{"id":26673,"date":"2022-11-16T14:25:41","date_gmt":"2022-11-16T07:25:41","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=26673"},"modified":"2022-11-16T14:25:41","modified_gmt":"2022-11-16T07:25:41","slug":"sejarah-asyariyah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sejarah-asyariyah\/","title":{"rendered":"Sejarah Asy\u2019ariyah"},"content":{"rendered":"<p>Dinamakan aliran Asy\u2019ariyah karena dinisbahkan kepada pendirinya, yaitu Abu al-Hasan Ali bin Isma\u2019il al-Asy\u2019ari. Beliau lahir di Bashrah (Irak) pada tahun 260 H\/873 M dan wafat pada tahun 324 H\/935 M.<\/p>\n<p>Al-Asy\u2019ari mengawali belajar ilmu kalam dari ayah tirinya yang bernama Ali al-Jubbai yang beraqidah Mu\u2019tazilah. Dengan demikian maka al-Asy\u2019ari mempunyai paham yang sama dengan gurunya, yaitu Mu\u2019tazilah. Aliran ini diyakininya sampai berusia 40 tahun. Beliau mempelajari aliran Mu\u2019tazilah dengan serius dan mendalaminya, hingga sampai suatu saat terjadilah dialog\/debat yang serius antara al- Asy\u2019ari dengan al-Jubba\u2019i. Al-Asy\u2019ari mengajukan pertanyaan kepada gurunya tentang kedudukan orang mukmin, kafir dan anak kecil. Berikut dialognya:<\/p>\n<p>Al-Asy\u2019ari : Bagaimana kedudukan ketiga orang berikut: mukmin, kafir dan anak kecil di akhirat nanti?<\/p>\n<p>Al-Jubba\u2019i : Yang mukmin mendapat tempat yang baik di surge, yang kafir masuk neraka, dan yang kecil terbebas dari bahaya neraka.<\/p>\n<p>Al-Asy\u2019ari : Kalau yang kecil ingin memperoleh tempat yang lebih tinggi di surge, mungkinkan itu?<\/p>\n<p>Al-Jubba\u2019i : Tidak, yang mungkin mendapat tempat yang baik itu, karena kepatuhannya kepada Tuhan, sedangkan anak kecil belum melaksanakan kepatuhan itu.<\/p>\n<p>Al-Asy\u2019ari : Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan: itu bukanlah salahku. Jika sekiranya Engkau beri kesempatan aku terus hidup, aku akan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik seperti yang dilakukan orang mukmin itu.<\/p>\n<p>Al-Jubba\u2019i : Allah akan menjawab: \u201cAku tahu, bahwa jika engkau terus hidup maka akan berbuat dosa dan oleh karena itu akan kena hokum. Maka untuk kebaikanmu\/kepentinganmu, Aku mencabut nyawamu sebelum engkau sampai kepUadaJuImuPr taUnggBunLg jaIwKab\/baligh.<\/p>\n<p>Al-Asy\u2019ari : Sekiranya yang kafir mengatakan: \u201cEngkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa depannya anak kecil, apa Sebabnya Engkau tidak jaga kepentinganku?<\/p>\n<p>Sampai pada akhir dialog tersebut, al-Jubba\u2019i terdiam dan tidak dapat menjawab pertanyaan al-Asy\u2019ari, sehingga al-Asy\u2019ari merasa tidak puas dan mulai meragukan doktrin ajaran Mu\u2019tazilah.<\/p>\n<p>Dari keraguan itulah, maka al-Asy\u2019ari <em>munajat <\/em>untuk memohon petunjuk kepada Allah Swt. dan tidak keluar dari rumah selama 15 hari. Setelah hari ke-15 kemudian ia pergi ke masjid Bashrah untuk mengumumkan keteguhannya dalam meninggalkan aliran Mu\u2019tazilah. Di samping alasan tersebut. al-Asy\u2019ari meninggalkan Mu\u2019tazilah karena sikap Mu\u2019tazilah yang lebih mementingkan pendekatan akal dari pada menggunakan al-Qur\u2019an dan <em>hadi\u015b<\/em>. Untuk itu, al-Asy\u2019ari mulai mengembangkan ajaran teologinya dengan mendahulukan dalil naqli (al-Qur\u2019an dan al-<em>hadi\u015b<\/em>) dan membatasi penggunaan logika filsafat.<\/p>\n<p>Corak pemikiran kalam Abu Hasan al-Asy\u2019ari yang demikian itu menjadi mudah dipahami oleh kebanyakan orang, sehingga memperoleh pengikut serta pendukung yang banyak. Imam Abu Hasan al-Asy\u2019ari berjuang melawan kaum Mu\u2019tazilah dengan lisan dan tulisan, berdebat dan bertanding dengan kaum<\/p>\n<p>Mu\u2019tazilah di mana-mana, sehingga nama beliau masyhur sebagai Ulama Tauhid yang dapat menundukkan dan menghancurkan paham Mu\u2019tazilah.<\/p>\n<p>Aliran teologinya disebut dengan <em>Ahlus Sunah wal Jama\u2019ah <\/em>karena lebih banyak menggunakan al-Sunnah dalam merumuskan doktrin kalamnya, dan memperoleh pengikut yang cukup besar (<em>wal-jama\u2019ah<\/em>) dari kalangan masyarakat, karena kesulitan mengikuti pemikiran kalam aliran Mu\u2019tazilah yang menggunakan corak pemikiran filsafat yang rumit. Pemikiran aliran Asy\u2019ariyah kemudian dikembangkan oleh generasi penerusnya, yaitu Imam al-Ghazali (450-505 H\/ 1058- 1111 M), Imam Fakhrurrazi (544-606H\/ 1150-1210 M), Abu Ishaq al-Isfirayini (w 418 H\/1027 M), Abu Bakar al-Baqilani (328-402 H\/950-1013 M), dan Abu Ishaq Asy-Syirazi (293-476 H\/ 1003-1083 M).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dinamakan aliran Asy\u2019ariyah karena dinisbahkan kepada pendirinya, yaitu Abu al-Hasan Ali bin Isma\u2019il al-Asy\u2019ari. Beliau lahir di Bashrah (Irak) pada tahun 260 H\/873 M dan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-26673","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26673","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26673"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26673\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26673"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26673"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26673"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}