{"id":25829,"date":"2022-11-14T10:46:16","date_gmt":"2022-11-14T03:46:16","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=25829"},"modified":"2022-11-14T10:46:16","modified_gmt":"2022-11-14T03:46:16","slug":"pengertian-taawun-dalil-dan-contohnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-taawun-dalil-dan-contohnya\/","title":{"rendered":"Pengertian Ta\u2019awun, Dalil, dan Contohnya"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-taawun-dalil-dan-contohnya\/#1_Pengertian_Taawun\" >1. Pengertian Ta\u2019awun<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-taawun-dalil-dan-contohnya\/#2_Dalil_Tentang_Perintah_Taawun\" >2. Dalil Tentang Perintah Ta&#8217;awun<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-taawun-dalil-dan-contohnya\/#3_Bentuk_Contoh_Taawun\" >3. Bentuk \/ Contoh Ta&#8217;awun<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Dalam bahasa sosiologi, manusia itu disebut <em>zoon politicon<\/em>, artinya, keberadaan manusia itu harus dengan adanya orang lain. Maksudnya, manusia itu sangat membutuhkan adanya orang lain, untuk kehidupannya. Maka, salah satu bahasan akhlak mulia adalah <em>ta&#8217;awun <\/em>yang uraiannya sebagai berikut.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Pengertian_Taawun\"><\/span><strong>1. Pengertian <em>Ta\u2019awun<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Kata <em>ta&#8217;awun <\/em>berasal dari bahasa Arab yang berarti saling membantu, saling menolong. Menurut istilah <em>ta&#8217;awun <\/em>adalah sikap atau perilaku membantu orang lain.<\/p>\n<p>Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup sendiri, sehingga membutuhkan uluran bantuan dari orang lain. Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya manusia perlu bantuan dari orang lain dengan saling menolong.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Dalil_Tentang_Perintah_Taawun\"><\/span><strong>2. Dalil Tentang Perintah <em>Ta&#8217;awun<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Dalil naqli yang berasal dari al-Qur&#8217;an dan hadis yang menjadi dasar dari pelaksanaan <em>ta&#8217;awun <\/em>salah satunya terdapat dalam al-Qur&#8217;an surah ke 5, Al-Maidah ayat 2:<\/p>\n<p>Artinya: <em>\u201c &#8230; dan tolong menolonglah kamu dalam (perkara) kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah kamu tolong menolong dalam (perkara) dosa dan permusuhan \u201c. (QS. Al-Maidah [5]:2)<\/em><\/p>\n<p>Secara nalar jelas sekali bahwa manusia adalah makhluk sosial yang pasti membutuhkan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka manusia harus saling menolong untuk memenuhi hajatnya itu. Islam mengarahkan tujuan dan bentuk tolong menolong itu dalam kebaikan, dalam segala perkara yang baik, bermanfaat yang diizini oleh Allah Swt. serta dalam ketakwaan. Artinya, tolong menolong itu didasarkan atas iman, kebenaran dan guna mendapatkan ridha Allah Swt.<\/p>\n<p>Tolong menolong ditujukan kepada semua manusia, tidak harus dengan sesama muslim saja, dalam seluruh aspek kehidupan. Namun, jika dengan non muslim, harus dibatasi, tidak ada kerjasama, tolong menolong dalam hal akidah dan ibadah.<\/p>\n<p>Allah Swt. telah membagi rahmat-Nya kepada hamba-Nya berdasarkan kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya. Allah Swt. melebihkan sebahagian satu dengan yang lain, itu merupakan kebijaksanaan Allah, yang mempunyai tujuan tertentu. Hal ini ditegaskan dalam Al Qur an surah ke 43, Az\u2013Zukhruf ayat 32:<\/p>\n<p>Artinya: <em>&#8220;Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, <\/em><em>agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.&#8221; (QSaz-Zukhruf [43]:32)<\/em><\/p>\n<p>Dari ayat di atas secara jelas dapat dipahami, bahwa Allah Swt. memberikan karunia yang berbeda, bentuk dan tingkatannya. Itu bertujuan agar manusia dapat saling memanfatkan, dalam bentuk kerjasama. Seiring dengan keadaan manusia itu sangat terbatas. baik dalam penguasaan ilmu atau kondisi lainnya, manusia sebagai makhluk yang lemah harus saling membantu dalam memenuhi hajat hidupnya.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Bentuk_Contoh_Taawun\"><\/span><strong>3. Bentuk \/ Contoh <em>Ta&#8217;awun<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial karena ketidakmampuannya untuk melakukan segala hal sendiri karena keterbatasan yang ada pada dirinya. Oleh karena itu, sudah sewajarnya manusia saling tolong menolong.<\/p>\n<p>Upaya tolong menolong yang dimaksud tidak harus dalam aspek yang besar. Cukup lakukan hal sederhana berikut untuk mengamalkan sikap ta\u2019awun dalam kehidupan sehari-hari:<\/p>\n<ol>\n<li>Tidak membahas aib orang lain<\/li>\n<li>Memberi bantuan kepada orang-orang di sekitar<\/li>\n<li>Mengunjungi orang yang tengah sakit atau yang sedang mengalami musibah<\/li>\n<li>Meringankan kesulitan orang lain<\/li>\n<\/ol>\n<p>Selain menjalankan perintah Allah dalam Al-Quran dan mendapat pahala serta memenuhi peran sebagai makhluk sosial, kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan sebenarnya akan kembali pada diri sendiri.\u00a0 Hal ini sesuai dengan yang tertera dalam hadis nabi riwayat Muslim yang artinya:<\/p>\n<p>\u201cBarangsiapa melapangkan seorang mukmin dari suatu kesusahan dunia, maka Allah akan melapangkannya satu kesusahan dari beberapa kesusahan di hari kiamat. Baranggsiapa meringankan penderitaan seseorang, maka Allah akan meringankan penderitaannya di dunia maupun akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.\u201d (Hadist riwayat Muslim no.2699)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam bahasa sosiologi, manusia itu disebut zoon politicon, artinya, keberadaan manusia itu harus dengan adanya orang lain. Maksudnya, manusia itu sangat membutuhkan adanya orang lain,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-25829","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25829","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25829"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25829\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25829"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25829"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25829"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}