{"id":2780,"date":"2025-02-05T08:37:41","date_gmt":"2025-02-05T01:37:41","guid":{"rendered":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/?p=2780"},"modified":"2025-02-05T08:37:41","modified_gmt":"2025-02-05T01:37:41","slug":"masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/","title":{"rendered":"Masalah Seksisme dalam Dunia Kerja: Perspektif Sosiologis"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#Definisi_Seksisme_dalam_Konteks_Dunia_Kerja\" >Definisi Seksisme dalam Konteks Dunia Kerja<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#Teori_Sosiologis_Mengenai_Seksisme\" >Teori Sosiologis Mengenai Seksisme<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#1_Teori_Konflik\" >1. Teori Konflik<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#2_Teori_Fungsionalisme_Struktural\" >2. Teori Fungsionalisme Struktural<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#3_Teori_Interaksionisme_Simbolik\" >3. Teori Interaksionisme Simbolik<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#Faktor_Penyebab_Seksisme_dalam_Dunia_Kerja\" >Faktor Penyebab Seksisme dalam Dunia Kerja<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#1_Norma_Sosial_dan_Budaya\" >1. Norma Sosial dan Budaya<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#2_Stereotip_Gender\" >2. Stereotip Gender<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#3_Ketimpangan_Ekonomi\" >3. Ketimpangan Ekonomi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#4_Kebijakan_Perusahaan\" >4. Kebijakan Perusahaan<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-11\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#Dampak_Seksisme_dalam_Dunia_Kerja\" >Dampak Seksisme dalam Dunia Kerja<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-12\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#1_Stagnasi_Karier_bagi_Pekerja_Perempuan\" >1. Stagnasi Karier bagi Pekerja Perempuan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-13\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#2_Menurunnya_Kepuasan_dan_Kesejahteraan_Kerja\" >2. Menurunnya Kepuasan dan Kesejahteraan Kerja<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-14\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#3_Ketidakseimbangan_Dalam_Kepemimpinan\" >3. Ketidakseimbangan Dalam Kepemimpinan<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-15\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#Mengatasi_Seksisme_dalam_Dunia_Kerja\" >Mengatasi Seksisme dalam Dunia Kerja<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-16\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#1_Penyusunan_Kebijakan_Kesetaraan_Gender\" >1. Penyusunan Kebijakan Kesetaraan Gender<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-17\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#2_Meningkatkan_Kesadaran_tentang_Stereotip_Gender\" >2. Meningkatkan Kesadaran tentang Stereotip Gender<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-18\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#3_Menyediakan_Dukungan_bagi_Pekerja_Perempuan\" >3. Menyediakan Dukungan bagi Pekerja Perempuan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-19\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#4_Pemantauan_dan_Evaluasi\" >4. Pemantauan dan Evaluasi<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-20\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/masalah-seksisme-dalam-dunia-kerja-perspektif-sosiologis\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Seksisme merupakan bentuk diskriminasi yang berakar pada perbedaan jenis kelamin, di mana satu jenis kelamin dianggap lebih superior atau lebih inferior daripada jenis kelamin lainnya. Dalam dunia kerja, seksisme menjadi salah satu isu sosial yang mendalam dan sering kali diabaikan. Di Indonesia, meskipun kesetaraan gender menjadi agenda nasional, masalah seksisme dalam dunia kerja tetap menjadi tantangan yang besar. Artikel ini akan membahas seksisme dalam dunia kerja dari perspektif sosiologis untuk mengidentifikasi akar permasalahan, dampaknya, serta langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengatasinya.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Definisi_Seksisme_dalam_Konteks_Dunia_Kerja\"><\/span>Definisi Seksisme dalam Konteks Dunia Kerja<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Seksisme dalam dunia kerja mengacu pada perlakuan diskriminatif terhadap individu berdasarkan jenis kelaminnya. Bentuk diskriminasi ini dapat terjadi baik terhadap perempuan maupun laki-laki, meskipun sering kali lebih banyak dialami oleh perempuan. Seksisme tidak hanya terbatas pada perbedaan upah, tetapi juga mencakup aspek seperti peluang karier yang terbatas, pemecatan sepihak, pelecehan seksual, dan stereotip gender yang membatasi peran pekerja. Dalam banyak kasus, perempuan sering kali dipandang lebih cocok untuk pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan yang berhubungan dengan perawatan, sementara laki-laki dianggap lebih kompeten untuk posisi-posisi strategis dan kepemimpinan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Teori_Sosiologis_Mengenai_Seksisme\"><\/span>Teori Sosiologis Mengenai Seksisme<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dari perspektif sosiologis, seksisme dalam dunia kerja dapat dipahami melalui berbagai teori yang menjelaskan hubungan antara struktur sosial dan ketidaksetaraan gender. Beberapa teori yang relevan dalam menganalisis seksisme di dunia kerja antara lain:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Teori_Konflik\"><\/span>1. Teori Konflik<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Teori konflik, yang dikemukakan oleh Karl Marx, dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana kekuasaan dan sumber daya dalam masyarakat tidak terbagi secara adil berdasarkan kelas sosial dan jenis kelamin. Dalam dunia kerja, perusahaan sering kali memperlakukan pekerja perempuan dengan cara yang lebih diskriminatif karena dominasi pekerja laki-laki di tingkat atas dan struktur organisasi yang cenderung patriarkis. Hal ini menyebabkan ketidaksetaraan akses terhadap sumber daya, seperti promosi atau pelatihan, yang sangat mempengaruhi karier perempuan.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Teori_Fungsionalisme_Struktural\"><\/span>2. Teori Fungsionalisme Struktural<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Teori ini, yang dipopulerkan oleh Emile Durkheim, berfokus pada bagaimana setiap bagian dari masyarakat berfungsi untuk mempertahankan stabilitas sosial. Dalam konteks seksisme di tempat kerja, teori ini menyatakan bahwa ketidaksetaraan gender dapat dilihat sebagai cara untuk menjaga peran tradisional masing-masing jenis kelamin dalam masyarakat. Namun, fungsionalisme struktural juga dapat menunjukkan bagaimana peran-peran ini semakin tidak relevan di dunia modern yang mengedepankan kesetaraan dan inklusivitas.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Teori_Interaksionisme_Simbolik\"><\/span>3. Teori Interaksionisme Simbolik<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Teori ini berfokus pada interaksi individu dalam masyarakat dan bagaimana simbol-simbol sosial, seperti stereotip gender, membentuk pandangan kita tentang peran laki-laki dan perempuan dalam dunia kerja. Seksisme dapat muncul dalam interaksi sehari-hari, seperti ketika perempuan dianggap tidak cukup kompeten untuk posisi manajerial atau ketika laki-laki dipaksa untuk menahan emosi mereka di tempat kerja. Proses interaksi sosial ini memperkuat norma-norma gender yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinasi.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Faktor_Penyebab_Seksisme_dalam_Dunia_Kerja\"><\/span>Faktor Penyebab Seksisme dalam Dunia Kerja<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Seksisme dalam dunia kerja tidak muncul begitu saja, melainkan merupakan hasil dari berbagai faktor sosial, budaya, dan ekonomi yang saling terkait. Beberapa faktor utama yang memengaruhi terjadinya seksisme di dunia kerja antara lain:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Norma_Sosial_dan_Budaya\"><\/span>1. Norma Sosial dan Budaya<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Di banyak budaya, termasuk di Indonesia, terdapat norma sosial yang mengatur peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Perempuan seringkali dipandang sebagai individu yang lebih cocok untuk tugas-tugas domestik, sedangkan laki-laki dianggap lebih unggul dalam hal kepemimpinan dan pekerjaan profesional. Norma-norma ini membentuk cara pandang yang mengarah pada seksisme di tempat kerja.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Stereotip_Gender\"><\/span>2. Stereotip Gender<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Stereotip gender mengacu pada anggapan yang tidak adil dan tidak akurat tentang peran, sifat, dan kemampuan individu berdasarkan jenis kelamin mereka. Di dunia kerja, stereotip ini bisa berarti bahwa perempuan dianggap kurang ambisius atau tidak cukup kompeten untuk posisi pimpinan, sementara laki-laki dianggap lebih rasional dan memiliki kemampuan manajerial yang lebih baik.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Ketimpangan_Ekonomi\"><\/span>3. Ketimpangan Ekonomi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Ketimpangan ekonomi, yang sering kali berakar pada ketidaksetaraan dalam pembagian pekerjaan dan akses terhadap pendidikan, juga memengaruhi seksisme di dunia kerja. Perempuan lebih sering terjebak dalam pekerjaan dengan upah rendah dan tanpa kesempatan untuk berkembang karir, sedangkan laki-laki lebih sering mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan karier mereka.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Kebijakan_Perusahaan\"><\/span>4. Kebijakan Perusahaan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Banyak perusahaan belum memiliki kebijakan yang jelas mengenai kesetaraan gender, yang menyebabkan terjadinya diskriminasi sistematis terhadap pekerja perempuan. Kurangnya pelatihan tentang kesetaraan gender atau kebijakan yang mendukung keseimbangan kehidupan kerja juga memperburuk situasi ini.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dampak_Seksisme_dalam_Dunia_Kerja\"><\/span>Dampak Seksisme dalam Dunia Kerja<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dampak dari seksisme dalam dunia kerja sangat luas dan merugikan baik bagi individu maupun organisasi secara keseluruhan. Beberapa dampak negatif seksisme di tempat kerja antara lain:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Stagnasi_Karier_bagi_Pekerja_Perempuan\"><\/span>1. Stagnasi Karier bagi Pekerja Perempuan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Seksisme sering kali menghalangi pekerja perempuan untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam karier. Mereka mungkin tidak diberikan tugas yang menantang atau kesempatan untuk promosi, hanya karena jenis kelaminnya. Hal ini menyebabkan perempuan tidak dapat mencapai potensi penuh mereka di dunia kerja.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Menurunnya_Kepuasan_dan_Kesejahteraan_Kerja\"><\/span>2. Menurunnya Kepuasan dan Kesejahteraan Kerja<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Ketidaksetaraan gender dapat mengurangi tingkat kepuasan kerja dan kesejahteraan psikologis individu. Pekerja perempuan yang mengalami diskriminasi atau pelecehan seksual, misalnya, dapat merasa terisolasi dan kurang dihargai, yang dapat berdampak pada kinerja mereka.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Ketidakseimbangan_Dalam_Kepemimpinan\"><\/span>3. Ketidakseimbangan Dalam Kepemimpinan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Seksisme juga berkontribusi pada ketidakseimbangan dalam representasi gender di posisi-posisi kepemimpinan. Hal ini mengurangi keberagaman perspektif dalam pengambilan keputusan dan memperkuat budaya kerja yang tidak inklusif.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Mengatasi_Seksisme_dalam_Dunia_Kerja\"><\/span>Mengatasi Seksisme dalam Dunia Kerja<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Untuk mengatasi seksisme di dunia kerja, diperlukan upaya kolektif dari pemerintah, organisasi, dan individu. Beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi seksisme dalam dunia kerja antara lain:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Penyusunan_Kebijakan_Kesetaraan_Gender\"><\/span>1. Penyusunan Kebijakan Kesetaraan Gender<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Perusahaan harus memiliki kebijakan yang mendukung kesetaraan gender, seperti promosi berdasarkan kinerja, bukan berdasarkan jenis kelamin. Kebijakan ini juga harus mencakup pelatihan mengenai kesetaraan gender dan pencegahan pelecehan seksual di tempat kerja.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Meningkatkan_Kesadaran_tentang_Stereotip_Gender\"><\/span>2. Meningkatkan Kesadaran tentang Stereotip Gender<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Sosialisasi dan pelatihan mengenai stereotip gender yang merugikan dapat membantu mengubah pandangan masyarakat terhadap kemampuan dan peran laki-laki dan perempuan di dunia kerja. Kampanye kesadaran ini harus dimulai dari tingkat pendidikan hingga dunia kerja.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Menyediakan_Dukungan_bagi_Pekerja_Perempuan\"><\/span>3. Menyediakan Dukungan bagi Pekerja Perempuan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Perusahaan dapat menyediakan fasilitas yang mendukung pekerja perempuan, seperti cuti melahirkan, pengaturan waktu kerja yang fleksibel, serta program mentoring untuk membantu perempuan berkembang dalam karier mereka.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Pemantauan_dan_Evaluasi\"><\/span>4. Pemantauan dan Evaluasi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Pemantauan secara rutin mengenai kebijakan kesetaraan gender serta evaluasi terhadap praktik rekrutmen dan promosi dapat memastikan bahwa tidak ada diskriminasi berbasis jenis kelamin yang terjadi di tempat kerja.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Seksisme dalam dunia kerja adalah masalah sosial yang kompleks dan memerlukan pendekatan yang mendalam dari berbagai aspek. Dengan memahami akar permasalahan seksisme melalui perspektif sosiologis, kita dapat mengambil langkah-langkah yang lebih tepat untuk menciptakan dunia kerja yang lebih adil dan setara. Hal ini tidak hanya bermanfaat bagi pekerja, tetapi juga untuk kemajuan organisasi dan masyarakat secara keseluruhan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seksisme merupakan bentuk diskriminasi yang berakar pada perbedaan jenis kelamin, di mana satu jenis kelamin dianggap lebih superior atau lebih inferior daripada jenis kelamin lainnya.&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-2780","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-soshum"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2780","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2780"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2780\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2781,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2780\/revisions\/2781"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2780"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2780"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2780"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}