{"id":27278,"date":"2022-11-19T10:14:43","date_gmt":"2022-11-19T03:14:43","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=27278"},"modified":"2022-11-19T10:14:43","modified_gmt":"2022-11-19T03:14:43","slug":"pendekatan-bahasa-dalam-kajian-al-quran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pendekatan-bahasa-dalam-kajian-al-quran\/","title":{"rendered":"Pendekatan Bahasa Dalam Kajian Al-Qur&#8217;an"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pendekatan-bahasa-dalam-kajian-al-quran\/#Pengertian_Bahasa_Linguistik\" >Pengertian Bahasa (Linguistik)<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pendekatan-bahasa-dalam-kajian-al-quran\/#Pembagian_Bidang_Linguistik_Bahasa\" >Pembagian Bidang\u00a0Linguistik\u00a0(Bahasa)<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pendekatan-bahasa-dalam-kajian-al-quran\/#Pendekatan_Linguistik_bahasa_dalam_kajian_Al-Quran\" >Pendekatan\u00a0Linguistik\u00a0(bahasa) dalam kajian Al-Qur\u2019an<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pendekatan-bahasa-dalam-kajian-al-quran\/#Aplikasi_Pendekatan_Lingustik_Dalam_Studi_Islam\" >Aplikasi Pendekatan Lingustik Dalam Studi Islam<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Bahasa_Linguistik\"><\/span><strong>Pengertian Bahasa (Linguistik)<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi antara satu dengan yang lain, agar komunikasi diantara mereka berjalan dengan baik dan lancar dibutuhkan sarana yang mampu menjembatani keinginan dan maksud yang akan disampaikan, dalam hal ini media komunikasi yang paling berpengaruh dalam kehidupan manusia adalah bahasa. Beberapa pakar berupaya memberikan defenisi bahasa.[1]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ibnu Jinni, seorang linguis Arab mendefinisikan bahasa sebagai bunyi yang digunakan oleh setiap kaum untuk menyampaikan maksudnya. Bunyi-bunyi bahasa menurut Plato secara implisit mengandung makna-makna tertentu. Aminuddin mengartikan bahasa sebagai sistem lambang arbitrer yang dipergunakan suatu masyarakat untuk berkerja sama, berinteraksi dan mengindentifikasi diri. Sebagai media komunikasi, bahasa harus dapat dipahami dan dimengerti, untuk itu bahasa harus bersifat sistematis dan sistemis. Bahasa mesti bersifat sistematis karena bahasa memiliki kaidah atau aturan tertentu, dan bersifat sistemis karena memilki subsistem, yaitu, subsistem fonologis, subsistem gramatikal dan subsistem leksikal.[2]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Dalam mencari makna dari sebuah kata ketiga subsistem bahasa tersebut menjadi objek kajian semantik.\u00a0<em>Linguistik<\/em>\u00a0adalah studi bahasa secara ilmiah dengan fokus utamanya adalah struktur bahasa, sedangkan tujuan dan objek utamanya adalah bagaimana orang menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Ahli linguistik yang disebut linguis menurut Verhaar tidak berurusan dengan bahasa sebagai alat pengungkap afeksi atau emosi, atau bahasa sebagai sifat khas golongan sosial atau bahasa sebagai alat prosedur pengadilan, hal tersebut menjadi urusan ahli psikologi, sosial dan hukum sedangkan yang menjadi kekhususan ilmu linguistik adalah bahasa sebagai bahasa.[3]<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pembagian_Bidang_Linguistik_Bahasa\"><\/span><strong>Pembagian Bidang\u00a0<em>Linguistik\u00a0<\/em>(Bahasa)<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Secara umum pembidangan\u00a0<em>linguistik<\/em>\u00a0di bagi atas:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menurut objek kajiannya dibagi menjadi dua bagian besar\u00a0<em>linguistik<\/em>\u00a0mikro dan makro. Objek kajian\u00a0<em>linguistik<\/em>\u00a0mikro adalah struktur internal bahasa itu sendiri yang mencakup struktur fonologi, morfologi, sintaksis dan leksikon. Sedangkan\u00a0<em>linguistik\u00a0<\/em>makro mengkaji bahasa dalam hubungannya faktor di luar bahasa seperti faktor sosiologis, psikologis, antropologi dan neurologi.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menurut tujuan kajiannya dibagi atas\u00a0<em>linguistik<\/em>\u00a0teoritis dan\u00a0<em>linguistik<\/em>\u00a0terapan.\u00a0<em>Linguistik<\/em>\u00a0teoritis bertujuan untuk mencari atau menemukan teori-teori\u00a0<em>linguistik<\/em>\u00a0belaka sedangkan kajian terapan ditujukan untuk menerapkan kaidah-kaidah linguistik dalam kegiatan praktis seperti pengajaran bahasa, penerjemahan, penyusunan kamus dan sebagainya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Linguistik<\/em>\u00a0sejarah dan sejarah\u00a0<em>linguistik<\/em>.\u00a0<em>Linguistik<\/em>\u00a0sejarah mengkaji perkembangan dan perubahan suatu bahasa, sedangkan sejarah linguistik mengakaji perkembangan ilmu\u00a0<em>linguistik<\/em>\u00a0mengenai tokoh-tokohnya, alira teorinya, amupun hasil kerjanya.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Verhaar merumuskan bidang-bidang dasar\u00a0<em>linguistik<\/em>\u00a0yang menyangkut struktur dasar tertentu dalam berbagai bagian: struktur bunyi dan bahasa (fonetik dan fonologi), struktur kata (morfologi), struktur antar kata dalam kalimat (sintaksis), arti atau makna (semantik), menyangkut siasat komunikasi antar orang (<em>parole<\/em>), pemakian bahasa dan hubungan tuturan bahasa dengan apa yang dibicarakan (pragmatik).<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pendekatan_Linguistik_bahasa_dalam_kajian_Al-Quran\"><\/span><strong>Pendekatan\u00a0<em>Linguistik\u00a0<\/em>(bahasa) dalam kajian Al-Qur\u2019an<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Selain Ferdinand De Saussure yang sering disebut Bapak atau pelopor\u00a0<em>linguistik<\/em>, ada beberapa tokoh yang fokus dalam kajian\u00a0<em>lingustik<\/em>\u00a0seperti Leonard Bloomfield, Jhon Rupert Firth, Noam Chomsky dan lain-lain. Dalam Islam ada beberapa nama seperti abu Aswad ad-Duali, imam Khalil, Sibaweh, Ibnu Jinni, Ibnu Faris dan yang lainnya. Islam, Al-Qur\u2019an dan Fenomena Linguistik Islam sering didefenisikan dengan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sebagai pedoman untuk kebahagian hidup di dunia dan di akhirat, wahyu terdiri atas dua macam: wahyu yang berbentuk al-Qur\u2019an dan wahyu yang berbentuk hadis, sunnah Nabi Muhammad saw, menguatkan hal ini Baidan mengemukakan hadis yang diriwayatkan Al-Hakim dari Abu Hurairah:\u00a0<em>Saya telah meninggalkan dua pusaka padamu. Kamu tidak akan sesat selama keduanya (dijadikan pedoman), yaitu kitab Allah dan Sunnahku.<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Terkait dengan wahyu yang artinya perkataan (kalam) Allah, Menarik apa yang diungkapkan Toshihiko Izutsu, menurutnya Allah mewahyukan melalui bahasa, dan bukan dalam bahasa yang misterius melainkan dengan bahasa manusia yang jelas dan dapat dimengerti. Itulah sebabnya manusia dapat mempelajari al-Qur\u2019an dari berbagai aspek, termasuk bahasa atau linguistiknya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Al-Qur\u2019an sebagai kitab suci yang diwahyukan kepada nabi Muhammad memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan umat manusia. Bukan hanya diperuntukan bagi manusia saja, bahkan makhluk selain manusiapun merasakan arti penting akan kehadiran al-Qur\u2019an. Sebagai kitab suci yang sempurna, didalam al-Qur\u2019an termuat segala macam yang terkait dengan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, alam semesta, alam ghaib dan yang lebih menariknya lagi al-Qur\u2019an mampu berbicara melewati waktunya. Sebagai sebuah mukjizat al-Qur\u2019an mampu berbicara tentang kehidupan yang akan datang, mengulas fenomena-fenomena ilmu pengetahuan yang belum pernah terfikirkan oleh manusia yang hidup pada zaman al-Qur\u2019an diturunkan , oleh karena itu tidak salah bila dikatakan al-Qur\u2019an merupakan mukjizat akhir zaman.[4]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Al-Qur\u2019an sebagai\u00a0<em>hudan<\/em>\u00a0(petunjuk) dapat dikaji dan diselami samudra hikmah dan keilmuanya dari berbagai aspek, sebagai kitab suci yang sempurna sudah tentu al-Qur\u2019an dapat difahami dari sisi manapun, Sebagaimana yang dikatakan oleh Izutsu bahwa al-Qur\u2019an bisa didekati dengan sejumlah cara pandang yang beragam seperti teologi, psikologi, sosiologi, tata bahasa, tafsir dan lain sebagainya. Dalam memahami kandungan al-Qur\u2019an kaum muslimin senantiasa berpegang teguh pada keyakinannya bahwa al-Qur\u2019an tidak ada keraguan di dalamnya, asumsi yang dibangun dalam memahami al-Qur\u2019an berpijak pada keyakinan akan kebenaran al-Qur\u2019an bukan berangkat dari keragu-raguan. Sebagaimana yang dilakukan oleh kaum orientalis dalam mengkaji al-Qur\u2019an, asumsi yang mereka bangun berdasarkan pada keraguan akan kebenaran al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Untuk dapat memahami isi kandungan al-Qur\u2019an dengan baik dan benar, menurut Doktor A\u2019isyah Abdurahman atau yang biasa dikenal dengan \u201cBintusy Syathi\u201d paling tidak dibutuhkan kemampuan dalam memahami mufradat (kosakata) al-Qur\u2019an dan\u00a0<em>uslub<\/em>\u00a0(gaya bahasa)-nya, dengan pemahaman yang bertumpu pada kajian metodologis-induktif dan menelusuri rahasia-rahasia ungkapannya. Issa J. Boullata dalam kata pengantarnya terhadap buku tafsir Bintusy-Syathi\u2019 menjelaskan bahwa, dalam mengkaji al-Qur\u2019an Bintusy-Syathi\u2019 menggunakan empat butir metode yang salah satunya disebutkan, \u201c karena bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan dalam al-Qur\u2019an, maka untuk memahami arti kata-kata yang termuat dalam kitab suci itu harus dicari arti\u00a0<em>linguistik\u00a0<\/em>aslinya yang memilki rasa keakraban kata tersebut dalam berbagai penggunaan material dan figuratifnya\u201d.[5]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Al-Qur\u2019an sebagai sumber dari segala sumber, panduan hidup dan kehidupan, ia tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan umat Islam. Oleh karena itu, banyak para pakar yang mencoba menggali dan menyelami samudra ilmu yang terkandung didalamnya. Untuk dapat memahaminya dibutuhkan keahlian dan kemampuan salah satunya adalah penguasaan bahasa. Menjadi problem bagi umat Islam dalam memahami al-Qur\u2019an yang diwahyukan dengan menggunakan bahasa Arab, Islam telah tersebar keseluruh penjuru dunia, dianut oleh semua bangsa dengan bahasa yang beranekaragam. Bahasa menjadi problem yang cukup mendasar bagi mereka yang ingin mendalami al-Qur\u2019an. bahkan disyaratkan bagi seorang Faaqih dan ahli tafsir untuk menguasai bahasa Arab. Sesuai dengan firman Allah SWT yang berbunyi:[6]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>\u201cSesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.\u201d<\/em>\u00a0(QS. Yusuf : 2)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dan Allah juga berfirman lagi dalam ayat lain:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>\u201cDan Demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab . . . \u201c\u00a0<\/em>(QS. Ar-Ra\u2019d : 37)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Mengulang kembali apa yang diungkapkan Shihab setidaknya ada beberapa hal yang menjadikan al-Qur\u2019an istimewa selain kemukjizatan dan kedalaman maknanya, yakni:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Nada dan langgamnya. Huruf dari pilihan kata yang dipilih melahirkan keserasian bunyi, kumpulan kata melahirkan pula keserasian irama dan rangkaian kalimat ayat-ayatnya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Singkat dan padat. Susunan kalimatnya terlihat singkat namun padat makna.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Memuaskan para pemikir dan orang kebanyakan karena kedalaman kandungan maknanya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Memuasakan akal dan jiwa.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Keindahan dan ketepatan maknanya.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sepanjang sejarah pemikiran Islam, dari dulu hingga sekarang persoalan mengenai apakah wahyu turun dalam bentuk verbal atau ide masih terus menimbulkan perdebatan, Sugiyono menyebutnya dengan istilah misteri teologis, karena ia merupakan sesuatu yang misterius, sulit dipahami oleh pikiran manusia namun harus diimani. Sebagai fenomena verbal, wahyu sulit dipahami karena pembicaranya Tuhan dan pendengarnya justru manusia.[7]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Hal senada juga diungkapkan Al-A\u2019zami bahwa penerimaan wahyu al-Quran ada di luar jangkauan penalaran akal manusia sehingga dalam memahami penalaran wahyu kita semata-mata merujuk pada laporan authentic dari Nabi Muhammad dan orang-orang kepercayaan yang menyaksikan kehidupan beliau. Tetapi sehubungan diturunkannya al-Quran yang sampai kehadapan kita dalam bentuk teks, maka pengkajian al-Qur\u2019an tidak luput dari pendekatan\u00a0<em>linguistik<\/em>. Allah swt telah memberikan keberkahan kepada bangsa Arab dengan diutusnya seorang nabi yang membawa risalah agama Islam, dengan al-Qur\u2019an sebagai kitab sucinya sehingga dengan demikian secara otomatis bahasa Arab menjadi bahasa pengantar al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan tersebarnya agama Islam keseluruh dunia menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa yang dipelajari dan diajarkan dengan tujuan untuk dapat memahami al-Qur\u2019an lebih mendalam. Penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur\u2019an bukan tanpa alasan, bahasa Arab bagian dari rumpun bahasa yang besar yaitu rumpun bahasa\u00a0<em>Samiyah<\/em>\u00a0(Semit), yang terbagi menjadi\u00a0<em>Syarqiyah<\/em>\u00a0(Timur) dan\u00a0<em>Gharbiyah<\/em>\u00a0(Barat),\u00a0<em>Syamiyah Gharbiyah<\/em>\u00a0dibagi lagi menjadi\u00a0<em>Gharbiyah Syimaliah<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>Gharbiyah Janubiyah<\/em>, sedangkan\u00a0<em>Syamiyah Syarqiyah<\/em>\u00a0dibagi menjadi\u00a0<em>Akadiyah\u00a0<\/em>dengan cabangnya yaitu\u00a0<em>Babiliyah<\/em>\u00a0(Babiloni) dan\u00a0<em>Asy-Syuriyah<\/em>\u00a0(Suriah). Dari jalur\u00a0<em>Gharbiyah Janubiyah<\/em>\u00a0inilah lahir bangsa Arab dan Habasyah.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada awalnya bangsa Arab bukanlah bangsa yang dikenal dan tidak ada yang dapat dibanggakan darinya, bahkan sejarahnya pun tidak jelas. Meskipun demikian, keberadaanya telah ada sejak zaman purba dan hal itu dapat ditemukan di dalam berbagai sumber, seperti di dalam kitab suci Perjanjian Lama dan dalam karya-karya sastra klasik bangsa Arab. Dalam hal ini Sayid Muzaffaruddin, ada empat sumber acuan yang ia gunakan dalam melihat historis bangsa Arab yaitu literatur Islam, literatur Yahudi, literatur Klasik, dan penemuan Arkelogi.[8]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sebagaimana fungsi bahasa pada umumnya bertujuan sebagai sarana untuk mengungkapkan ekspresi perasaan dan pikiran yang dituangkan dalam simbol suara, gerak, huruf dan kata. Begitupula halnya dengan bahasa Arab, namun bahasa Arab yang menjadi medium bahasa al-Qur\u2019an telah berproses menjadi bahasa Agama yang memilki fungsi dan peran yang lebih dari sekedar sebagai bahasa manusia pada umumnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Berkaitan dengan istilah \u201cbahasa agama\u201d, Komaruddin Hidayat menyebutkan bahasa agama adalah kalam ilahi yang kemudian terabadikan dalam kitab suci. Disini Tuhan dan kalam-Nya lebih ditekankan, sehingga pengertian bahasa agama yang paling mendasar adalah bahasa kitab suci. Pengertian yang kedua, bahasa agama adalah ungkapan serta perilaku keagamaan dari seseorang atau sebuah kelompok sosial. Jadi bahasa agama menurut pengertian yang kedua adalah wacana keagamaan yang dilakukan oleh umat beragama maupun sarjana ahli agama, meskipun tidak selalu menunjuk serta menggunakan ungkapan-ungkapan kitab suci.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Lebih lanjut Komaruddin memaparkan bahwa kehadiran teks al-Qur\u2019an di tengah umat Islam telah melahirkan pusat pusaran wacana keislaman yang tak pernah berhenti. Dengan kata lain, al-Qur\u2019an yang terkandung di dalamnya berbagai macam khazanah keilmuan telah menjadi poros ilmu pengetahuan. Al-Qur\u2019an telah melahirkan berbagai macam disiplin keilmuan sehingga tidaklah salah bila dikatakan al-Qur\u2019an menjadi semacam ledakan nuklir yang radiasinya memancar ke segala pelosok kehidupan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Bahasa Agama, dalam hal ini al-Qur\u2019an, merupakan sesuatu yang bersifat transenden dan universal. Ia memilki kelebihan dan keistimewaan tersendiri dibandingkan bahasa-bahasa yang ada. Syed M. Naquib al-Attas, sebagaimana yang dukutip oleh Sugeng, menyebutkan bahwa bahasa Arab tidak termasuk dalam kategori bahasa-bahasa lainnya berkenaan dengan struktur semantiknya disebabkan kenyataan sebagai berikut.<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Struktur linguistiknya dibangun atas suatu sistem akar-akar kata yang tegas.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Struktur semantiknya diatur oleh sistem medan semantik tertentu yang menentukan struktur konseptual yang terdapat dalam kosakatanya dan dimantapkan secara permanen oleh hal-hal yang disebut diatas<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Kata, makna, tata bahasa, dan persajakannya telah direkam dan dimantapkan secara ilmiah sedemikian rupa sehingga dapat dipelihara ketetapan semantiknya<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Susunan bahasa al-Qur\u2019an mengandung unsur keindahan bahasa Ilahi yang dapat membuat manusia terkagum dan terpesona bila mendengar atau membacanya karena bahasa al-Qur\u2019an terpadu secara harmonis antara isi dan maknanya.\u00a0\u00a0Dengan keberadaan al-Qur\u2019an bangsa Arab telah diuntungkan, paling tidak oleh tiga aspek, Pertama aspek bahasa, dengan digunakan bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur\u2019an menjadikan bahasa Arab terjaga dari kepunahan dan menjadi bahasa mendunia sehingga Doktor Ramdan Abu Tawab menulis satu bab dalam bukunya,\u00a0<em>law la al-Qur\u2019an ma kanat arabiyah<\/em>\u00a0<em>(Kalaulah bukan karena al-Qur\u2019an, musnah sudah bahasa Arab)<\/em>. Kedua , aspek politik. Dimana sebelum kedatangan Islam, bangsa Arab tidak ada artinya, mereka masih menjadi bangsa yang terbelakang, bangsa yang bar-bar hingga Allah mengangkat derajat mereka dengan datangnya seorang nabi yang membawa ajaran Islam. Bersamaan dengan penyebaran dakwah, Islam telah mengenalkan bangsa Arab ke seluruh dunia dan menjadikannya bangsa yang memiliki kemuliaan dengan Islam. Kalaulah bukan Islam bangsa Arab lebih hina dari bangsa yang tidak beradab, ketiga, aspek ekonomis.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan disyari\u2019atkannya ibadah haji menjadikan kaum Muslimin<br \/>\nberbondong-bondong datang ke Baitullah sehingga secarah ekonomis memberikan pemasukan devisa yang cukup besar bagi kerajaan Saudi Arabia setiap tahunya. Hal tersebut belum lagi ditambah dengan ibadah Umrah. Disamping itu, berkat do\u2019a nabi Ibrahim, tanah Arab telah diberi keberkahan dengan sumber minyak bumi yang melimpah, dan berkat do\u2019a nabi Muhammad tanah Arab diakhir zaman kelak tidak akan tersentuh oleh Dajjal.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Aplikasi_Pendekatan_Lingustik_Dalam_Studi_Islam\"><\/span><strong>Aplikasi Pendekatan Lingustik Dalam Studi Islam<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Linguistik dalam hal ini memegang peran yang cukup penting dalam memahami teks-teks keagamaan. Tidak hanya yang termaktub dalam al-Qur\u2019an tetapi juga terhadap hadist nabi. Dalam ajaran Islam banyak aturan dan ritual keagamaan yang berkaitan dengan trem-trem kebahasaan, seperti konsep kepercayaan yang terwakili oleh istilah, iman, Islam, mukmin, kafir, fasik, murtad dan sebaginya. Lalu ada juga istilah-istilah keagamaan yang berkaitan dengan relasi Tuhan dan manusia, seperti konsep Ibadah, jihad, hijrah, haji, zakat dan lain sebagainya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pemahaman tentang konsep-konsep keagamaan diawali dari pemahaman dari sudut kebahasaan sangat diperlukan, seperti contoh kata zakat, pada awalnya kata zakat merujuk pada makan tumbuh\/berkembang secara umum, namun setelah datang Islam, kata zakat memiliki makna yang lebih menyempit merujuk kepada, batasan yang telah diwajibkan untuk dikelurkan dan diberikan kepada yang berhak dari harta yang telah sampai pada nasab yang telah ditentukan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Secara teori kebahasaan, suatu bahasa akan dapat mengalami perkembangan, pergeseran atau bahkan perubahan makna, hal tersebut bisa dalam bentuk meluas ataupun menyempit. Perubahan makna dapat juga berarti penggantian rujukan, rujukan yang pernah ada diganti dengan rujukan yang baru. Kata hijrah misalnya secara leksikal ia memilki makna \u201ckeluar dari sutu negeri ke negeri yang lain\u201d. Namun ketika kata hijrah telah terhubung dengan kata iman dan jihad dalam sebuah kalimat maka makna yang terkandung didalamnya tidak hanya sekedar sebuah aktifitas perpindahan badan dari satu tempat ketempat yang lain.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam konteks ini kata hijrah akan mengalami perkembangan makna yang bisa jadi mengarah kepada perluasan maupun penyempitan. Islam sebagai agama wahyu telah memberikan pencerahan dan pembaharuan dari segala bidang, baik itu kebudayaan, kepercayaan, tatanan hidup bermasyarakat, bernegara dan termasuk juga didalamnya pembaharuan dari segi kebahasaan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Beberapa kunci terminologi etika Jahiliyah telah mengalami transformasi semantik yang spesifik, seperti kar\u012bm yang merupakan derivasi dari karam dan lawan dari bakh\u012bl terdapat dalam al-Qur&#8217;an sebanyak 47 kali dengan berbagai derivasinya. Pada awalnya kar\u012bm merupakan cita-cita Jahiliyah tertinggi dalam hal kedermawanan tanpa perhitungan sebagai manifestasi langsung dari kemuliaan. Kemudian menghadapi transformasi ke dalam sesuatu semantik yang mendalam, pada saat yang sama, dan dalam kaitannya dengan hal itu, kata karim lalu diterapkan kepada seseorang yang sungguh-sungguh percaya dan taat, yang bukannya menghabiskan kekayaannya dengan membabi buta, tanpa berpikir panjang dan semata-mata untuk pamer, namun sama sekali tidak ragu-ragu untuk menggunakan kekayaannya untuk tujuan yang jelas dan benar-benar mulia berdasarkan konsep yang baru, yakni membelanjakan kekayaanya di jalan Allah .<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Masih banyak lagi konsep-konsep keagamaan yang harus difahami secara utuh dan mendalam, hal tersebut bertujuan agar tidak terjadinya kesalahan pemahaman yang akan berakibat pada kesalahan dalam pengamalan. Dapat dibayangkan misalnya apabila umat Islam memahami kata sholat sebagaimana pengertiannya dimasa jahiliyah. Kata sholat pada mulanya oleh bangsa Arab diartikan sebagai \u201cdo\u2019a\u201d, padahal setelah kata sholat digunakan dan dimasukan dalam trem yang sangat pokok dalam ajaran Islam, kata sholat telah mengalami pemaknaan yang lebih khusus lebih dari sekedar do\u2019a, yaitu sebuah aktifitas yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Sholat juga menjadi pokok atau tiang dari agama Islam, sebagaimana yang disampaikan oleh hadits-hadits nabi saw. Untuk dapat mengetahui makna dari istilah-istilah dalam ibadah, mua\u2019amalah dan akidah secara mendalam dan benar, tidak berlebihan kiranya bila dikatakan bahasa memegang peran yang sangat besar.[9]<\/p>\n<p>[1]\u00a0Alwasilah Chaedar A.\u00a0<em>Beberapa Madhab dan Dikotomi Teori Linguistik<\/em>, (Bandung: Angkasa, 1993), h. 67<\/p>\n<p>[2]\u00a0<em>ibid<\/em><\/p>\n<p>[3]\u00a0Jogja Camp,\u00a0<em>http:\/\/carapedia.com\/pengertian_definisi_linguistik_menurut_para_ahli_info952.html<\/em><em>\u00a0<\/em><\/p>\n<p>[4]\u00a0Muhammad, Syeikh,\u00a0<em>Studi Al-Qur\u2019an Al-Karim,\u00a0<\/em>(Bandung: Pustaka Setia, 2002), h.14<\/p>\n<p>[5]\u00a0Khaeruman, Badri,\u00a0<em>Memahami Pesan Al-Qur\u2019an,\u00a0<\/em>(Bandung: Pustaka Setia, 2004), h. 19<\/p>\n<p>[6]\u00a0Qardhawi, Yusuf,\u00a0<em>Berinteraksi dengan Al-Qur\u2019an,\u00a0<\/em>(Jakarta: Gema Insani, 1999), h. 1311<\/p>\n<p>[7]\u00a0Shihab, Quraish M.\u00a0<em>Mukjizat Al-Qur\u2019an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib, (<\/em>Bandung: Mizan, 2007), cet. ke-2, h. 120<\/p>\n<p>[8]\u00a0\u00a0Muhammad, Syeikh,\u00a0<em>Studi Al-Qur\u2019an Al-Karim, op.cit.,\u00a0<\/em>h. 18<\/p>\n<p>[9] Abu Syakir, http:\/\/abusyakir80.blogspot.com\/2010\/03\/pendekatan-linguistik-dalam-studi-islam_16.html<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Bahasa (Linguistik) Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi antara satu dengan yang lain, agar komunikasi diantara mereka berjalan dengan baik dan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-27278","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27278","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27278"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27278\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27278"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27278"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27278"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}