{"id":26670,"date":"2022-11-16T14:23:08","date_gmt":"2022-11-16T07:23:08","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=26670"},"modified":"2022-11-16T14:23:08","modified_gmt":"2022-11-16T07:23:08","slug":"pokok-ajaran-mutazilah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pokok-ajaran-mutazilah\/","title":{"rendered":"Pokok ajaran Mu\u2019tazilah"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-4'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pokok-ajaran-mutazilah\/#a_Tauhid_Ke-Esaan_Allah_Swt\" >a. Tauh\u012bd (Ke-Esaan Allah Swt.)<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-4'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pokok-ajaran-mutazilah\/#b_Keadilan_Allah_Swt\" >b. Keadilan Allah Swt.<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-4'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pokok-ajaran-mutazilah\/#c_Janji_dan_ancaman\" >c. Janji dan ancaman<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-4'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pokok-ajaran-mutazilah\/#d_Posisi_di_antara_dua_posisi_al-manzilatu_bainal_manzilatain\" >d. Posisi di antara dua posisi (al-manzilatu bainal manzilatain)<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-4'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pokok-ajaran-mutazilah\/#e_Amar_makruf_dan_nahi_mungkar\" >e.\u00a0 Amar makruf dan nahi mungkar<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Ajaran Mu\u2019tazilah dituangkan dalam <em>al-Ushul al Khamsah <\/em>(lima dasar ajaran), yaitu:<\/p>\n<p><em>(1) al-Tauh\u012bd <\/em>(keesaan Allah), <em>(2) al-\u2018adlu <\/em>(keadilan Allah), <em>(3) al-wa\u2019du wa al-wa\u2019id <\/em>(janji dan ancaman), <em>(4) al-manzilah baina al-manzilatain <\/em>(posisi diantara dua posisi)<em>, dan (5) amar ma\u2019ruf nahi munka <\/em>(memerintahkan yang baik dan mencegah yang mungkar).<\/p>\n<h4><span class=\"ez-toc-section\" id=\"a_Tauhid_Ke-Esaan_Allah_Swt\"><\/span>a. Tauh\u012bd (Ke-Esaan Allah Swt.)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h4>\n<ul>\n<li>Mengingkari sifat-sifat Allah , menurut Kaum Mu\u2019tazilah apa yang dikatakan sifat adalah tak lain dari zat-Nya sendiri;<\/li>\n<li>Al-Qur\u2019an menurutnya adalah makhluk (baru);<\/li>\n<li>Allah di akhirat kelak tidak dapat dilihat oleh panca indera manusia, karena Allah tidak akan terjangkau oleh indera mata.<\/li>\n<\/ul>\n<h4><span class=\"ez-toc-section\" id=\"b_Keadilan_Allah_Swt\"><\/span>b. Keadilan Allah Swt.<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h4>\n<p>Doktrin teologi Mu\u2019tazilah yang berkaitan dengan keadilan adalah: Tuhan tidak menghendaki keburukan, tidak menciptakan perbuatan manusia. Manusia bisa mengerjakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan- larangan-Nya dengan kekuasaan yang diciptakan-Nya terhadap diri manusia. Ia hanya memerintahkan apa yang dikehendaki-Nya. Ia hanya menguasai kebaikan- kebaikan yang diperintahkan-Nya dan tidak campur tangan dalam keburukan yang dilarang-Nya.<\/p>\n<p>Allah akan memberikan balasan kepada manusia sesuai dengan apa yang diperbuat manusia. Apabila berbuat baik maka akan diberi balasan pahala dan sebaliknya apabila berbuat buruk maka akan mendapatkan dosa dan siksa. Itulah yang dianggap adil oleh Mu\u2019tazilah, karena manusia mempunyai akal untuk mempertimbangkan sesuatu sebelum berbuat. Dan perbuatan manusia itu murni dari manusia itu sendiri, karena Allah tidak campur tangan dalam perbuatan manusia.<\/p>\n<h4><span class=\"ez-toc-section\" id=\"c_Janji_dan_ancaman\"><\/span>c. Janji dan ancaman<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h4>\n<p>Mu\u2019tazilah berpendapat bahwa Allah Swt. tidak akan mengingkari janji- Nya, memberi pahala kepada orang muslim yang berbuat baik, dan menimpakan azab kepada yang berbuat dosa. Manusia dengan kemampuan akalnya dapat memilih berbuat baik atau buruk. Apabila berbuat baik maka akan dimasukkan surga, dan sebaliknya yang berbuat buruk akan di siksa di neraka selama-lamanya.<\/p>\n<h4><span class=\"ez-toc-section\" id=\"d_Posisi_di_antara_dua_posisi_al-manzilatu_bainal_manzilatain\"><\/span>d. Posisi di antara dua posisi (al-manzilatu bainal manzilatain)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h4>\n<p>Karena prinsip ini, Wa\u1e63il bin A\u1e6do\u2019 memisahkan diri dari majlis Hasan al- Ba\u1e63ri. Menurut pendapatnya, seseorang muslim yang mengerjakan dosa besar ia tergolong bukan mukmin, tetapi juga tidak kafir, melainkan menjadi orang fasik. Jadi kefasikan merupakan tempat tersendiri antara \u201ckufur\u201d dan \u201ciman\u201d. Tingkatan seorang fasik berada di bawah orang mukmin dan diatas orang kafir. Orang mukmin yang melakukan dosa besar dan mati atas dosanya maka tidak dihukumi mukmin, juga bukan kafir, ia akan dimasukkan ke dalam neraka selama-lamanya, tetapi hukumannya diringankan, nerakanya tidak sepanas neraka yang dihuni oleh orang-orang kafir.<\/p>\n<h4><span class=\"ez-toc-section\" id=\"e_Amar_makruf_dan_nahi_mungkar\"><\/span>e.\u00a0 Amar makruf dan nahi mungkar<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h4>\n<p>Doktrin Mu\u2019tazilah tentang amar makruf dan nahi mungkar pada awalnya mempunyai kesamaan dengan doktrin Ahlussunnah, yaitu bahwa setiap muslim mempunyai kewajiban untuk mengajak kebaikan dan menghindari kemungkaran. Namun, dalam perkembangannya digunakan untuk memaksa kepada pihak yang tidak sepaham dengan teologi Mu\u2019tazilah untuk menerimanya. Para ulama yang dicurigai tidak sependapat dengan Mu\u2019tazilah dinterogasi dan dipaksa untuk menerima pandangan teologinya, khususnya tentang kemakhlukan <em>Kalamullah <\/em>(al-Qur\u2019an). Inilah yang dinamakan <em>mihnah.<\/em><\/p>\n<p>Para pejabat dan ulama yang tidak mau mengakui kemakhlukan al-Qur\u2019an akan dipenjarakan dan disiksa, bahkan ada yang meninggal. Alasannya adalah bahwa orang yang tidak mengakui Kalamullah itu makhluk, maka dihukumi musyrik. Diantara Ulama yang menjadi korban <em>mihnah <\/em>adalah Imam Ahmad bin Hanbal yang disiksa di penjara karena tidak mengakui kemakhlukan al-Qur\u2019an.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ajaran Mu\u2019tazilah dituangkan dalam al-Ushul al Khamsah (lima dasar ajaran), yaitu: (1) al-Tauh\u012bd (keesaan Allah), (2) al-\u2018adlu (keadilan Allah), (3) al-wa\u2019du wa al-wa\u2019id (janji dan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-26670","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26670","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26670"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26670\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26670"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26670"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26670"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}