{"id":28704,"date":"2022-12-01T14:05:08","date_gmt":"2022-12-01T07:05:08","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=28704"},"modified":"2022-12-01T14:05:08","modified_gmt":"2022-12-01T07:05:08","slug":"rawi-syarat-rawi-dan-tahammu-wa-al-ada","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rawi-syarat-rawi-dan-tahammu-wa-al-ada\/","title":{"rendered":"Rawi, Syarat Rawi, dan Tahammu Wa Al &#8211; Ada&#8217;"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rawi-syarat-rawi-dan-tahammu-wa-al-ada\/#Pengertian_Rawi\" >Pengertian Rawi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rawi-syarat-rawi-dan-tahammu-wa-al-ada\/#Syarat-Syarat_Rawi\" >Syarat-Syarat Rawi<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rawi-syarat-rawi-dan-tahammu-wa-al-ada\/#Berakal\" >Berakal<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rawi-syarat-rawi-dan-tahammu-wa-al-ada\/#Cermat\" >Cermat<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rawi-syarat-rawi-dan-tahammu-wa-al-ada\/#Adil\" >Adil<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rawi-syarat-rawi-dan-tahammu-wa-al-ada\/#Muslim\" >Muslim<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rawi-syarat-rawi-dan-tahammu-wa-al-ada\/#Tahammuwa_al_%E2%80%93_%E2%80%98ada\" >Tahammuwa al \u2013 \u2018ada<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rawi-syarat-rawi-dan-tahammu-wa-al-ada\/#PengertianTahammuwa_al_%E2%80%93_%E2%80%98ada\" >PengertianTahammuwa al \u2013 \u2018ada<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rawi-syarat-rawi-dan-tahammu-wa-al-ada\/#Al-Tahammu\" >Al-Tahammu<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rawi-syarat-rawi-dan-tahammu-wa-al-ada\/#_Al-%E2%80%98Ada\" >\u00a0Al-&#8216;Ada<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-11\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rawi-syarat-rawi-dan-tahammu-wa-al-ada\/#Cara_Penyampaian_Riwayat_Hadits_Qauli\" >Cara\u00a0Penyampaian\u00a0Riwayat\u00a0Hadits\u00a0Qauli<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-12\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rawi-syarat-rawi-dan-tahammu-wa-al-ada\/#Cara_Penyampaian_Riwayat_Hadits_Fili\" >Cara\u00a0Penyampaian\u00a0Riwayat\u00a0Hadits\u00a0Fi&#8217;li<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-13\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rawi-syarat-rawi-dan-tahammu-wa-al-ada\/#Cara_Penyampaian_Riwayat_Hadits_Secara_Manawi\" >Cara\u00a0Penyampaian\u00a0Riwayat\u00a0Hadits\u00a0Secara\u00a0Ma&#8217;nawi<\/a><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1 style=\"font-weight: 400;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Rawi\"><\/span><b><strong>Pengertian Rawi<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kata rawi atau ar-rawi berarti orang yang meriwayatkan atau memberikan hadits[1]\u00a0Sedangkan menurut istilah yaitu orang yang menukil, memindahkan atau menuliskan hadits dengan sanadnya baik itu laki-laki maupun perempuan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Rawi harus benar \u2013 benar memiliki pengetahuan bahasa arab yang mendalam. Diantaranya, perawi harus seorang ahli ilmu Nahwu, sharaf dan ilmu bahasa, mengerti konotasi lapadz dan maksudnya, memahami perbedaan \u2013 perbedaan dan mampu menyampaikan hadits dengan tepat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Perawi dalam kondisi terpaksa. Lupa susunan harfiahnya, sedangkan kandungan hadits tersebut sangat diperlukan. Hal ini dianggap baik dari pada tidak meriwayatkan suatu hadits, atau enggan meriwayatkan hadits dengan alasan lupa lapadznya sementara nilai pokok (hukum) yang terkadung dalam hadits tersebut sangat diperlukan ummat Islam.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Perawi harus menyertakan kalimat \u2013 kalimat yang menunjukkan bahwa hadits tersebut diriwayatkan dengan periwayatan makna seperti terungkap pada kalimat \u2013 kalimat \u201cAd kama kola\u201d.Menurut periwayatan hadits dengan cara bi al makna (Makna) di perbolehkan apabila lapdz \u2013 lapadz hadits tersebut lupa. Periwayatan itu tidak merusak maksud, sehingga terpelihara dari kesalahan periwayata. Tetapi cara ini hanya akan berlaku pada zaman sahabat yang langsung mereportase prilaku Nabi.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kebolehan periwayatan hadits dengan makna terbatas, pada masa sebelum di bukukan hadits nabi secara resmi. Sesudah masa pembukuan (tadwin) hadits. Harus dengan lapadz. Kedudukan boleh tidaknya\u00a0 meriwayatkan hadits denan makna, sejak sahabatpun sudah controversial, namun pada umumnya sahabat memperbolehkannya. Tetapi, sebenarnya mereka yang berpegang teguh pada periwayatan dengan lapadz tidak melarang secara tegas sahabat lain dalam meriwayatkan hadits dengan makna.<\/p>\n<h1 style=\"font-weight: 400;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Syarat-Syarat_Rawi\"><\/span><b><strong>Syarat-Syarat Rawi<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Berakal, cakap\/cermat, adil, dan Islam adalah syarat syarat yang mutlak untuk menjadi seorang perawi agar riwayatnya dapat diterima. apabila seorang perawi tidak memenuhi seluruh predikat itu maka hadistnya akan ditolak dan tidak akan dipakai. Oleh para kritikus hadist, baik angkatan lama maupun angkatan baru, keempat syarat tersebut membutuhkan penjabaran lebih lanjut. Berikut ini syarat \u2013 syarat rawi :<\/p>\n<h2 style=\"font-weight: 400;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Berakal\"><\/span><b><strong>Berakal<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut para ahli hadist berkal berarti identik dengan kemampuan seseorang untuk\u00a0 membedakan. Jadi untuk mampu menanggung dan menyampaikan suatu hadist, seseorang harus telah memasuki usia akil baligh[2]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sahabat yang paling banyak menerima riwayat, yang\u00a0 mereka dengar pada masa kecilnya, ialah Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, dan Abu Sa\u2019id al-Khudri. Mahmud bin rabi\u2019 masih ingat Rasulullah menghukumnya pada waktu ia membuat kesalahan dan beliau wafat ketika Mahmud berusia 5 tahun[3].<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Cermat\"><\/span><b><strong> Cermat<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kecermatan perawi bisa dikenali dari hadist yang dia riwayatkan ternyata cocok dengan yang diriwayatkan oleh orang yang dikenal cermat, telilti dan terpercaya. tetapi itu tidak harus mengena keseluruhan. Perbedaan yang tidak sedikit tentang hadist yang mereka riwayatkan masih dapat didamaikan. Tapi jika perbedaan terlampau jauh dan tidak sesuai dengan hadist yang mereka riwayatkan, maka kecermatanya masih diragukan[4]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Syu\u2019bah al-Hajjaj berkata: \u201cHadist aneh yang anda terima berasal dari orang yang aneh pula\u201d[5].\u00a0Allah akan menghargai orang orang yang bersikap cermat dalam periwayatan hadist, merekalah orang yang pandai dan bijaksana, mereka hanya mau mengutip hadis shahih saja. hadist shahih diketahui bukan hanya dari riwayatnya saja tapi juga melalui pemahaman dan penghafal dan banyak mendengar[6].<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Adil\"><\/span><b><strong> Adil<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Perawi yang adil ialah yang bersikap konsisten dan berkomitmen tinggi pada urusan agama, yang bebas dari setiap kefasikan dan dari hal-hal yang merusak kepribadian, Al-khatib al-Baghdadi memberikan definisi adil sebagai berikut: \u201dyang tahu melaksanakan kewajibannya dan segala yang diperintahkanya kepadanya- dapat menjaga diri dari larangan-larangan, menjauhi dari kejahatan, mengutamakan kebenaran dan kewajiban dalam segala tindakan dan pergaulannya, serta menjaga perkataan yang bisa merugikan agama dan merusak kepribadian. Barang siapa dapat menjaga dan mempertahankan sifat-sifat tersebut maka ia dapat disebut bersikap adil bagi agamanya dan hadistnya diakui kejujuranya[7].\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Para ulama membedakan adilnya seorang rawi dan bersihnya seorang saksi. Jika masalah kebersihan dapat baru diterima dengan penyaksian dua saksi. Saksi ini baik laki laki maupun saksi perempuan, orang merdeka atau berstatus budak, dengan persyaratan dapat adil terhadap dirinya sendiri[8]. Itulah menurut Imam fakhrudin dan Saif-Ahmad. Kepribadian yang baik harus dipenuhi oleh seorang rawi yang adil lebih banyak dikaitkanya dengan ukuran ukuran moral seorang rawi.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Muslim\"><\/span><b><strong> Muslim<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Mengenai syarat ke-Islaman, itu sudah jelas. Seorang rawi harus meyakini dan mengerti akidah Islam, karena dia meriwayatkan hadist atau khabar yang berkaitan dengan hukum-hukum, urusan dan tasyri\u2019 agama Islam. Jadi dia mengemban tanggung jawab untuk urusan memberi pemahaman tentang semuanya kepada manusia. Namun syarat Islam sendiri hanya berlaku ketika seseorang menyampaikan hadist, bukan ketika membawa atau menanggungnya[9].<\/p>\n<h1 style=\"font-weight: 400;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tahammuwa_al_%E2%80%93_%E2%80%98ada\"><\/span><b><strong>Tahammuwa al \u2013 \u2018ada<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"PengertianTahammuwa_al_%E2%80%93_%E2%80%98ada\"><\/span><b><\/b><b><strong>PengertianTahammuwa al \u2013 \u2018ada<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Al \u2013 Tahammul\u00a0adalah\u00a0kegiatan\u00a0menerima\u00a0dan\u00a0mendegar\u00a0suatu\u00a0periwayatan\u00a0hadits. Sedangakan Al \u2013 \u2018Ada\u00a0adalah\u00a0kegiatan\u00a0menyampaikan\u00a0atau\u00a0meriwayatkan\u00a0suatu\u00a0hadits\u00a0kepada\u00a0orang\u00a0lain.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Al-Tahammu\"><\/span><b><\/b><b><strong>Al-Tahammu<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Para Ulama\u00a0mengidentifikasi\u00a0cara\u00a0pengambilan\u00a0hadits\u00a0dari\u00a0para\u00a0rawi\u00a0menjadi\u00a0delapan\u00a0macam. Mereka\u00a0mengupas\u00a0dan\u00a0menjelaskan\u00a0hukum \u2013 hukumnya\u00a0secara\u00a0panjang\u00a0lebar, yang garis\u00a0besarnya\u00a0sebagai\u00a0berikut :<\/p>\n<p><b><\/b><strong>Sama\u2019 Min Lafdzi\u00a0Syaikhihi (\u0634\u064a\u062e\u0647\u00a0\u0644\u0641\u0638\u00a0\u0645\u0646\u00a0\u0627\u0644\u0633\u0645\u0627\u0639)<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yaitu\u00a0penerimaan\u00a0riwayat\u00a0hadits\u00a0dengan\u00a0cara\u00a0mendengar\u00a0langsung\u00a0dari\u00a0ucapan\u00a0gurunya, baik\u00a0dengan\u00a0cara\u00a0didiktekan\u00a0dari\u00a0hafalannya\u00a0maupun\u00a0dari\u00a0tulisannya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut\u00a0jumhur\u00a0ulama\u00a0hadits, cara\u00a0seperti\u00a0ini\u00a0adalah\u00a0cara yang paling tinggi\u00a0nilainya. Karena\u00a0dengan\u00a0cara\u00a0seperti\u00a0inilah yang dilakukan\u00a0sahabat\u00a0Nabi\u00a0untuk\u00a0menerima\u00a0hadits\u00a0Rasulullah SAW, dan\u00a0terpelihara\u00a0dari\u00a0kekeliruan\u00a0dan\u00a0lupa.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Lafadh \u2013 lafadh yang sering\u00a0digunakan\u00a0oleh\u00a0perawi\u00a0dalam\u00a0meriwayatkan\u00a0hadits\u00a0atas\u00a0dasar \u201csama\u2019\u201d adalah :<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u0627\u062e\u0628\u0631\u0646\u064a\u00a0&#8211;\u00a0\u0627\u062e\u0628\u0631\u0646\u0627<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">(Seseorang\u00a0telah\u00a0mengabarkan\u00a0kepadaku \/ kami)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u062d\u062f\u062b\u0646\u064a\u00a0&#8211;\u00a0\u062d\u062f\u062b\u0646\u0627<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">(Seseorang\u00a0telah\u00a0bercerita\u00a0kepadaku \/ kami)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u0633\u0645\u0639\u062a\u00a0&#8211;\u00a0\u0633\u0645\u0639\u0646\u0627<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u00a0(Saya\u00a0telah\u00a0mendengar \/ kami\u00a0telah\u00a0mendengar)<\/p>\n<p><b><\/b><b><strong>Al \u2013 Qiraah \u2018Ala Syaikhihi (<\/strong><\/b>\u0634\u064a\u062e\u0647<b><strong>\u00a0<\/strong><\/b>\u0639\u0644\u0649<b><strong>\u00a0<\/strong><\/b>\u0627\u0644\u0642\u0631\u0627\u0621\u0629<b><strong>)<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yaitu\u00a0penerimaan\u00a0riwayat\u00a0hadits\u00a0dengan\u00a0cara\u00a0sipembaca\u00a0membacakan\u00a0hadits\u00a0di\u00a0hadapan\u00a0gurunya, baik\u00a0ia\u00a0sendiri yang membacanya\u00a0maupun\u00a0orang lain yang membacakannya\u00a0sedangkan\u00a0ia\u00a0sendiri\u00a0\u00a0yang\u00a0mendengarkannya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Lafadh \u2013 lafadh yang sering\u00a0digunakan\u00a0oleh\u00a0seorang\u00a0perawi\u00a0dalam\u00a0meriwayatkan\u00a0hadits\u00a0atas\u00a0dasar Al \u2013 Qiraah \u2018Ala Syaikhihi\u00a0adalah :<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u0639\u0644\u064a\u0647\u00a0\u0642\u0631\u0623\u062a<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">(Saya\u00a0telah\u00a0membacakan\u00a0di\u00a0hadapannya)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u0627\u0633\u0645\u0639\u0648\u00a0\u0627\u0646\u0627\u00a0\u0641\u0644\u0627\u0646\u00a0\u0639\u0644\u0649\u00a0\u0642\u0631\u0626<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">(Dibacakan\u00a0oleh\u00a0seseorang\u00a0di\u00a0hadapan\u00a0gurunya, sedangkan\u00a0aku\u00a0mendengarkannya)<\/p>\n<p><b><\/b><b><strong>Ijazah<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>(<\/strong><\/b>\u0627\u0644\u0627\u062c\u0627\u0632\u0629<b><strong>)<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Yaitu\u00a0penerimaan\u00a0hadits\u00a0dengan\u00a0cara\u00a0pemberian\u00a0izin\u00a0kepada\u00a0orang\u00a0lain\u00a0untuk\u00a0meriwayatkan\u00a0haditsnya\u00a0atau\u00a0kitab-kitabnya.\u00a0Kebanyakan\u00a0para\u00a0muhaditsin\u00a0tidak\u00a0memperbolehkan\u00a0periwayatan\u00a0dengan\u00a0cara\u00a0ijazah\u00a0seperti\u00a0ini,tetapi\u00a0ada\u00a0sebagian\u00a0ulama\u00a0yang\u00a0lain\u00a0memperbolehkan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Lafadh-lafadh yang sering digunakan oleh perawi dalam meriwayatkan hadits atas dasar ijazah adalah:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u0639\u0646\u0649\u00a0\u0644\u0641\u0644\u0627\u0646\u064a\u00a0\u0627\u0644\u0643\u062a\u0627\u0628\u0631\u00a0\u0648\u0627\u064a\u0629\u00a0\u0644\u0643\u00a0\u0627\u062c\u0632\u062a<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">(Aku\u00a0ijazahkan\u00a0kepadamu\u00a0untuk\u00a0meriwayatkan\u00a0kitab\u00a0si\u00a0fulan\u00a0dari\u00a0saya)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u0645\u0631\u0648\u064a\u062a\u064a\u0627\u00a0\u0648\u0645\u0633\u0645\u0648\u00a0\u0639\u062a\u064a\u00a0\u062c\u0645\u064a\u0639\u00a0\u0644\u0643\u00a0\u0627\u062c\u0632\u062a<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">(Aku\u00a0ijazahkan\u00a0kepadamu\u00a0seluruh\u00a0yang\u00a0saya\u00a0dengar\u00a0atau\u00a0yang\u00a0saya\u00a0riwayatkan)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u0645\u0633\u0645\u0648\u0639\u062a\u064a\u00a0\u062c\u0645\u064a\u0639\u00a0\u0644\u0644\u0645\u0633\u0644\u0645\u064a\u0646\u00a0\u0627\u062c\u0632\u062a<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">(Aku\u00a0ijazahkan\u00a0kepada\u00a0seluruh\u00a0kaum\u00a0muslimin\u00a0semua\u00a0apa-apa\u00a0yang\u00a0saya\u00a0dengar)<\/p>\n<p><b><\/b><b><strong>Munawalah<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>(<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b>\u0627\u0644\u0645\u0646\u0627\u0648\u0644\u0629<b><strong>)<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yaitu penerimaan hadits dengan cara seorang guru memberikan sebuah naskah asli atau salinan yang sudah dikoreksi kepada muridnya untuk diriwayatkan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Penerimaan hadits atas dasar munawalah ini mempunyai dua macam bentuk,yaitu:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pertama, Dengan disertai ijazah. Yaitu setelah seorang guru menyerahkan kitab asli atau salinannya, kemudian mengatakan:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u0641\u0627\u0631\u0648\u0647\u00a0\u0641\u0644\u0627\u0646\u00a0\u0639\u0646\u00a0\u0627\u0648 \u0631\u0648\u0627\u064a\u062a\u064a\u00a0\u0633\u0645\u0627\u0639\u064a\u00a0\u0647\u0630\u0627<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Ini\u00a0adalah\u00a0hasil\u00a0pendengaranku\u00a0atau\u00a0periwayatanku\u00a0dari\u00a0seseorang,\u00a0maka\u00a0riwayatkan\u00a0lah&#8221;<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kedua, tanpa disertai ijazah.Yaitu ketika naskah asli atau salinannya diberikan kepada muridnya tanpa diikuti dengan suatu perintah untuk meriwayatkannya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Guru itu mengatakan:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u0631\u0648\u0627\u064a\u062a\u064a\u00a0\u0627\u0648\u0645\u0646\u00a0\u0633\u0645\u0627\u0639\u064a\u00a0\u0647\u0630\u0627<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Ini\u00a0adalah\u00a0hasil\u00a0pendengaranku\u00a0atau\u00a0berasal\u00a0dari\u00a0periwayatanku&#8221;<\/p>\n<p><b><\/b><b><strong>Mukatabah<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>(<\/strong><\/b>\u0627\u0644\u0645\u0643\u0627\u062a\u0628\u0629<b><strong>)<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yaitu penerimaan riwayat hadits dengan cara seorang guru menulis sendiri atau menyuruh orang lain menulis beberapa hadits kepada orang di tempat lain atau yang ada di hadapannya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Cara mukatabah ini seperti juga munawalah ada yang disertai ijazah dan ada yang tidak disertai ijazah.<\/p>\n<p><b><\/b><b><strong>Wijadah<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>(<\/strong><\/b>\u0627\u0644\u0648\u062c\u0627\u062f\u0629<b><strong>)<\/strong><\/b><\/p>\n<p>Yaitu penerimaan riwayat hadits dengan cara memperoleh tulisan hadits orang lain yang tidak diriwayatkannya baik dengan lafadh sama&#8217;, qiraah atau yang lainnya dari pemilik hadits atau pemilik tulisan tersebut.<\/p>\n<p><b><\/b><b><strong>Washiyah<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>(<\/strong><\/b>\u0627\u0644\u0648\u0635\u064a\u0629<b><strong>)<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yaitupenerimaanriwayathaditsdengancarapesanseseorangketikaakanmeninggalduniaataubepergian,dengansebuahkitabuntukdiriwayatkannya.<\/p>\n<p><b><\/b><b><strong>I&#8217;lam<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>(<\/strong><\/b>\u0627\u0644\u0627\u0639\u0644\u0627\u0645<b><strong>)<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yaitu\u00a0penerimaan\u00a0riwayat\u00a0hadits\u00a0dengan\u00a0cara\u00a0pemberitahuan\u00a0guru\u00a0kepada\u00a0muridnya\u00a0bahwa\u00a0hadits\u00a0yang\u00a0diriwayatkannya\u00a0adalah\u00a0riwayatnya\u00a0sendiri\u00a0yang\u00a0diterima\u00a0dari\u00a0guru\u00a0seseorang,\u00a0dengan\u00a0tidak\u00a0mengatakan\u00a0atau\u00a0menyuruh\u00a0si\u00a0murid\u00a0untuk\u00a0meriwayatkannya.<b><strong><br \/>\n<\/strong><\/b><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"_Al-%E2%80%98Ada\"><\/span><b><strong> \u00a0<\/strong><\/b><b><strong>Al-&#8216;Ada<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Berikutmacam-macam cara penyampaian riwayat hadits, yang secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga.Yaitu:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Cara_Penyampaian_Riwayat_Hadits_Qauli\"><\/span><b><\/b><b><strong>Cara<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>Penyampaian<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>Riwayat<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>Hadits<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>Qauli<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sahabat-sahabat Nabi dalam menerima hadits qauli (sabda) Rasulullah ada yang mendengar secara langsung dari Nabi, ada yang mendengar secara tidak langsung yaitu mendengar dari sahabat-sahabat Nabi yang lainnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Ada beberapa macam lafadh yang biasa dipakai oleh para sahabat dalam menyampaikan periwayatan hadits qauli:<\/p>\n<p><b><\/b><b><strong>Bentuk<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>pertama<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>dengan<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>lafadh<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>:<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u0648\u0633\u0644\u0645\u00a0\u0639\u0644\u064a\u0647\u00a0\u0627\u0644\u0644\u0647\u00a0\u0635\u0644\u0649\u00a0\u0627\u0644\u0644\u0647\u00a0\u0631\u0633\u0648\u0644\u00a0\u0633\u0645\u0639\u062a<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">(Saya\u00a0mendengar\u00a0Rasulullah\u00a0SAW&#8230;)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">&#8230;\u0648\u0633\u0644\u0645\u00a0\u0639\u0644\u064a\u0647\u00a0\u0627\u0644\u0644\u0647\u00a0\u0635\u0644\u0649\u00a0\u0627\u0644\u0644\u0647\u00a0\u0631\u0633\u0648\u0644\u00a0\u0627\u062e\u0628\u0631\u0646\u064a<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">(Rasulullah\u00a0SAW\u00a0mengabarkan\u00a0kepadaku&#8230;)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">&#8230;\u0648\u0633\u0644\u0645\u00a0\u0639\u0644\u064a\u0647\u00a0\u0627\u0644\u0644\u0647\u00a0\u0635\u0644\u0649\u00a0\u0627\u0644\u0644\u0647\u00a0\u0631\u0633\u0648\u0644\u00a0\u062d\u062f\u062b\u0646\u064a<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">(Rasulullah\u00a0SAW\u00a0menceritakan\u00a0kepadaku&#8230;)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Cara penyampaian periwayatan hadits dengan lafadh-lafadh seperti ini merupakan cara yang paling pokok karena menunjukkan bahwa sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut betul-betul menerima secara langsung, berhadapan dengan Rasulullah SAW.<\/p>\n<p><b><\/b><b><strong>Bentuk<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>kedua<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>dengan<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>lafadh<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>:<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">&#8230;\u0648\u0633\u0644\u0645\u00a0\u0639\u0644\u064a\u0647\u00a0\u0627\u0644\u0644\u0647\u00a0\u0635\u0644\u0649\u00a0\u0627\u0644\u0644\u0647\u00a0\u0631\u0633\u0648\u0644\u00a0\u0642\u0627\u0644<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">(Rasulullah SAW bersabda&#8230;)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">&#8230;\u0648\u0633\u0644\u0645\u00a0\u0639\u0644\u064a\u0647\u00a0\u0627\u0644\u0644\u0647\u00a0\u0635\u0644\u0649\u00a0\u0627\u0644\u0644\u0647\u00a0\u0631\u0633\u0648\u0644\u00a0\u0627\u0645\u0631<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">(Rasulullah SAW memerintahkan&#8230;)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">&#8230;\u0648\u0633\u0644\u0645\u00a0\u0639\u0644\u064a\u0647\u00a0\u0627\u0644\u0644\u0647\u00a0\u0635\u0644\u0649\u00a0\u0627\u0644\u0644\u0647\u00a0\u0631\u0633\u0648\u0644\u00a0\u0646\u0647\u0649<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">(Rasulullah SAW melarang&#8230;)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Cara penyampaian periwaatan hadits denga lafadh &#8211; lafadh semacam ini menunjukkan bahwa sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut tidak mendengar langsung dari Rasulullah, tapi kemungkinan melalui perantara sahabat lain.<\/p>\n<p><b><\/b><b><strong>Bentuk ketiga dengan lafadh :<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u0628\u06af\u0630\u0627\u00a0\u0627\u0645\u0631\u0646\u0627<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">(Kami disuruh begini&#8230;)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u0628\u06af\u0630\u0627\u00a0\u0646\u0647\u064a\u0646\u0627<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">(Kami dilarang begini&#8230;)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u00a0ara penyampaian periwayatan hadits dengan lafadh &#8211; lafadh semacam ini menunjukkan bahwa kemungkinan sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut tidak mendengar perintah atau larangan Nabi secara langsung dari beliau, akan tetapi melalui perantara orsng lain, bahkan kemungkinan hanya merupakan kesimpulan atau pemahaman sahabat sendiri.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Cara_Penyampaian_Riwayat_Hadits_Fili\"><\/span><b><\/b><b><strong>Cara<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>Penyampaian<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>Riwayat<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>Hadits<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>Fi&#8217;li<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Para sahabat Nabi dalam menerima hadits fi&#8217;li, ada kalanya melihat sendiri secara langsung pa yang dilakukan Rasulullah, dan adakalanya melalui perantara sahabat lain.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Ada\u00a0beberapa\u00a0lafadh\u00a0yang\u00a0sering\u00a0digunakan\u00a0dalam\u00a0penyampaian\u00a0periwayatan\u00a0hadits\u00a0fi&#8217;li\u00a0diantaranya:<\/p>\n<p><b><\/b><b><strong>Bentuk<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>pertama<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>dengan<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>lafadh<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>:<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">&#8230;\u0648\u0633\u0644\u0645\u00a0\u0639\u0644\u064a\u0647\u00a0\u0627\u0644\u0644\u0647\u00a0\u0635\u0644\u0649\u00a0\u0627\u0644\u0644\u0647\u00a0\u0631\u0633\u0648\u0644\u00a0\u0631\u0627\u064a\u062a<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">(Saya\u00a0melihat\u00a0Rasulullah\u00a0SAW&#8230;)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Cara penyampaian periwayatan hadits dengan lafadh ini menunjukkan bahwa sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut benar-benar secara langsung melihat sendiri apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Cara seperti ini merupakan cara yang paling pokok.<\/p>\n<p><b><\/b><b><strong>Bentuk<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>kedua<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>dengan<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>lafadh<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>:<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">&#8230;\u0648\u0633\u0644\u0645\u00a0\u0639\u0644\u064a\u0647\u00a0\u0627\u0644\u0644\u0647\u00a0\u0635\u0644\u0649\u00a0\u0627\u0644\u0646\u0628\u064a\u00a0\u0643\u0627\u0646<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">(Adalah\u00a0Nabi\u00a0SAW&#8230;)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">&#8230;\u0648\u0633\u0644\u0645\u00a0\u0639\u0644\u064a\u0647\u00a0\u0627\u0644\u0644\u0647\u00a0\u0635\u0644\u0649\u00a0\u0627\u0644\u0646\u0628\u064a\u00a0\u0627\u0646\u00a0.\u0627\u0646<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">(Sesungguhnya\u00a0Nabi\u00a0SAW&#8230;)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Cara\u00a0penyampaian\u00a0periwayatan\u00a0hadits\u00a0dengan\u00a0lafadh\u00a0ini\u00a0menunjukkan\u00a0bahwa\u00a0sahabat\u00a0yang\u00a0meriwayatkan\u00a0hadits\u00a0tersebut\u00a0tidak\u00a0melihat\u00a0secara\u00a0langsung\u00a0apa\u00a0yang\u00a0dilakukan\u00a0oleh\u00a0Rasulullah,\u00a0tapi\u00a0ada\u00a0kemungkinan\u00a0melalui\u00a0perantara\u00a0sahabat\u00a0lain.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Adakalanya\u00a0seorang\u00a0sahabat\u00a0menyebutkan\u00a0secara\u00a0lansung\u00a0apa\u00a0yang\u00a0dilakukan\u00a0Rasulullah,\u00a0tanpa\u00a0diawali\u00a0dengan\u00a0lafadh\u00a0:\u00a0&#8220;Aku\u00a0melihat\u00a0Rasulullah\u00a0SAW&#8230;&#8230;.&#8221;\u00a0atau\u00a0&#8220;Adalah\u00a0Rasulullah\u00a0SAW&#8230;&#8230;..&#8221;\u00a0atau\u00a0&#8220;Sesungguhnya\u00a0Rasulullah\u00a0SAW&#8230;&#8230;&#8230;&#8221;<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Cara_Penyampaian_Riwayat_Hadits_Secara_Manawi\"><\/span><b><\/b><b><strong>Cara<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>Penyampaian<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>Riwayat<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>Hadits<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>Secara<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>Ma&#8217;nawi<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Para\u00a0sahabat\u00a0Nabi\u00a0ada\u00a0yang\u00a0menyampaikan\u00a0periwayatan\u00a0hadits\u00a0tidak\u00a0persis\u00a0sebagaimana\u00a0yang\u00a0diucapkan\u00a0Rasulullah,\u00a0melainkan\u00a0hanya\u00a0dengan\u00a0ma&#8217;nanya\u00a0saja.\u00a0Maksudnya\u00a0apa\u00a0yang\u00a0diucapkan\u00a0Rasulullah\u00a0itu\u00a0hanya\u00a0dipahami\u00a0maksudnya\u00a0saja,\u00a0lalu\u00a0disampaikan\u00a0atau\u00a0diriwayatkan\u00a0oleh\u00a0para\u00a0sahabat\u00a0tersebut\u00a0dengan\u00a0lafadh\u00a0atau\u00a0redaksi\u00a0susunan\u00a0kata-kata\u00a0mereka\u00a0sendiri.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Hal ini disebabkan karena daya ingat para sahabat berbeda-beda, ada yang kuat dan ada yang lemah. Atau karena masa yang sudah lama dari apa yang diucapkan Rasul, sehingga paham maksudnya tapi kalimat yang diucapkannya tidak ingat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kebanyakan hadits diriwayatkan dengan cara ini (secarama&#8217;nawi), dan sedikit yang diriwayatkan secara lafdhi. Oleh karena itu sering dijumpai hadits-hadits yang maksudnya sama, akan tetapi lafadh atau matan hadits-hadits tersebut berbeda.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\n<p>[1]\u00a0Sahrani, Sohari. 2010.\u00a0<em>Ulumul Hadits.\u00a0<\/em>Bogor : Ghalia Indonesia. hal 120<\/p>\n<p>[2]\u00a0Al-Khatib Al-Baghdadi.\u00a0<em>Al-kifayah.\u00a0<\/em>hal 54<\/p>\n<p>[3]\u00a0<em>Ibid 56<\/em><\/p>\n<p>[4]\u00a0Salah Muhammad Muhammad Uwayd.\u00a0<em>Taqrib<\/em>\u00a0<em>Al-tadrib .\u00a0<\/em>(Beirut : Dar al-Kutub al-Imliyyah, 1989) hal 110<\/p>\n<p>[5]\u00a0Al-Khatib Al-Baghdadi<em>\u00a0.Al-Kifayah .<\/em>hal 141<\/p>\n<p>[6]\u00a0Al Hakim al Naisaburi.\u00a0<em>Ma\u2019rifah Ulum al-Hadist.<\/em>\u00a0hal 59<\/p>\n<p>[7]\u00a0Al-Khatib Al-Baghdadi.\u00a0<em>Al-kifayah .<\/em>hal 80<\/p>\n<p>[8]\u00a0Muhammad Al Shan\u2019ani.\u00a0<em>Taudhid al-Afkar 2\/121<\/em>.<\/p>\n<p>[9]\u00a0Al-Khatib Al-Baghdadi .\u00a0<em>Al-Kifayah<\/em>\u00a0hal 76<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Rawi Kata rawi atau ar-rawi berarti orang yang meriwayatkan atau memberikan hadits[1]\u00a0Sedangkan menurut istilah yaitu orang yang menukil, memindahkan atau menuliskan hadits dengan sanadnya&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-28704","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28704","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28704"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28704\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28704"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28704"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28704"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}