{"id":26322,"date":"2022-11-16T07:25:34","date_gmt":"2022-11-16T00:25:34","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=26322"},"modified":"2022-11-16T07:25:34","modified_gmt":"2022-11-16T00:25:34","slug":"ahwal-tasawuf-pengertian-dan-macam-macam-ahwal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ahwal-tasawuf-pengertian-dan-macam-macam-ahwal\/","title":{"rendered":"Ahwal Tasawuf: Pengertian dan Macam-Macam Ahwal"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ahwal-tasawuf-pengertian-dan-macam-macam-ahwal\/#Muraqabah\" >Muraqabah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ahwal-tasawuf-pengertian-dan-macam-macam-ahwal\/#Mahabbah\" >Mahabbah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ahwal-tasawuf-pengertian-dan-macam-macam-ahwal\/#Khauf\" >Khauf<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ahwal-tasawuf-pengertian-dan-macam-macam-ahwal\/#Raja\" >Raja\u2019<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ahwal-tasawuf-pengertian-dan-macam-macam-ahwal\/#Syauq\" >Syauq<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ahwal-tasawuf-pengertian-dan-macam-macam-ahwal\/#Uns\" >Uns<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ahwal-tasawuf-pengertian-dan-macam-macam-ahwal\/#Tumaninah\" >Tuma\u2019ninah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ahwal-tasawuf-pengertian-dan-macam-macam-ahwal\/#Musyahadah\" >Musyahadah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ahwal-tasawuf-pengertian-dan-macam-macam-ahwal\/#Yaqin\" >Yaqin<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p><em>Al ahwal <\/em>bentuk jamak dari kata dalam bahasa Arab <em>hal, <\/em>biasanya diartikan sebagai keadaan mental <em>(menthal states) <\/em>yang dialami oleh para sufi di sela-sela perjalanan spir- itualnya. Ibn Arabi menyebut <em>hal <\/em>sebagai setiap sifat yang dimiliki seorang salik pada suatu waktu dan tidak pada waktu yang lain, seperti kemabukan dan <em>fana\u2019<\/em>. Eksisten- sinya bergantung pada sebuah kondisi. Ia akan sirna manakala kondisi tersebut tidak lagi ada. Hal tidak dapat dilihat dilihat tetapi dapat dipahami dan dirasakan oleh orang yang mengalaminya dan karenanya sulit dilukiskan dengan ungkapan kata.<\/p>\n<p><strong>Tingkatan <em>Al Ahwal<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Menurut Al Thusi sebagai item yang termasuk di dalam kategori <em>hal <\/em>yaitu: <em>Al Mur\u00e2qa- bah <\/em>(rasa selalu diawasi oleh Tuhan), <em>Al Qurb <\/em>(perasaan dekat kepada Tuhan), <em>Al Mahab- bah <\/em>(rasa cinta kepada Tuhan), <em>Khauf wa Raj\u00e2\u2019 <\/em>(rasa takut dan pengharapan kepada Tu- han), <em>Al Dzauq <\/em>(rasa rindu), <em>Al Uns <\/em>(rasa berteman), <em>Al Thuma\u2019ninah <\/em>(rasa tenteram), <em>Al Musy\u00e2hadat <\/em>(perasaan menyaksikan Tuhan dengan mata hati), dan <em>Al Yaq\u00een <\/em>(rasa yakin).<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Muraqabah\"><\/span>Muraqabah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p><em>Muraqabah <\/em>dalam tradisi sufi adalah kondisi kejiwaan yang dengan sepenuhnya ada dalam keadaan konsentrasi dan waspada. Sehingga segala daya pikir dan imaji- nasinya tertuju pada satu fokus kesadaran tentang dirinya. Lebih jauh, muraqabah akan penyatuan antara Tuhan, alam dan dirinya sendiri sebagai manusia.<\/p>\n<p>Muraqabah merupakan bentuk hal yang sangat penting. Karena pada dasarnya segala perilaku peribadatan adalah dalam rangka muraqabah atau mendekatkan diri kepada Allah. Dengan kata lain muraqabah juga dapat diartikan sebagai kondisi kejiwaan, di mana seorang individu senantiasa merasa kehadiran Allah, serta me- nyadari sepenuhnya bahwa Allah selalu mengawasi segenap perilaku hambanya. Dengan kesadaran semacam ini, seorang hamba akan selalu mawas diri, menjaga diri untuk tetap pada kualitas kesempurnaan penciptaannya.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Mahabbah\"><\/span>Mahabbah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p><em>Mahabbah <\/em>mengandung arti keteguhan dan kemantapan. Seorang yang sedang dilanda rasa cinta pada sesuatu tidak akan beralih atau berpaling pada sesuatu yang lain. Ia senantiasa teguh dan mantap serta senantiasa mengingat dan memikirkan yang dicinta. Al Junaidi ketika ditanya tentang cinta menyatakan seorang yang di- landa cinta akan dipenuhi oleh ingatan pada sang kekasih, hingga tak satupun yang tertinggal, kecuali ingatan pada sifat-sifat sang kekasih, bahkan ia melupakan sifat- nya sendiri.<\/p>\n<p>Dilihat dari segi orangnya, menurut Abu Nashr Al Thusi, cinta kepada Tuhan ter- bagi menjadi tiga macam cinta. <em>Pertama, <\/em>cinta orang-orang awam. Cinta seperti ini muncul karena kebaikan dan kasih sayang Tuhan kepada mereka. Ciri-ciri cinta ini adalah ketulusan dan keteringatan <em>(zikir) <\/em>yang terus-menerus. Karena jika orang mencintai sesuatu, maka ia pun akan sering mengingat dan menyebutnya.<\/p>\n<p><em>Kedua, <\/em>cinta orang-orang yang <em>shadiq <\/em>dan <em>mutahaqqiq. <\/em>Cinta mereka ini timbul karena penglihatan mata hati mereka terhadap kekayaan, keagungan, kebesaran, pengetahuan dan kekuasaan Tuhan. Ciri-ciri cinta ini adalah \u201cterkoyaknya tabir\u201d dan \u201ctersingkapnya rahasia\u201d Tuhan. Selain itu, ciri lain adalah lenyapnya kehendak serta hilangnya semua sifat (kemanusiaan dan keinginan duniawi).<\/p>\n<p><em>Ketiga, <\/em>cinta orang-orang <em>shiddiq <\/em>dan <em>arif. <\/em>Cinta macam ini timbul dari pengli- hatan dan pengenalan mereka terhadap ke-<em>qadim<\/em>-an Cinta Tuhan tanpa sebab <em>(il- lat) <\/em>apapun.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Khauf\"><\/span><em>Khauf<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Al Qusyairi mengemukakan bahwa khauf terkait dengan kejadian yang akan datang. Yakni akibat datangnya sesuatu yang dibenci dan sirnanya sesuatu yang di- cintai. Takut kepada Allah berarti takut terhadap hukum-hukumnya baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana firman Allah<\/p>\n<p><em>\u201c\u2026 karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.\u201d(QS Ali Imran [3]: 175)<\/em><\/p>\n<p>Seorang yang diliputi perasaan takut hanya akan melakukan tindakan yang se- harusnya ia lakukan untuk kebaikan dalam jangka panjang ke depan, bukan seke- dar karena keinginan-keinginan nafsunya atau karena kepentingan sesaat. Seorang yang khauf akan berfikiran jauh ke depan.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Raja\"><\/span><em>Raja\u2019<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p><em>Raja\u2019 <\/em>adalah keterikatan hati dengan sesuatu yang diinginkan terjadi pada masa yang akan datang. Al Qusyairi membedakan antara harapan dengan angan-angan (<em>tamanni<\/em>). Raja\u2019 bersifat aktif, sementara tamanni bersifat pasif. Seseorang yang mengharapkan sesuatu akan berupaya semaksimal mungkin untuk meraih dan merealisasikan harapan-harapannya. Sementara orang yang mengangan-angankan sesuatu hanya berdiam diri dan tidak melakukan apapun yang dapat mengantar- kannyauntuk mendapatkan yang diangan-angankannya.<\/p>\n<p>Harapan akan membawa seseorang pada perasaan optimis dalam menjalankan se- gala aktifitasnya, serta menghilangkan segala keraguan yang menyelimutinya. Dengan demikian, ia akan melakukan segala aktifitas terbaiknya dengan penuh kayakinan.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Syauq\"><\/span><em>Syauq<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Rindu <em>(syauq) <\/em>merupakan luapan perasaan seseorang individu yang mengharap- kan untuk senantiasa bertemu dengan sesuatu yang dicintai. Luapan perasaan ker- induan terhadap sesuatu akan menghapuskan segala sesuatu selain yang dirindu- kan. Begitu pula seorang hamba yang dilanda kerinduan kepada Allah SWT akan terlepas dari segala hasrat selain Allah. Oleh karenanya sebagai bukti dari perasaan rindu adalah terbebasnya diri seseorang dari hawa nafsu.<\/p>\n<p>Secara psikologis, seseorang yang dilanda perasaan rindu, adalah mereka yang segala aktifitas baik perilaku maupun gagasannya tertuju pada satu titik tertentu, sesuai dengan apa yang dianggapnya sebagai kebenaran yang hakiki. Dan tidak akan tergoyahkan dengan segala keinginan yang semu yang dapat mengalihkan perha- tian dan konsentrasinya. Sehingga ia akan senantiasa terjaga dari segala hal yang tidak seharusnya ia lakukan atau ia pikirkan. Ia akan melakukan segala tindakan terbaiknya dengan penuh kesenangan dan kegembiraan, tanpa rasa keraguan atau kecemasan.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Uns\"><\/span><em>Uns<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Perasaan suka cita <em>(uns) <\/em>merupakan kondisi kejiwaan, di mana seseorang mera- sakan kedekatan dengan Tuhan. Atau dengan pengertian lain disebut sebagai pencerahan dalam kebenaran. Seseorang yang ada pada kondisi <em>uns <\/em>akan mera- sakan kebahagiaan, kesenangan, kegembiraan serta suka cita yang meluap-luap. Kondisi kejiwaan seperti ini dialami oleh seorang sufi ketika merasakan kedekatan dengan Allah. Yang mana, hati dan perasaannya diliputi oleh cinta, kelmbutan serta kasih sayang yang luar biasa, sehingga sangat sulit untuk dilukiskan.<\/p>\n<p>Keadaan seperti ini dapat dialami oleh seorang sufi dalam situasi tertentu, mis- alnya ketika menikmati keindahan alam, keluasan bacaan atau merdunya alunan musik, yang mana dalam situasi tersebut seorang sufi benar-benar merasakan kein- dahan Allah. Tentu saja antara antara individu satu dengan yang lain memiliki pen- galamannya sendiri-sendiri dengan muatan dan rasa yang bersifat pribadi, sehingga tidak dapat digambarkan dengan jelas oleh orang lain.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tumaninah\"><\/span><em>Tuma\u2019ninah<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p><em>Tuma\u2019ninah <\/em>adalah keteguhan atau ketentraman hati dari segala hal yang dapat mempengaruhinya. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT,<\/p>\n<p><em>Hai jiwa yang tenang. 28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. 29. Maka masuklah ke dalam jama\u203aah hamba-hamba-Ku, 30. masuklah ke dalam syurga-Ku. (QS. Al Fajr [89]: 27-30).<\/em><\/p>\n<p>Ibnu Qayim membagi <em>tuma\u2019ninah <\/em>dalam tiga tingkatan: pertama, ketenangan hati dengan mengingat Allah. Kedua, ketentraman jiwa pada <em>kashf<\/em>, ketentraman perindu pada batas penantian. Ketiga, ketentraman menyaksikan Tuhan pada kelembutan kasihnya. Ketiga tingkatan ini berkaitan dengan konsep <em>fana\u2019 <\/em>dan <em>baqa\u2019. <\/em>Menurut pandangan sejumlah sufi, <em>fana\u2019 <\/em>adalah gugurnya sifat-sifat tercela, sedangkan <em>baqa\u2019 <\/em>adalah jelasnya sifat-sifat terpuji.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Musyahadah\"><\/span><em>Musyahadah<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p><em>Musyahadah <\/em>adalah kehadiran <em>Al Haqq <\/em>dengan tanpa dibayangkan. Menurut Al Junaid, orang yang ada pada puncak <em>musyahadah <\/em>kalbunya senantiasa dipenuhi oleh cahaya keTuhanan, sehingga ibarat kilatan cahaya di malam hari yang tiada putus sama sekali, sehinggga malampun laksana siang yang nikmat.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Yaqin\"><\/span><em>Yaqin<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p><em>Al Yaqin <\/em>dalam terminologi sufi adalah merupakan perpaduan antara \u2018<em>ilmu al yaqin, \u2019ain al yaqin <\/em>dan <em>haqq al yaqin<\/em>. \u2018<em>Ilm al Yaqin <\/em>adalah sesuatu yang ada dengan syarat adanya bukti. sedangkan \u2018<em>Ain al Yaqin<\/em>, sesuatu yang ada dengan disertai kej- elasan. <em>Haqq al Yaqin <\/em>adalah sesuatu yang ada dengan sifat-sifat yang menyertai ke- nyataannya. <em>\u2018Ilm al Yaqin<\/em>, dibutuhkan untuk mereka yang cenderung rasional. \u2018<em>Ain al Yaqin <\/em>bagi para ilmuwan. Sedangkan <em>haqq al Yaqin <\/em>bagi orang-orang yang ma\u2019rifah. Jadi, <em>Al Yaqin <\/em>adalah sebuah kepercayaan yang kuat dan tak tergoyahkan ten- tang kebenaran pengetahuan yang dimiliki, karena penyaksiannya dengan segenap jiwanya dan dirasakan oleh seluruh ekspresinya, serta disaksikan oleh segenap eksistensinya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Al ahwal bentuk jamak dari kata dalam bahasa Arab hal, biasanya diartikan sebagai keadaan mental (menthal states) yang dialami oleh para sufi di sela-sela perjalanan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-26322","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26322","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26322"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26322\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26322"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26322"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26322"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}