{"id":27252,"date":"2022-11-19T09:46:42","date_gmt":"2022-11-19T02:46:42","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=27252"},"modified":"2022-11-19T09:46:42","modified_gmt":"2022-11-19T02:46:42","slug":"supervisi-pendidikan-pengertian-tujuan-fungsi-prinsip-dan-tipe","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/supervisi-pendidikan-pengertian-tujuan-fungsi-prinsip-dan-tipe\/","title":{"rendered":"Supervisi Pendidikan : Pengertian, Tujuan, Fungsi, Prinsip dan Tipe"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/supervisi-pendidikan-pengertian-tujuan-fungsi-prinsip-dan-tipe\/#Pengertian_Supervisi_Pendidikan\" >Pengertian Supervisi Pendidikan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/supervisi-pendidikan-pengertian-tujuan-fungsi-prinsip-dan-tipe\/#Tujuan_Supervisi_Pendidikan\" >Tujuan Supervisi Pendidikan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/supervisi-pendidikan-pengertian-tujuan-fungsi-prinsip-dan-tipe\/#Fungsi_Supervisi_Pendidikan\" >Fungsi Supervisi Pendidikan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/supervisi-pendidikan-pengertian-tujuan-fungsi-prinsip-dan-tipe\/#Prinsip_Dasar_Supervisi\" >Prinsip Dasar Supervisi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/supervisi-pendidikan-pengertian-tujuan-fungsi-prinsip-dan-tipe\/#Tipe_Supervisi_Pendidikan\" >Tipe Supervisi Pendidikan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Supervisi_Pendidikan\"><\/span>Pengertian Supervisi Pendidikan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dilihat dari sudut etimologi supervisi berasal dari kata\u00a0<em>super<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>vision<\/em>\u00a0yang masing-masing kata itu berarti atas dan penglihatan.[2]\u00a0Jadi supervisi pendidikan dapat diartikan sebagai penglihatan dari atas. Melihat dalam hubungannya dengan masalah supervisi dapat diartikan dengan menilik, mengontrol, atau mengawasi.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Supervisi ialah pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar-mengajar yang lebih baik. Orang yang melakukan supervisi disebut dengan supervisor.[3]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam\u00a0<em>Dictionary of\u00a0\u00a0Education<\/em>, Good Carter\u00a0\u00a0memberikan pengertian bahwa supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas-petugas lainnya dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru, merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran, metode, dan evaluasi pengajaran.[4]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Konsep supervisi modern dirumuskan oleh Kimball Wiles sebagai berikut :\u00a0<em>\u201cSupervision is assistance in the devolepment of a better teaching learning situation\u201d. Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih baik.\u00a0<\/em>Rumusan ini mengisyaratkan bahwa layanan supervisi meliputi keseluruhan situasi belajar mengajar (<em>goal, material, technique, method, teacher, student, an envirovment).[5]<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar dan belajar pada khususnya. Supervisi dapat kita artikan sebagai pembinaan. Sedangkan sasaran pembinaan tersebut bisa untuk kepala sekolah, guru, pegawai tata usaha. Namun yang menjadi sasaran supervisi diartikan pula pembinaan guru.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tujuan_Supervisi_Pendidikan\"><\/span>Tujuan Supervisi Pendidikan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Semua kegiatan yang dilakukan tentu memiliki tujuan dan selalu mengarah kepada tujuan yang ingin dicapai tersebut. Pendidikan merupakan salah satu bentuk kegiatan manusia yang memiliki tujuan yang ingin dicapai dari proses pelaksanaanya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Merumuskan tujuan supervisi pendidikan harus dapat membantu mencari dan menentukan kegiatan-kegiatan supervisi yang lebih evektif. Kita tidak dapat berbicara tentang efektivitas suatu kegiatan, jika tujuannya belum jelas. Tujuan supervisi pendidikan adalah:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membantu Guru agar dapat lebih mengerti\/menyadari tujuan-tujuan pendidikan di sekolah, dan fungsi sekolah dalam usaha mencapai tujuan pendidikan itu.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membantu Guru agar mereka lebih menyadari dan mengerti kebutuhan dan masalah-masalah yang dihadapi siswannya; supaya dapat membantu siswanya itu lebih baik lagi.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Untuk melaksanakan kepemimpinan efektif dengan cara yang demokratis dalam rangka meningkatkan kegiatan-kegiatan profesional di sekolah, dan hubungan antara staf yang kooperatif untuk bersama-sama meningkatkan kemampuan masing-masing.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menemukan kemampuan dan kelebihan tiap guru dan memanfaatkan serta mengembangkan kemampuan itu dengan memberikan tugas dan tanggung jawab yang sesuai dengan kemampuannya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membantu guru meningkatkan kemampuan penampilannya didepan kelas.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membantu guru baru dalam masa orientasinya supaya cepat dapat menyesuaikan diri dengan tugasnya dan dapat mendayagunakan kemampuannya secara maksimal.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membantu guru menemukan kesulitan belajar murid-muridnya dan merencanakan tindakan-tindakan perbaikannya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menghindari tuntutan-tuntutan terhadap guru yang diluar batas atau tidak wajar, baik tuntutan itu datangnya dari dalam (sekolah) maupun dari luar (masyarakat).[6]<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut Hasbullah, fungsi dan tujuan supervisi pendidikan adalah sebagai berikut.<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Sebagai arah pendidikan. Dalam hal ini, tujuan akan menunjukkan arah dari suatu usaha, sedangkan arah tadi menunjukkan jalan yang harus ditempuh dari situasi sekarang kepada situasi berikutnya. Sebagai contoh, guru yang berkeinginan membentuk anak didikanya menjadi manusia yang cerdas maka arah dari usahanya ialah menciptakan situasi belajar yang dapat mengembangkan kecerdasan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tujuan sebagai titik akhir. Dalam kaitan ini, apa yang diperhatikan adalah hal-hal yang terletak pada jangkauan masa datang. Misalnya, jika seorang pendidik bertujuan agar anak didiknya menjadi manusia yang berakhlak mulia, tentu penekanannya di sini adalah deskripsi tentang pribadi akhlakul karimah yang diinginkannya tersebut.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tujuan sebagai titik pangkal mencapai tujuan lain. Dalam hal ini, tujuan pendidikan yang satu dengan yang lain merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Memberi nilai pada usaha yang dilakukan. Dalam konteks usaha-usaha yang dilakukan, kadang-kadang didapati tujuannya yang lebih luhur dan lebih mulia dibanding yang lainnya. Semua ini terlihat apabila berdasarkan nilai-nilai tertentu.[7]<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tujuan supervisi pendidikan ialah mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik melalui pembinaan dan peningkatan profesi mengajar.[8]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tujuan utama supervisi adalah memperbaiki pengajaran. Tujuan umum Supervisi adalah memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada\u00a0guru\u00a0dan staf agar personil\u00a0 tersebut mampu meningkatkan kualitas kinerjanya, dalam melaksanakan tugas dan melaksanakan proses\u00a0belajar\u00a0mengajar.[9]<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Fungsi_Supervisi_Pendidikan\"><\/span>Fungsi Supervisi Pendidikan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut Swearingen terdapat 8 fungsi supervisi sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Mengkoordinasi semua usaha sekolah<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Usaha-usaha sekolah meliputi:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Usaha tiap guru<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Guru ingin mengemukakan ide dan menguraikan materi pelajaran menurut pandangannya ke arah peningkatan. Usaha-usaha yang bersifat individu tersebut perlu dikoordinasi. Itulah fungsi supervisi.<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Usaha-usaha sekolah<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sekolah dalam menentukan kebijakan, merumuskan tujuan-tujuan atas setiap kegiatan sekolah, termasuk program-program sepanjang tahun ajaran, perlu ada koordinasi yang baik.<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Usaha-usaha bagi pertumbuhan jabatan<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Setiap guru ingin bertumbuh dalam jabatannya. Oleh karena itu, guru selalu belajar terus menerus, mengikuti seminar, workshop, dan lain-lain. Mereka berusaha meningkatkan diri agar lebih baik. Untuk itu, perlu ada koordinasi yang merupakan tugas dari supervisi.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Memperlengkapi kepemimpinan sekolah<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kepemimpinan merupakan suatu ketrampilan yang harus dipelajari dan membutuhkan latihan yang terus-menerus. Salah satu fungsi supervisi adalah melatih dan memperlengkapi guru-guru agar mereka memiliki ketrampilan dalam kepemimpinan di sekolah.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Memperluas pengalaman guru<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Supervisi harus dapat memotivasi guru-guru untuk mau belajar dari pengalaman nyata dilapangan. Melalui pengalaman baru ini mereka dapat belajar untuk memperkaya pengetahuan mereka.<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menstimukasi usaha-usaha sekolah yang kreatif<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Seorang supervisi harus bisa memberikan stimulus agar guru-guru tidak hanya berdasarkan instruksi atasan, tetapi mereka adalah pelaku aktif dalam proses belajar mengajar.<\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Memberi fasilitas dan penilaian yang terus menerus<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Penilaian yang diberikan harus bersifat menyeluruh dan kontinu. Mengadakan penilaian secara teratur merupakan suatu fungsi utama dari supervisi pendidikan.<\/p>\n<ol start=\"6\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menganalisis situasi belajar mengajar<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tujuan dari supervisi adalah untuk memperbaiki situasi belajar mengajar. Penganalisisan memberi pengalaman baru dalam menyusun strategi dan usaha ke arah perbaikan.<\/p>\n<ol start=\"7\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap anggota staf supervisi berfungsi untuk memberikan dorongan stimulasi dan membantu guru agar dapat mengembangkan pengetahuan dalam ketrampilan mengajar.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Memberi wawasan yang lebih luas dan terintegrasi dalam merumuskan tujuan-tujuan pendidikan dan meningkatkan kemampuan mengajar guru-guru.[10]<\/li>\n<\/ol>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Prinsip_Dasar_Supervisi\"><\/span>Prinsip Dasar Supervisi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut Sahertian, supervisi memiliki prinsip-prinsip yang harus dilaksanakan sebagai berikut.<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Prinsip Ilmiah\u00a0<em>(scientific)<\/em>. Prinsip ini mengandung ciri-ciri sebagai berikut:<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Kegiatan supervisi dilaksanakan berdasarkan data objektif yang diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan proses belajar mengajar.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Untuk memperoleh data perlu diterapkan alat perekam data.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Setiap kegiatan supervisi dilaksanakan secara sistematis, berencana dan kontinu.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Prinsip Demokratis<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Demokratis mengandung makna menjunjung tinggi harga diri dan martabat guru, bukan berdasarkan atas bawahan, melainkan berdasarkan rasa kesejawatan.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Prinsip Kerja sama<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Mengembangkan usaha bersama, atau menurut istilah supervisi\u00a0<em>sharing of idea<\/em>,\u00a0<em>sharing of experience<\/em>, memberi support mendorong, dan menstimulasi guru sehingga mereka merasa tumbuh bersama.<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Prinsip konstruktif dan kreatif<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Setiap guru akan merasa termotivasi dalam mengembangkan potensi kreatifitas jika supervisi mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, bukan melalui cara-cara yang menakutkan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Selain empat prinsip supervisi diatas, juga terdapat prinsip supervisi menurut Gunawan.<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Prinsip fundamental\/dasar<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Setiap pemikiran, sikap, dan tindakan seorang supervisor harus berdasar \/ berlandaskan pada sesuatu yang kukuh, kuat serta dapat dipulangkan kepadannya.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Prinsip praktis<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam pelaksanaan sehari-hari seorang supervisor berpedoman pada prinsip positif dan prinsip negatif.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Prinsip positif seorang supervisor, antara lain sebagai berikut.<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Supervisi harus konstruktif dan kreatif<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Supervisi harus harus dilakukan berdasarkan hubungan profesional, bukan berdasar hubungan pribadi.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Supervisi hendaknya progresif, tekun, sabar, tabah, dan tawakal.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Supervisi hendaklah dapat mengembangkan potensi, bakat, dan kesanggupan untuk mencapai kemajuan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Supervisi hendaklah senantiasa memperhatikan kesejahteraan dan hubungan baik yang dinamik.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sementara prinsip negatif seorang supervisor, antara lain sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Supervisi tidak boleh memaksakan kemauannya kepada orang-orang yang disupervisi.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Supervisi tidak boleh dilakukan berdasarkan hubungan pribadi, keluarga, pertemanan, dan sebagainya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Supervisi hendaknya tidak menutup kemungkinan terhadap perkembangan dan hasrat untuk maju bagi bawahannya dengan dalih apapun. Supervisi tidak boleh terlalu cepat mengharapkan hasil dan mendesak bawahan.<\/li>\n<\/ol>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tipe_Supervisi_Pendidikan\"><\/span>Tipe Supervisi Pendidikan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Otokratis\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0: supervisor penentu segalanya<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Demokratis\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0: mementingkan musyawarah mufakat dan bekerjasama atau gontong royong secara kekeluargaan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pseudo\/Quasi demokratis (demokratis semu)<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam praktiknya sering terdapat seorang supervisor yang berbuat seolah-olah demokratis, seperti mengadakan rapat untuk memusyawarahkan sesuatu permasalahan tetapi dalam rapat tersebut supervisor berusaha memaksakan rencananya\/keinginannya untuk dituruti bawahannya dengan cara\/muslihat yang halus dan licin.<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">manipulasi diplomatis : mengarahkan orang yang disupervisi untuk melaksanakan apa yang dikehendaki supervisor dengan cara musulihat.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>laissez-faire<\/em>\u00a0: memberikan kebebasan dan keleluasan kepada orang yang disupervisi untuk melakukan apa yang dianggap mereka baik.[11]<\/li>\n<\/ol>\n<p>[1]\u00a0Maryono,\u00a0<em>Dasar-Dasar &amp; Teknik Menjadi Supervisor Pendidikan,<\/em>\u00a0(Yogyakarta:Ar-Ruzz Media, 2011), h.13<\/p>\n<p>[2]\u00a0Maryono,\u00a0<em>Dasar-Dasar &amp; Teknik Menjadi Supervisor Pendidikan,<\/em>\u00a0(yogyakarta:Ar-Ruzz Media, 2011), h. 13<\/p>\n<p>[3]\u00a0Suryo Subroto,\u00a0<em>\u00a0Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan di Sekolah<\/em>. (Jakarta: Bina Aksara,1988), h. 134<\/p>\n<p>[4]\u00a0Maryono,\u00a0\u00a0<em>Dasar-Dasar &amp; Teknik Menjadi Supervisor Pendidikan,<\/em>\u00a0(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), h.17<\/p>\n<p>[5]\u00a0http:\/\/www.psb-psma.org\/content\/blog\/pentingnya-supervisi-pendidikan<\/p>\n<p>[6]\u00a0Moh Rifai,\u00a0<em>Supervisi Pendidikan.<\/em>\u00a0(Bandung: Jemmars, 1982), hlm.39-46<\/p>\n<p>[7]\u00a0Maryono,\u00a0\u00a0<em>Dasar-Dasar &amp; Teknik Menjadi Supervisor Pendidikan,<\/em>\u00a0(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 19-20<\/p>\n<p>[8]\u00a0Suryo Subroto,\u00a0<em>\u00a0Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan di Sekolah<\/em>. (Jakarta: Bina Aksara,1988), hlm.134<\/p>\n<p>[9]\u00a0http:\/\/www.sarjanaku.com\/2011\/05\/supervisi-pendidikan.html<\/p>\n<p>[10]\u00a0Maryono,\u00a0\u00a0<em>Dasar-Dasar &amp; Teknik Menjadi Supervisor Pendidikan,<\/em>\u00a0<em>op.cit.,\u00a0<\/em>h.21-23<\/p>\n<p>[11]\u00a0<em>Ibid,\u00a0<\/em>h. 25<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Supervisi Pendidikan Dilihat dari sudut etimologi supervisi berasal dari kata\u00a0super\u00a0dan\u00a0vision\u00a0yang masing-masing kata itu berarti atas dan penglihatan.[2]\u00a0Jadi supervisi pendidikan dapat diartikan sebagai penglihatan dari&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-27252","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27252","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27252"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27252\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27252"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27252"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27252"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}