{"id":25446,"date":"2022-11-08T06:02:39","date_gmt":"2022-11-07T23:02:39","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=25446"},"modified":"2022-11-08T06:02:39","modified_gmt":"2022-11-07T23:02:39","slug":"birrul-walidain-pengertian-cakupan-dan-dalilnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/birrul-walidain-pengertian-cakupan-dan-dalilnya\/","title":{"rendered":"Birrul Walidain: Pengertian, Cakupan dan Dalilnya"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/birrul-walidain-pengertian-cakupan-dan-dalilnya\/#1_Pengertian_dan_Cakupan_Birrul_Walidain\" >1. Pengertian dan Cakupan Birrul Walidain<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/birrul-walidain-pengertian-cakupan-dan-dalilnya\/#Birrul_Walidain_Sebagai_Wasilah_Mendapatkan_Ridha_Allah\" >Birrul Walidain Sebagai Wasilah Mendapatkan Ridha Allah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/birrul-walidain-pengertian-cakupan-dan-dalilnya\/#Tanggung_Jawab_Anak_dalam_Berbakti_kepada_Orang_Tua\" >Tanggung Jawab Anak dalam Berbakti kepada Orang Tua<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/birrul-walidain-pengertian-cakupan-dan-dalilnya\/#Birrul_Walidain_pada_Orang_Tua_yang_Berlainan_Agama\" >Birrul Walidain pada Orang Tua yang Berlainan Agama<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/birrul-walidain-pengertian-cakupan-dan-dalilnya\/#Keutamaan_Berbakti_kepada_Orang_Tua\" >Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/birrul-walidain-pengertian-cakupan-dan-dalilnya\/#Cakupan_Birrul_Walidain_dalam_Al-Quran\" >Cakupan Birrul Walidain dalam Al-Qur&#8217;an<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/birrul-walidain-pengertian-cakupan-dan-dalilnya\/#2_Dasar_Hukum_Birrul_Walidain\" >2. Dasar Hukum Birrul Walidain<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/birrul-walidain-pengertian-cakupan-dan-dalilnya\/#Dasar_Al-Quran_tentang_Birrul_Walidain\" >Dasar Al-Qur\u2019an tentang Birrul Walidain<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/birrul-walidain-pengertian-cakupan-dan-dalilnya\/#Ayat_Lain_tentang_Birrul_Walidain\" >Ayat Lain tentang Birrul Walidain<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/birrul-walidain-pengertian-cakupan-dan-dalilnya\/#Hadis_Rasulullah_SAW_tentang_Birrul_Walidain\" >Hadis Rasulullah SAW tentang Birrul Walidain<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-11\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/birrul-walidain-pengertian-cakupan-dan-dalilnya\/#Birrul_Walidain_dalam_Syariat_Sebelumnya\" >Birrul Walidain dalam Syariat Sebelumnya<\/a><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Pengertian_dan_Cakupan_Birrul_Walidain\"><\/span>1. Pengertian dan Cakupan Birrul Walidain<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dalam Lisan al-\u2018Arabi, kata <em>Birrul<\/em> diartikan dengan al-Shiddiqu (kebenaran) dan al-Tha\u2019ah (ketaatan), sementara dalam kamus al-Munawwir, <em>Birrul<\/em> bermakna ketaatan, keshalehan, kebaikan, belas kasih, kebenaran, banyak berbuat kebajikan, kedermawanan, dan bahkan syurga. Sedangkan Walidain, yang berasal dari kata al-Walid (ayah) dan al-Walidah (ibu), merujuk pada orang tua, sehingga Birrul Walidain bermakna berbuat baik atau berbakti kepada orang tua.<\/p>\n<p>Berbakti kepada orang tua mencakup berbagai bentuk kasih sayang, perhatian, ketaatan, dan penghormatan terhadap perintah mereka. Ini juga melibatkan menghindari hal-hal yang mereka tidak sukai dan melakukan yang mereka senangi. Seluruh tindakan ini disebut sebagai <em>birrul walidain<\/em>, yang memiliki kedudukan sangat tinggi dalam ajaran Islam.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Birrul_Walidain_Sebagai_Wasilah_Mendapatkan_Ridha_Allah\"><\/span>Birrul Walidain Sebagai Wasilah Mendapatkan Ridha Allah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Dalam Islam, ada banyak jalan atau sarana untuk mendapatkan ridha Allah SWT, rahmat, atau pertolongan-Nya. Jalan ini sering disebut dengan istilah wasilah. Salah satu wasilah yang sangat utama untuk memperoleh ridha Allah adalah dengan berbakti kepada orang tua. Birrul walidain adalah salah satu amalan yang dapat menghubungkan seorang hamba dengan Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surah Luqman (31): 14:<\/p>\n<blockquote><p>\u201cDan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Islam menempatkan orang tua pada posisi yang sangat terhormat dan mulia. Allah sering menyandingkan perintah beribadah kepada-Nya dengan perintah berbuat baik kepada orang tua, menegaskan betapa pentingnya kedudukan mereka dalam kehidupan seorang Muslim.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tanggung_Jawab_Anak_dalam_Berbakti_kepada_Orang_Tua\"><\/span>Tanggung Jawab Anak dalam Berbakti kepada Orang Tua<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Berbakti kepada orang tua bukan hanya sekedar kewajiban, tetapi juga merupakan ekspresi penghargaan yang tinggi terhadap perjuangan dan pengorbanan orang tua yang telah mendidik dan merawat kita sejak dalam kandungan. Seorang anak yang taat beragama tentu menyadari betapa besar jasa orang tua mereka, yang tanpa pamrih membimbing dan merawat mereka, bahkan saat menghadapi kesulitan hidup. Orang tua berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya, dengan harapan mereka dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi keluarga dan umat.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Birrul_Walidain_pada_Orang_Tua_yang_Berlainan_Agama\"><\/span>Birrul Walidain pada Orang Tua yang Berlainan Agama<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Meskipun dalam hal agama seorang anak mungkin tidak sejalan dengan orang tua, berbakti kepada mereka tetap menjadi kewajiban. Jika orang tua kita adalah non-Muslim, tetaplah berbuat baik dan menjaga hubungan dengan mereka. Namun, dalam urusan agama, kita tidak boleh mengikuti ajakan mereka untuk menyimpang dari ajaran Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Luqman (31): 15:<\/p>\n<blockquote><p>\u201cDan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik&#8230;\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Hadis Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan hal yang sama, seperti yang diriwayatkan oleh Asma\u2019 binti Abu Bakar ra, ketika ibunya yang masih musyrik datang kepadanya dan ia bertanya kepada Rasulullah apakah ia boleh berbuat baik kepada ibunya. Nabi Muhammad SAW menjawab, &#8220;Ya,&#8221; menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua tidak terbatas pada perbedaan agama.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Keutamaan_Berbakti_kepada_Orang_Tua\"><\/span>Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Birrul walidain adalah amalan yang sangat agung dan dijanjikan ganjaran besar oleh Allah SWT. Salah satunya adalah jaminan masuk surga bagi mereka yang berbakti kepada orang tuanya. Banyak manfaat yang diperoleh dari berbakti kepada orang tua, antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Memuliakan orang tua adalah amalan yang disukai oleh Allah, yang bisa membuka pintu rahmat dan kebahagiaan.<\/li>\n<li>Berbakti kepada orang tua dapat menghilangkan kegelisahan dan mendatangkan ketenangan hati.<\/li>\n<li>Meningkatkan keberkahan umur dan rezeki. Banyak riwayat yang menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua bisa memperpanjang usia dan memperbanyak berkah dalam kehidupan.<\/li>\n<li>Mendapatkan ridha Allah. Dengan berbakti kepada orang tua, kita mendapatkan keridhaan-Nya, yang merupakan tujuan utama setiap amal ibadah.<\/li>\n<\/ul>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Cakupan_Birrul_Walidain_dalam_Al-Quran\"><\/span>Cakupan Birrul Walidain dalam Al-Qur&#8217;an<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Cakupan atau batasan berbakti kepada orang tua dijelaskan secara rinci dalam Surah Al-Isra\u2019 (17): 23, yang mengatakan:<\/p>\n<blockquote><p>\u201cDan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan \u2018ah\u2019 dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Syaikh As-Sa\u2019di dalam menafsirkan ayat ini menyatakan bahwa berbakti kepada orang tua harus dilakukan dengan penuh kebaikan, baik melalui ucapan maupun perbuatan. Perintah berbakti kepada orang tua mencakup segala bentuk kebaikan, baik yang disenangi maupun tidak, dan meskipun kita melakukannya dengan berat hati, kita tetap wajib berbuat baik.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Dasar_Hukum_Birrul_Walidain\"><\/span>2. Dasar Hukum Birrul Walidain<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Berbakti kepada orang tua (birrul walidain) adalah kewajiban agung yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Allah SWT, sebagai Zat yang Maha Bijaksana, mewajibkan setiap anak untuk selalu berbakti kepada kedua orang tuanya. Bahkan, dalam Al-Qur\u2019an, perintah berbakti kepada orang tua sering kali disebutkan beriringan dengan perintah untuk menyembah hanya kepada Allah SWT, yang merupakan dasar ajaran tauhid dalam Islam. Hal ini menandakan bahwa birrul walidain adalah ibadah yang sangat mulia di hadapan Allah.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dasar_Al-Quran_tentang_Birrul_Walidain\"><\/span>Dasar Al-Qur\u2019an tentang Birrul Walidain<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Dalam Al-Qur&#8217;an, banyak ayat yang memerintahkan umat Islam untuk berbakti kepada orang tua. Salah satu ayat yang sangat jelas dan kuat adalah yang terdapat dalam Surat Al-Isra (17:23-24), yang berbunyi:<\/p>\n<blockquote><p><em>\u201cDan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan &#8220;ah&#8221; dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: &#8220;Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.&#8221;<\/em> (QS. Al-Isra [17]:23-24)<\/p><\/blockquote>\n<p>Dalam tafsirnya, Sayyid Qutb menjelaskan bahwa Allah SWT menggunakan kata <em>qadha<\/em> (ketetapan) untuk menegaskan kewajiban ini sebagai keputusan yang tidak bisa ditawar-tawar. Allah memerintahkan umat-Nya untuk berbakti kepada orang tua dengan penuh penghormatan, terutama pada saat orang tua memasuki usia lanjut, sebagai bentuk syukur atas kasih sayang yang mereka berikan sejak kecil.<\/p>\n<p>Ayat ini juga menekankan larangan untuk mengucapkan kata-kata yang kasar atau menunjukkan ketidaksenangan terhadap orang tua, bahkan dalam situasi yang paling penuh tantangan sekalipun. Kata &#8220;ah&#8221; (\u0623\u064e\u0641) yang diterjemahkan dengan &#8220;ah&#8221; atau &#8220;hus&#8221; adalah ekspresi yang menunjukkan ketidaksabaran atau kekesalan. Ayat ini dengan tegas melarang bahkan kata-kata yang menunjukkan sedikit pun ketidaksenangan, apalagi yang lebih keras seperti membentak atau berkata kasar.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ayat_Lain_tentang_Birrul_Walidain\"><\/span>Ayat Lain tentang Birrul Walidain<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Selain Surat Al-Isra, Allah SWT juga mengulang perintah berbakti kepada orang tua dalam beberapa ayat lainnya. Salah satunya terdapat dalam Surat An-Nisa\u2019 (4:36):<\/p>\n<blockquote><p><em>\u201cSembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.\u201d<\/em> (QS. An-Nisa\u2019 [4]:36)<\/p><\/blockquote>\n<p>Ayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada orang tua termasuk dalam amalan yang sangat ditekankan, bahkan diiringi dengan perintah-perintah lain seperti berbuat baik kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, dan sebagainya.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Hadis_Rasulullah_SAW_tentang_Birrul_Walidain\"><\/span>Hadis Rasulullah SAW tentang Birrul Walidain<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Perintah berbakti kepada orang tua juga ditegaskan dalam hadis-hadis Rasulullah SAW. Salah satu hadis yang sangat terkenal adalah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:<\/p>\n<blockquote><p><em>\u201cSeorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: \u2018Ya Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepadaku?\u2019 Rasulullah SAW menjawab, \u2018Berbaktilah kepada ibumu.\u2019 Laki-laki itu bertanya lagi, \u2018Dan setelah itu?\u2019 Rasulullah SAW menjawab, \u2018Berbaktilah kepada ibumu.\u2019 Laki-laki itu bertanya lagi, \u2018Dan setelah itu?\u2019 Rasulullah SAW menjawab, \u2018Berbaktilah kepada ibumu.\u2019 Laki-laki itu bertanya lagi, \u2018Dan setelah itu?\u2019 Rasulullah SAW menjawab, \u2018Berbaktilah kepada bapakmu.\u2019\u201d<\/em> (HR. Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah)<\/p><\/blockquote>\n<p>Hadis ini menggarisbawahi kedudukan ibu yang sangat tinggi dalam Islam, karena Rasulullah SAW memberikan tiga kali peringatan untuk berbakti kepada ibu sebelum menyebutkan ayah. Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada ibu memiliki kedudukan yang lebih utama, namun bukan berarti berbakti kepada ayah menjadi tidak penting. Keduanya memiliki hak yang sangat besar terhadap anak.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Birrul_Walidain_dalam_Syariat_Sebelumnya\"><\/span>Birrul Walidain dalam Syariat Sebelumnya<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Tidak hanya umat Islam yang diperintahkan untuk berbakti kepada orang tua. Perintah yang sama juga terdapat dalam syariat umat-umat sebelumnya. Salah satunya adalah dalam firman Allah SWT kepada Bani Israil yang tercantum dalam Surat Al-Baqarah (2:83):<\/p>\n<blockquote><p><em>\u201cDan (ingatlah) ketika kami mengambil janji dari Bani Israil, (yaitu) janganlah kamu menyembah selain Allah dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kamu kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat, dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu selalu berpaling.\u201d<\/em> (QS. Al-Baqarah [2]:83)<\/p><\/blockquote>\n<p>Ayat ini menunjukkan bahwa kewajiban untuk berbakti kepada orang tua bukan hanya diperuntukkan bagi umat Muhammad SAW, tetapi sudah menjadi kewajiban yang diwahyukan Allah sejak zaman Nabi Musa kepada Bani Israil.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>1. Pengertian dan Cakupan Birrul Walidain Dalam Lisan al-\u2018Arabi, kata Birrul diartikan dengan al-Shiddiqu (kebenaran) dan al-Tha\u2019ah (ketaatan), sementara dalam kamus al-Munawwir, Birrul bermakna ketaatan,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-25446","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25446","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25446"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25446\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25446"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25446"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25446"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}