{"id":26048,"date":"2022-11-15T14:31:42","date_gmt":"2022-11-15T07:31:42","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=26048"},"modified":"2022-11-15T14:31:42","modified_gmt":"2022-11-15T07:31:42","slug":"fungsi-nilai-dalam-interaksi-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/fungsi-nilai-dalam-interaksi-sosial\/","title":{"rendered":"Fungsi Nilai Dalam Interaksi Sosial"},"content":{"rendered":"<p>Dalam kenyataan sehari-hari, setiap manusia, kelompok, maupun masyarakat selalu dituntut untuk bersikap dan bertingkah laku berdasarkan nilai-nilai dasar (nilai budaya) yang merupakan pandangan hidup atau pedoman hidup yang dipilih secara selektif dari nilai-nilai yang ada. Contoh Pancasila sebagai dasar dan pandangan hidup bangsa merupakan kristalisasi nilai-nilai budaya luhur bangsa Indonesia.<\/p>\n<p>Apabila dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari sangat sulit menentukan nilai budaya yang dianut oleh seseorang, kelompok, atau masyarakat. Hal ini terjadi sebab nilai budaya itu bersifat relatif.<\/p>\n<p>Menurut <strong>Kluckhohn <\/strong>semua nilai dalam setiap kebudayaan pada dasarnya mencakup lima masalah pokok, yaitu sebagai berikut.<\/p>\n<ul>\n<li><em>Nilai Mengenai Hakikat Karya Manusia<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p>Misalnya, ada sebagian orang yang beranggapan bahwa manusia berkarya untuk mendapatkan nafkah, kedudukan, dan kehormatan.<\/p>\n<ul>\n<li><em>Nilai Mengenai Hakikat Hidup Manusia<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p>Misalnya, ada yang memahami bahwa hidup itu buruk, hidup itu baik, dan hidup itu buruk, tetapi manusia wajib berikhtiar supaya hidup itu baik.<\/p>\n<ul>\n<li><em>Nilai Mengenai Hakikat Kedudukan Manusia Dalam Ruang dan Waktu<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p>Misalnya, ada yang berorientasi ke masa lalu, masa kini, dan masa depan.<\/p>\n<ul>\n<li><em>Nilai Mengenai Hakikat Hubungan Manusia Dengan Alam<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p>Misalnya, ada yang beranggapan bahwa manusia tunduk kepada alam, menjaga keselarasan dengan alam, atau berhasrat menguasa alam.<\/p>\n<ul>\n<li><em>Nilai Mengenai Hakikat Manusia Dengan Sesamanya<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p>Misalnya, ada yang berorientasi kepada sesama, ada yang berorientasi kepada atasan, dan ada yang mementingkan diri sendiri.<\/p>\n<p>Nilai memegang peranan penting dalam setiap kehidupan sebab nilai- nilai menjadi orientasi dalam setiap tindakan melalui interaksi sosial. Nilai sosial itulah yang menjadi sumber dinamika masyarakat. Apabila nilai- nilai sosial itu lenyap dari masyarakat maka seluruh kekuatan akan hilang.<\/p>\n<p>Fungsi nilai dalam interaksi sosial sebagai berikut.<\/p>\n<ol>\n<li>Nilai berfungsi mengatur cara-cara berpikir dan bertingkah laku secara Hal ini terjadi karena anggota masyarakat selalu dapat melihat cara bertindak dan bertingkah laku yang terbaik, dan dapat mempengaruhi dirinya sendiri.<\/li>\n<li>Nilai mengembangkan seperangkat alat yang siap dipakai untuk menetapkan harga sosial dari pribadi\/grup. Nilai-nilai ini memungkinkan sistem stratifikasi dalam<\/li>\n<li>Nilai dapat berfungsi sebagai alat pengawas dengan daya tahan dan daya mengikat tertentu. Mereka mendorong, menuntun, dan kadang- kadang menekan manusia untuk berbuat yang tidak<\/li>\n<li>Nilai dapat berfungsi sebagai alat solidaritas di kalangan anggota grup dan<\/li>\n<li>Nilai merupakan penentu terakhir bagi manusia dalam memenuhi peranan-peranan sosialnya. Mereka menciptakan minat dan memberi semangat pada manusia untuk mewujudkan apa yang diminta dan diharapkan, menuju terciptanya cita-cita.<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam kenyataan sehari-hari, setiap manusia, kelompok, maupun masyarakat selalu dituntut untuk bersikap dan bertingkah laku berdasarkan nilai-nilai dasar (nilai budaya) yang merupakan pandangan hidup atau&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-26048","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26048","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26048"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26048\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26048"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26048"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26048"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}