{"id":27094,"date":"2022-11-18T08:16:46","date_gmt":"2022-11-18T01:16:46","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=27094"},"modified":"2022-11-18T08:16:46","modified_gmt":"2022-11-18T01:16:46","slug":"fiqh-siyasah-pada-masa-rasulullah-dan-khulafa-al-rasyidin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/fiqh-siyasah-pada-masa-rasulullah-dan-khulafa-al-rasyidin\/","title":{"rendered":"Fiqh Siyasah Pada Masa Rasulullah dan Khulafa al-Rasyidin"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/fiqh-siyasah-pada-masa-rasulullah-dan-khulafa-al-rasyidin\/#Fiqh_Siyasah_Pada_Masa_Rasulullah\" >Fiqh Siyasah Pada Masa Rasulullah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/fiqh-siyasah-pada-masa-rasulullah-dan-khulafa-al-rasyidin\/#Bentuk_Fiqh_Siyasah_Pada_Masa_Khulafa_al-Rasyidin\" >Bentuk Fiqh Siyasah Pada Masa Khulafa al-Rasyidin<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/fiqh-siyasah-pada-masa-rasulullah-dan-khulafa-al-rasyidin\/#Masa_Khalifah_Abu_Bakar_as-Shiddieq\" >Masa Khalifah Abu Bakar as-Shiddieq<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/fiqh-siyasah-pada-masa-rasulullah-dan-khulafa-al-rasyidin\/#Masa_Khalifah_Umar_bin_al-Khattab\" >Masa Khalifah Umar bin al-Khattab<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/fiqh-siyasah-pada-masa-rasulullah-dan-khulafa-al-rasyidin\/#Masa_Khalifah_Utsman_bin_Affan\" >Masa Khalifah Utsman bin Affan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/fiqh-siyasah-pada-masa-rasulullah-dan-khulafa-al-rasyidin\/#Masa_Ali_bin_Abi_Thalib\" >Masa Ali bin Abi Thalib<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Fiqh_Siyasah_Pada_Masa_Rasulullah\"><\/span><strong>Fiqh Siyasah Pada Masa Rasulullah<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Fiqh\u00a0<em>Siyasah Syar\u2019iyah<\/em>\u00a0telah dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. dalam mengatur dan mengarahkan umatnya menuju tatanan sosial budaya yang diridloi Allah SWT. Terutama tampak setelah Rasulullah SAW. melakukan hijrah. Meskipun demikian bukan berarti bahwa fakta yang sama tidak ditemukan ketika Rasulullah SAW. masih tinggal di Mekkah. Pada masa itu, Rasulullah SAW. lebih memusatkan perhatian atas perencanaan daripada pelaksanaan hal-hal yang berhubungan dengan fiqh\u00a0<em>Siyasah Syar\u2019iyah<\/em>.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi setelah Rasulullah SAW. menetap di Madinah merupakan artikulasi nilai dasar fiqh\u00a0<em>Siyasah Syar\u2019iyah<\/em>. Sebagai komunitas dalam masyarakat yang majmuk, kaum muslimin diharuskan berinteraksi dengan komunitas-komunitas lain yang terdiri dari orang-orang Nasrani, orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik Madinah. Dalam kedudukannya sebagai kepala negara, kebijakan Rasulullah SAW. melaksanakan fiqh\u00a0<em>Siyasah Syar\u2019iyah<\/em>.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Salah satu contoh pelaksanaan fiqh\u00a0<em>Siyasah Syar\u2019iyah<\/em>\u00a0adalah kebijakan yang dibuat Rasulullah SAW. berkenaan dengan persaudaraan intern kaum muslimin, yaitu antara kelompok Muhajirin dengan kelompok Ansor. Contoh lainnya adalah perjanjian ekstern antara komunitas muslim dengan komunitas non muslim. Sekalipun kendali kekuasaan dipegang oleh komunitas muslim dalam hal ini Rasulullah SAW., namun perjanjian yang dibuat tidak mengganggu keyakinan komunitas non muslim hal ini tercipta karena Rasulullah SAW. mendasarkan kebijakannya atas prinsip al-ukhuwah al-insaniyah.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bentuk_Fiqh_Siyasah_Pada_Masa_Khulafa_al-Rasyidin\"><\/span><strong>Bentuk Fiqh Siyasah Pada Masa Khulafa al-Rasyidin<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Persoalan\u00a0<em>siyasah<\/em>\u00a0yang pertama yang dihadapi kaum muslimin setelah Rasulullah SAW. wafat adalah suksesi politik. Rasulullah SAW. tidak menentukan siapa yang akan menggantikannya dan bagaimana mekanisme pergantian itu dilakukan. Oleh sebab itu, dalam sejarah Islam, dikenal berbagai mekanisme penetapan kepala Negara, dan tentu saja, dengan berbagai kriteria yang sesuai dengan sosiohistoris yang ada. Sebagai contoh, Abu Bakar ditetapkan berdasarkan pemilihan suatu musyawarah terbuka, Umar bin Khattab ditetapkan berdasarkan penunjukan kepala Negara pendahulunya, Utsman bin al-Affan ditetapkan berdasarkan pemilihan dalam suatu dewan formatur, dan Ali bin Abi Thalib ditetapkan berdasarkan pemilihan melalui musyawarah dalam pertemuan terbuka. Kenyatan demikian dimungkinkan oleh perubahan sosial budaya dan dengan demikian menampilkan karakter siyasah yang berbeda dari waktu ke waktu dari tempat ke tempat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Berikut ini akan dipaparkan berbagai aspek\u00a0<em>siyasah<\/em>\u00a0yang dihadapi para Khulafa al-Rasyidin dalam mengendalikan dan mengarahkan masyarakat Islam.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Masa_Khalifah_Abu_Bakar_as-Shiddieq\"><\/span><strong>Masa Khalifah Abu Bakar as-Shiddieq<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sesudah Rasulullah SAW. wafat, pengandalian dan pengarahan kaum muslimin dipegang oleh sahabat Abu Bakar. Pada masa ini, timbul persoalan-persoalan yang tidak timbul pada masa Nabi oleh karena itu terdapat pemecahan masalah yang diambil oleh Abu Bakar, dan dalam hal ini dapat dipandang sebagai fakta siyasah. Adanya kelompok masyarakat yang enggan mengeluarkan zakat, karena zakat hanya wajib dikeluarkan pada waktu Rasul masih hidup, alasan mereka adalah<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya : \u201c<em>Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui<\/em>\u201d.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Mereka beralasan bahwa bentuk amar (perintah) pada ayat ini ditujukan hanya kepada Rasul, sehingga setelah Rasul wafat tidak ada kewajiban zakat. Selain itu, doa yang membawa ketentraman jiwa itu adalah doa Rasulullah SAW. bukan doa orang selain Rasul. Kebijakan Abu Bakar menentang hal ini tidak hanya karena tafsirannya, tetapi juga keengganan kelompok tertentu untuk mengeluarkan zakat dapat membahayakan keutuhan umat dan mempreteli sendi-sendi pokok ajaran Islam.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Masa_Khalifah_Umar_bin_al-Khattab\"><\/span><strong>Masa Khalifah Umar bin al-Khattab<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Umar bin al-Khattab merupakan khalifah yang banyak sekali memberikan contoh-contoh siyasah. Diantaranya penerapan bea impor, dan pada masa itu berlaku atas dasar keseimbangan. Dalam hal ini, seimbang dengan bea impor yang dikenakan negara-negara non muslim kepada pedagang-pedagang muslim. Dalam hal ini sebesar 10%, karena negara non muslim pun memungut sebesar 10%.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Umar bin Khattab yang pertama kali menunjuk seorang hakim khusus mengadili perkara-perkara dibidang harta kekayaan. Dengan demikian, sejarah Islam mulai mengenal pembagian kekuasaan meski terbatas pada lembaga eksekutif dan yudikatif.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Masa_Khalifah_Utsman_bin_Affan\"><\/span><strong>Masa Khalifah Utsman bin Affan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sebagaimana para pendahulunya, Utsman bin Affan berusaha menerapkan\u00a0<em>Siyasah Syar\u2019iyah<\/em>\u00a0sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi selama masa pemerintahannya. Salah satu kebijakan Utsman bin Affan yang merupakan contoh\u00a0<em>Siyasah Syar\u2019iyah<\/em>\u00a0adalah mempersatukan umat Islam melalui penyalinan al-Qur\u2019an pada satu mushaf, yaitu mushaf Utsmany.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Utsman bin Affan merupakan Khalifah pertama yang menentukan lokasi khusus untuk sidang pengadilan. Dikatakan demikian karena pada masa sebelumnya proses peradilan dilakukan di masjid.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Masa_Ali_bin_Abi_Thalib\"><\/span><strong>Masa Ali bin Abi Thalib<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, situasi politik sedang bergejolak, tentu saja, situasi demikian tidak memungkinkan khalifah untuk mengupayakan pengaturan dan pengarahan kehidupan umat secara leluasa. Pada\u00a0 masa ini terjadi peperangan antar muslim sekalipun khalifah telah berusaha mempersatukan umat, namun situasi politik semakin memburuk. Konflik berdarah yang dikenal dengan perang Siffin dan perang Jamal pun pecah. Ali bin Abi Thalib terpaksa berperang meskipun ia senantiasa berkeinginan untuk islah dengan sesama muslim.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Meskipun kepemimpinannya dihadapkan kepada situasi politik yang rawan namun bukan berarti bahwa Ali bin Abi Thalib tidak membuat kebijakan termasuk kategori fiqh\u00a0<em>siyasah<\/em>\u00a0antara lain dalam :<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Urusan korespondensi.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Urusan pajak.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Urusan angkatan bersenjata.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Urusan administrasi peradilan.<\/li>\n<\/ol>\n<p>REFERENSI:<\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Djazuli,\u00a0<em>Fiqh Siyasah :<\/em>\u00a0<em>Implementasi Kemaslahatan Umat Dalam Rambu-rambu Syari\u2019ah<\/em>, Kencana Prenada Madia Group, Jakarta, 2003.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">http:\/\/www.aminazizcenter.com\/2010\/12\/kuliah-fiqh-siyasah-politik-islam\/<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">http:\/\/cairudin.blogspot.com\/2010\/11\/study-fiqih-fiqih-siyasah.html<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fiqh Siyasah Pada Masa Rasulullah Fiqh\u00a0Siyasah Syar\u2019iyah\u00a0telah dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. dalam mengatur dan mengarahkan umatnya menuju tatanan sosial budaya yang diridloi Allah SWT. Terutama&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-27094","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27094","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27094"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27094\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27094"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27094"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27094"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}