{"id":26824,"date":"2022-11-16T16:56:20","date_gmt":"2022-11-16T09:56:20","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=26824"},"modified":"2022-11-16T16:56:20","modified_gmt":"2022-11-16T09:56:20","slug":"ajaran-tasawuf-imam-al-ghazali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ajaran-tasawuf-imam-al-ghazali\/","title":{"rendered":"Ajaran Tasawuf Imam Al-Ghazali"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ajaran-tasawuf-imam-al-ghazali\/#Biografi\" >Biografi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ajaran-tasawuf-imam-al-ghazali\/#Inti_ajaran_tasawuf\" >Inti ajaran tasawuf<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Biografi\"><\/span><strong>Biografi<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Beliau adalah Zainuddin, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad ibnu Muhammad al-Ghazali at-\u1e6cusi al-Naysaburi, al-Faqih al-Shufi, al- Syafi\u2019i, al-Asy\u2019ari. Lahir di kota Thus yang merupakan kota kedua di Khurasan setelah Naysabur, pada tahun 450 H. Beliau mempunyai saudara laki-laki yang bernama Ahmad. Ayahnya adalah seorang perajin kain <em>\u1e63uf <\/em>(yang terbuat dari bulu domba) dan menjualnya di kota Thus. Menjelang wafat, dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya untuk dididik. Dia berpesan, \u201cSungguh saya menyesal tidak belajar \u00a0<em>khat \u00a0<\/em>(tulis-mUenJulIis \u00a0APraUb) BdanLsaIyKa \u00a0ingin memperbaiki apa \u00a0yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.\u201d<\/p>\n<p>Ayahnya adalah seorang fakir yang saleh. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan. Kebisaaannya adalah berkeliling mengunjungi ahli fikih dan mendengarkan pengajiannya. Menghidupi keluarganya dengan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah dan nasihat. Nampaknya Allah mengabulkan doanya. Imam al-Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya \u201cAhmad\u201d menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat.<\/p>\n<p>Setelah ayahnya meninggal, maka al-Ghazali dan Ahmad dirawat dan dididik oleh teman ayahnya, seorang sufi yang diberi wasiat oleh ayahnya tersebut. Beliau berdua belajar dengan tekun hingga sampai suatu saat harta peninggalan orang tuanya sudah habis. Ketika harta peninggalan ayahnya habis, sang sufi itu menganjurkan keduanya untuk belajar di sebuah madrasah di T\u016bs yang menyediakan biaya hidup bagi para santrinya. Nasihat sufi tersebut mereka turuti. Di sini al- Ghazali mulai mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad ar- Radzk\u0101ni tentang fikih Syafi\u2019i, kalam Asy\u2019ari, sejarah para wali, dan syair-syair. Ketika berusia 20 tahun berangkat ke Jurjan untuk belajar kepada Imam Abu Nashr al-Isma\u2019ili dan menulis buku <em>at- Ta\u2019liqat<\/em>. Setelah itu kembali lagi ke T\u016bs. Dalam perjalanannya ke T\u016bs dia dihadang oleh perampok yang menyita buku catatannya. Namun akhirnya catatan itu dikembalikannya.<\/p>\n<p>Pengalaman dirampok tersebut sangat membekas dalam benak al-Ghazali sesampainya di T\u016bs. Beliau khawatir ilmunya akan hilang. Untuk itu selama tiga tahun, al-Ghazali merenung, berfikir, dan menghafal seluruh pelajaran yang diterima dari gurunya. Setelah itu, al-Ghazali melanjutkan pengembaraan studinya ke kota Nisabur. Di sini berguru kepada Imam Haramain al- Juwaini, seorang ulama besar aliran Asy\u2019ariyah, hingga berhasil menguasai berbagai disiplin ilmu dengan sangat baik fikih mazhab Syafi\u2019i, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat.<\/p>\n<p>Di Nisabur ini, al-ghazali mulai mengembangkan bakat menulisnya sehingga membuat kagum gurunya, sehingga diberinya gelar <em>\u201cBahr al-Mughriq\u201d <\/em>(laut yang dalam dan meneggelamkan). Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah Imam Ghazali pergi ke Mu\u2019askar untuk bergabung dengan majelis seminar yang digelar oleh Wazir Nidzam al-Muluk. Kemudian Nidzam al-Muluk mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya, dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Pada tahun 484 H pada usia tiga puluhan tahun, al-Ghazali diangkat sebagai guru besar dan Rektor Universitas Nizamiyah di Baghdad. Di Universitas ini, al-Ghazali mempunyai kesempatan yang luas untuk mengembangkan pemikirannya pada bidang fikih, ilmu kalan, maupun filsafat.<\/p>\n<p>Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu kentalnya. Beliau menyusun buku yang berisi kritik terhadap filsafat, seperti kitab a<em>t-Tahafu al-Falasifah <\/em>yang berisi kritikan \u00a0tajam \u00a0terhadap\u00a0 \u00a0filsaftat. walaupun demikian,\u00a0 \u00a0beliau \u00a0tetap mengambil \u00a0sisi positif filsafat yang dinilainya ada sisi kebenaranya juga. Beliau juga gemar meneliti kitab <em>Ikhwan as-\u1e63afa <\/em>dan kitab-kitab karangan Ibnu Sina. Dengan kejeniusan dan kepakarannya dalam fikih, tasawuf dan ushul maka beliau menyelami semua bidang keilmuan tersebut dengan mendalam.<\/p>\n<p>Imam al-Ghazali adalah penulis yang sangat produktif, bahkan sampai sekarang sulit mencari tandingan penulis yang seproduktif beliau. Tidak kurang dari 457 kitab telah ditulisnya. Diantara karya Imam al-Ghazali yang monumental adalah <em>Kitab Ihya\u2019 Ulumuddin <\/em>(menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama). Berikut ini adalah sebagian kitab yang ditulis oleh Hujjatul Islam Imam al-Ghazali:<\/p>\n<ol>\n<li><em>Ihya\u2019 Ulumu ad-Din <\/em>(menghidupkan ilmu-ilmu agama).<\/li>\n<li><em>Mukasyafah al-Qulub <\/em>(terbukanya hati)<\/li>\n<li><em>Mizan al-\u2018Amal <\/em>(timbangan amal)<\/li>\n<li><em>Kimiya as-Sa\u2019adah <\/em>(kimia kebahagiaan)<\/li>\n<li><em>Misykat al-Anwar <\/em>(relung-relung cahaya)<\/li>\n<li><em>Minhaj al-\u2018Abidin <\/em>(metode orang-orang beribadah)<\/li>\n<li><em>Bidayah al-Hidayah <\/em>(pembukaan untuk mendapatkan hidayah)<\/li>\n<li><em>Al-Ulum al-Laduniyyah <\/em>(ilmu-ilmu laduni)<\/li>\n<li><em>Risalah al-Qudsiyyah <\/em>(surat-surat suci)<\/li>\n<li><em>Jawahir al-Qur\u2019an <\/em>(rahasia-rahasia al-Qur\u2019an)<\/li>\n<li><em>Tahafutul Falasifah <\/em>(kerancuan filsafat)<\/li>\n<li><em>alMunqidzu min adz-Dzolal (pembebas kesesatan)<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<p>Kedudukan dan ketinggian jabatannya tidak membuat congkak dan cinta dunia. Dalam jiwanya bergejolak yang membuatnya senang menekuni ilmu-ilmu kezuhudan, bahkan dalam proses kehidupanya di kemudian hari, Al-Ghazali meninggalkan Baghdad dan kembali ke Thus untuk mendirikan Zawiyyah Sufiyyah, Di tempat ini, al-Ghazali membimbing para <em>salik <\/em>untuk belajar memahami dan mengamalkan tasawuf. Pada bulan Dzul Qai\u2019dah tahun 488 H beliau berhaji dan mengangkat saudaranya yang bernama Ahmad sebagai penggantinya.<\/p>\n<p>Pada tahun 489 H beliau masuk kota Damaskus dan tinggal beberapa hari. Kemudian menziarahi Bait al-Maqdis beberapa lama, dan kembali ke Damaskus beri\u2019tikaf di menara barat masjid Jami\u2019 Damaskus selama 10 tahun. Beliau banyak duduk di pojok tempat Syaikh Nashr bin Ibrahim al-Maqdisi di masjid Jami\u2019 Umawi (yang sekarang bernama al-Ghazaliyah). Tinggal di sana dan menulis kitab Ihya Ulumuddin sambil melatih jiwa.<\/p>\n<p>Akhir kehidupannya dihabiskan untuk mempelajari <em>hadi\u015b <\/em>dan berkumpul dengan ahlinya. Berkata Imam adz-Dzahabi, <em>\u201cPada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadi\u015b dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadi\u015b dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab <em>ats-Tsabat Inda al-Mamat<\/em>, menukil cerita Ahmad (saudaranya); Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan \u1e63alat, lalu berkata, <em>\u201cBawa kemari kain kafan saya.\u201d <\/em>Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya,\u00a0 \u00a0dan\u00a0 \u00a0berkata, <em>\u201cSaya\u00a0 \u00a0patuh\u00a0 \u00a0dan\u00a0 \u00a0taat\u00a0 \u00a0untuk\u00a0 \u00a0menemui\u00a0 \u00a0Malaikat Maut.\u201d <\/em>Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari). Beliau wafat di kota Thus, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan ath-Thabaran.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Inti_ajaran_tasawuf\"><\/span><strong>Inti ajaran tasawuf<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Sebelum menempuh jalur suf\u00ed, al-Ghazali telah melewati pengembarannya di berbagai bidang keilmuan, mulai dari ilmu fikih, filsafat, ilmu kalam, dan yang terakhir adalah tasawuf. Bagi al-Ghazali, para sufilah yang menempuh jalur yang benar karena mereka memadukan antara ilmu dan amal, memiliki ketulusan tujuan, dan betul-betul mengalami ketenteraman dan kepuasan karena mendapat pencerahan dari Allah Swt.<\/p>\n<p>Al-Ghazali mengatakan, ilmu yang dicapai para suf\u00ed bisa mematahkan hambatan-hambatan jiwa serta membersihkan moral atau sifatnya yang buruk dan tercela, sehingga mengantarkannya pada keterbatasan kalbu dari segala sesuatu selain Allah serta menghiasinya dengan ingat kepada Allah. Seorang murid yang menempuh jalan suf\u00ed harus konsisten menjalani hidup, menyendiri, diam, menahan lapar, dan tidak tidur pada malam hari untuk membina kalbunya. Manfaat hidup menyendiri adalah mengosongkan kalbu dari pesona duniawi. Diam adalah untuk menyuburkan akal-budi, membangkitkan rendah hati, dan mendekatkan ketakwaan. Rasa lapar dapat mencerahkan kalbu, sementara terjaga pada malam hari adalah untuk menjernihkan dan mencemerlangkannya. Oleh para ahli, corak tasawuf yang diamalkan oleh al-Ghazali termasuk pada kategori tasawuf akhlaki, yaitu tasawuf yang mengedepankan kepada perbaikan budi pekerti atau moral.<\/p>\n<p>Al-Ghazali membedakan tasawuf sebagai <em>ilmu mu\u2019amalat <\/em>dan tasawuf sebagai <em>ilmu mukasyafah<\/em>. <em>Ilmu Mu\u2019amalah <\/em>membicarakan tentang keadaan-keadaan hati (ahwal qalb). Keadaan hati itu menurut al-Ghazali terbagi menjadi dua. <em>Pertama<\/em>, keadaan hati yang terpuji seperti sabar, syukur, rasa takut, penuh harap, rida, dll. <em>Kedua<\/em>, keadaan hati yang tercela, seperti sombong, dengki, iri hati, <em>ghadhab<\/em>, dll. Adapun <em>ilmu mukasyafah <\/em>tidak dapat diungkapkan kecuali secara simbolis dan tidak diperkenankan untuk diungkapkan kepada sembarang orang. Dalam beberapa ungkapannya, al-Ghazali tidak sepakat dengan paham <em>ittihad, hulul, dan syathahat <\/em>para suf\u00ed yang menurutnya begitu bahaya bagi kaum awam. Sebagian besar karya tasawufnya memang ditujukan untuk kaum awam atau kalangan suf\u00ed pemula.<\/p>\n<p>Puncak tujuan tasawuf bagi al-Ghazali adalah <em>al-qurb <\/em>(kedekatan dengan Allah) atau di bagian lain tulisannya <em>al-fana\u2019 bi al-kulliyat fi Allah <\/em>(<em>fana\u2019 <\/em>secara total di hadapan Allah). Dalam hal ini, ia menjelaskan suatu tingkatan tauhid tertinggi, \u201cbahwa \u00a0dia \u00a0tidak \u00a0melihat\u00a0 daIam yang \u00a0wujud Kecuali \u00a0Yang \u00a0Esa, \u00a0yaitu\u00a0 \u00a0<em>syuhud <\/em>(kesaksian batin), orang-orang siddiq, para suf\u00ed menamakannya dengan fana\u2019 dalam tauhid karena dia tidak melihat kecuali Yang Esa, dia juga tidak melihat dirinya. Apabila dia tidak melihat dirinya karena tenggelam dalam pandangan tauhid, maka dia fana\u2019 dari dirinya sendiri dalam pandangan tauhidnya, dengan pengertian bahwa dia fana\u2019 dari melihat dirinya dan segala makhluk\u201d.<\/p>\n<p>Perjalanan menuju puncak itu dinamakan <em>suluk. Salik <\/em>(orang yang menempuh suluk) akan sukses bila sempurna substansi hatinya dan mempunyai iradah (kemauan atau ketetapan hati) sebelum melaksanakan <em>suluk <\/em>yang ditandai dengan usaha menyingkapkan tabir yang melintang antara dirinya dan Allah (yakni harta, kehormatan, <em>taqlid <\/em>atau fanatisme aliran, dan maksiat). Ketika tabir-tabir itu tersingkap, seorang <em>salik <\/em>membutuhkan seorang guru yang menuntunnya, dan butuh tempat untuk mengasah ketazaman batinnya, yaitu <em>zawiyah <\/em>sebagai tempat <em>khalwat <\/em>dan mengkonsentrasikan hati.<\/p>\n<p>Dalam perjalanan itu, si <em>salik <\/em>akan melewati tanjakan demi tanjakan yang mengantarnya pada status-status spiritual tertentu (<em>manazil<\/em>). Bila suatu status belum mantap, ia disebut <em>hal <\/em>(keadaan); bila sudah mantap disebut <em>maq\u0101m <\/em>(posisi).<\/p>\n<p>Dalam Ihya\u2019, al-Ghazali menyebut delapan maqam suf\u00ed, yakni: taubat, sabar, syukur, berharap (<em>raja\u2019<\/em>), takut (<em>khauf<\/em>), zuhud, tawakkal, dan cinta (<em>mahabbah<\/em>). Cinta adalah maqam yang tertinggi yang membuahkan rindu (<em>syauq<\/em>), intim, <em>uns<\/em>, dan ridha.<\/p>\n<p>Untuk melewati setiap tanjakan, seorang <em>salik <\/em>harus melakukan <em>riy\u0101\u1e0dah <\/em>dan <em>muj\u0101hadah<\/em>. Adapun yang dinamakan <em>riy\u0101\u1e0dah <\/em>(latihan kerohanian) adalah pembinaan diri dengan suatu perbuatan yang pada awalnya menjadi beban dan pada akhirnya menjadi tabi\u2019at atau karakter. Adapun <em>muj\u0101hadah <\/em>adalah perjuangan melawan tarikan hawa nafsu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Biografi Beliau adalah Zainuddin, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad ibnu Muhammad al-Ghazali at-\u1e6cusi al-Naysaburi, al-Faqih al-Shufi, al- Syafi\u2019i, al-Asy\u2019ari. Lahir di kota Thus&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-26824","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26824","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26824"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26824\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26824"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26824"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26824"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}