{"id":2774,"date":"2025-02-05T08:36:54","date_gmt":"2025-02-05T01:36:54","guid":{"rendered":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/?p=2774"},"modified":"2025-02-05T08:36:54","modified_gmt":"2025-02-05T01:36:54","slug":"teori-maskulinitas-apa-yang-menentukan-peran-laki-laki-dalam-masyarakat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-maskulinitas-apa-yang-menentukan-peran-laki-laki-dalam-masyarakat\/","title":{"rendered":"Teori Maskulinitas: Apa yang Menentukan Peran Laki-Laki dalam Masyarakat?"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-maskulinitas-apa-yang-menentukan-peran-laki-laki-dalam-masyarakat\/#Maskulinitas_Sebagai_Konstruksi_Sosial\" >Maskulinitas Sebagai Konstruksi Sosial<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-maskulinitas-apa-yang-menentukan-peran-laki-laki-dalam-masyarakat\/#Teori_Maskulinitas_Hegemoni\" >Teori Maskulinitas Hegemoni<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-maskulinitas-apa-yang-menentukan-peran-laki-laki-dalam-masyarakat\/#Maskulinitas_Konstruktif_dan_Destruktif\" >Maskulinitas Konstruktif dan Destruktif<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-maskulinitas-apa-yang-menentukan-peran-laki-laki-dalam-masyarakat\/#Peran_Budaya_dan_Media_dalam_Pembentukan_Maskulinitas\" >Peran Budaya dan Media dalam Pembentukan Maskulinitas<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-maskulinitas-apa-yang-menentukan-peran-laki-laki-dalam-masyarakat\/#Maskulinitas_dan_Peran_Ekonomi\" >Maskulinitas dan Peran Ekonomi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-maskulinitas-apa-yang-menentukan-peran-laki-laki-dalam-masyarakat\/#Teori_Maskulinitas_Multidimensional\" >Teori Maskulinitas Multidimensional<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-maskulinitas-apa-yang-menentukan-peran-laki-laki-dalam-masyarakat\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Peran laki-laki dalam masyarakat bukanlah hal yang tetap atau statis. Dalam berbagai budaya dan waktu, pengertian tentang apa yang dimaksud dengan menjadi laki-laki selalu berubah dan berkembang. Banyak faktor yang memengaruhi bagaimana peran laki-laki ditentukan, termasuk teori-teori sosiologi yang membahas konstruksi sosial maskulinitas. Artikel ini akan mengeksplorasi berbagai teori yang menjelaskan apa yang membentuk peran laki-laki, serta bagaimana peran ini berinteraksi dengan faktor sosial, budaya, dan ekonomi.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Maskulinitas_Sebagai_Konstruksi_Sosial\"><\/span><strong>Maskulinitas Sebagai Konstruksi Sosial<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Maskulinitas bukanlah sesuatu yang diberikan oleh alam atau biologi semata, tetapi lebih merupakan hasil dari konstruksi sosial yang dibentuk oleh masyarakat. Konsep ini mengacu pada atribut, perilaku, dan karakteristik yang dianggap \u201cnormal\u201d atau \u201cideal\u201d untuk laki-laki dalam suatu budaya tertentu. Sebagai contoh, di banyak budaya, maskulinitas sering dikaitkan dengan sifat-sifat seperti kekuatan fisik, ketegasan, dan dominasi. Namun, atribut-atribut ini berbeda-beda tergantung pada waktu dan tempat.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Teori_Maskulinitas_Hegemoni\"><\/span><strong>Teori Maskulinitas Hegemoni<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Teori maskulinitas hegemoni, yang dikembangkan oleh sosiolog R.W. Connell, menyatakan bahwa dalam setiap masyarakat terdapat satu bentuk maskulinitas yang dominan, yang mengatur bagaimana laki-laki seharusnya berperilaku. Hegemoni ini tidak hanya mendefinisikan bagaimana laki-laki seharusnya berperan, tetapi juga menekankan perbedaan antara laki-laki yang memenuhi norma ini dengan mereka yang tidak memenuhi standar tersebut. Misalnya, laki-laki yang tidak sesuai dengan gambaran maskulinitas tradisional, seperti yang lebih lembut atau lebih emosional, sering dianggap lebih rendah atau bahkan dikucilkan.<\/p>\n<p>Hegemoni maskulinitas ini juga dapat berhubungan dengan kekuasaan dan ketidaksetaraan gender, karena peran laki-laki yang dominan biasanya didukung oleh struktur sosial yang memberi mereka posisi yang lebih tinggi daripada perempuan atau kelompok gender lainnya. Hal ini sering kali menciptakan sistem patriarki yang mendukung penguasaan laki-laki atas perempuan dan kelompok marginal.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Maskulinitas_Konstruktif_dan_Destruktif\"><\/span><strong>Maskulinitas Konstruktif dan Destruktif<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Salah satu pembahasan menarik dalam teori maskulinitas adalah bagaimana konsep ini dapat berfungsi secara konstruktif atau destruktif. Maskulinitas konstruktif mendukung penciptaan individu yang sehat secara psikologis dan sosial, yang mampu berhubungan dengan orang lain secara positif. Misalnya, maskulinitas yang mendukung hubungan yang setara dan emosi yang sehat bisa menciptakan masyarakat yang lebih inklusif.<\/p>\n<p>Namun, maskulinitas yang bersifat destruktif sering kali terkait dengan perilaku kekerasan, penindasan, dan dominasi. Maskulinitas destruktif ini sering muncul dalam bentuk perilaku agresif, baik dalam interaksi sosial sehari-hari maupun dalam konflik yang lebih besar, seperti perang atau kekerasan domestik. Selain itu, konsep maskulinitas yang merendahkan emosi atau kerentanannya juga dapat menyebabkan masalah kesehatan mental yang serius pada laki-laki, yang enggan mencari bantuan psikologis karena takut dianggap lemah atau tidak maskulin.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Peran_Budaya_dan_Media_dalam_Pembentukan_Maskulinitas\"><\/span><strong>Peran Budaya dan Media dalam Pembentukan Maskulinitas<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Budaya dan media memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan konsep maskulinitas. Melalui film, iklan, musik, dan bahkan media sosial, citra laki-laki yang ideal sering diproyeksikan kepada masyarakat. Citra ini sering kali menggambarkan laki-laki yang kuat, dominan, dan tidak menunjukkan kelemahan atau emosi. Representasi semacam ini semakin memperkuat norma-norma maskulinitas yang sempit dan kadang berbahaya.<\/p>\n<p>Media juga sering kali menciptakan stereotip tentang laki-laki yang terlibat dalam pekerjaan fisik atau kekerasan, atau yang memiliki peran sebagai pencari nafkah utama. Padahal, realitas kehidupan laki-laki jauh lebih beragam, dengan banyak yang bekerja dalam profesi yang lebih lembut atau terlibat dalam peran domestik di rumah. Peran media di sini sangat berpengaruh dalam memperkuat atau mengubah pandangan masyarakat tentang apa yang seharusnya menjadi peran laki-laki.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Maskulinitas_dan_Peran_Ekonomi\"><\/span><strong>Maskulinitas dan Peran Ekonomi<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dalam banyak masyarakat, peran ekonomi laki-laki telah dikonstruksi sejak lama untuk menjadi penyedia utama. Ini dapat terlihat dalam harapan sosial bahwa laki-laki harus mencari nafkah, sementara perempuan lebih sering dikaitkan dengan tugas-tugas domestik. Gagasan ini sangat mengakar dalam banyak budaya, dan memberikan tekanan besar kepada laki-laki untuk memenuhi harapan tersebut, yang sering kali berdampak pada kesehatan mental dan hubungan pribadi mereka.<\/p>\n<p>Namun, perubahan sosial yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir telah menyebabkan pergeseran dalam konsep peran ekonomi laki-laki. Lebih banyak laki-laki kini berperan dalam pekerjaan rumah tangga, mengasuh anak, dan berbagi tanggung jawab ekonomi dengan perempuan. Ini menunjukkan bahwa peran ekonomi laki-laki semakin bersifat fleksibel, meskipun di beberapa budaya, tuntutan akan dominasi ekonomi laki-laki tetap ada.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Teori_Maskulinitas_Multidimensional\"><\/span><strong>Teori Maskulinitas Multidimensional<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Teori maskulinitas multidimensional mengakui bahwa maskulinitas tidak bisa dipahami hanya melalui satu lensa atau perspektif tunggal. Laki-laki dapat memiliki berbagai peran yang saling bertentangan, tergantung pada konteks budaya, kelas sosial, etnisitas, dan faktor-faktor lainnya. Misalnya, seorang laki-laki dari latar belakang kelas pekerja mungkin mengalami tekanan sosial yang berbeda dibandingkan dengan laki-laki dari kelas atas, meskipun keduanya berbagi identitas laki-laki.<\/p>\n<p>Teori ini juga menekankan pentingnya identitas maskulinitas yang dapat berubah seiring waktu dan situasi. Dalam banyak kasus, laki-laki mungkin mengalami krisis identitas ketika mereka dihadapkan dengan norma-norma maskulinitas yang lebih kompleks dan beragam. Perubahan dalam struktur sosial dan ekonomi, serta pemahaman yang lebih inklusif tentang gender, telah menciptakan ruang untuk definisi maskulinitas yang lebih fleksibel dan terbuka.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span><strong>Kesimpulan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Teori-teori tentang maskulinitas memberikan wawasan yang penting tentang bagaimana peran laki-laki terbentuk dan berkembang dalam masyarakat. Peran ini tidak statis, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, budaya, ekonomi, dan media. Maskulinitas bukan hanya tentang kekuatan atau dominasi, tetapi juga tentang identitas yang dibentuk oleh interaksi sosial yang kompleks dan dinamis.<\/p>\n<p>Masyarakat modern terus mengubah pemahaman kita tentang maskulinitas, dengan banyak laki-laki kini mengeksplorasi peran yang lebih luas dan lebih inklusif. Ke depannya, penting bagi kita untuk menciptakan ruang bagi maskulinitas yang lebih sehat dan berbasis pada kesetaraan gender, yang memungkinkan setiap individu, tanpa memandang jenis kelamin atau peran tradisional, untuk menjadi diri mereka yang sejati.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Peran laki-laki dalam masyarakat bukanlah hal yang tetap atau statis. Dalam berbagai budaya dan waktu, pengertian tentang apa yang dimaksud dengan menjadi laki-laki selalu berubah&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-2774","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-soshum"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2774","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2774"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2774\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2775,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2774\/revisions\/2775"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2774"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2774"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2774"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}