{"id":26494,"date":"2022-11-16T12:03:37","date_gmt":"2022-11-16T05:03:37","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=26494"},"modified":"2022-11-16T12:03:37","modified_gmt":"2022-11-16T05:03:37","slug":"larangan-mencari-cari-kesalahan-orang-lain-dalam-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/larangan-mencari-cari-kesalahan-orang-lain-dalam-islam\/","title":{"rendered":"Larangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain dalam Islam"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/larangan-mencari-cari-kesalahan-orang-lain-dalam-islam\/#Pengertian_Mencari-cari_Kesalahan_Orang_Lain\" >Pengertian Mencari-cari Kesalahan Orang Lain<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/larangan-mencari-cari-kesalahan-orang-lain-dalam-islam\/#Mencari-cari_Kesalahan_Orang_Lain_Dalam_Islam\" >Mencari-cari Kesalahan Orang Lain Dalam Islam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/larangan-mencari-cari-kesalahan-orang-lain-dalam-islam\/#Dilaknat_oleh_Allah\" >Dilaknat oleh Allah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/larangan-mencari-cari-kesalahan-orang-lain-dalam-islam\/#Hubungan_harmonis_akan_menjadi_hancur\" >Hubungan harmonis akan menjadi hancur<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/larangan-mencari-cari-kesalahan-orang-lain-dalam-islam\/#Telinganya_kan_dituangkan_cairan_tembaga_di_hari_Kiamat_kelak\" >Telinganya kan dituangkan cairan tembaga di hari Kiamat kelak<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/larangan-mencari-cari-kesalahan-orang-lain-dalam-islam\/#Belajar_berprasangka_baik\" >Belajar berprasangka baik<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/larangan-mencari-cari-kesalahan-orang-lain-dalam-islam\/#Lebih_mementingkan_introspeksi_diri_daripada_mengurusi_urusan_orang_lain\" >Lebih mementingkan introspeksi diri daripada mengurusi urusan orang lain<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/larangan-mencari-cari-kesalahan-orang-lain-dalam-islam\/#Boleh_curiga_dengan_adanya_bukti_tapi_tidak_patut\" >Boleh curiga dengan adanya bukti, tapi tidak patut<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Mencari-cari_Kesalahan_Orang_Lain\"><\/span><strong>Pengertian Mencari-cari Kesalahan Orang Lain<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Mencari-cari kesalahan orang lain dalam bahasa Arab disebut dengan <em>tajassus<\/em>. Kata <em>Lisan al-\u2018Arab, tajassus <\/em>berarti mencari berita dan menyelidikinya. Secara istilah, kata <em>tajassus <\/em>berarti mencari-cari kesalahan orang lain dengan cara menyelidiki dan mematainya.<\/p>\n<p>Perbuatan <em>tajassus <\/em>merupakan perbuatan yang dilarang oleh agama Islam. Perbuatan ini sama dengan memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati.<\/p>\n<p>Allah Swt. berfirman:<\/p>\n<p><em>\u201cHai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu n<\/em><em>merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha <\/em><em>Penerima Taubat lagi Maha Penyayang\u201d. <\/em>(QS. al-Hujur\u0101t [49]: 12)<\/p>\n<p>Perbuatan <em>tajassus <\/em>akan mengundang retaknya hubungan manusia karena dengan kesalahan-kesalahan yang dicari, aib seseorang akan terbongkar. Hal itu sama dengan mengingkari perintah Allah untuk saling bersaudara. Rasulullah Saw. bersabda:<\/p>\n<p><em>\u201cBerhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara\u201d. <\/em>(HR. Bukhari dan Muslim)<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Mencari-cari_Kesalahan_Orang_Lain_Dalam_Islam\"><\/span><strong>Mencari-cari Kesalahan Orang Lain Dalam Islam<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Perbuatan mencari-cari kesalahan orang lain merupakan perbuatan yang buruk dan dilaknat oleh Allah. Oleh karenanya kita harus menjauhi perbuatan tersebut. Selain itu, perbuatan mencari-cari kesalahan orang lain menimbulkan berbagai dampak negatif untuk pelaku dan korbannya, yaitu<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dilaknat_oleh_Allah\"><\/span>Dilaknat oleh Allah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Perbuatan\u00a0 \u00a0mencari-cari\u00a0\u00a0 \u00a0kesalahan\u00a0\u00a0 \u00a0orang\u00a0\u00a0 \u00a0lain\u00a0\u00a0 \u00a0merupakan\u00a0\u00a0 \u00a0sebuah pengingkaran dari perintah saling mengenal, memahami, dan menjamin dalam persaudaraan. Allah Swt. berfirman:<\/p>\n<p><em>\u201cHai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang <\/em><em>sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang\u201d. <\/em>(QS. al-Hujur\u0101t [49]: 12)<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Hubungan_harmonis_akan_menjadi_hancur\"><\/span>Hubungan harmonis akan menjadi hancur<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Perbuatan mencari-cari kesalahan orang lain akan menguak aib dan rahasia orang lain yang dijaganya. Hal itu akan merusak telinga orang yang mendengarnya dan merusak mulut dan telinga pelakunya. Pelakunya telah zalim pada penggunaan telinga dan mulut sehingga dipergunakannya untuk perbuatan yang diibaratkan memakan bangkai saudaranya ini.<\/p>\n<p>Perbuatan mencari-cari\u00a0 \u00a0kesalahan\u00a0 \u00a0orang\u00a0 \u00a0lain\u00a0 \u00a0juga\u00a0 \u00a0akan\u00a0 \u00a0meretakkan hubungan manusia. Perbuatan itu akan menimbulkan perpecahan, perselisihan dan permusuhan antar individu atau pun kelompok. Rasulullah Saw. bersabda:<\/p>\n<p><em>\u201cJika engkau mengikuti cela (kesalahan) kaum muslimin, engkau pasti merusak mereka atau engkau hampir merusak mereka\u201d. <\/em>(HR. Abu Daud)<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Telinganya_kan_dituangkan_cairan_tembaga_di_hari_Kiamat_kelak\"><\/span>Telinganya kan dituangkan cairan tembaga di hari Kiamat kelak<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Seseorang yang hendak mencari kesalahan orang lain akan menggunakan inderanya untuk mencapai hasratnya. Ia akan menggunakan mata untuk mengintip celah-celah kesalahan orang lain. Ia akan menggunakan telinga untuk mendengarkan secara sembunyi-sembunyi perkataan orang lain. Dan ia akan melangkahkan kakinya kepada perbuatan yang hina tersebut. Rasulullah Saw. bersabda:<\/p>\n<p><em>\u201cBarangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka), maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.\u201d <\/em>(HR. Bukhari)<\/p>\n<p>Untuk menghindari perbuatan mencari-cari kesalahan orang lain, kita dapat melakukan beberapa upaya berikut ini<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Belajar_berprasangka_baik\"><\/span>Belajar berprasangka baik<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Untuk belajar berprasangka baik, Rasulullah memberikan tuntunan sebagaimana dalam hadits berikut:<\/p>\n<p><em>\u201cDari \u2018Aisyah Ra., ada suatu kaum yang berkata, \u201cWahai Rasulullah, ada suatu kaum membawa daging kepada kami dan kami tidak tahu apakah daging tersebut saat disembelih dibacakan bismillah ataukah tidak.\u201d Rasulullah shallallahu \u2018alaihi wa sallam lantas menjawab, \u201cUcapkanlah bismillah lalu makanlah.\u201d <\/em>(HR. Bukhari)<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Lebih_mementingkan_introspeksi_diri_daripada_mengurusi_urusan_orang_lain\"><\/span>Lebih mementingkan introspeksi diri daripada mengurusi urusan orang lain<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Rasulullah Saw. bersabda:<\/p>\n<p><em>\u201cSalah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya\u201d. <\/em>(HR. Bukhari)<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Boleh_curiga_dengan_adanya_bukti_tapi_tidak_patut\"><\/span>Boleh curiga dengan adanya bukti, tapi tidak patut<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Untuk membedakan antara mencari-cari kesalahan orang lain dengan sikap curiga, cermati hadits berikut:<\/p>\n<p><em>\u201cDari Zaid bin Wahab, ia berkata, Ibnu Mas\u2019ud radhiyallahu \u2018anhu telah didatangi oleh seseorang, lalu dikatakan kepadanya, \u201cOrang ini jenggotnya bertetesan khamr.\u201d Ibnu Mas\u2019du pun berkata, \u201cKami memang telah dilarang untuk tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain). Tapi jika tampak sesuatu bagi kami, kami akan menindaknya\u201d. <\/em>(HR. Abu Daud)<\/p>\n<p>Menurut Imam Abu Hatim bin Hibban Al-Busthi, \u201dOrang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan <em>tajassus <\/em>dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih, dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya\u201d.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Mencari-cari Kesalahan Orang Lain Mencari-cari kesalahan orang lain dalam bahasa Arab disebut dengan tajassus. Kata Lisan al-\u2018Arab, tajassus berarti mencari berita dan menyelidikinya. Secara&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-26494","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26494","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26494"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26494\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26494"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26494"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26494"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}