{"id":26407,"date":"2022-11-16T09:19:14","date_gmt":"2022-11-16T02:19:14","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=26407"},"modified":"2022-11-16T09:19:14","modified_gmt":"2022-11-16T02:19:14","slug":"persamaan-derajat-musawah-dalam-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/persamaan-derajat-musawah-dalam-islam\/","title":{"rendered":"Persamaan Derajat (Mus\u0101wah) dalam Islam"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/persamaan-derajat-musawah-dalam-islam\/#Pengertian_Persamaan_Derajat_Musawah\" >Pengertian Persamaan Derajat (Mus\u0101wah)<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/persamaan-derajat-musawah-dalam-islam\/#Musawah_Dalam_Islam\" >Mus\u0101wah Dalam Islam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/persamaan-derajat-musawah-dalam-islam\/#Membiasakan_Berperilaku_Musawah_dalam_Kehidupan_Sehari-hari\" >Membiasakan Berperilaku Mus\u0101wah dalam Kehidupan Sehari-hari<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Persamaan_Derajat_Musawah\"><\/span>Pengertian Persamaan Derajat (<em>Mus\u0101wah<\/em>)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kata <em>mus\u0101wah <\/em>berasal dari kata dasar <em>saww\u0101 <\/em>berarti meratakan, menyamaratakan. Kata <em>mus\u0101wah <\/em>secara bahasa berarti kesamaan atau ekualitas. Sedangkan secara istilah <em>mus\u0101wah <\/em>adalah sikap terpuji di mana memandang bahwa<\/p>\n<p>setiap manusia memiliki harkat dan martabat yang sama. Rasulullah Saw. bersabda:<\/p>\n<p><em>\u201cDari Abi al-Yaman, al-Azhari menceritakan dari al-Utaiby: Sesungguhnya yang dikehendaki Nabi dalam hal ini adalah bahwa manusia adalah sama (setara) dalam nasab. Tidak seorang pun dari mereka memiliki kelebihan (dari yang lainnya), akan tetapi mereka serupa, seperti 100 ekor unta yang tidak memiliki induk\u201d <\/em>(H.R. Bukhari)<\/p>\n<p>Sikap <em>mus\u0101wah <\/em>ini sering kali dipakai dalam bidang hukum guna menyamaratakan hukuman seseorang dengan orang lain. Akan tetapi <em>mus\u0101wah <\/em>sendiri dapat digunakan pada berbagai macam perilaku tertentu semisal pendapat dari rakyat jelata perlu didengarkan selama pendapatnya logis dan berbobot. Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah berkata:<\/p>\n<p><em>\u201cPandanglah perkataannya bukan orangnya\u201d<\/em><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Musawah_Dalam_Islam\"><\/span><em>Mus\u0101wah <\/em>Dalam Islam<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Menurut Muhammad Ali al Hasyimy dalam <em>Manh\u0101j al-Isl\u0101m fi al-\u2018Adalah wa al-Mus\u0101wah, <\/em>ada beberapa hal berkaitan dengan prinsip <em>mus\u0101wah <\/em>dalam ajaran Islam, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Persamaan adalah buah dari keadilan dalam Islam.<\/li>\n<li>Setiap manusia sama derajatnya, tidak ada pengistimewaan tertentu pada seorang terhadap orang Maksudnya adalah tanggung jawab yang sama.<\/li>\n<li>Memelihara hak-hak non-muslim. Di antaranya adalah memahami perbedaan keyakinan dan ritual agama.<\/li>\n<li>Persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan dalam kewajiban agama dan Maksudnya adalah dalam hak dan kewajiban, Islam menjadikan keduanya sama, yaitu dalam kewajiban-kewajiban agama, hak pribadi, martabat manusia, hak-hak sipil dan kekayaan.<\/li>\n<li>Persamaan sosial di Maksudnya adalah dalam kehidupan masyarakat, setiap orang baik kaya maupun miskin, pejabat atau rakyat berada pada hak dan kewajiban yang sama meskipun implementasinya berbeda karena faktor otoritas di dalamnya seperti pejabat pemerintah memiliki kewajiban untuk membuat undang-undang sedangkan rakyat tidak berhak untuk membuat undang-undang.<\/li>\n<li>Persamaan manusia di depan hukum. Maksudnya adalah dalam hukum, siapa pun akan menerima hukuman sesuai dengan Tidak ada kata hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas.<\/li>\n<li>Persamaan dalam mendapatkan jabatan publik. Maksudnya adalah setiap orang memiliki hak untuk menjadi pejabat Contohnya ketika Rasulullah memberikan jabatan panglima, gubernur dan jabatan-jabatan strategis lainnya pada banyak budak yang telah dimerdekakan seperti Zaid, Usamah bin Zaid, dan lainnya.<\/li>\n<li>Persamaan didasarkan pada kesatuan asal bagi manusia. Maksudnya adalah setiap manusia dalam kedudukan sama di sisi Allah.<\/li>\n<\/ol>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Membiasakan_Berperilaku_Musawah_dalam_Kehidupan_Sehari-hari\"><\/span>Membiasakan Berperilaku <em>Mus\u0101wah <\/em>dalam Kehidupan Sehari-hari<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Setelah mengetahui sikap beberapa prinsip <em>mus\u0101wah <\/em>dalam Islam. Kita dituntut untuk bersikap <em>mus\u0101wah. <\/em>Sebagai contoh sikap <em>mus\u0101wah <\/em>dalam Islam yaitu,<\/p>\n<ol>\n<li>Islam datang dengan meningkatkan derajat wanita. Pada masa lampau, wanita dianggap sebagai harta yang dapat diperjual belikan. Setelah datangnya Islam, wanita dikembalikan pada<\/li>\n<li>Ketika seorang Yahudi menagih hutang yang belum jatuh tempo pada Rasulullah, dan ia menagihnya dengan Ia berkata, <em>\u201cSungguh kalian adalah orang-orang yang menunda-nunda hutang wahai Bani Abdil Mutthalib\u201d<\/em>. Lantas ketika Rasulullah melihat para sahabatnya marah atas perkataan tersebut, Rasulullah bersabda, <em>\u201cBiarkan dia, karena orang yang mempunyai hak, punya hak bicara\u201d<\/em><\/li>\n<li>Ketika Khalifah Umar Ra. mengirim surat kepada hakimnya Abu Musa al- Asy\u2019ari yang berisi arahan tentang hukum persamaan hak antara manusia di hadapan Beliau berkata, <em>\u201cSamakan antara manusia di hadapanmu, di majelismu, dan hukummu, sehingga orang lemah tidak putus asa dari keadilanmu, dan orang mulia tidak mengharap kecuranganmu.\u201d<\/em><\/li>\n<li>Ketika Rasulullah memerintah seorang pemuda sekitar 18 tahun, Usamah bin Zaid sebagai panglima pasukan umat Islam untuk perbatasan Syam. Usamah merupakan panglima termuda pada masa<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Persamaan Derajat (Mus\u0101wah) Kata mus\u0101wah berasal dari kata dasar saww\u0101 berarti meratakan, menyamaratakan. Kata mus\u0101wah secara bahasa berarti kesamaan atau ekualitas. Sedangkan secara istilah&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-26407","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26407","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26407"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26407\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26407"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26407"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26407"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}