{"id":28712,"date":"2022-12-01T14:39:57","date_gmt":"2022-12-01T07:39:57","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=28712"},"modified":"2022-12-01T14:39:57","modified_gmt":"2022-12-01T07:39:57","slug":"madzhab-fiqh-yang-telah-punah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/madzhab-fiqh-yang-telah-punah\/","title":{"rendered":"Madzhab Fiqh yang Telah Punah"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/madzhab-fiqh-yang-telah-punah\/#Mazhab_al-Auzai\" >Mazhab al-Auza\u2019i<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/madzhab-fiqh-yang-telah-punah\/#Mazhab_as-Sauri\" >Mazhab as-Sauri<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/madzhab-fiqh-yang-telah-punah\/#Mazhab_al-Lais_bin_Saad\" >Mazhab al-Lais bin Sa\u2019ad<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/madzhab-fiqh-yang-telah-punah\/#Mazhab_ath-Thabari\" >Mazhab ath-Thabari<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/madzhab-fiqh-yang-telah-punah\/#Mazhab_az-Zahiri\" >Mazhab az-Zahiri<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut Muhammad Yusuf Musa, mazhab-mazhab yang telah punah itu antara lain sebagai berikut:<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Mazhab_al-Auzai\"><\/span><em><b><strong>Mazhab al-Auza\u2019i<\/strong><\/b><\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tokoh pemikirnya adalah Abdurrahman al-Auza\u2019i (88-157 H.). Ia adalah seorang ulama fiqh terkemuka di Syam (Suriah) yang hidup sezaman dengan Imam Abu Hanifah. Ia dikenal sebagai salah seorang ulama besar Damascus yang menolak qiyas. Dalam salah satu riwayat ia berkata: &#8220;Apabila engkau menemukan sunnah Rasulullah SAW maka ambillah sunnah tersebut dan tinggalkanlah seluruh pendapat yang didasarkan kepada yang lainnya (selain Al-Qur\u2019an dan sunnah Nabi SAW).&#8221;<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Mazhab al-Auza\u2019i pernah dianut oleh masyarakat Suriah sampai Mazhab Syafi\u2019i menggantikannya. Mazhab ini juga dianut masyarakat Andalusia, Spanyol, sebelum Mazhab Maliki berkembang di sana. Pemikiran Mazhab al-Auza\u2019i saat ini hanya ditemukan dalam beberapa literatur fiqh (tidak dibukukan secara khusus). Pemikiran al-Auza\u2019i dapat dilihat dalam kitab fiqh yang disusun oleh Abu Ja\u2019far Muhammad bin Jarir ath-Thabari (w. 310 H.\/923 M.; mufasir dan faqih) yang berjudul\u00a0<em>Ikhtilaf al-Fuqaha<\/em>, dan dalam kitab\u00a0<em>al-Umm<\/em>\u00a0yang disusun Imam asy-Syafi\u2019i. Dalam\u00a0<em>al-Umm<\/em>, asy-Syafi\u2019i mengemukakan perdebatan antara Imam Abu Hanifah dan al-Auza\u2019i, serta antara Imam Abu Yusuf dan al-Auza\u2019i. Menurut Ali Hasan Abdul Qadir (ahli fiqh dari Mesir), Mazhab al-Auza\u2019i tidak dianut lagi oleh masyarakat sejak awal abad kedua Hijriyah.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Mazhab_as-Sauri\"><\/span><em><b><strong> Mazhab as-Sauri<\/strong><\/b><\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tokoh pemikirnya adalah Sufyan as-Sauri (w. 161 H.\/778 M.). Ia juga sezaman dengan Imam Abu Hanifah dan termasuk salah seorang mujtahid ketika itu. Akan tetapi, pengikut as-Sauri tidak banyak. Ia juga tidak meninggalkan karya ilmiah. Mazhab ini pun tidak dianut masyarakat lagi sejak wafatnya penerus Mazhab as-Sauri, yaitu Abu Bakar Abdul Gaffar bin Abdurrahman ad-Dinawari pada tahun 406 H. Ia adalah seorang mufti dalam Mazhab as-Sauri di Masjid al-Mansur, Baghdad.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Mazhab_al-Lais_bin_Saad\"><\/span><em><b><strong> Mazhab al-Lais bin Sa\u2019ad<\/strong><\/b><\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tokoh pemikirnya adalah al-Lais bin Sa\u2019ad. Menurut Ali Hasan Abdul Qadir, mazhab ini telah punah dengan masuknya abad ke-3 H.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Fatwa hukum yang dikemukakan al-Lais yang sampai sekarang tidak bisa diterima oleh ulama mazhab adalah fatwanya tentang hukuman berpuasa berturut-turut selama dua bulan terhadap seorang pejabat di Andalusia yang melakukan hubungan suami istri di siang hari pada bulan Ramadlan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam fatwanya, al-Lais tidak menerapkan urutan hukuman yang ditetapkan Rasulullah SAW, dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh mayoritas rawi hadits dari Abu Hurairah. Dalam hadits itu dinyatakan bahwa hukuman orang yang melakukan hubungan suami istri di siang hari pada bulan Ramadlan adalah memerdekakan budak; kalau tidak mampu memerdekakan budak, maka diwajibkan berpuasa selama dua bulan berturut-turut; dan kalau tidak mampu juga berpuasa selama dua bulan berturut-turut, maka memberi makan fakir miskin sebanyak 60 orang. Al-Lais tidak menerapkan hukuman pertama (memerdekakan budak).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Alasannya, seorang penguasa akan dengan mudah memerdekakan budak, sehingga fungsi hukuman sebagai tindakan preventif tidak tercapai. Demikian juga dengan memberi makan 60 orang fakir miskin bukanlah suatu yang sulit bagi seorang penguasa. Oleh sebab itu, al-Lais menetapkan hukuman berpuasa dua bulan berturut- turut bagi pejabat tersebut. Menurutnya, hukuman tersebut lebih besar kemaslahatannya dan dapat mencapai tujuan syara\u2019. Jumhur ulama menganggap fatwa ini tidak sejalan dengan nash, karena nash menentukan bahwa hukuman pertama yang harus dijatuhkan pada pejabat tersebut semestinya adalah memerdekakan budak, bukan langsung kepada puasa dua bulan berturut-turut. Oleh sebab itu, landasan kemaslahatan yang dikemukakan al-Lais, menurut jumhur ulama adalah\u00a0<em>al-maslahah al-gharibah<\/em>\u00a0(kemaslahatan yang asing yang tidak didukung oleh nash, baik oleh nash khusus maupun oleh makna sejumlah nash).<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Mazhab_ath-Thabari\"><\/span><em><b><strong> Mazhab ath-Thabari<\/strong><\/b><\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tokoh pemikirnya adalah Abu Ja\u2019far Muhammad bin Jarir ath-Thabari atau Ibnu Jarir ath-Thabari (w. 310 H.). Menurut Ibnu Nadim (w. 385 H.\/995 M.; sejarawan), ath-Thabari merupakan ulama besar dan faqih di zamannva. Di samping seorang faqih, ia juga dikenal sebagai muhaddits dan mufassir. Kitabnya di bidang tafsir masih utuh sampai sekarang dan dipandang sebagai buku induk di bidang tafsir, yang dikenal dengan nama\u00a0<em>Jami\u2019 al-Bayan fi Tafsir Al-Qur\u2019an.<\/em>\u00a0Di bidang fiqh ath-Thabari juga menulis sebuah buku dengan judul\u00a0<em>Ikhtilaf al-Fuqaha.<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam bidang fiqh, ath-Thabari pernah belajar fiqh Mazhab Syafi\u2019i melalui ar-Rabi bin Sulaiman di Mesir, murid Imam asy-Syafi\u2019i. Akan tetapi, tidak banyak ulama dan masyarakat yang mengikuti pemikiran fiqh ath-Thabari, sehingga sejak abad ke-4 H mazhab ini tidak mempunyai pengikut lagi.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Mazhab_az-Zahiri\"><\/span><em><b><strong> Mazhab az-Zahiri<\/strong><\/b><\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tokoh pemikirnya adalah Daud az-Zahiri yang dijuluki Abu Sulaiman. Pemikiran mazhab ini dapat ditemui sampai sekarang melalui karya ilmiah Ibnu Hazm, yaitu kitab\u00a0<em>al-Ahkam fi Usul al-Ahkam<\/em><em>\u00a0<\/em>di bidang usul fiqh dan al-Muhalla di bidang fiqh.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sesuai dengan namanya, prinsip dasar mazhab ini adalah memahami nash (Al-Qur\u2019 an dan sunnah Nabi SAW) secara literal, selama tidak ada dalil lain yang menunjukkan bahwa pengertian yang dimaksud dari suatu nash bukan makna literalnya. Apabila suatu masalah tidak dijumpai hukumnya dalam nash, maka mereka berpedoman pada ijma\u2019. Ijma\u2019 yang mereka terima adalah ijma\u2019 seluruh ulama mujtahid pada suatu masa tertentu, sesuai dengan pengertian ijma\u2019 yang dikemukakan ulama usul fiqh. Menurut Muhammad Yusuf Musa, pendapat az-Zahiri merupakan bahasa halus dalam menolak kehujahan ijma\u2019, karena ijma\u2019 seperti ini tidak mungkin terjadi seperti yang dikemukakan Imam asy-Syafi\u2019i. Kemudian, mereka juga menolak qiyas, istihsan, al-maslahah al-mursalah dan metode istinbat lainnya yang didasarkan pada ra\u2019yu (rasio semata):<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sekalipun para tokoh Mazhab az-Zahiri banyak menulis buku di bidang fiqh, mazhab ini tidak utuh karena pengikut fanatiknya tidak banyak. Akan tetapi, dalam literatur-literatur fiqh, pendapat mazhab ini sering dinukilkan ulama fiqh sebagai perbandingan antar mazhab. Mazhab ini pernah dianut oleh sebagian masyarakat Andalusia, Spanyol.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan punahnya mazhab-mazhab kecil ini, maka mazhab fiqh yang utuh dan dianut masyarakat Islam di berbagai wilayah Islam sampai sekarang adalah Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi\u2019i dan Mazhab Hanbali, yang dalam fiqh disebut dengan\u00a0<em>al-Mazahib al-Arba\u2019ah<\/em>\u00a0(Mazhab yang Empat) atau\u00a0<em>al-Mazahib al-Qubra<\/em>\u00a0(Mazhab-Mazhab Besar)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><b><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Junaidi, Ahmad dkk. 2013.\u00a0<em>Al Hakim : Fiqh XII \/ Gasal<\/em>. Klaten : Gema Nusa.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Habibi, Ilyas. 2014.\u00a0<em>Bahan Ajar Fiqh Kelas XI-XII Program Keagamaan(Tidak Diterbitkan)<\/em>. Cirebon : MAN Babakan Ciwaringin.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hasbi Ash \u2013 Shiddieqy, T.M. 1985.\u00a0<em>Pengantar Ilmu Fqih.\u00a0<\/em>Jakarta : Bulan Bintang<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Shobirin.\u00a02013.\u00a0<em>Fiqh Ushul Fiqh.<\/em>\u00a0Jakarta : Dharma Bhakti. cet 2<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menurut Muhammad Yusuf Musa, mazhab-mazhab yang telah punah itu antara lain sebagai berikut: Mazhab al-Auza\u2019i Tokoh pemikirnya adalah Abdurrahman al-Auza\u2019i (88-157 H.). Ia adalah seorang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-28712","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28712","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28712"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28712\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28712"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28712"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28712"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}