{"id":26827,"date":"2022-11-16T16:57:47","date_gmt":"2022-11-16T09:57:47","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=26827"},"modified":"2022-11-16T16:57:47","modified_gmt":"2022-11-16T09:57:47","slug":"ajaran-tasawuf-syaikh-abdul-qadir-al-jailani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ajaran-tasawuf-syaikh-abdul-qadir-al-jailani\/","title":{"rendered":"Ajaran Tasawuf Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ajaran-tasawuf-syaikh-abdul-qadir-al-jailani\/#Biografi\" >Biografi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ajaran-tasawuf-syaikh-abdul-qadir-al-jailani\/#Inti_Ajaran_Tasawuf\" >Inti Ajaran Tasawuf<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Biografi\"><\/span><strong>Biografi<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dilahirkan pada pertengahan bulan Ramad\u00e1n, tahun 471 H di kampung Jilan. Ibunya adalah <em>Umu al-Khair <\/em>(induk kebaikan), <em>amat al-Jabbar <\/em>(<em>khadam <\/em>Tuhan yang Maha Perkasa) Fatimah binti Abu \u2018Abdillah as- Suma\u2019i, seorang ibu yang banyak memiliki <em>karamah <\/em>dan <em>ahw\u0101l<\/em>. Beliau menetap di Jilan sampai berusia 18 tahun, pada tahun 488 H pindah ke Baghdad hingga akhir hayatnya.<\/p>\n<p>Mulai belajar sejak usia dini dengan mempelajari al-Qur\u2019an di bawah bimbingan Abu al-Wafa Ali bin Uqail al-Hanbali, Abu Khattab Mahfuz al- Khalwazani al-Hanbali. Belajar <em>hadi\u015b <\/em>kepada Abu Galib Muhammad bin Hasan al- Balaqalani. Belajar fikih kepada Abu Sa\u2019ad al-Muhrimi. Belajar bahasa dan sastra kepada Abu Zakaria Yahya bin Ali at-Thibrizi, Sahib Hammad ad-Dabbas dan dari yang terakhir ini ia juga mengambil tarekat.<\/p>\n<p><script async src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js?client=ca-pub-7317924421903092\" crossorigin=\"anonymous\"><\/script><\/p>\n<p>Latar belakang pendidikannya yang sistematis mengantarkannya ke posisi yang tinggi, ia mumpuni dalam ilmu akidah, syari\u2019ah, tarekat, lughah dan sastra. Ia menjadi tokoh utama dalam madzhab Hanbali, sehingga menjadi rujukan dalam madzhab ini.<\/p>\n<p>Syaikh Abdul Qadir al-Jailani termasuk penulis yang produktif, diantara kitab karangannya adalah: <em>Aurad al-Jilani, Tuhfat al-Muttaqin wa Sabil al-\u2018Arifin, Adab Suluk wa Tawasul ila Manazul Muluk, al-Hizib al-Kabir, Futuh al-Ghaib, dll. <\/em>Muridnya sangat banyak, diantaranya adalah: Abu Ali Hasan bin Muslim bin Abi al- Jud al-Farisi al-Iraqi (404-594 H) mengambil ilmu fikih dan al-Qur\u2019an. Al-Qudwah al-Arif Abu Abdillah Muhammad bin Ali al-Ma\u2019ali bin Qayid al-Awani (w. 854 H). Qadi ad-Dayyar al-Misriyyah al-Imam az-Zahid Abu al-Qasim Abdul Malik (516-605 H) dan masih banyak lagi.<\/p>\n<p>Selama 40 tahun, ia menyampaikan nasihat-nasihatnya di madrasah miliknya, yakni sejak tahun 521 H hingga 561 H. Beliau tidak menyisakan waktu kecuali diwakafkan untuk ilmu dan bersungguh-sungguh dalam mengajar, memberi fatwa, arahan, nasihat, petunjuk kepada murid-muridnya.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Inti_Ajaran_Tasawuf\"><\/span>Inti Ajaran Tasawuf<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Di kalangan dunia tasawuf, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dijuluki <em>Sultan al- Auliya\u2019 <\/em>(rajanya para wali). Kedudukan yang mulia ini dicapainya karena\u00a0\u00a0 akhlak yang terpuji, <em>ahw\u0101l <\/em>dan <em>karamah <\/em>yang dimilikinya. Syaikh Izzuddin bin Abdussalam menyatakan: \u201cTidaklah diceritakan keramat seseorang secara mutawatir kecuali Syaikh Abdul Qadir al-Jailani\u201d, pujian yang serupa juga diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah.<\/p>\n<p>Tasawuf yang dikembangkan oleh Syaikh Abdul Qadir termasuk tasawuf akhlaki, yaitu tasawuf yang berorientasi kepada perbaikan akhlak, mencari hakikat kebenaran dan mewujudkan manusia yang dapat mencapai maqam <em>ma\u2019rifat <\/em>kepada Allah. Beliau adalah seorang sufi besar yang berhasil memadukan syari\u2019at dan hakikat secara sinergis, serta berpedoman kepada al-Qur\u2019an dan <em>al<\/em>&#8211;<em>Hadi\u015b <\/em>secara konsisten. Beliau menyatakan: Setiap hakikat yang tidak berpijak kepada syari\u2019at adalah <em>kezindikan<\/em>. Terbanglah kepada Tuhanmu dengan dua sayapmu, yaitu al-Kitab dan as- Sunnah, masuklah kepada-Nya sedangkan kedua tanganmu ada dalam genggaman Rasulullah, jadikanlah Rasulullah Saw.sebagai temanmu dan pengajarmu, biarkan tangannya menghiasimu dan membawamu kepada-Nya\u201d.<\/p>\n<p>Diceritakan oleh Syaikh Ibnu Abi al-Fattah, bahwa pada suatu saat, Syaikh Abdul Qadir melihat seberkas cahaya berkilau menerangi ufuk langit, dalam cahaya itu ada yang menampakkan diri seraya berkata \u201cwahai Abdul Qadir, aku adalah Tuhanmu, sungguh telah UakuJhIalaPlkaUn bBagiLmuIsKegala yang diharamkan\u201d, lalu Syaikh<\/p>\n<p>Abdul Qadir berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk dan menyeru kepada suara tadi dengan ucapan \u201cenyahlah dariku wahai makhluk terkutuk\u201d. Seketika itu cahaya tadi berubah menjadi gelap menyerupai asap lalu bersuara keras, \u201cwahai Abdul Qadir, engkau selamat dari tipu dayaku, sebab ilmumu tentang hukum-hukum Tuhanmu dan sebab pemahamanmu tentang kedudukanmu, sungguh aku telah menyesatkan dengan kejadian serupa ini kepada 70 ahli tarekat.\u201d<\/p>\n<p>Setelah selamat dari tipu daya tersebut, beliau memuji Allah Swt. dengan mengucapkan: \u201danugerah dan keselamatan hanya karena Tuhanku\u201d. Syaikh Abdul Qadir ditanya: bagaimana anda bisa tahu bahwa cahaya itu adalah setan? Beliaupun menjawab: \u201cdari ucapannya, yaitu telah aku halalkan bagimu segala yang diharamkan\u201d. Karena Allah tidak akan memerintahkan berbuat jahat.<\/p>\n<p>Syaikh Abdul Qadir melihat ajaran Islam dari dua aspek, yaitu lahir dan batin. Dalam setiap ayat al-Qur\u2019an, juga mengandung makna lahir dan batin, misalnya tentang <em>\u1e6daharah <\/em>yang berarti bersuci. Bagi Syaikh Abdul Qadir, bersuci terbagi menjadi dua. <strong><em>Pertama<\/em><\/strong>, penyucian diri secara lahiriah dengan wudhu atau mandi. <strong><em>Kedua<\/em><\/strong>, penyucian diri secara batiniah diawali dengan kesadaran akan adanya kotoran pada diri manusia tersebut, yaitu dosa. Kemudia dilanjutkan dengan menyesali perbuatan dosa tersebut. Cara penyucian batiniah harus mengambil jalan spiritual yang diajarkan dan dibimbing oleh guru<em>\/mursyid <\/em>spiritual yang otoritatif (mempunyai sanad keilmuan yang jelas) melalui <em>taubat, talqin, \u1e93ikir<\/em>, <em>tasfiah<\/em>, dan <em>suluk<\/em>.<\/p>\n<p>Kesucian batin dapat hilang oleh karakter buruk manusia, tingkah laku yang rendah, tindakan-tindakan tidak sah (haram), dan sikap-sikap seperti kebanggaan diri, keangkuhan, berdusta, bergunjing, fitnah, iri hati, amarah, mengkonsumsi makanan haram. Aktifitas fisik juga dapat menghilangkan kesucian batin, misalnya: mata melihat hal-hal yang haram, telinga digunakan untuk mendengarkan pergunjingan dan sejenisnya, tangan digunakan untuk memukul orang yang tidak bersalah, mulut digunakan untuk berkata kotor dan memaki, serta yang lainnya.<\/p>\n<p>Ketika kesucian batin menjadi kotor, maka wudhu spiritual juga menjadi batal. Pembaharuan wudhunya dengan penyesalan (taubat) yang sungguh-sungguh, istighfar (memohon ampun kepada Allah atau kepada orang yang di\u1e93alimi), dan berdo\u2019a agar Allah melindunginya dari perbuatan yang serupa di lain waktu.<\/p>\n<p>Syaikh Abdul Qadir melihat ajaran Islam dari dua sisi, yaitu lahir dan batin. Lahir artinya aspek formal ajaran fikih, sementara yang dimaksud ajaran batin (substansi) adalah tasawuf. Beliau mengamalkan ajaran Islam dari dua aspek tersebut. Mengamalkan ajaran agama tidak hanya dari sisi fikih saja, sebab fikih baru mengandung aspek pengamalan formal ajaran Islam yang seringkali tidak menyentuh aras dasar ajaran Islam yang sangat mendalam, sehingga dibutuhkan pengamalan agama secara mendalam\/substantif yaitu dengan pengamalan tasawuf. Beliau juga tidak \u00a0hanya \u00a0mementingkUan \u00a0JibIadaPh U<em>far\u1e0d<\/em>B<em>u \u00a0<\/em>LsajaI,Ktetapi \u00a0amalan \u00a0sunnah \u00a0juga \u00a0menjadi perhatian penting dalam pengamalan ibadahnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Biografi Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dilahirkan pada pertengahan bulan Ramad\u00e1n, tahun 471 H di kampung Jilan. Ibunya adalah Umu al-Khair (induk kebaikan), amat al-Jabbar (khadam&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-26827","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26827","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26827"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26827\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26827"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26827"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26827"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}