{"id":25198,"date":"2022-11-04T16:13:31","date_gmt":"2022-11-04T09:13:31","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=25198"},"modified":"2022-11-04T16:13:31","modified_gmt":"2022-11-04T09:13:31","slug":"doktrin-qadha-dan-qadar-menurut-qadariyah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/doktrin-qadha-dan-qadar-menurut-qadariyah\/","title":{"rendered":"Doktrin Qadariyah"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/doktrin-qadha-dan-qadar-menurut-qadariyah\/#Dokrin-Dokrin_Pokok\" >Dokrin-Dokrin Pokok<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/doktrin-qadha-dan-qadar-menurut-qadariyah\/#KEDUDUKAN_PERBUATAN_MANUSIA_TERHADAP_QADHA_DAN_QADAR\" >KEDUDUKAN PERBUATAN MANUSIA TERHADAP QADHA DAN QADAR<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p><em>Qadariyah<\/em> berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata <em>qadara<\/em> yang artinya kemampuan dan kekuatan. Dalam bahasa Inggris <em>free will <\/em>yaitu kemauan bebas.<\/p>\n<p>Adapun menurut pengertian Istilah, <em>Qadariyah<\/em> dalah suatu paham yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak dipaksakan oleh Allah SWT tetapi manusia memiliki kemampuan (<em>qadar<\/em>) untuk berusaha sendiri. Itulah sebabnya akhirnya golongan ini disebut dengan \u201c<em>Qadariyah<\/em>\u201d.<\/p>\n<p>Paham ini merasuk ke pemikiran dunia Islam yang menyebabkan banyaknya orang yang terselewengkan, hanyut oleh pikiran melayang yang akhirnya jatuh ke jurang kesesatan, bahkan pemikiran ini telah mengganggu persatuan umat.<\/p>\n<p>Nama lain <em>Qadariyah<\/em> adalah <em>Muktazilah<\/em> yakni golongan yang bergerak dalam tiga fungsi, yaitu agama, filsafat dan politik. Akan tetapi kata penamaan <em>Qadariyah<\/em> lebih identik dengan kelompok yang bertikai dalam masalah takdir dan perbuatan manusia.<\/p>\n<p>Latar Belakang Kemunculan<\/p>\n<p>Mazhab Qadariyah muncul sekitar tahun 70 H (689 M). Ajaran-ajaran paham ini banyak persamaannya dengan ajaran <em>Mu\u2019tazilah<\/em>. Mereka berpendapat sama misalnya, manusia mampu mewujudkan tindakan atau perbuatannya, Allah SWT tidak campur tangan dalam perbuatan manusia itu, dan mereka menolak segala sesuatu terjadi karena <em>qadha<\/em> dan <em>qadar<\/em> Allah SWT.<\/p>\n<p>Tokoh utama <em>Qadariyah<\/em> ialah Ma\u2019bad al Juhani Al Bisri\u00a0 dan Ghailan al Dimasyqi, pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan (687-705 M) kedua tokoh inilah yang pertama kali mempersoalkan tentang Qadar. Semasa hidupnya, Ma\u2019bad al Juhani berguru pada Hasan Al Basri, sebagaimana Washil bin Atha\u2019 tokoh pendiri <em>Mu\u2019tazilah<\/em>.<\/p>\n<p>Latar belakang kemunculan kelompok ini juga akibat konstalasi politik kaum muslimin sebagai isyarat penentangan kebijaksanaan politik Bani Umayyah yang kejam dan dzalim. Apabila <em>Jabariyah<\/em> berpendapat bahwa khalifah Bani Umayyah membunuh orang, hal itu karena sudah ditakdirkan Allah dan hal ini berarti merupakan \u2018legitimasi\u2019 kekejaman Bani Umayyah, maka firqoh <em>Qadariyah<\/em> mau membatasi masalah takdir tersebut.<\/p>\n<p>Sejarah kemunculanya juga berawal dari majelis Imam Hasan al-Bashri yakni salah seorang muridnya yang bernama Washil bin Atha dalam perdebatan mengenai pelaku dosa besar apakah kafir atau mukmin, Washil mengemukakan pendapat lain yang berbeda dari gurunya sehingga ia di usir dari majelis itu, sehingga pengikut konsep Washil bin Atha dikenal dengan istilah <em>Mu\u2019tazilah<\/em>, artinya memisahakan diri dari kajian gurunya.<\/p>\n<p>Keterkaitan antara Washil bin Atha dan <em>Mu\u2019tazilah<\/em> dengan masalah takdir dan perbuatan manusia adalah salah satu konsepnya yang mengatakan bahwa manusia bebas dengan perbuatanya (<em>qadariyah<\/em>).<\/p>\n<p>Sehingga mereka berpendapat bahwa keadilan Allah tidak memiliki makna kecuali dengan menyatakan bahwa manusia itu bebas berkehendak<em> (free will)<\/em>.<\/p>\n<p>Paham ini seperti yang dipahami oleh para filosof Yunani dengan konsep Filsafat Epicurisme atau <em>Free Will<\/em>. Atau di era modern ini sejalan dengan konsep <em>Deisme<\/em> di Barat. Dimana perbuatan manusia adalah bebas tanpa kehendak Tuhan.<\/p>\n<p>Mereka berdalil dengan firman Allah Swt:<\/p>\n<p>\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0671\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064e \u0644\u064e\u0627 \u064a\u064f\u063a\u064e\u064a\u0651\u0650\u0631\u064f \u0645\u064e\u0627 \u0628\u0650\u0642\u064e\u0648\u06e1\u0645\u064d \u062d\u064e\u062a\u0651\u064e\u0649\u0670 \u064a\u064f\u063a\u064e\u064a\u0651\u0650\u0631\u064f\u0648\u0627\u0652 \u0645\u064e\u0627 \u0628\u0650\u0623\u064e\u0646\u0641\u064f\u0633\u0650\u0647\u0650\u0645\u06e1\u06d7 \u0661<\/p>\n<p><em>Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.<\/em> (TQS. ar-Ra\u2019d [13]: 11)<\/p>\n<p>\u0645\u064e\u0646 \u064a\u064e\u0639\u06e1\u0645\u064e\u0644\u06e1 \u0633\u064f\u0648\u0653\u0621\u0657\u0627 \u064a\u064f\u062c\u06e1\u0632\u064e \u0628\u0650\u0647\u0650\u06e6 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u064a\u064e\u062c\u0650\u062f\u06e1 \u0644\u064e\u0647\u064f\u06e5 \u0661\u0662\u0663<\/p>\n<p><em>Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.<\/em> (TQS. an-Nisa [4]: 123)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u0671\u0644\u06e1\u064a\u064e\u0648\u06e1\u0645\u064e \u062a\u064f\u062c\u06e1\u0632\u064e\u0649\u0670 \u0643\u064f\u0644\u0651\u064f \u0646\u064e\u0641\u06e1\u0633\u0650\u06e2 \u0628\u0650\u0645\u064e\u0627 \u0643\u064e\u0633\u064e\u0628\u064e\u062a \u0661\u0667<\/p>\n<p><em>Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya.<\/em> <strong>(TQS. al-Ghafir[40]: 17)<\/strong><\/p>\n<p>Contoh dari ketiga ayat Al Qur\u2019an tersebut <em>Qodariyah <\/em>menakwilkan Al Qur\u2019an dan mengakhirinya berdasarkan pendapat yang mereka anut, lalu mereka dakwahkan.<\/p>\n<p>Begitulah, mereka terus menerus mencari dalil dalam topik-topik yang bersifat <em>mantiq<\/em> (logika) sesuai dengan pendapat mereka, kemudian menyudahinya dengan <em>dalil-dalil naqli<\/em>. Mereka mengambil <em>dalil<\/em> atas pendapat-pendapat mereka dengan sejumlah ayat Al Qur\u2019an.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dokrin-Dokrin_Pokok\"><\/span><strong>Dokrin-Dokrin Pokok<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Didalam kitab Ulama banyak membahas tentang kekeliruan dokrin <em>Qadariyah<\/em>\/<em>Mu\u2019tazilah <\/em>ini. Berikut petikan dalam kitab terjemah <em>As Syaksiyah Al Islamiyah<\/em> Juz I hal. 89-90, adalah sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li>Pendapat mereka yang terkenal adalah bahwa manusia memiliki <em>hurrriyatul iradah<\/em> (kebebasan berkehendak), baik untuk melakukan sesuatu ataupun meninggalkan sesuatu. Apabila ia melakukannya maka hal itu karena keinginannya sendiri. Dan jika ia meninggalkannya maka hal itu karena keinginannya sendiri juga.<\/li>\n<li>Adapun masalah <em>khalqul af\u2019al<\/em> (penciptaan perbuatan) <em>qadariyah<\/em>\/<em>mu\u2019tazilah<\/em> mengatakan bahwa perbuatan-perbuatan hamba\/manusia adalah diciptakan oleh mereka sendiri dan (berasal) dari perbuatan mereka sendiri, bukan dari perbuatan Allah. Jadi termasuk dalam kemampuan mereka untuk mengerjakan ataupun untuk meninggalkan suatu perbuatan tanpa adanya campur tangan kekuasaan Allah. (<em>ikhtiyariyah wa idlthirariyah, <\/em>keinginannya sendiri dan bukan atas keinginannya sendiri)<\/li>\n<\/ol>\n<p>Aktivitas <em>ikhtiyariyah <\/em>dikuasai oleh manusia dan dialah yang menciptakan (mengadakan)nya. Sedangkan aktivitas <em>idltirariyah<\/em> maka manusia tidak ikut campur didalamnya. Tambahan lagi kalau manusia bukan pencipta atas perbuatannya maka <em>taklif <\/em>(pembebanan hukum <em>syara\u2019<\/em>) tidak berguna.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>Menciptakan <em>khasiat<\/em> yang terdapat pada sesuatu yang berasal dari perbuatannya. Tatkala <em>Qadariyah\/Mu\u2019tazilah<\/em> menyatakan bahwa perbuatan manusia adalah diciptakan oleh dirinya sendiri, lalu muncul pertanyaan yaitu bagaimana (pendapat) tentang perkara yang lahir akibat dari perbuatannya? Apakah hal itu juga dari ciptaannya ataukah dari ciptaan Allah? Contohnya seperti rasa sakit yang dirasakan oleh orang yang dipukul, dan perasaan lain yang dihasilkan dari perbuatan manusia.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Mereka mengatakan semua ini disebabkan perbuatan manusia karena manusia yang memunculkannya ketika melakukan suatu perbuatan. Hal itu adalah hasil dari perbuatan manusia. Berarti diciptakan oleh manusia.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"KEDUDUKAN_PERBUATAN_MANUSIA_TERHADAP_QADHA_DAN_QADAR\"><\/span><strong>KEDUDUKAN PERBUATAN MANUSIA TERHADAP QADHA DAN QADAR<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Dikalangan Ulama Akidah, pembahasan ini sudah cukup masyhur. Dikarenakan sebagai kajian Ilmu untuk memperkuat akidah dan membentengi umat dari paham salah\/keliru.<\/p>\n<p>Pada saat kemunculan paham inipun sudah ada, ulama yang bereaksi terhadap pemahaman ini, sebagai contoh reaksi ulama sekaligus Sahabat dan Keluarga Rasulullah \ufdfa yaitu Abdullah Ibnu Abbas r.a terhadap paham <em>Jabariyah <\/em>di Syria.<\/p>\n<p>Dan masih banyak lagi seperti Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Hambal, Hasan Al Bashri, Abul Musa Al Asy\u2019ari, Al Maturidi dan banyak lagi<\/p>\n<p>Diantaranya adalah <em>madzhab<\/em> dan paham <em>ahli sunnah wa al-jamaah <\/em>yang muncul untuk menolak pendapat-pendapat <em>Jabariyah<\/em> dan <em>Qadariyah<\/em>.<\/p>\n<p><em>Ahli sunnah <\/em>ini dipelopori oleh <strong>Abul Hasan Al Asy\u2019ari<\/strong> dari Basrah Irak dan <strong>Mansur Al Maturidy<\/strong> dari Maturid, Uzbekistan.<\/p>\n<p>Untuk membahas tentang <em>Ahli sunnah <\/em>akan dijelaskan pada bahasan yang lain. Berikut pendapat <em>Ahli sunnah <\/em>tentang perbuatan manusia dan <em>qadha<\/em>\/<em>qadar<\/em>.<\/p>\n<p><em>Ahli sunnah<\/em> mengatakan bahwa perbuatan hamba seluruhnya berdasarkan <em>iradah<\/em> dan <em>masyi-ah<\/em> Allah (keinginan dan kehendakNya). <em>Dalil<\/em> yang dipakai untuk ini adalah:<\/p>\n<p>\u0641\u064e\u0642\u064e\u0636\u064e\u0649\u0670\u0647\u064f\u0646\u0651\u064e \u0633\u064e\u0628\u06e1\u0639\u064e \u0633\u064e\u0645\u064e\u0670\u0648\u064e\u0627\u062a\u0656 \u0661\u0662<\/p>\n<p><em>Maka Dia<\/em> <em>menjadikannya tujuh langit<\/em><em>.<\/em> <strong>(<\/strong><strong>TQS. Fushshilat<\/strong><strong> [41]: 12)<\/strong><\/p>\n<p>\u06de\u0648\u064e\u0642\u064e\u0636\u064e\u0649\u0670 \u0631\u064e\u0628\u0651\u064f\u0643\u064e \u0662\u0663<\/p>\n<p><em>Dan Tuhanmu telah memerintahkan.<\/em><strong> (TQS. al-Isra [17]: 23)<\/strong><\/p>\n<p>Yang dimaksud dengan <em>qadla<\/em> ialah al-maqdli (yang ditetapkan\/dipenuhi). KetetapanNya merupakan ungkapan atas perbuatan serta bertambahnya ketentuan-ketentuan Allah.<\/p>\n<p>Perbuatan hamba\/manusia dengan <em>takdir<\/em> Allah adalah pembatasan setiap makhluk sesuai dengan batasannya.<\/p>\n<p>Allah SWT adalah Pencipta segala sesuatu sedangkan hamba adalah orang yang mengerjakan (<em>kasb<\/em>). Jadi, perbuatan dikuasai oleh Allah SWT dari sisi penciptaan, dan dikuasai oleh hamba\/manusia dari sisi pelaksanaan. Penggabungan ini disebut <em>kasb.<\/em> Apabila kita meneliti masalah <em>qadha<\/em> dan <em>qadar<\/em>, akan kita dapati bahwa ketelitian pembahasannya menuntut kita untuk mengetahui terlebih dahulu dasar pembahasan masalah ini. Ternyata, inti masalahnya bukan menyangkut perbuatan manusia, dilihat dari apakah diciptakan Allah atau oleh dirinya sendiri.<\/p>\n<p>Tidak terkait pula dengan <em>Iradah<\/em> Allah -sementara Iradah Allah dianggap berhubungan dengan perbuatan hamba- sehingga suatu perbuatan harus terjadi karena adanya <em>Iradah <\/em>tadi. Sesungguhnya, dasar pembahasan\/permasalahan ini adalah pertanyaan: <em>\u201cApakah manusia itu dipaksa untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan (baik atau buruk), ataukah ia diberi kebebasan memilih?\u201d<\/em> Inilah yang menjadi dasar pembahasan masalah <em>qadha<\/em> dan <em>qadar<\/em>, yaitu \u2018<strong>perbuatan manusia<\/strong>\u2019. Karena perbuatan manusia merupakan hal yang dapat diindera bahkan dapat dirasakan, maka dalil-dalilnya pun bersifat aqli.<\/p>\n<p>Manusia itu hidup dan beraktivitas dalam dua jenis perbuatan, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Perbuatan yang berada dibawah kendali manusia, yang timbul karena semata-mata pilihan dan keinginannya sendiri. Ada <em>hisab\/<\/em>pertanggung jawabannya.<\/li>\n<li>Perbuatan yang berada diluar kontrol dan keinginan manusia. Pada bagian ini manusia berbuat atau terkena perbuatan yang berada di luar kemampuan dan kehendaknya. Manusia dipaksa menerimanya. Tidak di-<em>hisab\/<\/em>tanggung jawab.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Segala perbuatan dan kejadian yang berada di luar kontrol manusia tersebut inilah yang dinamakan <strong><em>qadha<\/em><\/strong> (keputusan) Allah. Manusia hanya diwajibkan untuk beriman akan adanya <em>qadha<\/em>, dan bahwasanya qadha itu datang dari Allah SWT, bukan dari yang lain.<\/p>\n<p>Sumber: Rhobiatul Adawiyah, Qadha Dan Qadr Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama\u2019ah, Jabariyah, Qadariyah, 2019<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Qadariyah berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata qadara yang artinya kemampuan dan kekuatan. Dalam bahasa Inggris free will yaitu kemauan bebas. Adapun menurut pengertian&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-25198","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25198","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25198"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25198\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25198"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25198"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25198"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}