{"id":26649,"date":"2022-11-16T14:14:49","date_gmt":"2022-11-16T07:14:49","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=26649"},"modified":"2022-11-16T14:14:49","modified_gmt":"2022-11-16T07:14:49","slug":"peristiwa-tahkim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/peristiwa-tahkim\/","title":{"rendered":"Peristiwa tahk\u012bm"},"content":{"rendered":"<p>Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib menerima estafet kepemimpinan dalam situasi yang sulit. Peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan menjadi beban yang sangat berat untuk diselesaikan. Mu\u2019awiyah yang merasa representasi keluarga Utsman bin Affan mengajukan tuntutan agar Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib memprioritaskan pengusutan pembunuhan Utsman bin Affan. Sebenarnya Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib sudah bersungguh-sungguh berupaya membongkar kasus pembunuhan Utsman tersebut, tetapi belum berhasil. Mu\u2019awiyah bin Abi \u1e62ufy\u0101n tidak mau <em>baiat <\/em>kepada Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib dan secara terang-terangan menolak kekhalifahannya. Mu\u2019awiyah bin Abi \u1e62ufy\u0101n, yang saat itu menjabat gubernur di Syam menyusun kekuatan untuk melawan kekhalifahan Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib. Pada akhirnya bertempurlah dua kekuatan pasukan di <em>\u1e62iffin <\/em>pada bulan \u1e62afar 37 H\/657 M<em>.<\/em><\/p>\n<p>Dalam pertempuran di <em>\u1e62iffin<\/em>, pasukan Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib hampir mencapai kemenangan. \u2018Amr bin \u2018Ash dari pihak Mu\u2019awiyah yang mengamati pasukannya semakin terpojok dan menuju kepada kekalahan maka mengajukan usul supaya diadakan perundingan. Usulan tersebut pada awalnya diragukan ketulusannya oleh Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib. Namun pada akhirnya Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib menerima ajakan damai tersebut setelah didesak oleh sebagian pasukannya.<\/p>\n<p>Daumatul Jandal adalah lokasi yang disepakati untuk dijadikan tempat perundingan. Peristiwa perundingan antara pihak Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib dan pihak Mu\u2019awiyah inilah kemudian dikenal dengan sebutan <em>tahk\u012bm\/arbitrase<\/em>. Masing-masing delegasi berjumlah 400 orang (sebagian riyawat mengatakan 100 orang). Delegasi Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib dipimpin Abu Musa Al-Asy\u2019ari, delegasi Mu\u2019awiyah dipimpin \u2018Amr bin \u2018Ash. Dalam dialog antara delegasi Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib dan delegasi Mu\u2019awiyah, dicapailah suatu kesepakatan, bahwa untuk meredakan pertikaian maka Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib dan Mu\u2019awiyah harus diturunkan dari jabatannya.<\/p>\n<p>\u2018Amr bin \u2018Ash meminta kepada Abu Musa al-Asy\u2019ari untuk menyampaikan hasil kesepakatan lebih dulu baru kemudian dirinya. Alasan yang disampaikan oleh \u2018Amr bin \u2018Ash adalah\u00a0 \u00a0untuk menghormati Abu Musa al-Asy\u2019ari karena lebih dulu masuk Islam dan usianyapun lebih tua. \u2018Amr bin \u2018Ash yang mempersilakan lebih dahulu kepada Abu<\/p>\n<p>Musa \u00a0al-Asy\u2019ari \u00a0untuk \u00a0menUyamJpIaikPanUhaBsil LmuIsyKawarah \u00a0tersebut, \u00a0ternyata \u00a0hanyalah sebuah strategi untuk memenangkan diplomasi, yang tidak diantisipasi oleh Abu Musa al- Asy\u2019ari. Lalu Abu Musa menyampaikan hasil perundingan di Daumatal Jandal tersebut tanpa mempunyai kecurigaan apapun kepada \u2018Amr bin \u2018Ash.<\/p>\n<p>Sebelum Abu Musa al-Asy\u2019ari menyampaikan pidatonya, Ibnu Abbas yang merupakan salah satu delegasi dari pihak Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib, mencoba menasehati Abu Musa al-Asy\u2019ari dengan mengatakan, \u201c\u2019Amr bin \u2019Ash telah menipumu, jangan bersedia menyampaikan hasil kesepakatan sebelum \u2018Amr bin \u2018Ash menyampaikan di depan seluruh delegasi!\u201d Namun Abu Musa al-Asy\u2019ari menolak permintaan Ibnu Abbas. Dan berpidatolah Abu Musa al-Asy\u2019ari: \u201cKami berdua mencapai suatu kesepakatan, dan berdoa semoga Allah menjadikannya sebagai kesepakatan yang mendamaikan umat\u201d.<\/p>\n<p>Lalu di depan seluruh delegasi yang berjumlah sekitar 800 orang tersebut Abu Musa al-Asy\u2019ari melanjutkan pidatonya: \u201c<em>Kami berdua telah mencapai kesepakatan, yang kami nilai sebagai kesepakatan yang terbaik untuk umat, yaitu masing-masing dari kami berdua lebih dadulu akan mencopot Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib dan Mu\u2019awiyah dari jabatannya. Setelah itu, menyerahkan kepada umat Islam untuk memilih khalifah yang mereka sukai. Dengan ini, saya menyatakan telah mencopot Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib sebagai khalifah<\/em>\u201d.<\/p>\n<p>Dan seperti yang diduga Ibnu Abbas, ketika \u2018Amr bin \u2018Ash berbicara di depan semua delegasi, dia berkata, \u201c<em>Kalian telah mendengarkan sendiri, Abu Musa al-Asy\u2019ari <\/em><em>telah mencopot Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib , dan saya sendiri juga ikut mencopotnya seperti yang dilakukan Abu Musa al-Asy\u2019ari. Dengan demikian, dan mulai saat ini juga, saya nyatakan bahwa Mu\u2019awiyah adalah khalifah, pemimpin umat. Mu\u2019awiyah adalah pelanjut kekuasaan Utsman bin Affan dan lebih berhak menggantikannya<\/em>\u201d.<\/p>\n<p>Mendengar pernyataan \u2018Amr bin \u2018Ash tersebut, Ibnu Abbas langsung membentak Abu Musa al-Asy\u2019ari, yang menjawab \u201c<em>Saya mau bilang apa lagi, tidak ada yang bisa saya lakukan, \u2018Amr bin \u2018Ash telah menipuku&#8221;, <\/em>dan kemudian mulai mencaci dengan mengatakan<em>, \u201cWahai \u2018Amr bin \u2018Ash, celaka kamu, kamu telah menipu dan berbuat jahat<\/em>\u201d.<\/p>\n<p>Bisa dibayangkan bagaimana kacaunya dan gaduhnya suasana di Daumatul Jandal pada saat itu. Seluruh pendukung Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib tentu sangat kecewa. Sebaliknya, kubu Mu\u2019awiyah merasa senang dan bersuka ria. Setelah kejadian aneh dan kacau itu, Abu Musa al-Asy\u2019ari meninggalkan kota Daumatul Jandal menuju Makkah. Sementara \u2018Amr bin \u2018Ash dan anggota delegasinya meninggalkan Daumatul Jandal untuk menemui dan memberitahu Mu\u2019awiyah tentang hasil <em>tahk\u012bm <\/em>dan sekaligus mengucapkan selamat kepada Mu\u2019awiyah sebagai khalifah. Dan inilah awal kekuasaan Dinasti Umayyah di Damaskus. Sementara itu Ibnu Abbas menemui Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib untuk memberitahu hasil pertemuan <em>tahk\u012bm<\/em>.<\/p>\n<p>Dampak dari peristiwa <em>tahk\u012bm <\/em>tersebut, maka umat Islam terpecah menjadi tiga faksi, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Kelompok yang tetap setia kepada Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib , yang kemudian menjadi embrio kelompok <em>Syi\u2019ah.<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<ol start=\"2\">\n<li>Pecahan kelompok Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib , yang kemudian dikenal dengan sebutan <em>Khaw\u0101rij .<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<ol start=\"3\">\n<li>Kelompok yang mendukung Mu\u2019awiyah bin Abi \u1e62ufy\u0101n.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Pada awalnya, aliran Khaw\u0101rij hanya memperdebatkan persoalan politik, namun kemudian menjalar ke persoalan teologi\/akidah. Misalnya sikap mereka terhadap Utsman, Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib dan Mu\u2019awiyah yang dinilainya sebagai kafir karena dianggap mencampuradukkan antara yang benar (<em>haq<\/em>) dengan yang palsu (<em>b\u0101\u1e6dil<\/em>). Karena itu mereka merencanakan untuk membunuh Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib, Mu\u2019awiyah bin Abi \u1e62ufy\u0101n, dan \u2018Amr bin \u2018Ash .<\/p>\n<p>Rencana pembunuhan tersebut dirancang dengan matang. Ibnu Muljam ditugaskan untuk membunuh Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib di Kufah. Hajjaj bin Abdullah ditugaskan untuk membunuh Mu\u2019awiyah di Damaskus. \u2018Amr bin Bakar ditugaskan untuk membunuh \u2018Amr bin \u2018Ash di Mesir. Namun pada akhirnya yang berhasil dibunuh hanyalah Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib. Sedangkan Mu\u2019awiyah hanya mengalami luka-luka, dan \u2018Amr bin \u2018Ash selamat sepenuhny, karena tidak ke Masjid, dan hanya berhasil membunuh Kharijah yang dikira \u2018Amr bin \u2018Ash\u00a0 kerena kemiripan rupanya.<\/p>\n<p>SUMBER: academia.edu<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ali bin Abi \u1e6c\u0101lib menerima estafet kepemimpinan dalam situasi yang sulit. Peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan menjadi beban yang sangat berat untuk diselesaikan. Mu\u2019awiyah yang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-26649","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26649","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26649"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26649\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26649"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26649"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26649"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}