{"id":27027,"date":"2022-11-17T14:33:10","date_gmt":"2022-11-17T07:33:10","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=27027"},"modified":"2022-11-17T14:33:10","modified_gmt":"2022-11-17T07:33:10","slug":"tafsir-maudhui-pengertian-pembagian-metode-kelebihan-kekurangan-dan-perbandingannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-maudhui-pengertian-pembagian-metode-kelebihan-kekurangan-dan-perbandingannya\/","title":{"rendered":"Tafsir\u00a0Maudhu\u2019i : Pengertian, Pembagian, Metode, Kelebihan \/ Kekurangan dan Perbandingannya"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-maudhui-pengertian-pembagian-metode-kelebihan-kekurangan-dan-perbandingannya\/#Pengertian_Tafsir_Maudhui\" >Pengertian Tafsir Maudhu\u2019i<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-maudhui-pengertian-pembagian-metode-kelebihan-kekurangan-dan-perbandingannya\/#Karakteristik_Tafsir_Maudhui\" >Karakteristik Tafsir Maudhu\u2019i<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-maudhui-pengertian-pembagian-metode-kelebihan-kekurangan-dan-perbandingannya\/#Pembagian_Tafsir_Maudhui\" >Pembagian Tafsir\u00a0Maudhu\u2019i<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-maudhui-pengertian-pembagian-metode-kelebihan-kekurangan-dan-perbandingannya\/#Langkah-langkah_Tafsir_Maudhui\" >Langkah-langkah Tafsir\u00a0Maudhu\u2019i<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-maudhui-pengertian-pembagian-metode-kelebihan-kekurangan-dan-perbandingannya\/#Analisis_Kelebihan_dan_Kelemahan_Tafsir_Maudhui\" >Analisis Kelebihan dan Kelemahan Tafsir\u00a0Maudhu\u2019i<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-maudhui-pengertian-pembagian-metode-kelebihan-kekurangan-dan-perbandingannya\/#Kedudukan_Tafsir_Maudhui\" >Kedudukan Tafsir\u00a0Maudhu\u2019i<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-maudhui-pengertian-pembagian-metode-kelebihan-kekurangan-dan-perbandingannya\/#Perbedaan_dan_Persamaan_Tafsir_Hadits_Maudhui\" >Perbedaan dan Persamaan Tafsir Hadits\u00a0Maudhu\u2019i<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-maudhui-pengertian-pembagian-metode-kelebihan-kekurangan-dan-perbandingannya\/#Referensi\" >Referensi:<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>afsir Maudhu\u2019i adalah salah satu pendekatan penting dalam ilmu tafsir yang memiliki karakteristik unik dibandingkan dengan metode tafsir lainnya. Dalam pendekatan ini, ayat-ayat Al-Qur\u2019an ditafsirkan berdasarkan tema atau topik tertentu, bukan urutan turun atau konteks tertentu.<\/p>\n<p>Tafsir Maudhu\u2019i memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam tentang isu-isu kontemporer dengan memadukan ayat-ayat yang relevan dalam Al-Qur\u2019an. A<\/p>\n<p>rtikel ini akan membahas secara rinci mengenai pengertian tafsir maudhu\u2019i, pembagiannya, metode yang digunakan dalam penyusunan tafsir ini, serta kelebihan dan kekurangannya.<\/p>\n<p>Tidak hanya itu, artikel ini juga akan membandingkan tafsir maudhu\u2019i dengan pendekatan tafsir lainnya, memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang bagaimana tafsir ini dapat diterapkan dalam kajian keagamaan dan sosial saat ini.<\/p>\n<h2 class=\"mt-6 mb-3 lg-bold\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Tafsir_Maudhui\"><\/span>Pengertian Tafsir Maudhu\u2019i<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p class=\"markdown-p\">Tafsir Maudhu\u2019i, atau yang dikenal juga sebagai tafsir tematik, adalah metode penafsiran Al-Qur&#8217;an yang berfokus pada pengumpulan ayat-ayat yang memiliki tema atau topik yang sama, kemudian menganalisisnya secara mendalam dan sistematis.<\/p>\n<p class=\"markdown-p\">Metode ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas dan terfokus karena diskusinya didasarkan pada tema tertentu, sehingga keunggulan dari tafsir maudhu\u2019i adalah dinamis, sistematis, dan mudah dipahami secara keseluruhan (Anshory, 2020; Nazhifah &amp; Karimah, 2021; Alawi, 2018).<\/p>\n<p class=\"markdown-p\">Dalam tafsir maudhu\u2019i, ayat-ayat yang berkaitan dengan tema tertentu dikumpulkan dan disusun berdasarkan kronologi turunnya ayat serta memperhatikan latar belakang sebab-sebab turunnya ayat tersebut.<\/p>\n<p class=\"markdown-p\">Setelah itu, ayat-ayat tersebut dijelaskan, diberi komentar, dan diambil poin-poin penting dari isinya (Maisaroh &amp; Toriquddin, 2021; Mulyaden &amp; Fuad, 2021).<\/p>\n<p class=\"markdown-p\">Misalnya, dalam penafsiran mengenai manajemen kesiswaan di lembaga pendidikan Islam, ayat-ayat yang relevan dikumpulkan dan dianalisis untuk memberikan panduan tentang bagaimana manajemen siswa seharusnya dilakukan menurut perspektif Al-Qur&#8217;an (Maisaroh &amp; Toriquddin, 2021).<\/p>\n<p class=\"markdown-p\">Tafsir maudhu\u2019i juga dikenal dengan beberapa karakteristik khusus, seperti bersifat spesifik (juz&#8217;iyyah) bukan komprehensif (kuliyah), lebih fokus pada tema-tema tertentu yang berkaitan erat dengan kemanusiaan, dan memperhatikan masalah-masalah kontemporer (Yusuf &amp; Permana, 2021).<\/p>\n<p class=\"markdown-p\">Metode ini dianggap lebih praktis dan aktual dalam menjawab tantangan zaman serta memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang makna Al-Qur&#8217;an (Mulyaden &amp; Fuad, 2021).<\/p>\n<p class=\"markdown-p\">Para ahli tafsir seperti Abdul Hayy Al-Farmawi, Muhammad Baqir Ash-Sadr, dan Abdussatar Fathullah Said sepakat bahwa metode tafsir maudhu\u2019i sangat penting karena dapat menjawab masalah-masalah kontemporer dan memberikan pemahaman yang komprehensif tentang Al-Qur&#8217;an (Yunus et al., 2021).<\/p>\n<p class=\"markdown-p\">Meskipun mereka memiliki pandangan yang sama mengenai urgensi metode ini, terdapat perbedaan dalam langkah awal dan proses operasional yang mereka formulakan (Yunus et al., 2021).<\/p>\n<p class=\"markdown-p\">Secara etimologi, kata &#8220;maudhu\u2019i&#8221; dalam Al-Qur&#8217;an ditemukan sebanyak 24 kali, yang salah satu maknanya adalah menentukan sesuatu yang digunakan dalam suatu masalah atau topik (Nazhifah &amp; Karimah, 2021).<\/p>\n<p class=\"markdown-p\">Dengan demikian, istilah maudhu\u2019i dapat diterapkan dalam studi penafsiran dengan mengumpulkan ayat-ayat yang memiliki tema atau topik yang sama dan kemudian menganalisisnya secara detail sesuai dengan aturan tafsir tahlili (Nazhifah &amp; Karimah, 2021).<\/p>\n<h2 class=\"mt-6 mb-3 lg-bold\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Karakteristik_Tafsir_Maudhui\"><\/span>Karakteristik Tafsir Maudhu\u2019i<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p class=\"markdown-p\">Tafsir Maudhu\u2019i, atau tafsir tematik, adalah metode penafsiran Al-Qur&#8217;an yang berfokus pada tema tertentu. Metode ini mengumpulkan dan mengkaji ayat-ayat yang berkaitan dengan tema yang sama, sehingga memberikan penjelasan yang lebih terfokus dan jelas. Berikut adalah beberapa karakteristik utama dari Tafsir Maudhu\u2019i:<\/p>\n<p class=\"mt-6 mb-3 base-bold\"><strong>Dinamis dan Sistematis<\/strong><\/p>\n<p class=\"markdown-p\">Tafsir Maudhu\u2019i dikenal karena sifatnya yang dinamis dan sistematis. Penafsiran ini disusun berdasarkan tema, yang memungkinkan pembaca untuk memahami isi Al-Qur&#8217;an secara keseluruhan dengan lebih mudah dan terstruktur. Sebagai contoh, As-Sa&#8217;di dalam karyanya &#8220;Taisirul Lathifil Mannani fi Khulashati Tafsiril Qur`an&#8221; menggunakan metode ini dengan mengumpulkan ayat-ayat berdasarkan tema tertentu, seperti aqidah, hukum Islam, dan kisah para nabi (Anshory, 2020).<\/p>\n<p class=\"mt-6 mb-3 base-bold\"><strong>Fokus pada Tema Tertentu<\/strong><\/p>\n<p class=\"markdown-p\">Metode ini memungkinkan penafsiran yang lebih mendalam dan spesifik terhadap tema tertentu. Misalnya, dalam studi tentang materialisme dalam Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, penafsiran dilakukan dengan mengkaji ayat-ayat yang berkaitan dengan materialisme. Hal ini membantu dalam memahami bagaimana Al-Qur&#8217;an membahas isu-isu kontemporer seperti gaya hidup materialistis dan dampaknya terhadap kehidupan sosial (Khudzaifah et al., 2022).<\/p>\n<p class=\"mt-6 mb-3 base-bold\"><strong>Relevansi dengan Isu Kontemporer<\/strong><\/p>\n<p class=\"markdown-p\">Tafsir Maudhu\u2019i juga sering digunakan untuk mengkaji isu-isu kontemporer yang relevan dengan kehidupan modern. Sebagai contoh, penelitian tentang eksistensi konselor sebagai khalifah menggunakan metode tafsir maudhu\u2019i untuk mengkaji ayat-ayat yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab seorang konselor dalam perspektif Islam. Penelitian ini menunjukkan bagaimana tafsir maudhu\u2019i dapat digunakan untuk memberikan panduan praktis dalam profesi tertentu (S &amp; Irman, 2023).<\/p>\n<p class=\"mt-6 mb-3 base-bold\"><strong>Kemudahan Pemahaman<\/strong><\/p>\n<p class=\"markdown-p\">Salah satu keunggulan utama dari Tafsir Maudhu\u2019i adalah kemudahan dalam pemahaman. Dengan mengelompokkan ayat-ayat berdasarkan tema, pembaca dapat lebih mudah memahami pesan-pesan Al-Qur&#8217;an tanpa harus mencari-cari ayat yang tersebar di berbagai surah. Hal ini membuat tafsir maudhu\u2019i menjadi pilihan yang sangat efektif untuk pendidikan dan dakwah (Anshory, 2020; S &amp; Irman, 2023).<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pembagian_Tafsir_Maudhui\"><\/span>Pembagian Tafsir\u00a0<em>Maudhu\u2019i<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam perkembangannya, metode\u00a0<em>maudhu\u2019i<\/em> memiliki dua bagian (Nushruddin, 1988):<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">&#8211;\u00a0 Mengkaji sebuah surat dengan kajian universal (tidak parsial), yang di dalamnya dikemukakan misi awalnya, lalu misi utamanya, serta kaitan antara satu bagian surat dan bagian lain, sehingga wajah surat itu mirip seperti bentuk yang sempurna dan saling melengkapi. Contoh:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya:\u00a0<em>\u201c\u00a0Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui<\/em><em>\u00a0<\/em><em>Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang ke luar daripadanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia-lah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.<\/em>\u00a0(Q.S\u00a0Saba\u00a0[34]\u00a0:1-2)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Di Al-Qur\u2019an surat saba\u2019: 1-2 ini diawali pujian bagi Allah dengan menyebutkan kekuasaan-Nya. Setelah itu, mengemukakan pengetahuan-Nya yang universal, kekuasaan-Nya yang menyeluruh pada kehendak-Nya yang bijak.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menghimpun seluruh ayat Al-qur\u2019an yang berbicara tentang tema yang sama. Semuanya diletakkan dibawah satu judul, lalu ditafsirkan dengan metode\u00a0<em>maudhu\u2019i<\/em>.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Contohnya: Allah SWT, berfirman:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya:<em>\u00a0\u201c Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dan tuhannya , maka Allah menerima tibatnya, sesungguhnya Allah maha penerima tobat lagi maha penyayang<\/em>.\u201d\u00a0(Q.S Al-Baqarah [2] : 37)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Untuk menjelaskan kata \u2018<em>kalima<\/em>t\u2019 pada firman Allah<em>\u00a0Ta\u2019ala<\/em>\u00a0di atas ,nabi mengemukakan ayat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya:<em>\u201c Keduanya berkata, : ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika engkau tidak mengampuni rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang merugi.\u201d\u00a0<\/em>(Q.S Al-A\u2019raaf [7] : 23)<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Langkah-langkah_Tafsir_Maudhui\"><\/span>Langkah-langkah Tafsir\u00a0<em>Maudhu\u2019i<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Langkah-langkah\u00a0metode tafsir\u00a0<em>maudhu\u2019i<\/em> baru dimunculkan pada akhir tahun 1960 oleh Prof. Dr. Ahmad Sayyid Al-Kumiy\u00a0dengan langkah-langkah sebagai berikut (Nushruddin, 1988):<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Memilih atau menetapkan masalah al-Qur&#8217;an yang akan dikaji secara\u00a0<em>maudhu\u2019i<\/em>\u00a0(tematik).<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menghimpun seluruh ayat al-quran yang terdapat pada seluruh surat al-Qur&#8217;an yang berkaitan dan berbicara tentang tema yang hendak dikaji, baik surat\u00a0<em>makkiyyat<\/em>\u00a0atau surat\u00a0<em>madaniyyat.<\/em><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menentukan urutan ayat-ayat yang dihimpun itu sesuai dengan masa turunnya dan mengemukakan sebab-sebab turunnya jika hal itu dimungkinkan (artinya, jika ayat-ayat itu turun karena sebab-sebab tertentu).<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menjelaskan\u00a0<em>munasabah<\/em>\u00a0(relevansi) antara ayat-ayat itu pada masing-masing suratnya dan kaitan antara ayat-ayat itu dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya pada masing-masing suratnya (dianjurkan untuk melihat kembali pada tafsir\u00a0<em>tahlily<\/em>).<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menyusun tema bahasan di dalam kerangka yang pas, sistematis, sempurna, dan utuh (<em>outline<\/em>) yang mencakup semua segi dari tema kajian.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Mengemukakan hadith-hadith Rasulullah SAW yang berbicara tentang tema kajian serta men-<em>takhrij<\/em>\u00a0dan menerangkan derajat hadith-hadith itu untuk lebih meyakinkan kepada orang lain yang mempelajari tema itu. Dikemukakan pula riwayat-riwayat (<em>athar<\/em>) dari para sahabat dan<em>tabi\u2019in<\/em>.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Merujuk kepada kalam (ungkapan-ungkapan bangsa) Arab dan\u00a0<em>shair-shair<\/em>\u00a0mereka dalam menjelaskan\u00a0<em>lafaz-lafaz<\/em>\u00a0yang terdapat pada ayat-ayat yang berbicara tentang tema kajian dan dalam menjelaskan makna-maknanya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Mempelajari ayat-ayat tersebut secara\u00a0<em>maudu\u2019i<\/em>\u00a0dan menyeluruh dengan cara menghimpun ayat-ayat yang mengandung pengertian serupa, mengkompromikan pengertian antara yang\u00a0<em>\u2018am dan khas<\/em>, antara yang\u00a0<em>mutlaq<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>muqayyad<\/em>, mengsinkronkan ayat-ayat yang lahirnya tampak kontradiktif, menjelaskan ayat yang\u00a0<em>nasikh<\/em>\u00a0dan<em>mansukh<\/em>, sehingga semua ayat tersebut bertemu pada satu muara, tanpa perbedaan dan kontradiksi atau tindakan pemaksaan terhadap sebagian ayat kepada makna-makna yang sebenarnya tidak tepat.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan\u00a0\u00a0yang melakukan tafsir<em>\u00a0maudu\u2019i<\/em>\u00a0dengan surat persurat menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Mengambil satu surat dan menjelaskan masalah-masalah yang berhubungan dengan surat tersebut, sebab-sebab turunnya dan bagaimana surat itu diturunkan (permulaan, pertengahan ataupun akhir,\u00a0<em>madaniyat<\/em>\u00a0atau\u00a0<em>makkiyat<\/em>, dan hadith-hadith yang menerangkan keistimewaanya).<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menyampaikan pengertian dari tujuan mendasar dalam surat dan membahas mengenai terjadinya nama surat itu.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membagi surat (khusus untuk surat yang panjang) kepada bagian-bagian yang lebih kecil, menerangkan unsur-unsurnya (meliputi\u00a0<em>\u2018am khas-<\/em>nya,\u00a0<em>nasikh mansukh<\/em>-nya,\u00a0<em>lafaz<\/em>-nya dalam bahasa Arab dan lain-lain) dan tujuan masing-masing bagian serta menetapkan kesimpulan dari bagian tersebut.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menghubungkan keterangan atau kesimpulan dari masing-masing bagian kecil tersebut dan menerangkan pokok tujuannya.<\/li>\n<\/ol>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Analisis_Kelebihan_dan_Kelemahan_Tafsir_Maudhui\"><\/span>Analisis Kelebihan dan Kelemahan Tafsir\u00a0<em>Maudhu\u2019i<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><strong>Kelebihan metode\u00a0<em>tafsir maudhu\u2019i<\/em>\u00a0antara lain:<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menjawab tantangan zaman: Permasalahan dalam kehidupan selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan kehidupan itu sendiri. Maka metode\u00a0<em>maudhu\u2019i\u00a0<\/em>sebagai upaya metode penafsiran untuk menjawab tantangan tersebut. Untuk kajian tematik ini diupayakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Praktis dan sistematis: Tafsir dengan metode\u00a0\u00a0tematik disusun secara praktis dan sistematis dalam usaha memecahkan permasalahan yang timbul.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Dinamis: Metode tematik membuat tafsir al-Qur\u2019an selalu dinamis sesuai dengan tuntutan zaman sehingga menimbulkan image di dalam pikiran pembaca dan pendengarnya bahwa al-Qur\u2019an senantiasa mengayomi dan membimbing kehidupan di muka bumi ini pada semua lapisan dan starata sosial.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membuat pemahaman menjadi utuh: Dengan ditetapkannya judul-judul yang akan dibahas, maka pemahaman ayat-ayat al-Qur\u2019an dapat diserap secara utuh. Pemahaman semacam ini sulit ditemukan dalam metode tafsir yang dikemukakan di muka. Maka metode tematik ini dapat diandalkan untuk pemecahan suatu permasalahan secara lebih baik dan tuntas<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Kekurangan metode tafsir\u00a0<em>maudhu\u2019i<\/em>\u00a0antara lain:<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Memenggal ayat al-Qur\u2019an: Yang dimaksud memenggal ayat al-Qur\u2019an ialah suatu kasus yang terdapat di dalam suatu ayat atau lebih mengandung banyak permasalahan yang berbeda. Misalnya, petunjuk tentang shalat dan zakat. Biasanya kedua ibadah itu diungkapkan bersama dalam satu ayat. Apabila ingin membahas kajian tentang zakat misalnya, maka mau tidak mau ayat tentang shalat harus di tinggalkan ketika menukilkannya dari mushaf agar tidak mengganggu pada waktu melakukan analisis.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membatasi pemahaman ayat: Dengan diterapkannya judul penafsiran, maka pemahaman suatu ayat menjadi terbatas pada permasalahan yang dibahas tersebut. Akibatnya mufassir terikat oleh judul itu. Padahal tidak mustahil satu ayat itu dapat ditinjau dari berbagai aspek, karena dinyatakan Darraz bahwa, ayat al-Qur\u2019an itu bagaikan permata yang setiap sudutnya memantulkan cahaya. Jadi, dengan diterapkannya judul pembahasan, berarti yang akan dikaji hanya satu sudut dari permata tersebut.<\/li>\n<\/ol>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kedudukan_Tafsir_Maudhui\"><\/span>Kedudukan Tafsir\u00a0<em>Maudhu\u2019i<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ali Hasan al-Aridl, mengatakan bahwa urgensi metode\u00a0<em>maudhu\u2019i<\/em>\u00a0dalam era sekarang ini yaitu: Metode\u00a0<em>maudhu\u2019i<\/em>\u00a0berarti menghimpun ayat-ayat al-Qur\u2019an yang tersebar pada bagian surat dalam al-Qur\u2019an yang berbicara tentang suatu tema. Tafsir dengan metode ini termasuk tafsir\u00a0<em>bi al-ma\u2019tsur<\/em>\u00a0dan metode ini lebih dapat menghindarkan mufassir dari kesalahan.\u00a0Dengan menghimpun ayat-ayat tersebut seorang pengkaji dapat menemukan segi relevansi dan hubungan antara ayat-ayat itu.\u00a0Dengan metode\u00a0<em>maudhu\u2019i<\/em>\u00a0seorang pengkaji mampu memberikan suatu pemikiran dan jawaban yang utuh dan tuntas tentang suatu tema dengan cara mengetahui, menghubungkan dan menganalisis secara komprehensif terhadap semua ayat yang berbicara tentang tema tersebut.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan metode ini seorang pengkaji mampu menolak dan menghindarkan diri dari kesamaran-kesamaran dan kontradiksi-kontradiksi yang ditemukan dalam ayat.\u00a0Metode\u00a0<em>maudhu\u2019i<\/em>\u00a0sesuai dengan perkembangan zaman modern dimana terjadi diferensiasi pada tiap-tiap persoalan dan masing-masing\u00a0masalah tersebut perlu penyelesaian secara tuntas dan utuh seperti sebuah sistematika buku yang membahas suatu tema tertentu.\u00a0Dengan metode\u00a0<em>maudhu\u2019i<\/em>\u00a0orang dapat mengetahui dengan sempurna muatan materi dan segala segi dari suatu tema.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Metode\u00a0<em>maudhu\u2019i<\/em>\u00a0memungkinkan bagi seorang pengkaji untuk sampai pada sasaran dari suatu tema dengan cara yang mudah tanpa harus bersusah payah dan menemui kesulitan.\u00a0Metode\u00a0<em>maudhu\u2019i<\/em>\u00a0mampu menghantarkan kepada suatu maksud dan hakikat suatu masalah dengan cara yang paling mudah, terlebih lagi pada saat ini telah banyak bertaburan \u201dkotoran\u201d terhadap hakikat agama-agama sehingga tersebar doktrin-doktrin kemanusiaan dan isme-isme yang lain sehingga sulit untuk dibedakan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dari berbagai uraian tentang kelebihan dan kelemahan dari masing-masing metode yang dikemukakan, menurut Hujair A.H Sanaky kebutuhan ummat pada zaman modern, metode\u00a0<em>Maudhu\u2019i<\/em>\u00a0mempunyai peran yang sangat besar dalam penyelesaian suatu tema dengan mendasarkan ayat-ayat al-Qur\u2019an, walaupun setiap metode memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang tentu tergantung pada kepentingan dan kebutuhan mufassir serta situasi dan kondisi yang ada.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian metode\u00a0<em>maudhu\u2019i<\/em>\u00a0dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh ummat dewasa ini, karena metode\u00a0<em>maudhu\u2019i<\/em>\u00a0mampu menghantarkan ummat (pembaca Tafsir) ke suatu maksud dan hakekat suatu persoalan dengan cara yang paling mudah, sebab tanpa harus bersusah payah dan memenuhi kesulitan dalam memahami tafsir. Selain itu sisi lain yang dilihat adalah dengan metode\u00a0<em>maudhu\u2019i<\/em>, mufassir berusaha berdialog aktif dengan al-Qur\u2019an untuk menjawab tema yang dikehendaki secara utuh, sementara kalau kita perhatikan penafsiran al-Qur\u2019an dengan metode\u00a0<em>tahlili<\/em>, mufassir justru bersikap pasif sebab hanya mengikuti urutan ayat dan surat dalam al-Qur\u2019an.(Nushruddin, 1988)<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Perbedaan_dan_Persamaan_Tafsir_Hadits_Maudhui\"><\/span>Perbedaan dan Persamaan Tafsir Hadits\u00a0<em>Maudhu\u2019i<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan metode\u00a0<em>maudhu\u2019i<\/em>\u00a0(tematik) dengan metode\u00a0<em>tahlili<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<table style=\"font-weight: 400;\">\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"275\">Metode\u00a0<em>Tahlili<\/em><\/td>\n<td width=\"273\">Metode\u00a0<em>Maudhu\u2019i<\/em>\u00a0(Tematik)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"275\">&#8211;\u00a0 mufassir terikat dengan susunan ayat sebagaimana tercantum dalam mushaf.<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0 Mufassir berusaha berbicara menyangkut beberapa tema yang ditemukan dalam satu ayat.<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0 Mufassir berusaha menjelaskan segala sesuatu yang ditemukan dalam satu ayat.<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0 Sulit ditemukan tema-tema tertentu yang utuh<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0 Sudah dikenal sejak dahulu dan banyak digunakan dalam kitab-kitab tafsir yang ada.<\/td>\n<td width=\"273\">&#8211;\u00a0 Mufassir tidak terikat dengan susunan ayat dalam mushaf, tetapi lebih terikat dengan urutan masa turunya ayat, atau kronologi kejadian.<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0 Mufassir tidak berbicara tema lain\u00a0 selain tema ysng sedang dikaji. Oleh\u00a0 karena itu, ia dapat mengangkat tema-tema Al-qur\u2019an yang masing-masing berdiri sendiri dan tidak bercampur aduk dengan tema-tema lain.<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0 Mufassir tidak membahas segala permasalahan yang dikandung oleh satu ayat. Tetapi hanya yang berkaitan dengan pokok bahasan.<\/p>\n<p>&#8211; Mudah untuk menyusun tema-tema al-qur\u2019an yang berdiri sendiri.<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0 Walaupun benihnya ditemukan sejak dahulu, sebagai sebuah metode penafsiran yang jelas dan utuh baru dikenal belakangan saja.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan metode\u00a0<em>maudhu\u2019i<\/em>\u00a0(tematik) dengan metode\u00a0<em>ijmali<\/em>\u00a0(global)<\/li>\n<\/ol>\n<table style=\"font-weight: 400;\">\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"279\">Metode\u00a0<em>Ijmali<\/em>\u00a0(Global)<\/td>\n<td width=\"269\">Metode\u00a0<em>Maudhu\u2019i<\/em>\u00a0(Tematik)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"279\">&#8211; Mufassir terikat dengan susunan mushaf.<\/p>\n<p>&#8211; Mufassir berusaha berbicara menyangkut beberapa tema yang ditemukan dalam satu ayat.<\/td>\n<td width=\"269\">&#8211; Mufassir tidak terikat dengan susunan mushaf.<\/p>\n<p>&#8211; Mufassir tidak berbicara tema lain selain tema yang sedang dikaji.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan metode\u00a0<em>maudhu\u2019i<\/em>\u00a0dengan metode\u00a0<em>muqaran<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<table style=\"font-weight: 400;\">\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"283\">Metode\u00a0<em>Muqaran<\/em><\/td>\n<td width=\"266\">Metode\u00a0<em>Maudhu\u2019i<\/em><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"283\">&#8211; Mufassir menjelaskan al-Qur\u2019an dengan apa saja yang ditulis oleh para mufassir.<\/p>\n<p>&#8211; Mufassir terikat dengan uraian para mufassir.<\/td>\n<td width=\"266\">&#8211; Mufassir tidak berbicara tema lain selain tema yang sedang dikaji.<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0 Mufassir tidak terikat dengan uraian para mufassir.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Referensi\"><\/span>Referensi:<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<div class=\"sidebar-primary-inner sidebar-inner widget-area\">\n<p>Alawi, A. (2018). The uslub of tafsir al-Qur&#8217;an. <em>Journal of Islamicate Studies<\/em>. https:\/\/doi.org\/10.32506\/JOIS.V1I1.495<\/p>\n<p>Anshory, M. (2020). Kajian tafsir al-Qur&#8217;an: Telaah atas kitab <em>Taisirul Lathifil Mannani fi Khulashati Tafsiril Qur`an<\/em> karya Abdurrahman bin Nashir as-Sa\u2019di. **, 5(2), 365\u2013388. https:\/\/doi.org\/10.30868\/AT.V5I02.978<\/p>\n<p>Baidan, N. (1988). <em>Metodologi penafsiran al-Qur\u2019an<\/em>. Pustaka Pelajar.<\/p>\n<p>Khudzaifah, M., Halimatussa\u2019diyah, H., &amp; Nurhayat, M. (2022). Materialisme dalam perspektif kitab tafsir al-Azhar karya Buya Hamka. <em>Jurnal Ilmu Agama: Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama<\/em>. https:\/\/doi.org\/10.19109\/jia.v23i2.15082<\/p>\n<p>Maisaroh, H., &amp; Toriquddin, T. (2021). Tafsir tematik manajemen kesiswaan di lembaga pendidikan Islam. <em>Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin<\/em>. https:\/\/doi.org\/10.22373\/SUBSTANTIA.V23I1.8732<\/p>\n<p>Mulyaden, A., &amp; Fuad, A. (2021). Langkah-langkah tafsir maudu\u2019i. <em>Jurnal Iman dan Spiritualitas<\/em>. https:\/\/doi.org\/10.15575\/JIS.V1I3.13451<\/p>\n<p>Nazhifah, D., &amp; Karimah, F. (2021). Hakikat tafsir maudhu\u2019i dalam al-Qur\u2019an. <em>Jurnal Iman dan Spiritualitas<\/em>. https:\/\/doi.org\/10.15575\/JIS.V1I3.13033<\/p>\n<p>S, T., &amp; Irman, I. (2023). Eksistensi konselor sebagai khalifah perspektif tafsir maudhu\u2019i. <em>Jurnal Mahasiswa BK An-Nur: Berbeda, Bermakna, Mulia<\/em>. https:\/\/doi.org\/10.31602\/jmbkan.v9i2.10900<\/p>\n<p>Yusuf, M., &amp; Permana, S. (2021). Analisis terhadap karakteristik maudhu\u2019i dalam penafsiran Hassan Hanafi. <em>Jurnal Iman dan Spiritualitas<\/em>. https:\/\/doi.org\/10.15575\/JIS.V1I2.11679<\/p>\n<p>Yunus, B., Rohman, A., &amp; Durachman, A. (2021). Studi komparatif pemikiran Al-Farmawi, Baqir Shadr dan Abdussatar Fathallah tentang tafsir maudhui. <em>Jurnal Iman dan Spiritualitas<\/em>. https:\/\/doi.org\/10.15575\/JIS.V1I3.12836<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>afsir Maudhu\u2019i adalah salah satu pendekatan penting dalam ilmu tafsir yang memiliki karakteristik unik dibandingkan dengan metode tafsir lainnya. Dalam pendekatan ini, ayat-ayat Al-Qur\u2019an ditafsirkan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-27027","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27027","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27027"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27027\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27027"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27027"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27027"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}