{"id":27064,"date":"2022-11-17T15:46:02","date_gmt":"2022-11-17T08:46:02","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=27064"},"modified":"2022-11-17T15:46:02","modified_gmt":"2022-11-17T08:46:02","slug":"kehujjahan-al-quran-menurut-pandangan-ulama-imam-mazhab","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kehujjahan-al-quran-menurut-pandangan-ulama-imam-mazhab\/","title":{"rendered":"Kehujjahan Al-Qur\u2019an Menurut Pandangan Ulama Imam Mazhab"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kehujjahan-al-quran-menurut-pandangan-ulama-imam-mazhab\/#Pandangan_Imam_Abu_Hanifah\" >Pandangan Imam Abu Hanifah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kehujjahan-al-quran-menurut-pandangan-ulama-imam-mazhab\/#Pandangan_Imam_Malik\" >Pandangan Imam Malik<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kehujjahan-al-quran-menurut-pandangan-ulama-imam-mazhab\/#Pandangan_Imam_Asy-Syafii\" >Pandangan Imam Asy-Syafi\u2019i<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kehujjahan-al-quran-menurut-pandangan-ulama-imam-mazhab\/#Pandangan_Imam_Ahmad_Ibnu_Hambal\" >Pandangan Imam Ahmad Ibnu Hambal<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pandangan_Imam_Abu_Hanifah\"><\/span>Pandangan Imam Abu Hanifah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Imam Abu Hanifah sependapat dengan jumhur ulama bahwa Al-Qur\u2019an merupakan sumber hokum Islam. Namun, menurut sebagian besar ulama, Imam Abu Hanifah berbeda pendapat dengan jumhur ulama, mengenai Al-Qur\u2019an itu mencakup lafazh dan maknanya atau maknanya saja.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Diantara dalil yang menunjukkan pendapat Imam Abu Hanifah bahwa Al-Qur\u2019an hanya maknanya saja adalah ia membolehkan shalat dengan menggunakan bahasa selain Arab, misalnya dengan bahasa Parsi walaupun tidak dalam keadaan madarat. Padahal menurut Imam Syafi\u2019i sekalipun seseorang itu bodoh tidak dibolehkan membaca Al-Qur\u2019an dengan menggunakan bahasa selain Arab.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pandangan_Imam_Malik\"><\/span>Pandangan Imam Malik<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut Imam Malik, hakikat Al-Qur\u2019an adalah kalam Allah yang\u00a0<em>lafazh\u00a0<\/em>dan maknanya dari Allah SWT. Ia bukan makhluk karena kalam Allah termasuk sifat Allah. Sesuatu yang termasuk sifat Allah tidak dikatakan makhluk, bahkan dia memberikan predikat kafir zindiq terhadap orang yang menyatakan bahwa Al-Qur\u2019an itu makhluk. Imam Malik juga sangat keberatan untuk menafsirkan Al-Qur\u2019an secara murni tanpa memakai atsar, sehingga beliau berkata, \u201cSeandainya aku mempunyai wewenang untuk membunuh seseorang yang menafsirkan Al-Qur\u2019an (dengan daya nalar murni), maka akan kupenggal leher orang itu.\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian, dalam hal ini Imam Malik mengikuti ulama salaf (sahabat dan tabi\u2019in) yang membatasi pembahsan Al-Qur\u2019an sesempit mungkin karena mereka khawatir melakukan kebohongan terhadap Allah SWT. maka tidak heran kalau kitabnya,\u00a0<em>Al-Muwaththa\u00a0<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>Al-Mudawwanah\u00a0<\/em>sarat dengan pendapat sahabat dan tabi\u2019in. dan Malik pun mengikuti jejak mereka dalam cara menggunakan ra\u2019yu.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan ayat 7 surat\u00a0<em>Ali-Imran,\u00a0<\/em>petunjuk\u00a0<em>lafazh\u00a0<\/em>yang terdapat dalam Al-Qur\u2019an terbagi dalam dua macam, yaitu\u00a0<em>muhkamat\u00a0<\/em>dan\u00a0<em>mutasyabihat,\u00a0<\/em>ayat-ayat\u00a0<em>muhkamat\u00a0<\/em>adalah ayat yang terang dan tegas maksudnya serta dapat dipahami dengan mudah, sedangkan ayat-ayat\u00a0<em>mustasyabihat\u00a0<\/em>ialah ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian yang tidak dapat ditentukan artinya, kecuali setelah diselidiki secara mendalam.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>Muhkamat\u00a0<\/em>terbagi dalam dua bagian, yaitu\u00a0<em>lafazh\u00a0<\/em>dan\u00a0<em>nash.\u00a0<\/em>Imam Malik menyepakati pendapat ulama-ulama lain bahwa\u00a0<em>lafazh nash\u00a0<\/em>itu adalah\u00a0<em>lafazh\u00a0<\/em>yang menunjukkan makna yang jelas, namun masih mempunyai kemungkinan makna lain. Menurut Imam Malik, keduanya dapat dijadikan hujjah, hanya saja\u00a0<em>lafazh nash\u00a0<\/em>didahulukan daripada\u00a0<em>lafazh zhahir.\u00a0<\/em>Menurut Imam Malik,\u00a0<em>dilalah nash\u00a0<\/em>termasuk\u00a0<em>qath\u2019i,\u00a0<\/em>sedangkan\u00a0<em>dilalah zhahir\u00a0<\/em>termasuk\u00a0<em>zhanni<\/em>, sehingga bila terjadi pertentangan antara keduanya, maka yang didahulukan adalah\u00a0<em>dilalah nash.<\/em>\u00a0Yang perlu diingat adalah makna\u00a0<em>zhahir\u00a0<\/em>disini adalah makna\u00a0<em>zhahir\u00a0<\/em>menurut pengertian Imam Malik.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pandangan_Imam_Asy-Syafii\"><\/span>Pandangan Imam Asy-Syafi\u2019i<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Imam As-Syafi\u2019I, sebagaimana para ulama lainnya, menetapkan bahwa Al-Qur\u2019an merupakan sumber hokum Islam yang paling pokok bahkan beliau berpendapat, \u201cTidak ada yang diturunkan kepada penganut agama manapun, kecuali petunjuknya terdapat dalam Al-Qur\u2019an.\u201d (Asy-Syafi\u2019i, 1309:20). Oleh karena itu, Imam Asy-Syafi\u2019i senantiasa mencatumkan nash-nash Al-Qur\u2019an setiap kali mengeluarkan pendapatnya, sesuai metode yang digunakannya, yakni deduktif.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Namun, Asy-Syafi\u2019i menganggap bahwa Al-Qur\u2019an tidak bisa dilepaskan dari As-Sunah, karena kaitan antara keduanya sangat erat sekali. Kalau para ulama lain menganggap bahwa sumber hukum Islam yang pertama itu Al-Qur\u2019an kemudian As-Sunnah, maka Imam Asy-Syafi\u2019i berpendapat bahwa sumber hokum Islam pertama itu Al-Qur\u2019an dan As-Sunah, sehingga seakan-akan beliau menganggap keduanya berada pada satu martabat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya Imam Asy-Syafi\u2019i pada beberapa tulisannya yang lain tidak menganggap bahwa Al-Qur\u2019an dan Sunah berada dalam satu martabat, namun kedudukan As-Sunnah itu adalah setelah Al-Qur\u2019an. Tapi Asy-Syafi\u2019i menganggap bahwa keduanya berasal dari Allah SWT. meskipun mengakui bahwa diantara keduanya terdapat perbedaan cara memperolehnya. Dan menurutnya As-Sunah merupakan penjelas berbagai keterangan yang bersifat umum yang ada dalam Al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kemudian Asy-Syafi\u2019i menganggap Al-Qur\u2019an itu seluruhnya berbahasa Arab, dan ia menentang mereka yang beranggapan bahwa dalam Al-Qur\u2019an terdapat bahasa \u2018Ajam (luar Arab), diantara pendapatnya adalah firman Allah SWT.:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>\u201cDan begitulah Kami turunkan Al-Qur\u2019an berbahasa arab.\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian, tak heran bila Imam Asy-Syafi\u2019I dalam berbagai pendapatnya sangat mementingkan penggunaan bahasa Arab, misalkan dalam shalat, nikah, dan ibadah-ibadah lainnya. Dan beliau pun mengharuskan penguasaan bahasa Arab bagi mereka yang ingin memahami dan meng-<em>istinbath\u00a0<\/em>\u00a0hokum dari Al-Qur\u2019an. (Abu Zahrah :191-197).<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pandangan_Imam_Ahmad_Ibnu_Hambal\"><\/span>Pandangan Imam Ahmad Ibnu Hambal<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Al-Qur\u2019an merupakan sumber dan tiangnya syari\u2019at Islam, yang didalamnya terdapat berbagai kaidah yang tidak akan berubah dengan perubahan zaman dan tempat. Al-Qur\u2019an juga mengandung hokum-hukum global dan penjelasan mengenai akidah yang benar, disamping sebagai hujjah untuk tetap berdirinya agama Islam.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ahmad Ibnu Hambal, sebagaimana para ulama lainnya berpendapat bahwa Al-Qur\u2019an itu sebagai sumber pokok Islam, kemudian disusul oleh As-Sunah. Namun, seperti halnya Asy-Syafi\u2019i, Imam Ahmad memandang bahwa As-Sunah mempunyai kedudukan yang kuat disamping Al-Qur\u2019an, sehingga tidak jarang beliau menyebutkan bahwa sumber hokum itu adalah nash, tanpa menyebutkan Al-Qur\u2019an dahulu atau As-Sunah dahulu, tetapi yang dimaksud nash tersebut adalah Al-Qur\u2019an dan As-Sunah.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam penafsiran terhadap Al-Qur\u2019an, Imam Ahmad betul-betul mementingkan penafsiran yang datangnya dari As-Sunah (Nabi Muhammad SAW.) dan sikapnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Sesungguhnya zhahir Al-Qur\u2019an tidak mendahulukan As-Sunah.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Rasulullah SAW. saja yang berhak menafsirkan Al-Qur\u2019an, maka tidak ada seorang pun yang berhak menafsirkan atau menakwilkan Al-Qur\u2019an, karena As-Sunah telah cukup menafsirkan dan menjelaskannya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Jika tidak ditemukan penafsiran yang berasal dari Nabi, penafsiran para sahabatlah yang dipakai, karena merekalah yang menyaksikan turunnya Al-Qur\u2019an dan mendengarkan takwil. Dan mereka pula yang lebih mengetahui As-Sunah yang mereka gunakan sebagai penafsir Al-Qur\u2019an.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut Ibnu Taimiyah, Al-Qur\u2019an itu tidak ditafsirkan, kecuali dengan atsar, namun dalam beberapa pendapatnya, ia menjelaskan kembali bahwa jika tidak ditemukan dalam hadis Nabi dan qaul sahabat, diambil dari penafsiran para tabi\u2019in. (Abu Zahrah : 224-247).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pandangan Imam Abu Hanifah Imam Abu Hanifah sependapat dengan jumhur ulama bahwa Al-Qur\u2019an merupakan sumber hokum Islam. Namun, menurut sebagian besar ulama, Imam Abu Hanifah&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-27064","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27064","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27064"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27064\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27064"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27064"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27064"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}