{"id":27006,"date":"2022-11-17T14:01:41","date_gmt":"2022-11-17T07:01:41","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=27006"},"modified":"2022-11-17T14:01:41","modified_gmt":"2022-11-17T07:01:41","slug":"tafsir-bi-al-ray-pengertian-sebab-pendapat-ulama-macam-dan-contohnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-bi-al-ray-pengertian-sebab-pendapat-ulama-macam-dan-contohnya\/","title":{"rendered":"Tafsir Bi Al-Ra\u2019y : Pengertian, Sebab, Pendapat Ulama, Macam dan Contohnya"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-bi-al-ray-pengertian-sebab-pendapat-ulama-macam-dan-contohnya\/#Pengertian_Al-Tafsir_Bi_Al-Ray\" >Pengertian Al-Tafsir Bi Al-Ra\u2019y<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-bi-al-ray-pengertian-sebab-pendapat-ulama-macam-dan-contohnya\/#Sebab-Sebab_Timbulnya_Tafsir_Bi_Al-Ray\" >Sebab-Sebab Timbulnya Tafsir Bi Al-Ra\u2019y<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-bi-al-ray-pengertian-sebab-pendapat-ulama-macam-dan-contohnya\/#Pendapat_Ulama_Tentang_Tafsir_Bi_Al-Ray\" >Pendapat Ulama Tentang Tafsir Bi Al-Ra\u2019y<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-bi-al-ray-pengertian-sebab-pendapat-ulama-macam-dan-contohnya\/#Alasan_pendapat_yang_tidak_memperbolehkan\" >Alasan pendapat yang tidak memperbolehkan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-bi-al-ray-pengertian-sebab-pendapat-ulama-macam-dan-contohnya\/#Alasan-alasan_Pendapat_yang_Membolehkan_Tafsir_dengan_Rayu\" >Alasan-alasan Pendapat yang Membolehkan Tafsir dengan Ra\u2019yu<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-bi-al-ray-pengertian-sebab-pendapat-ulama-macam-dan-contohnya\/#Pedoman_Penafsiran_dengan_Rayu\" >Pedoman Penafsiran dengan Ra\u2019yu<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tafsir-bi-al-ray-pengertian-sebab-pendapat-ulama-macam-dan-contohnya\/#Macam-Macam_dan_Contoh_Tafsir_Bi_Al-Ray\" >Macam-Macam dan Contoh Tafsir Bi Al-Ra\u2019y<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Al-Tafsir_Bi_Al-Ray\"><\/span><strong>Pengertian Al-Tafsir Bi Al-Ra\u2019y<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kata\u00a0<em>Al-ra\u2019yu<\/em>\u00a0berasal dari akar kata\u00a0<em>\u0631\u0627\u064a \u062c- \u0627\u0631\u0627\u0621<\/em>. Memiliki kata jamak\u00a0<em>\u0101r\u0101\u2019un<\/em>\u00a0atau\u00a0<em>ar\u2019\u0101\u2019un<\/em>\u00a0yang bisa berarti berpendapat.\u00a0Sedangkan secara istilah bisa didefinisikan sebagaimana pendapat beberapa ulama yaitu :<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Tafsir Bi Al-Ra\u2019y\u00a0<\/em>ialah tafsir yang didalam menjelaskan maknanya hanya berpegang pada pemahaman sendiri dan penyimpulan yang didasarkan pada ra\u2019yu semata. Golongan ini telah menulis sejumlah kitab tafsir menurut pokok-pokok mazhab mereka, seperti tafsir (karya) Abdurrahman bin Kaisan al-asam, al-Juba\u2019I, Abdul Jabbar,\u00a0\u00a0Ar-Rummani, Zamakhsyari dan lain sebagainya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Tafsir Bi Al-Ra\u2019y\u00a0\u00a0<\/em>ialah Tafsir berdasarkan ijtihad mufassir; pendapat atau ijtihadnya yang didasarkan atas sarana ijtihad.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Muhammad Ali Ash Shaabuniy, ialah ijtihad yang didasarkan pada dalil-dalil yang shohih, kaidah yang murni dan tepat, bisa diikuti serta sewajarnya digunakan oleh orang yang hendak mendalami\u00a0\u00a0tafsir Al-Qur\u2019an atau mendalami pengertiannya.5<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dari beberapa pendapat diatas dapat penulis simpulkan bahwa tafsir\u00a0<em>bi al-ra\u2019y\u00a0<\/em>adalah suatu metode tafsir dengan menggunakan kekuatan akal pikiran yang sudah memenuhi syarat dan memiliki pengakuan dari para ulama untuk menjadi seorang mufassir, namun penafsirannya harus tetap sejalan dengan hukum syari\u2019ah tanpa ada pertentangan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tidaklah yang dimaksud dengan ra\u2019yu ini dengan menafsirkan Al-Quran berdasarkan kata hati atau kehendaknya. Al- Qurtubi berkata \u201cbarang siapa yang menafsirkan Al-Qur\u2019an berdasarkan imajinasinya (yang tepat menurut pandangannya tanpa berdasarkan kaidah-kaidah) maka ia adalah orang yang keliru dan tercela.\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam sebuah hadis diriwayatkan :<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u0645\u0646 \u0643\u0630\u0651\u0628 \u0639\u0644\u064a\u0651 \u0645\u062a\u0639\u0645\u062f\u0627 \u0641\u0644\u064a\u062a\u0628\u0648\u064f\u0623 \u0645\u0642\u0639\u062f\u0647 \u0645\u0646 \u0627\u0644\u0646\u0627\u0631, \u0648\u0645\u0646 \u0642\u0627\u0644 \u0641\u0649 \u0627\u0644\u0642\u0631\u0627\u0646 \u0628\u0631\u0623\u064a\u0647 \u0641\u0644\u064a\u062a\u0628\u0648\u0651 \u0623 \u0645\u0642\u0639\u062f\u0647 \u0645\u0646\u00a0\u0627\u0644\u0646\u0627\u0631. ( \u0631\u0648\u0627\u0647 \u0627\u0644\u062a\u0631 \u0645\u0630 )<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya :<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cBarang siapa mendustakan secara sengaja niscaya ia harus bersedia\u00a0\u00a0\u00a0menepatkan dirinya di neraka. Dan barang siapa yang menafsirkan Al-Qur\u2019an berdasarkan Ra\u2019yu atau pendapatnya maka hendaklah ia bersedia menepatkan dirinya di neraka .\u201d( H.R. Turmuzi dan Ibnu Abbas )\u00a0Dan sabdanya pula\u00a0:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u0645\u0646 \u0642\u0627\u0644 \u0641\u0649 \u0627\u0644\u0642\u0631\u0627\u0646 \u0628\u0631\u0623 \u064a\u0647 \u0641\u0627\u0635\u0627\u0628 \u0641\u0642\u062f \u0627\u062e\u0637\u0623<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya\u00a0:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cDan barang siapa yang menafsirkan Al-Qur\u2019an dengan Ra\u2019yunya dan kebetulan tepat, niscaya ia telah melakukan kesalahan.\u201d (H.R. Abi Dawud dari Jundab)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Imam Al-Qurtuby, mengatakan bahwasannya hadits Ibnu Abbas tersebut memiliki dua penafsiran:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pertama : Barang siapa yang berpendapat dalam persoalan Al-Qur\u2019an yang pelik dengan tidak berdasarkan pengetahuan dari mazhab sahabat atau tabi\u2019in berarti menentang Allah<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kedua : Barang siapa yang mengatakan tentang Al-Qur\u2019an suatu pendapat, sedang ia mengetahui bahwa yang benar adalah pendapat yang lain, maka ia hanya bersedia menempatkan diri di neraka.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sebab-Sebab_Timbulnya_Tafsir_Bi_Al-Ray\"><\/span><strong>Sebab-Sebab Timbulnya Tafsir Bi Al-Ra\u2019y<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pertama kali tafsir Al-Qur\u2019an disampaikan secara\u00a0<em>syaf\u0101hiy\u00a0<\/em>(wicara, dari mulut ke mulut). Kemudian setelah dimulai pembukuan kitab-kitab kumpulan hadis, maka tafsir Al-Qur\u2019an dibukukan bersama-sama dengan hadis, dan merupakan satu dari beberapa bab yang terkandung dalam kitab hadis. Pada masa itu belum ada penafsiran ayat per ayat, surat per surat, dari permulaan mushaf sampai dengan akhir, dan belum ada penafsiran per judul pembahasan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada akhir pemerintahan Bani Umayyah dan awal pemerintahan Bani Abbasiyah, di tengah-tengah masa pentadwinan cabang-cabang ilmu pengetahuan, tafsir Al-Qur\u2019an mulai memisahkan diri dari hadis, hidup mandiri secara utuh dan lengkap. Dalam artian, tiap-tiap ayat mendapat penafsiran, secara tertib menurut urutan mushhaf. Penafsiran Al-Qur\u2019an pada masa-masa pertama memakai cara naqli, yaitu yang terkenal dengan istilah\u00a0<em>al-manhaj al-tafs\u012br bi al-ma\u2019ts\u016br.\u00a0<\/em>Setelah itu para ahli ilmu menafsirkan Al-Qur\u2019an menurut keahlian mereka masing-masing. Kemudian setelah lahirnya sekte-sekte aqidah didukung dengan semakin berkembangnya ilmu-ilmu kebahasaan dibuktikan dengan dijadikan ilmu tersebut sebagai disiplin ilmu tersendiri, bermuncullah penta\u2019wilan terhadap ayat-ayat mutasyabihat, untuk menopang paham mereka masing-masing, meskipun sebenarnya bibit-bibit ta\u2019wil Al-Qur\u2019an sudah dimulai oleh beberapa sahabat, seperti \u2018Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib, \u2018Abdull\u0101h bin Mas\u2019\u016bd, dan \u2018Abdull\u0101h bin \u2018Abb\u0101s ra. Kemudian setelah itu, melalui Mu\u2019tazilah, terjadilah perluasan tafsir\u00a0<em>bi al-ra\u2019yi<\/em>, sehingga tidak terjadi pertentangan antara nash Al-Qur\u2019an dan akal pikiran, seperti kitab tafsir\u00a0<em>al-Kashshaf<\/em>\u00a0oleh al-Zamakhsh\u0101riy.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Diantara mereka ada yang menulis tafsirnya dengan ungkapan yang indah dan menyusupkan madzhabnya ke dalam untaian kalimat yang dapat memperdaya banyak orang sebagaimana dilakukan penulis Tafsir al-kassyaf\u00a0\u00a0dalam menyisipkan paham ke-<em>mu\u2019tazila<\/em>-annya.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pendapat_Ulama_Tentang_Tafsir_Bi_Al-Ray\"><\/span><strong>Pendapat Ulama Tentang Tafsir Bi Al-Ra\u2019y<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Setelah membahas\u00a0\u00a0sebab-sebab timbulnya tafsir\u00a0\u00a0bi al-ra\u2019y, kami akan menjelaskan pendapat ulama tentang boleh tidaknya menafsiri Al-Qur\u2019an bi al-ra\u2019y beserta dengan alasannya. Sebagian ulama\u00a0\u00a0mengatakan \u201c yang dimaksud dengan ra\u2019yu disini adalah ijtihad\u201d. Karena itu, tafsir ra\u2019yu berarti tafsir Al-Qur\u2019an berdasarkan ijtihad setelah mufassir mengetahui kata-kata dan uslub orang arab dalam berbicara, serta mengetahui lafal-lafal bahasa\u00a0\u00a0arab dan pengertiannya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Para ulama berbeda pendapat tentang kebolehan menafsirkan Al-Qur\u2019an dengan ra\u2019yu yang terbagi dalam dua pendapat :<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pertama :\u00a0Tidak diperbolehkan menafsirkan Al-Qur\u2019an dengan ra\u2019yu karena tafsir ini harus bertitik tolak dari penyimakan. Itulah pendapat sebagian ulama.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kedua\u00a0: Pendapatkan yang membolehkan penafsiran dengan ra\u2019yu dengan syarat harus memenuhi persyaratan-persyaratan diatas. Ini adalah pendapat dari kebanyakan ulama (jumhur ulama).<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Alasan_pendapat_yang_tidak_memperbolehkan\"><\/span><strong><em>Alasan pendapat yang tidak memperbolehkan<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menafsirkan Qur\u2019an dengan ra\u2019yu dam ijtihad semata tanpa ada dasar yang sahih adalah haram, tidak boleh dilakukan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ulama yang tidak membolehkan penafsiran dengan ra\u2019yu menyebutkan\u00a0\u00a0\u00a0beberapa alasan yang dapat kami ringkaskan sebagai berikut :<\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Tafsir dengan ra\u2019yu adalah membuat-buat (penafsiran) Al-Qur\u2019an dengan tidak berdasarkan ilmu. Karena itu tidak dibenarkan berdasarkan firman Allah :<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya :<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. ( QS. Al-Baqoroh : 169)<\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Sebuah hadits\u00a0\u00a0tentang acaman terhadap orang yang menafsirkan dengan ra\u2019yu, yaitu sabda Rasul SAW :<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u0645\u0646 \u0643\u0630\u0651\u0628 \u0639\u0644\u064a\u0651 \u0645\u062a\u0639\u0645\u062f\u0627 \u0641\u0644\u064a\u062a\u0628\u0648\u064f\u0623 \u0645\u0642\u0639\u062f\u0647 \u0645\u0646 \u0646\u0627\u0631, \u0648\u0645\u0646 \u0642\u0627\u0644 \u0641\u0649 \u0627\u0644\u0642\u0631\u0627\u0646 \u0628\u0631\u0623\u064a\u0647 \u0641\u0644\u064a\u062a\u0628\u0648\u0651 \u0623 \u0645\u0642\u0639\u062f\u0647 \u0645\u0646 \u0627\u0644\u0646\u0627\u0631. ( \u0631\u0648\u0627\u0647 \u0627\u0644\u062a\u0631 \u0645\u0630 )<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya :<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cBarang siapa mendustakan secara sengaja niscaya ia harus bersedia menepatkan dirinya di neraka. Dan barang siapa yang menafsirkan Al-Qur\u2019an berdasarkan Ra\u2019yu atau pendapatnya maka hendaklah ia bersedia menepatkan dirinya di neraka.\u201d( H.R. Turmuzi dan Ibnu Abbas ).<\/p>\n<p>Firman Allah SWT :<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cDan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.\u201d<\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Para sahabat dan tabi\u2019in merasa berdosa bila menafsirkan Al-Qur\u2019an dengan ra\u2019yunya, sehingga abu Bakar Shiddiq mengatakan,\u00a0<em>\u201c langit manakah yang akan menaungiku dan bumi manakah yang akan melindungiku? Bila aku menafsirkan Al-Qur\u2019an menurut ra\u2019yuku atau aku katakan tentangnya sedang aku sendiri belum mengetahui betul.\u201d<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Alasan-alasan_Pendapat_yang_Membolehkan_Tafsir_dengan_Rayu\"><\/span><strong><em>Alasan-alasan Pendapat yang Membolehkan Tafsir dengan Ra\u2019yu<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ulama\u2019 yang membolehkan tafsir dengan ra\u2019yu adalah golongan jumhur yang menyebutkan beberapa alasan yang dapat kami simpulkan sebagai berikut:<\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Allah telah manganjurkan kita untuk memperhatikan dan mengikuti\u00a0\u00a0Al-Qur\u2019an, seperti\u00a0\u00a0dalam firman-Nya:\u00a0<strong>\u00a0<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya : \u201cIni adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran\u201d (QS. Shaad:29).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Proses tazakkur tidak akan bisa dilakukan tanpa mendalami rahasia-rahasia Al-Qur\u2019an dan berusaha untuk memahami artinya.<\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Allah SWT.\u00a0\u00a0membagi manusia dalam dua klasifikasi; kelompok awam dan kelompok ulama (cerdik cendikiawan). Allah memrintahkan mengembalikan segala persoalan kepada ulama yang bisa mengambil dasar hokum, firman Allah:<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya :<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cDan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri[322] di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri).\u201d (QS. An-Nisa\u2019:83)<\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Mereka berpendapat, \u201cbila penafsiran menurut ijtihad tidak dibenarkan maka ijtihad itu sendiri niscaya tidak diperbolehkan. Akibatnya banyak hukum yang terkatung-katung. Hal ini tidak mungkin karena bila seorang mujtahid berijtihad dalam hukum syara\u2019, ia akan mendapatkan pahala, baik benar maupun salah dalam ijtihadnya.<\/li>\n<\/ul>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pedoman_Penafsiran_dengan_Rayu\"><\/span><strong>Pedoman Penafsiran dengan Ra\u2019yu<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Faktor yang harus di penuhi dalam penafsiran secara ra\u2019yu, terdiri atas empat pokok sebagaimana yang kutip oleh Ali Ash-Shaabuuniy yang dikemukakan oleh Az-Zarkasi dalam kitabnya\u00a0<em>Al-Burhan<\/em>\u00a0yang dikutip oleh Imam As-Suyuthi dalam kitabnya\u00a0<em>Al-Itqan<\/em>, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Dikutip dari Rasul dengan memperhatikan hadits-haditsyang daif dan maudhu\u2019.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Mengambil dari pendapat sahabat dalam hal tafsir karena kedudukan mereka adalah\u00a0<em>marfu<\/em><em>\u00a0<\/em>(sampai kepada Nabi)<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Mengambil berdasarkan bahasa secara mutlak karena Al-Qur\u2019an diturunkan dengan\u00a0bahasa Arab yang jelas, dengan membuang alternatif yang tidak tepat dalam Bahasa Arab.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pengambilan berdasarkan ucapan yang populer di kalangan orang Arab yang sesuai dengan ketentuan syara\u2019.<\/li>\n<\/ol>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Macam-Macam_dan_Contoh_Tafsir_Bi_Al-Ray\"><\/span><strong>Macam-Macam dan Contoh Tafsir Bi Al-Ra\u2019y<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan pengertian di atas, para mufassir membagi\u00a0<em>tafsir bi al-ra\u2019y\u00a0<\/em>\u00a0kepada dua macam, yaitu\u00a0<em>ra\u2019y madhmumah<\/em>\u00a0(yang tercela) dan\u00a0<em>ra\u2019y mahmudah\u00a0<\/em>(yang terpuji).\u00a0<strong><em>Yang pertama<\/em><\/strong> adalah menafsirkan Al-Qur\u2019an dengan pendapat semata-mata, yang tidak didukung oleh ilmu alat. Hal ini yang dimaksud dalam hadits Nabi SAW yang artinya : \u201cBarang siapa yang berbicara tentang Al-Qur\u2019an menurut pendapatnya sendiri, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka\u201d (HR. Tirmidzi). Sebagian besar orang yang menafsirkan dengan ra\u2019yu adalah orang-orang yang mementingkan hawa nafsu dan bid\u2019ah. Mereka menganut faham-faham yang sesat, tidak ada alur periwayatan (rujukan) yang jelas, tidak ada dalil yang kuat. Dimana ia menyatakan bahwa kalam Allah itu maksudnya ini \u2026 atau itu\u2026 tafsir semacam ini adalah tafsi yang madzmum atau tafsir yang salah.[11][11]\u00a0<strong><em>Yang kedua<\/em><\/strong><em>\u00a0<\/em>adalah pendapat yang didasarkan atas ilmu dan memenuhi kriteria atau syarat tafsir, yaitu penguasaan ilmu bahasa Arab yang meliputi nahwu, sharraf, isytiqaq dan balaghah. Selain itu, seorang mufassir juga dituntut menguasai ilmu qira\u2019at, ushuluddin, ushul fiqh, asbabun nuzul, qoss Al-qur\u2019an, nasikh mansukh, dan lain sebagainya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kitab-kitab tafsir<em>\u00a0bi al-ra\u2019y<\/em><em>\u00a0yang tergolong al-mahm\u016bdah\u00a0<\/em>yang banyak dikenal, antara lain, adalah:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Maf\u0101tih al-Ghayb<\/em>, oleh: Fakhr al-D\u012bn al-R\u0101ziy<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Anw\u0101r al-Tanz\u012bl wa Asr\u0101r al-Ta\u2019w\u012bl<\/em>, oleh Al-Baidawi<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Mad\u0101rik al-Tanz\u012bl wa aq\u0101\u2019iq al-Ta\u2019w\u012bl<\/em>, oleh: Al-Nas\u0101fi<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Lub\u0101b al-Ta\u2019w\u012bl fi Ma\u2019\u0101n al-Tanz\u012bl<\/em>, oleh: Al-Kh\u0101zin<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Al-Bahr al-Mu\u2019\u012b<\/em>, oleh: Ab\u016b Hayy\u0101n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Al-Tafs\u012br al Jal\u0101layn<\/em>, oleh: Jal\u0101l al-D\u012bn Al-Mahalliy dan Jal\u0101l al-D\u012bn Al-Suy\u016bti<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Ghar\u0101\u2019ib al-Qur\u2019\u0101n wa Ragh\u0101\u2019ib al-Furq\u0101n<\/em>, oleh: Al-Naisab\u016briy<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Al-Sir\u0101j al-Mun\u012br<\/em>, oleh: Al Kh\u0101tib Al-Sharbiniy<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Irsy\u00e2d al-\u2018Aql as-Sal\u00eem,<\/em>\u00a0oleh: Ab\u016b al-Sa\u2019\u016bd<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>R\u016bh al-Ma\u2019\u0101niy<\/em>, oleh Al-Al\u016bsiy<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><strong>Contoh Tafsir Bi-Al-Ra\u2019y<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ayat Al-Quran yang jika ditafsirkan oleh orang yang bodoh akan menjadi rusak maksudnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya\u00a0:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cBarang siapa yang buta (hatinya)di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan\u00a0\u00a0lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan yang benar.\u201d\u00a0\u00a0(Q.S. Al-Isra : 72)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ia menetapkan bahwa setiap orang yang buta adalah celaka dan rugi serta akan masuk neraka jahanam. Padahal yang dimasud dengan buta di sini bukan mata, tetapi buta hati berdasarkan alasan firman Allah.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201c\u2026\u2026.. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati dalam dada.\u201d\u00a0\u00a0(Q.S. Al- Hajj : 46)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ayat lain yang dikemukakan oleh sebagian orang yang mengaku pandai tentang firman Allah SWT.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201c (ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya\u201d (QS. Al-Isra:71)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Mereka berkata bahwa maksud firman Allah di atas adalah \u201c Allah Ta\u2019ala memanggil manusia pada\u00a0\u00a0hari kiamat dengan nama ibunya karena menutupi mereka.\u201d Mereka menafsirkan kata \u201cimam\u201d dengan \u201cummahat\u201d (ibu) dengan berpendapat bahwa<em>\u00a0imam\u00a0<\/em>adalah jamak dari\u00a0<em>umum\u00a0<\/em>padahal menurut ketentuan bahasa arab tidak demikian, karena jamak dari umum adalah ummahat sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya :<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cIbu-ibumu yang menyusui kamu\u2026\u201d (QS. An-Nisa\u2019)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Bentuk jamak dari ummum itu bukanlah kata imam, karena itu pengertian di atas menurut bahasa dan syara\u2019 tidaklah benar. Yang dimaksud imam disana adalah nabi yang diikuti oleh ummatnya atau catatan amal.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ar-Rumi, Fahd bin Muhammad, 1996,\u00a0\u00a0Dirasat Fi \u2018ulum Al-Qur\u2019an, terj. Cet.1, Yogyakarta: Titian Ilahi<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ash Shaabuniy, Muhammad Ali, 1998,\u00a0<em>Study Ilmu Al-Qur\u2019an,<\/em>\u00a0Alih Bahasa Aminuddin,\u00a0Bandung: Pustaka Setia<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Al-Qattan,\u00a0\u00a0Manna\u2019 Khalil<em>,\u00a0<\/em>2007,<em>\u00a0Studi Ilmu-Ilmu\u00a0\u00a0Qur\u2019an,\u00a0<\/em>terj. Mudzakir As, Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yunus, Mahmud,\u00a0<em>Kamus Arabi \u2013 Indonesia,\u00a0<\/em>Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah Pentafsiran Al-Qur\u2019an<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yusuf, Kadar M,\u00a0\u00a02009,\u00a0<em>Study Al-Qur\u2019an,\u00a0<\/em>Jakarta: AMZAH<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Al-Tafsir Bi Al-Ra\u2019y Kata\u00a0Al-ra\u2019yu\u00a0berasal dari akar kata\u00a0\u0631\u0627\u064a \u062c- \u0627\u0631\u0627\u0621. Memiliki kata jamak\u00a0\u0101r\u0101\u2019un\u00a0atau\u00a0ar\u2019\u0101\u2019un\u00a0yang bisa berarti berpendapat.\u00a0Sedangkan secara istilah bisa didefinisikan sebagaimana pendapat beberapa ulama yaitu&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-27006","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27006","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27006"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27006\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27006"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27006"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27006"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}