{"id":28666,"date":"2022-12-01T11:44:37","date_gmt":"2022-12-01T04:44:37","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=28666"},"modified":"2022-12-01T11:44:37","modified_gmt":"2022-12-01T04:44:37","slug":"pengertian-hukum-adat-ciri-dimensi-asas-sumber-dan-pembidangan-hukum-adat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hukum-adat-ciri-dimensi-asas-sumber-dan-pembidangan-hukum-adat\/","title":{"rendered":"Pengertian Hukum Adat, Ciri, Dimensi, Asas, Sumber, dan Pembidangan Hukum Adat"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hukum-adat-ciri-dimensi-asas-sumber-dan-pembidangan-hukum-adat\/#Pengertian_Hukum_Adat\" >Pengertian Hukum Adat<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hukum-adat-ciri-dimensi-asas-sumber-dan-pembidangan-hukum-adat\/#Ciri-ciri_Hukum_Adat\" >Ciri-ciri Hukum Adat<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hukum-adat-ciri-dimensi-asas-sumber-dan-pembidangan-hukum-adat\/#Dimensi_Hukum_Adat\" >Dimensi Hukum Adat<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hukum-adat-ciri-dimensi-asas-sumber-dan-pembidangan-hukum-adat\/#Asas-asas_Pokok_dalam_Hukum_Adat\" >Asas-asas Pokok dalam Hukum Adat<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hukum-adat-ciri-dimensi-asas-sumber-dan-pembidangan-hukum-adat\/#Kedudukan_Hukum_Adat\" >Kedudukan Hukum Adat<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hukum-adat-ciri-dimensi-asas-sumber-dan-pembidangan-hukum-adat\/#Faktor_yang_Mempengaruhi_Perkembangan_Hukum_Adat\" >Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Hukum Adat<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hukum-adat-ciri-dimensi-asas-sumber-dan-pembidangan-hukum-adat\/#Sumber_Hukum_Adat\" >Sumber Hukum Adat<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hukum-adat-ciri-dimensi-asas-sumber-dan-pembidangan-hukum-adat\/#Pembidangan_Hukum_Adat\" >Pembidangan Hukum Adat<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Hukum_Adat\"><\/span><b><\/b><b><strong>Pengertian Hukum Adat<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Berikut ini dikemukakan lima pengertian hukum adat oleh para ahli :<\/p>\n<p>Menurut\u00a0<b><strong>Cornelis van Vollenhoven<\/strong><\/b><\/p>\n<p>Hukum adat adalah himpunan peraturan tentang perilaku yang berlaku bagi orang pribumi dan Timur Asing pada satu pihak mempunyai sanksi (karena bersifat hukum), dan pada pihak lain berada dalam keadaan tidak dikodifikasikan (karena adat)[1].<\/p>\n<p>Menurut<b><strong>\u00a0Soekanto<\/strong><\/b><\/p>\n<p>Hukum adat adalah kompleks adat-adat yang kebanyakan tidak dikitabkan, tidak dikodifikasikan dan bersifat paksaan memiliki sanksi (dari hukum itu)[2].<\/p>\n<p>Menurut\u00a0<b><strong>Bushar Muhammad<\/strong><\/b><\/p>\n<p>Hukum adat adalah hukum yang mengatur tingkah laku manusia Indonesia dalam hubungan satu sama lain baik yang merupakan keseluruhan kelaziman, kebiasaan dan kesusilaan yang benar-benar hidup di masyarakat adat karena dianut\u00a0 dan dipertahankan oleh anggota masyarakat itu, maupun yang merupakan keseluruhan peraturan-peraturan yang mengenai sanksi atas pelanggaran yang ditetapkan dalam keputusan para penguasa adat (mereka yang mempunyai kewibawaan dan berkuasa member keputusan dalam masyarakat adat itu yaitu dalam keputusan lurah, penghulu, wali tanah, kepala adat dan hakim[3].<\/p>\n<p>Menurut\u00a0<b><strong>M.M. Djojodigoeno<\/strong><\/b><\/p>\n<p>Hukum adat adalah hukum yang tidak bersumber kepada peraturan-peraturan seperti peraturan-peraturan desa dan peraturan-peraturan raja[4].<\/p>\n<p>Menurut\u00a0<b><strong>Soediman Kartohadiprodjo<\/strong><\/b><\/p>\n<p>Hukum adat adalah suatu jenis hukum tidak tertulis yang tertentu yang memiliki dasar pemikiran yang khas yang prinsipil berbeda dari hukum tertulis lainnya. Hukum adat bukan hukum adat karena bentuknya tidak tertulis, melainkan hukum adat adalah hukum adat karena tersusun dengan dasar pemikiran tertentu yang prinsipil berbeda dari dasar pemikiran hukum barat[5].<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Semua suku bangsa dan etnis di Indonesia memiliki dan terikat secara kultural maupun sosial ekonomi atas aturan dan tatanan nilai tradisional yang mengacu kepada adat dan hukum adat dengan penselarasan hukum-hukum agama atau kepercayaan. Tanpa disadari bahwa nilai luhur dari semua aspek kehidupan telah diatur dengan norma-norma hukum adat yang teradat. Masyarakat adat memiliki tatanan dan lembaga adat dengan berbagai perangkat hukum yang dimiliki dan memiliki eksistensi yang kuat hingga saat ini. Lembaga adat terbukti sebagai lembaga yang menyelesaikan konflik-konflik yang tidak mampu ditangani oleh lembaga formal.<\/p>\n<p>Masyarakat Adat didefinisikan sebagai : Kelompok masyarakat yang memiliki asal-usul leluhur (secara turun-temurun) di wilayah geografis tertentu, serta memiliki sistem nilai, ideologi, ekonomi, politik, budaya, sosial dan wilayah sendiri. Artinya suatu kelompok termasuk dalam masyarakat adat jika dia mempunyai sistem tersendiri dalam menjalankan penghidupan (liveli-hood) mereka, yang terbentuk karena interaksi yang terus menerus di dalam kelompok tersebut dan mempunyai wilayah teritori sendiri, dimana sistem-sistem nilai yang mereka yakini masih diterapkan dan berlaku bagi kelompok tersebut.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia ini berdiri, harus diakui telah hidup masyarakat dengan wujud kesatuan sosial dengan cirinya masing-masing yang terus-menerus melembaga, sehingga menjadi suatu kebudayaan lengkap dengan tatanan aturan tingkah lakunya. Interaksi yang terus menerus di antara mereka membuat mereka mempunyai sistem politik, sistem ekonomi dan sistem pemerintahan sendiri. Hukum adat pada umumnya belum\/tidak tertulis dalam lembaran-lembaran hukum.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ciri-ciri_Hukum_Adat\"><\/span><b><\/b><b><strong>Ciri-ciri Hukum Adat<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ciri-ciri hukum adat adalah :<\/p>\n<ol>\n<li>Tidak tertulis dalam bentuk perundangan dan tidak dikodifikasi.<\/li>\n<li>Tidak tersusun secara sistematis.<\/li>\n<li>Tidak dihimpun dalam bentuk kitab perundangan.<\/li>\n<li>Tidak teratur.<\/li>\n<li>Keputusannya tidak memakai konsideran (pertimbangan).<\/li>\n<li>Pasal-pasal aturannya tidak sistematis dan tidak mempunyai penjelasan.<\/li>\n<\/ol>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dimensi_Hukum_Adat\"><\/span><b><strong>Dimensi Hukum Adat<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tiga dimensi hukum adat yang mengatur gerak hidup manusia dimuka bumi ini yaitu<\/p>\n<p><b><strong>1. Dimensi Adat Tapsila (Akhlakul Qarimah)<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yaitu dimensi yang mengatur norma-norma dan etika hubungannya dengan lingkungan\u00a0 sosial budaya, pergaulan alam dan keamanan lahir batin.<\/p>\n<p><b><strong>2. Dimensi Adat Krama<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yaitu dimensi yang mengatur hukum dalam hubungan perluasan keluarga (perkawinan) yang sarat dengan aturan-aturan hukum adat yang berlaku di masyarakat.<\/p>\n<p><b><strong>3. Dimensi Adat Pati \/ Gama<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yaitu dimensi yang mengatur tata cara dan pelaksanaan upacara ritual kematian dan keagamaan sehingga dimensi adat Pati kerap disebut sebagai dimensi adat Gama (disesuaikan dengan ajaran agama masing-masing).<\/p>\n<h1 style=\"font-weight: 400;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Asas-asas_Pokok_dalam_Hukum_Adat\"><\/span><b><strong>Asas-asas Pokok dalam Hukum Adat<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Hukum adat kita mempunyai asas-asas tertentu adapun asas-asas yang terpenting adalah:<\/p>\n<p><b><strong>Asas Religius &#8211; Magis<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut kepercayaan tradisional Indonesia, tiap-tiap masyarakat diliputi oleh kekuatan gaib yang harus dipelihara agar masyarakat itu tetap aman tentram bahagia dan lain-lain. Tidak ada pembatasan antara dunia lahir dan dunia ghaib serta tidak ada pemisahan antara berbagai macam lapangan kehidupan, seperti kehidupan manusia, alam, arwah-arwah nenek moyang dan kehidupan makhluk-makhluk lainnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Adanya pemujaan-pemujaan khususnya terhadap arwah-arwah daripada nenek moyang sebagai pelindung adat-istiadat yang diperlukan bagi kebahagiaan masyarakat. Setiap kegiatan atau perbuatan-perbuatan bersama seperti membuka tanah, membangun rumah, menanam dan peristiwa-pristiwa penting lainnya selalu diadakan upacara-upacara relegieus yang bertujuan agar maksud dan tujuan mendapat berkah serta tidak ada halangan dan selalu berhasil dengan baik.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Arti Religius Magis adalah :<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Bersifat kesatuan batin<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Ada kesatuan dunia lahir dan dunia gaib<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Ada hubungan dengan arwah-arwah nenek moyang dan makluk-makluk halus lainnya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Percaya adanya kekuatan gaib<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pemujaan terhadap arwah-arwah nenek moyang<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Setiap kegiatan selalu diadakan upacara-upacara relegieus<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Percaya adanya roh-roh halus, hatu-hantu yang menempati alam semesta seperti terjadi gejala-gejala alam, tumbuh-tumbuhan, binatang, batu dan lain sebagainya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Percaya adanya kekuatan sakti dan adanya beberapa pantangan-pantangan<\/li>\n<\/ol>\n<p><b><strong>Asas Komunal atau Kemasyarakatan<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya bahwa kehidupan manusia selalu dilihat dalam wujud kelompok, sebagai satu kesatuan yang utuh. Individu satu dengan yang lainnya tidak dapat hidup sendiri, manusia adalah makluk sosial, manusia selalu hidup bermasyarakatan, kepentingan bersama lebih diutamakan dari pada kepentingan perseorangan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Secara singkat arti dari Komunal adalah :<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">a). Manusia terikat pada kemasyarakatan tidak bebas dari segala perbuatannya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">b). Setiap warga mempunyai hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">c). Hak subyektif berfungsi social<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">d). Kepentingan bersama lebih diutamakan<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">e). Bersifat gotong royong<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">f). Sopan santun dan sabar<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">g). Sangka baik<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">h). Saling hormat menghormati<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><b><strong>Asas Demokrasi<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Bahwa segala sesuatu selalu diselesaikan dengan rasa kebersamaan, kepentingan bersama lebih diutamakan dari pada kepentingan-kepentingan pribadi sesuai dengan asas permusyawaratan dan perwakilan sebagai sistem pemerintahan. Adanya musyawarah di balai desa, setiap tindakan pamong desa berdasarkan hasil musyawarah dan lain sebagainya.<\/p>\n<p><b><strong>Asas \u00a0Kontan<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pemindahan atau peralihan hak dan kewajiban harus dilakukan pada saat yang bersamaan yaitu peristiwa penyerahan dan penerimaan harus dilakukan secara serentak, ini dimaksudkan agar menjaga keseimbangan didalam pergaulan bermasyarakat.<\/p>\n<p><b><strong>Asas Konkrit<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya adanya tanda yang kelihatan yaitu tiap-tiap perbuatan atau keinginan dalam setiap hubungan-hubungan hukum tertentu harus dinyatakan dengan benda-benda yang berwujud. Tidak ada janji yang dibayar dengan janji, semuanya harus disertai tindakan nyata, tidak ada saling mencurigai satu dengan yang lainnya.<\/p>\n<h1 style=\"font-weight: 400;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kedudukan_Hukum_Adat\"><\/span><b><strong>Kedudukan Hukum Adat<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam Batang Tubuh UUD 1945, tidak satupun pasal yang mengatur tentang hukum adat. Oleh karena itu, aturan untuk berlakunya kembali hukum adat ada pada Aturan Peralihan UUD 1945 Pasal II, yang berbunyi :<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cSegala badan Negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini\u201d.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Aturan Peralihan Pasal II ini menjadi dasar hukum sah berlakunya hukum adat. Dalam UUDS 1950 Pasal 104 disebutkan bahwa segala keputusan pengadilan harus berisi alasan-alasannya dan dalam perkara hukuman menyebut aturanaturan Undang-Undang dan aturan adat yang dijadikan dasar hukuman itu. Tetapi UUDS 1950 ini pelaksanaannya belum ada, maka kembali ke Aturan Peralihan UUd 1945.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam Pasal 131 ayat 2 sub b. I.S. menyebutkan bahwa bagi golongan hukum Indonesia asli dan Timur asing berlaku hukum adat mereka, tetapi bila kepentingan sosial mereka membutuhkannya, maka pembuat Undang-Undang dapat menentukan bagi mereka :<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum Eropa<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum Eropa yang telah diubah<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum bagi beberapa golongan bersama dan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum baru yaitu hukum yang merupakan sintese antara adat dan hukum mereka yaitu hukum Eropa<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pasal 131 ini ditujukan pada Undang-Undangnya, bukan pada hakim yang menyelesaikan sengketa Eropa dan Bumi Putera. Pasal 131 ayat (6) menyebutkan bahwa bila terjadi perselisihan sebelum terjadi kodifikasi maka yang berlaku adalah hukum adat mereka, dengan syarat bila berhubungan dengan Eropa maka yang berlaku adalah hukum Eropa. Dalam UU No. 19 tahun 1964 pasal 23 ayat (1) menyebutkan bahwa segala putusan pengadilan selain harus memuat dasar-dasar dan alasan-alasan putusan itu jug aharus memuat pula pasal-pasal tertentu dari peraturan yang bersangkutan atau sumber hukum tidak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili. UU No. 19 tahun 1964 ini direfisi jadi UU No. 14 tahun 1970 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman karena dalam UU No. 19 tersebut tersirat adanya campur tangan presiden yang terlalu besar dalam kekuasaan yudikatif. Dalam Bagian Penjelasan Umum UU No. 14 tahun 1970 disebutkan bahwa yang dimansud dengan hukum yang tidak tertulis itu adalah hukum adat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam UU No. 14 tahun 1970 Pasal 27 (1) ditegaskan bahwa hakim sebagai penegak hukum dan keadilan wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup di masyarakat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dari uraian di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa yang menjadi dasar berlakunya hukum adat di Indonesia adalah :<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang menjadi dasar berlakunya kembali UUD 1945.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Aturan Peralihan Pasal II UUD 1945<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pasal 24 UUD 1945 tentang kekuasaan kehakiman<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pasal 7 (1) UU No. 14\/ 1970 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman.<\/li>\n<\/ol>\n<h1 style=\"font-weight: 400;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Faktor_yang_Mempengaruhi_Perkembangan_Hukum_Adat\"><\/span><b><strong>Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Hukum Adat<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ada empat faktor yang mempengaruhi perkembangan hukum adat faktor-faktor tersebut adalah :<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><\/b><b><strong>Faktor Magis dan Animisme<\/strong><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada masyarakat hukum adat, faktor magis dan animisme ini pengaruhnya begitu besar atau belum dapat terdesak oleh agama-agama yang kemudian datang. Hal ini terlihat dalam wujud pelaksanaan-pelaksanaan upacara adat yang bersumber pada kepercayaan atau kekuatan ghaib yang dapat dimohonkan bantuannya.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><\/b><b><strong>Faktor Agama<\/strong><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Adanya pengaruh-pengaruh dari agama yang masuk kemudian ke Indonesia dan dianut oleh masyarakat hukum adat bersangkutan, seperti agama Hindu, agama Islam dan agama Kristen.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><\/b><b><strong>Faktor Kekuasaan yang Lebih Tinggi dan Persekutuan Hukum Adat<\/strong><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kekuasaan yang lebih tinggi dari persekutuan adat ini adalah kekuasaan yang mempunyai wilayah yang lebih luas dari persekutuan\u00a0hukum adat seperti kerajaan dan Negara.<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><\/b><b><strong>Hubungan Dengan Orang-orang ataupun Kekuasaan Asing<\/strong><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Faktor ini sangat besar pengaruhnya. Bahkan kekuasaan asing ini yang menyebabkan hukum adat terdesak dari beberapa bidang kehidupan hukum. Selain itu, alam pikiran Barat yang dibawa oleh orang-orang asing (Barat) ke Indonesia dan kekuasaan asing dalam pergaulan sangat mempengaruhi perkembangan cara berpikiran orang Indonesia. Sebagai contoh dapat dikemukakan proses individual sering di kota-kota yang berjalan lebih cepat dari pada masyarakat di pedesaan.<\/p>\n<h1 style=\"font-weight: 400;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sumber_Hukum_Adat\"><\/span><b><strong>Sumber Hukum Adat<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam membicarakan sumber hukum (adat) dianggap penting terlebih dahulu dibedakan atas dua pengertian sumber hukum yaitu Welbron dan Kenbron.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>Welbron\u00a0<\/em>adalah sumber hukum (adat) dalam arti yang sebenarnya. Sumber Hukum Adat dalam arti Welbron tersebut, tidak lain dari keyakinan tentang keadilan yang hidup dalam masyarakat tertentu. Dengan perkataan lain Welbron itu adalah konsep tentang keadilan sesuatu masyarakat, seperti Pancasila bagi masyarakat Indonesia.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan\u00a0<em>Kenbron<\/em>\u00a0adalah sumber hukum (adat) dalam arti dimana hukum (adat) dapat diketahui atau ditemukan. Dengan lain perkataan sumber dimana asas-asas hukum (adat) menempatkan dirinya di dalam masyarakat sehingga dengan mudah dapat diketahui.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kenbron itu merupakan penjabaran dari Welbron. Atas dasar pandangan sumber hukum seperti itu, maka para sarjana yang menganggap hukum itu sebagai kaidah berpendapat sumber hukum dalam arti Kenbron itu adalah:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Adat-istiadat atau kebiasaan yang merupakan tradisi rakyat<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Kebudayaan tradisionil rakyat<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Ugeran\/ Kaidah dari kebudayaan Indonesia asli<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Perasaan keadilan yang hidup dalam masyarakat<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pepatah adat<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Yurisprudensi adat<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Dokumen-dokumen yang hidup pada waktu itu, yang memuat ketentuan-ketentuan hukum yang hidup.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Kitab-kitab hukum yang pernah dikeluarkan oelh Raja-Raja.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Doktrin tentang hukum adat<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hasil-hasil penelitian tentang hukum adatNilai-nilai yang tumbuh dan berlaku dalam masyarakat<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian hukum adat dapat ditemukan baik dalam adat kebiasaan maupun dalam tulisan-tulisan yang khusus memuat\/membicarakan hukum adat. Tulisan itu mungkin fakta hukum atau mungkin pula merupakan pandangan dari para ahli hukum adat.<\/p>\n<h1 style=\"font-weight: 400;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pembidangan_Hukum_Adat\"><\/span><b><strong>Pembidangan Hukum Adat<\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Mengenai pembidangan hukum adat tersebut, terdapat pberbagai variasi, yang berusaha untuk mengidentifikasikan kekhususan hukum adat, apabila dibandingkan dengan hukum Barat. Pembidangan tersebut biasanya dapat diketemukan pada buku-buku standar, dimana sistematika buku-buku tersebut merupakan suatu petunjuk untuk mengetahui pembidangan mana yang dianut oleh penulisnya.\u00a0<b><strong>Van Vollen Hoven<\/strong><\/b>\u00a0berpendapat, bahwa pembidangan hukum adat, adalah sebagai berikut :<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Bentuk-bentuk masyarakat hukum adat<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tentang Pribadi<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pemerintahan dan peradilan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum Keluarga<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum Perkawinan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum Waris<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum Tanah<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum Hutang piutang<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum delik<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Sistem sanksi.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><b><strong>Soepomo<\/strong><\/b>\u00a0Menyajikan pembidangnya sebagai berikut :<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum keluarga<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum perkawinan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum waris<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum tanah<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum hutang piutang<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum pelanggaran<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><b><strong>Ter Harr<\/strong><\/b>\u00a0didalam bukunya \u201c Beginselen en stelsel van het Adat-recht\u201d, mengemukakan pembidangannya sebagai berikut :<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tata Masyarakat<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hak-hak atas tanah<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Transaksi-transaksi tanah<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Transaksi-transaksi dimana tanah tersangkut<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum Hutang piutang<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Lembaga\/ Yayasan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum pribadi<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum Keluarga<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum perkawinan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum Delik<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pengaruh lampau waktu<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pembidangan hukum adat sebagaimana dikemukakan oleh para sarjana tersebut di atas, cenderung untuk diikuti oleh para ahli hukum adat pada dewasa ini.\u00a0<b><strong>Surojo Wignjodipuro<\/strong><\/b>, misalnya, menyajikan pembidangan, sebagai berikut :<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tata susunan rakyat Indonesia<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum perseorangan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum kekeluargaan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum perkawinan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum harta perkawinan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum (adat) waris<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum tanah<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum hutang piutang<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum (adat) delik<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tidak jauh berbeda dengan pembidangan tersebut di atas, adalah dari\u00a0<b><strong>Iman Sudiyat<\/strong><\/b>\u00a0didalam bukunya yang berjudul \u201cHukum Adat, Sketsa Asa\u201d (1978), yang mengajukan pembidangan, sebagai berikut :<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum Tanah<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Transaksi tanah<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Transaksi yang bersangkutan dengan tanah<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum perutangan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Status badan pribadi<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum kekerabatan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum perkawinan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum waris<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hukum delik adat.<\/li>\n<\/ol>\n<p>[1]\u00a0Cornelis van Vollenhoven, 1983.\u00a0<em>Orientasi dalam Hukum Adat Indonesia<\/em>,\u00a0 Jambatan kerjasama dengan Inkultra Foundation Inc., Jakarta, hlm. 14.<\/p>\n<p>[2]\u00a0Soekanto dan Soerjono Soekanto, 1981.\u00a0<em>Meninjau Hukum Adat Indonesia,\u00a0<\/em>Edisi ke-3, Disusun kembali oleh Soerjono Soekanto, Rajawali, Jakarta, hlm. 18.<\/p>\n<p>[3]\u00a0Bushar Muhammad,\u00a0<em>Op cit., hlm 27.<\/em><\/p>\n<p>[4]\u00a0H. Hilman Hadikusuma,\u00a0<em>Op cit.,<\/em>\u00a0hlm. 21.<\/p>\n<p>[5]\u00a0Soediman Kartohadiprodjo, 1974.\u00a0<em>Hukum Nasional Beberapa Catatan,\u00a0<\/em>Binacipta, Bandung, hlm. 8.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Hukum Adat Berikut ini dikemukakan lima pengertian hukum adat oleh para ahli : Menurut\u00a0Cornelis van Vollenhoven Hukum adat adalah himpunan peraturan tentang perilaku yang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-28666","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28666","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28666"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28666\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28666"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28666"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28666"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}