{"id":27046,"date":"2022-11-17T15:32:02","date_gmt":"2022-11-17T08:32:02","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=27046"},"modified":"2022-11-17T15:32:02","modified_gmt":"2022-11-17T08:32:02","slug":"tafsir-tahlili-pengertian-ciri-cii-contoh-kelebihan-dan-kelemahannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-tahlili-pengertian-ciri-cii-contoh-kelebihan-dan-kelemahannya\/","title":{"rendered":"Tafsir\u00a0Tahlili : Pengertian, Ciri-ciri, Contoh, Kelebihan dan Kelemahannya"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-tahlili-pengertian-ciri-cii-contoh-kelebihan-dan-kelemahannya\/#Pengertian_Tafsir_Tahlili\" >Pengertian Tafsir\u00a0Tahlili<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-tahlili-pengertian-ciri-cii-contoh-kelebihan-dan-kelemahannya\/#Ciri-ciri_Tafsir_Tahlili\" >Ciri-ciri Tafsir Tahlili<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-tahlili-pengertian-ciri-cii-contoh-kelebihan-dan-kelemahannya\/#Contoh-contoh_Tafsir_Tahlili\" >Contoh-contoh Tafsir Tahlili<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-tahlili-pengertian-ciri-cii-contoh-kelebihan-dan-kelemahannya\/#Keistimewaan_dan_Kelemahannya\" >Keistimewaan dan Kelemahannya<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Tafsir_Tahlili\"><\/span><strong>Pengertian Tafsir\u00a0<em>Tahlili<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tafsir\u00a0<em>Tahlili<\/em>\u00a0merupakan metode tafsir ayat-ayat Al-Qur\u2019an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang ditafsirkan itu serta menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya, sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufasir yang menafsirkan ayat-ayat tersebut.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ada juga yang menyebutkan\u00a0 tafsir <em>tahlili<\/em>\u00a0adalah tafsir yng mengkaji ayat-ayat Al-Qur\u2019an dari segala segi dan maknanya. Seorang pengkaji dengan metode ini menafsirkan ayat-ayat Al-Qur\u2019an, ayat demi ayat dan surat demi surat, sesuai dengan urutan dalam\u00a0<em>mushhaf Utsmany.<\/em>\u00a0Untuk itu ia menguraikan kosa kata dan lafadz, menjelaskan arti yang dikehendaki, sasaran yang dituju dan kandungan ayat, yaitu unsur\u00a0<em>\u00a0i\u2019jaz, balaghah\u00a0<\/em>dan keindahan susunan kalimat, menjelaskan apa yang di<em>istinbath<\/em>kan dari ayat, yaitu hukum fikih, dalil syar\u2019i, arti secara bahasa, norma-norma akhlak, aqidah atau tauhid, perintah, larangan, janji, ancaman,\u00a0<em>haqiqat, majaz, kinayah,\u00a0<\/em>dan<em>\u00a0isti\u2019arah.\u00a0<\/em>Di samping itu juga mengemukakan kaitan antara ayat-ayat dan relevansinya dengan surat sebelum dan sesudahnya . Dengan demikian sebab nuzul ayat atau sebab-sebab turun ayat, Hadits-hadits Rosulloh SAW dan pendapat para sahabat dan tabi\u2019in-tabi\u2019in sangat dibutuhkan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Maka, tafsir <em>tahlili\u00a0<\/em>merupakan ilmu tafsr yang menafsirka ayat-ayat Al-Qur\u2019an secara berurutan dari ayat per ayat sesuai urutan pada mushaf\u00a0<em>utsmani<\/em>, menjelaskan setiap ayatnya secara detail yang meliputi beberapa hal antara lain, isi kandungan ayatnya,\u00a0<em>asbab al nuzul<\/em>nya, dan lain-lain.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Metode tafsir <em>Tahlili<\/em>\u00a0ini sering dipergunakan oleh kebanyakan ulama pada masa-masa dahulu. Namun, sekarangpun masih digunakan. Para ulama ada yang mengemukakan kesemua hal tersebut di atas dengan panjang lebar (<em>ithnab<\/em>), seperti Al-Alusy, Al-Fakhr Al-Razy, Al-Qurthuby dan Ibn Jarir Al-Thabary. Ada juga yang menemukakan secara singkat (<em>ijaz<\/em>), seperti Jalal al-Din Al-Shuyuthy, Jalal al-Din Al-Mahally dan Al-Sayyid Muhammad Farid Wajdi. Ada pula yang mengambil pertengahan (<em>musawah<\/em>), seperti Imam Al-Baydlawy, Syeikh Muhammad \u2018Abduh, Al-Naysabury, dll. Semua ulama di atas sekalipun mereka sama-sama menafsirkan Al-Qur\u2019an dengan menggunakan metode\u00a0<em>Tahlili<\/em>, akan tetapi corak<em>\u00a0Tahlili\u00a0<\/em>masing-masing berbeda.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Para ulama telah membagi wujud metode tafsir\u00a0<em>Tahlili<\/em>\u00a0menjadi tujuh macam, yaitu tafsir\u00a0<em>bil Ma\u2019tsuri,\u00a0<\/em>tafsir\u00a0<em>bir Ra\u2019yi<\/em>, tafsir\u00a0<em>Shufi,<\/em>\u00a0tafsir\u00a0<em>Fikih<\/em>, tafsir\u00a0<em>Falsafi<\/em>, tafsir\u00a0<em>\u2018Ilmi<\/em>, tafsir\u00a0<em>Adab al-ijtimi\u2019i.<\/em><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tafsir Tahlili bentuk\u00a0<em>Ma\u2019tsuri\u00a0<\/em>\/\u00a0<em>tafir bi al-Ma\u2019tsuri<\/em>\u00a0(riwayat)<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tafsir\u00a0<em>bil Ma\u2019tsuri<\/em>\u00a0yaitu menafsirkan ayat-ayat Al-Qur\u2019an dengan ayat-ayat lain, dengan sunnah Nabi SAW, dengan pendapat sahabat Nabi SAW, dan dengan perkataan\u00a0 tabi\u2019in. Menurut Subhi as-Shalih, bentuk tafsir seperti ini sangat rentan terhadap masuknya pendapat-pendapat di luar Islam, seperti kaum zindiq Yahudi, Parsi, dan Parsi, dan masuknya hadits-hadits yang tidak shahih.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tafsir Tahlili Bentuk\u00a0<em>bir Ra\u2019yi<\/em>\u00a0\/ tafsir\u00a0<em>bi al-Ra\u2019yi<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tafsir\u00a0<em>bir Ra\u2019yi<\/em>\u00a0merupakan cara penafsiran Al-Qur\u2019an dengan dan penalaran dari mufasir itu sendiri. Mufasir dalam metode ini diberi kebebasan dalam berpikir untuk menafsirkan Al-Qur\u2019an. Hal tersebut tentu dibatasi oleh kaidah-kaidah penafsiran Al-Qur\u2019an, agar tidak terjadi penyalahgunaan wewenang dalam menafsirkan Al-Qur\u2019an.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tafsir Tahlily Bentuk\u00a0<em>Shufi<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tafsir\u00a0<em>Shufi<\/em>\u00a0mulai berkembang ketika ilmu-ilmu agama dan sains mengalami kemajuan pesat serta kebudayaan Islam tersebar di seliruh pelosok dunia dan mengalami kebangkitan dalam segala seginya. Tafsir ini lebih menekankan pada aspek dan dari sudut esoterik atau isyarat-isyarat yang tersirat dari ayat oleh para tasawuf.\u00a0\u00a0Metode bentuk ini dibagi menjadi dua yaitu, teoritis dan praktis.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam bentuk teoritis, mufasir menafsirkan Al-Qur\u2019an\u00a0 dengan menggunakan mazhabnya dan sesuai dengan ajaran-ajaran mereka. Mereka menta\u2019wilkan ayat-ayat Al-Qur\u2019an dengan penjelasan yang menyimpang dari pengertian tekstual yang telah dikenal dan didukung oleh dalili Syar\u2019i. Sedangkan dalam bentuk praktis, mufasir menafsirkan ayat-ayat Al-Qur\u2019an dengan berdasarkan isyarat-isyara tersembunyi.<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tafsir Tahlili Bentuk\u00a0<em>Fikih<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tafsir <em>Fikih<\/em>\u00a0adalah tafsir yang menekankan pada tinjauan hukum dari ayat yang di tafsirkan. Tafsir ini banyak di temukan dalam kitab-kitab fikih yang dikarang oleh imam-imam dari berbagai mazhab yang berbeda.<\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tafsir Tahlili Bentuk\u00a0<em>Falsafi\u00a0\u00a0<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tafsir <em>Falsafi<\/em>\u00a0merupakan ilmu tafsir yang menafsirkan Al-Qur\u2019an dengan menggunakan pendekatan filsafat. Pendekat filsafat yang digunakan adalah\u00a0 pendekatan yang berusaha melakukan sintesis dan siskretisasi antara teori-teori filsafat dengan ayat-ayat Al-Qur\u2019an, selain itu juga menggunakan pendekatan yang berusaha menolak\u00a0 teori-teori filsafat yang dianggap bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur\u2019an.<\/p>\n<ol start=\"6\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tafsir Tahlili Bentuk\u00a0<em>\u2018Ilmi<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tafsir ini mulai muncul akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat, sehingga tafsir ini dalam menafsirkan Al-Qur\u2019an dengan menggunakan pendekatan almiah atau dengan menggunakan teori-teori ilmu pengetahuan. Dalam tafsir ini mufasir berusaha mengkaji Al-Qur\u2019an dengan dikaitkan dengan gejala atau fenomena-fenomena yang terjadi di alam semesta ini. Namun, yang sangat disayangkan adalah pada tafsir ini terbatas pada ayat-ayat tertentu dan bersifat parsial, terpisah dengan ayat-ayat lain yang berbicara pada masalah yang sama.<\/p>\n<ol start=\"7\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tafsir Tahlili Bentuk\u00a0<em>Adab Al-Ijtima\u2019i<\/em>\u00a0<em>Adab Al Ijtima\u2019i\u00a0<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tafsir adalah suatu metode tafsir yang coraknya menjelaskan petunjuk-petunjuk ayat Al-Qur\u2019an yang berkaitan langsung dengan kehidupan kemasyarakatan, serta usaha-usaha untuk menanggulangi penyakit-penyakit atau masalah-masalah kemasyarakatan berdasarkan petunjuk Al-Qur\u2019an dengan mengemukakannya menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan indah didengar.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Jadi, metode tafsir <em>tahlili\u00a0<\/em>ini dibagi oleh beberapa ulama menjadi beberapa macam, yaitu tafsir\u00a0<em>bi al-Ma\u2019tsuri, bi al-Ra\u2019yi, Shufi, Fikih, Falsafi, \u2018Ilmi,\u00a0<\/em>dan<em>\u00a0Adab al-Ijtima\u2019i.\u00a0<\/em>Semua bentuk tafsir\u00a0<em>tahlili\u00a0<\/em>memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri. Tafsir\u00a0<em>bi al ma\u2019tsuri\u00a0<\/em>adalah tafsir yang penafsirannya dengan menggunakan ayat-ayat lain, riwayah Nabi SAW, sahabat, dan tabi\u2019in. Tafsir\u00a0<em>bi al ra\u2019yi\u00a0<\/em>adalah tafsir yang penafsirannya menggunakan metode\u00a0<em>ijtihad\u00a0<\/em>dan penalaran. Tafsir\u00a0<em>shufi<\/em>\u00a0adalah tafsir yang menekankan pada isyarat-isyarat yang terdapat pada ayat yang dikemukakan oleh tasawuf. Tafsir\u00a0<em>fikih<\/em>\u00a0adalah tafsir yang menekankan pada tinjauan hukum dari ayat yang ditafsir. Tafsir\u00a0<em>falsafi\u00a0<\/em>adalah tafsir yang menafsirkan Al-Qur\u2019an dengan pendekatan filsafat. Tafsir\u00a0<em>\u2018ilmu\u00a0<\/em>adalah tafsir yang menggunakan pendekatan ilmiah atau teori-teori ilmu pengetahuan. Dan yang terakhir tafsir\u00a0<em>adab al-ijtima\u2019i\u00a0<\/em>adalah tafsir yang menjelaskan kepada hubungan dengan kemasyarakatan.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ciri-ciri_Tafsir_Tahlili\"><\/span><strong>Ciri-ciri Tafsir Tahlili<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Metode Tafsir <em>tahlili\u00a0<\/em>memiliki ciri khusus yang membedakannya dari metode tafsir lainnnya, ciri-ciri tersebut adalah :<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Mufasir menafsirkan ayat per ayat sesuai dengan urutan dalam mushaf \u00a0<em>ustmani,<\/em>\u00a0yaitu dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri oleh surat An-Nas.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Mufasir menjelaskan makna yang terkandung dalam Al-Qur\u2019an secara komprehensif dan menyeluruh, baik makna harfiah setiap kata maupun\u00a0<em>asbabun nuzul<\/em>nya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Bahasa yang digunakan metode\u00a0<em>tahlili\u00a0<\/em>tidak sesederhana yang dipakai metode tafsir\u00a0<em>ijmali.<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Contoh-contoh_Tafsir_Tahlili\"><\/span><strong>Contoh-contoh Tafsir Tahlili<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ada cukup banyak contoh tafsir<em>\u00a0tahlili,\u00a0<\/em>antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Contoh tafsir\u00a0<em>tahlili<\/em>\u00a0dalam bentuk\u00a0<em>bi al-ma\u2019tsuri\u00a0<\/em>yang menafsirka Al-Qur\u2019an dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Rasullullah SAW untuk menjelaskan sebagian kesulitan yang ditemui oleh para sahabat semasa Rasulullah SAW masih hidup. Seperti penafsiran hadits Rasulullah SAW terhadap pengertian<strong>\u0627\u0644\u063a\u0636\u0648 \u0628 \u0639\u0644\u064a\u0647\u0645\u00a0\u00a0\u00a0<\/strong>\u00a0<strong>\u00a0<\/strong>dan<strong>\u00a0\u0627\u0644\u0636\u0627 \u0644\u064a\u0646\u00a0<\/strong>\u00a0(Q.S. Al-Fatihah :7), penjelasan beliau tentang firman Allah\u00a0<strong>\u0627\u0644\u0630 \u064a\u0646 \u0627\u0645\u0646\u0648\u0627\u0648\u0644\u0645 \u064a\u0644\u0628\u0633\u0648\u0627\u0627\u064a\u0645\u0627\u0646\u0647\u0645 \u0628\u0638\u0644\u0645 \u00a0<\/strong>\u00a0(Q.S. Al-An\u2019am :82) dan firman Allah\u00a0<strong>\u064a\u0627\u064a\u0647\u0627\u0627\u0644\u0630\u064a\u0646 \u0627\u0645\u0646\u0648\u0627\u0627\u062a\u0642\u0648\u0627\u0627\u0644\u0644\u0647 \u062d\u0642 \u062a\u0642\u0627\u062a\u0647\u00a0\u00a0<\/strong>\u00a0(Q.S. Ali \u2018Imran :102) dan lain-lain.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Contoh yang dalam bentuk<em>\u00a0shufi,\u00a0<\/em>yaitu Al-Alusy berkata tentang\u00a0<em>isyarat<\/em>\u00a0yang diberikan oleh firman Allah (Q.S. Al-Baqarah :45), sebagai berikut<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya: \u201c<em>Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu\u2019\u201d.<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Bahwa shalat adalah sarana untuk memusatkan dan mengkonsentrasikan hati untuk menangkap\u00a0<em>tajally\u00a0<\/em>(penampakan diri) Allah dan hal ini sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang luluh dan lunak hatinya untuk menerima cahaya-cahaya dari\u00a0<em>tajally-tajally\u00a0<\/em>Allah yang amat halus dan menangkap kekuasaan-Nya yang perkasa. Merekalah orang-orang yang yakin, bahwa mereka benar-benar berada di hadapan Allah dan hanya kepada-Nyalah mereka kembali, dengan menghancurkan sifat-sifat kemanusiaan mereka (<em>fana\u2019)\u00a0<\/em>dan meleburkannya ke dalam sifat-sifat Allah (<em>baqa\u2019),\u00a0<\/em>sehingga mereka tidak menemukan selain eksistensi Allah sebagai Raja yang Maha Halus dan Maha Perkasa.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dari beberapa contoh di atas, kita dapat mengetahui bahwa tafsir\u00a0<em>tahlili\u00a0<\/em>itu menjelaskan ayat-ayat\u00a0 Al-Qur\u2019an sesuai dengan bentuknya atau mempunyai karakter tersendiri. Selain itu, masih ada banyak lagi contoh dari tafsir\u00a0<em>tahlili.<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ada cukup banyak contoh kitab-kitab tafsir yang menggunakan metode tafsir ini, antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Jami\u2019 al-Bayan fy Tafsir al-Qur\u2019an<\/em>, karangan Imam Ibn Jarir Al-Thabary<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Ma\u2019alim al-Tanzil<\/em>\u00a0yang dikenal dengan\u00a0<em>\u00a0Al-Tafsir al-Manqul,<\/em>\u00a0karangan Imam Al-Baghawy<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Madarik al \u2013Tanzil wa Haqaiq al-Ta\u2019wil,<\/em>\u00a0karangan Al-Ustadz Mahmud Al-Nasafy<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Anwar al-Tanzil wa Asrarnal-Ta\u2019wil,<\/em>\u00a0karangan Al-Ustadz Al-Baydlawy<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Tafsir Al-Qur\u2019an al-\u2018Adhim,<\/em>\u00a0karangan Imam Al-Tustury<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Haqaiq al-Tafsir, <\/em>karangan Al-\u2018Allamah Al-Sulamy (w. 421 H)<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Ahkam Al-Qur\u2019an, <\/em>karangan Al-Jasshash (w. 370 H)<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Al-Jami\u2019 li Al-Qurthuby <\/em>(w. 671 H)<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Mafatih al-Ghaib, <\/em>karangan Al-Fakhr Al-Razi (w. 606)<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>At-Tafsir al-\u2018Ilm li al-Kauniyat al-Qur\u2019an al-Karim, <\/em>karya Hanafi Ahmad<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Al-Islam Yatahadda, <\/em>karangan\u00a0<em>Al-\u2018Allamah Wahid al-Din Khan<\/em><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Tafsir al-Manar, <\/em>karya Rasyid Ridha (w. 1345 H)<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Tafsir Al-Qur\u2019an al-Karim, <\/em>karya Mahmud Salthut<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dan masih banyak lagi contoh kitab yang berdasarkan atau yang menggunakan metode tafsir\u00a0<em>tahlili<\/em> ini.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Keistimewaan_dan_Kelemahannya\"><\/span><strong>Keistimewaan dan Kelemahannya<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam menganalisa tafsri\u00a0<em>tahlili,<\/em>\u00a0muncul beberapa pertanyaan yang berkenaan dengan kegunaan metode penafasiran ini, diantaranya adalah apa keistimewaan dan kelemahan metode tafsir ini, dan bagaimana pula contohnya.\u00a0Dalam bagian ini akan dibahas insya Allah mengenai keistimewaan dan juga kelemahan tafsir ini. Suatu metode yang dilahirkan seorang manusia, selalu saja memliki kelemahan\u00a0\u00a0dan keistimewaan. Demikian halnya juga dengan metode\u00a0<em>tahlili\u00a0<\/em>ini. Namun perlu disadari keistimewaan dan kelemahan yang dimaksud disini bukanlah suatu hal yang negatif, akan tetapi rujukan dalam ciri-ciri metode ini.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam tafsir\u00a0<em>tahlili<\/em>\u00a0ditemukan beberapa keistimewaan diantaranya adalah tafsir ini biasanya selalu memaparkan beberapa hadist ataupun perkataan sahabat dan para tabiin, yang berkenaan dengan pokok pembahasan pada ayat. Juga didalamnya terdapat beberapa analisa mufassir mengenai hal-hal umum yang terjadi sesuai dengan ayat. Dengan demikian, informasi wawasan yang diberikan dalam tafsir ini sangat banyak dan dalam.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Keistimewaan lainnya adalah adanya potensi besar untuk memperkaya arti kata-kata dengan usaha penafsiran terhadap kosa-kata ayat. Potensi ini muncul dari luasnya sumber tafsir metode\u00a0<em>tahlili<\/em>\u00a0tersebut. Penafsiran kata dengan metode\u00a0<em>tahlili\u00a0<\/em>akan erat kaitannya dengan kaidah-kaidah bahasa Arab dan tidak tertutup kemungkinan bahwa kosa-kata ayat tersebut sedikit banyakanya bisa dijelaskan dengan kembali kepada arti kata tersebut seperti pemakaian aslinya. Pembuktian seperti ini akan banyak berkaitan dengan syair-syair kuno.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Keistimewaan lainnya adalah luasnya bahasan penafsiran. Pada dasarnya, selain kedetilan, keluasan bahasan juga menjadi salah satu ciri khusus yang membedakan tafsir tahlili dengan tafsir\u00a0<em>ijmali.\u00a0<\/em>Seperti disebutkan di atas, bahwa salah satu keistimewaan tafsir tahlili dibandingkan dengan tafsir\u00a0<em>ijmali<\/em>\u00a0adalah kedetilannya dalam menguraikan sebuah ayat. Sebuah ayat yang tidak ditafsirkan oleh metode\u00a0<em>ijmali<\/em>\u00a0kadang kala membutuhkan ruang yang banyak bila ditafsirkan dengan metode\u00a0<em>tahlili.\u00a0<\/em>Disamping keistimewaan, juga ada kelemahan. Namun sekali lagi kelemahan disini bukanlah merupakan kelemahan yang mengharuskan kita tidak menggunakan atau mengabaikan tafsir ini. Akan tetapi hendaknya dalam menyikapi kelemahan ini, kita haru dapat memilah milih beberapa informasi dan wawasan yang dipaparkan dalam metode penafsiran ini.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Salah satu kelemahan yang sering disebutkan adalah berkenaan dengan Israiliyat yang mungkin terkadang masuk dalam informasi yang diberikan mufassir. Juga sama halnya dengan berbagai hadist lemah yang tidak selayaknya digunakan pada tempat dan kondisi sesuai.\u00a0\u00a0Akan tetapi dengan analisa kritis yang mendalam, kelemahan ini sangat mungkin untuk dihindarkan. Selayaknyalah memang seorang mufassir yang berkompeten untuk memberikan perhatian serius terhadap sumber informasi yang ia gunakan dalam menafsirkan sebuah ayat. Israiliyyat tidaklah begitu sulit untuk dikenali, konsepnya hanyalah apakah informasi tersebut mempunyai sumber yang jelas atau tidak, bila sumbernya jelas dan kuat maka informasi tersebut bisa dipakai dan sebaliknya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Demikian pula dengan hadist-hadist dha\u2019if ataupun pendapat-pedapat para sahabat maupun tabi\u2019i. Hukum dasar hadist da\u2019if adalah tidak boleh diamalkan, hal ini tentu saja berlaku dalam pemakaian sebagai sumber tafsir. Hadist dha\u2019if tersebut hanya bisa dipakai sebagai penguat apabila ada hadist yang lebih kuat menjelaskan senada dengan hadist da\u2019if tersebut.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kelemahan lain tafsir\u00a0<em>tahlili<\/em>\u00a0adalah kesannya yang bertele-tele dan sistematis. Tapi apakah demikian adanya? Sepintas memang akan terlihat demikian karena tafsir tahlili membutuhkan wadah yang lebih banyak dan luas dibandingkan dengan tafsir\u00a0<em>ijmali.<\/em>\u00a0Pemakaian kata yang banyak tidak bisa dikatakan bertele-tele bila memang kajian tersebut membutuhkan wadah bahasa yang panjang untuk menguraikannya. Bertele-telenya sebuah penafsiran adalah dengan banyak kalimat-kalimat yang tidak berfungsi\u00a0\u00a0dengan baik dalam menguraikan ayat, seperti perulangan penjelasan, atau kiasan-kiasan yang tidak perlu.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kedetilan dan keluasan bahasan tafsir tahlili dalam menguraikan sebuah ayat tentu saja membutuhkan usaha yang lebih keras dan waktu yang lebih lama bagi seorang mufassir. Bagi beberapa golongan hal ini juga dianggap sebagai kelemahan dibandingkan dengan tafsir ijmali yang praktis dan sederhana.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Keistimewaan metode tafsir\u00a0<em>tahlili<\/em>\u00a0dapat dirangkum sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Sumber yang bervariasi.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Analisa mufassir.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Kekayaan arti kosa-kata dalam Alquran.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Luas.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Detil<br \/>\nSedangkan beberapa kelemahannya adalah:<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Peluang untuk masuknya israiliyyat lebih besar.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Peluang untuk masuknya informasi yang tidak penting lebih besar.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Bertele-tele.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membutuhkan wadah, kata, waktu yang relatif lebih besar.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Nashruddin Ba\u2019idan,\u00a0<em>Metodologi Penafsiran Al-Qur\u2019an<\/em>, Yogyakarta: Glaguh UHIV , 1998.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u2018Ali Hasan Al-\u2018Aridl,\u00a0<em>Sejarah dan Metodologi Tafsir,<\/em>\u00a0 Jakarta: PT\u00a0 Raja Grafindo Persada, 1994.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Nur Kholis,\u00a0<em>Pengantar Al-Qur\u2019an dan Hadis<\/em>, Yogyakarta: Sukses offset, 2008.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Tafsir\u00a0Tahlili Tafsir\u00a0Tahlili\u00a0merupakan metode tafsir ayat-ayat Al-Qur\u2019an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang ditafsirkan itu serta menerangkan makna-makna yang tercakup di&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-27046","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27046","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27046"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27046\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27046"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27046"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27046"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}