pendekatan_dalam_Pendidikan_Karakter\"><\/span><b><\/b><b><strong>Pendekatan dalam Pendidikan\u00a0\u00a0Karakter<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Setiap institusi pendidikan baik informal, formal, maupun nonformal niscaya mendambakan dan ikut serta berupaya melahirkan\u00a0\u00a0generasi penerus (<em>out put<\/em>) yang selain memiliki keunggulan bersaing (<em>competitive advantage<\/em>) untuk menjadi subjek dalam percaturan di dunia kerja, juga memiliki karakter yang baik sehingga dapat memakmurkan dan memuliakan kehidupan material dan spiritual diri, keluarga, dan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Untuk mencapai tujuan tersebut, dalam proses pendidikan karakter dan pengajaran nilai \u2013 nilai karakter diperlukan pendekatan yang bersifat\u00a0<em>multiapproach,<\/em>\u00a0yang pelaksanaannya mengikuti hal \u2013 hal berikut: a) pendekatan religious, yang\u00a0\u00a0menitikberatkan kepada pandangan bahwa peserta didik adalah makhluk yang berjiwa religious dengan bakat \u2013 bakat keagamaan, b) pendekatan filosofis, yang memandang bahwa peserta didik adalah makhluk rasional sehingga segala sesuatu yang menyangkut pengembangannya didasarkan pada sejauh mana kemampuan berpikirnya dapat dikembangkan sempai titik maksimal perkembangannya, c) pendekatan sosio kultural, yang bertumpu pada pandangan bahwa peserta didik adalah makhluk bermasyarakat dan berkebudayaan sehingga dipandang sebagai\u00a0<em>homo sosialis<\/em>\u00a0dalam kehidupan bermasyarakat yang berkebudayaan, d) pendekatan\u00a0<em>scientific,<\/em>\u00a0dimana titik beratnya pada pandangan bahwa peserta didik memiliki kemampuan menciptakan (kognitif), berkemauan dan merasa (emosional atau afektif).[71]<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Metode_Pendidikan_Karakter\"><\/span><b><\/b><b><strong>Metode Pendidikan Karakter<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Metode pendidikan adalah suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau pengajaran. Umumnya pendidik selain guru\u00a0\u00a0(orang tua atau masyarakat) tidak mengenal nama \u2013 nama dan jenis \u2013 jenis metode pendidikan, namun dari segi praktik yang mereka lakukan tidak lain banyak yang sudah mengimplementasikan dari metode pendidikan yang\u00a0\u00a0dilakukan atau yang dipelajari di sekolah.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Beberapa metode pendidikan yang lazim dipraktikkan di lingkungan sekolah, antara lain metode ceramah, Tanya jawab, diskusi, latihan, pemberian tugas, cerita, demonstrasi, sosio-drama, dan sebagainya. Dlaam lingkungan pendidikan formal, yaitu sekolah, metode pendidikan tersebut dipilih dan digunakan secara bervariasi dengaan mempertimbangkan tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, keadaan peserta didik, situasi yang sedang berlangsung, kemampuan pendidik, serta fasilitas penunjang yang tersedia.[72]<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Evaluasi_Pendidikan_Karakter\"><\/span><b><\/b><b><strong>Evaluasi Pendidikan Karakter<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam pendidikan karakter, evaluasi mutlak dilakukan karena bertujuan untuk mengukur dan menilai tingkat pencapain tujuan \u2013 tujuan pendidikan karakter, untuk selanjutnya menentukan langkah \u2013 langkah tindak lanjut atau kebijakan berikutnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Evaluasi pendidikan karakter merupakan seperangkat tindakan atau\u00a0\u00a0proses untuk menentukan nilai\u00a0\u00a0suatu yang berkaitan dengan pendidikan karakter berdasarkan suatu standar. Dalam evaluasi pendidikan karakter memiliki tujuan, adapun tujuannya adalah: a) untuk mengetahui sampai sejauh mana keberhasilan proses pendidikan karakter dan b) untuk memperbaiki kekurangan yang ada supaya hasil selanjutnya menjadi lebih baik.[73]<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sarana_Prasarana_dan_Fasilitas_Pendidikan_Karakter\"><\/span><b><\/b><b><strong>Sarana Prasarana dan Fasilitas Pendidikan Karakter<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pendidikan karakter memerlukan sarana dan fasilitas pendidikan karakter. Sarana dan fasilitas pendidikan antara lain, dapat berupa gedung dan ruang belajar, perpustakaan, laboratorium, peralatan belajar,\u00a0\u00a0dan\u00a0\u00a0lain sebagainya, yang diperlukan\u00a0\u00a0sebagai sarana dan prasarana\u00a0\u00a0penunjang kelancaran proses pembelajaran.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam konteks penyelenggaraan pendidikan karakter khususnya di lingkungan keluarga, kepentingannya tidak terletak pada kelengkapan sarana dan fasilitas yang disediakan, tetapi pada kemampuan menata dan memanfaatkan serana dan fasilitas yang ada di rumah, menjadi sarana dan fasilitas pendidikan.[74]<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Implementasi_Pendidikan_Karakter\"><\/span><b><\/b><b><strong>Implementasi Pendidikan Karakter<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pendidikan karakter\u00a0 dapat dimaknai sebagai proses penanaman nilai esensial pada diri seseorang melalui serangkaian kegiatan pembelajaran dan pendampingan sehingga seseorang sebagai individu mampu memahami, mengalami, dan mengintegrasikan nilai yang menjadi nilai inti (<em>core values)<\/em>\u00a0dalam pendidikan yang dijalaninya ke dalam kepribadiannya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam pendidikan, peran dan fungsi pendidikan sangat strategis yang tidak dapat dipungkiri. Sebab seorang pendidik turut menentukan sesuatu yang relevan digunakan dalam\u00a0\u00a0mendidik dan mengajar, dan bagaimana peserta didik itu belajar memperoleh pengetahuan dan nilai-nilai hidupnya dengan mengimplisitkan nilai dalam pengetahuannya itu serta bersedia menularkan pengetahuannya kepada orang lain.[75]\u00a0Hal ini sebagaiman tertera dalam fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tertera dalam UU No 20 Tahun 2003 pasal 3, mengisyaratkan bahwa pendidikan di setiap jenjang harus diselenggarakan secara sistematis.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik, diharapkan meraka mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. berdasarkan penelitiannya di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis\u00a0<em>(hard skill)<\/em>\u00a0saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain\u00a0<em>(soft skill)<\/em>.[76]\u00a0Hal ini berbeda dengan praktek pendidikan di Indonesia yang cenderung lebih berorentasi pada pendidikan berbasis\u00a0<em>hard skill\u00a0<\/em>(keterampilan teknis) yang lebih bersifat mengembangkan intelligence quotient (IQ), namun kurang mengembangkan kemampuan\u00a0<em>softskill<\/em>\u00a0yang tertuang dalam\u00a0<em>emotionalintelligence<\/em>\u00a0(EQ), dan\u00a0<em>spiritualintelligence<\/em>\u00a0(SQ). Pembelajaran diberbagai sekolah bahkan perguruan tinggi lebih menekankan pada perolehan nilai hasil ulangan maupun nilai hasil ujian. Banyak guru yang memiliki persepsi bahwa peserta didik yang memiliki kompetensiyang baik adalah memiliki nilai hasil ulangan\/ujian yang tinggi.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Seiring perkembangan zaman, pendidikan yang hanya berbasiskan\u00a0<em>hard skill<\/em>\u00a0yaitu menghasilkan lulusan yang hanya memiliki prestasi dalam akademis, harus mulai dibenahi. Sekarang pembelajaran juga harus berbasis pada pengembangan\u00a0<em>soft skill<\/em>\u00a0(interaksi sosial) sebab ini sangat penting dalam pembentukan karakter anak bangsa sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Pendidikan\u00a0<em>soft skill<\/em>\u00a0bertumpu pada pembinaan mentalitas agar sesorang dapat menyesuaikan diri dengan realitas kehidupan. Kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan keterampilan teknis\u00a0<em>(hard skill)\u00a0<\/em>saja, tetapi juga oleh keterampilan mengelola diri dan orang lain\u00a0<em>(soft skill)<\/em>. Adapun Muchlas Samani mengemukakan tentang beberapa langkah yang dapat dikembangkan dalam melakukan proses pembentukan karakter yang baik, dalam hal ini dapat dikaitkan dalam pendidikan karakter dalam lingkungan sekolah agar peserta ddiik lebih baik dan kompeten. Adapun langkah tersebut adalah sebagai berikut:<\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menambahkan nilai kebaikan dalam diri peserta didik\u00a0<em>(knowing the good<\/em>)<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menggunakan cara yang dapat membuat peserta didik memiliki alasan atau keinginan untuk berbuat baik (<em>desiring the good<\/em>)<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Dorongan untuk melakukan hal-hal yang baik dalam diri peserta didik\u00a0<em>(doing the good)<\/em><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membiasakan olah pikir dan kalbu pada peserta didik\u00a0<em>(habit of the mind and heart)<b><strong>[77]<\/strong><\/b><\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sementara Masnur Muslich memberikan formula bahwa pendidikan\u00a0 karakter jika ingin efektif dan\u00a0 utuh harus menyertakan tiga basis desain dalam pemogramannya.[78]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">1)\u00a0\u00a0Desain pendidikan\u00a0 karakter berbasis kelas. Desain ini berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan peserta didik sebagai pembelajar di dalam kelas. Konteks pendidikan karakter adalah proses relasional komunitas kelas dalam konteks pembelajaran. Relasi guru-pembelajar bukan monolog, melainkan dialog dengan banyak arah sebab komunitas kelas terdiri atas guru dan siswa yang sama-sama berinteraksi dengan materi.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">2)\u00a0\u00a0Desain pendidikan karakter berbasis kultur sekolah. Desain ini mencoba membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri peserta didik.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">3)\u00a0\u00a0Desain pendidikan karakter berbasis komunitas. Dalam mendidik, komunitas sekolah tidak berjuang sendirian.Masyarakat di luar lembaga pendidikan, seperti keluarga, masyarakat umum, dan negara, juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam\u00a0 konteks kehidupan mereka.<\/p>\n<p>[9]\u00a0Tadkirotun Musfiroh,\u00a0<em>\u201c Pengembangan Karakter Anak Melalui Pendidikan Karakter\u201d dalam Tinjauan Berbgagai Aspek Character Building: Bagaimana Mendidik Anak Berkarakter?<\/em>\u00a0( Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008), h.28.<\/p>\n<p>[10]\u00a0Dharma kusuma,\u00a0<em>Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah<\/em>, h. 4<\/p>\n<p>[11]\u00a0Agus Wibowo,\u00a0<em>Pendidikan Karakter Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban\u00a0<\/em>(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), 33.<\/p>\n<p>[12]\u00a0Dharma kusuma,\u00a0<em>Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah<\/em>, h. 4<\/p>\n<p>[13]\u00a0Jamal Ma\u2019mur Asmani,\u00a0<em>Buku Panduan Internalisasi Pendidikan karakter di Sekolah<\/em>\u00a0(Yogyakarta: Diva press, 2011), h.28.<\/p>\n<p>[14]\u00a0Nurla Isna Aunillah<em>, Panduan Menerapkan Karakter di Sekolah\u00a0<\/em>(Yogyakarta: Laksana, 2011), h.18-19.<\/p>\n<p>[15]\u00a0Heri Gunawan,\u00a0<em>Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasi<\/em>, 30.<\/p>\n<p>[16]\u00a0Nuria Isna Aunillah,\u00a0<em>Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah<\/em>, 97.<\/p>\n<p>[17]\u00a0Darma Kususma, ea al.,\u00a0<em>Pendidikan Karakter<\/em>, 6.<\/p>\n<p>[18]\u00a0Asmani, Jamal Ma\u2019mur.\u00a0<em>Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah<\/em>\u00a0( Yogyakarta: Diva Press, 2011), 6.<\/p>\n<p>[19]\u00a0<em>Ibid. 42<\/em><\/p>\n<p>[20]\u00a0Dharma kusuma,\u00a0<em>Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah<\/em>, h. 6.<\/p>\n<p>[21]\u00a0Zubaedi,\u00a0<em>Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan,\u00a0<\/em>(Jakarta: Kencana, 2011), h.72-73<\/p>\n<p>[22]\u00a0<em>Ibid<\/em>, h.73-74<\/p>\n<p>[23]\u00a0Retno Listyanti,\u00a0<em>Pendidikan Karakter dalam Metode Aktif, Inovatif, &amp; Kreatif,\u00a0<\/em>(Jakarta: Esensi, 2012), h.5-8<\/p>\n<p>[24]\u00a0Syamsul kurniawan,\u00a0<em>Pendidikan Karakter: Konsep &amp; Implementasinya secara terpadu di Lingkungan Keluarga, Perguruan Tinggi, &amp; Masyarakat<\/em>, (Yogyakarta: Ar-ruzz Media, 2013), h.42<\/p>\n<p>[25]\u00a0Ibid, h.43<\/p>\n<p>[26]\u00a0Departemen Pendidikan Nasional,\u00a0<em>Kamus Besar Bahasa Indonesia,\u00a0<\/em>(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011), h.659<\/p>\n<p>[27]\u00a0Suparyato,\u00a0<em>\u201cpengertian Keluarga\u201d<\/em>, dalam http:\/\/dr-suparyanto.blogspot.com<\/p>\n<p>[28]\u00a0Suyanto,\u00a0<em>\u201cUrgensi Pedidikan Karakter\u201d<\/em>\u00a0dalam www.mandikdasmen. Depdiknas.go.id<\/p>\n<p>[29]\u00a0Syamsul kurniawan,\u00a0<em>Pendidikan Karakter: Konsep &amp; Implementasinya secara terpadu di Lingkungan Keluarga, Perguruan Tinggi, &amp; Masyarakat<\/em>, h.85-101<\/p>\n<p>[30]\u00a0Moh.Haitami Slaim dan Syamsul Kurniawan,\u00a0<em>Studi Ilmu Pendidikan Islam<\/em>, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), h.268<\/p>\n<p>[31]\u00a0Buku panduan pendidikan\u00a0\u00a0karakter di Sekolah Menengah Atas Pertama, dalam\u00a0<em>http:\/\/goeroendeso.file.wordpress.com<\/em><\/p>\n<p>[32]\u00a0Syamsul kurniawan,\u00a0<em>Pendidikan Karakter: Konsep &amp; Implementasinya secara terpadu di Lingkungan Keluarga, Perguruan Tinggi, &amp; Masyarakat<\/em>, h.48<\/p>\n<p>[33]\u00a0Ibid, h.48<\/p>\n<p>[34]\u00a0Agus Wibowo,\u00a0<em>Pendidikan Karakter Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban<\/em>, h.72<\/p>\n<p>[35]\u00a0Remayulis dan Samsul Nizar,<em>\u00a0Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya<\/em>, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), h.152<\/p>\n<p>[36]\u00a0Syamsul kurniawan,\u00a0<em>Pendidikan Karakter: Konsep &amp; Implementasinya secara terpadu di Lingkungan Keluarga, Perguruan Tinggi, &amp; Masyarakat<\/em>, h.116<\/p>\n<p>[37]\u00a0Nini Subini,\u00a0<em>Awas, Jangan Jadi Guru Karbitan: Kesalahan \u2013 Kesalahan Guru dalam Pendidikan dan Pembelajaran<\/em>, (Yogyakarta: Javalitera, 2012), h.66-69<\/p>\n<p>[38]\u00a0Ibid, h.66<\/p>\n<p>[39]\u00a0Ibid, h.67<\/p>\n<p>[40]\u00a0Ibid, h.68-69<\/p>\n<p>[41]\u00a0Ibid, h.69<\/p>\n<p>[42]\u00a0Agus Wibowo,\u00a0<em>Pendidikan Karakter Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban<\/em>, h.93<\/p>\n<p>[43]\u00a0Syamsul kurniawan,\u00a0<em>Pendidikan Karakter: Konsep &amp; Implementasinya secara terpadu di Lingkungan Keluarga, Perguruan Tinggi, &amp; Masyarakat<\/em>, h.128-129<\/p>\n<p>[44]\u00a0Ibid, h.130<\/p>\n<p>[45]\u00a0Didik Hariyanto,\u00a0<em>Membentuk Sikap Toleransi Siswa Melalui Pendidikan Berbasis Karakter,<\/em>\u00a0dalam\u00a0<em>http:\/\/www.lazuardibirru.org.<\/em><\/p>\n<p>[46]\u00a0Nini Subini,\u00a0<em>Awas, Jangan Jadi Guru Karbitan: Kesalahan \u2013 Kesalahan Guru dalam Pendidikan dan Pembelajaran<\/em>, h.42<\/p>\n<p>[47]\u00a0Syamsul kurniawan,\u00a0<em>Pendidikan Karakter: Konsep &amp; Implementasinya secara terpadu di Lingkungan Keluarga, Perguruan Tinggi, &amp; Masyarakat<\/em>, h.138-139<\/p>\n<p>[48]\u00a0Utami Munandar,\u00a0<em>Pengembangan Emosi dan Kreativitas<\/em>, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), h.25<\/p>\n<p>[49]\u00a0Syamsul kurniawan,\u00a0<em>Pendidikan Karakter: Konsep &amp; Implementasinya secara terpadu di Lingkungan Keluarga, Perguruan Tinggi, &amp; Masyarakat<\/em>, h.141<\/p>\n<p>[50]\u00a0Nini Subini,\u00a0<em>Awas, Jangan Jadi Guru Karbitan: Kesalahan \u2013 Kesalahan Guru dalam Pendidikan dan Pembelajaran<\/em>, h.42<\/p>\n<p>[51]\u00a0Syamsul kurniawan,\u00a0<em>Pendidikan Karakter: Konsep &amp; Implementasinya secara terpadu di Lingkungan Keluarga, Perguruan Tinggi, &amp; Masyarakat<\/em>, h.143<\/p>\n<p>[52]\u00a0Ibid, 145-147<\/p>\n<p>[53]\u00a0Ibid, h.148<\/p>\n<p>[54]\u00a0Nini Subini,\u00a0<em>Awas, Jangan Jadi Guru Karbitan: Kesalahan \u2013 Kesalahan Guru dalam Pendidikan dan Pembelajaran<\/em>, h.43<\/p>\n<p>[55]\u00a0Syamsul kurniawan,\u00a0<em>Pendidikan Karakter: Konsep &amp; Implementasinya secara terpadu di Lingkungan Keluarga, Perguruan Tinggi, &amp; Masyarakat<\/em>, h.151<\/p>\n<p>[56]\u00a0Ibid, h.154<\/p>\n<p>[57]\u00a0Ibid, h.155<\/p>\n<p>[58]\u00a0Ibid, h.156<\/p>\n<p>[59]\u00a0Ibid, h.158<\/p>\n<p>[60]\u00a0Ibid, h.49<\/p>\n<p>[61]\u00a0Ibid,<\/p>\n<p>[62]\u00a0Moh. Haitamin dan Syamsul Kurniawan,\u00a0<em>Studi\u00a0\u00a0Ilmu Pendidikan Islam<\/em>, (Yogyakarta: Arruz Media, 2012), h.271<\/p>\n<p>[63]\u00a0Syamsul kurniawan,\u00a0<em>Pendidikan Karakter: Konsep &amp; Implementasinya secara terpadu di Lingkungan Keluarga, Perguruan Tinggi, &amp; Masyarakat<\/em>, h.197-202<\/p>\n<p>[64]\u00a0Ibid, 50-61<\/p>\n<p>[65]\u00a0Ibid, 52<\/p>\n<p>[66]\u00a0WJS. Poerdarminta,<em>\u00a0Kamus Umum Bahasa Indonesia<\/em>, (Jakarta: Balai Pustaka: 1976), h.644 dan 955<\/p>\n<p>[67]\u00a0Syamsul kurniawan,\u00a0<em>Pendidikan Karakter: Konsep &amp; Implementasinya secara terpadu di Lingkungan Keluarga, Perguruan Tinggi, &amp; Masyarakat<\/em>, h.52<\/p>\n<p>[68]\u00a0Moh.Haitami Slaim dan Syamsul Kurniawan,\u00a0<em>Studi Ilmu Pendidikan Islam<\/em>, h.176-177<\/p>\n<p>[69]\u00a0Hasan Langlung,\u00a0<em>Asas \u2013 Asas Pendidikan Islam,<\/em>\u00a0(Jakarta: Pustaka Husna, 1988), h.303<\/p>\n<p>[70]\u00a0Syamsul kurniawan,\u00a0<em>Pendidikan Karakter: Konsep &amp; Implementasinya secara terpadu di Lingkungan Keluarga, Perguruan Tinggi, &amp; Masyarakat<\/em>, h.55<\/p>\n<p>[71]\u00a0Ibid, h.55-56<\/p>\n<p>[72]\u00a0Ibid, h.56-57<\/p>\n<p>[73]\u00a0Ibid, h.57-59<\/p>\n<p>[74]\u00a0Ibid, h.60<\/p>\n<p>[75]\u00a0Noeng Muhadjir,\u00a0<em>Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial: Teori Pendidikan Pelaku Sosial Kreatif,\u00a0<\/em>Cet Ke-V, (Yogyakarta: Rekesarasin, 2000), h. 71<\/p>\n<p>[76]\u00a0Mansur Muslich,\u00a0<em>Penddikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional<\/em>, Cet Ke-II, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 84<\/p>\n<p>[77]\u00a0Muchlas Samani dan Hariyanto,\u00a0<em>Konsep dan Model Pendidikan Karakter,<\/em>\u00a0Cet Ke-II, (Bandung: Rosda Karya, 2012), h. 47-48<\/p>\n<p>[78]\u00a0Mansur Muslich,\u00a0<em>Penddikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional<\/em>, h. 160-161<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Konsep Dasar Pendidikan Karakter Secara harfiah, karakter berarti kualitas mental atau moral, nama atau reputasinya. Dalam pandangan Doni Koesoema karakter diasosiasikan dengan temperamen yang memberinya&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-28784","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28784","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28784"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28784\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28784"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28784"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28784"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}