{"id":27353,"date":"2022-11-19T12:01:43","date_gmt":"2022-11-19T05:01:43","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=27353"},"modified":"2022-11-19T12:01:43","modified_gmt":"2022-11-19T05:01:43","slug":"tafsir-bi-al-matsur-pengertian-macam-dan-bentuknya-pandangan-ulama-perkembangan-dan-ahlinya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-bi-al-matsur-pengertian-macam-dan-bentuknya-pandangan-ulama-perkembangan-dan-ahlinya\/","title":{"rendered":"Tafsir\u00a0bi al-Ma\u2019tsur : Pengertian, Macam dan Bentuknya, Pandangan Ulama, Perkembangan dan Ahlinya"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-bi-al-matsur-pengertian-macam-dan-bentuknya-pandangan-ulama-perkembangan-dan-ahlinya\/#Pengertian_Tafsir_bi_al-Matsur\" >Pengertian Tafsir\u00a0bi al-Ma\u2019tsur<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-bi-al-matsur-pengertian-macam-dan-bentuknya-pandangan-ulama-perkembangan-dan-ahlinya\/#Macam_dan_Bentuk_Tafsir_bi_al-Matsur\" >Macam dan Bentuk Tafsir bi al-Ma\u2019tsur<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-bi-al-matsur-pengertian-macam-dan-bentuknya-pandangan-ulama-perkembangan-dan-ahlinya\/#Pandangan_Ulama_Tentang_Nilai_Tafsir_bi_al-Matsur\" >Pandangan Ulama Tentang Nilai Tafsir\u00a0bi al-Ma\u2019tsur<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-bi-al-matsur-pengertian-macam-dan-bentuknya-pandangan-ulama-perkembangan-dan-ahlinya\/#Perkembangan_Tafsir_Bil_Matsur\" >Perkembangan Tafsir Bil Ma\u2019tsur<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-bi-al-matsur-pengertian-macam-dan-bentuknya-pandangan-ulama-perkembangan-dan-ahlinya\/#Para_Ahli_Tafsir_Bi_Al-Matsur\" >Para Ahli Tafsir Bi Al-Ma\u2019tsur<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Tafsir_bi_al-Matsur\"><\/span><strong>Pengertian Tafsir\u00a0<em>bi al-Ma\u2019tsur<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut \u2018Ibn Hayyan ialah tafsir suatu ilmu yang membahas cara menuturkan\/membunyikan lafadz-lafadz al-Qur\u2019an,\u00a0<em>M<\/em>a<em>dlul-Madlul<\/em>nya baik mengenai kata tunggal maupun mengenai kata\u00a0<em>tarkib<\/em>\u00a0dan makna-maknanya yang digantungkan oleh keadaan susunan dan beberapa kesempurnaan bagi yang demikian seperti,\u00a0<em>Nasakh, Asbab al-Nuzul<\/em>, kisah yang mengatakan apa yang tidak terang di dalam al-Qur\u2019an dan lain-lain yang mempunyai hubungan erat dengannya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan \u2018Ali Hasan al-\u2018Aridl menjelaskan bahwa\u00a0<em>tafsir<\/em>\u00a0 ialah ilmu yang membahas tentang cara pengucapan lafadz-lafadz al-Qur\u2019an, makna-makna yang ditunjukkannya dan hukum-hukumnya, baik ketika berdiri sendiri atau tersusun serta makna-makna yang dimungkinkan ketika dalam keadaan tersusun.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut al-Zarkasyi, istilah\u00a0<em>tafsir<\/em>\u00a0<em>bi al-ma\u2019tsur\u00a0<\/em>merupakan gabungan dari tiga kata yaitu\u00a0<em>itafsir<\/em>,\u00a0<em>bi\u00a0<\/em>dan<em>\u00a0al-ma\u2019tsur.<\/em>\u00a0Secara leksikal\u00a0<em>tafsir\u00a0<\/em>berarti mengungkap atau menyingkap. Kata\u00a0<em>bi\u00a0<\/em>berarti \u2018dengan\u2019 sedangkan\u00a0<em>al-ma\u2019tsur\u00a0<\/em>berarti ungkapan yang dinukil oleh khalaf dari salaf. Dengan demikian secara etimologis\u00a0<em>tafsir bi al-ma\u2019tsur\u00a0<\/em>berarti menyingkap isi kandungan al-Qur\u2019an dengan penjelasan yang dinukil oleh\u00a0<em>khalaf<\/em>\u00a0dari\u00a0<em>salaf<\/em>.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan secara terminologis pengertian tafsir\u00a0<em>bi al-ma\u2019tsur<\/em>\u00a0yaitu:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya :<em>\u201cTafsir bi al-Ma\u2019tsur ialah tafsir yang berpegang kepada riwayat yang Shahih, yaitu menafsirkan al-Qur\u2019an dengan al -Qur\u2019an, atau dengan sunnah karena ia berfungsi menjelaskan kitabullah, atau dengan perkataan para Sahabat \u00a0karena merekalah yang paling mengetahui kitabullah atau dengan apa yang dikatakan oleh tokoh-tokoh besar tabi\u2019yn karena pada umumnya mereka menerima dari para Sahabat\u201d.<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Definisi seperti ini, menurut catatan al-Suyuthi berasal dari Ibnu Taimiyah, dan dipopulerkan oleh al-Zarqani yang\u00a0<em>nota bene<\/em>\u00a0termasuk ulama\u2019 kontemporer. Al-Zarqani adalah orang yang pertama menyebutkan bahwa tafsir\u00a0<em>bi al-ma\u2019tsur\u00a0<\/em>adalah penafsiran al-Qur\u2019an dengan al-Qur\u2019an, atau hadits atau pendapat shahabat atau tabi\u2019in.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan sebelum al-Zarqani, yang dimaksud tafsir\u00a0<em>bi al-ma\u2019tsur<\/em>\u00a0adalah kompilasi penafsiran nabi, sahabat dan tabi\u2019in. Ulama\u2019 yang memahami bahwa tafsir\u00a0<em>bi al-ma\u2019tsur\u00a0<\/em>bukan penafsiran al-Qur\u2019an dengan al-Qur\u2019an atau hadits atau pendapat sahabat atau tabi\u2019in adalah al-Suyuthi.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam muqaddimah tafsirnya, al-Suyuthi mengatakan bahwa isi dari kitab tafsirnya adalah kompilasi penafsiran-penafsiran Nabi SAW dan para sahabat.[1]<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Macam_dan_Bentuk_Tafsir_bi_al-Matsur\"><\/span><strong>Macam dan Bentuk Tafsir bi al-Ma\u2019tsur<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tafsir<em>\u00a0bi al-Ma\u2019tsur<\/em>\u00a0merupakan penafsiran dengan menggunakan riwayat sebagai sumber pokoknya. Karena itu, tafsir ini dinamakan juga dengan tafsir<em>\u00a0bi al-riwayah<\/em>\u00a0(tafsir dengan riwayat) atau tafsir\u00a0<em>bi al-manqal<\/em>\u00a0(tafsir dengan menggunakan pengutipan riwayat). Penafsiran corak ini dapat dibagi menjadi empat macam dan bentuknya yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Penafsiran ayat al-Qur\u2019an dengan ayat yang lain. Ayat-ayat al-Qur\u2019an, menurut para ahli tafsir, saling menafsirkan antara sesamanya. Penafsiran satu ayat dengan ayat lainnya juga bermacam-macam, yaitu:<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>Pertama<\/em>, ayat atau ayat-ayat lain menyebarkan apa yang diungkapkan pada ayat tertentu. Misalnya, kata-kata\u00a0<em>al-Muttaqin<\/em>\u00a0(orang-orang yang bertaqwa) dalam ayat 2 surat al-Baqarah, dijabarkan ayat-ayat sesudahnya (ayat-ayat 3, 4, 5) yang menyatakan :<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya :\u00a0<em>\u201cYaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada kitab (al-Qur\u2019an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka orang-orang yang beruntung\u201d.<\/em>\u00a0(Q.S. al- Baqarah : 3, 4, 5).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>Kedua<\/em>, ada informasi tertentu, misalnya tentang kisah Nabi Musa pada surah tertentu diungkapkan secara singkat, sementara pada surah lain secara panjang lebar. Dalam hal ini ayat-ayat yang panjang lebar menafsirkan ayat-ayat yang mengandung informasi yang lebih singkat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>Ketiga<\/em>, ayat-ayat yang\u00a0<em>mujmal<\/em>\u00a0ditafsirkan oleh ayat-ayat yang\u00a0<em>mubayyan<\/em>, ayat-ayat yang\u00a0<em>muthlaq<\/em>\u00a0ditafsirkan oleh ayat-ayat yang\u00a0<em>khas<\/em>. Ringkasnya, ayat-ayat yang mengandung pengertian umum dan global ditafsirkan oleh ayat-ayat yang mengandung pengertian khusus dan rinci.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>Keempat<\/em>, informasi yang terkandung dalam satu ayat kadang-kadang terlihat berbeda dengan informasi yang terdapat pada ayat-ayat lain. Penafsiran ayat-ayat itu dilakukan dengan mengkompromikan pengertian-pengertian tersebut.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Penafsiran ayat al-Qur\u2019an dengan hadits Nabi Saw. Firman Allah dalam soal \u2018<em>amar ma\u2019ruf\u00a0 nahi munkar<\/em>\u00a0:<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya :\u00a0<em>\u201cDan hendaklah kamu suatu golongan yang menyeru kepada kebaikan dan menyuruh ma\u2019ruf mencegah kemunkaran dan itulah mereka yang mendapat kemenangan<\/em>\u201d. (QS. Ali Imran: 104).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sabda Nabi dalam soal tersebut sebagai berikut:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya :\u00a0<em>\u201cHendaklah kamu menyuruh ma\u2019ruf dan hendaklah kamu mencegah kemunkaran dan biarlah Tuhan mengeraskan atas kamu orang-orang yang jahat dari kamu, lalu berdoalah kamu orang-orang yang baik dari kamu tetapi tidak diperkenankan doanya\u201d.<\/em><\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Penafsiran ayat al-Qur\u2019an dengan pendapat para Sahabat.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ayat al-Qur\u2019an surat al-Baqarah ayat 158 yang berbunyi sebagai berikut:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya :\u00a0<em>\u201cSesungguhnya Shafa dan Marwa adalah di antara syiar-syiar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke BaitullAh dan berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa\u2019i antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebaikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri Kebaikan lagi Maha Mengetahui.\u201d\u00a0<\/em>(Q.S. al- Baqarah : 158)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Mengenai ayat ini seorang kemenakan `Aisyah menanyakan kepadanya, maka `Aisyah ra. menjelaskan bahwa peniadaan dosa di sini dimaksudkan untuk penolakan terhadap keyakinan kaum muslimin bahwa sa\u2019i di antara Shafa dan Marwa termasuk perbuatan jahiliyah. Sebagaimana hadis yang berbunyi sebagai berikut:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya :\u00a0<em>\u201cMulailah dengan apa yang dimulai oleh Allah yakni Shafa.\u201d\u00a0<\/em>(H.R.Muslim)<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Penafsiran ayat al-Qur\u2019an dengan pendapat\u00a0<em>Tabi\u2019in<\/em>. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 26 sebagai berikut :<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya:\u00a0<em>\u201cSesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.\u201d\u00a0<\/em>(Q.S al- Baqarah : 26).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut Hasan \u2018Ibn Yahya, mengapa Allah menyebut nyamuk atau yang sebangsanya yaitu lalat dan laba-laba, kemudian orang musyrik berkata, mengapa Allah Swt menyebut sebangsa lalat dan laba-laba, menurut \u2018Ibn `Abbas ini adalah merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.[2]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Penafsiran ayat al-Qur\u2019an dengan pendapatnya para\u00a0<em>Tabi\u2019in<\/em>\u00a0setelah generasi para Sahabat, mereka adalah orang yang mengetahui kandungan al-Qur\u2019an karena generasi\u00a0<em>Tabi\u2019in<\/em>\u00a0bergaul dengan para Sahabat, pendapat mereka dipandang sangat membantu generasi selanjutnya dalam memahami al-Qur\u2019an. Perkembangan metode penafsiran ini dapat dibagi dua periode, yaitu periode lisan, ketika penafsiran dari Nabi Saw dan para Sahabat disebarluaskan secara periwayatan, dan periode tulisan, ketika riwayat-riwayat yang sebelumnya tersebar secara lisan mulai dibukukan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Bermacam-macam metodologi tafsir dan coraknya telah diperkenalkan dan diterapkan oleh pakar-pakars al-Qur\u2019an, kalau kita mengamati metode penafsiran Sahabat \u00a0Nabi Saw mereka merujuk kepada penggunaan bahasa dan syair-syair `Arab, cukup banyak contoh yang dapat dikemukakan tentang hal ini, misalnya `Umar bin Khattab pernah bertanya tentang arti\u00a0<em>takhwwuf<\/em>\u00a0dalam firman Allah :<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya :\u00a0<em>\u201cAtau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa). Maka sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha penyayang.<\/em>\u201d ( Q.S. An- Nahl: 47).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Setelah masa Sahabatpun, para\u00a0<em>Tabi\u2019in<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>atba\u2019 at-Tabi\u2019in<\/em>\u00a0masih mengandalkan metode periwayatan dan kebahasaan seperti sebelumnya. Menurut Quraish Shihab, mengandalkan metode ini jelas memiliki keistimewaan dan kekurangan. Adapun keistimewaannya adalah :<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menekankan pentingnya bahasa dalam memahami al-Qur\u2019an.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Memaparkan ketelitian redaksi ayat ketika menyampaikan pesan-pesannya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Mengikat mufassir dalam bingkai teks ayat-ayat sehingga membatasi terjerumus dalam subjektivitas berlebihan.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, kelemahan yang terlihat dalam kitab-kitab tafsir yang mengandalkan metode ini adalah :<\/p>\n<ol style=\"font-weight: 400;\">\n<li>Terjerumusnya sang mufassir dalam uraian kebahasaan dan kesusasteraan yang bertele-tele sehingga pesan pokok al-Qur\u2019an menjadi kabur di celah uraian itu.<\/li>\n<li>Sering kali konteks turunnya ayat hampir dapat dikatakan terabaikan sama sekali, sehingga ayat-ayat tersebut bagaikan turun bukan dalam satu masa atau berada di tengah-tengah masyarakat tanpa budaya.[3]<\/li>\n<\/ol>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pandangan_Ulama_Tentang_Nilai_Tafsir_bi_al-Matsur\"><\/span><strong>Pandangan Ulama Tentang Nilai Tafsir\u00a0<em>bi al-Ma\u2019tsur<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Di antara para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan al-Qur\u2019an adalah khalifah yang empat, \u2018Ibn Mas\u2019ud, \u2018Ibn `Abbas, `Ubai bin Ka`ab, Zaid bin Tsabit, \u2018Abu Musa al-\u2018Asy`ari, `Abdullah bin Zubair, \u2018Anas bin Malik, `Abdullah bin `Umar, Jabir bin `Abdullah, `Abdullah bin `Amr bin `Ash dan `Aisyah, dengan terdapat perbedaan sedikit atau banyaknya penafsiran mereka. Cukup banyak riwayat-riwayat yang dinisbahkan kepada mereka dan kepada sahabat yang lain di berbagai tempat yang tentu saja berbeda-beda derajat keshahihan, dan ke<em>dha\u2019ifan<\/em>nya di lihat dari sudut\u00a0<em>sanad\u00a0<\/em>(mata rantai periwayat). Tidak diragukan lagi, tafsir<em>\u00a0bi al-Ma\u2019tsur<\/em>\u00a0yang berasal dari Sahabat \u00a0mempunyai nilai tersendiri.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Jumhur `ulama berpendapat, tafsir Sahabat \u00a0mempunyai status hukum\u00a0<em>marfu\u2019\u00a0<\/em>(disandarkan kepada Rasulullah) bila berkenaan dengan\u00a0<em>asbab al\u2019nuzul<\/em>\u00a0dan semua hal yang tidak mungkin dimasuki\u00a0<em>ra\u2019yu<\/em>. Sedang hal yang memungkinkan dimasuki ra\u2019yu maka statusnya adalah\u00a0<em>mauquf<\/em>\u00a0(terhenti) pada sahabat selama tidak disandarkan kepada Rasulullah.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sebagian ulama mewajibkan untuk mengambil tafsir<em>\u00a0mauquf<\/em>\u00a0pada Sahabat, karena merekalah yang paling ahli bahasa `Arab dan menyaksikan langsung konteks dan situasi serta kondisi yang hanya diketahui oleh mereka, di samping mereka mempunyai pemahaman yang sahih. Yarkasy dalam kitabnya\u00a0<em>al-Burhan fi \u2019Ulum al<\/em>\u00a0<em>Qur\u2019an<\/em>\u00a0berkata : ketahuilah al-Qur\u2019an itu ada dua bagian. Satu penafsirannya datang berdasarkan\u00a0<em>naql<\/em>\u00a0(riwayat) dan bagian yang lain tidak dengan\u00a0<em>naql<\/em>. Yang pertama, penafsirannya itu adakalanya dari Nabi, Sahabat \u00a0atau tokoh\u00a0<em>Tabi\u2019in<\/em>. Jika dari Nabi, hanya perlu dicari kesalahan sanadnya. Jika berasal dari sahabat, perlu diperhatikan apakah mereka menafsirkan dari segi bahasa ? Jika ternyata demikian maka mereka adalah yang paling mengerti tentang bahasa `Arab, karena pendapatnya dapat dijadikan pegangan, atau jika mereka menafsirkan berdasarkan\u00a0<em>asbab al-nuzul<\/em>\u00a0atau situasi dan kondisi yang mereka saksikan, maka hal itupun tidak diragukan lagi.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Perkembangan_Tafsir_Bil_Matsur\"><\/span><strong>Perkembangan Tafsir Bil Ma\u2019tsur<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Muhammad Husain al Dzahabi dalam Tafsir<em>\u00a0Wal Mufassirun<\/em>\u00a0menyebutkan bahwa perkembangan tafsir<em>\u00a0bil ma\u2019tsur<\/em>\u00a0dapat dikategorikan menjadi dua periode, Pertama, periode periwayatan (<em>daur al riwayah<\/em>).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kedua periode kodifikasi\/pembukuan (<em>daur al tadwin<\/em>) yaitu:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Periode pertama yaitu\u00a0<em>Daur al Riwayah<\/em>\u00a0dapat dibedakan dalam empat tahap, yaitu tahap pertama, masa Rasulullah., tahap kedua, pada masa sahabat., tahap ketiga, pada masa tabi\u2019in., dan tahap keempat, pada masa sesudah tabi\u2019in, yang masing masing memilki corak dan karakteristik sendiri sendiri.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Periode kedua adalah periode kodifikasi (<em>Daur al Tadwin<\/em>) pada periode ini mula mula ditulis dan dibukukan adalah tafsir<em>\u00a0bil ma\u2019tsur<\/em>, yaitu segala yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW dan sahabat, baik yang terjadi pada permulaan tahun 100 atau 200 Hijriyah.\u00a0\u00a0Periode kedua ini dalam perkembangannya juga melalui beberapa tahap, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tahap pertama pembukuan tafsir<em>\u00a0bil ma\u2019tsur<\/em>, belum mengambil bentuknya yang sempurna dan belum berdiri sendiri, yaitu tafsir ditulis dalam kitab kitab hadits, dan didalamnya banyak didapati berbagai macam bab hadits yang berbeda beda , juga masih berupa kumpulan riwayat yang berasal dari Nabi, para sahabat, dan juga tabi\u2019in sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Malik bin Anas.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tahap kedua mulai dilakukan pemisahan antar tafsir\u00a0<em>bil ma\u2019tsur<\/em>\u00a0dengan kumpulan kumpulan tulisan hadits, sehingga tafsir menjadi suatu disiplin ilmu tersendiri. Dan orang yang pertama kalinya mempelopori adalah Ali bin Abi Talhah berdasarkan riwayat ibn Abbas.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tahap ketiga, tafsir<em>\u00a0bil ma\u2019tsur<\/em>\u00a0mulai dibukukan dalam bebrapa juz secara khusus, seperti yang dilakukan oleh Abi Rauq yang menulis satu juz saja dari tiga juz lainnya oleh Muhammad bin Tsaur dari Ibn Juraij.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tahap keempat, pengkodifikasian tafsir yang secara khusus memuat tafsir\u00a0<em>bil ma\u2019tsur<\/em>\u00a0lengkap dengan jalur sanad sempai kepada Rasulullah SAW, kepada para sahabat, tabi\u2019in, dan Tabi\u2019ut Tabi\u2019in, seperti yang dilakukan oleh Ibn Jarir At Thabariy.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tahap kelima, yaitu pengkodifikasian tafsir<em>\u00a0bil ma\u2019tsur<\/em>\u00a0tanpa mengemukakan sanad periwatannya dan kebanyakan para mufassir menggunakan pendapat pendapat tertentu didalam tafsir mereka tanpa membedakan hadits yang sahih dan hadits yang keliru, sehingga mengakibatkan para peneliti tidak tertarik pada isi kitab tafsir tersebut, karena ada kekhawatiran adanya unsur pemalsuan .\u00a0[4]<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Adapun mengenai Perbedaan yang terjadi di dalam tafsir\u00a0<em>Bil Ma`tsur<\/em>\u00a0dapat dibagi menjadi 3 klasifikasi yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Berbeda lafazh, bukan Makna.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Hal seperti ini tidak memiliki pengaruh terhadap makna ayat. Contohnya adalah firman Allah Ta\u2019ala, \u201cWa Qadla Rabbuka Alla Ta\u2019buduu Illa Iyyaah [<em>Dan Tuhanmnu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia<\/em>].\u201d (Q.s., al-Isra`:23) Ibn \u2018Abbas berkata,\u00a0<em>\u201cMakna Qadla adalah Amara (memerintahkan).\u201d<\/em>\u00a0Mujahid berkata,\u00a0<em>\u201cMaknanya adalah Washsha (berwasiat).\u201d<\/em>\u00a0Ar-Rabi\u2019 bin Anas berkata, \u201c<em>Maknanya adalah Awjaba (mewajibkan).\u201d<\/em>\u00a0Penafsiran-penafsiran seperti ini maknanya sama atau mirip sehingga tidak ada pengaruhnya perbedaan tersebut terhadap makna ayat.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Berbeda lafazh dan makna.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam hal ini, ayat (yang ditafsirkan) dapat menerima (mencakupi) kedua makna tersebut karena tidak bertentangan (kontradiksi). Artinya, ayat tersebut dapat diarahkan kepada kedua makna tersebut dan ditafsirkan dengan keduanya sehingga sinkronisasi terhadap perbedaan ini adalah bahwa masing-masing dari kedua pendapat tersebut hanya diketengahkan sebagai contoh\/permisalan terhadap apa yang dimaksud ayat tersebut atau dalam rangka variasi saja. Contohnya adalah firman Allah Ta\u2019ala:\u00a0<em>\u201cDan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaithan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat, Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah\u2026\u201d\u00a0<\/em>(Q.s.,al-A\u2019raf:175-176) Ibn Mas\u2019ud berkata,\u00a0<em>\u201cIa [orang yang telah Kami berikan kepadanya] adalah seorang yang berasal dari kalangan Bani Israil.\u201d<\/em>\u00a0Dari Ibn \u2018Abbas, ia mengatakan,\u00a0<em>\u201c[Ia adalah] seorang laki-laki dari penduduk Yaman<\/em>\u201d.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Berbeda lafazh dan makna.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam hal ini, ayat tidak dapat mencakupi kedua makna tersebut secara bersama-sama karena terjadi kontradisi di antara keduanya. Karena itu, maknanya harus diarahkan kepada pendapat yang paling kuat dari keduanya, baik melalui petunjuk redaksinya atau lainnya. Contohnya adalah firman Allah Ta\u2019ala,\u00a0<em>\u201cSesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang\u201d<\/em>\u00a0(Q.s.,an-Nahl:115) Ibn \u2018Abbas berkata:\u00a0<em>\u201cMakna Baaghin [dengan tidak menganiaya] terhadap bangkai dan \u2018Aadin [tidak pula melampaui batas] di dalam memakannya.\u201c\u00a0<\/em>Menurut riwayat yang lain:\u00a0<em>\u201cTidak membangkang (angkat senjata) terhadap Imam (pemimpin, penguasa) dan tidak berbuat maksiat di dalam perjalanannya.\u201d\u00a0<\/em>Pendapat yang paling kuat adalah pendapat pertama sebab dalil tidak mengarah kepada makna kedua dalam ayat tersebut sedangkan yang dimaksud dengan kehalalan hal-hal yang disebutkan disitu adalah melawan kondisi darurat (sehingga tidak diharamkan karena khawatir jiwa binasa-red.,) sedangkan di dalam kondisi membangkang terhadap imam (Pemimpin), dalam kondisi bepergian yang diharamkan dan sebagainya; tetap berlaku (diharamkan).[5]<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Para_Ahli_Tafsir_Bi_Al-Matsur\"><\/span><strong>Para Ahli Tafsir Bi Al-Ma\u2019tsur<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tafsir Ibnu Jarir<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pengarangnya adalah Ibnu Jarir Ath Thabary yang panggilannya Abu Ja\u2019far. Ia dilahirkan pada tahun 224 H, dan meninggal dunia pada tahun 310 H. Kitabnya termasuk kitab tafsir dengan ma\u2019tsur yang paling agung, paling benar dan paling banyak mencakup pendapat sahabat dan tabi\u2019in serta dianggap sebagai pedoman pertama bagi para mussafir. Imam Nawawy mengatakan: \u201c kitab Ibnu Jarir tentang tafsir belum ada seorang pengarangpun yang menyamainya.\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Beberapa keistimewaan tafsir ini adalah:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Berpegang pada atsar berupa hadits (ucapan Nabi saw) sahabat dan Tabi\u2019in.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Senantiasa menyebutkan sanad dan pendapat yang diriwayatkan serta memberi pentarjihan dari riwayat yang dikemukakannya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Memaparkan ayat-ayat yang nasikh dan mansukh serta menjelaskan tentang riwayat yang shahih dan riwayat yang dha\u2019if.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menyebutkan segi I\u2019rab (uraian kalimat) dan pengistimbathan hokum syari\u2019at dari ayat-ayat Al-Qur\u2019an. Kesimpulannya, kitab ini adalah kitab yang paling agung dan penuh dengan keindahan, tapi sayangnya kitab ini serring mengemukakan khabar dengan sanad yang tidak benar dengan tidak menjelaskan ketidak benarannya itu. Contohnya adalah kitab ini sering memuat cerita yang bersifat israilliat. Tafsirnya telah diterbitkan dan tersebar luas diseluruh penjuru dunia, lagi pula dijadikan pedoman pokok dikalangan musafir.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tafsir As Samarqandy<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pengarangnya adalah Nashr Ibnu Muhammad As Samarqandy yang panggilannya adalah Abu Al Laits. Ia meninggal dunia pada tahun 373 H. Kitabnya dinamakan dengan Bahrul Ulum. Tafsir ini adalah tafsir ma\u2019tsur. Didalamnya banyak memuat pendapat para sahabat dan tabi\u2019in, sayangnya beliau tidak menyebutkan sanad-sanadnya. Kitab ini terdiri dari dua jilid dan salah satu dari naskah-naskahnya masih ada di perpustakaan Al-Azhar.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tafsir Ats Tsa\u2019laby<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pengarang tafsir ini adalah Ahmad Ibnu Ibrahim Ats Tsa\u2019laby An Naisabury. Ia adalah seorang musafir yang ahli membaca Al-Qur\u2019an. Panggilannya adalah Abu Ishak. Ia meninggal dunia pada tahun 427 H, Kelahirannya secara pasti tidak diketahui. Kitabnya dinamakan Al-Kasyfru wal Bayan fi Tafsilih Qur\u2019an. Ia menafsirkan kitabullah Al-Qur\u2019an berdasarkan hadits yang bersumber dari ulama salaf dengan meringkaskan sanadnya. Karena menganggap cukup menyebutkannya pada pendahuluan kitab. Ia sedikit memperluas pembahasan nahwu dan fiqih. Ia sangat senang dengan kisah-kisah dan cerita-cerita isralliyat yang dianggap asing bahkan sama sekali tidak benar adanya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ibnu Taimiyah mengatakan: \u201cAts Tsa\u2019laby pada pribadinya tertanam kebaikan dan agama, tetapi ia bagaikan pencari kayu di malam hari. \u201csurat Al-Furqan.<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tafsir Al-Baghawy<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pengarang tafsir ini adalah Al-Musain Ibnu Mas\u2019ud Al-Farra\u2019 Al-Baghawy, seorang ahli fiqih, mussafir dan ilmu hadits, yang dikenal dengan penghidup sunnah. Panggilannya adalah Abu Muhammad. Beliau meninggal dunia pada tahun 510 H pada usia 80 tahun. Ia sebagai seorang alim dan taat. Imam As-Sudhy menganggap bahwa ia adalah termasuk ulama Syafi\u2019iyah yang alim.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tafsir ini telah di cetak bersamaan dengan tafsir Ibnu Katsir dan tafsir Al-Khazin. Dalam kitabnya ada sebagian kisah-kisah Isroilliyat, tetapi secara umum adalah lebih baik dan lebih murni dari pada kebanyakan kitab-kitab tafsir dengan ma\u2019tsur.<\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tafsir Ibnu \u2018Athiyah<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pengarang tafsir ini adalah Abdul Haq Ibnu \u2018Athiyah Al-Andalusy Al Mafhriby Al-Qarnathy. Panggilannya adalah Abu Muhammad. Beliau dilahirkan pada tahun 481 H dan meninggal dunia tahun 546 H.<\/p>\n<ol start=\"6\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Murrah Al-Hamadzany<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Nama lengkapnya adalah Murrah bin Syarahil Al-Hamadzany dengan nama panggilan Abu Ismail, ia dijuluki dengan nama Murrah Ath Thayyib dan Murrah Al-Khaer.<\/p>\n<ol start=\"7\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tafsir Ibnu Katsir<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pengarang tafsir ini adalah Al-Hafizh Imaduddin Ismail bin Amr ibnu Katsir Al-Quraisyi Ad Dimasqy. Nama panggilannya adalah Abul Firda. Tafsir ini termasuk tafsir ma\u2019tsur yang ia kutip dari pendapat ulama salaf, dengan membedakan pendapat yang shahih dan yang dha\u2019if.<\/p>\n<ol start=\"8\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tafsir As Suyuthy<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pengarang tafsir ini adalah Al-Imam Al Hajjaj Ats Tsiqah Jalaluddin As Suyuthy, pengarang beberapa kitab yang terkenal.[6]<\/p>\n<p>[1]\u00a0Mawardi Abdullah,\u00a0<em>Ulumul Qur\u2019an,\u00a0<\/em>(Yoqyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hal. 154-155.<\/p>\n<p>[2]\u00a0Hasby As-Shiddieqi,\u00a0<em>Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur\u2019an\/Tafsir,\u00a0<\/em>(Jakarta: Bulan Bintang, 1978), hal. 163-165.<\/p>\n<p>[3]\u00a0<em>Ibid,\u00a0<\/em>hal. 160<\/p>\n<p>[4]\u00a0\u2018Ali Hasan al-\u2018Aridl,\u00a0<em>Sejarah dan Metodologi Tafsir,\u00a0<\/em>(Jakarta : Rajawali Press, 1992), hal.3-5<\/p>\n<p>[5]\u00a0Http:\/\/Komenkch.blogspot.com\/2012\/03\/tafsir-bil-matsur.html<\/p>\n<p>[6]\u00a0Dra. H. St. Amanah,\u00a0<em>Pengantar Ilmu Al-Qur\u2019an dan Tafsir,<\/em>( Semarang: CV. Asy-Syifa\u2019, 1993), cet. 1, h. 348-353.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Tafsir\u00a0bi al-Ma\u2019tsur Menurut \u2018Ibn Hayyan ialah tafsir suatu ilmu yang membahas cara menuturkan\/membunyikan lafadz-lafadz al-Qur\u2019an,\u00a0Madlul-Madlulnya baik mengenai kata tunggal maupun mengenai kata\u00a0tarkib\u00a0dan makna-maknanya yang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-27353","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27353","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27353"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27353\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27353"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27353"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27353"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}