{"id":25620,"date":"2022-11-08T12:19:32","date_gmt":"2022-11-08T05:19:32","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=25620"},"modified":"2022-11-08T12:19:32","modified_gmt":"2022-11-08T05:19:32","slug":"biografi-syaikh-muhammad-nawawi-al-bantani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/biografi-syaikh-muhammad-nawawi-al-bantani\/","title":{"rendered":"Biografi Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/biografi-syaikh-muhammad-nawawi-al-bantani\/#Sejarah_Hidup\" >Sejarah Hidup<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/biografi-syaikh-muhammad-nawawi-al-bantani\/#Guru-gurunya\" >Guru-gurunya<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/biografi-syaikh-muhammad-nawawi-al-bantani\/#Murid-muridnya\" >Murid-muridnya<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/biografi-syaikh-muhammad-nawawi-al-bantani\/#Karya-karyanya\" >Karya-karyanya<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Dalam khazanah keilmuan Islam klasik (<em>salafiyyah<\/em>) di Indonesia (termasuk di dunia), nama Syekh Nawawi al-Bantani jelas sudah tidak asing lagi. Beliau adalah salah seorang putera terbaik Indonesia yang dalam sejarahnya memiliki pengaruh sangat besar di pusat studi keislaman yang saat itu berada di Mekkah. Sebagai guru besar dalam berbagai <em>fan<\/em> ilmu pengetahuan baik tafsir, fiqih (syariah), tauhid (kalam), lughah (bahasa), maupun adab (sastera), Syekh Nawawi jelas memiliki kapasitas keilmuan yang tidak bisa dipandang sebelah mata oleh ulama pada masanya di seluruh dunia, paling tidak melalui murid-muridnya. Oleh karenanya, diantara sekian banyak nama putera terbaik Indonesia yang pernah menjadi \u201ckampiun\u201d di pusat-pusat keislaman dunia, nama Syekh Nawawi al-Bantani jelas merupakan tokoh paling sentral.<\/p>\n<p>Dalam kaitan dengan konteks keindonesiaan, beliau dikenal sebagai Bapak Pesantren Indonesia. Meskipun beliau bukanlah pendiri pesantren pertama, tidak pula mengelola pesantren yang cukup besar bahkan sebagian besar waktunya tidak dihabiskan di tanah air, namun tulisan-tulisannya yang berjumlah sekitar 115 buah kitab hampir seluruhya diadopsi di pesantren-pesantren di Indonesia dan menjadi kurikulum utamanya hingga sekarang.<\/p>\n<p>Di samping itu, meski berada di Mekkah, melalui murid-muridnya yang berasal dari Indonesia seperti Syekh Kholil <em>waliyyullah<\/em> (Bangkalan-Madura), KH. Asy\u2019ari (Bawean; murid sekaligus anak menatu Syekh Nawawi dari puteri beliau yang bernama Maryam binti Syekh Nawawi), dan Hadratus Syekh KH. M Hasyim Asy\u2019ari (Tebuireng-Jombang-Jawa Timur; pendiri jam\u2019iyah Nahdlatul Ulama), beliau aktif memantau perkembangan Islam dan politik di Indonesia yang saat itu berada di bawah tekanan kolonial Belanda.<\/p>\n<p>Beliau juga banyak menyumbangkan pemikiran untuk kemajuan bangsa Indonesia. Bahkan, di Mekkah, melalui sebuah perkumpulan yang disebut Koloni Jawa, dengan berbagai ikhtiar dan sumbangsih, beliau aktif membina dan memberdayakan masyarakat Indonesia di sana.<\/p>\n<p>Demikian besar pengaruh Syekh Nawawi al-Bantani, beberapa julukan kehormatan dari Saudi Arabia, Mesir, dan Suriah pun diberikan kepadanya, diantaranya adalah Sayyidu \u2018Ulama\u2019 al-Hijaz (Pemuka Ulama Hijaz), al-Mufti (Pemberi Fatwa), dan al-Faqih (Pakar Fikih\/orang yang sangat dalam ilmunya). Beliau juga cukup produktif dalam menuangkan pemikiran-pemikirannya dalam banyak cabang ilmu pengetahuan. Tidak mengherankan jika Syekh Nawawi al-Bantani juga mendapat julukan \u201cSi Pena Emas\u201d.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sejarah_Hidup\"><\/span><strong><em>Sejarah Hidup<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Nawawi al-Bantani lahir di kampung Tanara kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten pada tahun 1230 H atau 1813 M. Nama lengkapnya adalah Muhamad Nawawi bin Umar bin Arabiy. Setelah menjadi ulama besar dan tersohor, beliau dikenal dengan nama Syekh Abu Abdil Mu\u2019thi Muhammad Nawawi ibnu Umar ibnu \u2018Arabiy at-Tanari al-Bantani al-Jawi, suatu nama yang secara lengkap menyebut identitas diri dan daerah asalnya. Ayahnya, KH. Umar bin \u2018Arabiy, adalah seorang ulama dan penghulu di Tanara.<\/p>\n<p>Sedangkan ibunya, Nyai Zubaidah adalah penduduk asli Tanara.<\/p>\n<p>Di masa kecil, Nawawi al-Bantani mengenyam pendidikan dari orang tuanya. Kemudian ia belajar kepada Kyai Sahal (Banten) dan KH. Yusuf (Purwakarta). Pada sekitar usia 15 tahun, ia menunaikan ibadah haji ke Mekkkah dan bermukim di sana selama 3 tahun. Selama itu, ia banyak menimba ilmu pengetahuan dari beberapa syekh di perguruan tinggi di Masjidil Haram, seperti Syekh Ahmad Nahrawi, Syekh Ahmad Dimyati, dan Syekh Ahmad Zaini Dahlan. Selain itu, ia juga belajar di Madinah di bawah bimbingan Syekh Muhammad Khathib al-Hanbali.<\/p>\n<p>Pada sekitar tahun 1248 H (1831 M), ia kembali ke tanah kelahirannya di Tanara dan mengelola pesantren peninggalan orang tuanya. Namun karena kondisi politik kolonial yang tidak menguntungkan, maka selama tinggal selama 3 tahun di Tanara, ia kembali ke Mekkah dan memperdalam lagi ilmu pengetahuannya kepada Syekh Abdul Ghani Bima, Syekh Yusuf Sumulawaini, dan Syekh Abdul Hamid ad-Daghistani. Di Mekkah, beliau tinggal di perkampungan Syi\u2019b Ali. Selain belajar di Mekkah dan Madinah, beliau juga pernah menimba ilmu pengetahuan di Mesir dan Syam (Siria).<\/p>\n<p>Dengan bekal ilmu pengetahuan yang ditekuninya selama sekitar 3 dekade, Nawawi al-Bantani kemudian mengajar di Masjidil Haram, Mekkah. Murid-murid beliau berasal dari berbagai pelosok dunia, termasuk Indonesia.<\/p>\n<p>Seorang murid Syekh Nawawi al-Bantani yang bernama Syekh Abdus Sattar adDahlawi menceritakan, bahwa sejak belajar di Mekkah, Madinah, Mesir, dan Siria, beliau (Syekh Nawawi al-Bantani) dikenal sebagai seorang yang sangat bersahaja, taqwa, zuhud, dan tawadlu\u2019 di samping memiliki jiwa dan kepekaan sosial yang sangat tinggi serta bertindak tegas dalam hal kebenaran. Beliau adalah seorang ulama bermadzhab Syafi\u2019iy yang dikenal sangat ahli dalam ilmu tafsir, tauhid, fiqih, lughah, dan juga tasawuf.<\/p>\n<p>Pernah suatu ketika beliau diajak berkunjung untuk pertama kalinya ke Mesir oleh Syekh Abdul Karim bin Bukhari bin Ali (seorang tokoh tarekat Qadiriyah yang juga berasal dari Tanara-Banten). Meskipun beliau (Syekh Nawawi) baru pertama kali ke Mesir, nama beliau saat itu sudah sangat populer dan amat disegani oleh ulama-ulama di sana lantaran tulisan-tulisannya yang banyak dibaca dan dipelajari.<\/p>\n<p>Sesampainya di Mesir, para ulama Mesir bertanya kepada Syekh Abdul Karim bin Bukhari bin Ali: \u201cKami telah banyak mendengar tentang seorang ulama asal Jawa di Mekkah yang bernama Syekh Muhammad Nawawi. Tulisan-tulisannya telah berulangkali dicetak di sini. Sungguh, jika di ibaratkan makanan, tulisan-tulisan beliau sangat lezat rasanya. Kami semua sangat mendambakan bisa bertemu dengan beliau.\u201d<\/p>\n<p>Syekh Abdul Karim bin Bukhari bin Ali lalu memegang pundak Syekh Nawawi dan menjawab: \u201c<em>Hadza Huwa<\/em> (inilah beliau)\u201d. Kontan setelah mereka mengetahui Syekh Nawawi berada di tengah-tengah mereka, mereka langsung berrebut mencium tangan beliau.<\/p>\n<p>Syekh Nawawi al-Bantani wafat dalam usia 84 tahun, pada tanggal 25 Syawal 1314 H (1897 M) di kediamannya di Syi\u2019b Ali, Mekkah. Jenazah beliau dikebumikan di pekuburan Ma\u2019la, Mekkah, berdampingan dengan kuburan Syekh Ibnu Hajar al-Haitsami dan Siti Asma\u2019 binti Abi Bakar Ra. Beliau wafat meninggalkan 4 orang puteri : Ruqayyah, Nafisah, Maryam (dinikahkan dengan murid beliau yang bernama KH. Asy\u2019ari &#8211; Bawean), dan Zahrah.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Guru-gurunya\"><\/span><strong><em>Guru-gurunya<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Di Mekah, Syeikh Nawawi al-Bantani belajar kepada beberapa ulama terkenal pada zaman itu, di antara mereka yang dapat dicatat adalah: Syeikh Ahmad an-Nahrawi, Syeikh Ahmad ad-Dimyati, Syeikh Muhammad Khathib Duma al-Hanbali, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki, Syeikh Zainuddin Aceh, Syeikh Ahmad Khathib Sambas, Syeikh Syihabuddin, Syeikh Abdul Ghani Bima, Syeikh Abdul Hamid Daghastani, Syeikh Yusuf Sunbulawani, Syeikhah Fatimah binti Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Syeikh Yusuf bin Arsyad al-Banjari, Syeikh Abdus Shamad bin Abdur Rahman al-Falimbani, Syeikh Mahmud Kinan al-Falimbani, Syeikh Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani dan lainlain.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Murid-muridnya\"><\/span><strong><em>Murid-muridnya<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Murid-muridnya yang berasal dari Nusantara banyak sekali yang kemudian menjadi ulama terkenal. Di antara mereka ialah: Kiai Haji Hasyim Asy\u2019ari Tebuireng, Jawa Timur; Kiai Haji Raden Asnawi Kudus, Jawa Tengah; Kiai Haji Tubagus Muhammad Asnawi Caringin, Banten; Syeikh Muhammad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi (Sumba, Nusa Tenggara); Syeikh Abdus Satar bin Abdul Wahhab as-Shidqi al-Makki; Sayid Ali bin Ali al-Habsyi al-Madani dan lain-lain. Tok Kelaba al-Fathani juga mengaku menerima satu amalan wirid dari Syeikh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani yang diterima dari Syeikh Nawawi al-Bantani.<\/p>\n<p>Salah seorang cucunya, yang mendapat pendidikan sepenuhnya dari Nawawi alBantani adalah Syeikh Abdul Haq bin Abdul Hannan al-Jawi al-Bantani (1285 H.\/1868 M.- 1324 H.\/1906 M.). Banyak pula murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang memimpin secara langsung barisan jihad di Cilegon melawan penjajahan Belanda pada tahun 1888 Masehi. Di antara mereka yang dianggap sebagai pemimpin perlawanan perjuangan di Cilegon ialah Haji Wasit, Haji Abdur Rahman, Haji Haris, Haji Arsyad Thawil, Haji Arsyad Qasir, Haji Aqib dan Tubagus Haji Ismail. Para ulama pejuang bangsa ini adalah murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang dikader di Mekkah.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Karya-karyanya\"><\/span><strong><em>Karya-karyanya<\/em><\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Selama hidup, Syekh Nawawi al-Bantani tidak kurang menulis sekitar 115 buah kitab dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Beliau memang dikenal sebagai ulama yang cukup produktif dan baik dalam hal menulis, sehingga karenanya beliau memperoleh julukan \u201cSi Pena Emas\u201d. Salah seorang murid beliau yang bernama Syekh Abdus Sattar ad-Dahlawi menceritakan, bahwa seringkali beliau mengarang kitabnya itu di selasela beliau mengajar para muridnya. Bahkan, ketika beliau wafat pun beliau tengah menyusun <em>syarah<\/em> (penjelasan) kitab <em>Minhajut Tholibin<\/em> karya Imam Yahya bin Syarf bin Mara bin Hasan bin Husein bin Muhammad bin Jum\u2019ah bin Huzam an-Nawawi. Namun karangan tersebut belum sempat selesai hingga beliau wafat.<\/p>\n<p>Hampir seluruh karya beliau yang tersusun dalam bahasa Arab hingga kini masih menjadi bahan pengkajian di banyak pesantren di tanah air. Di samping itu, karyakaryanya juga banyak digunakan di Timur Tengah. Oleh para peneliti dikemukakan bahwa salah satu keistimewaan dari karya-karya beliau adalah keluasan isinya, kelugasan bahasanya sehingga mudah dimengerti dan mampu menjelaskan istilah yang sulit, serta kemampuannya menghidupkan isi karyanya sehingga dapat dijiwai oleh para pembacanya. Di antara nama-nama kitab yang pernah ditulis oleh beliau adalah sebagai berikut :<\/p>\n<ol>\n<li><em>At\u00adTsimar al\u00adYani\u2019ah<\/em> (Syarh kitab <em>Ar\u00adRiyadl al\u00adBadi\u2019ah<\/em> karya Syekh Muhammad Hasbullah).<\/li>\n<li><em>Tanqihul Qaul<\/em> (Syarh kitab <em>Lubabul Hadits<\/em> karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi).<\/li>\n<li><em>At\u00adTausyih<\/em> (Syarh kitab <em>Fath al\u00adQarib al\u00adMujib<\/em> karya Imam Ibnu Qasim al-Ghazi).<\/li>\n<li><em>Nur ad\u00adDzalam<\/em> (Syarh <em>Mandzumah Aqidatul Awam<\/em> karya Syekh Sayyid Ahmad alMarzuqi al-Maliki).<\/li>\n<li><em>At\u00adTafsir al\u00adMunir li Ma\u2019alim at\u00adTanzil<\/em> (selesai disusun pada malam Rabu, 5 Rabi\u2019ul Akhir 1305 H).<\/li>\n<li><em>Madarij as\u00adShu\u2019ud<\/em> (Syarh <em>al\u00adMaulid an\u00adNabawi \/ al\u00adBarzanji<\/em> karya Imam al-\u2018Arif Sayyid Ja\u2019far).<\/li>\n<li><em>Fath al\u00adMajid<\/em> (Syarh <em>Ad-Dar al-Farid\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 fi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 at-Tauhid<\/em> karya Syekh Ahmad an-Nahrawi).<\/li>\n<li><em>Fath as\u00adShomad<\/em> (Syarh <em>al\u00adMaulid an\u00adNabawi \/ al\u00adBarzanji<\/em> karya Syekh Ahmad alQasim al-Maliki).<\/li>\n<li><em>Nihayat az\u00adZain<\/em> (Syarh <em>Qurrat al\u00ad\u2018Ain bi Muhimmat ad\u00adDin<\/em> karya Syekh Zainuddin Abdul Aziz al-Malibari).<\/li>\n<li><em>Salalim al\u00adFudhola<\/em> (Syarh <em>Mandzumah Hidayatu al\u00adAdzkiya\u2019<\/em> karya Syekh al-Imam alFadhil Zainuddin).<\/li>\n<li><em>Muraqi al\u00ad\u2018Ubudiyyah<\/em> (Syarh <em>Bidayatul Hidayah<\/em> karya Imam Abu Hamid al-Ghazali).<\/li>\n<li><em>Sullam al\u00adMunajat<\/em> (Syarh <em>Safinatus Shalat<\/em> karya Sayid Abdullah bin Umar alHadhramiy).<\/li>\n<li><em>Nashaihul \u2018Ibad<\/em> (Syarh <em>al\u00adMunbihat \u2018ala al\u00adIsti\u2019dad li Yaum al\u00adMi\u2019ad<\/em> karya Syekh Syihabuddin Ahmad bin Ahmad al-\u2018Asqalaniy).<\/li>\n<li><em>al\u00ad\u2018Aqd at\u00adTsamin<\/em> (Syarh <em>Mandzumah Sittina Masalah\/Fathul Mubin<\/em> karya Syekh Mushthofa bin Utsman al-Jawi al-Qaruthi).<\/li>\n<li><em>Bahjat al\u00adWasail<\/em> (Syarh <em>ar\u00adRisalatu al\u00adJami\u2019ah baina Ushul ad\u00adDin wal Fiqh wa atTashawwuf<\/em> karya Sayyid Ahmad bin Zaini al-Habsyi).<\/li>\n<li><em>Targhibul Musytaqin<\/em> (Syarh <em>Mandzumah al-Barzanji\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 fi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Maulidi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Sayyidil\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Awwalina\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 wal\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Akhirin <\/em>karya Syekh Zainal Abidin).<\/li>\n<li><em>Tijan ad\u00adDarari<\/em> (Syarh <em>Kitab at\u00adTauhid<\/em> karya Syekh Ibrahim al-Bajuri).<\/li>\n<li><em>Fathul Mujib<\/em> (Syarh kitab <em>Mukhtashar al-Khothib as-Syarbini\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 fi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u2018Ilm\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 al-Manasik<\/em>).<\/li>\n<li><em>Mirqatu Shu\u2019udi at\u00adTashdiq<\/em> (Syarh <em>Sullam at-Taufiq<\/em> karya Syekh Abdullah bin Husein bin Thohir bin Muhammad bin Hasyim Ba\u2019lawi).<\/li>\n<li><em>Kasyifatu as\u00adSyaja<\/em> (Syarh <em>Safinatu an-Naja<\/em> karya Syekh al-\u2018Alim al-Fadhil Salim bin Sumair al-hadhrami).<\/li>\n<li><em>Qami\u2019 at\u00adThughyan<\/em> (Syarh <em>Mandzumah Syu\u2019ab al\u00adIman<\/em> karya Syekh Zainudin bin Ali bin Ahmad as-Syafii al-Kusyini al-Malibari).<\/li>\n<li><em>Al\u00adFutuhat al\u00adMadaniyah<\/em> (Syarh kitab <em>As\u00adSyu\u2019ab al\u00adImaniyah<\/em>).<\/li>\n<li><em>\u2018Uqudu li\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 al-Jain fi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Bayani Huquqi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 az-Zaujain<\/em>.<\/li>\n<li><em>Fathu Ghafir\u00a0 al-Khathiyah<\/em> (Syarh <em>Nadzm al\u00adAjurumiyah\/al\u00adKaukab al\u00adJaliyah <\/em>karya Syekh Abdus Salam bin Mujahid an-Nibrawi).<\/li>\n<li><em>Qathrul Ghaits<\/em> (Syarh <em>Masail Abi Laits<\/em> karya Imam Abi Laits dan al-Mufassir Nashr bin Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim al-Hanafi).<\/li>\n<li><em>Al-Fushus al-Yaqutiyah\u00a0\u00a0 \u2018ala\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 ar-Raudhah\u00a0\u00a0\u00a0 al-Bahiyyah\u00a0\u00a0\u00a0 fi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 al-Abwab\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 at-Tashrifiyah<\/em>.<\/li>\n<li><em>Ar\u00adRiyadh al\u00adFauliyah.<\/em><\/li>\n<li><em>Sulukul Jadah\u00a0\u00a0 \u2018ala\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 ar-Risalah\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 al-Musamma\u00a0 bi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Lum\u2019atil\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Mifadah\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 fi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Bayanil\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Jum\u2019ah wal\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Mu\u2019adah<\/em>.<\/li>\n<li><em>An\u00adNahjah al\u00adJayyidah<\/em> (Syarh <em>Mandzumah at\u00adTauhid<\/em>).<\/li>\n<li><em>Hilyatus Shibyan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u2018ala\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Fathir\u00a0 Rahman\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 fi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 at-Tajwid.<\/em><\/li>\n<li><em>Mishbah ad-Dzalam\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u2018ala\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 al-Manhaj\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 al-Atamm\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 fi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Tabwibil\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/em><\/li>\n<li><em>Dzari\u2019atul Yaqin\u00a0\u00a0 \u2018ala\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Ummil Barahin\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 fi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 at-Tauhid.<\/em><\/li>\n<li><em>al-Ibriz ad-Dani\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 fi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Maulidi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Sayyidina\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Muhammad\u00a0\u00a0\u00a0 Sayyid\u00a0 al-\u2018Adnani.<\/em><\/li>\n<li><em>Bughyatul \u2018Awam fi Syarhi Maulidi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Sayyidil\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/em><\/li>\n<li><em>Ad-Durar al-Bahiyyah\u00a0\u00a0\u00a0 fi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Syarhi al-Khashaish\u00a0\u00a0 an-Nabawiyah.<\/em><\/li>\n<li><em>Kasyf al\u00adMuruthiyyah \u2018an Sattar al\u00adAjurumiyah.<\/em><\/li>\n<li><em>Lubabul Bayan\u00a0 fi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u2018Ilm\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 al-Bayan<\/em> (Syarh kitab <em>Risalah\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 fi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 al-Isti\u2019arah<\/em> karya Syekh Husein al-Maliki).<\/li>\n<li><em>Qut al\u00adHabib al\u00adGharib<\/em> (catatan atas Syarh <em>at\u00adTaqrib<\/em> karya Abi Syuja\u2019).<\/li>\n<li><em>Fathul \u2018Arifin.<\/em><\/li>\n<li><em>Ar\u00adRisalah al\u00adJami\u2019ah baina Ushulu ad\u00adDin wal Fiqh wa at\u00adTashawwuf.<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<p>Semua kitab-kitab di atas, hingga kini masih banyak dikaji di banyak pesantren di Indonesia. Tentu, selain kitab yang telah disebutkan, masih banyak lagi kitab karya Syekh M Nawawi al-Bantani, sebagaimana telah dilansir di atas bahwa jumlah keseluruhan kitab karya beliau berkisar 115 buah kitab dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan.<\/p>\n<p>Sumber: academia.edu<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam khazanah keilmuan Islam klasik (salafiyyah) di Indonesia (termasuk di dunia), nama Syekh Nawawi al-Bantani jelas sudah tidak asing lagi. Beliau adalah salah seorang putera&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":25622,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-25620","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25620","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25620"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25620\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25622"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25620"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25620"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25620"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}