{"id":27313,"date":"2022-11-19T11:12:41","date_gmt":"2022-11-19T04:12:41","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=27313"},"modified":"2022-11-19T11:12:41","modified_gmt":"2022-11-19T04:12:41","slug":"perang-salib-penyebab-periodisasi-akibat-kondisi-pasca-perang-dan-peninggalannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perang-salib-penyebab-periodisasi-akibat-kondisi-pasca-perang-dan-peninggalannya\/","title":{"rendered":"Perang Salib : Penyebab, Periodisasi, Akibat, Kondisi Pasca Perang dan Peninggalannya"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perang-salib-penyebab-periodisasi-akibat-kondisi-pasca-perang-dan-peninggalannya\/#Sejarah_dan_Penyebab_Terjadinya_Perang_Salib\" >Sejarah dan Penyebab Terjadinya Perang Salib<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perang-salib-penyebab-periodisasi-akibat-kondisi-pasca-perang-dan-peninggalannya\/#Periodisasi_Perang_Salib\" >Periodisasi Perang Salib<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perang-salib-penyebab-periodisasi-akibat-kondisi-pasca-perang-dan-peninggalannya\/#Akibat_Perang_Salib\" >Akibat Perang Salib<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perang-salib-penyebab-periodisasi-akibat-kondisi-pasca-perang-dan-peninggalannya\/#Kondisi_Pasca_Perang_Salib\" >Kondisi Pasca Perang Salib<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perang-salib-penyebab-periodisasi-akibat-kondisi-pasca-perang-dan-peninggalannya\/#Peninggalan_dari_Perang_Salib\" >Peninggalan dari Perang Salib<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sejarah_dan_Penyebab_Terjadinya_Perang_Salib\"><\/span><strong>Sejarah dan Penyebab Terjadinya Perang Salib<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Perang salib terjadi selama kurang lebih dua abad. Peristiwa ini menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen terhadap orang Islam, yang kemudian meletusnya Perang Salib ini. Kebencian ini bertambah setelah dinasti Seljuk dapat merebut Baitul Maqdis pada tahun 471 H dari kekuasaan Dinasti Fathimiyyah yang berkedudukan di Mesir. Hingga akhirnya kebijakan yang dikeluarkan oleh Dinasti Seljuk bagi umat Kristiani yang hendak berziarah kesana dirasakan sangat memberatkan dan menyulitkan. Perang ini juga merupakan kumpulan gelombang dari pertikaian agama bersenjata yang\u00a0dimulai oleh kaum Kristiani, yakni pada periode 1096-1291.[1]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Perang salib (1096-1291) terjadi sebagai reaksi dunia kristen di Eropa terhadap dunia Islam di Asia yang sejak 632 M, dianggap sebagai pihak \u201cpenyerang\u201d, bukan saja di Siria dan Asia Kecil, tetapi juga di spanyol dan sisilia disebut Perang Salib, karena ekspedisi militer kristen mempergunakan salib sebagai simbol pemersatu untuk menunjukkan bahwa peperangan yang mereka lakukan adalah perang suci dan bertujuan untuk membebaskan kota suci Baitulmakdis (Yerusalem) dari tangan orang-orang Islam.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Penyebab langsung terjadinya Perang Salib adalah permintaan Kaisar Alexius Connenus pada tahun 1095 kepada Paus Urbanus II. Kaisar dari Bizantium meminta bantuan dari Romawi karena daerah-daerahyang tersebar sampai ke pesisir Laut Marmora \u201cdibinasakan\u201d oleh Bani Saljuk.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Penyebab lain Perang Salib adalah faktor sosial ekonomi. Perang Salib bagiorang-orang kristen juga merupakan jaminan untuk masuk surga sebab mati dalam Perang Salib, menurut mereka adalah mati sebagai pahlawan agama dan langsung masuk surga walaupun mempunyai dosa-dosa pada masa lalunya.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Periodisasi_Perang_Salib\"><\/span><strong>Periodisasi Perang Salib<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Philip K. Hitti menyederhanakan periodisasi perang salib dalam tiga periode :<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Masa penaklukan (1009-1144)<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Masa timbulnya reaksi umat islam (1144-1192)<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Masa perang saudara kecil-kecilan yang berakhir sampai 1291 M.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>Periode pertama<\/em>\u00a0disebut\u00a0<em>periode penaklukan.<\/em>\u00a0Jalinan kerja sama Kaisar Alexius I dan Paus Urbanus II berhasil membangkitkan semangat umat Kristen. Pidato tersebut membuat orang-orang kristen mendapat suntikan untuk mengunjungi kuburan suci. Hasan Ibrahim menggambarkan gerakan ini sebagai gerombolan rakyat jelata yang tidak memiliki pengalaman perang, tidak disiplin dan tanpa persiapan. Gerakan ini dipimpin oleh Pieera I\u2019ermite.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pasukan salib berikutnya dipimpin oleh Godfrey of Bouillon. Mereka berhasil menduduki kota suci Palestina (Yerussalem) pada 7 juli 1099. Sebelum menduduki Baitulmakdis, pasukan ini terlebih dahulu merebut Anatalia Selatan, Tarsus, Antiolia, Allepo, dan Ar-Ruba\u2019(Edessa), juga merebut Tripoli, Syam (Suriah), dan Arce.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>Periode kedua,\u00a0<\/em>disebut\u00a0<em>periode reaksi umat islam\u00a0<\/em>. Jatuhnya beberapa wilayah kekuasaan islam ketangan kaum salib membangkitkan kaum muslimin menghimpun kekuatan untuk menghadapi mereka. Dibawah komando Imaduddin Zangi, Gubernur Mosul, kaum muslimin bergerak maju membendung serangan pasukan salib. Bahkan, mereka berhasil merebut kembali Allepo Edessa.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Setelah Imadudin Zangi wafat tahun 1146, posisinya digantikan oleh putranya, Naruddin Zangi. Ia meneruskan cita-cita ayahnya yang ingin membebaskan negara-negara islam ditimur dari cengkraman kaum salib. Kota-kota yang berhasil dibebaskan antara lain Damaskus (1147), Antiolia (1149), dan Mesir (1169).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kemenangan kaum muslimin ini, terutama setelah munculnya Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi (Saladin) di Mesir yang berhasil membebaskan Baitulmakdis pada 2oktober 1187. Ekspedisi ini dipimpin oleh raja-raja besar Eropa, seperti Frederick I, Richard I, dan Philip II.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Frederick yang memimpin divisi darat tewas ketika menyeberangi sungai Armenia, dekat kota Ruba\u2019. Dua divisi lainnya yang menempuh jalur laut bertemu di Sisilia. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Suriah (Syam).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam keadaan demikian pihak Richard dan pihak Saladin sepakat untuk melakukan gencatan senjata dan membuat perjanjian. Inti perjanjian damai itu adalah daerah pedalaman akan menjadi milik kaum muslimin dan umat kristen yang akan berziarah ke Baitulmakdis akan terjamin keamanannya. Adapun daerah pesisir utara, arce, dan jaita berada dibawah kekuasaan tentara salib.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>Periode ketiga\u00a0<\/em>lebih dikenal dengan\u00a0<em>periode perang saudara kecil-kecilan\u00a0<\/em>(periode kehancuran) didalam pasukan salib. Ini disebabkan oleh ambisi politik untuk memperoleh kekuasaan dan sesuatu yang bersifat materialistik daripada motivasi agama. Dalam periode ini muncul pahlawan wanita dari kalangan kaum muslimin yang terkenal gagah berani, yaitu Syajar Ad-Durr. Ia berhasil menghancurkan pasukan Raja Louis IX dari Prancis sekaligus menangkap raja tersebut.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Akibat_Perang_Salib\"><\/span><strong>Akibat Perang Salib<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Perang Salib menimbulkan beberapa akibat penting dalam sejarah dunia. Perang Salib membawa Eropa ke dalam kontak langsung dengan dunia muslim dan terjadinya hubunngan antara timur dan barat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Keuntungan Perang Salib bagi Eropa adalah menambah lapangan perdagangan, mempelajari kesenian dan penemuan penting seperti kompas pelaut, kincir angin dan sebagian dari orang islam mereka juga dapat mengetahui cara bertani yang maju dan mempelajari kehidupan industri timur yang lebih berkembang. Orang barat mulai menyadari kebutuhan akan barang-barang timur dan karena kepentingan ini perdagangan antara menjadi lebih berkembang.[2]<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kondisi_Pasca_Perang_Salib\"><\/span><strong>Kondisi Pasca Perang Salib<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Perang Salib Pertama\u00a0melepaskan gelombang semangat perasaan paling suci sendiri yang diekspresikan dengan pembantaian terhadap orang-orang\u00a0Yahudi\u00a0yang menyertai pergerakan tentara Salib melintasi\u00a0Eropa\u00a0dan juga perlakuan kasar terhadap pemeluk\u00a0Kristen Orthodox\u00a0Timur. Kekerasan terhadap\u00a0Kristen Orthodox\u00a0ini berpuncak pada penjarahan kota\u00a0Konstantinopel\u00a0pada tahun 1024, dimana seluruh kekuatan tentara Salib ikut serta. Selama terjadinya serangan-serangan terhadap orang\u00a0Yahudi, pendeta lokal dan orang Kristen berupaya melindungi orang Yahudi dari pasukan Salib yang melintas. Orang Yahudi seringkali diberikan perlindungan di dalam gereja atau bangunan Kristen lainnya, akan tetapi, massa yang beringas selalu menerobos masuk dan membunuh mereka tanpa pandang bulu.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada abad ke-13, Perang Salib tidak pernah mencapai tingkat kepopuleran yang tinggi di masyarakat. Sesudah kota\u00a0Acra\u00a0jatuh untuk terakhir kalinya pada tahun 1291 M dan sesudah penghancuran bangsa\u00a0Occitan\u00a0(Perancis Selatan) yang berpaham\u00a0Catharisme\u00a0pada\u00a0Perang Salib Albigensian, ide perang Salib mengalami kemerosotan nilai yang diakibatkan oleh pembenaran lembaga kepausan terhadap agresi politik dan wilayah yang terjadi di\u00a0Katolik Eropa. Orde ksatria Salib mempertahankan wilayah adalah orde\u00a0Knights Hospitaller. Sesudah kejatuhan Acra yang terakhir, orde ini menguasai\u00a0Pulau Rhodes\u00a0dan pada abad ke-16 dibuang ke\u00a0Malta. Tentara-tentara Salib yang terakhir ini akhirnya dibubarkan oleh\u00a0Napoleon Bonaparte\u00a0pada tahun 1798 M.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Peninggalan_dari_Perang_Salib\"><\/span><strong>Peninggalan dari Perang Salib<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Diantara beberapa peninggalan dari hasil pertempuran ini adalah\u00a0:<\/p>\n<ul style=\"font-weight: 400;\">\n<li>Politik dan Budaya<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Perang Salib amat memengaruhi Eropa pada\u00a0Abad Pertengahan\u00a0Pada masa itu, sebagian besar benua dipersatukan oleh kekuasaan\u00a0Kepausan, akan tetapi pada abad ke-14, perkembangan birokrasi yang terpusat (dasar dari\u00a0negara-bangsa\u00a0modern) sedang pesat di\u00a0Perancis,\u00a0Inggris,\u00a0Burgundi,\u00a0Portugal,\u00a0Castilia\u00a0dan\u00a0Aragon. Hal ini sebagian didorong oleh dominasi gereja pada masa awal perang salib. Meski benua Eropa telah bersinggungan dengan\u00a0budaya Islam\u00a0selama berabad-abad melalui hubungan antara\u00a0Semenanjung Iberia\u00a0dengan\u00a0Sisilia, banyak ilmu pengetahuan di bidang-bidang sains, pengobatan dan arsitektur diserap dari dunia Islam ke dunia Barat selama masa Perang Salib. Pengalaman militer Perang Salib juga memiliki pengaruh di Eropa, seperti misalnya, kastil-kastil di Eropa mulai menggunakan bahan dari batu-batuan yang tebal dan besar seperti yang dibuat di Timur, tidak lagi menggunakan bahan kayu seperti sebelumnya. Sebagai tambahan, tentara Salib dianggap sebagai pembawa budaya Eropa ke dunia, terutama Asia.\u00a0Bersama perdagangan, penemuan-penemuan dan penciptaan-penciptaan sains baru mencapai timur atau barat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kemajuan bangsa\u00a0Arab\u00a0termasuk perkembangan\u00a0aljabar,\u00a0lensa\u00a0dan lain lain mencapai barat dan menambah laju perkembangan di universitas-universitas Eropa yang kemudian mengarahkan kepada masa Renaissance pada abad-abad berikutnya.<\/p>\n<ul style=\"font-weight: 400;\">\n<li>Perdagangan<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kebutuhan untuk memuat, mengirimkan dan menyediakan balatentara yang besar menumbuhkan perdagangan di seluruh Eropa. Jalan-jalan yang sebagian besar tidak pernah digunakan sejak masa pendudukan\u00a0Romawi, terlihat mengalami peningkatan disebabkan oleh para pedagang yang berniat mengembangkan usahanya. Ini bukan saja karena Perang Salib mempersiapkan Eropa untuk bepergian akan tetapi lebih karena banyak orang ingin bepergian setelah diperkenalkan dengan produk-produk dari timur. Hal ini juga membantu pada masa-masa awal Renaissance di\u00a0Itali\u00a0karena banyak negara-kota di\u00a0Itali\u00a0yang sejak awal memiliki hubungan perdagangan yang penting dan menguntungkan dengan negara-negara\u00a0Salib, baik di\u00a0Tanah Suci\u00a0maupun kemudian di daerah-daerah bekas\u00a0Byzantium.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pertumbuhan perdagangan membawa banyak barang ke\u00a0Eropa\u00a0yang sebelumnya tidak mereka kenal atau amat jarang ditemukan dan sangat mahal. Barang-barang ini termasuk berbagai macam\u00a0rempah-rempah,\u00a0gading,\u00a0batu-batu mulia, teknik pembuatan barang kaca yang maju, bentuk awal dari\u00a0mesin, jeruk, apel, hasil-hasil tanaman Asia lainnya dan banyak lagi. Keberhasilan untuk melestarikan\u00a0Katolik\u00a0Eropa, bagaimanapun, tidak dapat mengabaikan kejatuhan Kekaisaran Kristen Byzantium. Tanah Byzantium adalah negara Kristen yang stabil sejak abad ke-4. Sesudah tentara Salib mengambil alih Konstantinopel pada tahun 1204 M, Byzantium tidak pernah lagi menjadi sebesar atau sekuat sebelumnya dan akhirnya jatuh pada tahun 1453 M.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Melihat apa yang terjadi terhadap Byzantium, Perang Salib lebih dapat digambarkan sebagai perlawanan\u00a0Katolik Roma\u00a0terhadap ekspansi Islam, ketimbang perlawanan Kristen secara utuh terhadap ekspansi Islam.\u00a0Di lain pihak, Perang Salib Keempat dapat disebut sebuah anomali. Kita juga dapat mengambil suatu kompromi atas kedua pendapat di atas, khususnya bahwa Perang Salib adalah cara Katolik Roma utama dalam menyelamatkan katolikisme, yaitu tujuan yang utama adalah memerangi Islam dan tujuan yang kedua adalah mencoba menyelamatkan kekristenan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Perang salib memiliki efek yang buruk tetapi terlokalisir pada dunia Islam. Dimana persamaan antara bangsa\u00a0Frank\u00a0dengan Tentara Salib meninggalkan bekas yang amat dalam. Muslim secara tradisional mengelu-elukan\u00a0Saladin, seorang ksatria\u00a0Kurdi, sebagai pahlawan Perang Salib. Pada abad ke-21, sebagian dunia Arab, seperti gerakan kemerdekaan Arab dan gerakan\u00a0Pan-Islamisme\u00a0masih terus menyebut keterlibatan dunia Barat di\u00a0Timur Tengah\u00a0sebagai perang salib. Perang Salib dianggap oleh dunia Islam sebagai pembantaian yang kejam dan keji oleh kaum Kristen Eropa.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Konsekuensi yang secara jangka panjang menghancurkan tentang Perang Salib. Menurut ahli sejarah,\u00a0Peter Mansfield, adalah pembentukan mental dunia Islam yang cenderung menarik diri. Ilustrasi dalam Injil Perancis dari tahun 1250 M yang menggambarkan pembantaian orang Yahudi (dikenali dari topinya yakni\u00a0Judenhut) oleh tentara Salib.Terjadi kekerasan tentara Salib terhadap bangsa Yahudi di kota-kota di\u00a0Jerman\u00a0dan\u00a0Hongaria, belakangan juga terjadi di\u00a0Perancis\u00a0dan\u00a0Inggris, dan pembantaian Yahudi di\u00a0Palestina\u00a0dan\u00a0Syria\u00a0menjadi bagian yang penting dalam sejarah\u00a0Anti-Semit. Meski tidak ada satu Perang Salib pun yang pernah dikumandangkan melawan Yahudi. Serangan-serangan ini meninggalkan bekas yang mendalam dan kesan yang buruk pada kedua belah pihak selama berabad-abad. Kebencian kepada bangsa Yahudi meningkat. Posisi sosial bangsa Yahudi di Eropa Barat semakin merosot dan pembatasan meningkat selama dan sesudah Perang Salib. Hal ini memuluskan jalan bagi legalisasi\u00a0Anti-Yahudi\u00a0oleh\u00a0Paus Innocentius III\u00a0dan membentuk titik balik bagi\u00a0Anti-Semit\u00a0abad pertengahan.<\/p>\n<ul style=\"font-weight: 400;\">\n<li>Pegunungan Kaukasus<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Orang Armenia merupakan pendukung setia Tentara Salib. Di\u00a0pegunungan Kaukasus\u00a0di\u00a0Georgia, di dataran tinggi\u00a0Khevsureti\u00a0yang terpencil, ada sebuah suku yang disebut\u00a0Khevsurs\u00a0yang dianggap merupakan keturunan langsung dari sebuah kelompok tentara Salib yang terpisah dari induk pasukannya dan tetap dalam keadaan terisolasi dengan sebagian budaya Perang Salib yang masih utuh. Memasuki abad ke-20, peninggalan dari baju perang, persenjataan dan baju rantai masih digunakan dan terus diturunkan dalam komunitas tersebut. Ahli\u00a0ethnografiRusia,\u00a0Arnold Zisserman, yang menghabiskan 25 tahun (1842 \u2013 1862) di pegunungan Kaukasus, percaya bahwa kelompok dari dataran tinggi Georgia ini adalah keturunan dari tentara Salib yang terakhir berdasarkan dari kebiasaan, bahasa, kesenian dan bukti-bukti yang lain. Penjelajah Amerika\u00a0Richard Halliburton\u00a0melihat dan mencatat kebiasaan suku ini pada tahun 1935 M.[3]<\/p>\n<p>[1]\u00a0Badri Yatim,\u00a0<em>Sejarah Peradapan Islam (Dirasah Islamiah II)<\/em>, (Jakarta: PT Raja Grafinda Persada, 2008).\u00a0h.\u00a076.<\/p>\n<p>[2]\u00a0Dedi\u00a0Supriyadi,\u00a0<em>Sejarah Peradaban Islam<\/em>, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2008), h. 171-175.<\/p>\n<p>[3]\u00a0Maslani dan Ratu Suntiah,\u00a0<em>Sejarah Peradapan Islam<\/em>, (Bandung: CV.\u00a0Insan Mandiri, 2010).\u00a0h. 137-138.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejarah dan Penyebab Terjadinya Perang Salib Perang salib terjadi selama kurang lebih dua abad. Peristiwa ini menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen terhadap orang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-27313","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27313","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27313"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27313\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27313"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27313"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27313"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}