{"id":26797,"date":"2022-11-16T16:40:29","date_gmt":"2022-11-16T09:40:29","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=26797"},"modified":"2022-11-16T16:40:29","modified_gmt":"2022-11-16T09:40:29","slug":"kedudukan-dan-fungsi-%e1%b9%adarekat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kedudukan-dan-fungsi-%e1%b9%adarekat\/","title":{"rendered":"Kedudukan Dan Fungsi \u1e6carekat dalam Islam"},"content":{"rendered":"<p>Kata <em>\u1e6darekat <\/em>berasal dari bahasa Arab <em>\u1e6d\u0101r\u012bqah<\/em>, (jamak: <em>\u1e6dur\u016bq <\/em>atau <em>\u1e6dar\u0101iq<\/em>), yang berarti: jalan atau metode atau aliran (<em>madzhab<\/em>). Tarekat adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan tujuan untuk sampai (<em>wusul<\/em>) kepada-Nya. Tarekat merupakan metode yang harus ditempuh seorang sufi dengan aturan-aturan tertentu sesuai dengan petunjuk guru atau <em>mursyid <\/em>tarekat masing-masing, agar berada sedekat mungkin dengan Allah Swt. Tarekat secara literal juga bermakna jalan tanpa rambu di padang pasir. Jalan ini tidak ditandai dengan rambu keluar yang jelas, laksana jalan bebas hambatan. Untuk menemukan jalan keluar di padang pasir tanpa rambu ini, kita perlu mengenal daerah tersebut dengan baik, atau kita memerlukan pemandu yang mengetahui arah yang dituju dan akrab dengan tanda-tanda setempat. Memasuki tahapan ini, seorang murid mencapai kekuatan untuk memulai tasawuf; mengubah pemahaman ibadah <em>eksoterik <\/em>(lahiriah) menjadi ibadah <em>esoterik <\/em>(batiniah). Tanpa ada kepatuhan yang tinggi, kebajikan, ketabahan, dan kesabaran, seorang murid tidak akan mampu memasuki tahap ini.<\/p>\n<p>Suatu ketika, Syaikh Bahauddin al-Naqsyabandi ditanya, apa tujuan <em>\u1e6darekat<\/em>? Beliau menjawab: \u201cTujuannya adalah untuk mengetahui secara rinci apa yang baru engkau ketahui secara singkat, dan untuk merasakan dalam penglihatan apa yang engkau ketahui lewat penjelasan dan argumen\u201d. Tujuan <em>\u1e6darekat <\/em>adalah untuk memperkuat keyakinan terhadap syari\u2019at, meyakini kebenarannya, mematuhi ajaran-ajarannya dengan senang dan spontan, mengikis kemalasan dan meniadakan penentangan atas keinginan diri (nafsu). Ahli tasawuf mengaitkan istilah <em>\u1e6darekat <\/em>dengan firman Allah Swt.<\/p>\n<p>Artinya: <em>dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak) <\/em>(QS. Al-Jin [72]: 16)<\/p>\n<p>Metode yang digunakaUn pJarIa sPuf\u00edUunBtukLmeInKdekatkan diri kepada Allah berbeda-beda, sebagian mereka melalui cara selalu dalam keadaan \u1e93ikir kepada Allah (<em>mul\u0101zamah al-zikr<\/em>), selalu melatih diri (<em>riy\u0101\u1e0dah), <\/em>selalu bersungguh-sungguh untuk membersihkan hati dan sifat-sifat tercela dan hara nafsu (<em>muj\u0101hadah<\/em>)<em>. <\/em>Sebagian yang lain melalui tujuh metode yaitu: memperingati diri (<em>musy\u0101ratah<\/em>)<em>, <\/em>mengawasi diri (<em>mur\u0101qabah<\/em>), introspeksi diri (<em>muh\u0101sabah<\/em>), menghukum diri (<em>mu\u2019\u0101qabah<\/em>), kesungguhan lahir batin (<em>muj\u0101hadah<\/em>), menyesali diri (<em>mu\u2019\u0101tabah<\/em>), dan pembukaan hijab (<em>muk\u0101syafah<\/em>). Bersamaan dengan itu mereka akan melintasi tingkatan-tingkatan (<em>maq\u0101mat<\/em>) antara lain <em>taubat, sabar, ridha, zuhud, mahabbah<\/em>, dan <em>ma\u2019rifat.<\/em><\/p>\n<p>Pada dasarnya, <em>\u1e6darekat <\/em>yang ditempuh oleh para suf\u00ed berupa ibadah \u1e93ikir yang berasal dari praktik Nabi Muhammad Saw. yang kemudian diamalkan oleh <em>al-khulafa\u2019 al- rasyid\u016bn, tabi\u2019\u012bn, tabi\u2019i at-tabi\u2019\u012bn<\/em>, dan seterusnya sampai kepada para syaikh atau <em>mursyid <\/em>secara sambung-menyambung sampai sekarang. J. Spencer Trimingham menyimpulkan perkembangan tarekat sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li>Tahap <em>khanqah <\/em>terjadi sekitar abad ke-10 M. Pada tahap ini tarekat berarti jalan atau metode yang ditempuh seorang sufi untuk sampai kepada Allah secara individual (<em>far\u1e0diyah<\/em>). Pada masa ini para suf\u00ed melaksanakan kontemplasi dan latihan-latihan spiritual secara \u0101<\/li>\n<li>Tahap <em>\u1e6darekat <\/em>terjadi sekitar abd ke-12 M. Pada masa ini sudah terbentuk ajaran- ajaran, peraturan dan metode tasawuf, muncul pula pusat-pusat yang mengajarkan tasawuf dengan silsilahnya masing-masing. Pada tahap ini tasawuf telah mengambil bentuk kelas<\/li>\n<li>Tahap <em>\u1e6d\u0101\u2019ifah <\/em>terjadi pada abad ke-15 M. Pada masa ini terjadi transisi misi ajaran dan peraturan-peraturan dari guru tarekat yang disebut <em>syaikh <\/em>kepada para pengikut atau murid-muridnya. Pada masa ini muncul organisasi-organisasi tasawuf yang mempunyai cabang di tempat lain, misalnya Tarekat Qadariyah, tarekat Naqsyabandiyah, dan Tarekat<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dalam tradisi tarekat, murid-murid bisaanya berkumpul di suatu tempat yang disebut <em>rib\u0101t, z\u0101wiyah, <\/em>atau <em>khanaqah <\/em>untuk melakukan latihan-latihan ruhani <em>(\u1e93ikir All\u0101h) <\/em>yang materi pokoknya adalah membaca istighfar<em>, <\/em>membaca salawat nabi dan membaca <em>\u1e93ikir nafi isb\u0101t <\/em>dan <em>ismu \u017c\u0101t <\/em>secara bersama di bawah bimbingan guru (<em>mursyid<\/em>), yang di dalamnya ada ajaran-ajaran (<em>\u2018amaliyyah<\/em>), aturan-aturan (<em>adab<\/em>), kepemimpinan (<em>mursyid<\/em>), hubungan antara murid dan mursyid atau antara guru dengan anggota tarekat , <em>w\u0101silah, r\u0101bi\u1e6dah, silsilah, ij\u0101zah, sul\u016bk, <\/em>dan ritual-ritual seperti <em>bay\u2019ah <\/em>atau <em>talq\u012bn, khus\u016bsiyah, haul<\/em>, dan <em>man\u0101qib.<\/em><\/p>\n<p>Dalam menjalankan <em>\u1e6darekat<\/em>, seorang murid dipersyaratkan untuk memenuhi unsur- unsur sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li>Mempelajari ilmu pengetahuain yang berkaitan dengan syari\u2019at agama<\/li>\n<li>Mengamati dan bersaha semaksimal mungkin untuk mengikuti jejak langkah guru; melaksanakan perintahnya dan meninggalkan larangannya.<\/li>\n<li>Tidak mencari-cari keringanan dalam beramal agar tercapai kesempurnaan<\/li>\n<li>Berbuat dan mengisi waktu seefisien mungkin dengan segala wirid dan doa guna pemantapan dan kekhususan dalam mencapai maqamat yang lebih tinggi.<\/li>\n<li>Mengekang kawa nafsu agar terhindar dari kesalahan yang menodai<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kata \u1e6darekat berasal dari bahasa Arab \u1e6d\u0101r\u012bqah, (jamak: \u1e6dur\u016bq atau \u1e6dar\u0101iq), yang berarti: jalan atau metode atau aliran (madzhab). Tarekat adalah jalan untuk mendekatkan diri&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-26797","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26797","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26797"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26797\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26797"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26797"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26797"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}