{"id":28467,"date":"2022-11-29T12:06:10","date_gmt":"2022-11-29T05:06:10","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=28467"},"modified":"2022-11-29T12:06:10","modified_gmt":"2022-11-29T05:06:10","slug":"usaha-doa-dan-tawakal-menurut-para-ulama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/usaha-doa-dan-tawakal-menurut-para-ulama\/","title":{"rendered":"Usaha, Doa dan Tawakal Menurut Para Ulama"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/usaha-doa-dan-tawakal-menurut-para-ulama\/#Usaha_dalam_Perspektif_Islam\" >Usaha dalam Perspektif Islam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/usaha-doa-dan-tawakal-menurut-para-ulama\/#Makna_dan_Esensi_Doa\" >Makna dan Esensi Doa<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/usaha-doa-dan-tawakal-menurut-para-ulama\/#Tawakal_Menyerahkan_Diri_Kepada_Allah\" >Tawakal: Menyerahkan Diri Kepada Allah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/usaha-doa-dan-tawakal-menurut-para-ulama\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/usaha-doa-dan-tawakal-menurut-para-ulama\/#Daftar_Pustaka\" >Daftar Pustaka<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Dalam pandangan Islam, usaha (ikhtiar), doa, dan tawakal memiliki peran yang saling terkait dalam kehidupan seorang Muslim. Ketiga aspek ini adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran agama yang mengajarkan keseimbangan antara tindakan manusia dan keyakinan kepada takdir Allah. Menurut para ulama, usaha, doa, dan tawakal bukanlah konsep yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian ibadah yang harus dijalani dengan penuh kesungguhan, tawadhu&#8217;, dan ketulusan.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Usaha_dalam_Perspektif_Islam\"><\/span><strong>Usaha dalam Perspektif Islam<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Menurut ajaran Islam, usaha atau ikhtiar merupakan langkah aktif yang harus dilakukan oleh setiap Muslim dalam mencapai tujuan hidup mereka. Ulama menjelaskan bahwa usaha adalah bagian dari tanggung jawab manusia sebagai makhluk yang diberi akal dan kemampuan untuk berikhtiar. Dalam konteks ini, <strong>usaha<\/strong> adalah segala bentuk usaha yang dilakukan oleh manusia untuk mencapai hasil tertentu, baik dalam hal kehidupan duniawi maupun ukhrawi.<\/p>\n<p>Salah satu konsep penting terkait usaha dalam Islam adalah <strong>ihtikar<\/strong>, yang seringkali dibahas dalam konteks ekonomi dan muamalah. <strong>Ihtikar<\/strong> berarti penimbunan barang dengan tujuan untuk memonopoli pasar dan menjualnya dengan harga yang lebih tinggi ketika pasokan terbatas. Hal ini dapat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat secara umum, dan oleh karena itu Islam melarangnya.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Imam Asy-Syaukani<\/strong> (wafat 1834) mengartikan <strong>ihtikar<\/strong> sebagai penimbunan barang dagangan dari peredarannya. Menurut beliau, tindakan tersebut tidak hanya merugikan konsumen, tetapi juga merusak prinsip keadilan dalam ekonomi.<\/li>\n<li><strong>Imam al-Ghazali<\/strong> mengkhususkan pembahasan tentang <strong>ihtikar<\/strong> dalam konteks barang dagangan makanan. Beliau menilai penimbunan barang makanan dengan niat untuk menaikkan harga adalah tindakan yang sangat merugikan umat.<\/li>\n<li><strong>Mazhab Maliki<\/strong> lebih umum dalam pengertian <strong>ihtikar<\/strong>, yaitu menyimpan barang-barang yang dapat merusak pasar, seperti makanan, pakaian, dan barang-barang lainnya yang dibutuhkan masyarakat.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Fathi ad-Duraini, seorang ahli fikih dan usul fikih dari Universitas Damascus, menjelaskan bahwa <strong>ihtikar<\/strong> adalah tindakan menyimpan barang atau jasa yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, baik untuk keperluan hidup atau kegiatan ekonomi lainnya. Tindakan ini dilakukan dengan sengaja agar harga barang atau jasa tersebut dapat melonjak. Dalam pandangan Islam, tindakan ini adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan dan kebaikan, karena menyengsarakan banyak orang demi keuntungan pribadi.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Makna_dan_Esensi_Doa\"><\/span><strong>Makna dan Esensi Doa<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Doa merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan seorang Muslim. Dalam ajaran Islam, doa bukan hanya sekedar permohonan, tetapi juga merupakan bentuk penghambaan dan pengakuan terhadap kekuasaan Allah SWT. Para ulama sepakat bahwa doa adalah inti dari ibadah, yang menghubungkan hamba dengan Sang Pencipta. Beberapa pandangan tentang doa menurut para ulama adalah sebagai berikut:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Imam at-Thaibi<\/strong> menjelaskan bahwa doa adalah bentuk pengakuan bahwa seseorang merasa lemah dan membutuhkan Allah. Doa merupakan sebuah permohonan yang mengajarkan sikap tawadhu&#8217; dan berserah diri kepada Allah.<\/li>\n<li><strong>Quraish Shihab<\/strong>, seorang cendekiawan Muslim kontemporer, mengungkapkan bahwa doa adalah permohonan hamba kepada Allah untuk mendapatkan pertolongan dan pemeliharaan-Nya. Doa harus dilakukan dengan ketulusan dan pengagungan terhadap-Nya.<\/li>\n<li><strong>Syaikh Taqiyuddin Subki<\/strong> berpendapat bahwa doa lebih bersifat khusus daripada ibadah pada umumnya. Seseorang yang sombong dan tidak mau berdoa menunjukkan bahwa ia juga menolak untuk beribadah kepada Allah.<\/li>\n<li><strong>Abdul Halim Mahmud<\/strong> menyatakan bahwa doa adalah keinginan untuk memperoleh kebaikan dari Allah SWT dan memohon agar diberikan segala sesuatu yang baik bagi kehidupan dunia dan akhirat.<\/li>\n<li><strong>Muhammad Kamil Hasan al-Mahami<\/strong> mengungkapkan bahwa doa adalah permohonan kepada Allah untuk mendapatkan kebaikan, yang menunjukkan ketergantungan mutlak kepada-Nya.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Doa adalah bagian integral dari kehidupan seorang Muslim, baik dalam kondisi susah maupun senang. Doa bukan hanya berbentuk permohonan, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengakui kelemahan diri, dan memohon ampunan serta pertolongan-Nya. Oleh karena itu, doa harus dilakukan dengan kesungguhan, keikhlasan, dan penuh pengharapan akan rahmat Allah.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tawakal_Menyerahkan_Diri_Kepada_Allah\"><\/span><strong>Tawakal: Menyerahkan Diri Kepada Allah<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Tawakal adalah konsep yang sangat penting dalam Islam, yang sering kali dijadikan pedoman hidup bagi setiap Muslim. Tawakal bukanlah pasrah tanpa usaha, tetapi lebih kepada penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah setelah melakukan usaha dengan sebaik-baiknya. Konsep tawakal memiliki pemahaman yang sangat mendalam, yang tidak hanya sekadar menyerahkan segala urusan kepada Allah, tetapi juga merupakan bentuk penghambaan diri yang penuh kepercayaan terhadap takdir Allah.<\/p>\n<p>Beberapa pandangan ulama mengenai tawakal adalah sebagai berikut:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Imam Ahmad bin Hambal<\/strong> menjelaskan bahwa tawakal adalah aktivitas hati. Artinya, tawakal merupakan sikap dalam hati untuk bergantung dan menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah, tanpa ada rasa ragu sedikit pun.<\/li>\n<li><strong>Ibnu Qoyim al-Jauzi<\/strong> menyatakan bahwa tawakal adalah amalan hati yang menyandarkan segala sesuatu kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberikan kecukupan dan perlindungan. Tawakal tidak berarti pasrah, melainkan tetap berusaha dengan segenap kemampuan sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah.<\/li>\n<li><strong>Sahl bin Abdillah al-Tasattiri<\/strong> mengemukakan bahwa tawakal merupakan puncak dari segala bentuk penghambaan kepada Allah. Tawakal muncul setelah seseorang melalui proses ilmu, wara&#8217;, dan kezuhudan. Tawakal adalah buah dari keimanan yang mendalam kepada Allah.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Tawakal mengajarkan umat Islam untuk berusaha dengan maksimal, namun tetap sadar bahwa hasil akhirnya adalah urusan Allah. Tawakal menghilangkan rasa putus asa dan menggantinya dengan keyakinan bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya, baik itu sesuai harapan atau tidak. Dalam banyak ayat Al-Qur&#8217;an dan hadits, Allah mengingatkan agar umat-Nya selalu tawakal setelah berusaha, seperti dalam firman-Nya:<\/p>\n<blockquote><p><em>\u201cDan hanya kepada Allah-lah kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.\u201d<\/em> (QS. Al-Maidah: 23)<\/p><\/blockquote>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span><strong>Kesimpulan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Usaha, doa, dan tawakal adalah tiga elemen penting dalam kehidupan seorang Muslim yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Usaha harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, namun hasilnya tetap harus diserahkan kepada Allah. Doa merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya. Tawakal, sebagai bentuk penyerahan diri kepada Allah, merupakan keyakinan bahwa Allah akan memberikan yang terbaik sesuai dengan kehendak-Nya. Semua ini adalah bagian dari ajaran Islam yang mengajarkan keseimbangan antara usaha manusia dan keyakinan kepada takdir Allah.<\/p>\n<h3 class=\"mb-2 mt-6 text-lg first:mt-3\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Daftar_Pustaka\"><\/span>Daftar Pustaka<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<ol class=\"marker:text-textOff list-decimal pl-8\">\n<li>Haroen, Nasrun.\u00a0<em>Fiqh Muamalah<\/em>. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000.<\/li>\n<li>Amin, M., Aziz, dan Tirmidzi Abdul Majid.\u00a0<em>Analisa Zikir dan Doa<\/em>. Jakarta: Pinbuk Press, 2004.<\/li>\n<li>Supriyanto.\u00a0<em>Tawakal Bukan Pasrah<\/em>. Qultum Media, 2010.<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam pandangan Islam, usaha (ikhtiar), doa, dan tawakal memiliki peran yang saling terkait dalam kehidupan seorang Muslim. Ketiga aspek ini adalah bagian tak terpisahkan dari&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":44743,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-28467","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28467","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28467"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28467\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44743"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28467"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28467"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28467"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}