{"id":25930,"date":"2022-11-15T11:18:55","date_gmt":"2022-11-15T04:18:55","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=25930"},"modified":"2022-11-15T11:18:55","modified_gmt":"2022-11-15T04:18:55","slug":"pengertian-syajaah-bentuk-dan-hikmahnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-syajaah-bentuk-dan-hikmahnya\/","title":{"rendered":"Pengertian Syaja\u2019ah, Bentuk, dan Hikmahnya"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-syajaah-bentuk-dan-hikmahnya\/#Pengertian_Syajaah\" >Pengertian Syaja\u2019ah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-syajaah-bentuk-dan-hikmahnya\/#Penerapan_Syajaah_dalam_Kehidupan\" >Penerapan Syaja\u2019ah dalam Kehidupan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-syajaah-bentuk-dan-hikmahnya\/#Hikmah_syajaah\" >Hikmah syaja\u2019ah<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Syajaah\"><\/span>Pengertian <em>Syaja\u2019ah<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Secara etimologi kata <em>al-syaja\u2019ah <\/em>berarti\u00a0 berani\u00a0 antonimnya dari kata <em>al-jabn <\/em>yang berarti pengecut. Kata ini digunakan untuk menggambarkan kesabaran di medan perang. Sisi positif dari sikap berani yaitu mendorong seorang muslim untuk melakukan pekerjaan berat dan mengandung resiko dalam rangka membela kehormatannya. Tetapi sikap ini bila tidak digunakan sebagaimana mestinya menjerumuskan seorang muslim kepada kehinaan.<\/p>\n<p><em>Syaja\u2019ah <\/em>dalam kamus bahasa Arab artinya keberanian atau keperwiraan, yaitu seseorang yang dapat bersabar terhadap sesuatu jika dalam jiwanya ada keberanian menerima musibah atau keberanian dalam mengerjakan sesuatu. Pada diri seorang pengecut sukar didapatkan sikap sabar dan berani. Selain itu <em>Syaja\u2019ah <\/em>(berani) bukanlah semata- mata berani berkelahi di medan laga, melainkan suatu sikap mental seseorang, dapat menguasai jiwanya dan berbuat menurut semestinya.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penerapan_Syajaah_dalam_Kehidupan\"><\/span>Penerapan <em>Syaja\u2019ah <\/em>dalam Kehidupan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Sumber keberanian yang dimiliki seseorang diantaranya yaitu;<\/p>\n<ul>\n<li>Rasa takut kepada Allah<\/li>\n<li>Lebih mencintai <em>a<\/em>khirat daripada dunia,<\/li>\n<li>Tidak ragu-ragu, berani dengan pertimbangan yang matang<\/li>\n<li>Tidak menomori satukan kekuatan materi,<\/li>\n<li>Tawakal dan yakin akan pertolongan Allah,<\/li>\n<\/ul>\n<p>Jadi berani adalah: \u201cSikap <em>dewasa <\/em>dalam menghadapi kesulitan atau bahaya ketika mengancam. Orang yang melihat kejahatan, dan khawatir terkena dampaknya, kemudian menentang maka itulah pemberani. Orang yang berbuat maksimal sesuai statusnya itulah pemberani (<em>al-syujja\u2019<\/em>). <em>Al-syajja\u2019ah <\/em>(berani) bukan sinonim <em>\u2018adam al-khauf <\/em>(tidak takut sama sekali)\u201d<\/p>\n<p>Berdasarkan pengertian yang ada di atas, dipahami bahwa berani terhadap sesuatu bukan berarti hilangnya rasa takut menghadapinya. Keberanian dinilai dari tindakan yang berorientasi kepada aspek maslahat dan tanggung jawab dan berdasarkan pertimbangan maslahat.<\/p>\n<p>Predikat pemberani bukan hanya diperuntukkan kepada pahlawan yang berjuang di medan perang. Setiap profesi dikategorikan berani apabila mampu menjalankan tugas dan kewajibannya secara bertanggungjawab. Kepala keluarga dikategorikan berani apabila mampu menjalankan tanggungjawabnya secara maksimal, pegawai dikatakan berani apabila mampu menjalankan tugasnya secara baik, dan seterus nya.<\/p>\n<p>Keberanian terbagi kepada terpuji <em>(al-mah<\/em>.<em>mudah) <\/em>dan tercela <em>(al-madzmumah). <\/em>Keberanian yang terpuji adalah yang mendorong berbuat maksimal dalam setiap peranan yang diemban, dan inilah hakikat pahlawan sejati. Sedangkan berani yang tercela adalah apabila mendorong berbuat tanpa perhitungan dan tidak tepat penggunaannya.<\/p>\n<p><em>Syaja\u2019ah <\/em>dapat dibagi menjadi dua macam:<\/p>\n<ul>\n<li><em>Syaja\u2019ah harbiyah<\/em>, yaitu keberanian yang kelihatan atau tampak, misalnya keberanian dalam medan tempur<\/li>\n<li><em>Syaja\u2019ah nafsiyah, <\/em>yaitu keberanian menghadapi bahaya atau penderitaan<\/li>\n<\/ul>\n<p>Munculnya sikap <em>syaja\u2019ah <\/em>tidak terlepas dari keadaan-keadaan sebagai berikut:<\/p>\n<ul>\n<li>Berani membenarkan yang benar dan berani mengingatkan yang salah<\/li>\n<li>Berani membela hak milik, jiwa dan raga<\/li>\n<li>Berani membela kesucian agama dan kehormatan bangsa. Dari dua macam <em>syaja\u2019ah <\/em>(keberanian) tersebut di atas, maka <em>syaja\u2019ah <\/em>dapat dituangkan dalam beberapa bentuk, yakni:\n<ol>\n<li>Memiliki daya tahan yang besar untuk menghadapi kesulitan, penderitaan dan mungkin saja bahaya dan penyiksaan<\/li>\n<li>Berterus terang dalam kebenaran dan berkata benar di hadapan penguasa yang zalim<\/li>\n<li>Mampu menyimpan rahasia, bekerja dengan baik, cermat dan penuh perhitungan. Kemampuan merencanakan dan mengatur strategi termasuk di dalamnya mampu menyimpan rahasia adalah merupakan bentuk keberanian<\/li>\n<li>Berani mengakui kesalahan salah satu orang yang\u00a0 memiliki sifat pengecut yang tidak mau mengakui kesalahan dan mencari kambing hitam, bersikap \u201dlempar batu sembunyi tangan\u201d Orang yang memiliki sifat <em>syaja\u2019ah <\/em>berani mengakui kesalahan, mau meminta maaf, bersedia mengoreksi kesalahan dan bertanggung jawab<\/li>\n<li>Bersikap obyektif terhadap diri sendiri. Ada orang yang cenderung bersikap \u201c<em>over confidence\u201d <\/em>terhadap dirinya, menganggap dirinya baik, hebat, mumpuni dan tidak memiliki kelemahan serta Sebaliknya ada yang bersikap \u201cunder estimate\u201d terhadap dirinya yakni menganggap dirinya bodoh, tidak mampu berbuat apa-apa dan tidak memiliki kelebihan apapun. Kedua sikap tersebut jelas tidak proporsional dan tidak obyektif. Orangyang berani akan bersikap obyektif, dalam mengenali dirinya yang memiliki sisi baik dan buruk.<\/li>\n<li>Menahan nafsu di saat marah, seseorang dikatakan berani bila ia tetap mampu ber\u2013<em>mujahadah li nafsi<\/em>, melawan nafsu dan Kemudian ia tetap dapat mengendalikan diri dan menahan tangannya padahal ia punya kemampuan dan peluang untuk melampiaskan amarahnya.<\/li>\n<\/ol>\n<\/li>\n<\/ul>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Hikmah_syajaah\"><\/span>Hikmah <em>syaja\u2019ah<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Dalam ajaran agama Islam sifat perwira ini sangat di anjurkan untuk di miliki setiap muslim, sebab selain merupakan sifat terpuji juga dapat mendatangkan berbagai kebaikan bagi kehidupan beragama berbangsa dan bernegara.<\/p>\n<p><em>Syaja\u2019ah <\/em>(perwira) akan menimbulkan hikmah dalam bentuk sifat mulia, cepat, tanggap, perkasa, memaafkan, tangguh, menahan amarah, tenang, mencintai. Akan tetapi apabila seorang terlalu dominan keberaniannya, apabila tidak dikontrol dengan kecerdasan dan keikhlasan akan dapat memunculkan sifat ceroboh, takabur, meremehkan orang lain, unggul-unggulan, ujub. Sebaliknya jika seorang mukmin kurang <em>syaja\u2019ah<\/em>, maka akan dapat memunculkan sifat rendah diri, cemas, kecewa, kecil hati dan sebagainya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Syaja\u2019ah Secara etimologi kata al-syaja\u2019ah berarti\u00a0 berani\u00a0 antonimnya dari kata al-jabn yang berarti pengecut. Kata ini digunakan untuk menggambarkan kesabaran di medan perang. Sisi&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-25930","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25930","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25930"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25930\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25930"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25930"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25930"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}