{"id":27116,"date":"2022-11-18T08:58:14","date_gmt":"2022-11-18T01:58:14","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=27116"},"modified":"2022-11-18T08:58:14","modified_gmt":"2022-11-18T01:58:14","slug":"kebebasan-tanggung-jawab-dan-hati-nurani-serta-hubungannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kebebasan-tanggung-jawab-dan-hati-nurani-serta-hubungannya\/","title":{"rendered":"Kebebasan, Tanggung Jawab dan Hati Nurani serta Hubungannya"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kebebasan-tanggung-jawab-dan-hati-nurani-serta-hubungannya\/#Kebebasan\" >Kebebasan<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kebebasan-tanggung-jawab-dan-hati-nurani-serta-hubungannya\/#a_Pengertian\" >a. Pengertian<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kebebasan-tanggung-jawab-dan-hati-nurani-serta-hubungannya\/#b_Jenis_Kebebasan\" >b. Jenis Kebebasan<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kebebasan-tanggung-jawab-dan-hati-nurani-serta-hubungannya\/#Tanggung_Jawab\" >Tanggung Jawab<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kebebasan-tanggung-jawab-dan-hati-nurani-serta-hubungannya\/#a_Pengertian-2\" >a. Pengertian<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kebebasan-tanggung-jawab-dan-hati-nurani-serta-hubungannya\/#b_Jenis_Tanggung_JAwab\" >b. Jenis Tanggung JAwab<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kebebasan-tanggung-jawab-dan-hati-nurani-serta-hubungannya\/#Hati_Nurani\" >Hati Nurani<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kebebasan-tanggung-jawab-dan-hati-nurani-serta-hubungannya\/#a_Pengertian-3\" >a. Pengertian<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kebebasan-tanggung-jawab-dan-hati-nurani-serta-hubungannya\/#b_Fungsi_Kekuatan_Hati_Nurani\" >b. Fungsi Kekuatan Hati Nurani<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kebebasan-tanggung-jawab-dan-hati-nurani-serta-hubungannya\/#Hubungan_antara_Kebebasan_Tanggung_Jawab_dan_Hati_Nurani_dengan_Akhlak\" >Hubungan antara Kebebasan, Tanggung Jawab dan Hati Nurani dengan Akhlak<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kebebasan\"><\/span><strong>Kebebasan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"a_Pengertian\"><\/span><b><strong style=\"font-style: inherit;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">a. Pengertian<\/span><\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Di antara masalah yang menjadi bahan perdebatan sengit dari sejak dahulu hingga sekarang adalah masalah kebebasan atau kemerdekaan menyalurkan kehendak dan kemauan. Para ahli teologiter membagi menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok yang berpendapat bahwa manusia memiliki kehendak bebas dan merdeka untuk melakukan perbuatannya menurut kemauannya sendiri. Kedua kelompok yang berpendapat bahwa manusia tidak memiliki kebebasan untuk melaksanakan perbuatannya. Mereka dibatasi dan ditentukan oleh Tuhan. Diibaratkan sebagai wayang yang mengikuti sepenuhnya oleh kehendak dalang.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Di zaman baru, perdebatan masalah kebebasan dan keterpaksaan tersebut muncul kembali. Sebagian ahli filsafat seperti Spinoza, Hucs dan Malebrache berpendapat bahwa manusia melakukan suatu karena terpaksa. Sementara sebagian ahli filsafat lainnya berpendapat bahwa manusia meliliki kebebasan untuk menetapkan perbuatannya. Kebebasan bagi individu berarti bahwa dia bebas untuk berbuat sesuai dengan keputusan dan rencananya.[1]<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmad Charris Zubair kebebasan adalah terjadi apabila kemungkinan \u2013 kemungkinan untuk bertindak tidak dibatasi oleh suatu paksaan atau keterkaitan kepada orang lain. Paham ini disebut bebas negatif, karena hanya dikatakan bebas dari apa, tertapi tidak ditentukan bebas untuk apa.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Seseorang disebut bebas apabila:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Dapat menentukan sendiri tujuan \u2013 tujuannya dan apa yang dilakukannya,<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Dapat memilih antara kemungkinan \u2013 kemungkinan yang tersedia baginya,<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Tidak dipaksa atau terikat untuk membuat sesuatu yang tidak akan dipilihnya sendiri ataupun dicegah dari berbuat apa yang dipilihnya sendiri. Oleh kehendak orang lain, Negara ataupun kekuasaan apapun.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Selain itu kebebasan meliputi segala macam kegiatan manusia, yaitu kegiatan yang disadari, disengaja dan dilakukan demi suatu tujuan yang selanjutnya disebut tindakan. Namun bersamaan dengan itu manusia juga memiliki keterbatasan atau dipaksa menerimanya apa adanya. Misalnya keterbatasan dalam menentukan jenis kelaminnya, keterbatasan kesukuan kita, keterbatasan asal keturunan kita, bentuk tubuh kita, dan sebagainya. Namun keterbatasan yang demikian itu sifatnya\u00a0\u00a0fisik, dan tidak membatasi kebebasan yang sifatnya rohaniah. Dengan demikian keterbatasan \u2013 keterbatasan tersebut tidak mengurangi kebebasan kita.<\/span><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"b_Jenis_Kebebasan\"><\/span><b><\/b><b><strong style=\"font-style: inherit;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">b. Jenis Kebebasan<\/span><\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Dilihat dari sifatnya, kebebasan dapat dibagi menjadi tiga. Diantaranya:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Kebebasan jasmaniah.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Kebebasan jasmaniah merupakan kebebasan dalam mengerakkan dan mempergunakan anggota badan yang dimiliki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">2. Kebebasan kehendak (rohaniah).<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Kebebasan kehendak (rohaniah) merupakan kebebasan untuk menghendaki sesuatu. Jangkauan kebebasan kehendak adalah sejauh jangkauan kemungkinan untuk berfikir, karena manusia dapat memikirkan apa saja dan dapat menghendaki apa saja.\u00a0[2]<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">3. Kebebasan moral.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Dalam arti luas berarti tidak adanya macam \u2013 macam ancaman, tekanan, larangan dan\u00a0\u00a0tidak sampai berupa paksaan fisik. Dan dalam arti sempit berarti tidak adanya kewajiban, yaitu kebebasan berbuat apabila terdapat kemungkinan \u2013 kemungkinan untuk bertindak. Manusia bebas berarti manusia yang dapat menentukan sendiri tindakannya.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Dalam Al-Qur\u2019an surat Fushilat ayat 40 Allah berfirman:<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Lakukanlah apa yang kamu kehendaki! Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Dengan demikian kebebasan ternyata merupakan tanda dan ungkapan martabat manusia, sebagai satu \u2013 satunya makhluk yang tidak hanya ditentukan dan digerakkan, melainkan yang dapat menentukan duniannya dan dirinya sendiri. Apa saja yang dilakukan tidak atas kesadaran dan keputusannya sendiri dianggap hal yang tidak wajar.\u00a0[3]<\/span><a name=\"_Toc108466548\"><\/a><\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tanggung_Jawab\"><\/span><strong>Tanggung Jawab<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"a_Pengertian-2\"><\/span><b><\/b><b><strong style=\"font-style: inherit;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">a. Pengertian<\/span><\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Kata tanggung jawab berkaitan dengan kata \u201cjawab\u201d, dengan demikian, bertanggung jawab berarti dapat menjawab. Orang yang bertanggung jawab adalah orang yang dapat diminta penjelasan tentang tingkah lakunya. Bukan saja ia bisa menjawab akan tetapi juga tidak mengelak. Kata tanggung jawab juga mengandung makna penyebab, yaitu mempertanggungjawabkan sesuatu yang disebabkan olehnya. Namun, untuk bertanggung jawab, tidaklah cukup seseorang menjadi penyebab, tetapi\u00a0\u00a0juga menjadi penyebab bebas.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Menurut K. Bertens, tanggung jawab terkait dengan kebebasan adalah syarat mutlak untuk tanggung jawab. Bila tidak ada kebebasan, maka tidak ada pula tanggung jawab\u201d. Konsekuensi dari kebebasan merupakan pertanggungjawabannya terhadap kebebasan dari pilihan yang ditempuhnya. Semakin tinggi tingkat kedudukan seseorang, semakin banyak tanggung jawab yang ada padanya.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Dalam kerangka tanggung jawab ini, kebebasan mengandung arti:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Kemampuan untuk bertanggung jawab.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Kedewasaan manusia.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Keseluruhan kondisi yang memungkinkan melakukan tujuan hidupnya.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Tingkah laku yang memungkinkan manusia melakukan tujuan hidupnya.Dengan demikian tanggung jawab dalam kerangka akhlak adalah keyakinan bahwa tindakannya itu baik. Tanggung jawab mempunyai dua sifat, pertama, bersifat langsung dan yang kedua bersifat tidak langsung. Dikatakan bersifat langsung bila sipelaku sendiri bertanggung jawab atas perbuatannya. Sedangkan tidak langsung, bila dilakukan oleh suruhan atau perantara lainnya. Pertanggung jawaban lansung misalnya setiap manusia yang berada dimuka bumi diminta pertanggungjawabannya, sebagai konsekuensi logis dari perbuatan yang telah dilakukan.\u00a0[4]<\/span><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"b_Jenis_Tanggung_JAwab\"><\/span><b><\/b><b><strong style=\"font-style: inherit;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">b. Jenis Tanggung JAwab<\/span><\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Tanggung jawab dapat terbagi menjadi beberapa ruang lingkup, diantaranya:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Tanggung Jawab Agama.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Manusia diberi kebebasan bagi dirinya untuk berbuat dan bertidak. Yaitu pilihan untuk tan tersebut ada yang baik dan buruk. Allah berfirman:<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">\u0648\u064e\u0647\u064e\u062f\u064e\u064a\u0652\u0646\u0670\u0647\u064f \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u062c\u0652\u062f\u064e\u064a\u0652\u0646\u0650\u06d9<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">\u201cDan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebaikan dan keburukan)\u201d (QS. Al- Balad: 10).<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Manusia lahir dengan dibekali oleh Allah SWT berbagai potensi yang dimilikinya, potensi tersebut diberikan Allah agar manusia mampu menjadi khalifah (wakil) Allah dimuka bumi. Potensi tersebut diberikan sebagai alat untuk mengurus alam dan seisinya dan agar manusia senantiasa menyembah Allah. Potensi tersebut, tidak diberikan dengan gratis dan tanpa pengawasan, melainkan agar dimintai pertanggungjawabannya. Tentang bentuk pertanggung jawabannya perbuatan manusia\u00a0\u00a0tersebut, tercantum pada firman Allah:<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">\u062b\u064f\u0645\u0651\u064e \u0644\u064e\u0640\u062a\u064f\u0633\u06e1\u0640\u0654\u064e\u0640\u0644\u064f\u0646\u0651\u064e \u064a\u064e\u0648\u06e1\u0645\u064e\u066e\u0655\u0650\u0630\u064d \u0639\u064e\u0646\u0650 \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0639\u0650\u064a\u06e1\u0645\u0650<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Artinya: \u201c Kemudian akan ditanya pada hari itu (kiamat) akan nikmat-nikmat (yang telah dianugerahkan kepadanya).\u201d (QS. At- Takatsur: 8)<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Tanggung Jawab Sosial.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Manusia sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang tidak bisa hidup sendiri. Dalam kehidupan bermasyarakat tentu ad suatu aturan yang harus dipatuhi oleh semua anggotanya. Peraturan tersebut merupakan wujud tanggung jawab perseorangan terhadap lingkungan sosialnya yang bertujuan untuk ketertiban dan kemamukmaran serta menciptakan kedamaian dan kesejahteraan dalam masyarakat tersebut.\u00a0[5]<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Tanggung Jawab Akhlak (sosial)<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Fitrah manusia adalah cenderung kepada kebaikan, dan tanggung jawab merupakan bagian dari fitrah manusia. Oleh karena itu, perbuatan buruk merupakan sesuatu yang bertentangan dengan moralitas manusia.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Tanggung Jawab Hati Nurani<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Hati nurani diartikan sebagai kekuatan yang memperingatkan manusia dan mencegahnya unutk berbuat buruk. Tanggung jawab terhadap hati nurani berbentuk keinginan untuk selalu mengikuti kehendak hati untuk melakukan kebaikan. Bila tindakan seseorang berlawanan dengan hati nuraninya maka sudah pasti hidupnya dalam kegelisahan.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Tanggung Jawab Amal Perbuatan<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Setiap perbuatan manusia betapapun kecilnya pasti ada pertanggung jawabannya. Baik secara langsung ataupun tidak langsung.Uraian tersebut menunjukkan bahwa tanggung jawab erat kaitannya dengan kesengajaan atau perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran. Orang yang melakukan perbuatan tapi dalam keadaan tidur atau mabuk dan semacamnya tidak dapat dikatakan sebagai perbuatan yang dapat dipertanggungjawabkan, karena perbuatan tersebut dilakukan bukan karena\u00a0\u00a0pilihan akalnya yang sehat. Selain itu tanggung jawab juga erat hubungannya dengan hati nurani atau intuisi yang ada dalam diri manusia yang dapat menyuarakan kebenaran.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Seseorang baru dapat disebut bertanggung jawab apabila secara intuisi perbuatannya itu dapat dipertanggungjawabkan pada hati nurani dan kepada masyarakat pada umumnya.\u00a0[6]<\/span><a name=\"_Toc108466549\"><\/a><\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Hati_Nurani\"><\/span><strong>Hati Nurani<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"a_Pengertian-3\"><\/span><b><\/b><b><strong style=\"font-style: inherit;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">a. Pengertian<\/span><\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Hati nurani merupakan tempat dimana manusia dapat memperoleh saluran ilham dari Tuhan. Hati nurani biasanya cenderung paha hal yang positif bukan pada yang negatif. Atas dasar ini muncullah paham intuisisme yaitu paham yang mengatakan bahwa perbuatan yang baik adalah yang sesuai dengan kata hati, sedangkan perbuatan yang buruk adalah yang tidak sejalan dengan kata hati. Hati nurani harus menjadi salah satu dasar pertimbangn dalam melaksanakan kebebasan dalam diri manusia, yaitu kebebasan yang tidak menyalahi atau membelenggu hati nuraninya sendiri.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata nurani berarti \u201cterang, cahaya\u201d. Sedangkan hati nurani adalah perasaan hati murni yang sedalam-dalamnya.Sementara itu, K. Bertens mengatkan bahwa hati nurani adalah \u201c penghayatan tentang baik atau buruk yang berhubungan dengan tingkah laku konkret manusia, yang memerintahkan atau melarang untuk melakukan sesuatu.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Hati nurani berdasarkan latar belakang kejadian dapat dibedakan ke dalam dua bentuk, yaitu:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Hati nurani retrospektif, yaitu memberikan penilaian terhadap perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan atau yang sudah berlangsung di waktu lampau.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Hati nurani prospektif, yaitu melihat dan menilai perbuatan yang hendak dilakukan pada masa yang akan datang.\u00a0[7]<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Secara etis hati nurani bersifat subjektif, karena didasarkan pada pendapat pribadi seseoarng yang tidak dapat diketahui oleh orang lain. Adapun sifat hati nurani ada 2:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Bersifat personal, artinya selalu berkaitan dengan pribadi yang bersangkutan. Norma dan\u00a0\u00a0cita-cita yang diterima akan tmpak pda ucapan-ucapan hati nuraninya. Hal ini menandakan bahwa hati nurani diwarnai oleh kepribadian seseorang.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Bersifat adi personal, berarti melebihi pribadi seseorang atau kekuatuan kepribadian kita.[8]<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"b_Fungsi_Kekuatan_Hati_Nurani\"><\/span><b><\/b><b><strong style=\"font-style: inherit;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">b. Fungsi Kekuatan Hati Nurani<\/span><\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Adapun fungsi kekuatan hati nurani antara lain:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Apabila kekuatan mengiringi suatu perbuatan, maka dapat memberikan petunjuk dan menakuti dari kemaksiatan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Apabila kekuatan mengiringi suatu perbuatan, maka dapat mendorong untuk menyempurnakan perbuatan yang baik dan menahan dari perbuatan yang buruk.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Apabila kekuatan menyusul setelah perbuatan, maka akan merasa gembira dan senang apabila melakukan kebaikan dan akan merasa sedih, sakit dan pedih ketika melakukan keburukan.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Menurut Prof. Dr. Ahmad Amin, bahwa hati nurani (suara hati) mempunyai tiga tingkatan:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Perasaan melakukan kewajiban karena takut pada manusia.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Perasaan mengharuskan mengikutinya apa yang harus diperintahkan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Rasa seharusnya mengikuti apa yang dipandang benar oleh dirinya.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Hati nurani itu tak selalu benar kadang bisa salah. Ketika hati nurani memerintah seseorang mengikuti keyakinan yang salah, maka ketika itu hati nurani salah. Meskipun begitu apa kata hati nurani tetap ditaati karena manusia diperintah berbuat menurut apa yang diyakini dalam hati benar, tidak berbuat apa yang benar dalam nyatanya. Jadi barang siapa melihat sesuatu yang benar,<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">dan hati nurani memerintahkan untuk melakukannya, maka ia harus menaati. Dan dia tidak akan begitu saja disalahkan apabila hati nuraninya salah. Hukum akhlak menerangkan bahwa \u201c segala perbuatan itu diberi hukum baik atau buruk, karena melihat kepada maksud yang melakukannya dan bukan melihat kepada buahnya. Barang siapa selalu mengikuti hati nurani adalah baik walaupun nanti kelihatan salahnya ( meskipun perbuatannya merugikan).[9]<\/span><\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Hubungan_antara_Kebebasan_Tanggung_Jawab_dan_Hati_Nurani_dengan_Akhlak\"><\/span><a name=\"_Toc108466550\"><\/a><b><\/b><b><strong style=\"font-style: inherit;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Hubungan antara Kebebasan, Tanggung Jawab dan Hati Nurani dengan Akhlak<\/span><\/strong><\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Suatu perbuatan baru dikatakan perbuatan yang alkhaki apabila perbuatan tersebut dilakukan atas keasadaran sendiri dengan tulus ikhlas, bukan paksaan ataupun di buat-buat.Dengan demikian perbuatan yang berakhlak itu adalah perbutan yang dilakukan secara sengaja dan bebas. Inilah hubungan antara akklak dengan kebebasan.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Selanjutnya perbuatan akhlak dilakukan atas kesadaran sendiri tanpa adanya paksaan. Perbuatan yang demikian dapat dimintai pertanggung<\/span><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">\u00a0<\/span><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">jawaban dari orang yang melakukannya. Di sini letak hubungan antara tanggung jawab dengan akhlak.Perbuatan akhlaki haruslah muncul dari dalam lubuk hati sehingga keikhlasan hatilah yang melakukannya sehingga dapat dipertanggung jawabkan kepada hati sanubari. Maka hubungan akhlak dan kata hati\/ hati nurani muncul.Dengan demikian masalah kebebasan, tanggung jawab dan hati nurani merupakan faktor penting dalam menentukan suatu perbuatan dikatakan akhlaki.[10]<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">[1]<\/span>\u00a0Abuddin nata, Akhlak tasawuf, (Jakarta:Rajawali Pers, 2010), 129.<\/p>\n<p>Moh. Toriqqudin, Sekularitas Tasawuf, Membumikan Tasawuf dalam Dunia Modern, (Malang: Malang Press,2008), 71.<\/p>\n<p><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">[2]<\/span>\u00a0Abuddin nata, Akhlak tasawuf, (Jakarta:Rajawali Pers, 2010), 131.<\/p>\n<p><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">[3]<\/span>\u00a0Ibid, hlm 132<\/p>\n<p>Zahruddin AR, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004), 131.<\/p>\n<p><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">[4]<\/span>\u00a0Abuddin nata, Akhlak tasawuf, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), 134.<\/p>\n<p>Zahruddin AR, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004), 132.<\/p>\n<p><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">[5]<\/span>\u00a0Abuddin nata, Akhlak tasawuf, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), 134.<\/p>\n<p><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">[6]<\/span>\u00a0Abuddin nata, Akhlak tasawuf, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), 134.<\/p>\n<p><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">[7]<\/span>\u00a0Ibid, hlm. 135<\/p>\n<p>Zahruddin AR, Pengantar Study Tasawuf, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004), 103<\/p>\n<p><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">[8]<\/span>\u00a0Ibid, hlm. 135<\/p>\n<p>Zahruddin AR, Pengantar Study Tasawuf, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004), 103<\/p>\n<p><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">[9]<\/span>\u00a0bid, hlm. 104<\/p>\n<p>Ibid, hlm.105<\/p>\n<p>Ibid, hlm. 108<\/p>\n<p>H.A Ahmad Mustofa, Akhak Tasawuf, ( Bandung: Pustaka Setia, 1997), 118<\/p>\n<p>Ibid, hlm.121<\/p>\n<p><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">[10]<\/span>\u00a0Ibid, hlm. 120<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kebebasan a. Pengertian Di antara masalah yang menjadi bahan perdebatan sengit dari sejak dahulu hingga sekarang adalah masalah kebebasan atau kemerdekaan menyalurkan kehendak dan kemauan.&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-27116","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27116","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27116"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27116\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27116"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27116"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27116"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}