{"id":27761,"date":"2022-11-24T18:54:16","date_gmt":"2022-11-24T11:54:16","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=27761"},"modified":"2022-11-24T18:54:16","modified_gmt":"2022-11-24T11:54:16","slug":"pengertian-hutang-piutang-rukun-dan-syarat-ketentuan-tambahan-dalam-hutang-piutang-adab-dan-hikmahnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hutang-piutang-rukun-dan-syarat-ketentuan-tambahan-dalam-hutang-piutang-adab-dan-hikmahnya\/","title":{"rendered":"Pengertian Hutang Piutang, Rukun dan Syarat, Ketentuan, Tambahan dalam Hutang piutang adab dan Hikmahnya"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hutang-piutang-rukun-dan-syarat-ketentuan-tambahan-dalam-hutang-piutang-adab-dan-hikmahnya\/#Pengertian_Hutang_Piutang\" >Pengertian Hutang Piutang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hutang-piutang-rukun-dan-syarat-ketentuan-tambahan-dalam-hutang-piutang-adab-dan-hikmahnya\/#Dasar_Hukum_Hutang_Piutang\" >Dasar Hukum Hutang Piutang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hutang-piutang-rukun-dan-syarat-ketentuan-tambahan-dalam-hutang-piutang-adab-dan-hikmahnya\/#Hukum_Hutang_Piutang\" >Hukum Hutang Piutang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hutang-piutang-rukun-dan-syarat-ketentuan-tambahan-dalam-hutang-piutang-adab-dan-hikmahnya\/#Rukun_dan_Syarat_Hutang_Piutang\" >Rukun dan Syarat Hutang Piutang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hutang-piutang-rukun-dan-syarat-ketentuan-tambahan-dalam-hutang-piutang-adab-dan-hikmahnya\/#Ketentuan_Hutang_Piutang\" >Ketentuan Hutang Piutang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hutang-piutang-rukun-dan-syarat-ketentuan-tambahan-dalam-hutang-piutang-adab-dan-hikmahnya\/#Tambahan_dalam_Hutang_piutang\" >Tambahan dalam Hutang piutang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hutang-piutang-rukun-dan-syarat-ketentuan-tambahan-dalam-hutang-piutang-adab-dan-hikmahnya\/#Adab_Hutang_Piutang\" >Adab Hutang Piutang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hutang-piutang-rukun-dan-syarat-ketentuan-tambahan-dalam-hutang-piutang-adab-dan-hikmahnya\/#Hikmah_Hutang_Piutang\" >Hikmah Hutang Piutang<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Hutang_Piutang\"><\/span>Pengertian Hutang Piutang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Hutang piutang atau <em>qard <\/em>mempunyai istilah lain yang disebut dengan \u201c<em>dain\u201d <\/em>(\u062f\u064a\u0646). Istilah \u00a0\u201c<em>dain\u201d \u00a0<\/em>(\u062f\u064a\u0646) \u00a0ini \u00a0juga \u00a0sangat \u00a0terkait \u00a0dengan \u00a0istilah \u00a0\u201c<em>qard\u201d \u00a0<\/em>(\u0642\u0631\u0636) \u00a0yang menurut bahasa artinya memutus. Menurut terminologi Fikih, bahwa akad hutang piutang adalah memberikan sesuatu kepada seseorang dengan perjanjian bahwa dia akan mengembalikan sesuatu yang diterimanya dalam jumlah yang sama dan dalam jangka waktu yang disepakati.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dasar_Hukum_Hutang_Piutang\"><\/span>Dasar Hukum Hutang Piutang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dasar disyariatkan <em>ad-dain\/qard <\/em>(hutang piutang) adalah al-Qur\u2019an, hadits dan ijmak.<\/p>\n<p>Al-Qur\u2019an surah al-Baqarah (2): 245<\/p>\n<p>Artinya: \u201c<em>Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan<\/em>.\u201d (QS. Al-Baqarah [2]: 245).<\/p>\n<p>Ayat ini menganjurkan kepada orang yang berpiutang (<em>muqrid<\/em>) untuk memberikan bantuan kepada orang lain dengan cara memberi hutang dan pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah Swt. Dari sisi orang yang berhutang (<em>muqtarid<\/em>), diperbolehkan berhutang untuk hal-hal yang bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan mengembalikan pinjaman dengan jumlah yang sama.<\/p>\n<p>Hadis Rasullullah<\/p>\n<p>Artinya<em>: \u201cTidak ada seorang muslim yang memberi hutang kepada seorang muslim dua kali kecuali seolah-olah dia telah bersedekah kepadanya satu kali.\u201d <\/em>(HR. Ibnu Majah).<\/p>\n<p>Hadis ini menjelaskan bahwa orang yang berpiutang (<em>muqrid<\/em>) akan diberi pahala yang berlipat ganda dimana dalam dua kali menghutangi seperti pahala sedekah satu kali.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Hukum_Hutang_Piutang\"><\/span>Hukum Hutang Piutang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Hukum asal dari hutang piutang adalah mubah (boleh), namun hukum tersebut bisa berubah sesuai situasi dan kondisi, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Hukum orang yang berhutang adalah mubah (boleh) sedangkan orang yang memberikan hutang hukumnya sunnah sebab ia termasuk orang yang menolong<\/li>\n<li>Hukum orang yang berhutang menjadi wajib dan hukum orang yang menghutangi juga wajib, jika peminjam itu benar-benar dalam keadaan terdesak, misalnya hutang beras bagi orang yang kelaparan, hutang uang untuk biaya pengobatan dan lain Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.:Artinya<em>: \u201cTidak ada seorang muslim yang memberi pinjaman kepada seorang muslim dua kali kecuali seolah-olah dia telah bersedekah kepadanya satu kali\u201d. (HR. Ibnu Majah)<\/em><\/li>\n<li>Hukum memberi hutang bisa menjadi haram, jika terkait dengan hal-hal yang melanggar aturan syariat. Misalnya memberi hutang untuk membeli minuman keras, berjudi dan Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. yang berbunyi:<\/li>\n<\/ol>\n<p>Artinya<em>: \u201cDan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksa- Nya.\u201d <\/em>(QS. Al-Maidah [5]: 2).<\/p>\n<p>Dalam hutang piutang dilarang memberikan syarat dalam mengembalikan hutang. Misalnya Fatimah menghutangi Mahmud Rp. 100.000,00 dalam waktu 3 bulan dan meminta Mahmud untuk mengembalikan hutangnya sebesar Rp.110.000,00. Tambahan ini termasuk riba dan hukumnya haram. Tetapi, jika tambahan ini tidak disyaratkan waktu akad dan dilakukan secara sukarela oleh peminjam sebagai bentuk terima kasih, maka hal ini tidak termasuk riba bahkan dianjurkan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.:<\/p>\n<p>Artinya<em>:\u201dDari Abu Hurairah Ra. berkata, \u201cSeseorang telah mendatangi Rasulullah Saw. untuk menagih hutang seekor unta.\u201d Maka, Rasulullah Saw. bersabda: \u201cBerikanlah seekor unta yang lebih bagus dari untanya.\u201d Lalu Nabi Saw. bersabda: \u201cSebaik-baik kalian adalah yang terbaik dalam melunasi hutangnya.\u201d <\/em>(HR. Muslim).<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Rukun_dan_Syarat_Hutang_Piutang\"><\/span>Rukun dan Syarat Hutang Piutang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Rukun Hutang piutang (<em>qard<\/em>) ada tiga yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Dua orang yang berakad (pemberi hutang dan orang yang berhutang),\n<ul>\n<li>Syarat pemberi hutang antara lain ahli <em>tabarru\u2019 <\/em>(orang yang berbuat kebaikan) yakni merdeka, baligh, berakal sehat, dan <em>rasyid <\/em>(pandai serta dapat membedakan yang baik dan yang buruk).<\/li>\n<li>Syarat orang yang berhutang. Orang yang berhutang termasuk kategori orang yang mempunyai <em>ahliyah al-muamalah <\/em>(kelayakan melakukan transaksi) yakni merdeka, baligh dan berakal sehat.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>Harta yang dihutangkan\n<ul>\n<li>Harta yang dihutangkan berupa harta yang ada padanannya, seperti uang, barang-barang yang ditakar, ditimbang<\/li>\n<li>Harta yang dihutangkan diketahui kadarnya<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li><em>Sighat <\/em>ijab kabul<\/li>\n<\/ol>\n<p>Ucapan antara dua pihak yang memberi hutang dan orang yang berhutang. Ucapan ijab misalnya \u201c<em>Saya menghutangimu atau memberimu hutang<\/em>\u201d dan ucapan kabul misalnya <em>\u201cSaya menerima\u201d atau \u201c saya ridha <\/em>\u201c dan sebagainya.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ketentuan_Hutang_Piutang\"><\/span>Ketentuan Hutang Piutang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Pada dasarnya hutang piutang merupakan akad yang bersifat <em>ta\u2019awun <\/em>(tolong menolong). Walaupun demikian, sifat <em>ta\u2019awun <\/em>itu bisa berujung permusuhan ataupun perselisihan jika salah satu atau kedua belah pihak yang berakad tidak mengetahui tentang ketentuan akad yang mereka lakukan. Untuk menghindari perselisihan yang tidak diinginkan, maka kedua belah pihak perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li>Hutang piutang sangat dianjurkan untuk ditulis dan dipersaksikan walaupun tidak wajib. Sebagaimana firman Allah Swt.: Artinya<em>: \u201cHai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.\u201d<\/em>(QS. Al-Baqarah [2]: 282).<\/li>\n<li>Pemberi hutang tidak boleh mengambil keuntungan atau manfaat dari orang yang berhutang. Jika hal ini terjadi, maka termasuk kategori riba dan haram Sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur\u2019an surah al-Baqarah (2) ayat 275: Artinya<em>:\u201dPadahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba <\/em>(QS. Al-Baqarah [2]:275). Hal ini dikuatkan dengan hadis Nabi Saw.: Artinya<em>: \u201cSetiap hutang yang membawa keuntungan, maka hukumnya riba.\u201d <\/em>(HR. Al-Baihaqi). Hal ini terjadi jika salah satu pihak mensyaratkan atau menjanjikan penambahan.<\/li>\n<li>Melunasi hutang dengan cara yang baik dan tidak Rasulullah Saw. bersabda: Artinya<em>: \u201cDari Abu Hurairah Ra. ia berkata: \u201cNabi mempunyai hutang kepada seseorang, (yaitu) seekor unta dengan usia tertentu. Orang itupun datang menagihnya. (Maka) beliaupun berkata, \u201cBerikan kepadanya\u201d kemudian mereka mencari yang seusia dengan untanya, akan tetapi mereka tidak menemukan kecuali yang lebih berumur dari untanya. Nabi (pun) berkata: \u201cBerikan kepadanya\u201d, Dia pun menjawab, \u201cEngkau telah menunaikannya dengan lebih. Semoga Allah Swt. membalas dengan setimpal.\u201d <\/em><em>Maka Nabi saw. bersabda, \u201cSebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam pengembalian (hutang).\u201d <\/em>(HR. Al-Bukhari).<\/li>\n<li>Berhutang dengan niat baik dan akan melunasinya Dari <em>Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Nabi saw. bersabda: \u201cBarangsiapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya), maka Allah akan tunaikan untuknya. Dan barangsiapa mengambilnya untuk menghabiskannya (tidak melunasinya), maka Allah akan membinasakannya.\u201d <\/em>(HR. Al-Bukhari).<\/li>\n<li>Tidak berhutang kecuali dalam keadaan darurat atau mendesak. Maksudnya kondisi yang tidak mungkin lagi baginya mencari jalan selain berhutang sementara keadaan sangat mendesak<\/li>\n<li>Jika terjadi keterlambatan karena kesulitan keuangan, hendaklah orang yang berhutang memberitahukan kepada orang yang memberikan hutang, karena hal ini termasuk bagian dari menunaikan hak orang yang memberikan Jangan berdiam diri atau lari dari si pemberi hutang, karena akan memperparah keadaan, dan merubah tujuan menghutangkan yang awalnya sebagai wujud kasih sayang berubah menjadi permusuhan dan perpecahan.<\/li>\n<li>Segera melunasi hutang. Orang yang berhutang hendaknya berusaha melunasi hutangnya sesegera mungkin tatkala ia telah memiliki kemampuan untuk mengembalikan hutangnya itu. Sebab orang yang menunda-menunda pelunasan hutang padahal ia telah mampu, maka ia tergolong orang yang berbuat zalim. Sebagaimana hadis berikut: Artinya: <em>Dari Abu Hurairah Ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: \u201cMemperlambat pembayaran hutang yang dilakukan oleh orang kaya merupakan perbuatan zalim. Jika salah seorang kamu dialihkan kepada orang yang mudah membayar hutang, maka hendaklah beralih (diterima pengalihan tersebut).\u201d <\/em>(HR. Bukhari Muslim).<\/li>\n<li>Memberikan tenggang waktu kepada orang yang sedang kesulitan dalam melunasi hutangnya setelah jatuh tempo. Allah Swt. berfirman: Artinya<em>: \u201cDan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.\u201d <\/em>(QS. Al-Baqarah [2]: 280)<em>.<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tambahan_dalam_Hutang_piutang\"><\/span>Tambahan dalam Hutang piutang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Ada dua macam penambahan pada <em>qard <\/em>(hutang piutang), yakni:<\/p>\n<p>Penambahan yang disyaratkan<\/p>\n<p>Demikian ini dilarang berdasarkan ijmak (kesepakatan para ulama). Begitu juga manfaat yang disyaratkan, seperti perkataan: \u201c<em>Aku memberi hutang kepadamu dengan syarat kamu memberi hak kepadaku untuk memakai sepatumu atau menggunakan motormu.\u201d <\/em>atau manfaat lainnya karena yang demikian termasuk rekayasa dan menjadi riba.<\/p>\n<p>Penambahan yang tidak disyaratkan .<\/p>\n<p>Ketika seseorang melunasi hutang kemudian memberi tambahan melebihi hutangnya sebagai wujud balas budi ataupun terima kasih karena sudah ditolong sehingga terbebas dari kesulitan maka hukumnya boleh.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Adab_Hutang_Piutang\"><\/span><a name=\"_TOC_250020\"><\/a>Adab Hutang Piutang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Adapun adab\/etika hutang piutang dalam Islam sebagai berikut:<\/p>\n<ul>\n<li>Seorang yang memberikan hutang tidak mengambil keuntungan dari apa yang dihutangkan<\/li>\n<li>Menulis perjanjian secara tertulis disertai dengan saksi yang bisa dipercaya<\/li>\n<li>Seseorang yang berhutang harus berniat dengan sungguh-sungguh untuk melunasi hutangnya<\/li>\n<li>Berhutang pada orang yang berpenghasilan<\/li>\n<li>Berhutang dalam keadaan darurat atau terdesak saja.<\/li>\n<li>Tidak boleh melakukan hutang piutang disertakan dengan jual beli.<\/li>\n<li>Jika ada keterlambatan dalam pengembalian\/pelunasan hutang, maka segera memberitahukan kepada pihak yang berpiutang<\/li>\n<li>Pihak yang berpiutang hendaknya memberikan toleransi waktu\/menangguhkan<\/li>\n<li>Menggunakan uang hasil berhutang dengan benar.<\/li>\n<li>Berterimakasih kepada orang yang berpiutang<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Hikmah_Hutang_Piutang\"><\/span>Hikmah Hutang Piutang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Hutang piutang dalam Islam memiliki banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik. Sebagai bagian dari muamalah (hubungan antar sesama manusia), hutang piutang diatur dalam Islam dengan prinsip-prinsip yang menekankan keadilan, kejujuran, dan kesejahteraan bersama. Berikut beberapa hikmah yang dapat diambil dari konsep hutang piutang dalam Islam:<\/p>\n<p>1. <strong>Menumbuhkan Rasa Solidaritas Sosial<\/strong><\/p>\n<p>Hutang piutang memungkinkan terjadinya aliran dana antara individu yang satu dengan yang lain, yang dalam banyak kasus membantu mereka yang membutuhkan. Dengan cara ini, Islam mendorong solidaritas sosial dan membantu mempererat hubungan antar sesama, terutama dalam situasi ekonomi yang sulit.<\/p>\n<p>2. <strong>Menjaga Kehormatan dan Kepercayaan<\/strong><\/p>\n<p>Dalam Islam, meminjamkan uang atau memberikan pinjaman harus dilakukan dengan niat baik dan tanpa adanya niat untuk menyakiti atau menipu. Pemberi pinjaman harus memastikan bahwa pemberian hutang tersebut tidak merugikan pihak yang berhutang. Begitu pula dengan yang berhutang, harus berusaha untuk membayar tepat waktu dan tidak melanggar kesepakatan, menjaga kepercayaan yang telah diberikan.<\/p>\n<p>3. <strong>Mengajarkan Kewajiban Membayar Hutang<\/strong><\/p>\n<p>Islam menekankan pentingnya untuk membayar hutang tepat waktu. Allah berfirman dalam Al-Qur&#8217;an:<br \/>\n<em>&#8220;Dan pada saat kamu berjanji, maka penuhilah janji itu. Sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggungjawaban.&#8221;<\/em> (QS. Al-Isra: 34).<br \/>\nDalam Islam, membayar hutang adalah kewajiban yang harus ditepati, karena melunasi hutang merupakan bentuk kejujuran dan integritas.<\/p>\n<p>4. <strong>Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab<\/strong><\/p>\n<p>Dengan berhutang, seseorang belajar untuk lebih bertanggung jawab atas tindakan dan keuangannya. Hal ini membantu individu untuk lebih berhati-hati dalam mengelola finansial dan juga menghindari sikap konsumtif yang berlebihan. Islam juga mengajarkan agar orang yang berhutang tidak berlarut-larut dalam hutang dan berusaha untuk menyelesaikannya secepat mungkin.<\/p>\n<p>5. <strong>Menghindari Riba (Bunga)<\/strong><\/p>\n<p>Islam sangat melarang praktik riba dalam hutang piutang. Riba dianggap sebagai bentuk eksploitasi yang merugikan pihak yang lebih lemah. Sebagai gantinya, Islam menganjurkan transaksi yang adil dan mengutamakan kejujuran tanpa adanya unsur penindasan. Dengan demikian, sistem hutang piutang yang bebas riba memberikan kesempatan bagi kedua belah pihak untuk memperoleh manfaat yang setara.<\/p>\n<p>6. <strong>Penyelesaian Sengketa Secara Bijak<\/strong><\/p>\n<p>Apabila terjadi perselisihan dalam hutang piutang, Islam mendorong penyelesaian yang damai dan adil. Hal ini dapat dilakukan melalui mediasi, perjanjian yang jelas, atau bahkan melalui pihak ketiga (seperti hakim) jika diperlukan. Pendekatan yang diambil harus mengutamakan keadilan dan kesejahteraan kedua belah pihak.<\/p>\n<p>7. <strong>Peluang untuk Memperoleh Pahala<\/strong><\/p>\n<p>Islam mengajarkan bahwa memberi pinjaman kepada orang yang membutuhkan bukan hanya membantu mereka secara materi, tetapi juga merupakan amal kebaikan yang akan mendatangkan pahala. Allah berfirman dalam Al-Qur&#8217;an,<br \/>\n<em>&#8220;Siapakah yang akan memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) untuknya.&#8221;<\/em> (QS. Al-Baqarah: 245).<br \/>\nDengan demikian, hutang piutang yang dilakukan dengan niat baik dan cara yang benar dapat menjadi sarana untuk memperoleh pahala.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Hutang Piutang Hutang piutang atau qard mempunyai istilah lain yang disebut dengan \u201cdain\u201d (\u062f\u064a\u0646). Istilah \u00a0\u201cdain\u201d \u00a0(\u062f\u064a\u0646) \u00a0ini \u00a0juga \u00a0sangat \u00a0terkait \u00a0dengan \u00a0istilah \u00a0\u201cqard\u201d&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-27761","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27761","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27761"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27761\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27761"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27761"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27761"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}