{"id":25515,"date":"2022-11-08T09:39:54","date_gmt":"2022-11-08T02:39:54","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=25515"},"modified":"2022-11-08T09:39:54","modified_gmt":"2022-11-08T02:39:54","slug":"raja-raja-majapahit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/raja-raja-majapahit\/","title":{"rendered":"Raja-raja Majapahit"},"content":{"rendered":"<p><strong>1)<\/strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<strong>Raden Wijaya.<\/strong><\/p>\n<p>Berdirinya Kerajaan Majapahit sangat berhubungan dengan runtuhnya Kerajaan Singasari.\u00a0Kerajaan Singasari runtuh setelah salah satu raja vasalnya yaitu\u00a0<em>Jayakatwang\u00a0<\/em>mengadakan pemberontakan. Kerajaan Majapahit didirikan oleh\u00a0<em>Raden Wijaya\u00a0<\/em>yang merupakan menantu dari Raja Singasari terakhir yaitu<em>Kertanegara<\/em>.\u00a0<em>Raden Wijaya<\/em>\u00a0beserta istri dan pengikutnya dapat meloloskan diri ketika Singasari diserang\u00a0<em>Jayakatwang<\/em>.\u00a0<em>Raden Wijaya<\/em>\u00a0meloloskan diri dan pergi ke Madura untuk menemui dan meminta perlindungan Bupati Sumenep dari Madura yaitu\u00a0<em>Aryawiraraja<\/em>. Berkat\u00a0<em>Aryawiraraja<\/em>\u00a0juga,\u00a0<em>Raden Wijaya<\/em>\u00a0mendapat pengampunan dari\u00a0<em>Jayakatwang<\/em>, bahkan\u00a0<em>Raden Wijaya<\/em>\u00a0sendiri diberi tanah di hutan Tarik<em>\u00a0<\/em>dekat Mojokerto yang kemudian daerah itu dijadikan sebagai tempat berdirinya kerajaan\u00a0<em>Majapahit.<\/em><\/p>\n<p><em>Raden Wijaya<\/em>\u00a0kemudian menyusun kekuatan di Majapahit dan mencari saat yang tepat untuk menyerang balik\u00a0<em>Jayakatwang<\/em>. Untuk itu, dia mencoba mencari dukungan kekuatan dari raja-raja yang masih setia pada Singasari atau raja yang kurang senang pada\u00a0<em>Jayakatwang<\/em>. Kesempatan untuk menghancurkan<em>Jayakatwang<\/em>\u00a0akhirnya muncul setelah tentara Mongol mendarat di Jawa untuk menyerang Kertanegara. Keadaan seperti ini dimanfaatkan oleh\u00a0<em>Raden Wijaya<\/em>dengan cara memperalat mereka untuk menyerang\u00a0<em>Jayakatwang<\/em>.\u00a0<em>Raden Wijaya<\/em>bersama-sama dengan pasukan\u00a0<em>Kubhilai Khan<\/em>\u00a0berhasil mengalahkan pasukan Jayakatwang. Begitu pula\u00a0<em>Jayakatwang<\/em>\u00a0berhasil ditangkap dan lalu dibunuh oleh pasukan\u00a0<em>Kubhilai Khan<\/em>.<\/p>\n<p>Setelah\u00a0<em>Jayakatwang<\/em>\u00a0terbunuh, lalu\u00a0<em>Raden Wijaya<\/em>\u00a0melakukan serangan balik terhadap pasukan\u00a0<em>Kubhilai Khan. Raden Wijaya<\/em>\u00a0berhasil memukul mundur pasukan\u00a0<em>Kubhilai Khan<\/em>, sehingga mereka terpaksa menyelamatkan diri keluar Jawa. Setelah berhasil mengusir pasukan\u00a0<em>Kubhilai Khan, Raden Wijaya<\/em>dinobatkan menjadi raja Majapahit pada tahun 1293 M dengan gelar\u00a0<em>Sri Kertarajasa Jayawardhana.<\/em><\/p>\n<p>Sebagai seorang raja yang besar,\u00a0<em>Raden Wijaya<\/em>\u00a0memperistri empat putri Kertanegara sebagai permaisurinya. Dari\u00a0<em>Tribuana<\/em>, ia mempunyai seorang putra yang bernama\u00a0<em>Jayanegara<\/em>. Sedangkan dari\u00a0<em>Gayatri<\/em>, ia mempunyai dua orang putri, yaitu\u00a0<em>Tribuanatunggadewi\u00a0<\/em>dan\u00a0<em>Rajadewi Maharajasa.<\/em><\/p>\n<p>Para pengikut\u00a0<em>Raden Wijaya<\/em>\u00a0yang setia dan berjasa dalam mendirikan kerajaan Majapahit, diberi kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan. Tetapi ada saja yang tidak puas dengan kedudukan yang diperolehnya. Hal ini menimbulkan pemberontakan di sana-sini. Pada tahun 1309 M,\u00a0<em>Raden Wijaya<\/em>\u00a0meninggal dunia dan didarmakan di Antahpura, dekat Blitar. Setelah\u00a0<em>Raden Wijaya<\/em>\u00a0meninggal dunia, Kerajaan Majapahit dipimpin oleh\u00a0<em>Jayanegara\u00a0<\/em>dengan gelar\u00a0<em>Sri Jayanegara<\/em>.<\/p>\n<p><strong>2)<\/strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<strong>Jayanegera.<\/strong><\/p>\n<p>Pada masa pemerintahannya,\u00a0<em>Jayanegara<\/em>\u00a0dirongrong oleh serentetan pemberontakan. Pemberontakan-pemberontakan ini datang dari\u00a0<em>Ranggalawe<\/em>(1309),\u00a0<em>Lembu Sora\u00a0<\/em>(1311),\u00a0<em>Juru Demung\u00a0<\/em>dan\u00a0<em>Gajah Biru\u00a0<\/em>(1314),\u00a0\u00a0<em>Nambi\u00a0<\/em>(1316), dan\u00a0<em>Kuti\u00a0<\/em>(1320).<\/p>\n<p>Pemberontakan Kuti merupakan pemberontakan yang paling berbahaya karena Kuti berhasil menduduki ibu kota Majapahit, sehingga raja\u00a0<em>Jayanegara<\/em>terpaksa melarikan diri ke daerah\u00a0<em>Badandea<\/em>.\u00a0<em>Jayanegara<\/em>\u00a0diselamatkan oleh pasukan Bhayangkari di bawah pimpinan\u00a0<em>Gajah Mada<\/em>. Berkat ketangkasan dan siasat jitu dari\u00a0<em>Gajah Mada<\/em>, pemberontakan Kuti berhasil ditumpas. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya,\u00a0<em>Gajah Mada<\/em>\u00a0diangkat menjadi Patih di Kahuripan pada tahun 1321 M dan Patih di Daha (Kediri).<\/p>\n<p>Pada tahun 1328,\u00a0<em>Jayanegara<\/em>\u00a0tewas dibunuh oleh\u00a0<em>Tabib Israna Ratanca<\/em>, ia didharmakan di dalam pura di Sila Petak dan Bubat.\u00a0<em>Jayanegara<\/em>\u00a0tidak mempunyai putra, maka takhta kerajaan digantikan oleh adik perempuannya yang bernama<em>Tribhuanatunggadewi<\/em>. Ia dinobatkan menjadi raja Majapahit dengan gelar<em>Tribhuanatunggadewi Jaya Wisnu Wardhani<\/em>.<\/p>\n<p><strong>3)<\/strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<strong>Tribhuanatunggadewi<\/strong><\/p>\n<p>Pada masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta pada tahun 1331. Pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh\u00a0<em>Gajah Mada<\/em>. Sebagai penghargaan atas jasanya,\u00a0<em>Gajah Mada<\/em>\u00a0diangkat menjadi mahapatih di Majapahit oleh\u00a0<em>Tribhuanatunggadewi<\/em>.<\/p>\n<p>Di hadapan raja dan para pembesar Majapahit, Gajah Mada mengucapkan sumpah yang terkenal dengan nama\u00a0<em>Sumpah Palapa<\/em>. Isi sumpahnya,\u00a0<em>ia tidak akan Amukti Palapa sebelum ia dapat menundukkan Nusantara, yaitu Gurun, Seran, Panjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik.<\/em><\/p>\n<p>Dalam rangka mewujudkan cita-citanya,\u00a0<em>Gajah Mada<\/em>\u00a0menaklukkan Bali pada tahun 1334, kemudian Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Sumatra, dan beberapa daerah di Semenanjung Malaka. Seperti yang tercantum dalam kitab Negarakertagama, wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit sangat luas, yakni meliputi daerah hampir seluas wilayah Republik Indonesia sekarang.<\/p>\n<p><em>Tribhuanatunggadewi<\/em>\u00a0memerintah selama dua puluh dua tahun. Pada tahun 1350, ia mengundurkan diri dari pemerintahan dan digantikan oleh putranya yang bernama\u00a0<em>Hayam Wuruk<\/em>. Pada tahun 1350 M, putra mahkota\u00a0<em>Hayam Wuruk<\/em>dinobatkan menjadi raja Majapahit dengan gelar\u00a0<em>Sri Rajasanagara\u00a0<\/em>dan ia didampingi oleh\u00a0<em>Mahapatih Gajah Mada<\/em>.<\/p>\n<p><strong>4)<\/strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<strong>Hayam Wuruk<\/strong><\/p>\n<p>Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan\u00a0<em>Hayam Wuruk<\/em>. Wilayah kekuasaan Majapahit meliputi seluruh Nusantara. Pada saat itulah cita-cita\u00a0<em>Gajah Mada<\/em>\u00a0dengan Sumpah Palapa berhasil diwujudkan.<\/p>\n<p>Usaha\u00a0<em>Gajah Mada<\/em>\u00a0dalam melaksanakan politiknya, berakhir pada tahun 1357 dengan terjadinya peristiwa di Bubat, yaitu perang antara Pajajaran dengan Majapahit. Pada waktu itu,\u00a0<em>Hayam Wuruk<\/em>\u00a0bermaksud untuk menikahi putri\u00a0<em>Dyah Pitaloka<\/em>. Sebelum putri Dyah Pitaloka dan ayahnya beserta para pembesar Kerajaan Pajajaran sampai di Majapahit, mereka beristirahat di lapangan Bubat. Di sana terjadi perselisihan antara\u00a0<em>Gajah Mada<\/em>\u00a0yang menghendaki agar putri itu dipersembahkan oleh raja Pajajaran kepada raja Majapahit. Para pembesar Kerajaan Pajajaran tidak setuju, akhirnya terjadilah peperangan di Bubat yang menyebabkan semua rombongan Kerajaan Pajajaran gugur.<\/p>\n<p>Pada tahun 1364 M,\u00a0<em>Gajah Mada<\/em>\u00a0meninggal dunia. Hal itu merupakan kehilangan yang sangat besar bagi Majapahit. Kemudian pada tahun 1389 Raja<em>Hayam Wuruk<\/em>\u00a0meninggal dunia. Hal ini menjadi salah satu penyebab surutnya kebesaran Kerajaan Majapahit di samping terjadinya pertentangan yang berkembang menjadi perang saudara.<\/p>\n<p>Setelah\u00a0<em>Hayam Wuruk<\/em>\u00a0meninggal, takhta Kerajaan Majapahit diduduki oleh<em>Wikramawardhana<\/em>. Ia adalah menantu\u00a0<em>Hayam Wuruk<\/em>\u00a0yang menikah dengan putrinya yang bernama\u00a0<em>Kusumawardhani<\/em>. Ia memerintah Kerajaan Majapahit selama dua belas tahun.<\/p>\n<p>Pada tahun 1429 M,\u00a0<em>Wikramawardhana<\/em>\u00a0meninggal dunia. Selanjutnya raja-raja yang memerintah Majapahit setelah\u00a0<em>Wikramawardhana<\/em>\u00a0adalah:<\/p>\n<ol>\n<li><em>Suhita\u00a0<\/em>(1429 M 1447 M), putri Wikramawardhana;<\/li>\n<li><em>Kertawijaya\u00a0<\/em>(1448 M 1451 M), adik Suhita;<\/li>\n<li><em>Sri Rajasawardhana\u00a0<\/em>(1451 M 1453 M);<\/li>\n<li><em>Girindrawardhana\u00a0<\/em>(1456 M 1466 M), anak dari Kertawijaya;<\/li>\n<li><em>Sri Singhawikramawardhana\u00a0<\/em>(1466 M 1474 M);<\/li>\n<li><em>Girindrawardhana Dyah Ranawijaya<\/em>.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Runtuhnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1400 Saka (1478 M) dijelaskan dalam\u00a0<em>Chandra Sengkala\u00a0<\/em>yang berbunyi,\u00a0<em>\u201cSirna ilang Kertaning-Bhumi\u201d\u00a0<\/em>dengan adanya peristiwa perang saudara antara\u00a0<em>Dyah Ranawijaya\u00a0<\/em>dengan\u00a0<em>Bhre Kahuripan<\/em>. Selain itu, keruntuhan Majapahit disebabkan karena serangan dari Kerajaan Islam Demak.<\/p>\n<p>Sumber: academia.edu<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>1)\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Raden Wijaya. Berdirinya Kerajaan Majapahit sangat berhubungan dengan runtuhnya Kerajaan Singasari.\u00a0Kerajaan Singasari runtuh setelah salah satu raja vasalnya yaitu\u00a0Jayakatwang\u00a0mengadakan pemberontakan. Kerajaan Majapahit didirikan oleh\u00a0Raden Wijaya\u00a0yang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-25515","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25515","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25515"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25515\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25515"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25515"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25515"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}