{"id":28513,"date":"2022-11-30T08:36:27","date_gmt":"2022-11-30T01:36:27","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=28513"},"modified":"2022-11-30T08:36:27","modified_gmt":"2022-11-30T01:36:27","slug":"filsafat-pendidikan-pengertian-ruang-lingkup-aliran-aliran-dan-hubungan-filsafat-dalam-pendidikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/filsafat-pendidikan-pengertian-ruang-lingkup-aliran-aliran-dan-hubungan-filsafat-dalam-pendidikan\/","title":{"rendered":"Filsafat Pendidikan :  Pengertian, Ruang Lingkup,  Aliran-Aliran dan Hubungan Filsafat dalam Pendidikan"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/filsafat-pendidikan-pengertian-ruang-lingkup-aliran-aliran-dan-hubungan-filsafat-dalam-pendidikan\/#Pengertian_filsafat_pendidikan\" >Pengertian filsafat pendidikan\u00a0<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/filsafat-pendidikan-pengertian-ruang-lingkup-aliran-aliran-dan-hubungan-filsafat-dalam-pendidikan\/#Ruang_Lingkup_Filsafat_Pendidikan\" >Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan\u00a0<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/filsafat-pendidikan-pengertian-ruang-lingkup-aliran-aliran-dan-hubungan-filsafat-dalam-pendidikan\/#Aliran-Aliran_Filsafat_Pendidikan\" >Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/filsafat-pendidikan-pengertian-ruang-lingkup-aliran-aliran-dan-hubungan-filsafat-dalam-pendidikan\/#Hubungan_Filsafat_dalam_Pendidikan\" >Hubungan Filsafat dalam Pendidikan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1 style=\"font-weight: 400;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_filsafat_pendidikan\"><\/span><strong>Pengertian filsafat pendidikan\u00a0<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kata filsafat berasal dari bahasa yunani\u00a0<em>filosofia<\/em>\u00a0yang berasal dari kata kerja\u00a0<em>filosofien<\/em>\u00a0berarti mencintai kebijaksanaan. Kata tersebut juga berasal dari bahasa yunani\u00a0<em>philosophy,<\/em>\u00a0Ada pula yang mengatakan filsafat berasal dari bahasa arab\u00a0<em>falsafah<\/em>\u00a0yang artinya hikmah.[1]\u00a0Dengan demikian diartikan &#8221; cinta kebijaksanaan atau<em>\u00a0kebenaran<\/em>.\u00a0Suka kepada hikmah dan kebijaksanaan.jadi orang yang berfilsafat adalah orang yang mencintai kebenaran, ahli hikmah dan bijaksana.[2]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Selanjutya kata filsafat yang banyak terpakai dalam bahasa indonesia, menurut prof. Dr. harun Nasution bukan berasal dari kata arab<em>\u00a0falsafah<\/em>\u00a0dan bukan pula dari kata Barat\u00a0<em>philosophy<\/em>. Disini dipertanyakan tentang apakah\u00a0<em>fil<\/em>\u00a0diambil dari kata Barat dan\u00a0<em>safah<\/em>\u00a0dari bahasa Arab, sehingga terjadi gabungan antara keduanya dan menimbulkan kata\u00a0<em>filsafat<\/em>?<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dari pengertian secara Etimologi itu, filsafat\u00a0didefinisikan\u00a0sebagai berikut:[3]<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pengetahuan tentang hikmah<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pengetahuan tentang prinsip atau dasar-dasar<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Mencari kebenaran<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membahas dasar-dasar dari apa yang dibahas<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalanya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Adapun pengertian filsafat menurut beberapa ahli yaitu sebagai berikut:\u00a0[4]<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><strong>Plato<\/strong><\/b>, mengatakan bahasa filsafat tidaklah lain dari pada pengetahuan tentang segala yang ada.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><strong>Aristoteles<\/strong><\/b>, berpendapat bahwa kewajiban filsafat ialah menyelidiki sebab dan asal segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu yang umum sekali.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><strong>Kant,<\/strong><\/b>\u00a0mengatakan bahwa filsafat adalah pokok dan pangkal ssegala pengetahuan dan pekerjaan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><strong>Fichte,\u00a0<\/strong><\/b>menyebut filsafat sebagai Wissenschaftslehre: ilmu dari ilmu-ilmu yakni ilmu yang umum, yang menjadi dasar segala ilmu.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><strong>Ibnu Sina,\u00a0<\/strong><\/b>membagi filsafat dalam dua bagian, yaitu teori dan praktek, yang keduanya berhubungan dengan agama, di mana dasarnya terdapat dalam syari&#8217;at tuhan, yang penjelasan dan kelengkapanya diperoleh dengan tenaga akal manusia.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Maka\u00a0dari\u00a0pengertian-pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa filsafat adalah proses pencarian kebenaran dengan cara menelusuri hakikat dan sumber kebenaran secara logis, kritis, rasional, dan spekulatif. Alat yang digunakan untuk mencari kebenaran adalah akal yang merupakan sumber utama dalam berpikir. Dengan demikian, kebenaran filosofis adalah kebenaran berpikir yang rasional, logis, sistematis, kritis, radikal, dan universal.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Adapun yang dimaksud dengan filsafat pendidikan adalah sebagaimana yang diungkapkan al-Syaibany, filsafat pendidikan adalah aktivitas pikiran yang teratur, yang menjadikan filsafat sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan.\u00a0\u00a0Artinya, filsafat pendidikan dapat menjelaskan nilai-nilai maklumat yang diupayakan untuk pengalaman kemanusiaan merupakan faktor yang integral.[5]\u00a0Sedangkan menurut Imam Barnadib filsafat pendidikan merupakan ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan. Baginya filsafat pendidikan merupakan aplikasi suatu analisis filosofis terhadap bidang pendidikan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kalau kita perhatikan pengertian yang luas dari pendidikan sebagaimana yang dikemukakan oleh lodge, yaitu<em>\u00a0&#8221; life is education&#8221;<\/em>\u00a0akan berarti bahwa seluruh proses hidup ini adalah proses pendidikan. Selanjutnya dalam artinya yang sempit\u00a0\u00a0Lodge menjelaskan pengertian pendidikan mempunyai fungsi yang terbatas, yaitu memberikan dasar dasar dan pandangan hidup kepada generasi yang sedang tumbuh, yang dalam prakteknya identik dengan pendidikan formal di sekolah dan dalam situasi dan kondisi serta lingkungan belajar serba terkontrol. Dan pendidikan formal hanyalah bagian kecil saja daripadanya. Tetapi merupakan inti dan tidak bisa lepas kaitanya dengan proses pendidikan secara keseluruhan.[6]<\/p>\n<h1 style=\"font-weight: 400;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ruang_Lingkup_Filsafat_Pendidikan\"><\/span><strong>Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan\u00a0<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Filsafat\u00a0adalah\u00a0studi secara kritis mengenai masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan manusia dan merupakan alat dalam mencari jalan keluar yang terbaik agar dapat mengatasi permasalahan hidup dan hidup yang dihadapi.\u00a0Filsafat bertujuan memberikan pengertian yang dapat diterima oleh manusia mengenai konsep-konsep hidup secara ideal dan mendasar bgai manusia agar mendapatkan kebahagiaan.[7]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa ruang lingkup\u00a0filsafat\u00a0adalah semua lapangan pemikiran manusia yang komperhensif. Baik material konkret mapun non material abstrak. Jadi, obyek filsafat itu tidak terbatas. Secara makro, apa yang terjadi objek pemikiran filsafat yaitu permasalahan kehidupan manusia, alam semesta dan alam sekitarnya, namun secara mikro, ruang lingkup filsafat pendidikan meliputi:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Merumuskan sifat hakikat manusia, sebagai subjek dan objek pendidikan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama dan kebudayaan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Merumuskan sistem nilai norma atau isi moral pendidikan yang merupakan tujuan pendidikan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Merumuskan hubungan antara filsafat Negara (ideology), filsafat pendidikan, dan politik pendidikan (sistem pendidikan)<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan\u00a0demikian, dari uraian di atas diperoleh suatu kesimpulan bahwa yang menjadi ruang lingkup filsafat pendidikan itu ialah semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakikat pendidikan itu sendiri<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Keberadaan\u00a0filsafat berbeda dengan ilmu. Ilmu ingin mengetahui sebab dan akibat dari sesuatu. Sementara filsafat tidak terikat pada satu ketentuan dan tidak mau terkurung dalam satu ruang saja. Filsafat ingin memperoleh realitas mengenai apa hakikat benda, dari mana asal-usulnya, dan\u00a0kemana tujuan akhirnya.[8]<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Aliran-Aliran_Filsafat_Pendidikan\"><\/span><strong>Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Untuk\u00a0mengenal perkembangan pemikiran dunia filsafat pendidikan,\u00a0akan diuraikan garis-garis besar aliran filsafat dalam pendidikan, yaitu:[9]<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><\/b><b><strong>Aliran Proggressivisme<\/strong><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Aliran proggressivisme adalah aliran filsafat yang sangat berpengaruh dalam abad ke 20 ini. Aliran ini dihubungkan dengan pandangan liberal,\u00a0yaitu\u00a0fleksibel,\u00a0<em>curious<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>open mined<\/em>. Aliran ini meyakini bahwa manusia mempunyai kesanggupan untuk mengendalikan hubunganya dengan alam\u00a0serta\u00a0meresapi\u00a0dan menguasai\u00a0rahasia alam.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><\/b><b><strong>Filsafat<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0Pendidikan Idealisme<\/strong><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Filsafat\u00a0idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Aliran ini menegaskan bahwa hakikat kenyataan adalah ide sebagai gagasan kejiwaan. Apa yang dianggap realitas hanyalah bayangan atau refleksi dari ide sebagai kebenaran berfilsafat spiritual atau mental. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume,\u00a0al Ghazali.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><\/b><b><strong>Filsafat<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>Pendidikan<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0Realisme<\/strong><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis.\u00a0Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani.\u00a0Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill.<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><\/b><b><strong>Filsafat<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0Pendidikan Materialisme<\/strong><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual atau supernatural. Beberapa tokoh yang beraliran materialisme: Demokritos, Ludwig Feurbach.<\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><\/b>\u00a0<b><strong>Filsafat Pendidikan Pragmatisme<\/strong><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami.\u00a0 Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos.<\/p>\n<ol start=\"6\">\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><\/b><b><strong>Filsafat\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>Pendidikan<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0Eksistensialisme<\/strong><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Filsafat ini memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini : Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tillich.<\/p>\n<ol start=\"7\">\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><\/b><b><strong>Filsafat<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0<\/strong><\/b><b><strong>Pendidikan<\/strong><\/b><b><strong>\u00a0Progresivisme<\/strong><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Progresivisme bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatugerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Hubungan_Filsafat_dalam_Pendidikan\"><\/span><strong>Hubungan Filsafat dalam Pendidikan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Hubungan\u00a0antara\u00a0filsafat dan filsafat pendidikan menjadi sangat penting sekali, sebab ia menjadi dasar, arah, dan pedoman suatu sistem pendidikan. Filsafat pendidikan adalah aktivitas pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan, mengharmoniskan dan menerangkan nilai-nilai dan tujuan yang ingin dicapai. Jadi, terdapat kesatuan yang utuh antara filsafat, filsafat pendidikan, dan pengalaman manusia.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Filsafat menetapkan ide-ide, idealisme, dan pendidikan merupakan usaha dalam merealisasikan ide-ide tersebut menjadi kenyataan, tindakan, tingkah laku, bahkan membina kepribadian manusia. Kilpatrik mengatakan, berfilsafat dan mendidik adalah dua face dalam satu usaha; berfilsafat ialah memikirkan dan mempertimbangkan nilai-nilai dan cita-cita yang lebih baik, sedangkan mendidik ialah usaha mereliasasikan nilai-niali dan cita-cita itu dalam kehidupan, dalam kepribadian manusia. Mendidik ialah mewujudkan nilai-nilai yang dapat disumbangkan filsafat, dimulai dengan generasi muda, untuk membimbing rakyat, membina nilai-nilai dalam kepribadian mereka, demi menemukan cita-cita tertinggi suatu filsafat dan melembagakannya dalam kehidupan mereka.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Oleh kerena itu, dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah reliasi dari ide-ide filsafat; filsafat memberi asas kepastian bagi peranan pendidikan sebagai wadah pembinaan manusia yang telah melahirkan ilmu pendidikan, lembaga pendidikan dan aktivitas pendidikan. Jadi, filsafat pendidikan merupakan jiwa dan pedoman dasar pendidikan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dari uraian di atas, diperoleh hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan berikut:[10]<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Filsafat, dalam arti filosofis, merupakan satu cara pendekatan yang dipakai dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori-teorinpendidikan oleh para ahli.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Filsafat, berfungsi memberi arah begi teori pendidikan yang telah ada menurut aliran filsafat tertentu yang memiliki relevansi dengan kehidupan yang nyata.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Filsafat, dalam hal ini filsafat pendidikan, mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan.<\/li>\n<\/ol>\n<p>[1]\u00a0Jujun S. Surisumantri filsafat ilmu sebuah pengantar populer ( Jakarta: Pustaka Sinar Harapan 1985) hal.20<\/p>\n<p>[2]\u00a0\u00a0Asmoro Ahmadi\u00a0<em>filsafat Umum,\u00a0<\/em>( jakarta: PT RajaGrafindo Persada 2012) hal. 1<\/p>\n<p>[3]\u00a0Zuhairini\u00a0<em>filsafat pendidikan<\/em>, ( jakarta: Bumi Aksara 1995) hal. 4<\/p>\n<p>[4]\u00a0\u00a0Suhar AM\u00a0<em>Filsafat Umum<\/em><em>,<\/em>\u00a0(Jakarta: persada press 2009) hal. 9-10<\/p>\n<p>[5]\u00a0\u00a0Jalaluddin, Abdullah Idi\u00a0<em>filsafat pendidikan<\/em><em>,<\/em>\u00a0(Jakarta: PT RajaGrafindo 2013) hal.6-7<\/p>\n<p>[6]\u00a0Anas\u00a0Salahudin filsafat pendidikan, ( Bandung:pustaka Setia 2011) hal. 24<\/p>\n<p>[7]\u00a0A.Chaedar Alwasilah\u00a0<em>filsafat bahasa dan pendidikan<\/em>,\u00a0(Bandung: PT Remaja Rosdakarya 2008) hal. 15<\/p>\n<p>[8]\u00a0Soejono\u00a0Soemargono\u00a0Pengantar Filsafat ( Yogya:Tiara Wacana 2004) hal. 5<\/p>\n<p>[9]\u00a0Ibid. 76<\/p>\n<p>[10]\u00a0M.\u00a0\u00a0Noorsyam, pengantar filsafat pendidikan ( Malang: IKIP 1978) hal. 13<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian filsafat pendidikan\u00a0 Kata filsafat berasal dari bahasa yunani\u00a0filosofia\u00a0yang berasal dari kata kerja\u00a0filosofien\u00a0berarti mencintai kebijaksanaan. Kata tersebut juga berasal dari bahasa yunani\u00a0philosophy,\u00a0Ada pula yang mengatakan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-28513","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28513","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28513"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28513\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28513"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28513"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28513"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}