{"id":27059,"date":"2022-11-17T15:44:33","date_gmt":"2022-11-17T08:44:33","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=27059"},"modified":"2022-11-17T15:44:33","modified_gmt":"2022-11-17T08:44:33","slug":"sikap-para-ulama-ketika-zahir-al-quran-berhadapan-dengan-sunah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sikap-para-ulama-ketika-zahir-al-quran-berhadapan-dengan-sunah\/","title":{"rendered":"Sikap Para Ulama Ketika Zahir Al-Qur\u2019an Berhadapan dengan Sunah"},"content":{"rendered":"<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut Imam Abu Zahrah, perbedaan pendapat para ulama juga terjadi karena adanya\u00a0<em>dilalah\u00a0<\/em>yang penjelasannya berkaitan erat dengan nash sunah, seperti sunah yang men-<em>takhshish\u00a0<\/em>keumuman\u00a0<em>dilalah\u00a0\u00a0<\/em>Al-Qur\u2019an. Dalam hal ini, para ulama berbeda pandangan. Imam Asy-Syafi\u2019I, Ahmad Ibnu Hambal, dan ulama lainnya berpendapat bahwa pemahaman Al-Qur\u2019an itu mesti disesuaikan dengan keterangan yang ada dalam Sunah, karena sunah berfungsi sebagai penjelas dan penafsir Al-Qur\u2019an, dan juga sebagai\u00a0<em>takhsis\u00a0<\/em>terhadap ayat-ayat yang\u00a0<em>mujmal\u00a0<\/em>(umum), sehingga artinya menjadi jelas. Contohnya sangat banyak, dan para ualam pun bila tidak menemukan penafsirannya dari Sunah.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian, semua\u00a0<em>lafazh \u2018amm<\/em>\u00a0yang ada dalam Al-Qur\u2019an jika sudah ada keterangan dalam hadis, meskipun menyalahi zahir ayat tersebut, harus di-<em>takhsish<\/em>\u00a0dengan sunah<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Adapun Abu Hanifah dan beberapa ualama lain berpendapat bahwa\u00a0<em>lafazh\u00a0<\/em>umum yang ada dalam Al-Qur\u2019an itu dijalankan sesuai dengan kebutuhan terhadap keumumannya. Jika ada sunah yang\u00a0<em>mutawatir\u00a0<\/em>atau yang masyhur, sunah tersebut yang bisa men-<em>takhshish<\/em>-nya. Namun jika sunahnya tidak mutawatir, Al-Qur\u2019an dipahami berdasarkan keumumannya karena Al-Qur\u2019an itu\u00a0<em>qath\u2019I\u00a0<\/em>ke\u00a0<em>mutawatir-<\/em>annya. Menurutnya, hadis\u00a0<em>ahad\u00a0<\/em>\u00a0tidak bisa dipakai men-<em>takhsis\u00a0<\/em>Al-Qur\u2019an karena tidak sahih untuk dinisbatkan kepada Nabi.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian dapat dipahami bahwa pendapat para ulama mengenai\u00a0<em>takhshish\u00a0<\/em>sunah terhadap Al-Qur\u2019an terbagi dua:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">As-Sunah sebagai hakim terhadap Al-Qur\u2019an, yakni As-Sunah sebagai tafsir dan penjelas maksud-maksud ayat yang ada dalam Al-Qur\u2019an. As-Sunah dianggap sebagai kunci untuk memahami Al-Qur\u2019an yang tidak mungkin dilepaskan dalam memahami Al-Qur\u2019an.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Al-Qur\u2019an sebagai hakim bagi sunah, yakni sunah tidak dianggap sahih jika bertetangan dengan Al-Qur\u2019an, termasuk didalamnya\u00a0<em>khabar Ahad.<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan pendapat mengenai pemahaman terhadap\u00a0<em>dilalah\u00a0<\/em>Al-Qur\u2019an, juga terjadi golongan Sunni dan Syi\u2019i. kaum Sunni memahami\u00a0<em>dilalah\u00a0<\/em>Al-Qur\u2019an melalui sunah. Jika tidak ditemukan dalam sunah, mereka memahaminya melalui ilmu bahasa Arab dan ilmu syari\u2019at dengan mengambil\u00a0<em>muqashid\u00a0<\/em>dan tujuan disyariatkannya ayat tersebut.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan golongan\u00a0<em>Syi\u2019i\u00a0<\/em>(Imamiyah) berpendapat bahwa tidak seorang pun yang mampu memahami Al-Qur\u2019an selain Imam mereka yang dua belas. Mereka beranggapan bahwa Imam yang dua belas tersebut sebagai kunci dalam memahami Al-Qur\u2019an, sedangkan selain mereka tidak ada yang mampu mencapainya. Selain itu, mereka juga dianggap\u00a0<em>ma\u2019shum,\u00a0<\/em>terhindar dari kesalahan. (Abu Zahrah, II : 59-60).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menurut Imam Abu Zahrah, perbedaan pendapat para ulama juga terjadi karena adanya\u00a0dilalah\u00a0yang penjelasannya berkaitan erat dengan nash sunah, seperti sunah yang men-takhshish\u00a0keumuman\u00a0dilalah\u00a0\u00a0Al-Qur\u2019an. Dalam hal ini,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-27059","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27059","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27059"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27059\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27059"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27059"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27059"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}