{"id":27049,"date":"2022-11-17T15:34:45","date_gmt":"2022-11-17T08:34:45","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=27049"},"modified":"2022-11-17T15:34:45","modified_gmt":"2022-11-17T08:34:45","slug":"pengertian-dan-bentuk-periwayatan-hadits","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-dan-bentuk-periwayatan-hadits\/","title":{"rendered":"Pengertian dan Bentuk Periwayatan Hadits"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-dan-bentuk-periwayatan-hadits\/#Pengertian_Periwayatan_Hadits\" >Pengertian Periwayatan Hadits<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-dan-bentuk-periwayatan-hadits\/#Bentuk_Periwayatan_Hadits\" >Bentuk Periwayatan Hadits<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-dan-bentuk-periwayatan-hadits\/#1_Bil_Lafadzi\" >1. Bil Lafadzi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-dan-bentuk-periwayatan-hadits\/#2_Bil_Mana\" >2. Bil Ma\u2019na<\/a><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Periwayatan_Hadits\"><\/span><strong>Pengertian Periwayatan Hadits<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sebelum terhimpun dalam kitab-kitab hadis, hadis Nabi terlebih dahulu telah melalui proses kegiatan yang dinamai dengan\u00a0<em>riwayatul hadis<\/em>\u00a0atau<em>\u00a0al-riwayah,<\/em>\u00a0yang dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan dengan periwayatan. Kata\u00a0<em>al-riwayah<\/em>\u00a0adalah masdar dari kata kerja rawa dan dapat berarti\u00a0<em>al-naql<\/em>\u00a0(penukilan),\u00a0<em>al-zikr<\/em>\u00a0(penyebutan),\u00a0<em>al-fatl<\/em>\u00a0(pemintalan) dan\u00a0<em>al-istoqa\u2019<\/em>\u00a0(pemberian minum sampai puas). Sementara sesuatu yang diriwayatkan, secara umum juga biasa disebut dengan riwayat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sementara secara istilah ilmu hadis, menurut M. Syuhudi Ismail yang dimaksud dengan al-riwayah adalah kegiatan penerimaan dan penyampaian hadis, serta penyandaran hadis itu kepada rangkaian para periwayatnya dengan bentuk-bentuk tertentu. Orang yang telah menerima hadis dari seorang periwayat, tetapi dia tidak menyampaiakan hadis itu kepada orang lain, maka dia tidak dapat disebut sebagai orang yang telah melakukan periwayatan hadis. Sekiranya orang tersebut menyampaiakan hadis yang diterimanya kepada orang lain, tetapi ketika menyampaikan hadis itu tidak menyebutkan rangkaian para periwayatnya, maka orang tersebut juga tidak dapat dinyatakan sebagai orang yang telah melakukan periwayatan hadis.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dari definisi di atas, dapat ditarik beberapa point penting yang harus ada dalam periwayatan hadis Nabi, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Orang yang melakukan periwayatan hadis yang kemudian dikenal dengan\u00a0<em>ar-rawiy\u00a0<\/em>(periwayat).<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Apa yang diriwayatkan (<em>al-marwiy<\/em>)<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Susunan rangkaian pera periwayat (sanad\/isnad)<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">kalimat yang disebutkan sesudah sanad yang kemudian dikenal dengan matan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">kegiatan yang berkenaan dengan proses penerimaan dan penyampaian hadis (<em>at-tahamul wa ada al- Hadis<\/em>).<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Adapun metode mempelajari hadits \/ menerima hadits yang biasa di pakai secara umum oleh ulama berbagai generasi adalah:<\/p>\n<ol style=\"font-weight: 400;\">\n<li><em>Al-Sima\u2019<\/em>, yaitu seorang guru membaca hadits yang dihafalnya atau yang ada di kitab tertentu di hadapan murid, orang mendengarkan kata-katanya. Metode ini dipandang paling bagus di antara metode yang ada menurut para ulama hadits. Tetapi ada juga yang berpendapat, alangkah baiknya kalau disamping mendengar juga mencatat, ketimbang mendengar saja. Kedua metode yang menyatu ini mempersempit peluang tercecernya hadits.<\/li>\n<li><em>Al-Qira\u2019ah \u2018ala al-Syaikh<\/em>. Yaitu seorang murid membaca\u00a0 hadits\u00a0 (yang boleh jadi diperoleh dari guru yang lain) di depan guru. Agaknya metode ini diilhami oleh sebuah peristiwa ketika Dhammam ibn Tsa\u2019labah memperoleh informasi dari orang lain, kemudian bertanya kepada Rasulullah, \u201capakah Allah memerintahkan agar engkau sholat beberapa kali?\u201d Rasulullah menjawab \u201cya\u201d.<\/li>\n<li><em>Al-Ijazah<\/em>. Metode ini adalah sebuah metode dengan pemberian izin seorang guru kepada murid untuk meriwayatkan buku hadits tanpa membaca hadits tersebut sata demi satu.<\/li>\n<li><em>Al-Munawalah<\/em>. Yaitu seorang guru memberi sebuah atau beberapa hadits atau kitab utuk diriwayatkan. Metode ini mirip ijazah ada ungkapan eksplisit dari guru bahwa murid diberi ijazah boleh meriwayatkan hadits yang diberikan.<\/li>\n<li><em>Al-Mukatabah<\/em>\u00a0\u00a0yaitu sorang guru menulis hadits untuk seseorang.misalnya tulisan seorang ulama tentang hadits yang dikirimkan kepada ulama lain. Kelihatannya, metode ini secara implisit mengandung ijazah. Itu sebabnya, ada yang berpendapat bahwa metode ini dengan ijazah ini lebih baik. Menurut Prof, A\u2019zami dalam terminologi modern, cara ini dapat disebut korespodensi.<\/li>\n<li><em>I\u2019lam al-Syaikh\u00a0<\/em>\u00a0yaitu pemberian informasi guru kepada murid bahwa hadits-hadits yang ada dalam kitab tertentu itu hasil periwayatan yang diperoleh guru dari si fulan, tanpa menyebut izin \/ ijazah periwayatan si murid kepada orang lain.<\/li>\n<li><em>Al-Wasyiyah<\/em>\u00a0yaitu seorang guru mewasiatkan buku-buku hadits kepada muridnya sebelum pergi atau meninggal.<\/li>\n<li><em>Al-Wijada<\/em>\u00a0\u00a0yaitu ada orang yang menemukan catatan atau buku hadits yang ditulis oleh orang lain tanpa ada rekomendasi untuk meriwayatkan hadits di bawah bimbingan dan kewenangan seseorang. Metode ini disamping dilakukan orang pada masa lalu banyak juga \u00a0dilakukan pada masa sekarang di mana banyak orang memperoleh hadits dari buku tanpa melalui proses seperti di atas.<\/li>\n<\/ol>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bentuk_Periwayatan_Hadits\"><\/span><strong>Bentuk Periwayatan Hadits<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Bil_Lafadzi\"><\/span><strong>1. Bil Lafadzi<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam kamus besar Indonesia, periwayatan adalah kata yang memberoleh awalan \u201cme\u201d dan akhiran \u201can\u201d yang berasal dari kata \u201criwayat\u201d yaitu cerita yang turun temurun. Periwayatan hadis dengan lafadz dimaksudkan adalah periwayatan hadis dengan menggunakan lafadz sebagaimana Rasulullah SAW tanpa ada penukaran kata, penambahan dan pengurangan sedikitpun walaupun hanya satu kata. Riwayat hadis dengan lafal ini sebenarnya tidak ada persoalan, karena sahabat menerima langsung dari Nabi baik melalui perkataan maupun perbuatan dan pada saat itu sahabat langsung menulis atau menghafalnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sahabat yang terkenal ketat dalam menjaga otentisitas redaksi hadis adalah Abdullah bin Umar. Ia tidak memperkenankan adanya pengurangan atau penambahan satu huruf pun dari redaksi hadis. Dalam sebuah kasus, ia pernah menegur \u2018Ubaid bin Amir ketika meletakkan puasa dalam lima prinsip Islam pada urutan nomor tiga yang seharusnya ada pada urutan nomor empat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Dikisahkan pula bahwa Barr\u0101\u2019 ibn \u2018\u0100zib pernah diajari oleh Rasulullah saw. sebuah do\u2019a sebelum tidur yang didalamnya ada kata \u201c<em>bi nabiyyika<\/em>\u201d dan ketika itu al-Barra\u2019 menyakan apakah kata itu bisa diganti dengan \u201cbi ras\u016blika\u201d beliau menolak, dan tetap meneruskan dengan kata \u201c<em>bi nabiyyik\u201d.<\/em>\u00a0Tingkat kepedulian para sahabat dalam menjaga otentisitas hadis ini tergambar jelas ketika mereka tidak gegabah dalam meriwayatkan hadis sebelum mereka yakin betul kebenaran lafal dan ketepatan huruf serta memahami maknanya. Jika mereka menemukan keraguan untuk meriwayatkan sebuah hadis, mereka memilih diam. Hal demikian dilakukan karena mengingat peringatan keras Nabi saw yang akan memasukkan mereka pada golongan pendusta hadis. Sikap demikian tidak hanya terjadi di tingkatan pada sahabat tetapi dapat ditemui pula dari pendapat segolongan ulama fiqh, ulama ushul dan ulama hadis yang tidak memberikan ruang sedikitpun pada periwayatan hadis secara makna. Mereka mewajibkan periwayatan hadis dengan lafal dan tidak memperbolehkan periwayatan dengan makna sama sekali.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi dalam kenyataannya periwayatan hadis dengan lafal ini sangat sedikit jumlahnya. Ciri-ciri hadis yang memang harus diriwayatkan dengan lafal ini hanya terbatas pada antara lain:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hadis yang merupakan lafal-lafal ibadah (<em>ta\u2019abbudiyyah<\/em>), seperti tentang bacaan azan, zikir, doa, syahadat. Hadis yang bisa dijadikan contoh untuk lafal ibadah ini seperti bacaan dzikir yang diriwayatkan dari Shaddad bin Aus ra. bahwa<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Rasulullah saw.bersabda:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\n\u0633\u064a\u062f \u0627\u0644\u0627\u0633\u062a\u063a\u0641\u0627\u0631: \u0627\u0644\u0644\u0647\u0645 \u0623\u0646\u062a \u0631\u0628\u064a\u060c \u0644\u0627 \u0625\u0644\u0647 \u0625\u0644\u0627 \u0623\u0646\u062a\u060c \u062e\u0644\u0642\u062a\u0646\u064a \u0648\u0623\u0646\u0627 \u0639\u0628\u062f\u0643\u060c \u0648\u0623\u0646\u0627 \u0639\u0644\u0649 \u0639\u0647\u062f\u0643 \u0648\u0648\u0639\u062f\u0643 \u0645\u0627 \u0627\u0633\u062a\u0637\u0639\u062a\u060c \u0623\u0628\u0648\u0621 \u0644\u0643 \u0628\u0646\u0639\u0645\u062a\u0643\u0651 \u0639\u0644\u064a\u0651\u060c \u0648\u0623\u0628\u0648\u0621 \u0644\u0643 \u0628\u0630\u0646\u0628\u064a \u0641\u0627\u063a\u0641\u0631 \u0644\u064a\u060c \u0641\u0625\u0646\u0647 \u0644\u0627 \u064a\u063a\u0641\u0631 \u0627\u0644\u0630\u0646\u0648\u0628 \u0625\u0644\u0627 \u0623\u0646\u062a\u060c \u0623\u0639\u0648\u0630 \u0628\u0643 \u0645\u0646 \u0634\u0631 \u0645\u0627 \u0635\u0646\u0639\u062a. \u0625\u0630\u0627 \u0642\u0627\u0644 \u062d\u064a\u0646 \u064a\u0645\u0633\u064a \u0641\u0645\u0627\u062a \u062f\u062e\u0644 \u0627\u0644\u062c\u0646\u0629\u060c \u0623\u0648 \u0643\u0627\u0646 \u0645\u0646 \u0623\u0647\u0644 \u0627\u0644\u062c\u0646\u0629\u060c \u0648\u0625\u0630\u0627 \u0642\u0627\u0644 \u062d\u064a\u0646 \u064a\u0635\u0628\u062d \u0641\u0645\u0627\u062a \u0645\u0646 \u064a\u0648\u0645\u0647 \u0645\u062b\u0644\u0647.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya:\u00a0<em>\u201cPaling tingginya ucapan istighfar adalah: \u2018Ya Allah Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau, Engkau menciptakanku maka aku adalah hamba-Mu. Dan atas janji dan ancaman-Mu aku lakukan semampuku. Aku akui segala nikmat-Mu bagiku, dan ku akui segala dosa ini pada-Mu maka ampunilah aku karena tiada yang bisa mengampuni segala dosaku selain Engkau. Aku berlindung pada-Mu dari keburukan apa yang aku lakukan\u2019. Jika ini dibaca pada waktu sore kemudian ia mati maka ia langsung masuk surga atau ia termasuk dari penduduk surga, demikian juga jika dibaca pada waktu pagi.\u201d<\/em><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Jaw\u0101mi\u2019 al-kalimah<\/em>\u00a0(ungkapan-ungkapan Nabi saw yang sarat makna) karena Nabi saw memiliki fa\u1e63a\u1e25a\u1e25 dalam perkataan yang tidak dimiliki yang lainnya.Bisa diambil contoh seperti sabda Nabi saw tentang umat Islam. Dari Ab\u016b Hurairah ra. bahwa Rasulullah bersabda<br \/>\n\u0627\u0644\u0645\u0633\u0644\u0645 \u0645\u0646 \u0633\u0644\u0645 \u0627\u0644\u0645\u0633\u0644\u0645\u0648\u0646 \u0645\u0646 \u0644\u0633\u0627\u0646\u0647 \u0648\u064a\u062f\u0647 . \u0648\u0627\u0644\u0645\u0647\u0627\u062c\u0631 \u0645\u0646 \u0647\u062c\u0631 \u0645\u0627 \u0646\u0647\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647<br \/>\nartinya:\u00a0<em>\u201cOrang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya.\u201d<\/em><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hadis yang berkaitan dengan masalah aqidah seperti tentang dzat dan sifat Allah, rukun Islam, rukun iman, dan sebagainya. Untuk kategori ini penulis mengambil contoh hadis tentang sifat Allah.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u064a\u0642\u0628\u0636 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0627\u0644\u0623\u0631\u0636 \u064a\u0648\u0645 \u0627\u0644\u0642\u064a\u0627\u0645\u0629\u060c \u0648\u064a\u0637\u0648\u064a \u0627\u0644\u0633\u0645\u0627\u0621 \u0628\u064a\u0645\u064a\u0646\u0647\u060c \u062b\u0645 \u064a\u0642\u0648\u0644: \u0623\u0646\u0627 \u0627\u0644\u0645\u0644\u0643\u060c \u0623\u064a\u0646 \u0645\u0644\u0648\u0643 \u0627\u0644\u0623\u0631\u0636\u061f<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya:\u00a0<em>\u201cPada hari kiamat Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Kemudian Dia berfirman; \u2018Akulah yang Raja Diraja, dimanakah para raja dunia itu?\u2019\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Namun ketika dihadapkan pada persoalan bahwa hadis bukan hanya berbentuk perkataan saja tetapi juga dengan perbuatan dan ketetapan Nabi saw, para ulama yang bersikeras mempertahankan riwayat hadis secara lafal, seperti Abu Bakar al-Arabi, Muhammad bin Sirin, Raja\u2019 bin Haywah, Qasim bin Muhammad, dan Sa\u2019lab bin Nahwiy, mereka berpendapat bahwa periwayatan redaksi hadisnya secara makna sepenuhnya hanya diperbolehkan pada tingkatan sahabat, mengingat karena para sahabat memiliki pengetahuan bahasa Arab yang tinggi (<em>fa\u1e63a\u1e25a\u1e25<\/em>), meskipun tidak setingkat dengan susunan kalimat Nabi saw. dan mereka telah menyaksikan secara langsung keadaan dan perbuatan Nabi saw. Periwayatan secara lafal tidak mungkin seluruh hadis bisa dilaksanakan mengingat pengertian hadis itu sendiri merupakan segala sesuatu yang disandarkan pada Nabi saw, baik perkataan, perbuatan, penetapan, tekad dan cita-cita Nabi saw, yang tidak semua dalam bentuk perkataan sehingga keharusan periwayatan hadis harus dengan lafal itu tidak bisa terjadi. Tentunya hal ini tetap dalam batasan-batasan yang telah diungkapkan oleh para ulama di atas, yaitu tidak boleh masuk pada ranah hadis yang berbau aqidah, ibadah dan yang mengandung kalimat-kalimat yang sarat makna dari Nabi saw.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sebagaimana yang terdapat dalam suatu riwayat bahwa Nabi menyampaikan hadisnya dengan bentuk-bentuk\/cara-cara sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Cara lisan dimuka orang banyak yang terdiri dari kaum laki-laki.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pengajian rutin dikalangan kaum laki-laki.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pengajian diadakan juga dikalangan kaum wanita setelah kaum wanita memintanya.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Selain itu masih ada riwayat lain yang menyatakan cara-cara Nabi Menyampaikan hadisnya melalui yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Dengan lisan dan perbuatan dihadapan orang banyak, di mesjid pada waktu malam dan subuh.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hadis Nabi disampaikan sebagai teguran terhadap orang yang melakukan \u201ckorupsi\u201d berupa penerimaan hadiah dari masyarakat.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hadis Nabi disampaikan dengan cara lisan, tidak dihadapan orang banyak, berisi jawaban yang diajukan oleh sahabat dan bentuk jawaban Nabi itu berupa tuntutan tekhnis suatu kegiatan yang berkaitan dengan agama.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Cara Nabi juga menyampaikan hadisnya selain cara lisan juga secara permintaan penjelasan terhadap sahabat, berupa taqrir atas amalan ibadah sahabat yang belum dicontokan langsung oleh Nabi.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Riwayat lain juga mengatakan cara Nabi menyampaikan hadisnya dengan bentuk tulisan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Dalam bentuk lain juga Nabi menyampaikan hadisnya tidak dalam bentuk kegiatan melainkan berupa keadaan.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Itulah tadi bentuk-bentuk periwayatan hadis dari Nabi dengan beberapa bentuk baik melalui perkataan, berbuatan, taqrir dan ihwal lainnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Adapun bentuk atau cara-cara Para Sahabat Meriwayatkan Hadis sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Adakala dengan lafal asli, yakni menurut lafal yang mereka terima dari Nabi yang mereka hafal benar lafal dari Nabi itu.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Adakala dengan maknanya saja, yakni mereka maeriwayatkan maknanya bukan lafalnya, karena mereka tidak hafal lafalnya yang asli lagi dari Nabi SAW.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yang penting dari hadis ialah isi, bahasa dan lafal, boleh disusun dengan kata-kata lain, asal isinya telah ada dan sama. Berbeda dengan Periwayatan Alqur\u2019an, yakni harus dengan lafal dan maknanya yang asli tidak sedikitpun boleh diadakan perubahan dalam riwayat itu.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Bil_Mana\"><\/span><strong>2. Bil Ma\u2019na<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam sejarah perjalanan hadits diketahui bahwa sepeninggal Rasulullah SAW. periwayatan hadits itu diperketat agar tidak terjadi periwayatan sesuatu yang bukan dari Nabi SAW tetapi disandarkan kapada Nabi. Disamping itu, hadits harus dilakukan apa adanya, tidak ada penambahan atau pengurangan. Diharapkan, redaksi hadits tidak mengalami perubahan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tetapi dalam kenyataan, banyak dijumpai hadits yang dimaksudkannya sama diungkapkan dengan redaksi yang berbeda-beda. Karena itu, kita menjumpai komentar hadits\u00a0<em>\u201cmuttafaq \u2018alaih, wal-lafdzu li muslim, atau wa lafzu lil- bukhori\u201d.<\/em>\u00a0Tampaknya peluang riwayat hadits dengan makna itu memang ada. Bukankah hadits itu tidak hanya berupa ucapan, tetapi terkadang berupa tingkah laku nabi. Dalam mendeskripsikan tingkah laku nabi yang diskasikan oleh para sahabat, boleh jadi akan muncul redaksi yang berbeda kendati maksudnya sama. Bahkan, karena kemampuan daya tangkap masing-masing sahabat berbeda, maka boleh jadi kesimpulannya juga berbeda.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ada sebuah hadits yang menggambarkan bahwa riwayat dengan redaksi yang berbeda itu ditolelir. Abdullah ibn Sulaiman al-laits menyampaikan keterbatasan kemampuannya menerima hadits secara utuh. Artinya ia mengaku tidak mampu menangkap hadits persis seperti apa yang didengarnya. Hurufnya terkadang bertambah, terkadang juga berkurang.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Meskipun terjadi perbedaan dikalangan para fukaha tentang kebolehan tidaknya\u00a0\u00a0\u00a0meriwayatkan dengan makna, tapi hal ini merupakan ilmu riwayah hadis yang penting, . Diantara kewajiban para perawi, ialah menerangkan cara\u00a0<em>tahammul\u00a0\u00a0<\/em>ialah dengan cara itu dia menerima apa yang diwahnyukannya. Sebagaimana para ulama sangat memerlukan dengan cara-cara\u00a0<em>tahammul\u00a0<\/em>di waktu menyampaikan hadis kepada orang lain, begitu pula sangat memerlukan penyampaian hadis itu sebagaimana mereka dengar tampa menukar ataupun menggati kalimat-kalimatnya. Bahkan sebahagian ahli hadis, ahli fiqh, dan ahli ushul mengharuskan para rawi meriwayatkan hadis dengan lafalnya yang didengar, tidak boleh dia meriwayatkan dengan maknanya sekali-kali. Demikian juga yang dinukilkan oleh Ibnush Shalah dan An Nawawi, Ibnu Sirien, Tsailab, dan Abu Bakar Ar Razi. mereka berpendapat bahwa perawi-perawi harus meriwayatkan persis sebagai lafadz yang ia dengar.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam bukunya Ahmad Muhammad \u0160akir yang berjudul Ihti\u0161ar Ulum Al-Hadis, dalam kaitanya dengan Periwayatan dengan makna. Bahwa seorang perawi yang tidak mengetahui makna hadis sesungguhnya tidak boleh baginya meriwayatkan hadis dengan sifatnya itu. Namun demikian Jumhur Ulama yang lain berpendapat, bahwa: boleh bagi perawi hadis menyebut makna bukan lafal, atau meriwayatkan hadis dengan makna apabila dia seorang yang mengetahui bahasa Arab dengan sempurna dan cara-cara orang arab menyusun kalimat-kalimatnya, lagi dia sangat mengetahui makna-makna lafal dan mengetahui pula hal-hal yang bisa merobahkan makna dan yang tidak merobahkannya, Jika ia bersifat demikian, bolelah dia menukilkan lafal hadis dengan makna, karena dia dengan pengertiannya mendalam dapat memelihara riwayatnya dari perobahan makna tersebut. begitu juga dengan pendapat Malik menurut nukilan Al-Khalil ibn Ahmad dan Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal boleh kalau yang diriwayatkan itu bukan hadis marfu\u2019. Bukti yang lebih empiris yang lebih akurat adalah kesepakatan umat memperbolehkan seorang ahli hadis menyampaikan hadis dengan maknanya saja bahkan dengan selain bahasa arab.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Bukti lain adalah bahwa periwayatan hadis dengan maknanya telah dilakukan oleh para sahabat dan ulama salaf periode pertama. Seringkali mereka mengemukakan suatu makna dalam suatu masalah dengan beberapa redaksi yang berbeda-beda. Hal ini terjadi karena mereka berpegang kepada makna hadis bukan kepada lafalnya. Intinya bahwa periwayatan hadis dengan lafal di utamakan dari pada periwayatan hadis dengan makna. Karena apabila si perawi bukan seorang yang mengetahui hal-hal yang memalingkan makna, maka tidak boleh baginya meriwayatkan hadis dengan makna. Semua ulama sependapat menetapkan, bahwa orang yang demikian itu wajib menyampaikan dengan hadis persis sebagaimana yang ia dengarnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Al- Imam Asy Syafi\u2019i telah menerangkan tentang sifat-sifat perawi yaitu:<br \/>\n<em>\u201cHendaklah orang yang menyampaikan hadis itu seorang yang kepercayaan tentang agamanya lagi dikenal bersifat benar dalam pembicaraannya, memahami apa yang diriwayatkan, mengetahui hal-hal yang memalingkan makna dari lafal dan hendaklah dia dari orang yang menyampaikan hadis persis sebgaimana yang didengar, bukan diriwayatkannya dengan makna,\u00a0\u00a0karena apabila dia meriwayatkan dengan makna sedang ia orang tidak mengetahui hal-hal yang memalingkan makna, niscanya tidaklah dapat kita mengetahui boleh jadi dia memalingkan yang halal kepada yang haram. Tetapi apabila dia menyampaikan hadis secara yang didengarnya, tidaklah lagi kita khwatir bahwa dia memalingkan hadis kapada yang bukan maknanya, dan hendaklah ia benar-benar meriwayatkan hadis yang diriwayatkan itu apabila dia meriwayatkan dari lafalnya dan benar-benar memelihara kitabnya jika dia meriwayatkan hadis itu dari kitabnya\u201d.<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Seluruh ulama sependapat menetapkan, bahwa orang yang tidak mengetahui hal-hal yang merisaukan makna hadis yang diriwayatkan dengan makna, tidak boleh meriwayakan hadis dengan makna. Adapun orang-orang yang mengetahui hal-hal yang merusakkan makna dan yang tidak merusakkannya, maka jumhur ulama membolehkan dia meriwayatkannya hadis dengan makna dengan memenuhi syarat-syarat yang sudah diterangkan itu. Dengan demikian sebagaimana pendapat para ulama maka untuk lebih hati-hati dan menghidari kesalahan dalam meriwayatkan hadis, maka meriwayatkan hadis dengan lafal lebih utama dari pada dengan makna.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Drs. H. Endang Soetari Ad., M.Si,\u00a0<em>Ilmu Hadis<\/em>, Bandung, Amal Bakti Perss, 1997.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">M.Syhudi Ismail,\u00a0<em>Kaedah Kesahihan Hadis Nabi<\/em>, Jakarta, Bulan Bintang, 1988.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Periwayatan Hadits Sebelum terhimpun dalam kitab-kitab hadis, hadis Nabi terlebih dahulu telah melalui proses kegiatan yang dinamai dengan\u00a0riwayatul hadis\u00a0atau\u00a0al-riwayah,\u00a0yang dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-27049","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27049","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27049"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27049\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27049"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27049"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27049"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}