{"id":27062,"date":"2022-11-17T15:45:20","date_gmt":"2022-11-17T08:45:20","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=27062"},"modified":"2022-11-17T15:45:20","modified_gmt":"2022-11-17T08:45:20","slug":"petunjuk-dilalah-al-quran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/petunjuk-dilalah-al-quran\/","title":{"rendered":"Petunjuk (Dilalah) Al-Qur\u2019an"},"content":{"rendered":"<p style=\"font-weight: 400;\">Kaum muslimin sepakat bahwa Al-Qur\u2019an merupakan sumber hokum syara\u2019. Mereka pun sepakat bahwa semua ayat Al-Qur\u2019an dari segi\u00a0<em>wurud\u00a0<\/em>(kedatangan) dan\u00a0<em>tsubut\u00a0<\/em>(penetapannya) adalah\u00a0<em>qath\u2019i.\u00a0<\/em>hal ini karena semua ayatnya sampai kepada kita dengan jalan\u00a0<em>mutawatir.\u00a0<\/em>Kalaupun ada sebagian sahabat yang mencantumkan beberapa kata pada\u00a0<em>mushaf-Nya,\u00a0<\/em>yang tidak ada pada qira\u2019ah mujtawatir, hal ini hanya merupakan penjelasan dan penafsiran terhadap Al-Qur\u2019an yang didengar dari Nabi SAW. atau hasil ijtihad mereka dengan jalan membawa\u00a0<em>nash mutlaq\u00a0<\/em>pada\u00a0<em>muqayyad\u00a0<\/em>dan hanya untuk dirinya sendiri. Hanya saja para pembahas berikutnya menduga bahwa hal tersebut termasuk\u00a0<em>qira\u2019at gair mutawatir\u00a0<\/em>\u00a0yang periwayatannya tersendiri. Di antara para sahabat yang mencantumkan beberapa kata pada\u00a0<em>mushaf-Nya\u00a0<\/em>itu adalah Abdullah Ibnu Mas\u2019ud, ia mencantumkan kata\u00a0<em>mutatabi\u2019atin\u00a0<\/em>pada ayat 89 surat\u00a0<em>Al-Ma\u2019idah\u00a0<\/em>sehingga ayat tersebut pada\u00a0<em>mushaf-NYa\u00a0<\/em>tertulis:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dan kata\u00a0<em>dzi ar-rahmi Al-nuharrami\u00a0<\/em>pada ayat 233, surat\u00a0\u00a0<em>Al-Baqarah\u00a0<\/em>sehingga ayat itu tertulis:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ubay Ibnu Ka\u2019ab mencantumkan kata\u00a0<em>min Al-ummi\u00a0<\/em>pada ayat 12 surat\u00a0<em>An-Nisa,\u00a0<\/em>sehingga ayat tersebut tertulis pada\u00a0<em>mushaf-Nya:<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">(Muhammad Al-Makdur, 1976 : 104).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Namun, perlu ditegaskan bahwa hal tersebut tidak didapati dalam mushaf Utsmani yang kita pakai sekarang ini.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian, penambahan kata pada sebagian ayat Al-Quran seperti di atas tidak dapat dikatakan sebagai Al-Quran; dan orang yang mengingkarinya pun tidak dihukumi sebagai orang kufur. Demikian pula, kata-kata yang merupakan penambah itu tidak dapat dijadikan hujjah untuk\u00a0<em>istinbath<\/em>\u00a0hukum, kecuali menurut golongan Hanafiyah. Hal ini berakibat pada perbedaan pendapat antara Jumhur ulama dengan ulama Hanafiyah dalam beberapa masalah, yang antara lain sebagai berikut :<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hanafiyah mensyaratkan puasa kifarat sumpah dilakukan terus-menerus, karena mereka berpegang kepada qira\u2019ah Ibnu Mas\u2019ud, sedangkan selain ulama Hanafiyah tidak mensyaratkannya, (Al-Ghazali, 1968 : 229)<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hanafiyah melarang memotong tangan kiri pencuri yang mencuri untuk ketiga kalinya, karena yang dimaksudkan dengan pemotongan tangan pada ayat 38 surat\u00a0<em>Al-Maidah\u00a0<\/em>adalah tangan kanan pencuri. Pendapat mereka bersumber pada qira\u2019ah Ibnu Mas\u2019ud, sedangkan menurut para ulama selain Hanafiyah, pencuri yang mencuri ketiga kalinya itu harus dipotong tangan kirinya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hanafiyah berpendapat bahwa kewajiban member nafkah kepada kerabat\u00a0<em>zawil Arham\u00a0<\/em>itu hanyalah kepada\u00a0<em>zawil arham\u00a0<\/em>yang\u00a0<em>muhrim,\u00a0<\/em>sedangkan menurut jumhur ulama,\u00a0<em>zawil arham\u00a0<\/em>yang wajib diberi nafkah tidak terikat dengan\u00a0<em>muhrim-nya\u00a0<\/em>saja, baik\u00a0<em>muhrim\u00a0<\/em>ataupun bukan, mereka tetap diberi nafkah. (Ali Hasaballah, 1968 :259).<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Adapun ditinjau dari segi\u00a0<em>dilalah<\/em>-nya, ayat-ayat Al-Qur\u2019an itu dapat dibagi dalam dua bagian:<\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Nash yang qati\u2019i dilalah-nya<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yaitu\u00a0<em>nash\u00a0<\/em>yang tegas dan jelas maknanya, tidak bisa di-<em>takwil,\u00a0<\/em>tidak mempunyai makna yang lain, dan tidak tergantung pada hal-hal lain di luar\u00a0<em>nash\u00a0<\/em>itu sendiri. Contoh yang dapat dikemukankan disini adalah ayat yang menetapkan kadar pembagian waris, pengharaman riba, pengharaman daging babi, hukuman had zina sebanyak seratus kali dera, dan sebagainya. Ayat-ayat yang menyangkut hal-hal tersebut, maknanya jelas dan tegas dan menunjukkan arti dan maksud tertentu, dan dalam memahaminya tidak memerlukan ijtihad. (Abdul Wahab Khalaf, 1972 :35).<\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Nash yang zhanni dilalah-nya<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yaitu nash yang menunjukkan suatu makna yang dapat di-takwil atau nash yang mempunyai makna lebih dari satu, baik karena lafazhnya\u00a0<em>musytarak\u00a0<\/em>(homonym) ataupun karena susunan kata-katanya dapat dipahami dengan berbagai cara, seperti\u00a0<em>dilalah isyarat-<\/em>nya,\u00a0<em>iqtidha-<\/em>nya, dan sebagainya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Para ulama, selain berbeda pendapat tentang nash Al-Qur\u2019an mengenai penetapan yang\u00a0<em>qath\u2019i\u00a0<\/em>dan\u00a0<em>zhanni dilalah,\u00a0<\/em>juga berbeda mengenai penetapan yang\u00a0<em>qath\u2019i\u00a0<\/em>atau\u00a0<em>zhanni dilalah.<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Imam Asy-Syatibi menegaskan bahwa wujud dalil syara\u2019 yang dengan sendirinya dapat menunjukkan\u00a0<em>dilalah\u00a0<\/em>yang qath\u2019i itu tidak ada atau sangat jarang. Dalil syara\u2019 yang\u00a0<em>qath\u2019i<\/em>\u00a0<em>tsubut\u00a0<\/em>pun untuk menghasilkan dilalah yang\u00a0<em>qathi\u2019i<\/em>\u00a0masih bergantung pada premis-premis yang seluruh atau sebagainya\u00a0<em>zhannni<\/em>\u00a0pula. (Asy-Syatibi, 1975,1:35).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Premis-premis yang dimaksud Asy-Syatibi adalah:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Proses penggunaan bahasa dan berbagai persoalan Ilmu Nahwu.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Keterbatasan dari\u00a0<em>Isytirak.<\/em><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Keterbatasan dari\u00a0<em>majas.<\/em><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Proses penggunaan secara syara\u2019 atau tradisi.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Persoalan penggunaan\u00a0<em>dhamir.<\/em><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Adanya\u00a0<em>takhshish\u00a0<\/em>terhadap\u00a0<em>lafazh \u2019amm.<\/em><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Adanya\u00a0<em>taqyid\u00a0<\/em>\u00a0terhadap\u00a0<em>lafazh muthlaq.<\/em><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Keterbebasan dari\u00a0<em>nasikh.<\/em><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Kejelasan\u00a0<em>taqdim\u00a0<\/em>dan\u00a0<em>ta\u2019khir.<\/em><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Ketiadaan pertentangan dengan pemikiran yang logis.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Meningat dalil\u00a0<em>syara\u2019<\/em>\u00a0yang dapat menunjukkan\u00a0<em>dilalah\u00a0<\/em>yang\u00a0<em>qath\u2019i\u00a0<\/em>hanya terwujud dengan sepuluh premis diatas, maka menemukan dalil yang seperti itu hamper tidak mungkin. Andai kata ada, jumlahnya pun sangat sedikit. (Asy-Syatibi, 1975, 1:36). Pandangan seperti ini juga dikemukakan oleh Al-Asnawi dalam kitabnya\u00a0<em>Nihayah As-Sul.\u00a0<\/em>Ia menyatakan bahwa redaksi\u00a0<em>As-Sunnah Al-Mutawatirah,\u00a0<\/em>seperti halnya Al-Qur\u2019an adalah\u00a0<em>qath\u2019i,\u00a0<\/em>sedangkan\u00a0<em>dilalah-<\/em>nya\u00a0<em>zhanni\u00a0<\/em>karena berkaitan dengan:\u00a0<em>Al-Ihtimalatu Al-Asyrah\u00a0<\/em>(Al-Asnawi, t.t : 125). Agaknya, yang dimaksud dengan\u00a0<em>Al-Ihtimatu Al-Asyrah (<\/em>Al-Asnawi, t.t : 125). Agaknya, yang dimaksud dengan :\u00a0<em>Al-Ihtimatu Al-Asyrah\u00a0<\/em>sama dengan sepuluh premis yang\u00a0\u00a0dikemukakan\u00a0<em>Asy-Syatibi.<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya,\u00a0<em>Asy-Syatibi\u00a0<\/em>mengajukan suatu pandangan tentang upaya mencari\u00a0<em>qath\u2019I dilalah,\u00a0<\/em>yaitu\u00a0<em>istiqra\u2019.\u00a0<\/em>Menurutnya, dalil-dalil syar\u2019I yang dapat diandalkan\u00a0<em>qath\u2019I dilalah-<\/em>nya adalah yang dihasilkan melalui proses ini disebut\u00a0<em>syabihu bi Al-mutawatiri Al-ma\u2019nawy,\u00a0<\/em>karena ditunjang oleh makna berbagai nash yang menunjuk pada satu pengertian atau keputusan. (Asy-Syatibi, 1975 : 1: 36).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Konsep Asy-Syatibi tentang\u00a0<em>maqashid As-Syari\u2019ah\u00a0<\/em>dirumuskannya berdasarkan metode istiqra ini, sehingga mempunyai landasan yang\u00a0<em>qath\u2019i.\u00a0<\/em>oleh sebab itu, ditempat lain ia menjelaskan bahwa dalil\u00a0<em>zhanni dilalah\u00a0<\/em>bisa menjadi\u00a0<em>qath\u2019i dilalah\u00a0<\/em>apabila maknanya sesuai dengan makna yang terkandung pada dalil yang\u00a0<em>qath\u2019I dilalah-<\/em>nya<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kaum muslimin sepakat bahwa Al-Qur\u2019an merupakan sumber hokum syara\u2019. Mereka pun sepakat bahwa semua ayat Al-Qur\u2019an dari segi\u00a0wurud\u00a0(kedatangan) dan\u00a0tsubut\u00a0(penetapannya) adalah\u00a0qath\u2019i.\u00a0hal ini karena semua ayatnya sampai&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-27062","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27062","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27062"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27062\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27062"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27062"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27062"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}