{"id":27542,"date":"2022-11-22T10:12:26","date_gmt":"2022-11-22T03:12:26","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=27542"},"modified":"2022-11-22T10:12:26","modified_gmt":"2022-11-22T03:12:26","slug":"zina-pengertian-status-hukum-dasar-penetapan-hukum-macam-macam-had-dan-hikmahnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/zina-pengertian-status-hukum-dasar-penetapan-hukum-macam-macam-had-dan-hikmahnya\/","title":{"rendered":"Zina : Pengertian, Status Hukum, Dasar Penetapan Hukum, Macam-Macam, Had dan Hikmahnya"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/zina-pengertian-status-hukum-dasar-penetapan-hukum-macam-macam-had-dan-hikmahnya\/#Pengertian_Zina\" >Pengertian Zina<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/zina-pengertian-status-hukum-dasar-penetapan-hukum-macam-macam-had-dan-hikmahnya\/#Status_Hukum_Zina\" >Status Hukum Zina<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/zina-pengertian-status-hukum-dasar-penetapan-hukum-macam-macam-had-dan-hikmahnya\/#Dasar_Penetapan_Hukum_Zina\" >Dasar Penetapan Hukum Zina<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/zina-pengertian-status-hukum-dasar-penetapan-hukum-macam-macam-had-dan-hikmahnya\/#Macam-macam_Zina_dan_Had-nya\" >Macam-macam Zina dan Had-nya<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/zina-pengertian-status-hukum-dasar-penetapan-hukum-macam-macam-had-dan-hikmahnya\/#Hikmah_Diharamkannya_Zina\" >Hikmah Diharamkannya Zina<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Zina\"><\/span><strong>Pengertian Zina<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Secara bahasa zina adalah perbuatan dengan cara memasukkan alat kelamin laki-laki ke dalam alat kelamin perempuan yang mendatangkan syahwat, dalam persetubuhan yang haram, yang tidak terikat oleh hubungan pernikahan yang sah. Maksud dari perempuan yang mendatangkan syahwat adalah seorang yang berjenis kelamin perempuan baik yang dewasa (baligh) ataupun yang masih kecil.<\/p>\n<p>Dari pengertian ini bisa disimpulkan bahwa persetubuhan dengan hewan ataupun mayat tidak bisa dikategorikan zina. Pelaku tindak keji tersebut tidak terkena <em>had<\/em>. Walaupun demikian, hakim atau penguasa berhak men-ta\u2019zir (menghukumnya dengan pertimbangan maslahat) hingga ia jera dan menyadari bahwa perbuatan menyetubuhi hewan ataupun mayat adalah tindakan haram yang harus dihindari.<\/p>\n<p>Adapun maksud dari persetubuhan yang haram menurut zat perbuatannya adalah hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri (hubungan seksual di luar pernikahan atau perkawinan yang sah).<\/p>\n<p>Sedangkan maksud dari \u201cbukan karena syubhat\u201d adalah perzinaan yang terjadi bukan karena seorang laki-laki mengira bahwa wanita yang ia setubuhi adalah pasangan yang sah untuknya, seperti istrinya. Jika seorang laki-laki menyetubuhi seorang wanita yang ia kira adalah istrinya, maka <em>had <\/em>tidak dikenakan untuknya.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Status_Hukum_Zina\"><\/span><strong>Status Hukum Zina<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Para ulama sepakat bahwa zina hukumnya haram dan termasuk salah satu bentuk dosa besar. Allah Swt. berfirman:<\/p>\n<p><em>Artinya: \u201cDan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.\u201d (QS. Al-Isra\u2019:32)<\/em><\/p>\n<p>Di antara hadis tentang keharaman zina yang diriwayatkan Abdullah bin Mas\u2019ud berikut:<\/p>\n<p><em>Artinya: \u201cSaya (Abdullah Ibnu Mas\u2019ud) bertanya: \u201cYa Rasulullah dosa apakah yang paling besar?\u201d Nabi menjawab: \u201cEngkau menyediakan sekutu bagi Allah Swt., padahal dia menciptakan kamu.\u201d Saya bertanya lagi: \u201dKemudian (dosa) apalagi?\u201d Nabi menjawab: \u201dEngkau membunuh anakmu karena khawatir jatuh miskin\u201d Saya bertanya lagi: \u201cKemudian apalagi?\u201d Beliau menjawab: \u201cEngkau berzina dengan istri tetanggamu.\u201d (HR.Bukhari dan Muslim)<\/em><\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dasar_Penetapan_Hukum_Zina\"><\/span><strong>Dasar Penetapan Hukum Zina<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Penerapan <em>had <\/em>bagi yang melakukan perbuatan zina (laki-laki dan perempuan) dapat dilaksanakan jika tertuduh diyakini benar-benar telah melakukan perzinaan. Untuk itu diperlukan penetapan secara syara\u2019. Namun Rasulullah sangat hati-hati dalam melaksanakan <em>had <\/em>zina ini. Beliau tidak akan melaksanakan <em>had <\/em>zina sebelum yakin bahwa tertuduh benar-benar berbuat zina.<\/p>\n<p>Berikut dasar-dasar yang dapat digunakan untuk menetapkan bahwa seseorang telah benar-benar berbuat zina:<\/p>\n<ol>\n<li>Adanya empat orang saksi laki-laki yang Kesaksian mereka harus sama<\/li>\n<\/ol>\n<p>dalam hal tempat, waktu, pelaku dan cara melakukannya. Firman Allah SWT:<\/p>\n<p><em>Artinya: \u201cDan (terhadap) wanita yang mengerjakan perbuatan keji (berzina) hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya).\u201d(QS. An- Nisa\u2019:15)<\/em><\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Pengakuan pelaku zina, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Jabir bin Abdillah a. berikut ini:<\/li>\n<\/ol>\n<p><em>Artinya: \u201cDari Jabir bin Abdullah al-Anshari ra. Bahwa seorang laki-laki dari Bani Aslam datang kepada Rasulullah dan menceritakan bahwa ia telah berzina. Pengakuan ini diucapkan empat kali. Kemudian Rasul menyuruh supaya orang tersebut dirajam dan orang tersebut adalah muhshan.\u201d (HR. al-Bukhari)<\/em><\/p>\n<p>Sebagian ulama berpendapat bahwa kehamilan perempuan tanpa suami dapat dijadikan dasar penetapan perbuatan zina. Akan tetapi Jumhur Ulama\u2019 berpendapat sebaliknya. Kehamilan saja tanpa pengakuan atau kesaksian empat orang yang adil tidak dapat dijadikan dasar penetapan zina.<\/p>\n<p><em>Had <\/em>zina dapat dijatuhkan terhadap pelakunya, jika telah terpenuhi syarat- syarat sebagai berikut :<\/p>\n<ol>\n<li>Pelaku zina sudah baligh dan berakal<\/li>\n<li>Perbuatan zina dilakukan tanpa paksaan<\/li>\n<li>Pelaku zina mengetahui bahwa konsekuensi dari perbuatan zina adalah had<\/li>\n<li>Telah diyakini secara syara\u2019 bahwa pelaku tindak zina benar-benar melakukan perbuatan keji<\/li>\n<\/ol>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Macam-macam_Zina_dan_Had-nya\"><\/span><strong>Macam-macam Zina dan <em>Had<\/em>-nya<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Dalam kajian Fikih, zina dapat dibedakan menjadi dua, pertama: zina mukhshan, dan kedua: zina ghairu mukhshan.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Zina Mukhshan<\/strong> yaitu perbuatan zina yang dilakukan oleh seorang yang sudah menikah. Ungkapan \u201cseorang yang sudah menikah\u201d mencakup suami, istri, janda, atau duda. <em>Had <\/em>(hukuman) yang diberlakukan kepada pezina mukhshan adalah<\/li>\n<\/ol>\n<p>Teknis penerapan hukuman rajam yaitu, pelaku zina mukhshan dilempari batu yang berukuran sedang hingga benar-benar mati. Batu yang digunakan tidak boleh terlalu kecil sehingga memperlama proses kematian dan hukuman. Sebagaimana juga tidak dibolehkan merajam dengan batu besar hingga menyebabkan kematian seketika yang dengan itu tujuan \u201cmemberikan pelajaran\u201d kepada pezina mukhshon tidak tercapai.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong>Zina Ghairu Mukhshan<\/strong> yaitu zina yang dilakukan oleh seseorang yang belum pernah menikah. Para ahli fikih sepakat bahwa <em>had <\/em>(hukuman) bagi pezina ghairu mukhshan baik laki-laki ataupun perempuan adalah cambukan sebanyak 100<\/li>\n<\/ol>\n<p>Adapun hukuman pengasingan <em>(taghrib\/nafyun) <\/em>para ahli fikih berselisih pendapat.<\/p>\n<ul>\n<li>Imam Syafi\u2019i dan imam Ahmad berpendapat bahwa <em>had <\/em>bagi pezina ghairu mukhshan adalah cambu sebanyak 100 kali dan pengasingan selama 1<\/li>\n<li>Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa <em>had <\/em>bagi pezina ghairu mukhshan hanya cambuk sebanyak 100 Pengasingan menurut Abu Hanifah hanyalah hukuman tambahan yang kebijakan sepenuhnya dipasrahkan kepada hakim. Jika hakim memutuskan hukuman tambahan tersebut kepada pezina ghairu mukhshan, maka pengasingan masuk dalam kategori ta\u2019zir bukan had.<\/li>\n<li>Imam Malik dan Imam Auza\u2019i berpendapat bahwa <em>had <\/em>bagi pezina laki- laki merdeka ghairu mukhshan adalah cambukan sebanyak 100 kali dan pengasingan selama 1 tahun. Adapun pezina perempuan merdeka ghairu mukhshan hadnya hanya cambukan 100 Ia tidak diasingkan karena wanita adalah aurat dan kemungkinan ia dilecehkan di luar wilayahnya.<\/li>\n<li>Dalil yang menegaskan bahwa pezina ghairu mukhshan dikenai <em>had <\/em>berupa cambuk 100 kali dan pengasingan adalah;<\/li>\n<li>Firman Allah dalam surat an-Nur ayat 2:<\/li>\n<\/ul>\n<p><em>Artinya: \u201cPerempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina maka deralah pada tiap-tiap dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada mereka mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.\u201d (QS. An-Nur : 2)<\/em><\/p>\n<ul>\n<li>Sabda Rasulullah SAW:<\/li>\n<\/ul>\n<p><em>Artinya: \u201c Dari Zaid bin Khalid Al-Juhaini, dia berkata : \u201cSaya mendengar Nabi menyuruh agar orang yang berzina dan ia bukan muhshan, didera 100 kali dan diasingkan selama satu tahun.\u201d(HR.al-Bukhari)<\/em><\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Hikmah_Diharamkannya_Zina\"><\/span><strong>Hikmah Diharamkannya Zina<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Zina merupakan sumber berbagai tindak kemaksiatan. Di antara hikmah terpenting diharamkannya zina adalah:<\/p>\n<ol>\n<li>Memelihara dan menjaga keturunan dengan Karena anak hasil perzinaan pada umumnya kurang terpelihara dan terjaga.<\/li>\n<li>Menjaga harga diri dan kehormatan<\/li>\n<li>Menjaga ketertiban dan keteraturan rumah tangga<\/li>\n<li>Memunculkan rasa kasih sayang terhadap anak yang dilahirkan dari pernikahan<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Zina Secara bahasa zina adalah perbuatan dengan cara memasukkan alat kelamin laki-laki ke dalam alat kelamin perempuan yang mendatangkan syahwat, dalam persetubuhan yang haram,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-27542","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27542","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27542"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27542\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27542"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27542"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27542"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}