{"id":2635,"date":"2025-02-04T07:17:26","date_gmt":"2025-02-04T00:17:26","guid":{"rendered":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/?p=2635"},"modified":"2025-02-04T07:17:26","modified_gmt":"2025-02-04T00:17:26","slug":"teori-fungsionalisme-bagaimana-masyarakat-berfungsi-sebagai-sistem-yang-terintegrasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-fungsionalisme-bagaimana-masyarakat-berfungsi-sebagai-sistem-yang-terintegrasi\/","title":{"rendered":"Teori Fungsionalisme: Bagaimana Masyarakat Berfungsi sebagai Sistem yang Terintegrasi"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-fungsionalisme-bagaimana-masyarakat-berfungsi-sebagai-sistem-yang-terintegrasi\/#Sejarah_dan_Perkembangan_Teori_Fungsionalisme\" >Sejarah dan Perkembangan Teori Fungsionalisme<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-fungsionalisme-bagaimana-masyarakat-berfungsi-sebagai-sistem-yang-terintegrasi\/#Prinsip-Prinsip_Utama_Fungsionalisme\" >Prinsip-Prinsip Utama Fungsionalisme<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-fungsionalisme-bagaimana-masyarakat-berfungsi-sebagai-sistem-yang-terintegrasi\/#1_Struktur_Sosial_dan_Fungsinya\" >1. Struktur Sosial dan Fungsinya<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-fungsionalisme-bagaimana-masyarakat-berfungsi-sebagai-sistem-yang-terintegrasi\/#2_Konsensus_dan_Norma_Sosial\" >2. Konsensus dan Norma Sosial<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-fungsionalisme-bagaimana-masyarakat-berfungsi-sebagai-sistem-yang-terintegrasi\/#3_Keseimbangan_dan_Adaptasi\" >3. Keseimbangan dan Adaptasi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-fungsionalisme-bagaimana-masyarakat-berfungsi-sebagai-sistem-yang-terintegrasi\/#4_Disfungsi_dalam_Masyarakat\" >4. Disfungsi dalam Masyarakat<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-fungsionalisme-bagaimana-masyarakat-berfungsi-sebagai-sistem-yang-terintegrasi\/#Penerapan_Fungsionalisme_dalam_Berbagai_Aspek_Kehidupan\" >Penerapan Fungsionalisme dalam Berbagai Aspek Kehidupan<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-fungsionalisme-bagaimana-masyarakat-berfungsi-sebagai-sistem-yang-terintegrasi\/#1_Pendidikan\" >1. Pendidikan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-fungsionalisme-bagaimana-masyarakat-berfungsi-sebagai-sistem-yang-terintegrasi\/#2_Keluarga\" >2. Keluarga<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-fungsionalisme-bagaimana-masyarakat-berfungsi-sebagai-sistem-yang-terintegrasi\/#3_Ekonomi\" >3. Ekonomi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-11\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-fungsionalisme-bagaimana-masyarakat-berfungsi-sebagai-sistem-yang-terintegrasi\/#4_Agama\" >4. Agama<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-12\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-fungsionalisme-bagaimana-masyarakat-berfungsi-sebagai-sistem-yang-terintegrasi\/#5_Politik_dan_Pemerintahan\" >5. Politik dan Pemerintahan<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-13\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-fungsionalisme-bagaimana-masyarakat-berfungsi-sebagai-sistem-yang-terintegrasi\/#Kritik_terhadap_Fungsionalisme\" >Kritik terhadap Fungsionalisme<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-14\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-fungsionalisme-bagaimana-masyarakat-berfungsi-sebagai-sistem-yang-terintegrasi\/#1_Cenderung_Mengabaikan_Perubahan_Sosial\" >1. Cenderung Mengabaikan Perubahan Sosial<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-15\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-fungsionalisme-bagaimana-masyarakat-berfungsi-sebagai-sistem-yang-terintegrasi\/#2_Kurang_Memperhatikan_Konflik_Sosial\" >2. Kurang Memperhatikan Konflik Sosial<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-16\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-fungsionalisme-bagaimana-masyarakat-berfungsi-sebagai-sistem-yang-terintegrasi\/#3_Memandang_Masyarakat_sebagai_Entitas_Statis\" >3. Memandang Masyarakat sebagai Entitas Statis<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-17\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-fungsionalisme-bagaimana-masyarakat-berfungsi-sebagai-sistem-yang-terintegrasi\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Fungsionalisme merupakan salah satu teori utama dalam sosiologi yang menyoroti bagaimana berbagai elemen dalam masyarakat saling berhubungan dan bekerja bersama untuk menciptakan stabilitas sosial. Teori ini menekankan bahwa masyarakat terdiri dari berbagai institusi, norma, dan nilai yang membentuk suatu sistem yang harmonis.<\/p>\n<p>Pemikiran ini memiliki akar yang kuat dalam tradisi sosiologi klasik dan masih menjadi pendekatan yang relevan dalam memahami dinamika sosial hingga saat ini.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sejarah_dan_Perkembangan_Teori_Fungsionalisme\"><\/span>Sejarah dan Perkembangan Teori Fungsionalisme<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Teori fungsionalisme berkembang seiring dengan munculnya sosiologi sebagai disiplin ilmu. Auguste Comte, yang dikenal sebagai bapak sosiologi, memberikan landasan awal bagi pendekatan ini dengan gagasannya tentang masyarakat sebagai organisme yang memiliki struktur dan fungsi tertentu. Pemikiran ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh \u00c9mile Durkheim yang menekankan pentingnya solidaritas sosial dalam menjaga keteraturan masyarakat.<\/p>\n<p>Pada abad ke-20, Talcott Parsons dan Robert K. Merton menjadi tokoh utama dalam memperluas konsep fungsionalisme. Parsons mengembangkan model AGIL (Adaptation, Goal Attainment, Integration, Latency) yang menjelaskan bagaimana sistem sosial dapat bertahan dalam berbagai kondisi. Merton, di sisi lain, mengenalkan konsep fungsi manifes dan laten yang menyoroti bagaimana setiap elemen dalam masyarakat dapat memiliki dampak yang disengaja maupun tidak disengaja.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Prinsip-Prinsip_Utama_Fungsionalisme\"><\/span>Prinsip-Prinsip Utama Fungsionalisme<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Teori fungsionalisme memiliki beberapa prinsip utama yang menjelaskan bagaimana masyarakat berfungsi sebagai suatu sistem yang terintegrasi:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Struktur_Sosial_dan_Fungsinya\"><\/span>1. <strong>Struktur Sosial dan Fungsinya<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Masyarakat terdiri dari berbagai struktur sosial seperti keluarga, pendidikan, ekonomi, dan politik. Setiap struktur memiliki peran spesifik yang berkontribusi pada stabilitas dan keberlanjutan sistem sosial. Misalnya, sistem pendidikan bertanggung jawab dalam mentransmisikan pengetahuan dan keterampilan kepada generasi muda agar mereka dapat berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan ekonomi.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Konsensus_dan_Norma_Sosial\"><\/span>2. <strong>Konsensus dan Norma Sosial<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Masyarakat dapat berfungsi secara efektif karena adanya konsensus terhadap norma dan nilai yang dianut bersama. Norma sosial memberikan pedoman bagi individu dalam berperilaku, sedangkan nilai sosial mencerminkan apa yang dianggap penting dalam suatu masyarakat. Kesepakatan ini memungkinkan individu untuk bekerja sama dan mengurangi konflik sosial yang dapat mengganggu stabilitas.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Keseimbangan_dan_Adaptasi\"><\/span>3. <strong>Keseimbangan dan Adaptasi<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Setiap perubahan yang terjadi dalam masyarakat direspons dengan mekanisme penyesuaian agar sistem tetap seimbang. Jika suatu institusi mengalami perubahan, institusi lain akan beradaptasi untuk memastikan bahwa sistem sosial tetap berjalan dengan baik. Misalnya, jika terdapat perubahan dalam sistem ekonomi akibat perkembangan teknologi, sistem pendidikan juga akan menyesuaikan dengan memberikan pelatihan keterampilan baru kepada tenaga kerja.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Disfungsi_dalam_Masyarakat\"><\/span>4. <strong>Disfungsi dalam Masyarakat<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Tidak semua elemen dalam masyarakat berfungsi dengan baik. Terdapat kondisi di mana struktur sosial mengalami kegagalan dalam menjalankan perannya, yang disebut disfungsi. Disfungsi ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam masyarakat dan mendorong terjadinya perubahan sosial. Contohnya, jika sistem hukum gagal memberikan keadilan bagi masyarakat, maka ketidakpercayaan terhadap hukum dapat meningkat dan memicu ketidakstabilan sosial.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penerapan_Fungsionalisme_dalam_Berbagai_Aspek_Kehidupan\"><\/span>Penerapan Fungsionalisme dalam Berbagai Aspek Kehidupan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Pendekatan fungsionalisme dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan sosial untuk memahami bagaimana elemen-elemen dalam masyarakat saling berinteraksi. Beberapa contoh penerapan teori ini meliputi:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Pendidikan\"><\/span>1. <strong>Pendidikan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Dalam perspektif fungsionalisme, sistem pendidikan memiliki fungsi utama dalam mentransmisikan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai sosial kepada generasi muda. Pendidikan juga berfungsi sebagai sarana mobilitas sosial yang memungkinkan individu meningkatkan status sosial mereka. Selain itu, pendidikan berkontribusi dalam integrasi sosial dengan mengajarkan nilai-nilai yang dapat mempererat hubungan antarindividu.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Keluarga\"><\/span>2. <strong>Keluarga<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Keluarga merupakan institusi sosial yang berperan dalam membentuk karakter individu sejak dini. Dalam pandangan fungsionalisme, keluarga memiliki fungsi utama dalam sosialisasi, memberikan dukungan emosional, serta memastikan kelangsungan generasi berikutnya. Selain itu, keluarga juga berperan dalam menjaga stabilitas sosial dengan menyediakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan individu.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Ekonomi\"><\/span>3. <strong>Ekonomi<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Sistem ekonomi berfungsi sebagai mekanisme untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Teori fungsionalisme melihat ekonomi sebagai bagian integral dari sistem sosial yang memastikan distribusi sumber daya secara efisien. Pasar tenaga kerja, produksi, dan distribusi barang dan jasa merupakan elemen yang bekerja secara sinergis untuk mendukung kesejahteraan sosial.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Agama\"><\/span>4. <strong>Agama<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Agama memiliki fungsi dalam memberikan makna hidup, memperkuat solidaritas sosial, serta mengendalikan perilaku individu melalui norma dan ajaran moral. Dalam masyarakat yang kompleks, agama juga dapat berperan sebagai alat legitimasi bagi sistem sosial yang ada, serta memberikan mekanisme kontrol sosial yang membantu menjaga stabilitas dan ketertiban.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"5_Politik_dan_Pemerintahan\"><\/span>5. <strong>Politik dan Pemerintahan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Dalam pandangan fungsionalisme, sistem politik memiliki fungsi dalam menciptakan aturan yang mengatur kehidupan masyarakat serta memastikan keadilan dan keamanan. Pemerintahan yang efektif memungkinkan koordinasi antarindividu dan kelompok, serta mengelola sumber daya publik dengan baik agar masyarakat dapat berkembang secara harmonis.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kritik_terhadap_Fungsionalisme\"><\/span>Kritik terhadap Fungsionalisme<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Meskipun teori fungsionalisme memiliki banyak kelebihan dalam menjelaskan keteraturan sosial, beberapa kritik juga muncul terhadap pendekatan ini. Kritik utama meliputi:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Cenderung_Mengabaikan_Perubahan_Sosial\"><\/span>1. <strong>Cenderung Mengabaikan Perubahan Sosial<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Fungsionalisme lebih menekankan stabilitas dan keseimbangan dalam masyarakat sehingga sering dianggap kurang mampu menjelaskan perubahan sosial yang cepat atau revolusioner. Perspektif ini lebih menyoroti mekanisme adaptasi ketimbang faktor-faktor yang mendorong perubahan sosial secara drastis.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Kurang_Memperhatikan_Konflik_Sosial\"><\/span>2. <strong>Kurang Memperhatikan Konflik Sosial<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Teori ini cenderung mengasumsikan bahwa masyarakat bekerja dalam harmoni dan memiliki konsensus yang kuat, sehingga mengabaikan konflik sosial yang terjadi akibat ketimpangan kekuasaan atau ketidakadilan. Pendekatan ini berbeda dengan teori konflik yang lebih fokus pada ketegangan dan perjuangan antar kelompok dalam masyarakat.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Memandang_Masyarakat_sebagai_Entitas_Statis\"><\/span>3. <strong>Memandang Masyarakat sebagai Entitas Statis<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Pendekatan fungsionalisme sering kali memandang masyarakat sebagai sistem yang cenderung tetap dan hanya mengalami perubahan secara bertahap. Hal ini dianggap kurang relevan dalam konteks dunia modern yang mengalami perubahan sosial yang dinamis akibat perkembangan teknologi, globalisasi, dan faktor lainnya.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Teori fungsionalisme memberikan wawasan penting dalam memahami bagaimana masyarakat berfungsi sebagai sistem yang terintegrasi. Pendekatan ini menekankan keteraturan sosial, keseimbangan, serta bagaimana berbagai institusi bekerja bersama untuk menjaga stabilitas. Meskipun teori ini memiliki beberapa keterbatasan dalam menjelaskan perubahan sosial yang cepat dan konflik dalam masyarakat, fungsionalisme tetap menjadi salah satu perspektif utama dalam sosiologi yang membantu memahami dinamika sosial secara holistik.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fungsionalisme merupakan salah satu teori utama dalam sosiologi yang menyoroti bagaimana berbagai elemen dalam masyarakat saling berhubungan dan bekerja bersama untuk menciptakan stabilitas sosial. Teori&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-2635","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-soshum"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2635","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2635"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2635\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2636,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2635\/revisions\/2636"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2635"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2635"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2635"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}