{"id":27475,"date":"2022-11-21T08:57:55","date_gmt":"2022-11-21T01:57:55","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=27475"},"modified":"2022-11-21T08:57:55","modified_gmt":"2022-11-21T01:57:55","slug":"hibah-pengertian-dasar-hukum-rukun-syarat-dan-permasalahannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hibah-pengertian-dasar-hukum-rukun-syarat-dan-permasalahannya\/","title":{"rendered":"Hibah : Pengertian, Dasar Hukum, Rukun, Syarat, dan Permasalahannya"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hibah-pengertian-dasar-hukum-rukun-syarat-dan-permasalahannya\/#Pengertian_Hibah\" >Pengertian Hibah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hibah-pengertian-dasar-hukum-rukun-syarat-dan-permasalahannya\/#Dasar_Hukum_Hibah\" >Dasar Hukum Hibah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hibah-pengertian-dasar-hukum-rukun-syarat-dan-permasalahannya\/#Rukun_Hibah\" >Rukun Hibah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hibah-pengertian-dasar-hukum-rukun-syarat-dan-permasalahannya\/#Syarat-Syarat_Hibah\" >Syarat-Syarat Hibah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hibah-pengertian-dasar-hukum-rukun-syarat-dan-permasalahannya\/#Masalah_Akad_Hibah_dan_Penyelesaiannya\" >Masalah Akad Hibah dan Penyelesaiannya<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hibah-pengertian-dasar-hukum-rukun-syarat-dan-permasalahannya\/#Hikmah_Hibah\" >Hikmah Hibah<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Hibah\"><\/span><strong>Pengertian Hibah<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Secara bahasa hibah adalah pemberian (<em>athiyah<\/em>), sedangkan menurut istilah hibah yaitu:<\/p>\n<p>Artinya:<\/p>\n<p><em>\u201cPemilikan yang munjiz (selesai) dan muthlak pada sesuatu benda ketika hidup tanpa penggantian meskipun dari yang lebih tinggi.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Didalam syara\u2019 sendiri menyebutkan hibah mempunyai arti akad yang pokok persoalannya pemberian harta milik seseorang kepada orang lain diwaktu dia hidup, tanpa adanya imbalan. Apabila seseorang memberikan hartanya kepada orang lain untuk dimanfaatkan tetapi tidak diberikan kepadanya hak kepemilikan maka harta tersebut disebut\u00a0<em>i\u2019aarah\u00a0<\/em>(pinjaman).<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dasar_Hukum_Hibah\"><\/span><strong>Dasar Hukum Hibah<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Hibah disyariatkan dan dihukumi mandub (sunat) dalam Islam. Dan Ayat ayat Al quran maupun teks dalam hadist juga banyak yang menganjurkan penganutnya untuk berbuat baik dengan cara tolong menolong dan salah satu bentuk tolong menolong tersebut adalah memberikan harta kepada orang lain yang betul-betul membutuhkannya, dalam firman Allah:<\/p>\n<p>Artinya:<\/p>\n<p><em>\u2026 dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa . . .<\/em>( QS: Al Maidah: 2).<\/p>\n<p>Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan dawud dari Aisyah ra. berkata:<\/p>\n<p>Artinya:<\/p>\n<p><em>\u201cPernah Nabi saw. menerima hadiah dan balasannya hadiah itu.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Adapun barang yang sudah dihibahkan tidak boleh diminta kembali kecuali hibah orang tua kepada anaknya yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas r.a , Nabi saw. bersabda:<\/p>\n<p>Artinya:<\/p>\n<p><em>\u201cHaram bagi seorang Muslim memberi sesuatu kepada orang lain kemudian memintanya kembali, kecuali pembayaran ayah kepada anaknya.\u201d<\/em><\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Rukun_Hibah\"><\/span><strong>Rukun Hibah<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Menurut jumhur ulama\u2019 rukun hibah ada empat:<\/p>\n<p><strong>Wahib (Pemberi)<\/strong><\/p>\n<p>Wahib adalah pemberi hibah, yang menghibahkan barang miliknya kepada orang lain.<\/p>\n<p><strong>Mauhub lah (Penerima)<\/strong><\/p>\n<p>Penerima hibah adalah seluruh manusia dalam arti orang yang menerima hibah.<\/p>\n<p><strong>Mauhub<\/strong><\/p>\n<p>Mauhub adalah barang yang di hibahkan.<\/p>\n<p><strong>Shighat (Ijab dan Qabul)<\/strong><\/p>\n<p>Shighat hibbah adalah segala sesuatu yang dapat dikatakan ijab dan qabul.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Syarat-Syarat_Hibah\"><\/span><strong>Syarat-Syarat Hibah<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Hibah menghendaki adanya penghibah, orang yang diberi hibah, dan sesuatu yang dihibahkan.<\/p>\n<p><strong>Syarat-syarat penghibah<\/strong><\/p>\n<p>Disyaratkan bagi penghibah syarat-syarat sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li>Penghibah memiliki sesuatu untuk dihibahkan.<\/li>\n<li>Penghibah bukan orang yang dibatasi haknya karena suatu alasan.<\/li>\n<li>Penghibah itu orang dewasa, sebab anak-anak kurang kemampuannya.<\/li>\n<li>Penghibah itu tidak dipaksa, sebab hibah itu akad yang mempersyaratkan keridhaan dalam keabsahannya.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Syarat-syarat bagi orang yang diberi hibah<\/strong><\/p>\n<p>Orang yang diberi hibah disyaratkan benar-benar ada waktu diberi hibah. Bila tidak benar-benar ada, atau diperkirakan adanya, misalnya dalam bentuk janin, maka hibah tidak sah. Apabila orang yang diberi hibah itu ada\u00a0 di waktu pemberian hibah, akan tetapi dia masih atau gila, maka hibah itu diambil oleh walinya, pemeliharaannya atau orang mendidiknya sekalipun dia orang asing.<\/p>\n<p><strong>Syarat-syarat bagi yang dihibahkan<\/strong><\/p>\n<p>Disyaratkan bagi yang dihibahkan:<\/p>\n<ol>\n<li>Benar-benar ada<\/li>\n<li>Harta yang bernilai<\/li>\n<li>Dapat dimiliki dzatnya, yakni bahwa yang dihibahkan itu adalah apa yang bisa dimiliki, diterima peredarannya, dan pemilikannya dapat berpindah tangan. Maka tidak sah menghibahkan air di sungai, ikan di laut, burung di udara, masjid-masjid atau pesantren-pesantren.<\/li>\n<li>Tidak berhubungan dengan tempat pemilik hibah, seperti menghibahkan tanaman, pohon, atau bangunan tanpa tanahnya.<\/li>\n<li>Dikhususkan, yakni yang dihibahkan itu bukan untuk umum, sebab pemegangan dengan tangan itu tidak sah kecuali bila ditentukaan (dikhususkan) seperti halnya jaminan.<\/li>\n<\/ol>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Masalah_Akad_Hibah_dan_Penyelesaiannya\"><\/span><strong>Masalah Akad Hibah dan Penyelesaiannya<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p><strong><em>al-umra<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>al-ruqba<\/em><\/strong><\/p>\n<p><em>Al-umra\u00a0<\/em>di ambil dari kata\u00a0<em>\u2018umr,\u00a0\u00a0<\/em>yakni jika pemberi hibah berkata kepada penerima hibah, \u201cSaya membangun rumah ini untukmu,\u201d \u201cSaya membuat rumah ini untuk kamu sepanjang usia saya,\u201d \u201cSeumur hidup kamu, \u201cSepanjang hayat kamu,\u201d atau \u201cSepanjang hayatku, jika kamu meninggal, rumah ini aku warisi.<em>\u00a0Shighat-shighat\u00a0<\/em>di atas adalah\u00a0<em>shighat\u00a0<\/em>akad hibah. Akan tetapi,\u00a0<em>shighat\u00a0<\/em>tersebut diikat dengan waktu, yakni umur orang yang memberi hibah atau umur orang yang menerimanya. Sementara itu, salah satu syarat\u00a0<em>shighat\u00a0<\/em>hibah adalah tidak diikat dengan waktu. Meskipun demikian, ulama Mazhab Hanafiah dan Syafi\u2019iah menyepakati sahnya akad hibah tersebut, tetapi syarat yang ditetapkan batal. Ketentuan ini didasarkan pada hadis-hadis shahih Rasulullah Saw., diantaranya hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi Saw., beliau bersabda, \u201c<em>Al-Umra dibolehkan.<\/em>\u201d Keduanya juga meriwayatkan dari Jabir ra., ia berkata, \u201cNabi Saw. melakukan hibah\u00a0<em>al-umri\u00a0<\/em>bagi orang yang menerima hibahnya. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah Saw. bersabda, \u201c<em>Al-Umri bagi orang yang menerima hibah.<\/em>\u201d Selain itu, Imam Muslim juga meriwayatkan sebuah hadis dari Jabir ra., ia berkata, \u201cRasulullah Saw. bersabda, \u201c<em>Tahanlah harta-harta kalian dan jangan merusaknya. Siapa yang memberikan umra maka harta tersebut menjadi milik orang yang diberi, baik ketika masih hidup, ketika sudah meninggal dan bagi keturunannya.<\/em><\/p>\n<p>Imam Nawawi berkata dalah\u00a0<em>Syarh Shahih Muslim.\u00a0<\/em>Hadis ini memberitahukan bahwa\u00a0<em>al-umra\u00a0<\/em>adalah hibah yang sah. orang yang menerima hibah tersebut berhak penuh atas harta yang dihibahkan. Harta itu tidak akan kembali kepada orang yang menghibahkan selamanya. Jika mereka mengetahui hal tersebut, siapa yang ingin melakukannya, ia boleh hibah dengan\u00a0<em>umra.\u00a0<\/em>Siapa yang ingin, boleh meninggalkannya. Sebelumnya, mereka membayangkan bahwa hibah\u00a0<em>umra\u00a0<\/em>sama dengan\u00a0<em>ariyah\u00a0<\/em>dan harta yang dihibahkan akan kembali padanya.<\/p>\n<p>Sedangkan\u00a0<em>Al-ruqba\u00a0<\/em>adalah hibah yang terjadi jika pemberi hibah berkata, \u201cRumahku ini untukmu selama masa pengawasanku,\u201d \u201cAku memintamu menjaga rumah ini,\u201d atau \u201cAku membuat rumah ini untukmu dalam pengawasanku.\u201d Maksudnya, kalau kamu meninggal sebelum saya, rumah ini kembali menjadi milik saya. Jika saya meninggal sebelum kamu, rumah ini tetap menjadi milikmu.\u201d Istilah ini diambil dari kata\u00a0<em>al-taraqqub\u00a0<\/em>yang berarti menunggu. Artinya, masing-masing menunggu kematian kawannya.\u00a0<em>Shighat\u00a0<\/em>ini merupakan salah satu\u00a0<em>shighat\u00a0<\/em>hibah yang diakui syariat meskipun diikat dengan sebuah syarat.<\/p>\n<p>Menurut ulama Mazhab Syafi\u2019iah, ini adalah akad hibah yang sah, namun syaratnya batal. Hal demikian disebabkan adanya hadis yang menunjukkan keabsahannya dan kebatalan syaratnya, sama dengan\u00a0<em>al-umra.\u00a0<\/em>Jabir ra. meriwayatkan sebuah hadis dari Rasulullah Saw., beliau bersabda, \u201c<em>Hibah al-umra dibolehkan bagi orang yang melakukannya, begitu juga hibah al-ruqba dibolehkan bagi yang melakukannya.<\/em>\u201d Maksudnya adalah yang berlaku dan yang sudah terjadi. Ini merupakan pengecualian dari kebatalan hibah yang terikat dengan syarat sebagaimana kita ketahui.<\/p>\n<p>Imam Al-Subki dalam kitab\u00a0<em>Mughni Al-Muhtaj\u00a0<\/em>menjelaskan tentang sahnya hibah\u00a0<em>al-umra\u00a0<\/em>dan\u00a0<em>al-ruqba\u00a0<\/em>jauh dari qiyas. Ulama Mazhab Syafi\u2019iah sepakat dengan Abu Yusuf dari Mazhab Hanafiah dalam menganggap\u00a0<em>hibah al-ruqba\u00a0<\/em>sebagai akad hibah yang sah. sementara itu, Abu Hanifah sendiri dan Muhammad berpendapat bahwa hibah tersebut hukumnya batal karena menyertakan syarat tertentu dengan ijab yang menghalangi kepemilikan saat itu juga. Hal itu menjadi penentu terjadi atau tidaknya akad. Menurut mereka, hal demikian menghalangi sahnya hibah.<\/p>\n<p>Hal ini berbeda dengan hibah\u00a0<em>al-umra\u00a0<\/em>karena pemanfaatan harta di sana tidak menghalangi penyerahan kepemilikan barang pada saat transaksi. Oleh karena itu hibahnya sah, tetapi syarat penentuan waktunya batal. Argument kedua didasarkan pada hadis riwayat Al-Syu\u2019bi dari Syuraih bahwa Rasulullah Saw. membolehkan hibah\u00a0<em>al-umra\u00a0<\/em>dan membatalkan hibah\u00a0<em>al-ruqba.\u00a0<\/em>Imam Al-Kasani berkata, \u201cKedua hibah tersebut tidak dapat ditolak (sahnya).\u201d Keduanya berkata, \u201cJika pemberi hibah menyerahkan hibahnya kepada penerima yang memiliki pinjaman, kapan pun ia bisa memintanya kembali. Hanya saja, akad pinjam-meminjam di sini menjadi sah karena pemberi hibah menyerahkan hibahnya kepada penerima dan membebaskannya untuk memanfaatkannya. Ini termasuk kategori\u00a0<em>ariyah\u00a0<\/em>(pinjaman).<\/p>\n<p><strong>Pemberian dalam khitbah<\/strong><\/p>\n<p>Masalah khitbah (dalam bahasa Indonesia dikenal dengan pinangan dan tunangan), adalah materi pembahasan yang termasuk dalam Fiqh Munakahat, tetapi dalam pelaksanaan khitbah di masyarakat di Indonesia terdapat pemberian dari pihak laki-laki kepada pihak wanita. Maka persoalan ini sesungguhnya dibahas dalam masalah hibah yang merupakan bagian dari pembahasan Fiqih Muamalah.<\/p>\n<p>Tunangan biasanya datang dari pihak laki-laki kepada pihak wanita untuk diminta menjadi calon isteri. Bila lamaran ini diterima oleh pihak wanita, maka biasanya pihak wanita diberi cincin atau yang semisal sebagai tanda bahwa lamarannya diterima. Kiranya tidak menjadi permasalahan, apabila rencana perkawinan berjalan lancar, tetapi yang jadi masalah adalah jika rencana perkawinan itu dibatalkan. Apakah tanda pengikat (cincin tunangan) yang telah diterima oleh pihak wanita itu wajib dikembalikan atau tidak? Mengenai masalah ini, para ulama berbeda pendapat, Mazhab Syafi\u2019I, Maliki dan Hambali mempunyai pandangan yang berbeda tentang permasalahan di atas.<\/p>\n<p>Menurut Mazhab Syafi\u2019I, benda-benda tunangan yang telah diterima pihak wanita sebagai pemberian pihak pria adalah hadiah, karenanya wajib untuk dikembalikan, baik benda-benda tersebut masih utuh ataupun sudah rusak. Bila benda tunangan itu sudah rusak atau hilang, maka pihak wanita wajib menggantikannya dengan benda yang serupa atau membayar dengan uang yang seharga bagi benda tunangan tersebut.<\/p>\n<p>Kewajiban pengembalian benda tunangan ini berlaku apabila terjadi pembatalan perkawinan, baik atas permintaan pihak laki-laki maupun pihak wanita. Menurt Mazhab Hanafi, benda-benda yang telah diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak pinangannya dapat diminta kembali apabila benda-benda itu masih utuh, misalnya gelang, kalung, cincin, jam dan sebagainya. Apabila benda-benda itu sudah berkurang atau bertambah, seperti kain yang sudah dijadikan baju, jam dan cincin yang sudah dijual, maka pihak laki-laki tidak berhak meminta kembali dan tidak boleh meminta ganti rugi atas hilangnya barang-barang yang telah dia berikan.<\/p>\n<p>Mazhab Maliki berpendapat bahwa apabila pembatalan pihak wanita maka dia (pihak wanita) wajib mengembalikan benda-benda yang dia terima\u00a0\u00a0dari pihak laki-laki. Bila benda itu masih utuh, maka yang harus dikembalikan adalah benda tersebut. Sedangkan jika benda itu sudah tidak ada, baik dijual, hilang atau karena yang lainnya, maka ia wajib menggantinya, baik dengan benda yang serupa maupun dengan uang yang senilai dengan benda tersebut. Apabila pembatalan datangnya dari pihak laki-laki, maka pemberian yang telah diterima oleh pihak wanita, tidak diperbolehkan untuk diminta kembali, baik barang itu masih utuh, berubah maupun hilang. Dalam riwayat lain menurut Mazhab Maliki, apabila adat (kebiasaan) berbeda dengan ketentuan Malikiyah di atas, maka yang diberlakukan adalah adat atau kebiasaan.<\/p>\n<p>Ketiga mazhab di atas berbeda karena perbedaan tolak ukur yang dipakai. Hanafi bertolak ukur pada keutuhan benda pemberina, Maliki bertolak ukur kepada pihak yang membatalkan dan adat, Syafi\u2019I menggunakan kaidah umum bahwa pemberian itu sama dengan pemberian yang berimbalan, yakni boleh diminta kembali bila imbalannya belum sesuai dengan yang diharapkan. Adapun hadis yang dijadikan alasan adalah hadis riwayat Imam Ahmad dan ibnu Majah dari Ibnu Abbas ra.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Hikmah_Hibah\"><\/span><strong>Hikmah Hibah<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Saling membantu dengan cara memberi, baik berbentuk hibah, shadaqah, maupun hadiah dianjurkan oleh Allah dan rasul-Nya. Hikmah atau manfaat disyari\u2019atkannya hibah adalah sebagai berikut:<\/p>\n<p>Memberi atau hibah dapat menghilangkan penyakit dengki, yakni penyakit yang terdapat dalam hati dan dapat merusak nilai-nilai keimanan. Hibah dilakukan sebagai penawar racun hati, yaitu dengki. Sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Tirmidzi dari Abi Hurairah r.a. Nabi saw. bersabda:<\/p>\n<p>Artinya:<\/p>\n<p><em>\u201cBeri-memberilah kamu, karena pemberian itu dapat menghilangkan sakit hati (dengki).<\/em><\/p>\n<p>Pemberian atau hibah dapat mendatangkan rasa saling mengasihi, mencintai dan menyayangi. Hadiah atau pemberian dapat menghilangkan rasa dendam.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Al-Bugha, Musthafa Dib,\u00a0<em>Buku Pintar Transaksi Syariah\u00a0<\/em>terj.\u00a0<em>Fiqh Al-Mu\u2019awadhah,<\/em>Cet. I, Bandung: Mizan Media Utama, 2010.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Sabiq, Sayyid,\u00a0<em>Fikih Sunnah 14<\/em>, terj:\u00a0<em>Mudzakir<\/em>, Cet. XX, Bandung: PT. Al-Ma\u2019arif, 1987.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Suhendi, Hendi,\u00a0<em>Fiqih Muamalah,\u00a0<\/em>Edisi I, Cet. V, Jakarta: Rajawali Pers, 2010.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Hibah Secara bahasa hibah adalah pemberian (athiyah), sedangkan menurut istilah hibah yaitu: Artinya: \u201cPemilikan yang munjiz (selesai) dan muthlak pada sesuatu benda ketika hidup&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-27475","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27475","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27475"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27475\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27475"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27475"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27475"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}