{"id":25359,"date":"2022-11-05T07:39:41","date_gmt":"2022-11-05T00:39:41","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=25359"},"modified":"2022-11-05T07:39:41","modified_gmt":"2022-11-05T00:39:41","slug":"cara-khusyu-dalam-ibadah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-khusyu-dalam-ibadah\/","title":{"rendered":"Cara Khusyu dalam Ibadah"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-khusyu-dalam-ibadah\/#1_Tadabbur\" >1. Tadabbur<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-khusyu-dalam-ibadah\/#2_Menangis\" >2. Menangis<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-khusyu-dalam-ibadah\/#3_Mengambil_jeda_dan_Beristirahat\" >3. Mengambil jeda dan Beristirahat<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-khusyu-dalam-ibadah\/#4_Memanfaatkan_Waktu-Waktu_dan_Tempat-Tempat_yang_Utama\" >4. Memanfaatkan Waktu-Waktu dan Tempat-Tempat yang Utama.<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Untuk bisa mencapai ketundukan hati (khusyu\u2019) dan menghadirkan hati, ada beberapa hal utama yang perlu diperhatikan.<\/p>\n<ol>\n<li>Perenungan ( tadabbur )<\/li>\n<li>Menangis<\/li>\n<li>Mengambil jeda aktifitas dan istirahat<\/li>\n<li>Memanfaatkan waktu-waktu dan tempat-tempat yang utama<\/li>\n<\/ol>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Tadabbur\"><\/span>1. Tadabbur<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Tadabbur adalah memahami bacaan Al-Quran yang dibacannya. Juga isi zikir dan doa yang diucapkannya. Meski hanya secara umum. Begitupula dengan membayangkan makna bacaan nya.dan tujuan membaca ayat, zikir, atau doa itu.<\/p>\n<p>Ketika membaca ayat-ayat al-Quran, seorang muslim hendaknya memposisikan diri sebagai target dari semua perintah dan larangan di ayat-ayat al-Quran yang sedang ia baca. Ini agar ia dapat merasakan kondisi sebagai seorang hamba, dan mengetahui kekurangan diri nya karena itu pula, ia mesti menghadirkan rasa takut kepada Allah swt. Serta bersungguh sungguh untuk taat kepada-Nya.<\/p>\n<p>Karena itu dianurkan bagi seorang hamba untuk mengulang ulang bacaan beberapa ayat al-Quran saat ia bertilawah, agar dapat lebih mengundang suasana tadabbur dan khusyu\u2019.<\/p>\n<p>Abu Dzar r.a. menyampaikan bahwa Rasulullah saw pernah melakukan shalat dan mengulang ulang bacaan suatu ayat hingga waktu subuh.<\/p>\n<p>Ubadah bin Hamzah masuk ke rumah Asma r.a. dan mendapati ia sedang membaca ayat,<\/p>\n<p><strong>\u00a0\u00a0\u00a0 <\/strong><strong>\u0641\u064e\u0645\u064e\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0648\u064e\u0642\u064e\u0627\u0646\u064e\u0627 \u0639\u064e\u0630\u064e\u0627\u0628\u064e \u0627\u0644\u0633\u0651\u064e\u0645\u064f\u0648\u0645\u0650\u064e<\/strong><\/p>\n<p>\u201c Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka\u201d <strong>(at-Thuur: 27) <\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u201c <\/strong>Saat itu Asma\u2019 terus mengulang ulang ayat tersebut dan berdoa, karena terlalu lama menunggu, maka aku pergi ke pasar untuk suatu keperluan. Kemudian aku kembali, ternyata ia masih saja menggulang ulang ayat tersebut dan berdoa\u201d kata Ubadah[1]<\/p>\n<p>Seperti halnya membaca atau mendengarkan al-Quran kita juga di tuntut unt<u>k <\/u>tafakur (merenung) di saat berzikir, menginggat Allah. Seorang hamba harus senantiasa menghadirkan kebesaran tuhannya di dalam hatinya. Dan merenungkan segala ciptaan-Nya, dan nikmat nikmat-Nya. Ia mesti merasakan derajat penhambaan dan merendahkan diri kepada tuhannya.<\/p>\n<p>Selama berdoa kita juga dituntut untuk tadabbur, serta memilih doa-doa ma\u2019tsuur yang dapat menggerakan hati dan melunakan kekerasannya. Memangil Tuhannya dengan merendah dan lemah dihadapannya, serta meminta apa yang dibutuhkan, dan ia yakin doannya akan diterima.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Menangis\"><\/span>2. Menangis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Menangis adalah sifat orang-orang khusyu\u2019 saat membaca Al-Quran atau saat mendengar ayat ayatnya, saat mengingat tuhannya atau berdoa kepada-Nya, dan saat menghadap tuhannya di dalam shalat. Ini merupakan hasil dari kensentrasi dan menghadirkan hati. Dalam sebuah firman-Nya Allah Ta\u2019ala mengambarkan kondisi hamba hamba-Nya yang baik.<\/p>\n<p><strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/strong><strong>\u0625\u0650\u0630\u064e\u0627 \u062a\u064f\u062a\u0652\u0644\u064e\u0649\u0670 \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0622\u064a\u064e\u0627\u062a\u064f \u0627\u0644\u0631\u0651\u064e\u062d\u0652\u0645\u064e\u0670\u0646\u0650 \u062e\u064e\u0631\u0651\u064f\u0648\u0627 \u0633\u064f\u062c\u0651\u064e\u062f\u064b\u0627 \u0648\u064e\u0628\u064f\u0643\u0650\u064a\u0651\u064b\u0627 \u06e9<\/strong><\/p>\n<p><em>&#8220;<\/em> <em>Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.<\/em>.(<strong>Maryam: 58)<\/strong><\/p>\n<p>Abdullah bin Masud r.a pernah membacakan ayat-ayat surat an-Nissa kepada Rasulullah saw, kemudian beliau bersabda. \u201c Cukup\u201d Abdullah bin Mas\u2019ud berkata. \u201clalu aku berhenti. Aku melirih ke baliau , ternyata kedua mata beliau tampak berlinagan air mata<strong>.\u201d(HR Bukhori dan Muslim) <\/strong><\/p>\n<p>Demikianlah keadaan Rasulullah saw. Para sahabatnya dan para salafus sholih saat mereka membaca ayat-ayat Al-Quran dan saat menginggat Allah swt. Mereka rindu, merintih dan menangis terisak-isak. Saat salah seorang dari mereka membaca ayat ang menyebut nyebut syurga, maka ia menangis karena merindukannya. Jika melewati ayat yang menyebut neraka, ia melolong seolah mendengar suara gelegak neraka di telinganya.<\/p>\n<p>Jika seorang hamba tidak berhasil meraih kekhusyuann ini dan tidak meleleh air matanya, maka ia harus berupaya lebih keras untuk berupaya dengan sungguh sunguh terhadap dirinnya dan pura pura menangis menghadirkan rasa taku kepada Tuhannya. Sebab pura pura menangis ini juga merupakan metode untuk menghadirkan hati.<\/p>\n<p>Rasulullah saw juga sudah mewasiatkan hal ini kepada umatnya, yang terdapat dalam hadist yang disampaikan oleh Saad bin Abi Waqash r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda.<\/p>\n<p>\u201c <em>Bacalah Al-Quran dan menangislah, jika kalian belum mampu menangis maka pura puralah menagis.<\/em>\u201d(<strong>HR Ibn Majah)<\/strong><\/p>\n<p>Untuk itu berkata Imam Suyuthi \u201c dianjurkan untuk menangis saat membaca Al-Quran Al Karim, dan pura puralah menagis bagi yang belum mampu dengan merasa sedih dan khusyu\u2019[2]<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Mengambil_jeda_dan_Beristirahat\"><\/span>3. Mengambil jeda dan Beristirahat<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Tidak mungkin jiwa selalu berada dalam kondisi kerja dan semangat yang terus-menerus, kesibukan, kelelahan, penyakit dan emosi dapat menurunkan aktifits jiwa. Jika seorang hamba ingin menghadirkan rasa khusyu\u2019 di dalam hatinya dalam kondisi kondsi seperti ini, terkadang ia akan sulit menemukan untuk mencapainnya. Menghadapi situasi seperti ini, ia sebaliknya sedikit beristirahat dan mengistirahatkan jiwa hingga ia mampu memperbaharui aktifitasnnya. Dengan demikian, ia dapat menghadirkan hati dan menenangkan jiwanya.ini lah yang dianjurkan oleh Rasulullah saw dalam beberapa hadits, antara lain.<\/p>\n<p><em>\u201c Wahai manuia, kalian wajib melakukan semua pekerjaan sesuai kemampuan kalian, karena Allah tidak pernah bosan hingga kalian sendiri yang bosan<\/em>.\u201d <strong>(HR Muslim<\/strong>, dari Aisyah r.a)<\/p>\n<p>Menurut Imam an-Nawawi, pada hadits ini terlihat betapa besarnya kasih sayang dan perhatian Rasulullah kepada umatnya, karena beliau membimbing mereka kepada hal hal yang dapat memperbaiki mereka. Hal itu dapat membuat mereka melakukan kegiatan rutin tanpa rasa berat dan resiko buruk. Jiwa akan lebih giat dan hati menjadi lapang.<\/p>\n<p>Dari Jundab r.a berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,<\/p>\n<p>\u201c Bacalah Al-Quran selama hati kalian menyatu (konsentrasi). Jika sudah bosan, maka berhentilah.\u201d (<strong>HR Bukhori<\/strong>)<\/p>\n<p>Seorang hamba yang mendapat taufik adalah orang yang mengisi waktu sehatnya, aktifitsnya, dan waktu luangnya dengan menjalankan berbagai ketaatan dan memeperbanyak ibadah sunat. Karena ia akan mendapatkan kemudahan untuk menghadirkan rasa khusyu\u2019 dan meneteskan air mata, yang terkadang tidak dapat dilakukannya di waktu lelah dan payah.<\/p>\n<p>Ibn Abbas r.a bertutur bahwa Rasulullah saw bersabda, \u201cDua kenikamatan yang sebagian besar manusia tertipu di dalamnya, sehat dan waktu luang.\u201d(<strong>HR Bukhori)<\/strong><\/p>\n<p>Namun setan memang takkan lelah menggoda manusia, untuk memalingkan diri kita dari aktifitas ibadah. Termasuk di saat jiwa kitas sedang bersemngat dan mampu menhadirkan hati bersama Tuhannya di saat shalat, zikir, dan doa. Setan akan datang dan mengajak kita untuk menunda nunda ibadah yang sangat bermanfaat itu. Setan juga akan membisikan ke hati kita bebagai kegiatan lain guna memalingkan kita dari tat kepada Allah swt. Karena itu Imam Hasan al-Bashri mengatakan, \u201c Hati hatilah denga menunda nunda. Karena milikmu adalah hari ini, bukan hari esok. Jika engkau dapat bertemu hari esok maka jadikan hari esok itu seperti hari ini. Namun jika engkau tak lagi bertemu hari esok kamu tidak akan menyesali apa yang tidak kamu lakukan hari ini.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Memanfaatkan_Waktu-Waktu_dan_Tempat-Tempat_yang_Utama\"><\/span>4. Memanfaatkan Waktu-Waktu dan Tempat-Tempat yang Utama.<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Allah swt, telah memberi keutamaan pada sebagian waktu dan tempat, dan menjadikannya sebagai tempat turunnya rahmat dan pengabulan doa. Diantara waktu-waktu tersebut adalah sepertiga malam yang terakhir yang terakhir dan waktu iijabah (dijawabnya doa) di setiap malam.<\/p>\n<p>Jabir r.a mengatakan bahwa dirinnya mendengar Rasulullah saw bersabda,<\/p>\n<p>\u201c Di malam ada waktu yang jika seorang muslim memohon kebaikan dunia dan di akhirat kepada Allah, maka akan dikabulkan oleh-Nya, dan itu ada pada setiap malam.\u201d(<strong>HR Muslim)<\/strong><\/p>\n<p>Sedang tempat tempat yang paling mulia untuk beribadah adalah rumah Allah yang mulia(Baitullah al- Haraam), disis ka\u2019bah yang mulia.dan Masjid Nabawi yang melingkupi salah satu taman syurga. Didalamnnya terdapat kebahagiaan bagi siapa saja yang diberi kesempatan oleh Allah untuk mengingat-Nya dan beribadah kepada-Nya di tempat yang mulia tersebut, yang dapat membuat hati menjadi Khusyu\u2019 dan mengalirkan air mata.<\/p>\n<p>Secara umum dijelaskan bahwa masjid merupakan tempat turunnya rahmat Allah. Siapa saja yang mengeluhkan kekerasan hatinya. Maka segeralah berangkat ke masjid, duduk di sana dengan rendah hati, dengan mantab memohon kepada Tuhannya, mengingat-Nya dan membaca ayat-ayat-Nya. berupaya dengan sungguh sungguh untuk khusyu\u2019 dan merenung. Dan ketika ia melakukan itu maka hatinya akan hadir , dan tersingkirlah sifat lalai. Ketenangan batin akan mudah dicapai bagi orang yang dimudahkan oleh Allah padannya.<\/p>\n<p>Lantas bagaimana dengan orang yang gagal mencapai ketenangan hati (khusyu\u2019) saat berzikir dan tidak dapat menghadirkan hatinnya..? apakah ia harus meninggalkan ibadah zikir itu..?<\/p>\n<p>Jawabannya adalah: Tidak! Sebab zikir dengan hati yang lalai itu masih lebih baik daripada diam, karena zikir itu telah menyibukan lidah dengan taat kepada Allah. Minimal itu akan menghalangi lidah dari berbuat maksiat. Zikir, meskipun dalam kadaan lalai. Tetap akan menjaga lidah dari bebrbagai kejahatan. Boleh jadi suatu waktu hati akan tergerak untuk khusyu\u2019 hingga zikirnya dapat meningkat menjadi zikir hati dan lidah. Jika lidah berhenti berzikir, maka hati akan bertambah lalai, dan bisa hanyut dalam rutinitas kehidupan serta semakin jauh dari mengingat Tuhannya.<\/p>\n<p>Jelaslah bahwa zikir tidak terbatas pada tasbih dan tahmid saja, namun juga mencangkup semua ketaatan yang diucapkan di lidah, dan diiringi dengan kehadiran hati. Untuk itu berkata Imam Ibn Taimiyah . \u201cSungguh semua yang diucapkan lidah dan digambarkan hati untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti menuntut ilmu dan mengajarkannya menyuruh berbuat baik dan melarang kemungkaran, merupakan bagian dari zikrullah.<strong>\u00a0\u00a0 <\/strong><\/p>\n<p>[1] At-Tilawaah fiil adab hamlah al-Quran imam an Nawawi hal 67<\/p>\n<p>[2] Al-Itqaan fii\u2019uluum Al-Quran, as Suyuthi, 1\/297<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Untuk bisa mencapai ketundukan hati (khusyu\u2019) dan menghadirkan hati, ada beberapa hal utama yang perlu diperhatikan. Perenungan ( tadabbur ) Menangis Mengambil jeda aktifitas dan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-25359","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25359","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25359"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25359\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25359"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25359"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25359"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}