{"id":26458,"date":"2022-11-16T10:31:57","date_gmt":"2022-11-16T03:31:57","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=26458"},"modified":"2022-11-16T10:31:57","modified_gmt":"2022-11-16T03:31:57","slug":"imam-syafii-biografi-dan-kisah-teladan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/imam-syafii-biografi-dan-kisah-teladan\/","title":{"rendered":"Imam Syafi\u2019i : Biografi dan Kisah Teladan"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/imam-syafii-biografi-dan-kisah-teladan\/#Biografi_Imam_Syafii\" >Biografi Imam Syafi\u2019i<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/imam-syafii-biografi-dan-kisah-teladan\/#Kisah_Imam_Syafii_Yang_Perlu_Diteladani\" >Kisah Imam Syafi\u2019i Yang Perlu Diteladani<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/imam-syafii-biografi-dan-kisah-teladan\/#Tidak_sewenang-wenang_meskipun_kepada_murid\" >Tidak sewenang-wenang meskipun kepada murid<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/imam-syafii-biografi-dan-kisah-teladan\/#Mendamaikan_perselisihan\" >Mendamaikan perselisihan<\/a><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Biografi_Imam_Syafii\"><\/span><strong>Biografi Imam Syafi\u2019i<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Ab\u016b \u02bfAbdull\u0101h Muhammad bin Idr\u012bs al-Syafi\u02bf\u012b atau Muhammad bin Idris asy- Syafi`i atau Imam Syafi\u2019i adalah seorang mufti besar Sunni Islam dan juga pendiri madzhab Syafi\u2019i. Beliau lahir pada tahun 150 H di Gaza, Palestina, pada tahun yang sama wafat Imam Abu Hanifah, seorang ulama besar Sunni Islam dan beliau wafat pada malam Jum\u2019at menjelang subuh pada hari terakhir bulan Rajab tahun 204 H atau tahun 809 M pada usia 52 tahun<\/p>\n<p>Beliau dinamai ayahnya, Idris bin Abbas ketika mengetahui bahwa istrinya, Fatimah al-Azdiyyah sedang mengandung. Idris bin Abbas berkata, <em>\u201cJika engkau melahirkan seorang putra, maka akan aku namakan Muhammad, dan akan aku panggil dengan nama salah seorang kakeknya yaitu Syafi\u2019i bin Asy-Syaib\u201d.<\/em><\/p>\n<p>Ayah Imam Syafi\u2019i meninggal setelah dua tahun kelahirannya, lalu ibunya membawanya ke Makkah, tanah air nenek moyang. Sejak kecil beliau cepat menghafal syair, pandai bahasa Arab dan sastra sampai-sampai al-Ashma\u2019i berkata, <em>\u201cSaya mentashih syair-syair\u00a0\u00a0 bani Hudzail dari seorang pemuda dari Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris, ia adalah imam bahasa Arab\u201d.<\/em><\/p>\n<p>Perjalanan pendidikan di Makkah, beliau berguru kepada Muslim bin Khalid Az Zanji, Abdurrahman bin Abi Bakr Al-Mulaiki, Sa\u2019id bin Salim, Fudhail bin Al- Ayyad dan beberapa ulama lainnya pada bidang fikih.<\/p>\n<p>Saat usia 20 tahun, beliau pergi ke Madinah dan berguru kepada Imam Malik bin Anas pada bidang fikih. Ia mengaji kitab Muwattha\u2019 kepada Imam Malik dan menghafalnya dalam 9 malam. Beliau sangat mengagumi Imam Malik di Al- Madinah dan Imam Sufyan bin Uyainah di Makkah. Hal itu terlihat ketika menjadi Imam, beliau pernah menyatakan, \u201cSeandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.\u201d<\/p>\n<p>Selain kepada Imam Malik, beliau juga belajar kepada beberapa ulama besar lainnya di Madinah seperti Ibrahim bin Sa\u2019ad, Isma\u2019il bin Ja\u2019far, Atthaf bin Khalid, Abdul Aziz Ad-Darawardi.<\/p>\n<p>Setelah belajar di Madinah, beliau melanjutkan perjalanan ke Yaman dan belajar kepada Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli dan banyak lagi yang lainnya. Kemudian beliau melanjutkan belajarnya kepada Muhammad bin Al- Hasan, seorang ahli fiqih, Isma\u2019il bin Ulaiyyah dan Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi di negeri Irak.<\/p>\n<p>Setelah itu beliau bertemu dengan Ahmad bin Hanbal di Makkah tahun 187 H dan di Baghdad tahun 195 H. Darinya, beliau menimba ilmu fikihnya, ushul ma\u1e93habnya, penjelasan nasikh dan mansukhnya. Di Baghdad, Imam Syafi\u2019i menulis perkataan lamanya (<em>Qaul Qadim) <\/em>dan di Mesir pada tahun 200 H beliau menuliskan perkataan baru <em>(Qaul Jadid)<\/em>.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kisah_Imam_Syafii_Yang_Perlu_Diteladani\"><\/span><strong>Kisah Imam Syafi\u2019i Yang Perlu Diteladani<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tidak_sewenang-wenang_meskipun_kepada_murid\"><\/span>Tidak sewenang-wenang meskipun kepada murid<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Suatu hari Imam Syafi\u2019i yang saat itu berada di Mesir memanggil seorang muridnya yang bernama Rabi\u2019 bin Sulaiman. Imam Syafi\u2019i berkata, <em>\u201cWahai Rabi\u2019, Ini Surahku. Pergilah dan sampaikan Surah ini kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal). Sesampai di sana kamu tunggu jawabannya dan sampaikan padaku\u201d.<\/em><\/p>\n<p>Setelah Rabi\u2019 menyampaikannya kemudian Imam Ahmad mencopot salah satu baju gamis yang menempel di tubuhnya dan memberikannya kepada Rabi\u2019. Rabi\u2019 pun kembali ke Mesir dan segera menemui Imam Syafi\u2019i dan memberikan Surah balasan dari Imam Ahmad.<\/p>\n<p>Setelah itu Imam Syafi\u2019i bertanya, <em>\u201cApa yang diberikannya padamu?\u201d <\/em>Rabi\u2019 menjawab, <em>\u201cIa memberikan baju gamisnya.\u201d <\/em>Kemudian Imam Syafi\u2019i berkata, <em>\u201cAku bukan hendak menyusahkanmu dengan memintamu memberikan baju itu padaku. Namun basuhlah baju itu kemudian berikan air basuhannya padaku agar aku bisa bertabarruk dengannya.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Imam Rabi\u2019 menjelaskan bila Imam Syafi\u2019i menyimpan air tersebut dan menggunakannya untuk cuci muka setiap hari. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan guru dan murid ini tak menghalangi untuk bertabarruk sebagai bentuk pengakuan akan kesalehan dan keilmuan seseorang.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Mendamaikan_perselisihan\"><\/span>Mendamaikan perselisihan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Suatu ketika Ar-Rabi\u2019 sebagai murid memberikan informasi kepada gurunya, Imam Syafi\u2019i bahwa kondisi di Mesir saat itu terbagi menjadi dua kelompok yang kukuh pada pendapatnya yaitu kelompok penganut Ma\u1e93hab Maliki dan kelompok penganut Ma\u1e93hab Hanafi. Imam al-Syafi\u2019i pun memiliki niat untuk mendamaikan dua kelompok tersebut.<\/p>\n<p>Perselisihan kedua kelompok itu terjadi karena cara pandang dalam menggali hukum yang berbeda. Kelompok Ma\u1e93hab Maliki berpendapat bahwa jika suatu persoalan hukum tidak ditemukan dalam al-Quran maka selanjutnya adalah mencari pada hadis Rasulullah Saw baik <em>mutawatir <\/em>atau pun <em>ahad<\/em>. Sedangkan kelompok Ma\u1e93hab Hanafi berpendapat bahwa setelah al-Qur`an, <em>hadis mutawatir <\/em>saja yang dapat dijadikan landasan, bila tidak ditemukan maka selanjutnya dengan melakukan ijtihad dengan akal.<\/p>\n<p>Sebagai contoh dalam menentukan bilangan shalat witir. Kelompok Ma\u1e93hab Hanafi berpendapat bilangan witir adalah tiga rakaat dengan satu kali salam. Dalam hal ini ia lebih memilih menggunakan qiyas karena sesuatu yang memiliki persamaan maka hukumnya sama. Menurutnya, shalat maghrib adalah witir siang dengan tiga rakaat, maka shalat witir malam pun disamakan dengan jumlah rakaat yang sama, yakni 3 rakaat dengan 1 salam.<\/p>\n<p>Sedangkan kelompok Ma\u1e93hab Maliki mengatakan shalat witir harus tersusun dari dua dan satu rakaat. Pendapat ini berbeda dengan kelompok Ma\u1e93hab Hanafi yang mendasarkan argumennya pada sebuah hadis yang menyebutkan ganjilnya rakaat shalat witir. Menurut kelompok Ma\u1e93hab Maliki, bagaimana bisa diganjilkan jika tidak didahului oleh salat genap (salat dua rakaat) terlebih dahulu.<\/p>\n<p>Imam al-Syafi\u2019i menengahi kedua pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa Rasul salat witir dengan satu rakaat. Oleh karena itu, bilangan rakaat witir adalah cukup satu rakaat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Biografi Imam Syafi\u2019i Ab\u016b \u02bfAbdull\u0101h Muhammad bin Idr\u012bs al-Syafi\u02bf\u012b atau Muhammad bin Idris asy- Syafi`i atau Imam Syafi\u2019i adalah seorang mufti besar Sunni Islam dan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-26458","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26458","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26458"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26458\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26458"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26458"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26458"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}