{"id":27015,"date":"2022-11-17T14:09:16","date_gmt":"2022-11-17T07:09:16","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=27015"},"modified":"2022-11-17T14:09:16","modified_gmt":"2022-11-17T07:09:16","slug":"metode-tafsir-ijmali-pengertian-sejarah-metode-kelebihan-kekurangan-dan-contohnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/metode-tafsir-ijmali-pengertian-sejarah-metode-kelebihan-kekurangan-dan-contohnya\/","title":{"rendered":"Metode Tafsir Ijmali : Pengertian, Sejarah, Metode, Kelebihan \/ kekurangan dan Contohnya"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/metode-tafsir-ijmali-pengertian-sejarah-metode-kelebihan-kekurangan-dan-contohnya\/#Pengertian_Metode_Tafsir_Ijmali\" >Pengertian\u00a0 Metode Tafsir Ijmali<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/metode-tafsir-ijmali-pengertian-sejarah-metode-kelebihan-kekurangan-dan-contohnya\/#Sejarah_Metode_Tafsir_Ijmali\" >Sejarah\u00a0Metode Tafsir Ijmali<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/metode-tafsir-ijmali-pengertian-sejarah-metode-kelebihan-kekurangan-dan-contohnya\/#Langkah-Langkah_Yang_Ditempuh_Dalam_Metode_Tafsir_Ijmali\" >Langkah-Langkah Yang Ditempuh Dalam Metode Tafsir Ijmali<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/metode-tafsir-ijmali-pengertian-sejarah-metode-kelebihan-kekurangan-dan-contohnya\/#Analisis_Kelebihan_Dan_Kekurangan\" >Analisis Kelebihan Dan Kekurangan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/metode-tafsir-ijmali-pengertian-sejarah-metode-kelebihan-kekurangan-dan-contohnya\/#Contoh_Penafsiran_Ijmali\" >Contoh Penafsiran Ijmali<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2 style=\"font-weight: 400;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Metode_Tafsir_Ijmali\"><\/span>Pengertian\u00a0 Metode Tafsir Ijmali<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Secara etimologi tafsir berasal dari akar\u00a0 kata\u00a0<em>al-fasr<\/em>\u00a0yang berarti menyingkap sesuatu yang tertutup, sedang kata at-tafsir berarti\u00a0 menyingkap maksud sesuatu lafadz yang musykil. Dan menurut istilah banyak pendapat ulama dalam mendefinisikannya diantaranya adalah:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Al-Zarkasy dalam Al- Burhan mendefinisikan tafsir sebagai berikut :<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>\u201cTafsir adalah ilmu untuk memahami kitab Allah ( Al-Quran )\u00a0 yang diturunkan kepada nabi-Nya Muhammad Saw serta menerangkan makna Alquran dan mengeluarkan hukum-hukumnya dan hikmah-hikmahnya.\u201d<\/em><\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Al &#8211; Jurjaniy berkata:<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>\u201cTafsir pada asalnya adalah membuka dan menzahirkan. Pada istilah syara\u2019 ialah menjelaskan makna ayat, urusannya, kisahnya dan sebab yang karenanya diturunkan ayat, dengan lafaz yang menunjuk kepadanya secara jelas.\u201d<\/em><\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Al-Kilby dalam at Tashiel yang dikutip Hasbi Ash-Shiddieqy \u00a0menyatakan:<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>\u201cTafsir ialah: Mensyarahkan Al-Quran, menerangkan maknanya dan menjelaskan apa yang dikehendakinya dengan nashnya atau dengan isyaratnya, atau dengan tujuannya.\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kata<em>\u00a0metode<\/em>\u00a0berasal dari bahasa Yunani, yang merupakan gabungan dua kata yakni\u00a0<em>metha<\/em>, yang berarti menuju, melalui, mengikuti, dan kata<em>\u00a0hodos<\/em>\u00a0yang berarti jalan, perjalanan, cara, arah. Kata\u00a0<em>methodos<\/em>\u00a0sendiri berarti penelitian, metode ilmiah, hipotesa ilmiah, uraian ilmiah.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam bahasa Inggris, kata tersebut ditulis dengan\u00a0<em>method<\/em>\u00a0dan dalam bahasa Arab diterjemahkan dengan<em>\u00a0manhaj<\/em>\u00a0atau\u00a0<em>thariqah<\/em>. Dalam bahasa Indonesia kata tersebut mengandung arti cara yang teratur terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan dan juga lainnya), cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan untuk mencapai sesuatu yang ditentukan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kata\u00a0<em>Ijmali<\/em>\u00a0secara bahasa artinya ringkasan, ikhtisar, global dan penjumlahan. Dengan demikian tafsir\u00a0<em>ijmaliy<\/em>\u00a0adalah penafsiran Al-Quran yang dilakukan dengan cara mengemukakan isi kandungan Al-Quran melalui pembahasan yang bersifat umum ( global ) tanpa uraian apalagi pembahasan yang panjang dan luas, juga tidak dilakukan secara rinci.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Keterangan lain menyebutkan bahwa metode tafsir ijmali berarti menafsirkan ayat Al-Quran\u00a0 yang dilengkapi dengan penjelasan\u00a0 yang mengatakan bahwa\u00a0 sistematika penulisannya adalah menurut urutan ayat dalam mushaf Al-Quran dengan bahasa yang populer, mudah dipahami, enak dibaca dan mencakup.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian, metode tafsir <em>ijmali<\/em>\u00a0berarti cara sistematis untuk \u00a0menjelaskan atau menerangkan makna-makna Al-Quran baik dari aspek hukumnya dan hikmahnya dengan pembahasan yang bersifat umum ( global ), ringkas, \u00a0tanpa uraian yang panjang lebar dan tidak secara rinci tapi mencakup sehingga mudah dipahami oleh semua orang mulai dari orang yang berpengetahuan rendah sampai orang-orang yang berpengetahuan tinggi.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Diantara beberapa kitab tafsir yang ditulis \u00a0sesuai metode tafsir\u00a0<em>ijmali<\/em>\u00a0 adalah;<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Al-Tafsir al-farid li al-Qur\u2019an al-Madjid,\u00a0<\/em>oleh Muhammad Abd. Al-Mun\u2019im<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Marah Labid Tafsir al-Nawawi\/al-tafsir al-Munir li Ma\u2019alim al-Tanzil,<\/em>\u00a0oleh Al-Syekh Muhammad nawawi al-jawi al-Bantani.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Tafsir al Wafiz fi Tafsir Alquran al Karim<\/em>, oleh Syauq Dhaif.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Tafsir al Wadih\u00a0<\/em>oleh Muhammad Mahmud Hijazi.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Tafsir Alquran al Karim ,\u00a0<\/em>oleh Mahmud Muhammad Hadan \u2018Ulwan dan Muhammad Ahmad Barmiq.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Fath\u00a0\u00a0 al-Bayan fi Maqashid al-Qur\u2019an,<\/em>\u00a0oleh al-Mujtahid Shiddiq Hasan Khan,<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Tafsir Alquran al- Karim<\/em>, oleh Jalaluddin as Suyuthi dan Jalaluddin al Mahalliy.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Tafsir Alquran al Karim oleh\u00a0<\/em>Muhammad Farid Wajdi.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kitab-kitab tafsir di atas pada hakikatnya bukan saja bisa ditinjau dari segi metode penafsirannya saja sebagai bentuk tafsir dengan metode\u00a0<em>ijmali<\/em>, tetapi boleh jadi jika ditijnjau dari segi jenis\/pendekatan maupun coraknya bisa tergolong pada jenis dan corak tafsir yang lain.\u00a0Misalnya, meskipun tafsir\u00a0<em>al-Jalalain<\/em>\u00a0digolongan sebagai tafsir metode ijmali tapi dari segi jenis\/pendekatanya digolongan pada jenis tafsir\u00a0<em>bil ra\u2019yi<\/em>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sejarah_Metode_Tafsir_Ijmali\"><\/span>Sejarah\u00a0Metode Tafsir Ijmali<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ketika Al-Quran diturunkan kepada Rasulullah Muhammad Saw, fungsi beliau adalah sebagai\u00a0\u00a0<em>mubayyin\u00a0<\/em>( pemberi penjelasan )\u00a0 kepada sahabat-sahabat nabi tentang arti dan maksud dari\u00a0 kandungan al-Quran yang diwahyukan itu, terutama dalam kaitannya dengan ayat-ayat yang tergolong tidak dipahami ataupun samar artinya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Keadaan ini berlangsung sampai\u00a0 dengan wafatnya Rasul Saw. Posisi Rasulullah Saw dalam kaitannya dengan penafsiran Al-Quran ini dikatakan sebagai\u00a0<em>al-mufassir al-awwal<\/em>\u00a0( mufassir\u00a0 pertama ).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Setelah wafatnya Rasul Saw, para sahabat tidak mendapatkan lagi tempat bertanya yang selevel beliau. Akhirnya para sahabat melakukan ijtihad dalam memahami Al-Quran, khususnya mereka yang tergolong memiliki kemampuan semacam Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, \u2018Ubay bin Ka\u2019ab dan Ibnu Mas\u2019ud.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Selain itu mereka juga tidak segan-segan untuk menanyakan suatu permasalahan sejarah, terutama sejarah nabi-nabi atau kisah-kisah yang tercantum dalam Al-Quran kepada tokoh-tokoh Ahlul kitab yang telah memeluk Islam, seperti Abdullah bin Salam, Ka\u2019ab al-Ahbar, dan lain-lain.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Perkembangan tafsir selanjutnya ditandai dengan tokoh-tokoh tafsir di atas yang memiliki murid dari kalangan tabi\u2019in, khususnya di kota-kota tempat mereka tinggal. Sehingga lahirlah tokoh-tokoh tafsir baru dari para tabiin tersebut, diantaranya : Sa\u2019id bin Jubair, Mujahid bin Jabr, di Makkah, yang ketika itu berguru kepada Ibnu Abbas, Muhammad bin Ka\u2019ab, Zaid bin Aslam, di Madinah, yang berguru kepada Ubay bin Ka\u2019ab dan Al-Hasan Al-Bashri, Amir Al-Sya\u2019bi, di Irak, yang ketika itu berguru kepada Abdullah bin Mas\u2019ud.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ketiga golongan di ataslah yang pada hakikatnya dapat disebut kelompok\u00a0<em>Tafsir bil Ma\u2019tsur.\u00a0<\/em>Periode ini merupakan perkembangan awal penafsiran terhadap Al-Quran sampai sekitar tahun 150 H.\u00a0 Perkembangan tafsir selanjutnya berada di tangan generasi berikutnya, yaitu<em>tabi\u2019 al-tabi\u2019in<\/em>\u00a0dengan tokoh-tokohnya antara lain\u00a0 Sufyan bin Uyainah, Waki\u2019 al-Jarrah, Syu\u2019bah al-Hajjaj, Zaid bin Harun dan Abd bin Humaid.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Penulis tafsir yang terkenal pada periode ini adalah al-Waqidi ( w.207 H ), sesudah itu Ibnu Jarir ath-Thabary ( w. 310 H ). Para penafsir yang datang kemudian banyak mengutip dan mengambil bahan dari tafsir ath-Thabary tersebut yang berjudul :\u00a0<em>Jami\u2019al-Bayan<\/em>.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Bersamaan dengan masa tabi\u2019in dan tabi\u2019 al-tab\u2019in, ekspansi Islam ke berbagai wilayah jazirah arab\u00a0 maupun luar arab semakin berkembang dan meluas mencapai daerah-daerah yang masyarakatnya heterogen dan memiliki dasar-dasar kebudayaan kuno, seperti Persia,\u00a0 Messopotamia, India, Syiria, Turki, Mesir, dan Afrika Selatan, sehingga berkembanglah ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh kaum muslimin, seperti ilmu logika, filsafat, ilmu eksakta, ilmu hukum, ilmu ketabiban. Ilmu-ilmu yang disebut terakhir ini berpengaruh terhadap perkembangan tafsir Al-Quran.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam menafsirkan Al-Quran, para ahli tafsir\u00a0 tidak lagi merasa cukup dengan hanya mengutip atau tepatnya menghafal riwayat dari generasi sahabat, tabi\u2019in dan tabi\u2019 al-tabi\u2019in seperti yang diwarisinya selama ini, akan tetapi telah mulai berorientasi pada penafsiran Al-Quran yang didasarkan pada pendekatan ilmu-ilmu bahasa pada khususnya dan penalaran-penalatan ilmiah yang lain pada umumnya. Maka pada saat ini berkembanglah apa yang disebut dengan tafsir bil ra\u2019yi atau tafsir bi al-dirayah. Penulis tafsir jenis ini antara lain :<\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Al-Zamakhsyari, dengan karyanya Tafsir al-Kasysyaf<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">al-Qurthubi dengan tafsirnya al-Jami\u2019 li Ahkam al-Quran<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Imam Ar-Razi dengan karyanya\u00a0 Mafatih al-Ghaib<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf al-Andalusi karyanya\u00a0 al-Bahr al-Muhith<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Ibn al-\u2018Arabi dengan tafsirnya Ahkam al-Quran, dll.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan\u00a0 uraian di atas, periodesasi sejarah perkembangan tafsir pada umumnya dibagi menjadi 3 peiode, yaitu : Pertama, periode mutaqaddimin ( abad\u00a0 1 H \u2013abad 4 H ) ; kedua, periode muta\u2019akhirin ( abad 4 H \u2013 12 H ) ; ketiga, peride baru ( abad 13 H\/19 M \u2013 sekarang ).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Jika dicermati bentuk-bentuk penafsiran terhadap Al-Quran sejak masa Rasul Saw, sahabat dan tabi\u2019in sebagaimana yang digolongkan oleh M. Quraish Shihab sebagai tafsir\u00a0<em>bil ma\u2019tsur<\/em>, \u00a0boleh dikatakan sebagai dasar-dasar bagi tafsir Al-Quran yang \u00a0menerapkan metode \u00a0<em>Ijmali<\/em>.\u00a0\u00a0Tafsir\u00a0<em>bil ma\u2019tsur<\/em>\u00a0adalah jenis tafsir Al-Quran dengan Al-Quran, penafsiran Al-Quran dengan As-Sunnah atau penafsiran Al-Quran menurut Atsar yang timbul dari kalangan sahabat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Contoh tafsir al-Quran pada masa sahabat sepeninggal Rasul Saw yang mengindikasikan\u00a0 dasar-dasar metode tafsir\u00a0<em>Ijmali<\/em>\u00a0adalah ketika Ibnu Abbas menafsirkan kata \u201c<em>aulamastum<\/em><em>\u201d<\/em><em>\u00a0<\/em>dalam surah\u00a0 An-Nisa\u00a0[4]\u00a0: 43 dengan\u00a0<em>jima<\/em><em>\u2019<\/em>\u00a0( bersetubuh ).\u00a0\u00a0Ayat tersebut adalah :<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya:\u00a0<em>\u201c<\/em><em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam Keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam Keadaan junub<\/em><em>,\u00a0<\/em><em>terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema&#8217;af lagi Maha Pengampun.<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Demikianlah penafsiran Rasul Saw terhadap ayat-ayat Al-Quran, demikian pula tafsir para sahabat nabi pada umumnya dijelaskan secara\u00a0 mujmal ( global ) dalam arti tidak panjang-panjang, tidak secara rinci yang bisa mengakibatkan bertele-tele.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Hal ini dilakukan oleh Rasul Saw dan para sahabat supaya mudah dipahami oleh orang-orang yang bertanya atau pada umumnya kaum muslimin pada saat itu.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Muhammad Amin Suma menjelaskan bahwa salah satu karakteristik tafsir, khususnya\u00a0 pada masa sahabat adalah lebih menekankan pendekatan pada\u00a0<em>al-ma\u2019na al-ijmali<\/em>, dan tidak melakukannya dengan panjang lebar dan mendetail serta membatasi diri pada penjelasan makna-makna lughawi\u00a0<em>( etimologis<\/em>\u00a0) dalam ungkapan sederhana dan singkat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian metode tafsir ijmali secara historis muncul sejak awal perkembangan Islam, yakni\u00a0 zaman Rasul Saw sampai pada masa sahabat ( abad I H ).<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Langkah-Langkah_Yang_Ditempuh_Dalam_Metode_Tafsir_Ijmali\"><\/span><strong>Langkah-Langkah Yang Ditempuh Dalam Metode Tafsir Ijmali<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian terdahulu bahwa\u00a0<em>Tafsir al-Ijmali<\/em>\u00a0merupakan metode menjelaskan dan menerangkan ayat-ayat Al-Quran secara global, tanpa uraian panjang lebar dan tidak rinci. Metode ini ditempuh dengan cara menafsirkan \u00a0ayat-ayat Alquran berdasarkan susunan ayat-ayat yang ada di dalam mushaf Usmaniy.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Seorang mufassir memaparkan ayat demi ayat, surat demi surat secara teratur dengan penjelasan sederhana sehingga memungkinkan seorang pembaca dapat memahaminya, baik pembaca tersebut orang-orang yang istimewa, seperti tinggi ilmu pengetahuannya atau orang lain yang awam.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam menafsirkan ayat-ayat Al Qur&#8217;an mufassir menggunakan hadist Nabi, atsar salaf shalih, kejadian sejarah, kisah-kisah yang termaktub di dalam Al Qur&#8217;an dan juga menyebutkan sebab-sebab diturunkan ayat jika ada. Tujuan asasi penafsiran dengan metode ini adalah menggunakan bahasa yang dipergunakan oleh jumhur untuk mendekatkan makna supaya dapat dipahami pembaca.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian langkah-langkah yang ditempuh oleh para mufassir\u00a0 yang tergolong dalam metode ini antara lain :<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menentukan ayat Al-Quran yang akan ditafsirkan menurut urutannya dalam mushaf atau menurut urutan turunnya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menjelaskan makna mufradat ( kosa kata ) dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menjelaskan makna ayat-ayat tersebut berdasarkan kaidah- kaidah bahasa arab, seperti menjelaskan hukum dhamir dan susunan kalimatnya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Kadangkala\u00a0 juga menjelaskan asbabun nuzulnya dan munasabahnya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Dalam penafsirannya dijelaskan dengan hadis, atsar para sahabat dan orang-orang shaleh terdahulu\u00a0 atau pendapat penafsir sendiri.<\/li>\n<\/ol>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Analisis_Kelebihan_Dan_Kekurangan\"><\/span>Analisis Kelebihan Dan Kekurangan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam menganalisa metode tafsir\u00a0<em>ijmali<\/em>, muncul \u00a0pertanyaan apa keistimewaan atau kelebihan \u00a0dan kelemahan metode tafsir ini ?<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Suatu metode yang dilahirkan seorang manusia, selalu saja memliki kelemahan dan keistimewaan. Demikian halnya juga dengan metode tafsir\u00a0<em>ijmali<\/em>\u00a0ini.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Namun perlu disadari keistimewaan dan kelemahan yang dimaksud disini bukanlah suatu hal yang negatif, akan tetapi rujukan dalam ciri-ciri metode\u00a0 yang lain. Metode\u00a0<em>ijmali<\/em>, sebagai salah satu metode penafsiran Alqur&#8217;an memiliki beberaa kelebihan yang tidak dimiliki oleh tafsir-tafsir lainnya, diantara kelebihan \u00a0ini adalah:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Jelas \u00a0dan Mudah di pahami.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sesuai dengan sebutannya, tafsir\u00a0<em>ijmali<\/em>\u00a0ini merupakan penafsiran yang dalam menafsirkan suatu ayat tidak terbelit-belit, ringkas, jelas \u00a0dan mudah dipahami oleh pembacanya.\u00a0Selain itu juga pesan-pesan yang terkandung dalam tafsir ini, sangat mudah ditangkap oleh pembaca.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Bebas dari penafsiran Israiliyat.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Peluang masuknya penafsiran Israiliyat dalam metode penafsiran ini dapatdihindarkan, bahkan dapat dikatakan sangat jarang sekali ditemukan.\u00a0Hal ini disebabkan uraiannya yang singkat hanya mengemukakan tafsir dari kata-kata dalam suatu ayat dengan ringkas dan padat.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Akrab dengan bahasa Alquran<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Uraiannya yang singkat dan padat mengakibatkan tidak dijumpainya penafsiran ayat-ayat Alquran yang keluar dari kosa kata ayat tersebut.\u00a0Metode ini lebih mengedepankan makna sinonim dari kata-kata yang bersangkutan, sehingga bagi pembacanya merasa dirinya sedang membaca Alquran dan bukan membaca suatu tafsir.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Adapun kelemahan yang dimiliki metode penafsiran ini diantaranya adalah:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menjadikan petunjuk Al-Quran tidak utuh.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Penafsiran yang ringkas dan pendek membuat pesan Al-Quran tersebut tidak utuh dan terpecah-pecah. Padahal Al-Quran, menurut Subhi As-Shaleh \u00a0mempunyai keistimewaan dalam hal kecermatan dan cakupannya yang menyeluruh. Setiap kita menemukan ayat yang bersifat umum yang memerlukan makna lebih lanjut, kita pasti menemukan pada bagian lain, baik yang bersifat membatasi maupun memperjelas secara rinci.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Penafsiran dangkal atau tidak mendalam.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Metode tafsir ini tidak menyediakan ruangan untuk memberikan uraian atau pembahasan yang mendalam dan \u00a0memuaskan pembacanya berkenaan dengan pemahaman suatu ayat. Ini boleh disebut suatu kelemahan yang harus disadari para mufassir yang akan menggunakan metode\u00a0<em>ijmali<\/em>\u00a0ini. Akan tetapi, kelemahan yang dimaksud di sini\u00a0 tidaklah bersifat negatif melainkan hanyalah merupakan karakteristik atau ciri-ciri metode penafsiran ini.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Contoh_Penafsiran_Ijmali\"><\/span>Contoh Penafsiran Ijmali<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Contoh dalam penafsiran\u00a0<em>Ijmali<\/em>\u00a0ini dapat kita lihat pada tafsir\u00a0<em>al Jalalain<\/em>, yang hanya membutuhkan beberapa baris saja saat menafsirkan lima ayat pertama di dalam surat al Baqarah.\u00a0<em>Al Jalalain<\/em>\u00a0saat menafsirkan Firman Allah QS al-Baqarah 1 memaparkan \u201c\u0627\u0644\u0645\u201d misalnya dia berkata Allah Yang Maha Tahu maksudnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Demikian pula halnya saat menafsirkan Firman Allah \u201c\u0627\u0644\u0643\u062a\u0627\u0628\u201d hanya menyatakan yang dibaca oleh Muhammad SAW. \u201c\u0644\u0627 \u0631\u064a\u0628 \u0641\u064a\u0647\u201d berfungsi sebagai predikat dan subjeknya adalah \u201c\u0630\u0627\u0644\u0643\u201d. \u201c\u0647\u062f\u0649\u201d berfurngsi sebagai predikta kedua bagi \u201c\u0630\u0627\u0644\u0643\u201d yang mengandung arti memberi petunjuk bagi orang yang bertaqwa.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Berbeda halnya dengan imam Qurthubiy dalam tafsirnya\u00a0<em>al Jami\u2019 Liahkamil<\/em> Qur\u2019an, yang membutuhkan tiga halaman dalam menjelaskan atau menafsirkan Firman Allah QS Al Baqarah 1. Imam memulai penafsiran ayat ini dengan mengemukakan pentakwilan huruf-huruf muqattha\u2019ah di dalam Alquran. didalamnya ada beberapa pendapat diantaranya yang dikemukakan \u2018Amir as Sya\u2019biy dan Sufyan at Tsauriy beserta sekelompok muhaddistin yang menyatakan huruf-huruf muqattha\u2019ah adalah bentuk rahasia-rahasia Allah, yang hanya Allah Mengetahuinya dan kita tidak perlu untuk membahas dan membicarakannya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam pendapat ini Qurthubiy memaparkan beberapa perkataan sahabat yang berkenaan dengan masalah ini, diantaranya perkataan Abu Laist ats Tsamarqadiy dari Umar, Ustman dan Ibnu Mas\u2019ud yang berkata: \u201c Huruf -huruf muqattha\u2019ah tidak perlu untuk ditafsirkan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kemudian pada pendapat lainnya, imam memaparkan pendapat yang mengharuskan orang mukmin untuk membahas dan membicarakan tentang huruf-huruf muqattha\u2019ah, untuk mengambil faedah-faedah yang tersirat di dalamnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam pendapat ini terdapat berbagai perbedaan pendapat lain diantaranya menyatakan bahwa huruf-huruf muqattha\u2019ah merupakan Asma Allah. Pendapat lainnya menyatakan huruf-huruf muqattha\u2019ah ini adalah isyarat dari huruf hijaiyah yang hanya Allah mengetahui maksud yang tersirat di dalamnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pendapat selanjutnya adalah pendapat sekelompok ulama yang menyatakan bahwa huruf-huruf muqattha\u2019ah ini adalah diambil dari Asma Allah yang sebagian dari kata-katanya dihapus.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Misalnya huruf alif diambil dari kata Allah, huruf laam diambil dari kata Jibril, dan huruf miim diambil dari kata Muhammad.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dan juga ada yang berpendapat lain bahwa huruf-huruf muqattha\u2019ah ini diambil dari dari Asma Allah kesemuanya. Huruf aliif dari Allah, huruf laam dari Asma Allah Latif, dan huruf miim diambil dari Asma Allah Majiid.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kemudian pada selanjutnya imam memaparkan pendapat lain mengenai huruf-huruf muqattha\u2019ah ini yaitu yang dikemukakan oleh Zaid bin Aslam yang menyatakan bahwa huruf-huruf muqattha\u2019ah ini adalah nama-nama surat di dalam Alquran. selanjutnya al Kalbiy mengatakan bahwa huruf-huruf muqattha\u2019ah ini adalah bentuk sumpah Allah.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Juga dalam pendapat-pendapat diatas imam Qurthubiy juga memaparkan beberapa perbedaan dan perdebatan ulama dalam ikhtilaf ini.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kemudian imam membahas kata\u00a0<em>dzalika<\/em>\u00a0dan kata\u00a0<em>kitab<\/em>. Dalam masalah ini imam memaparkan penafsirkan\u00a0<em>dzalika<\/em>\u00a0dengaan isyarat kepada Alquran, yang dilakukan oleh Abu Ubaidah dan Akramah.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Megenai kata\u00a0<em>Kitab<\/em>, terdapat beberapa pendapat dalam penafsirannya, diantaranya\u00a0<em>Dzalika kitab<\/em>\u00a0yakni kitab yang telah Aku tulis atas makhluk-makhluk, dengan berbagai bentuk kesedihan, kegembiraan, ajal rezeki yang tidak ada keraguan di dalamnya.\u00a0Ada juga yang berpendapat\u00a0<em>dzalikal kitabu<\/em>\u00a0adalah suatu isyarat kepada Lauhul Mahfuz.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yang lainnya berpendapat\u00a0<em>dzalikal kitabu<\/em>\u00a0adalah Kitab yang dijanjikan Allah kepada Nabi-Nya yang tidak akan terhapus oleh air.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Juga ada yang berpendapat maksudnya adalah isyarat kepada apa yang termaktub di dalam Taurat dan Injil, serta juga ada yang berpendapat kata tersebut maksudnya adalah suatu isyarat akan apa yang telah diturunkan Allah di Makkah atau yang lazim disebut surat-surat Makkiy.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Serta beragam pendapat lainnya yang tidak dapat ditulis penulis kesemuanya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam penafsirkan \u201c\u0641\u064a\u0647 \u0647\u062f\u064a \u0644\u0644\u0645\u062a\u0642\u064a\u0646\u201d juga terdapat beberapa permasalahan, dan pada makalah ini penulis akan memaparkan sebagian dari kesemuanya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pertama, hudaa adalah petunjuk yang didapat oleh para Rasul beserta para pengikut mereka.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kedua, ada yang menafsirkan hudaa disini adalah salah satu nama sungai, karena sungai merupakan suatu tempat yang sangat dibutuhkan manusia dalam kehidupan sehari-harinya, sebagaimana juga hidayah\/petunjuk sangat dibutuhkan manusia untuk menemukan kebahagian hidup.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kemudian imam memaparkan makna taqwa menurut beberapa ulama, diantaranya ada yang menafsirkan taqwa adalah kebaikan, juga ada yang menafsirkan taqwa disini dengan sedikit cakap. Karena kata taqwa asalnya adalah sedikit cakap. Serta berbagai permasalahan lainnya yang diutarakan imam Qurthubiy dalam menafsirkan ayat pertama surat al Baqarah ini.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">DAFTAR PUSTAKA<\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">M. Hasybiy as Shiddiqiy,\u00a0<em>Sejarah dan Pengantar Ilmu Al Qur&#8217;an dan Tafsir<\/em>, Jakarta: Bulan Bintang Indonesia, 1992.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Nashruddin Baidan,\u00a0<em>Metodologi Penafsiran Al-Quran<\/em>, Cet.I, Yogyakarya : Pustaka Pelajar, 1998.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Rosihan Anwar<em>,\u00a0 Ilmu Tafsir<\/em>, Cet.III, Bandung : Pustaka Setia, 2005.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian\u00a0 Metode Tafsir Ijmali Secara etimologi tafsir berasal dari akar\u00a0 kata\u00a0al-fasr\u00a0yang berarti menyingkap sesuatu yang tertutup, sedang kata at-tafsir berarti\u00a0 menyingkap maksud sesuatu lafadz yang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"default","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-27015","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27015","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27015"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27015\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27015"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27015"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27015"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}