{"id":26362,"date":"2022-11-16T08:18:44","date_gmt":"2022-11-16T01:18:44","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=26362"},"modified":"2022-11-16T08:18:44","modified_gmt":"2022-11-16T01:18:44","slug":"riwayat-hidup-abizar-al-ghifari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/riwayat-hidup-abizar-al-ghifari\/","title":{"rendered":"Riwayat Hidup Abizar al-Ghifari"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/riwayat-hidup-abizar-al-ghifari\/#Sebelum_Masuk_Islam\" >Sebelum Masuk Islam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/riwayat-hidup-abizar-al-ghifari\/#Masuk_Islam\" >Masuk Islam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/riwayat-hidup-abizar-al-ghifari\/#Menjadi_Sahabat_Nabi\" >Menjadi Sahabat Nabi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/riwayat-hidup-abizar-al-ghifari\/#Pelayan_Dhuafa_dan_Pelurus_Penguasa\" >Pelayan Dhuafa dan Pelurus Penguasa<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sebelum_Masuk_Islam\"><\/span><strong>Sebelum Masuk Islam<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Tidak diketahui pasti kapan Abizar lahir. Sejarah hanya mencatat, ia lahir dan ting- gal dekat jalur kafilah Makkah, Syria. Riwayat hitam masa lalu Abizar tak lepas dari keberadaan keluarganya.<\/p>\n<p>Abizar yang dibesarkan di tengah-tengah keluarga perampok besar Al Ghiffar saat itu, menjadikan aksi kekerasan dan teror untuk mencapai tujuan sebagai profesi kes- eharian. Itu sebabnya, Abizar yang semula bernama Jundab, juga dikenal sebagai per- ampok besar yang sering melakukan aksi teror di negeri-negeri di sekitarnya.<\/p>\n<p>Kendati demikian, Jundab pada dasarnya berhati baik. Kerusakan dan derita korban yang dise-babkan oleh aksinya kemudian menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya, insaf dan berhenti dari aksi jahatnya tersebut. Bahkan tak saja ia menyesali segala perbuatan jahatnya itu, tapi juga mengajak rekan-rekannya mengikuti jejaknya. Tindakannya itu menimbulkan amarah besar sukunya, yang memaksa Jundab meninggalkan tanah kela- hirannya.<\/p>\n<p>Bersama ibu dan saudara lelakinya, Anis Al Ghifar, Abizar hijrah ke Nejed Atas, Arab Saudi. Ini merupakan hijrah pertama Abizar dalam mencari kebenaran. Di Nejed Atas, Abizar tak lama tinggal. Sekalipun banyak ide-idenya dianggap revolusioner sehingga tak jarang mendapat tantangan dari masyarakat setempat.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Masuk_Islam\"><\/span><strong>Masuk Islam<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Mendengar datangnya agama Islam, Abizar pun berpikir tentang agama baru ini. Saat itu, ajaran Nabi Muhammad ini telah mulai mengguncangkan kota Mekah dan membang- kitkan gelombang kemarahan di seluruh Jazirah Arab. Abizar yang telah lama merindu- kan kebenaran, langsung tertarik kepada Rasulullah, dan ingin bertemu dengan Nabi SAW. Ia pergi ke Makkah, dan sekali-sekali mengunjungi Ka\u2019bah. Sebulan lebih lamanya ia mempelajari dengan seksama perbuatan dan ajaran Nabi. Waktu itu masyarakat kota Mekah dalam suasana saling bermusuhan.<\/p>\n<p>Demikian halnya dengan Ka\u2019bah yang masih dipenuhi berhala dan sering dikunjungi para penyembah berhala dari suku Quraisy, sehingga menjadi tempat pertemuan yang populer. Nabi juga datang ke sana untuk salat.<\/p>\n<p>Seperti yang diharapkan sejak lama, Abizar berkesempatan bertemu dengan Nabi. Dan pada saat itulah ia memeluk agama Islam, dan kemudian menjadi salah seorang pejuang paling gigih dan berani.<\/p>\n<p>Bahkan sebelum masuk Islam, ia sudah mulai menentang pemujaan berhala. Dia ber- kata: \u201cSaya sudah terbiasa bersembahyang sejak tiga tahun sebelum mendapat kehor- matan melihat Nabi Besar Islam.\u201d Sejak saat itu, Abizar membaktikan dirinya kepada agama Islam.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Menjadi_Sahabat_Nabi\"><\/span><strong>Menjadi Sahabat Nabi<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Mendapat kepercayaan Nabi SAW, Abizar ditugaskan mengajarkan Islam di kalangan sukunya. Meskipun tak sedikit rintangan yang dihadapinya, misi Abizar tergolong suk- ses. Bukan hanya ibu dan saudara-saudaranya, hampir seluruh sukunya yang suka mer- ampok berhasil diIslamkan. Itu pula yang mencatatkan dirinya sebagai salah seorang penyiar Islam fase pertama dan terkemuka.<\/p>\n<p>Rasulullah sendiri sangat menghargainya. Ketika dia meninggalkan Madinah untuk terjun dalam \u201cPerang pakaian compang-camping\u201d, dia diangkat sebagai imam dan ad- ministrator kota itu. Saat akan meninggal dunia, Nabi memanggil Abizar. Sambil meme- luknya, Rasulullah berkata: \u201cAbizar akan tetap sama sepanjang hidupnya.\u201d Ucapan Nabi ternyata benar, Abizar tetap dalam kesederhanaan dan sangat saleh. Seumur hidupnya ia mencela sikap hidup kaum kapitalis, terutama pada masa khalifah ketiga, Utsman bin Affan, ketika kaum Quraisy hidup dalam gelimangan harta.<\/p>\n<p>Bagi Abizar, masalah prinsip adalah masalah yang tak bisa ditawar-tawar. Itu sebab- nya, hartawan yang dermawan ini gigih mempertahankan prinsip egaliter Islam. Penaf- sirannya mengenai \u201cAyat Kanz\u201d (tentang pemusatan kekayaan), dalam surat Attaubah, menimbulkan pertentangan pada masa pemerintahan Utsman, khalifah ketiga.<\/p>\n<p>\u201cMereka yang suka sekali menumpuk emas dan perak dan tidak memanfaatkannya di jalan Allah, beritahukan mereka bahwa hukuman yang sangat mengerikan akan mer- eka terima. Pada hari itu, kening, samping dan punggung mereka akan dicap dengan emas dan perak yang dibakar sampai merah, panasnya sangat tinggi, dan tertulis: Inilah apa yang telah engkau kumpulkan untuk keuntunganmu. Sekarang rasakan hasil yang telah engkau himpun.\u201d<\/p>\n<p>Atas dasar pemahamannya inilah, Abizar menentang keras ide menumpuk harta kekayaan dan menganggapnya sebagai bertentangan dengan semangat Islam. Soal ini, sedikit pun Abizar tak mau kompromi dengan kapitalisme di kalangan kaum Muslimin di Syria yang diperintah Muawiyah, saat itu.<\/p>\n<p>Menurutnya, sebagaimana dikutip dalam buku Tokoh-tokoh Islam yang Diabadikan Al-Quran, merupakan kewajiban Muslim sejati menyalurkan kelebihan hartanya kepada saudara-saudaranya yang miskin. Untuk memperkuat pendapatnya itu, Abizar meng- utip peristiwa masa Nabi: \u201cSuatu hari, ketika Nabi Besar sedang berjalan bersama-sama Abizar, terlihat pegunungan Ohad.<\/p>\n<p>Nabi berkata kepada Abizar, \u201cJika aku mempunyai emas seberat pegunungan yang jauh itu, aku tidak perlu melihatnya dan memilikinya kecuali bila diharuskan membayar utang-utangku. Sisanya akan aku bagi-bagikan kepada hamba Allah\u201d.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pelayan_Dhuafa_dan_Pelurus_Penguasa\"><\/span><strong>Pelayan Dhuafa dan Pelurus Penguasa<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Semasa hidupnya, Abizar Al Ghifary sangat dikenal sebagai penyayang kaum dhuafa. Kepedulian terhadap golongan fakir ini bahkan menjadi sikap hidup dan kepribadian Abizar. Sudah menjadi kebiasaan penduduk Ghiffar pada masa jahiliyah merampok kaf- ilah yang lewat. Abizar sendiri, ketika belum masuk Islam, kerap kali merampok orang- rang kaya. Namun hasilnya dibagi-bagikan kepada kaum dhuafa. Kebiasaan itu berhenti begitu menyatakan diri masuk agama terakhir ini.<\/p>\n<p>Prinsip hidup sederhana dan peduli terhadap kaum miskin itu tetap ia pegang di tempat barunya, di Syria. Namun di tempat baru ini, ia menyaksikan gubernur Muawi- yah hidup bermewah-mewah. Ia malahan memusatkan kekuasaannya dengan bantuan kelas yang mendapat hak istimewa, dan dengan itu mereka telah menumpuk harta se- cara besar-besaran. Ajaran egaliter Abizar membangkitkan massa melawan penguasa dan kaum borjuis itu. Keteguhan prinsipnya itu membuat Abizar sebagai \u2018duri dalam daging\u2019 bagi penguasa setempat.<\/p>\n<p>Ketika Muawiyah membangun istana hijaunya, Al Khizra, salah satu ahlus shuffah (sahabat Nabi saw yang tinggal di serambi Masjid Nabawi) ini mengkritik khalifah, \u201cKa- lau Anda membangun istana ini dari uang negara, berarti Anda telah menyalahgunak- an uang negara. Kalau Anda membangunnya dengan uang Anda sendiri, berarti Anda melakukan \u2018israf\u2019 (pemborosan).\u201d Muawiyah hanya terpesona dan tidak menjawab per- ingatan itu.<\/p>\n<p>Muawiyah berusaha keras agar Abizar tidak meneruskan ajarannya. Tapi penganjur egaliterisme itu tetap pada prinsipnya. Muawiyah kemudian mengatur sebuah diskusi antara Abizar dan ahli-ahli agama. Sayang, pendapat para ahli itu tidak mempengaruhin- ya. Muawiyah melarang rakyat berhubungan atau mendengarkan pengajaran salah satu sahabat yang ikut dalam penaklukan Mesir, pada masa khalifah Umar bin Khattab ini. Kendati demikian, rakyat tetap berduyun-duyun meminta nasihatnya. Akhirnya Muawi- yah mengadu kepada khalifah Utsman. Ia mengatakan bahwa Abizar mengajarkan ke- bencian kelas di Syria, hal yang dianggapnya dapat membawa akibat yang serius.<\/p>\n<p>Keberanian dan ketegasan sikap Abizar ini mengilhami tokoh-tokoh besar selanjut- nya, seperti Hasan Basri, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyah, dan lainnya. Karena itulah, tak berlebihan jika sahabat Ali Ra, pernah berkata: \u201cSaat ini, tidak ada satu orang pun di dunia, kecuali Abuzar, yang tidak takut kepada semburan tuduhan yang diucapkan oleh penjahat agama, bahkan saya sendiri pun bukan yang terkecuali.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebelum Masuk Islam Tidak diketahui pasti kapan Abizar lahir. Sejarah hanya mencatat, ia lahir dan ting- gal dekat jalur kafilah Makkah, Syria. Riwayat hitam masa&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-26362","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26362","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26362"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26362\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26362"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26362"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26362"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}