{"id":25800,"date":"2022-11-14T10:07:30","date_gmt":"2022-11-14T03:07:30","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=25800"},"modified":"2022-11-14T10:07:30","modified_gmt":"2022-11-14T03:07:30","slug":"adab-terhadap-guru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/adab-terhadap-guru\/","title":{"rendered":"Adab Terhadap Guru Ketika Menuntut Ilmu"},"content":{"rendered":"<p>Inilah adab-adab terhadap guru yang perlu kita terapkan ketika menuntut ilmu:<\/p>\n<p><strong>1. Mendoakan kebaikan untuk guru<\/strong><\/p>\n<p>Balaslah kebaikan dengan kebaikan pula. Salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk membalas kebaikan guru adalah dengan mendoakannya. Jika bukan karena ilmu yang disampaikan oleh guru, mungkin kita masih dalam keadaan bodoh dan tidak tahu banyak hal. Rasulullah bersabda: \u201cApabila ada yang berbuat baik kepadamu maka balaslah dengan balasan yang setimpal. Apabila kamu tidak bisa membalasnya, maka doakanlah dia hingga engkau memandang telah mencukupi untuk membalas dengan balasan yang setimpal.\u201d (HR Bukhari)<\/p>\n<p><strong>2. Tidak menggaduh di hadapan guru<\/strong><\/p>\n<p>Bagaimana rasanya ketika kita sedang berdiri menyampaikan sesuatu namun orang yang kita ajak berbicara malah mengobrol sendiri? Tidak enak bukan? Pun begitu dengan guru. Ketika mereka sedang menyampaikan sesuatu, maka dengarkanlah dengan seksama. \u201cSaat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu \u2018alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara\u201d (HR. Bukhari).<\/p>\n<p><strong>3. Menghormati hak guru<\/strong><\/p>\n<p>Guru juga memiliki hak-hak dalam mengajar, maka hargailah hak guru tersebut. \u201cBukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menghormati orang yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengerti hak ulama kami.\u201d (HR. Al-Bazzar 2718, Ahmad 5\/323, lafadz milik Al-Bazzar. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shohih Targhib 1\/117)<\/p>\n<p><strong>4.Merendahkan diri di hadapan guru<\/strong><\/p>\n<p>Rendah dirilah di hadapan guru, sebab orang yang sombong biasanya akan sulit menerima apa yang disampaikan oleh orang lain. Ibnu Jama\u2019ah rahimahullah berkata: \u201cHendaklah seorang murid mengetahui bahwa rendah dirinya kepada seorang guru adalah kemuliaan, dan tunduknya adalah kebanggaan.\u201d (Tadzkirah Sami\u2019 hal. 88)<\/p>\n<p><strong>5. Duduk, bertanya, dan mendengarkan dengan baik<\/strong><\/p>\n<p>Di dalam majlis ilmu, lakukan segala sesuatunya dengan baik. Misalkan ingin bertanya, maka memohonlah ijin dengan sopan dan tidak menyelanya ketika berbicara. Syaikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah di dalam kitabnya Hilyah Tolibil Ilm mengatakan, \u201cPakailah adab yang terbaik pada saat kau duduk bersama syaikhmu, pakailah cara yang baik dalam bertanya dan mendengarkannya.\u201d<\/p>\n<p><strong>6. Bersabar terhadap kesalahan guru<\/strong><\/p>\n<p>Guru juga memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada yang dengan lemah lembut, juga ada guru yang memiliki cara mengajar yang keras. Ketika sudah berniat untuk menuntut ilmu, maka sudah seharusnya kita bersabar dalam berjuang di dalamnya, termasuk bersabar terhadap guru kita. Jangan malah marah atau malas karena tidak ingin bertemu dengan guru yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Al Imam As Syafi Rahimahullah mengatakan, \u201cBersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya\u201d Kewajiban menuntut ilmu tidak akan berhenti sampai kita mati. Maka pahamilah bagaimana adab yang seharusnya dilakukan terhadap guru. Agar ilmu yang kita peroleh menjadi berkah dan bermanfaat. (SH\/RI)<\/p>\n<p>Sumber: https:\/\/izi.or.id\/<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Inilah adab-adab terhadap guru yang perlu kita terapkan ketika menuntut ilmu: 1. Mendoakan kebaikan untuk guru Balaslah kebaikan dengan kebaikan pula. Salah satu hal yang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-25800","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25800","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25800"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25800\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25800"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25800"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25800"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}