{"id":26103,"date":"2022-11-15T15:12:52","date_gmt":"2022-11-15T08:12:52","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=26103"},"modified":"2022-11-15T15:12:52","modified_gmt":"2022-11-15T08:12:52","slug":"sebab-sebab-terjadinya-perilaku-menyimpang-dan-sikap-antisosial-dari-sudut-pandang-sosiologi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sebab-sebab-terjadinya-perilaku-menyimpang-dan-sikap-antisosial-dari-sudut-pandang-sosiologi\/","title":{"rendered":"Sebab-sebab Terjadinya Perilaku Menyimpang dan Sikap Antisosial dari Sudut Pandang Sosiologi"},"content":{"rendered":"<p>Dari sudut pandang sosiologi terjadinya perilaku menyimpang disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut.<\/p>\n<ul>\n<li><em>Perilaku Menyimpang Karena Sosialisasi<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p>Teori ini menekankan bahwa perilaku sosial, baik yang bersifat menyimpang maupun yang tidak menyimpang berkaitan dengan norma dan nilai-nilai yang diserapnya. Perilaku menyimpang disebabkan oleh adanya gangguan pada proses penyerapan dan pengalaman nilai-nilai tersebut dalam perilaku seseorang.<\/p>\n<p>Teori sosialisasi didasarkan pada pandangan bahwa dalam sebuah masyarakat ada norma inti dan nilai-nilai tertentu yang disepakati oleh seluruh anggota masyarakat.<\/p>\n<p>Seseorang biasanya menyerap nilai-nilai dan norma-norma dari beberapa orang yang cocok dengan dirinya saja. Akibatnya, jika ia banyak menyerap nilai-nilai atau norma yang tidak berlaku secara umum, ia akan cenderung berperilaku menyimpang. Lebih-lebih kalau sebagian besar teman-teman di sekelilingnya adalah orang yang memiliki perilaku menyimpang, kemungkinan besar orang itu juga akan cenderung menyimpang pula.<\/p>\n<ul>\n<li><em>Perilaku Menyimpang Karena Anomie<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Achmadi <\/strong>mengacu pendapat <strong>Emile Durkheim <\/strong>berpendapat bahwa <em>anomie <\/em>adalah suatu situasi tanpa norma dan tanpa arah sehingga tidak tercipta keselarasan antara kenyataan yang diharapkan dan kenyataan- kenyataan sosial yang ada di lapangan.<\/p>\n<p>Konsep tersebut dipakai untuk menggambarkan suatu masyarakat yang memiliki banyak norma dan nilai, tetapi antara norma dan nilai yang satu dengan yang lainnya saling bertentangan.<\/p>\n<p>Akibatnya, timbul keadaan tidak adanya seperangkat nilai atau norma yang dapat dipatuhi secara konsisten oleh masyarakat.<\/p>\n<p><strong>Robert K. Merton <\/strong>menganggap anomie disebabkan karena adanya ketidakharmonisan antara tujuan budaya dengan cara-cara yang dipakai untuk mencapai tujuan tersebut. Perilaku menyimpang akan bertambah luas jika banyak orang yang semula menempuh cara-cara pencapaian tujuan dengan cara yang wajar beralih ke cara-cara yang menyimpang. Teori ini sangat cocok untuk menganalisis banyak perilaku menyimpang di negara berkembang, misalnya, perilaku KKN.<\/p>\n<p>Ada lima cara pencapaian tujuan mulai dari yang wajar maupun menyimpang sebagai berikut.<\/p>\n<ul>\n<li><em>Konformitas<\/em>, yaitu sikap yang menerima tujuan budaya yang konvensional dengan cara yang juga konvensional, atau yang selama ini biasa<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Contoh: <\/strong>Seseorang yang ingin kaya dengan cara yang wajar dan diterima umum, yaitu bekerja keras, halal, dan tidak bertentangan dengan hukum.<\/p>\n<ul>\n<li><em>Inovasi<\/em>, yaitu sikap seseorang dalam menerima secara kritis cara- cara pencapaian tujuan yang sesuai dengan nilai-nilai budaya dengan cara baru yang belum biasa Dalam inovasi upaya pencapaian tujuan dilakukan dengan cara yang tidak konvensional termasuk cara-cara yang terlarang dan kriminal.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Contoh: <\/strong>Seorang otodidak komputer berhasil menembus sistem komputer suatu bank. Ia menjadi kaya dengan cara baru dan kreatif, namun melanggar hukum.<\/p>\n<ul>\n<li><em>Ritualisme<\/em>, yaitu sikap seseorang menerima cara-cara yang diperkenalkan sebagai bagian dari bentuk upacara tertentu, namun menolak tujuan-tujuan<\/li>\n<\/ul>\n<p>Dalam ritualisme, seseorang mempertahankan cara yang sudah konvensional, namun tujuan yang sebenarnya sebagian besar telah dilupakan. Ritus (upacara) tetap dilakukan, tetapi fungsi dan maknanya sudah hilang.<\/p>\n<p><strong>Contoh: <\/strong>Pengemudi menaati lampu lalu lintas karena takut ditilang, bukan demi keselamatan diri dan pengemudi lain.<\/p>\n<ul>\n<li><em>Pengasingan<\/em>, yaitu sikap seseorang menolak baik tujuan-tujuan maupun cara-cara mencapai tujuan yang telah menjadi bagian kehidupan masyarakat ataupun lingkungan<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Contoh: <\/strong>Seorang karyawan mengundurkan diri dari perusahaan karena konflik kepentingan pribadi dan kepentingan perusahaan.<\/p>\n<ul>\n<li><em>Pemberontakan<\/em>, yaitu sikap seseorang menolak sarana dan tujuan- tujuan yang disahkan oleh budaya masyarakatnya dan menggantikan dengan cara<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Contoh: <\/strong>Kaum revolusioner yang memperjuangkan suatu ideologi dengan gigih melalui perlawanan bersenjata.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dari sudut pandang sosiologi terjadinya perilaku menyimpang disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut. Perilaku Menyimpang Karena Sosialisasi Teori ini menekankan bahwa perilaku sosial, baik yang bersifat&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-26103","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26103","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26103"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26103\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26103"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26103"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26103"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}