{"id":28090,"date":"2022-11-26T11:46:45","date_gmt":"2022-11-26T04:46:45","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=28090"},"modified":"2022-11-26T11:46:45","modified_gmt":"2022-11-26T04:46:45","slug":"kewajiban-dan-tanggung-jawab-akhlak-tasawuf","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kewajiban-dan-tanggung-jawab-akhlak-tasawuf\/","title":{"rendered":"Kewajiban dan Tanggung Jawab dalam Akhlak Tasawuf"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kewajiban-dan-tanggung-jawab-akhlak-tasawuf\/#Pengertian_Kewajiban_dalam_Perspektif_Islam\" >Pengertian Kewajiban dalam Perspektif Islam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kewajiban-dan-tanggung-jawab-akhlak-tasawuf\/#Macam-Macam_Kewajiban\" >Macam-Macam Kewajiban<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kewajiban-dan-tanggung-jawab-akhlak-tasawuf\/#1_Kewajiban_terhadap_Tuhan\" >1. Kewajiban terhadap Tuhan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kewajiban-dan-tanggung-jawab-akhlak-tasawuf\/#2_Kewajiban_terhadap_Diri_Sendiri\" >2. Kewajiban terhadap Diri Sendiri<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kewajiban-dan-tanggung-jawab-akhlak-tasawuf\/#3_Kewajiban_terhadap_Keluarga\" >3. Kewajiban terhadap Keluarga<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kewajiban-dan-tanggung-jawab-akhlak-tasawuf\/#4_Kewajiban_terhadap_Bangsa_dan_Negara\" >4. Kewajiban terhadap Bangsa dan Negara<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kewajiban-dan-tanggung-jawab-akhlak-tasawuf\/#Tanggung_Jawab_dalam_Islam\" >Tanggung Jawab dalam Islam<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kewajiban-dan-tanggung-jawab-akhlak-tasawuf\/#Pengertian_Tanggung_Jawab\" >Pengertian Tanggung Jawab<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kewajiban-dan-tanggung-jawab-akhlak-tasawuf\/#Macam-Macam_Tanggung_Jawab\" >Macam-Macam Tanggung Jawab<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kewajiban-dan-tanggung-jawab-akhlak-tasawuf\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<div class=\"flex max-w-full flex-col flex-grow\">\n<div class=\"min-h-8 text-message flex w-full flex-col items-end gap-2 whitespace-normal break-words text-start [.text-message+&amp;]:mt-5\" dir=\"auto\" data-message-author-role=\"assistant\" data-message-id=\"f0b9c10f-fd8a-4cb6-a993-21a943c0a4f0\" data-message-model-slug=\"gpt-4o\">\n<div class=\"flex w-full flex-col gap-1 empty:hidden first:pt-[3px]\">\n<div class=\"markdown prose w-full break-words dark:prose-invert dark\">\n<p>Akhlak tasawuf, sebagai salah satu cabang utama dalam studi Islam, tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana seseorang seharusnya berinteraksi dengan Tuhan, diri sendiri, dan sesama manusia, tetapi juga menekankan pentingnya kewajiban dan tanggung jawab yang harus dijalankan oleh setiap individu dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Kewajiban dalam perspektif Islam tidak hanya terbatas pada aspek ibadah atau tindakan ritual, tetapi juga melibatkan perilaku moral dan etika yang harus diperhatikan untuk mencapai kesempurnaan batin dan sosial. Melalui pemahaman tentang kewajiban dan tanggung jawab ini, seorang Muslim diharapkan dapat hidup selaras dengan nilai-nilai agama, menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat, serta berkontribusi positif bagi kemaslahatan umat.<\/p>\n<p>Dalam tulisan ini, kita akan membahas berbagai macam kewajiban yang harus dipenuhi, baik terhadap Tuhan, diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat, serta bagaimana akhlak tasawuf mengarahkan setiap individu untuk bertanggung jawab dalam setiap tindakan yang diambil.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Kewajiban_dalam_Perspektif_Islam\"><\/span>Pengertian Kewajiban dalam Perspektif Islam<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kewajiban adalah suatu tindakan yang harus dilakukan oleh setiap individu, sebagai bagian dari tuntutan terhadap diri sendiri, masyarakat, dan Tuhan. Dalam Islam, kewajiban tidak hanya terbatas pada kewajiban sosial atau pribadi, tetapi juga mencakup dimensi spiritual yang mengarah pada pemenuhan hak-hak Tuhan dan sesama makhluk. Pengertian kewajiban ini dapat dilihat dari berbagai perspektif ilmu Islam, seperti ilmu fiqih, tauhid, dan akhlak.<\/p>\n<ul>\n<li>Dalam ilmu fiqih, kewajiban (wajib) berarti perintah dari Allah SWT yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim, dengan konsekuensi mendapatkan pahala jika dikerjakan dan dosa jika ditinggalkan. Sebagai contoh, kewajiban shalat lima waktu adalah suatu kewajiban yang diharuskan bagi setiap Muslim.<\/li>\n<li>Dalam ilmu tauhid, kewajiban berarti suatu hal yang pasti benar dan tidak dapat disangkal. Sebagai contoh, kewajiban untuk mengesakan Allah (tawhid) merupakan fondasi utama dalam ajaran Islam yang tidak dapat diperdebatkan.<\/li>\n<li>Dalam ilmu akhlak, kewajiban adalah perbuatan yang dianggap baik dan benar menurut ajaran agama. Akhlak tasawuf mengajarkan kewajiban dalam mencapai kesempurnaan moral, seperti menjaga hubungan yang baik dengan Allah, sesama manusia, dan alam semesta.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Kewajiban, dalam pandangan tasawuf, bukan hanya tentang tindakan eksternal, tetapi juga tentang pengembangan batin, pencarian kebenaran spiritual, dan pengabdiannya kepada Tuhan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Macam-Macam_Kewajiban\"><\/span>Macam-Macam Kewajiban<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dalam kajian Islam, kewajiban manusia terbagi menjadi beberapa aspek utama yang mencakup kewajiban terhadap Tuhan, diri sendiri, keluarga, bangsa, dan negara.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Kewajiban_terhadap_Tuhan\"><\/span>1. Kewajiban terhadap Tuhan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Kewajiban manusia terhadap Tuhan adalah kewajiban yang paling fundamental dalam ajaran Islam. Allah SWT, sebagai pencipta alam semesta, memberikan berbagai petunjuk untuk dipatuhi oleh umat-Nya. Kewajiban ini mencakup beberapa dimensi penting, antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Mengesakan Allah dan Tidak Menyekutukan-Nya<br \/>\nDalam Al-Qur&#8217;an, Allah SWT berfirman:<br \/>\n&#8220;Katakanlah, &#8216;Dialah Allah, Yang Maha Esa.'&#8221; (Q.S. Al-Ikhlas, 112:1-4). Kewajiban utama setiap Muslim adalah mengesakan Allah (Tawhid), yang berarti tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.<\/li>\n<li>Beribadah kepada Allah<br \/>\nAllah berfirman dalam Al-Qur&#8217;an:<br \/>\n&#8220;Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.&#8221; (Q.S. Adh-Dhariyat, 51:56). Ibadah kepada Allah adalah kewajiban yang meliputi semua aspek kehidupan, baik ibadah mahdah (ritual) maupun ibadah ghair mahdah (non-ritual).<\/li>\n<li>Bersyukur kepada Allah<br \/>\nSyukur adalah tindakan pengakuan atas nikmat yang diberikan oleh Allah, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur&#8217;an:<br \/>\n&#8220;Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat-Ku kepadamu.&#8221; (Q.S. Ibrahim, 14:7).<\/li>\n<li>Berdoa dan Berdzikir kepada Allah<br \/>\nDoa adalah sarana komunikasi dengan Tuhan, sedangkan dzikir adalah cara mengingat Allah. Kedua hal ini sangat dianjurkan dalam Islam, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur&#8217;an:<br \/>\n&#8220;Dan berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.&#8221; (Q.S. Al-Mu\u2019min, 40:60) dan &#8220;Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut.&#8221; (Q.S. Al-A&#8217;raf, 7:205).<\/li>\n<\/ul>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Kewajiban_terhadap_Diri_Sendiri\"><\/span>2. Kewajiban terhadap Diri Sendiri<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Islam mengajarkan bahwa manusia tidak hanya mempunyai kewajiban terhadap Tuhan, tetapi juga terhadap dirinya sendiri. Kewajiban terhadap diri sendiri berkaitan dengan upaya menjaga dan merawat tubuh, akal, dan jiwa. Ini adalah inti dari akhlak tasawuf, yang menekankan pentingnya keseimbangan antara rohani dan jasmani.<\/p>\n<ul>\n<li>Merawat Tubuh<br \/>\nTubuh adalah amanah dari Allah, sehingga harus dijaga dengan baik. Kewajiban ini meliputi menjaga kesehatan, kebersihan, dan kecantikan tubuh. Dalam hadis disebutkan: &#8220;Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.&#8221; (Hadis Riwayat Muslim).<\/li>\n<li>Mengembangkan Akal<br \/>\nIslam sangat menganjurkan umatnya untuk menuntut ilmu yang bermanfaat. Kewajiban ini tidak hanya terbatas pada ilmu dunia, tetapi juga ilmu agama yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Allah berfirman: &#8220;Katakanlah: &#8216;Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?'&#8221; (Q.S. Az-Zumar, 39:9).<\/li>\n<li>Menyempurnakan Jiwa dengan Akhlak yang Baik<br \/>\nDalam tasawuf, kewajiban terhadap diri sendiri juga berarti memperbaiki akhlak dan membersihkan hati. Hal ini penting untuk mencapai maqamat (derajat spiritual) yang lebih tinggi, seperti ikhlas, tawakal, dan sabar.<\/li>\n<\/ul>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Kewajiban_terhadap_Keluarga\"><\/span>3. Kewajiban terhadap Keluarga<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Keluarga adalah unit sosial terkecil yang memiliki peran sangat penting dalam kehidupan manusia. Kewajiban dalam keluarga adalah kewajiban yang berhubungan dengan hubungan antar anggota keluarga, yaitu antara orang tua, anak, dan saudara.<\/p>\n<ul>\n<li>Kewajiban Orang Tua terhadap Anak<br \/>\nOrang tua memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anak mereka agar tumbuh menjadi individu yang baik, sehat, dan taat kepada Allah. Dalam Al-Qur&#8217;an disebutkan:<br \/>\n&#8220;Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan di dalam perutnya.&#8221; (Q.S. Luqman, 31:14).<\/li>\n<li>Kewajiban Anak terhadap Orang Tua<br \/>\nIslam sangat menekankan pentingnya berbakti kepada orang tua. Seorang anak diharuskan untuk berbicara dengan lembut dan menghormati orang tua, serta tidak boleh membangkang, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur&#8217;an:<br \/>\n&#8220;Dan rendahkanlah untuk mereka (orang tua) kedua sayap kehormatan dari kasih sayang.&#8221; (Q.S. Al-Isra\u2019, 17:23-24).<\/li>\n<\/ul>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Kewajiban_terhadap_Bangsa_dan_Negara\"><\/span>4. Kewajiban terhadap Bangsa dan Negara<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Sebagai makhluk sosial, setiap individu mempunyai kewajiban terhadap negara dan masyarakat. Kewajiban ini berhubungan dengan partisipasi dalam membangun negara dan menjaga keharmonisan sosial. Islam mengajarkan bahwa cinta terhadap bangsa dan negara adalah bagian dari iman.<\/p>\n<ul>\n<li>Membela Negara dan Masyarakat<br \/>\nDalam situasi darurat atau serangan terhadap negara, setiap Muslim mempunyai kewajiban untuk membela tanah airnya. Hal ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial yang sangat dihargai dalam Islam.<\/li>\n<li>Menghormati Hukum dan Peraturan Negara<br \/>\nIslam juga mengajarkan untuk menghormati peraturan yang berlaku dalam masyarakat, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tanggung_Jawab_dalam_Islam\"><\/span>Tanggung Jawab dalam Islam<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Tanggung jawab adalah konsekuensi dari kewajiban yang harus dipenuhi. Dalam Islam, setiap individu dipandang memiliki tanggung jawab atas perbuatannya. Hal ini tercermin dalam ajaran akhlak tasawuf, di mana seseorang harus memiliki kesadaran penuh atas perbuatannya dan berani untuk bertanggung jawab terhadap setiap tindakan yang dilakukan.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Tanggung_Jawab\"><\/span>Pengertian Tanggung Jawab<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Tanggung jawab dalam Islam mencakup pengertian kewajiban yang harus dipenuhi dengan sepenuh hati. Setiap individu harus menanggung konsekuensi dari perbuatannya, baik yang dilakukan dengan sengaja maupun yang tidak disengaja. Dalam hal ini, seseorang harus siap mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya di hadapan Allah dan sesama.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Macam-Macam_Tanggung_Jawab\"><\/span>Macam-Macam Tanggung Jawab<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<ul>\n<li>Tanggung Jawab terhadap Tuhan<br \/>\nSebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia mempunyai tanggung jawab untuk memenuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ini merupakan tanggung jawab yang tidak bisa dilepaskan oleh siapapun.<\/li>\n<li>Tanggung Jawab terhadap Diri Sendiri<br \/>\nSetiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjaga kesejahteraan dirinya, baik secara fisik, mental, maupun spiritual. Dalam konteks ini, seorang Muslim harus menjaga dirinya agar tetap pada jalan yang benar, sesuai dengan ajaran agama.<\/li>\n<li>Tanggung Jawab terhadap Keluarga<br \/>\nAnggota keluarga harus saling menjaga dan mendukung satu sama lain. Tanggung jawab ini meliputi aspek kesejahteraan, pendidikan, dan keselamatan anggota keluarga.<\/li>\n<li>Tanggung Jawab terhadap Masyarakat dan Negara<br \/>\nSeperti halnya kewajiban, tanggung jawab terhadap masyarakat dan negara mencakup partisipasi aktif dalam membangun dan menjaga keharmonisan sosial. Sebagai bagian dari umat manusia, setiap individu harus bertanggung jawab atas kesejahteraan dan kemajuan masyarakat.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kewajiban dan tanggung jawab dalam akhlak tasawuf merupakan konsep yang saling terkait, di mana setiap individu harus melaksanakan kewajiban dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab yang tinggi. Dalam perspektif tasawuf, kewajiban tidak hanya mencakup tindakan lahiriah, tetapi juga spiritual, yang melibatkan hubungan dengan Tuhan, diri sendiri, dan sesama. Mengerti dan mengamalkan kewajiban ini akan membawa seseorang pada kehidupan yang lebih baik, penuh kedamaian, dan ketaatan kepada Allah SWT.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Daftar Pustaka<\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Amin, Ahmad. 1995.\u00a0<em>Etika<\/em>. Jakarta : PT. Bulan Bintang<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Charis Zubair, Ahmad. 1995.\u00a0<em>Kuliah Etika<\/em>. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada<\/li>\n<li>Bertens. 2007. <em>Etika<\/em>. Jakarta : PT Gramedia Pustaka<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Nata, Abbudin. 2006.\u00a0<em>Akhlak Tasawuf<\/em>. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Suraji, Imam.2006.\u00a0<em>Etika dalam perspektif al-qur\u2019an dan hadist<\/em>. Jakarta : PT Pustaka Al-husna<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Akhlak tasawuf, sebagai salah satu cabang utama dalam studi Islam, tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana seseorang seharusnya berinteraksi dengan Tuhan, diri sendiri, dan sesama manusia,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":44842,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-28090","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28090","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28090"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28090\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44842"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28090"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28090"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28090"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}