{"id":26231,"date":"2022-11-15T17:19:10","date_gmt":"2022-11-15T10:19:10","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=26231"},"modified":"2022-11-15T17:19:10","modified_gmt":"2022-11-15T10:19:10","slug":"perbandingan-pemikiran-aliran-kalam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbandingan-pemikiran-aliran-kalam\/","title":{"rendered":"Perbandingan Pemikiran Aliran Kalam"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbandingan-pemikiran-aliran-kalam\/#Akal_dan_Wahyu\" >Akal dan Wahyu<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbandingan-pemikiran-aliran-kalam\/#1_Menurut_aliran_Mutazilah\" >1. Menurut aliran Mu\u2019tazilah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbandingan-pemikiran-aliran-kalam\/#2_Menurut_Aliran_Asyariyah\" >2. Menurut Aliran Asy\u2019ariyah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbandingan-pemikiran-aliran-kalam\/#3_Aliran_Maturidiyah\" >3. Aliran Maturidiyah<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbandingan-pemikiran-aliran-kalam\/#Iman_dan_Kufur\" >Iman dan Kufur<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbandingan-pemikiran-aliran-kalam\/#1_Menurut_Aliran_Khawarij\" >1. Menurut Aliran Khawarij<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbandingan-pemikiran-aliran-kalam\/#2_Menurut_Aliran_Murjiah\" >2. Menurut Aliran Murjiah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbandingan-pemikiran-aliran-kalam\/#3_Menurut_Aliran_Mutazilah\" >3. Menurut \u00a0Aliran Mu\u2019tazilah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbandingan-pemikiran-aliran-kalam\/#4_Menurut_aliran_Asyariyah\" >4. Menurut aliran Asy\u2019ariyah<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbandingan-pemikiran-aliran-kalam\/#Perbuatan_Manusia\" >Perbuatan Manusia<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-11\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbandingan-pemikiran-aliran-kalam\/#1_Menurut_Aliran_Jabariyah\" >1. Menurut Aliran Jabariyah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-12\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbandingan-pemikiran-aliran-kalam\/#2_Menurut_Aliran_Mutazilah\" >2. Menurut Aliran Mu\u2019tazilah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-13\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbandingan-pemikiran-aliran-kalam\/#3_Menurut_Aliran_Asyariyah\" >3. Menurut Aliran Asy\u2019ariyah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-14\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbandingan-pemikiran-aliran-kalam\/#4_Menurut_Aliran_Maturidiyah\" >4. Menurut Aliran Maturidiyah<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-15\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbandingan-pemikiran-aliran-kalam\/#Kehendak_Mutlak_dan_Keadilan_Tuhan\" >Kehendak Mutlak dan Keadilan Tuhan<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-16\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbandingan-pemikiran-aliran-kalam\/#1_Menurut_Aliran_Mutazilah\" >1. Menurut Aliran Mu\u2019tazilah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-17\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbandingan-pemikiran-aliran-kalam\/#2_Menurut_Aliran_Asyariyah-2\" >2. Menurut Aliran Asy\u2019ariyah<\/a><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Akal_dan_Wahyu\"><\/span><strong>Akal dan Wahyu<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Menurut_aliran_Mutazilah\"><\/span>1. Menurut aliran Mu\u2019tazilah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Bahwa sebelum datang wahyu, akal dapat dijadikan pedoman dalam menentukan apa yang baik dan apa yang buruk, sehingga melakukan penalaran adalah wajib, karena dengan penalaran yang mendalam dapat mengetahui kewajiban- Dari empat masalah tersebut di atas, bagi aliran Mu\u2019tazilah dapat diketahui melalui akal.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Menurut_Aliran_Asyariyah\"><\/span>2. Menurut Aliran Asy\u2019ariyah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Imam Asy\u2019ari menjelaskan bahwa, wahyulah yang menentukan baik dan buruk, menentukan kewajiban terhadap Tuhan dan kewajiban melaksanakan yang baik dan menjauhi yang buruk. Akal tidak berperan dalam hal tersebut, sehingga kalau dikatakan bohong itu adalah buruk karena wahyulah yang menetapkannya.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Aliran_Maturidiyah\"><\/span>3. Aliran Maturidiyah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Antara Abu Mansur dengan al Bazdawi Abu Mansur menjelaskan, bahwa akal dapat mengetahui Tuhan, baik dan buruk serta mengetahui kewajiban terhadap Tuhan, akan tetapi wahyulah yang menetapkannya. Begitu pula tidak semua yang baik dan buruk diketahui akal sehingga sangat diperlukan wahyu.<\/p>\n<p>Termasuk menjelaskan kewajiban melaksanakan yang baik dan menjauhi yang buruk. Sedangkan al Bazdawi berpendapat bahwa, semua pengetahuan dapat dicapai oleh akal sedang kewajiban-kewajiban diketahui melalui wahyu.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Iman_dan_Kufur\"><\/span><strong>Iman dan Kufur<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Menurut_Aliran_Khawarij\"><\/span>1. Menurut Aliran Khawarij<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Iman dan kufr mulai dipersoalkan ketika aliran Khawarij memandang semua yang menerima <em>tahkim <\/em>adalah kafir. Bagi aliran Khawarij, iman tidak cukup hanya diucapkan atau dibenarkan melainkan harus dibuktikan dengan perbuatan, karena itulah yang merupakan penentu iman. Maka dari itu bagi yang melakukan dosa besar adalah kafir.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Menurut_Aliran_Murjiah\"><\/span>2. Menurut Aliran Murjiah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Iman adalah ma\u2019rifah sama dengan ikrar dan tashdiq, amal tidak termasuk unsur iman. Sedang kufr adalah mengingkari. Oleh karena itu, apapun yang dilakukan oleh seseorang tidak mempengaruhi imannya, sekalipun berbuat dosa.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Menurut_Aliran_Mutazilah\"><\/span>3. Menurut \u00a0Aliran Mu\u2019tazilah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Aliran Mu\u2019tazilah mengemukakan bahwa, iman adalah ketaatan kepada apa yang diwajibkan dan disunatkan. Ini berarti bahwa unsur iman bagi Mu\u2019tazilah tidak hanya ikrar dan tashdiq, tetapi juga pengamalan sangat berpengaruh terhadap iman, sehingga seseorang yang beriman melakukan dosa besar tidak dapat dikatakan kafir, karena masih ada unsur lain yang dimiliki, yaitu: pengakuan atau ikrar dan tashdiq. Pelaku dosa besar hanya dikatakan sebagai <em>fasiq<\/em>, bukan mukmin secara mutlak dan bukan kafir secara mutlak. Manusia dikatakan kafir manakala unsur-unsur iman tidak<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Menurut_aliran_Asyariyah\"><\/span>4. Menurut aliran Asy\u2019ariyah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Aliran Asy\u2019ariyah membedakan antara iman dan Islam. Iman bersifat khusus, berhubungan dengan hati yakni <em>ikrar <\/em>dan <em>tashdiq<\/em>. Sementara Islam mempunyai ruang lingkup yang luas meliputi syari\u2019at atau pengamalan, sehingga tidak dapat digolongkan kafir karena melakukan dosa besar. Hanya saja dalam kehidupan sebagai seorang yang beriman tidak cukup dengan iman atau Islam saja, melainkan keduanya harus dipadukan, karena iman dan Islam tidak dapat dipisahkan.<\/p>\n<p>Tentang iman, Imam Asy\u2019ari menjelaskan bahwa perbuatan manusia dapat menjadikan iman itu kuat dan lemah. Untuk memperkokoh iman itu harus menjalankan ketaatan. Iman yang kuat menjadi penghalang dalam berbuat dosa, sementara iman yang lemah memudahkan untuk melakukan pelanggaran.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Perbuatan_Manusia\"><\/span><strong>Perbuatan Manusia<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Menurut_Aliran_Jabariyah\"><\/span>1. Menurut Aliran Jabariyah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Aliran jabariyah memandang bahwa manusia tidak merdeka dari mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa <em>(fatalism)<\/em>. Aliran jabariyah memandang manusia tidak mempunyai pilihan. Manusia dalam perbuatannya adalah <em>majbur <\/em>(terpaksa). Manusia digerakkan Allah, sebagaimana benda- benda yang mati dan tak bernyawa dapat bergerak hanya karena digerakkan oleh Tuhan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Menurut_Aliran_Mutazilah\"><\/span>2. Menurut Aliran Mu\u2019tazilah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Aliran Mu\u2019tazilah memandang bahwa manusia sendirilah sebenarnya yang mewujudkan perbuatannya, baik perbuatan jahat maupun perbuatan baik, begitu pula iman dan kufur. Paham ini diperkenalkan pertama kali oleh Ma\u2019bad ibn al Juwaini dan Ghailan al Dimasyqi. Keduanya merupakan orang yang paling awal memperkenalkan pembicaraan tentang <em>al qadr<\/em>, yaitu kemampuan manusia untuk melakukan perbuatannya. Manusia tidak dikendalikan tetapi dapat memilih.<\/p>\n<p>Kebebasan manusia dalam mewujudkan perbuatannya erat kaitannya dengan kewajibannya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Sedangkan tanggung jawab menghendaki kebebasan. Pemberian siksaan dan pahala tidak relevan kalau manusia tidak aktif. Jadi nampaknya bahwa manusia merdeka dalam tingkah lakunya. Ia berbuat baik atas kemauannya sendiri, begitu pula sebaliknya. Keterlibatan Tuhan sama sekali tidak ada dalam mewujudkan perbuatan manusia.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Menurut_Aliran_Asyariyah\"><\/span>3. Menurut <em>Aliran Asy\u2019ariyah<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Menurut Asy\u2019ariyah manusia lemah, banyak bergantung kepada kehendak dan kemauan Tuhan. Dalam menggambarkan hubungan perbuatan manusia dengan kehendak dan kekuasaan Tuhan. Al Asy\u2019ari memakai istilah <em>kasb <\/em>(perolehan). Menurut al Asy\u2019ari, inti dari <em>kasb <\/em>itu adalah bahwa sesuatu itu timbul dari yang memperoleh dengan perantaraan daya yang diciptakan Allah. Perbuatan- perbuatan manusia oleh Asy\u2019ari pada hakikatnya diadakan oleh Allah. Semua itu mencakup perbuatan-perbuatan gerakan refleks dan perbuatan-perbuatan manusia.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Menurut_Aliran_Maturidiyah\"><\/span>4. Menurut Aliran Maturidiyah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dalam perwujudan perbuatan terdapat dua perbuatan, perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia. Perbuatan Tuhan mengandung kebijaksanaan (hikmah). Baik dalam cipta-ciptaannya maupun perintah dan larang-larangannya,<\/p>\n<p>perbuatan manusia bukanlah merupakan paksaan dari Allah, karena itu tidak bisa dikatakan wajib, karena kewajiban itu mengandung suatu perlawanan dengan iradahnya<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kehendak_Mutlak_dan_Keadilan_Tuhan\"><\/span><strong>Kehendak Mutlak dan Keadilan Tuhan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Menurut_Aliran_Mutazilah\"><\/span>1. Menurut Aliran Mu\u2019tazilah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kaum Mu\u2019tazilah memandang bahwa Allah itu tidak berkuasa mutlak. Kemutlakan kekuasaan Allah dibatasi oleh beberapa hal yang telah ditetapkan oleh Allah sendiri, yang mana Tuhan tidak akan melanggarnya berdasarkan kemauannya sendiri. Aliran Mu\u2019tazilah sepakat bahwa manusia mampu menciptakan perbuatannya baik dan buruk. Washil bin \u2018Atha berpendapat bahwa manusia bebas dalam perbuatannya, dia tidak dipaksa, agar dengan demikian maka keadilan Tuhan terwujud. Paham ini didasari oleh paham mereka tentang keadilan Allah. Sebab tidak benar manusia diberi beban kemudian dibatasi kebebasannya atau tidak diberikan kemampuan untuk mewujudkan apa yang dibebankan kepadanya. Tuhan itu adil kalau manusia diberi kehendak untuk memilih perbuatan yang diinginkannya dan diberi kemampuan untuk melaksanakan apa yang dikehendakinya. Atas perbuatannya itulah maka Tuhan memberikannya imbalan pahala atau siksa sesuai dan ancamannya.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Menurut_Aliran_Asyariyah-2\"><\/span>2. Menurut <em>Aliran Asy\u2019ariyah<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Aliaran Asy\u2019ariyah menyatakan bahwa Allah mempunyai kekuasaan mutlak dan tidak tunduk kepada siapapun. Kekuasaan mutlak Allah tidak dapat dibatasi oleh kebebasan manusia. Hal ini dapat dipahami dari pandangan kaum Asy\u2019ariah yang memahami bahwa manusia tidak bebas berbuat dan berkehendak. Sebab sekiranya sesuatu terjadi di luar kehendak Allah, atau sekiranya dalam kekuasaanNya terjadi apa yang tidak dikehendaki-Nya, maka hal ini akan berarti bahwa Allah itu lemah atau lupa, sedangkan sifat lemah atau lupa adalah mustahil bagi Allah. Dengan demikian, Allah lah yang menghendaki segala sesuatu yang terjadi di alam ini, termasuk perbuatan baik atau perbuatan buruk.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Akal dan Wahyu 1. Menurut aliran Mu\u2019tazilah Bahwa sebelum datang wahyu, akal dapat dijadikan pedoman dalam menentukan apa yang baik dan apa yang buruk, sehingga&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-26231","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26231","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26231"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26231\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26231"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26231"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26231"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}